Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 140840 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Hastomo Agung Wibowo
"Latar Belakang. Robekan rotator cuff menjadi salah satu penyebab tersering ketika pasien datang dengan keluhan nyeri bahu. Jika penanganan tidak optimal maka akan mengakibatkan bertambahnya nyeri hingga kekakuan sendi yang mengakibatkan penurunan kualitas hidup pasien. Insiden tindakan arthroscopic rotator cuff repair meningkat dari tahun ke tahun di banyak negara termasuk Indonesia. Teknik single row masih menjadi pilihan yang sering dilakukan pada penanganan kasus ini. Namun belum didapatkan adanya data yang terpublikasi mengenai hasil luaran fungsional pasca tindakan tersebut di Indonesia. Studi ini bertujuan untuk mengetahui luaran klinis pada pasien yang dilakukan arthroscopic rotator cuff repair dengan teknik single row, dibandingkan sebelum dan sesudah operasi.
Metode. Data diambil di RSUP Fatmawati Jakarta baik sebelum dan sesudah operasi pada 38 pasien pasca tindakan arthroscopic rotator cuff repair yang masuk kriteria inklusi dari tahun 2015 hingga 2020. Seluruh tindakan menggunakan teknik single row dengan melakukan medialisasi pada batas lateral dari permukaan sendi dan dilakukan prosedur bone tunnelling pada foot print (Crismson Duvet). Kemudian dilakukan pengambilan data demografis dan luaran klinis berdasarkan pada skor VAS, kekuatan bahu, range of motion, Constant Murley Score dan skor ASES yang didapatkan dari rekam medis (sebelum operasi) dan pemeriksaan langsung di poliklinik (sesudah operasi). Lalu hasil dari luaran klinis dilakukan perbandingan antara sebelum dan pasca operasi.
Hasil. Median usia seluruh sampel adalah 60 tahun (40-77) dengan seluruh robekan terjadi pada supraspinatus dengan ukuran medium dan large. Pada 68% sampel adalah lengan dominan dan 79% kasus tidak didapatkan riwayat trauma. Terdapat beberapa prosedur tambahan seperti acromioplasty (26%), biceps tenodesis (8%) dan biceps tenotomy (18%). Dari hasil statistik pemeriksaan obkejtif didapatkan penurunan yang bermakna pada skor VAS dan peningkatan bermakna pada kekuatan bahu dan range of motion. Skoring luaran fungsional juga didapatkan peningkatan yang signifikan baik pada CMS dan skor ASES dimana p<0.05.
Kesimpulan. Arthroscopic rotator cuff repair dengan teknik single row memiliki hasil luaran fungsional yang baik pada penanganan kasus robekan ukuran medium dan large dengan minimal waktu follow up lebih dari 3 tahun. Terdapat perbaikan yang bermakna dari skor VAS, kekuatan otot bahu, range of motion, CMS dan skor ASES jika dibandingkan sebelum dan pasca operasi.

Background. Rotator cuff tear is one of most common source in patient with chief complain pain around the shoulder. Failed treatment can cause increasing pain and joint stiffness which can compromised patient quality of life. Nowadays, arthroscopic rotator cuff repair become more popular around the world including Indonesia in treating that condition. Single row repair still used and become good choices for the treatment. However, until today there is no publication in Indonesia about this procedures outcome. So, this study aims is to investigate functional outcome in patient after single row arthroscopic rotator cuff repair by comparing before and after surgery.
Methods. Data were collected from Fatmawati Hospital Jakarta at pre and post operative follow up (minimum 3 years) of 38 patients submitted to single row (SR) arthroscopic RC repair from 2015 to 2020. In all procedures the repair was medialized just lateral to articular cartilage with bone tunnelling on the foot print procedure (Crimson Duvet). The clinical functional variabels were collected from demographic data, visual Analog Scale (VAS) score, muscle strength, range of motion (ROM), Constant Murley Score (CMS) and American Shoulder and Elbow Surgeons (ASES) score were collected from medical records and direct examination. The results were compared between pre and post operative groups.
Results. We found median age is 60 years old (40-77) with all tears were medium and large size supraspinatus tear. 68% samples were dominant hand with majority (79%) without history of trauma. There was additional procedures such as acromioplasty (26%), biceps tenodesis (8%) and biceps tenotomy (18%) and woman were dominant (58%) in all cases. There was significantly improvement in VAS score (8 to 1), muscles power and ROM compared before and after surgery. Functional ASES scores and CMS also significantly improved (p<0.05).
