Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 95161 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Intan Permatasari
"Diabetes merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan terjadinya kondisi hiperglikemia. Ada dua hal yang dapat menyebabkan kondisi ini, yaitu ketidakmampuan pankreas dalam memproduksi insulin, atau sel tidak memberikan respon terhadap kerja insulin sehingga gula tidak dapat masuk ke dalam sel. Tujuan utama terapi diabetes adalah untuk mencegah atau menunda progresivitas penyakit yang dalam jangka panjang dapat menyebabkan komplikasi baik mikrovaskular maupun makrovaskular. Target glikemik harus di individualisasi berdasarkan bukti klinik dan faktor spesifik yang dimiliki oleh pasien. Pada Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) ini dilakukan pengumpulan data obat antidiabetika oral yang terdapat di Apotek Bukit Sari serta melakukan skrining dan analisa resep yang terkait penyakit diabetes melitus yang diterima di Apotek Bukit Sari pada Bulan Juli 2021. antidiabetika oral yang paling banyak diresepkan di Apotek Bukit Sari adalah metformin. kombinasi antidiabetika lebih banyak digunakan dibandingkan dengan penggunaan monoterapi. Antidiabetika kombinasi yang banyak diresepkan di Apotek Bukit Sari adalah kombinasi dari glimepiride-metformin. Penyakit penyerta yang muncul pada resep yang dikumpulkan meliputi hiperlipidemia, hipertensi, BPH (Benign Prostat Hiperplasia), neuropati perifer, asam urat, dan gangguan ginjal.

Industri farmasi merupakan suatu badan usaha yang memiliki izin untuk melakukan kegiatan pembuatan obat atau bahan obat. Pengendalian yang menyeluruh dalam pembuatan obat merupakan hal yang sangat penting untuk menjamin bahwa konsumen menerima obat yang bermutu tinggi. Mutu tersebut harus dibentuk ke dalam produk mulai dari bahan awal, bahan pengemas, proses produksi, bangunan, peralatan, personel yang terlibat, serta prosedur pengendalian mutu itu sendiri. Pencapaian sasaran mutu membutuhkan partisipasi dan komitmen dari semua tingkat personel di berbagai departemen dalam perusahaan. Personel yang berada di area produksi, gudang penyimpanan, laboratorium, dan berbagai personel lain yang kegiatannya dapat berdampak pada mutu produk harus mendapatkan pelatihan secara rutin. Setiap karyawan baru di PT Hexpharm Jaya akan didampingi selama 3 bulan pertama melalui On Job Training, dan apabila telah memenuhi kualifikasi maka akan diberikan Surat Ijin Mengoperasikan Mesin. Hal ini dilakukan sebagai upaya menyediakan sumber daya personel yang handal dalam melakukan proses produksi. Peralatan pembuatan obat juga sebaiknya memiliki desain dan kontruksi yang tepat, ukuran yang memadai, penempatan yang sesuai dan dikualifikasi dengan tepat untuk menjamin keseragaman mutu obat dari bets-ke-bets. Pemeliharaan parts mesin produksi di lakukan dengan melakukan autonomous maintenance setiap hari. Semua alat produksi yang ada dikalibrasi dan di validasi secara rutin sesuai jadwal. Kebersihan alat di jaga dengan melakukan proses SUCU (setting up and cleaning up) setiap awal dan akhir proses produksi. Prosedur pemeliharaan dan penggunaan alat produksi di PT. Hexpharm Jaya Laboratories telah memenuhi persayaratan CPOB"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2022
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Alwi Hadad
"Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit kronis yang menjadi penyebab kematian. Kualitas pelayanan prolanis sangat penting dalam menangani penderita diabetes melitus. Kualitas pelayanan kesehatan yang rendah dan masih banyak penderita diabetes melitus belum mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar dapat menjadi indikator bahwa kualitas pelayanan prolanis masih belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran praktik kolaborasi interprofesi dalam penanganan klien diabetes melitus pada pelayanan prolanis di wilayah Jakarta Utara. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional dan teknik purposive sampling dengan jumlah 144 tenaga kesehatan yang terlibat dalam pelayanan prolanis di enam Puskesmas Kecamatan Jakarta Utara. Instrumen yang digunakan adalah Assesment of Interprofessional Team Collaboration Scale (AITCS) II. Hasil penelitian dikategorikan menjadi dua yaitu kolaborasi baik (52,1%) dan kurang baik (47,9%). Sosialisasi yang lebih luas serta seminar kepada tenaga kesehatan mengenai pentingnya kolaborasi interprofesi perlu ditingkatkan sehingga pemberi pelayanan kesehatan mampu mengoptimalkan pelayanan kesehatan dengan pendekatan kolaborasi interprofesi.