Conclussion. Single row arthroscopic rotator cuff repair with concomitant procedures still provides good results for medium and large tear in minimum 3 years follow up. Pain, muscle strength, range of motion with ASES and CMS scores were significantly improved comparing before and after surgery.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Clements
"Tesis ini disusun untuk mengetahui manfaat dari penambahan terapi latihan berfokus skapula pada pasien dengan gangguan rotator cuff dengan luaran primer berupa perbaikan keluhan nyeri dan kemampuan fungsional. Penelitian ini adalah penelitian telaah sistematis dan meta-analisis. Studi dijaring dari database MEDLINE, Embase, CENTRAL, dan PEDro disertai pencarian tambahan melalui registry studi klinis dan referensi dari penelitian-penelitian topik serupa. Kriteria eligibilitas penelitian ini meliputi studi uji klinis acak terkendali tanpa batasan waktu publikasi, partisipan dewasa yang memiliki spektrum kelainan rotator cuff, dan membandingkan terapi latihan berfokus skapula dibandingkan terapi konvensional non-bedah lain atau tanpa terapi. Gangguan rotator cuff akibat cedera traumatik akut, sekunder akibat kelainan neurologis dan/atau keganasan, kelainan struktur skeletal pada bahu, serta yang memiliki riwayat tindakan pembedahan pada kompleks bahu dieksklusikan. Dua peneliti secara independen melakukan seleksi studi dan mengevaluasi risiko bias masing-masing studi menggunakan skala PEDro. Total didapatkan delapan studi dengan total 422 partisipan diinklusikan di penelitian ini dengan risiko bias “fair” hingga “good” berdasarkan skala PEDro. Dari meta-analisis didapatkan latihan berfokus skapula memberikan luaran perbaikan nyeri dan kemampuan fungsional yang lebih baik dibandingkan kontrol (MD -0,84 p<0,001 dan SMD -0,58 p<0,001) khususnya jika diberikan selama lebih dari delapan minggu. Secara kesimpulan, terapi latihan berfokus skapula memberikan perbaikan terhadap keluhan nyeri dan kemampuan fungsional pasien dengan gangguan rotator cuff.

This thesis aims to determine the effect of adding scapular-based therapeutic exercise for patient with rotator cuff pathology with the primary outcome being improvement in pain and functional ability. The research design is systematic review and meta-analysis. Studies were searched from MEDLINE, Embase, CENTRAL and PEDro database in addition to clinical registry search and references searching from affiliated studies. Eligibility criteria of this research include randomized clinical trial with no time restriction, adult participant with rotator cuff pathology and study comparing effect of scapular-based therapeutic exercise versus other non-surgery intervention or no intervention. Rotator cuff pathology due to traumatic injury, neurological and/or malignancy disease, structural abnormalities of shoulder and history of shoulder surgery were excluded. Two reviewers independently select the study and did risk of bias evaluation using PEDro scale. In total, eight studies with 422 participants were included with risk of bias “fair” to “good” based on PEDro scale. From meta-analysis, scapular-based therapeutic exercise resulted in better improvement in pain and functional ability compared to control (MD -0,84 p<0,01 and SMD -0,58 p<0,01) especially if given as intervention for at least eight weeks. In conclusion, scapular-based therapeutic exercise is shown to be be more effective in improving shoulder pain and functional ability for patient with rotator cuff pathology."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Indri Wijayanti
"ABSTRAK
Latar Belakang. Extracorporeal Shock Wave Therapy ESWT dosis tinggi efektif mengurangi ukuran deposit kalsium, skor nyeri, dan perbaikan lingkup gerak sendi LGS namun dikaitkan dengan efek samping nyeri. Belum terdapat data ESWT dosis menengah sama efektif dengan ESWT dosis tinggi. Tujuan. Membandingkan keefektifan ESWT dosis menengah dengan ESWT dosis tinggi pada tendinitis kalsifikasi rotator cuff. Metode. Uji klinis tersamar ganda terandomisasi pasien tendinitis kalsifikasi rotator cuff, 30 ndash; 70 tahun, skor VAS ge; 4. Dibagi kelompok, ESWT dosis tinggi dan ESWT dosis menengah. Terapi ESWT diberikan dua kali, jarak dua minggu, evaluasi pada 4, 8, 12 minggu setelah terapi. Hasil. Pada kedua kelompok terdapat perbedaan bermakna ukuran deposit kalsium, skor nyeri dan LGS sebelum terapi, setelah terapi, evaluasi 4, 8, 12 minggu setelah terapi p0,05 . Efek samping nyeri 100 ditemukan pada ESWT dosis tinggi, 12,5 pada ESWT dosis menengah p

ABSTRACT
Background. Extracorporeal Shock Wave Therapy ESWT high doses effectively reduce calcium deposits size, pain scores, and repair range of motion ROM but associated with side effects of pain. There is no data medium dose ESWT as effective as high dose ESWT. Aim. Compared the effectiveness of medium dose ESWT with high dose ESWT in rotator cuff calcified tendinitis. Method. Double blind randomized clinical trials patients with rotator cuff tendinitis, 30 70 years old, VAS scores ge 4. Group divided high dose ESWT and medium dose ESWT. ESWT administered twice, two weeks apart, evaluation at 4, 8, 12 weeks after therapy. Results. In both groups there were significant differences in calcium deposit size, pain score and ROM before therapy, after therapy, evaluation 4, 8, 12 weeks after therapy p 0.05 . Side effects 100 pain were found in high dose ESWT, 12.5 in medium dose ESWT p "
2017
T55570
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Demy Faheem Dasril
"Pendahuluan: Cedera ACL merupakan penyakit dengan impact besar pada pasien usia produktif. Pada penelitian ini, fokus utama adalah pilihan graft. Autograft quadriceps merupakan pilihan yang rasional untuk masyarakat Asia dimana diameter serta panjang tendon hamstring lebih kecil. Kami bermaksud melakukan perbandingan luaran klinis antara autograft quadriceps dan hamstring pada kasus rekonstruksi ACL per artroskopik.
Metode: Desain penelitian adalah kohort prospektif. Tiga puluh pasien diikutsertakan dalam studi ini yang dibagi menjadi dua grup (quadriceps dan hamstring). Pengambilan data berlangsung selama 1 tahun (Februari 2016-2017) di RSPAD Gatot Subroto dan RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Instrumen yang digunakan adalah rolimeter dan 3 buah kuesioner (IKDC, Tegner-Lysholm, dan KOOS). Evaluasi dilakukan secara repeated time measurements.
Hasil: Rerata rolimeter kelompok quadriceps 3,12 ± 0,94 dan kelompok hamstring 3,87 ± 0,61 (p=0,015). Parameter side to side difference didapatkan lebih baik pada kelompok quadriceps (0,34 ± 0,70) dibandingkan hamstring (0,84 ± 0,60) dengan p=0,04. Pada skor IKDC, didapatkan data 1 bulan (p=0,002; rentang 95%IK [8,81-31,79]) dan 3 bulan (p=0,004; 95%IK [4,85-20,39]) paska operasi yang baik. Skoring Tegner-Lysholm bermakna pada kedua data (numerik dan kategorik). Pada data numerik (1 bulan paska operasi), didapatkan nilai p=0,004 yang sinkron dengan data kategorik (p=0,050). Untuk skoring KOOS, didapatkan hasil bermakna pada 3 dan 6 bulan paska operasi pada sub-item nyeri (p=0,034) serta symptoms (p=0,001).
Diskusi: Luaran klinis pada kelompok quadriceps lebih baik dibandingkan hamstring, baik secara parameter obyektif maupun subyektif.

Introduction: ACL rupture has a high impact in productive-age population. In this research, the main focus is the graft choice. Quadriceps is a rational choice for Asian population in which the diameter and length of the hamstring tendon is small. In this research, we evaluate the clinical outcome between quadriceps and hamstring autografts in arthroscopic-assisted ACL reconstruction.
Methods: Research design was prospective cohort. Total sample was 30 patients divided into 2 groups (quadriceps and hamstring). Sampling was taken between February 2016-2017 (1 year) in Army Hospital Gatot Subroto and Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta. Instruments used in this study are the rolimeter and questionnaires (IKDC, Tegner-Lysholm, dan KOOS). Data assessment was carried out in repeated time measurements.
Results: Mean difference of quadriceps (3,12 ± 0,94) and hamstring (3,87 ± 0,61) is statistically different (p=0,015). Side to side difference shows better result in quadriceps (0,34 ± 0,70) compared to hamstring (0,84 ± 0,60) with p=0,04. IKDC scores in 1 month (p=0,002; CI95% [8,81-31,79]) and 3 months (p=0,004; CI95% [4,85-20,39]) post operative is better in quadriceps group. In Tegner-Lysholm assessment (1 month post operative), the numbers were consistent between numeric data (p=0,004) and categoric data (p=0,050) in quadriceps group. There was an improvement during 3 and 6 months post operative KOOS sub-item scales; pain (p=0,034) and symptoms (p=0,001).
Discussion: The functional outcome of quadriceps group was better than hamstring group, based on objective and subjective parameters."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2017
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Budimansyah
"Pendahuluan: Rekonstruksi ACL merupakan salah satu operasi orthopaedi yang paling sering dilakukan. Beratnya cedera, mahalnya harga implan dan teknik yang cukup sulit menimbulkan masalah sosial dan ekonomi yang cukup besar pada pasien dengan cedera ACL. Rekonstruksi ACL tanpa implan dengan teknik pressfit femoral dapat menjadi alternatif untuk pasien cedera ACL. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah rekonstruksi ACL tanpa implan memberikan luaran fungsional objektif dan subjektif setara (non-inferior) dengan metode implan.