Diabetes mellitus is a chronic disease that is the cause of death. The quality of prolanis treatment is very important in dealing with people with diabetes mellitus. The low quality of health treatment and there are still many people with diabetes mellitus who have not received health treatment according to standards can be an indicator that the quality of prolanis treatment is still not optimal. This study aims to describe the practice of interprofessional collaboration in handling diabetes mellitus clients at prolanis treatment in the North Jakarta area. This study used a cross sectional approach and purposive sampling technique with a total of 144 health workers involved in prolanis treatment in six North Jakarta Area Health Centers. The instrument used is the Assessment of Interprofessional Team Collaboration Scale (AITCS) II. The results of the study were categorized into two, namely good collaboration (52.1%) and poor collaboration (47.9%). Wider socialization and seminars to health workers regarding the importance of interprofessional collaboration need to be improved so that health service providers are able to optimize health services with an interprofessional collaboration approach."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Karina
"

Latar Belakang: Diabetes melitus (DM) tipe 2 adalah suatu penyakit metabolik yang kompleks dan kronis yang ditandai dengan gangguan angiogenesis. Inflamasi kronis derajat ringan dan stres oksidatif yang meningkat pada DM tipe 2 diketahui dapat menyebabkan gangguan fungsi biologis pada sel progenitor/sel punca vaskular, salah satunya adalah adipose-derived mesenchymal stem cell (ADSC). Sejumlah penelitian menunjukkan potensi vaskulogenik ADSC dan perannya pada regenerasi jaringan. Hingga saat ini aplikasi sel punca autologus pada penderita DM untuk menginisiasi vaskularisasi masih mengalami kendala. Platelet-rich plasma (PRP) diketahui kaya akan berbagai faktor pertumbuhan, termasuk VEGF, yang penting untuk proses angiogenesis.

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis efek pemberian PRP PMI terhadap proliferasi (jumlah sel stromal, nilai population doubling time (PDT), dan persentase sel hidup), diferensiasi (pembentukan koloni, ekspresi CD73, CD90, CD105, dan tiga lini diferensiasi), ekspresi mRNA VEGF dan VEGFR2, dan potensi angiogenik ADSC DM in vitro (sekresi VEGF dan pembentukan tubular kapiler).

Metode: Terlebih dahulu, konsentrasi trombosit per µL dan kadar VEGF per 1x103 trombosit pecah yang terkandung dalam PRP Palang Merah Indonesia (PMI) dibandingkan dengan PRP DM dan non-DM. Lalu, stromal vascular fraction (SVF) diisolasi dari jaringan lemak menggunakan metode enzimatik, dan SVF penderita DM tipe 2 (n= 15) dan non-DM (n= 10)  dikultur dalam medium kontrol hingga didapat ADSC pasase 1−3 (P1−P3). Proliferasi, diferensiasi, ekspresi mRNA VEGF dan VEGFR2, serta potensi angiogenik ADSC DM dan non-DM diukur dan dibandingkan. ADSC DM P3 kemudian dikultur dalam medium PRP PMI 5%, 10%, 15%, dan 20%, lalu proliferasi, diferensiasi, ekspresi mRNA VEGF dan VEGFR2 diukur dan dibandingkan dengan kontrol (FBS) untuk mendapatkan konsentrasi PRP optimum. ADSC DM P3 yang diprekondisikan dengan PRP optimum, dengan atau tanpa anti-VEGF (bevacizumab) 100 ng/mL, dan ADSC DM P3 kontrol dikultur, lalu sekresi VEGF dan pembentukan tubular kapiler pada Matrigel® diukur.