Metode Penelitian: Duabelas pasien menjalani rekonstruksi ACL tanpa implan dengan teknik press-fit femoral dan 24 pasien menjalani rekonstruksi ACL dengan implan selama Maret 2013-Maret 2014 di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Seluruh pasien diikuti mulai dari praoperasi dengan minimal follow-up 6 bulan paska operasi (cohort prospective). Luaran objektif berupa pengukuran rolimeter, serta luaran subjektif berupa skor IKDC, Tegner-Lysholm dan KOOS dinilai pada saat praoperasi, serta 1 bulan, 3 bulan dan 6 bulan pascaoperasi.
Temuan Penelitian dan Diskusi: Tidak didapatkan perbedaan yang bermakna pada luaran fungsional objektif dan subjektif antara kelompok tanpa implan dan kelompok implan pada pengukuran praoperasi, serta 1 bulan, 3 bulan dan 6 bulan pascaoperasi. Didapatkan rerata hasil pengukuran rolimeter sebagai luaran fungsional objektif pada 6 bulan pascaoperasi dengan hasil lebih tinggi pada kelompok tanpa implan (95% IK) sebesar 0,82 (-0,09-1,73) milimeter (p=0,075). Nilai rolimeter 6 bulan pascaoperasi antara lutut yang cedera dan lutut yang sehat (side to side diference) menunjukkan median rentang antar kuartil (RAK) 1,00 (0,067-2,08) dan 1,34 (0,33-1,92) milimeter (p=0,779). Median (RAK) rolimeter praoperasi dan 6 bulan pascaoperasi (time to time diference) 5,17 (3,41-6,17) dan 5,00 (4,08-6,00) pada kelompok tanpa implan dan implan (p=0,882). Median (RAK) skor Tegner-Lysholm pada 6 bulan pascaoperasi untuk kelompok tanpa implan dan kelompok implan adalah 95.00 (87.00-100,00) dan 95,00 (90.00- 100,00) dengan p=0,989. Rerata (simpang baku) skor IKDC pada 6 bulan pascaoperasi untuk kelompok tanpa impan dan kelompok implan 73.47 (10.473) dan 69,65 (10.286) (p=0.303). Penilaian KOOS 6-bulan pascaoperasi pada kelompok tanpa implan dan kelompok implan memiliki median (RAK) 90,20 (81.13-90.95) dan 88,10 (84.65-93.35) dengan p=0,999. Non-inferioritas diperiksa secara parametrik dan batas non- inferioritas selisih rerata d=8 poin untuk skor IKDC dan d=10 poin untuk skor KOOS dan Tegner, tidak terlampaui.
Simpulan: Luaran fungsional objektif dan subjektif pasien yang menjalani rekonstruksi ACL tanpa implan dengan teknik press-fit femoral menunjukkan hasil yang non-inferior dibandingkan dengan yang menggunakan implan dalam evaluasi yang dilakukan selama 6 bulan (short-term follow up).

Introduction: ACL reconstruction is one of the most common procedures performed by many orthopedic surgeons. The severity of injury, cost of implants and high demanding technique operation leave enormous social and economic issues for the patient. Implantless ACL reconstruction with press-fit femoral fixation technique is one of the alternatives to solve the problems. The aim of this study was to find whether implantless ACL reconstruction gave comparable functional outcome (non-inferior) objectively and subjectively compared to the ACL reconstruction using implant technique.
Methods: Twelve patients underwent implantless ACL reconstruction with pressfit femoral technique and 24 patients underwent ACL reconstruction with implant between March 2013 and March 2014 at Gatot Soebroto Army Hospital, Jakarta. All patients were followed from preoperative until minimum of 6 months follow up post operatively (cohort prospective). Objective functional outcome were measured using rolimeter, and subjective functional outcome were measured according to IKDC, Tegner-Lysholm and KOOS.
Result and Discussion: There were no significant differences in objective and subjective functional outcome between implantless group compared to implant group at the preoperative measurement, as well as at 1 month, 3 months, and 6 months post operative. Mean rolimeter measurement result is obtained as objective functional outcome at 6 months post operative with higher result in implantless group (95%CI) of 0,82 (-0,09-1,73) millimeter (p=0,075). Rolimeter measurement in 6 months post operation between the injured knee and the healthy knee (side to side difference) showed a median inter-quartile range (IQR) 1,00 (0,067-2,08) and 1,34 (0,33-1,92) millimeter with p value 0,799. Median (IQR) for Tegner-Lysholm score at 6 months post operation for implantless group and implant group were 95.00 (87.00-100,00) and 95,00 (90.00-100,00) respectively with p value = 0,989. Mean (Standard Deviation) IKDC score at 6 months post operative in implantless group and implant group were 73.47 (10.473) and 69,65 (10.286) respectively with p value = 0.303. KOOS assessment at 6 month post operative in implant less group and implant group have median (IQR) 90,20 (81.13-90.95) and 88,10 (84.65-93.35) respectively, with p value = 0,999. Noninferiority was checked parametrically with non-inferiority border difference mean d = 8 points for IKDC score and d = 10 points for KOOS and Tegner score, were not concede.
Conclusion: Objective and subjective functional outcome of patient who underwent implantless ACL reconstruction using press-fit femoral fixation showed a non-inferior result compared to patients who underwent ACL reconstruction using implant in 6 months of short term follow up."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Blasutein, David I.
Philadelphia: Lea & Febriger, 1990
R 617.5 BLA a
Buku Referensi  Universitas Indonesia Library
cover
Duta Atur Tritama
"ABSTRAK
Latar Belakang: Saat ini WHO memperkirakan 60 ndash;80 juta pasangan menderita infertilitas atau diperkirakan 8 ndash;12 persen dari pasangan di seluruh dunia. Salah satu penyebab infertilitas pada wanita adalah endometriois.1,2 Sekitar 20 ndash; 40 wanita infertilitas menderita endometriosis, dengan prevalensi endometriosis pada wanita usia reproduksi adalah 3 ndash;10 .5 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase pasien endometriosis dengan infertilitas yang hamil dalam waktu satu tahun pasca prosedur laparoskopi dan factor-faktor yang mempengaruhinya.Metode: Penelitian ini merupakan studi kohort retrospektif, sumber data berasal dari rekam medis dengan pendekatan penelitian deskriptif-analitik kategorikal dengan menggunakan rekam medik pasien yang dilakukan laparoskopi di Rumah Sakit Fatmawati, kemudian di follow up untuk mengetahui kejadian kehamilannya. Data kemudian dianalisis untuk mengetahui hubungan antara usia, lama infertilitas, bilateralitas kista, patensi tuba, dan derajat r-AFS dengan kehamilan.Hasil: Terdapat 64 subjek yang dianalisis. Sebanyak 23 subjek 35,9 hamil dalam satu tahun pasca laparoskopi. Kelompok usia le; 35 tahun memiliki peluang untuk hamil lebih besar dengan OR 6,75 dan nilai p=0,01, lama infertilitas le; 3 tahun memiliki peluang untuk hamil lebih besar dengan OR 3,2 dan nilai p=0,032, derajat r-AFS II dan III juga memiliki peluang hamil yang besar dengan OR 3,25 dan 4,25 dengan nilai p=0,04.Kesimpulan: Pada penelitian ini didapatkan angka kehamilan dalam satu tahun pasca laparoskopi sebesar 35,9 . Terdapat hubungan antara usia, lama infertilitas dan derajat r-AFS dengan kehamilan.Kata Kunci: Endometriosis, infertilitas, laparoskopi, kehamilan

ABSTRACT
Background WHO estimate about 60 ndash 80 million infertile couple in the world or about 8 12 from the whole couple. Endometriosis is one of the condition that cause infertility. About 20 40 infertile women are having endometriosis, and endometriosis prevalence in reproductive women is 3 10 . This study purpose is to know about percentage of pregnancy rate in women post laparoskopi.Methods This study is retrospektif cohort, data is taken from medical record of patient in RSUP Fatmawati with categorical descriptive analitic approachment. Data then analyze to know is there any association between age, infertility duration, bilaterality of the cyst, tubal patensy, r AFS stage with pregnancy rate.Results From 64 subject, there are 23 subject 35,9 that pregnant within one year after laparoscopic procedure. Age le 35 years old have a greater chance to get pregnant with OR 6,75 and p value 0,01, duration of infertility le 3 years have a greater chance to get pregnant with OR 3,2 and p value 0,032, r AFS stage II and III are have a greater chance to get pregnant to with OR 3,25 and 4,25 and p value 0,04. Conclusion The pregnancy rate after laparoscopic cystectomy is 35,9 in this study. There are correlation between age, duration of infertility, and r AFS staging with pregnancy rate.Key Words Endometriosis, infertility, laparoscopy, pregnancy "
2016
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Liem, Raissa
"Pendahuluan: Obstetric Anal Sphincter Injuries (OASIS) merupakan salah satu komplikasi luaran partus pervaginam yang cukup sering ditemukan, mencapai 4,53% dari total persalinan pervaginam. Kejadian OASIS juga dikaitkan dengan peningkatan risiko inkontinensia fekal (IF) yang berpengaruh terhadap kualitas hidup seseorang. Pada penelitian ini akan dijabarkan karakteristik dari pasien yang mengalami OASIS di RS Tersier di Jakarta pada tahun 2014-2016 dan luaran inkontinensia fekal pada populasi tersebut.
Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif karakteristik pasien pasca reparasi OASIS di RSUPN Cipto Mangunkusumo, RS Persahabatan, dan RS Fatmawati tahun 2014- 2016. Dari total 234 pasien, 58 pasien berhasil dihubungi dan diwawancara dengan kuesioner RFIS untuk mengetahui luaran inkontinensia fekal. Dari 58 pasien, 16 pasien datang untuk USG tranperineal untuk penilaian otot sfingter ani pasca reparasi. Data dianalisis menggunakan SPSS 20.
Hasil Penelitian: Dari total 234 sampel, rerata usia pasien adalah 26,64 tahun, dengan rerata IMT 23,4 kg/m2. Sebagian besar pasien (67,5%) adalah primipara, dengan rerata durasi partus kala II selama 45,1 menit. Tindakan episiotomi dilakukan pada 40,6% pasien, persalinan spontan pada 153 (65,4%) pasien, dengan rerata berat lahir 3217 gram. Dari 58 pasien yang bisa dihubungi, keluhan inkontinensia fekal didapatkan pada 3 orang (5,2%) pasca OASIS dengan berbagai tingkat keparahan (ringan, sedang, dan berat). Dari 16 pasien yang datang untuk USG, ditemukan defek pada EAS pada 3 pasien, dan IAS pada 2 pasien. Kelima pasien tersebut tidak memiliki keluhan IF.
Diskusi: Penelitian ini merupakan studi deskriptif terhadap karakteristik pasien dengan OASIS, dan juga sebagai studi awal terhadap kejadian inkontinensia fekal pada populasi OASIS. Didapatkan 3 dari 58 pasien pasca reparasi primer OASIS mengalami inkontinensia fekal. Angka ini cukup rendah dibandingkan studi lain. Hal ini dapat disebabkan adanya perbedaan populasi penelitian. Pasien dengan keluhan IF yang memiliki sfingter ani yang intak pada penelitian ini menunjukkan bahwa kontinensia tidak hanya dipengaruhi oleh sfingter ani, namun juga faktor lain seperti otot dasar panggul dan persarafan disekitarnya.
Kesimpulan: Luaran dari reparasi primer OASIS ditemukan beragam dari penelitian ke penelitian. Karakteristik pasien memiliki peran yang penting dalam menentukan angka kejadian OASIS dan juga luaran pasca reparasi. Untuk mengetahui hal tersebut, diperlukan penelitian lanjutan dengan jumlah sample yang lebih besar.

Introduction: Obstetric Anal Sphincter Injuries (OASIS) is a quite common complication of vaginal delivery. It reaches 4,53% from total vaginal delivery. OASIS is associated with an increased risk of fecal incontinence, which affect one's quality of life. The incidence of OASIS and fecal incontinence differs from one study to the others. In this study, characteristics of patients with OASIS in tertiary hospital in Jakarta year 2014-2016 and fecal incontinence outcome among those patients will be described.
Methodology: This study is a descriptive study for characteristics of OASIS patients after primary repair in Cipto Mangungkusumo Hospital, Persahabatan Hospital and Fatmawati Hospital from year 2014-2016. From total 234 patients, only 58 patients could be contacted, and interviewed using Revised Fecal Incontinence Score (RFIS) questionnaires. From total 58 patients, only 16 patients came for further transperineal utlrasound. Data were analized using SPSS 20.
Results: From total 234 patients, mean patient's age is 26.6 years old, with mean BMI 24.8 kgs/m2. Most of the patients are nulliparous (67,5%), with median duration of second stage of labor 45 minutes. Episiotomy was not performed on most patients (59.4%), and most of them underwent spontaneous vaginal delivery (65,4%), with mean baby birthweight 3217 grams. From 58 patients that could be contacted, 3 patients had fecal incontinence complaint (5,2%). From those 58, 16 came for transperineal ultrasound examination, and anal sphincter defects were found in 5 patients, 3 with EAS, and 2 with IAS. All 5 patients did not have any fecal incontinence symptoms.
Discussion: This study is a descriptive study of OASIS patient's characteristics and also as a preliminary study for the incidence of fecal incontinence among OASIS population in Jakarta. The number of fecal incontinence in this study can be considered low (3 out of 58), compared to others. This could be due to differences in study population. Patient with fecal incontinence who has intact anal sphincter in this study shows that incontinence is influenced not only by anal sphincter, but also by other factor such as pelvic floor muscle and surrounding nerve innervation.