Hasil: Pada penelitian ini tidak ditemukan perbedaan bermakna antara konsentrasi trombosit per µL PRP DM, non-DM, dan PMI (p= 0,22). Namun, PRP non-DM memiliki kadar VEGF per 1000 trombosit pecah lebih rendah bermakna (0,20 (0,04−0,35) fg) dibandingkan PRP DM (0,69 (0,21−1,17) fg), p= 0,03) dan PMI (1,84 (1,38−2,10) p= 0,01), dan tidak ada perbedaan bermakna antara PRP DM dan PRP PMI (p= 0,06). Jumlah sel stromal per gram lemak dan jumlah koloni sel stromal DM lebih rendah dari non-DM (86,35 (52,48−106,76) x 106 vs 158,93 (101,59−185,94) x 106, p= 0,01, dan 94 ± 14 koloni vs 31 ± 32 koloni, p= 0,004). Tidak terdapat perbedaan bermakna antara DM dan non-DM pada persentase sel stromal hidup (p= 0,24), ekspresi CD73 (p= 0,21), CD90 (p= 0,90), adipogenesis, kondrogenesis, osteogenesis, PDT P2 (p= 0,27), PDT P3 (p= 0,21), dan persentase sel hidup ADSC P2 (p= 0,07), sedangkan ekspresi CD105 (64,41 (51,20−73,38)% vs 91,40 (82,62−95,47)%, p< 0,001) ADSC DM P1 dan persentase sel hidup (82,70 ± 8,07% vs 91,15 ± 3,77%, p= 0,04) ADSC DM P3 lebih rendah bermakna dibandingkan ADSC non-DM. Tidak ada penurunan yang bermakna pada ekspresi relatif mRNA VEGF (0,64 (0,30−1,08), p= 0,86) dan VEGFR2 DM (0,64 ± 0,56, p= 0,49) jika dibandingkan dengan ADSC non-DM. Rerata kadar VEGF dalam conditioned medium (CM) yang disekresikan oleh 1x103 ADSC DM dan non-DM secara berturut-turut sebesar 0,74 pg/mL dan 0,62 pg/mL. ADSC DM yang diberi PRP optimum, yaitu 15% memiliki nilai PDT yang lebih rendah (2,33 ± 0,56 hari vs 5,04 ± 1,26 hari, p= 0,01) dan persentase sel hidup (95,53 ± 1,60% vs 78,95 ± 10,13%, p=0,01) yang lebih tinggi bermakna dibandingkan dengan kontrol. Terjadi peningkatan ekspresi CD105, mRNA VEGF, dan VEGFR2 ADSC DM yang diberi PRP 15% (secara berturut-turut 1,81 ± 0,73, p= 0,01; 5,27 ± 5,69, p= 0,23; dan 9,01 ± 11,59, p= 0,06) relatif terhadap kontrol. ADSC DM yang diberi PRP 15% dan ADSC DM kontrol secara berturut-turut mensekresikan VEGF rerata sebanyak 0,57 pg/mL dan 1,67 pg/mL per 1x103 sel hidup. Jumlah tubular kapiler in vitro ADSC DM yang diberi PRP meningkat pada jam ke-24 jika dibandingkan dengan kontrol dan tidak berbeda bermakna dengan ADSC non-DM, namun membutuhkan waktu lebih panjang, serta tidak berbeda bermakna dengan ADSC DM yang diberi PRP dan anti-VEGF (p=0,78).

Kesimpulan: ADSC DM terbukti mengalami kerusakan selular yang dicirikan dengan penurunan proliferasi, diferensiasi, ekspresi mRNA VEGF dan VEGFR2, serta potensi angiogeniknya. Pemberian PRP 15% (VEGF 98,00 pg/mL) dapat memperbaiki kerusakan tersebut melalui efek sinergis yang dihasilkan oleh VEGF dan faktor pertumbuhan lainnya yang terdapat dalam PRP.