Conclusion: The outcomes of primary reparation of OASIS are varied within studies. Patient's characteristics might play an important role in influencing the incidence of OASIS as well as the outcome after reparation. A further study with a bigger sample is necessary."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
T57658
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Eka Arya Limianto
"Latar belakang: Mortalitas pascaoperasi dan komplikasi respiratorik berat telah didokumentasikan pada pasien COVID-19 pada berbagai studi. Namun, belum terdapat penelitian yang secara khusus mengevaluasi luaran dari laparatomi gawat darurat dengan perforasi gastrointestinal selama pandemi COVID-19 tahun 2020.
Metode: Studi dilakukan dengan desain observasional retrospektif sejak bulan Desember 2020-Februari 2021. Pasien perforasi gastrointestinal berusia lebih dari 15 tahun yang menjalani laparotomi gawat darurat diinklusi dalam penelitian. Luaran yang dievaluasi adalah mortalitas dan morbiditas, yang meliputi sindrom distres pernapasan akut (ARDS), reoperasi, durasi perawatan di rumah sakit, sepsis, admisi ke ruang perawatan intensif (ICU), dan infeksi daerah operasi (IDO).
Hasil: Terdapat 117 pasien pascalaparotomi yang direkrut dalam penelitian ini, dengan 95 (81,2%) pasien tidak terinfeksi SARS-CoV-2. Median usia untuk kelompok non-COVID dan kelompok COVID secara berturut-turut sebesar 41 (14¬92) tahun dan 39 (15¬77) tahun. Mortalitas umum tercatat pada angka 23,9%. Pasien perforasi COVID-19 yang menjalani tindakan laparotomi memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami kematian, ARDS, dan sepsis, serta mendapatkan tindakan reoperasi dibandingkan pasien non-COVID, dengan risiko odds masing-masing sebesar 2,769 (95% IK; 1,032–7,434), 8,50 (95% IK; 2,939–24,583), 3,36 (95% IK; 1,292–8,735), dan 3,69 (95% IK; 1,049–13,030). Tidak terdapat perbedaan antara pasien perforasi gastrointestinal yang terkonfirmasi COVID-19 dan pasien non-COVID dalam hal risiko IDO, lama durasi perawatan, dan admisi ke ICU. Usia, sepsis, dan ARDS merupakan faktor prognostik bermakna untuk mortalitas COVID-19.
Simpulan: Pasien perforasi gastrointestinal pascalaparotomi yang terkonfirmasi COVID-19 memiliki risiko mortalitas, ARDS, sepsis, dan menjalani tindakan reoperasi yang lebih tinggi dibandingkan pasien non-COVID.

Background: Postoperative mortality and severe respiratory complications have been documented in COVID-19 patients in various studies. However, no studies specifically evaluate the outcome of emergency laparotomy with gastrointestinal perforation during the 2020 COVID-19 pandemic.
Methods: The study was conducted with a retrospective observational design from December 2020-February 2021. Patients with gastrointestinal perforations aged more than 15 years who underwent emergency laparotomy were included in the study. The outcomes evaluated were mortality and morbidity, which included acute respiratory distress syndrome (ARDS), reoperation, duration of hospital stay, sepsis, admission to the intensive care room (ICU), and surgical site infections (SSI).
Results: There were 117 post-laparotomy patients recruited, with 95 (81.2%) COVID-19 negative patients. The median ages for the non-COVID group and the COVID group were 41 (14¬92) years and 39 (15¬77) years. General mortality was recorded at 23.9%. Patients with perforated COVID-19 who underwent laparotomy had a higher risk of dying, ARDS, and sepsis, as well as receiving re-surgery than non-COVID-19 patients, with an odds risk of 2.769 each (95% CI; 1,032–7,434), 8,50 (95% CI; 2,939–24,583), 3.36 (95% CI; 1,292–8,735), and 3.69 (95% CI; 1,049¬ – 13,030). There was no difference between gastrointestinal perforated patients with confirmed COVID-19 and non-COVID-19 patients in terms of risk of SSI, length of stay, and admission to the ICU. Age, sepsis, and ARDS are significant prognostic factors for COVID-19 mortality.
Conclusion: Post-laparotomy confirmed gastrointestinal perforation patients with COVID-19 have a higher risk of mortality, ARDS, sepsis, and undergoing reoperation than non-COVID-19 patients."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2021
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Ade Junaidi
"Latar Belakang. Spondilitis tuberkulosis adalah infeksi pada tulang belakang yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Spondilitis tuberkulosis dapat menyebabkan perubahan parameter-parameter spinopelvis yang meliputi pelvic incidence, pelvic tilt dan sacral slope akibat perubahan biomekanika pada tulang belakang. Segmen vertebrae torakal dan lumbar merupakan lokasi yang paling sering terkena spondilitis tuberkulosis. Instrumentasi posterior merupakan salah satu modalitas tata laksana spondilitis tuberkulosis. Namun, di Indonesia, data luaran klinis dan radiologi pasca instrumentasi posterior pada tuberkulosis lumbal masih langka. Studi ini bertujuan untuk mengetahui luaran klinis dan radiologis pasien spondilitis tuberkulosis lumbar sebelum dan sesudah instrumentasi posterior.