 


Background: Type II diabetes mellitus (DM type 2) is a chronic and complex metabolic disease identified by impaired angiogenesis. Low grade chronic inflammation and increasing oxidative stress in DM type 2 decrease the biological functions of progenitor/stem cells, including adipose-derived stem cells (ADSC).  ADSC plays significant roles in angiogenesis and tissue regeneration. Some studies have shown the vasculogenic potency of ADSC and its role in tissue regeneration. To date, autologous cell application in DM patients to initiate vascularization is hindered. Platelet-rich plasma (PRP) is widely known to contain generous amount of growth factors including VEGF with significant role in angiogenesis.

Objective: This study aimed to investigate and analyze the effect of PRP preconditioning to the proliferation (stromal cell number, population doubling time (PDT) and percentage of viable cells), differentiation (colony formation, CD73, CD90, CD105 expressions, three lineage of differentiation), expression of mRNA VEGF and VEGFR2, as well as in vitro angiogenic potency of ADSC DM (VEGF secretion and capillary tube formation).

Methods: Initially, platelet concentration per µL and VEGF per 1x103 lysed platelet contained in Palang Merah Indonesia (PMI) PRP was compared to DM and non-DM PRP. Subsequently, stromal vascular fraction (SVF) from 15 DM and 10 non-DM donors was enzymatically isolated from adipose tissue, and cultured in control media to generate passage 1−3 (P1−P3) ADSC. Proliferation, differentiation, mRNA VEGF and VEGFR2 expression, as well as angiogenic potency of DM ADSC in vitro were measured and compared to non-DM control. P3 DM ADSC was then cultured in media contained 5%, 10%, 15%, and 20% PMI PRP, and proliferation, differentiation, mRNA VEGF and VEGFR2 expression were measured and compared to FBS control to determine optimum PMI PRP concentration. P3 DM ADSC preconditioned with optimum PMI PRP, with or without anti-VEGF (bevacizumab) 100 ng/mL, and control DM ADSC were cultured, and VEGF secretion was measured, as well as capillary tube formation on Matrigel®.

Results: In this study no significant differences were observed between platelet concentration per µL DM, non-DM, and PMI PRP (p= 0.22). However, non-DM PRP contained significantly lower VEGF per 1000 lysed platelets (0.20 (0.04−0.35) fg) compared to DM (0.69 (0.21−1.17) fg, p= 0.03) and PMI PRP (1.84 (1.38−2.10), p= 0.01), with no significant difference between DM and PMI PRP (p=0.06). The number of viable stromal cells per gram adipose tissue and collonies generated from DM SVF were significantly lower than non-DM (86.35 (52.48−106.76) x 106 vs 158.93 (101.59−185.94) x 106, p= 0.01 and 94 ± 14 collonies vs 31 ± 32 collonies, p= 0.004). Non-significant differences were also observed in the percentage of viable stromal cells (p= 0.24), expression of CD73 (p= 0.21), CD90 (p= 0.90), adipogenesis, chondrogenesis, osteogenesis, P2 and P3 PDT (p= 0.27 and 0.21, respectively), and the percentage of viable P2 ADSC (p= 0.07), but the expression of CD105 of P1 DM ADSC (64.41 (51.20−73.38)% vs 91.40 (82.62−95.47)%, p< 0.001) and the percentage of viable P3 ADSC (82.70 ± 8.07% vs 91.15 ± 3.77%, p= 0.04) were significantly lower than non-DM ADSC. The reduction of mRNA VEGF and VEGFR2 relative expression of P3 DM ADSC (0.64 (0.30−1.08) p= 0.86 and 0.64 ± 0.56, p= 0.49, respectively) were unsignificant compared to non-DM ADSC. Mean of VEGF level normalized to 1x103 viable cells in the conditioned medium (CM) of DM and non-DM ADSC were 0.74 pg/mL and 0.62 pg/mL, respectively. Optimum 15% PRP-preconditioned DM ADSC had significantly lower PDT value (2.33 ± 0.56 days vs 5.04 ± 1.26 days, p=0.01) and higher percentage of viable cells compared to control (95.53 ± 1.60% vs 78.95 ± 10.13%, p=0.01). The increase of relative expression of CD105, mRNA VEGF and VEGFR2 (1.81 ± 0.73, p= 0.01; 5.27 ± 5.69, p= 0.23; and 9.01 ± 11.59, p= 0.06, respectively) were unsignificant in DM ADSC compared to non-DM. Optimum 15% PRP-preconditioned DM ADSC and control secreted VEGF in CM as much as 0.57 pg/mL and 1.67 pg/mL per 1x103 viable cells in average. PRP-preconditioning improved the capillary tube formation in DM ADSC, but the process was longer compared to control, and unsignificant to non-DM ADSC and PRP-preconditioned DM ADSC with anti-VEGF (p=0.78).

Conclusions: Cellular damage in DM ADSC was idientified by a reduction of proliferation, differentiation. mRNA VEGF and VEGFR2 expression, and angiogenic potency. Preconditioning DM ADSC with 15% PRP (VEGF 98.00 pg/mL) improved the cellular damage with synergitic effect of VEGF and other growth factors contained in PRP.

 

"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
D-Pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muttia Amalia
"Pendahuluan –Diabetes Mellitus tipe 2 (DMT2) merupakan sindrom inflamasi progresif dengan peningkatan risiko komplikasi kardiovaskular berupa Atherosclerotic Cardiovascular Disease (ASCVD). Proses thromboinflamasi pada DMT2 ASCVD dikaitkan dengan perubahan pada jumlah serta fungsi leukosit dan trombosit. Rasio leukosit (Neutrophil-Lymphocyte Ratio, Monocyte-Lymphocyte Ratio, Platelet-Lymphocyte Ratio) serta penanda biologis dari netrofil (Peptydil Arginine Deiminase-4), monosit/makrofag (Interleukin-6), dan trombosit (Platelet Glycoprotein 1b-α) dikenali sebagai penanda biologis yang dapat memprediksi perubahan plak stabil dan tidak stabil pada pasien DMT2 ASCVD. Studi ini dilakukan untuk menganalisis hubungan antara klasifikasi pasien DMT2 2 risiko sangat tinggi (Very High Risk / VHR) dan risiko tinggi (High Risk / HR) dan pada pasien DMT2 dengan Acute Coronary Syndrome (ACS) terhadap parameter inflamasi NLR, MLR, PLR, GPIbα, PAD4, dan IL-6.
Metodologi – 75 pasien DMT2 ACSVD yang menjalani pengobatan di rawat jalan dan unit gawat darurat Rumah Sakit Pusat Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita dilibatkan dalam studi ini. Pasien dikategorikan sebagai DMT2 risiko tinggi, DMT2 risiko sangat tinggi, dan DMT2 ACS. Parameter metabolisme dan inflamasi diukur dan dianalisis pada ketiga kelompok DMT2 ASCVD tersebut.
Hasil dan Diskusi – Nilai parameter metabolisme kolesterol total dan Low Density Lipoprotein (LDL) serta parameter inflamasi NLR, MLR, PLR, dan IL-6 ditemukan lebih tinggi dan signifikan pada kelompok DMT2 ACS. Nilai Gp1bα ektodomain (Glikokalisin) ditemukan lebih tinggi pada kelompok DMT2 risiko tinggi dan DMT2 risiko sangat tinggi menggambarkan hubungan Gp1bα dan ADAM17 yang terkait dengan keseimbangan pembentukan dan pembersihan trombosit. Nilai PAD4 yang lebih tinggi pada kelompok DMT2 risiko tinggi dan DMT2 risiko sangat tinggi menggambarkan proses perbaikan jaringan dan induksi polarisasi makrofag menjadi fenotip antiinflamasi yang berperan terhadap perbaikan fungsi kardiovaskular. Penelitian ini menunjukkan bahwa nilai NLR dan kolesterol total yang tinggi serta nilai PAD4 yang rendah merupakan prediktor terjadinya keadaan ACS (plak tidak stabil) pada pasien DMT2 ASCVD.