Metode. Penelitian ini merupakan studi potong lintang pada pasien dengan spondilitis tuberkulosis lumbal di RS Cipto Mangunkusumo dan RSUP Fatmawati. Subjek penelitian dikumpulkan secara consecutive sampling. Total subjek yang dikumpulkan dan dianalisis berjumlah 23 pasien. Luaran klinis dan radiologis sebelum dan sesudah instrumentasi posterior akan dibandingkan. Luaran klinis yang dinilai meliputi skor Visual Analog Scale (VAS) dan skor Oswestry Disability Index (ODI). Luaran radiologis yang dinilai meliputi sacral slope, pelvic tilt, pelvic incidence, dan lumbar lordosis. Analisis statistik dilakukan dengan SPSS versi 20.
Hasil. Median usia subjek penelitian adalah 31 (9-57) tahun. Sebanyak 60,9% subjek berjenis kelamin perempuan. Median jumlah vertebra yang terinfeksi adalah 2 (1- 4). Median skor VAS sebelum operasi, 6 bulan setelah operasi, dan 12 bulan setelah operasi secara berturut-turut adalah 9 (4 – 10), 4 (1-7), dan 2 (1-6) (p<0,001). Median skor ODI sebelum operasi, 6 bulan setelah operasi, dan 12 bulan setelah operasi secara berturut-turut adalah 70 (40 – 86), 34 (10 – 74), dan 12 (2 – 74) (p<0,001). Tidak ditemukan perbedaan bermakna parameter lumbar lordotic, pelvic incidence, pelvic tilt, dan sacral slope sebelum dan setelah operasi. Selisih skor ODI sebelum dan sesudah operasi berkorelasi negatif dengan selisih lumbar lordotic dan sacral slope.
Kesimpulan. Instrumentasi posterior dapat meningkatkan luaran klinis pada pasien spondilitis tuberkulosis lumbal. Instrumentasi posterior tidak bermakna dari segi koreksi parameter spinopelvis. Perubahan lumbar lordotic dan sacral slope setelah dilakukan instrumentasi posterior memberikan hasil perbaikan kualitas hidup yang ditandai dengan berkurangnya skor ODI.

Introduction. Spondylitis tuberculosis is an infection of the vertebrae caused by Mycobacterium tuberculosis. Spondylitis tuberculosis can cause changes in spinopelvic parameters including pelvic incidence, pelvic tilt, and sacral slope due to biomechanical changes of the spine. The thoracal and lumbar vertebrae are the most commonly affected segment in spondylitis tuberculosis. Posterior instrumentation is one of the modality for the treatment of spondylitis tuberculosis. However, in Indonesia, clinical and radiological outcomes after posterior instrumentation in tuberculosis of lumbar vertebrae is still scarce. This study aims to investigate the clinical and radiological outcomes of patients with spondylitis tuberculosis of the lumbar vertebrae after posterior instrumentation.
Method. This study was a cross sectional study in patients with spondylitis tuberculosis of the lumbar vertebrae who underwent posterior instrumentation in Cipto Mangunsukumo and Fatmawati Hospital. Subjects were collected through consecutive sampling. 23 subjects were collected and analyzed. Clinical and radiological outcomes before and after posterior instrumentation were compared. The clinical outcome included the Visual Analog Scale (VAS) and Oswestry Disability Index (ODI). The radiological outcome included sacral slope, pelvic tilt, pelvic incidence, and lumbar lordosis. Statistical analysis was performed using SPSS version 20.
Result. The median of age of the subjects was 31 (9-57) years. The subjects consisted of 60,9% female. The median of the total vertebral infected was 2 (1-4). Median of VAS score before surgery, 6 months after surgery, and 12 months after surgery were 9 (4 – 10), 4 (1-7), dan 2 (1-6) (p<0,001) consecutively. Median of ODI score before surgery, 6 months after surgery, and 12 months after surgery were 70 (40 – 86), 34 (10 – 74), dan 12 (2 – 74) (p<0,001) consecutively. There was no significant difference in lumbar lordotic, pelvic incidence, pelvic tilt, and sacral slope before and after the surgery. The difference of ODI score before and after the surgery inversely correlated with the difference of lumbar lordotic and sacral slope.
Conclusion. Posterior instrumentation could improve clinical outcomes in patients with spondylitis tuberculosis of lumbar. Posterior instrumentation did not significantly associate with correction of spinopelvic parameter. Change of lumbar lordotic and sacral slope after posterior instrumentation led to improvement of quality of life marked by reduction of ODI score
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia , 2020
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>