Introduction – Diabetes Mellitus type 2 (T2DM) is a progressive inflammatory syndrome with an increased risk of cardiovascular complications in the form of Atherosclerotic Cardiovascular Disease (ASCVD). The thromboinflammatory process in T2DM ASCVD is associated with changes in the number and function of leukocytes and platelets. The leukocyte ratio (Neutrophil-Lymphocyte Ratio, Monocyte-Lymphocyte Ratio, Platelet-Lymphocyte Ratio) as well as biological markers of neutrophils (Peptydyl Arginine Deiminase-4), monocytes/macrophages (Interleukin-6), and platelets (Platelet Glycoprotein 1b-α) are recognized as a biological marker that can predict stable and unstable plaque changes in T2DM with ASCVD. This study was conducted to analyze the relationship between the classification of T2DM patients with very high risk (VHR), high risk (HR), and early onset ACS on the inflammatory parameters NLR, MLR, PLR, GPIbα, PAD4, and IL-6.
Methodology – This study included 75 ACSVD T2DM patients being treated at Harapan Kita Heart and Blood Vessel Center Hospital's outpatien and emergency unit. Patients were classified as having high risk T2DM, extremely high risk T2DM, or ACS T2DM. In the three T2DM ASCVD groups, metabolic and inflammatory parameters were evaluated and studied.
Results and Discussion – The metabolic indices total cholesterol and Low Density Lipoprotein (LDL), as well as the inflammatory markers NLR, MLR, PLR, and IL-6, were shown to be greater and significant in the T2DM ACS group. Gp1b ectodomain (Glycocalysin) values were found to be greater in the high risk T2DM and very high risk T2DM groups, demonstrating the relationship between Gp1b and ADAM17, which is associated to platelet production and clearance balance. Higher PAD4 values in the high risk T2DM and very high risk T2DM groups represent tissue repair and the activation of macrophage polarization into an anti-inflammatory phenotype, which contributes to improved cardiovascular function. According to this study, high NLR and total cholesterol levels, as well as low PAD4 levels, are predictors of ACS (unstable plaque) in ASCVD T2DM patients.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2024
D-pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Berly Nisa Srimayarti
"ABSTRAK
Diabetes melitus merupakan salah satu dari empat Penyakit Tidak Menular (PTM) yang menjadi prioritas di dunia. Kasus diabetes di dunia terus meningkat, kebanyakan terjadi pada diabetes melitus tipe 2. Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), bahwa prevalensi nasional diabetes tipe 2 di Indonesia pada usia >15 tahun, terjadi peningkatan yaitu dari 5,7% (2007), menjadi 6,9% (2013) dan terus meningkat menjadi 8,5% (2018). Sekitar 70% penyandang diabetes tipe 2 sering tidak menyadari penyakitnya, bahkan 25% baru menyadari bahwa sudah mengalami komplikasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat perancangan prototipe Personal Health Records (PHR) dalam rangka pencegahan dan pengendalian faktor risiko diabetes melitus tipe 2. Metode penelitian ini menggunakan metode Systems Development Life Cycle (SDLC), melalui pendekatan Rapid Application Development (RAD) dengan teknik prototyping. Prototipe ini menyediakan informasi terkait diabetes, tersedianya menu data umum bagi pengguna, adanya data riwayat kesehatan, faktor risiko diabetes melitus tipe 2, dan rekomendasi kesehatan dalam bentuk kalimat dan video. Personal Health Record (PHR) berbasis android ini bisa menjadi salah satu tools untuk melakukan pencegahan dan pengendalian faktor risiko diabetes melitus tipe 2, pengguna bisa mengetahui lebih dini potensi terhadap penyakit diabetes melitus tipe 2, karena output yang muncul dapat melihat pengguna termasuk berisiko atau tidak, sesuai dengan kategori yang di inputkan. Penggunaan aplikasi ini sangat mudah dipahami dan berpusat pada individu, sehingga dapat mendorong perubahan perilaku kesehatan bagi pengguna.

ABSTRACT
Diabetes mellitus is one of the four most prioritized Non-Communicable Diseases (NCD) in the world. The global diabetes prevalence increases every year, with type 2 diabetes as the highest contributor. Based Basic Health Research (Riskesdas), the prevalence of type 2 diabetes in Indonesia for the age group of> 15 years, had 5.7% increase in 2007, increased up to 6.9 % in 2013, and increased 8.5% in 2018. Around 70% of people with type 2 diabetes are often unaware of their illness, and 25% of them only realized once they got complications of diabetes. To design a prototype of Personal Health Records (PHR) in order to prevent and control the risk factors for type 2 diabetes mellitus. This study used the Systems Development Life Cycle (SDLC) method, using the Rapid Application Development (RAD) approach with prototyping techniques. This prototype provides information regarding diabetes, the availability of a general data menu for users, the presence of medical history data, risk factors for type 2 diabetes mellitus, and health recommendations in the form of sentences and videos. This Android-based PHR can be used as one prevention and risk factors control tool for type 2 diabetes mellitus. This tool aims to give a dependable prediction on type 2 diabetes mellitus potential occurrence in community. This application user friendly with a simple design and interface, hence it can encourage the users to change their behaviour into healthier lifestyle."
2019
T52701
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Silvi Khairunnisa
"Pada penelitian sebelumnya, dilaporkan bahwa ekstrak etanol herba meniran (Phyllanthus niruri L.) paling kuat menghambat aktivitas α-glukosidase dibanding 15 tanaman uji lainnya. α-Glukosidase mengkatalisis tahap akhir proses pencernaan karbohidrat. Dengan demikian, terjadi penundaan absorpsi glukosa dan penurunan kadar glukosa plasma postprandial. Senyawa yang dapat menghambat α-glukosidase secara potensial dapat digunakan sebagai antidiabetes. Diabetes melitus merupakan penyakit gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang ditandai dengan hiperglikemia.
Berdasarkan hal tersebut, pada penelitian ini dilakukan uji aktivitas antidiabetes dengan metode penghambatan α- glukosidase. Phyllanthus niruri L. dimaserasi dengan etanol 80 % dilanjutkan dengan fraksinasi menggunakan pelarut petroleum eter, etil asetat, butanol, dan metanol. Reaksi α-glukosidase dan p-nitrofenil-α-D-glukopiranosa sebagai substrat menghasilkan p-nitrofenol yang berwarna kuning. Produk reaksi ini diukur pada panjang gelombang 400 nm menggunakan Spektrofotometer UV-Vis.
Hasil menunjukkan bahwa fraksi metanol dari ekstrak etanol Phyllanthus niruri L., memiliki aktivitas penghambatan paling kuat terhadap α-glukosidase dengan nilai IC50 1,67 ppm. Golongan senyawa yang terdapat pada fraksi metanol ekstrak etanol Phyllanthus niruri L. adalah glikosida, alkaloid, dan tanin.

In the previous research, Phyllanthus niruri L. herb ethanolic extract has been reported to be the strongest of α-glucosidase inhibitory activity compared with other fifteen plants. α-Glucosidase catalyzes the final step in the digestive process of carbohydrates. Because of that, it can retard the liberation of glucose from oligosaccharides and disaccharides. The compounds that could inhibit α-glucosidase activity are potentially used for antidiabetic by suppresing postprandial hyperglycemia. Diabetes mellitus is a disease with disturbance of carbohydrate, fat and protein metabolism characterized by hyperglicemia.
Based on that matter, this research tested antidiabetic activity with α-glucosidase inhibition method. Phyllanthus niruri L. was maserated with 80 % ethanol followed by fractination with petroleum ether, ethyl acetate, buthanol, and methanol as solvents. Reaction between α-glucosidase and p-nitrofenil-α-Dglukopiranosa as substrat produce p-nitrophenol which has yellow color. The absorbance of this product was measured at 400 nm by UV-Vis Spectrophotometer.
The result showed that methanol fraction of Phyllanthus niruri L. ethanolic extract has the strongest inhibitory activity of α-glucosidase with IC50 value of 1,67 ppm. Chemical compounds that consist in Phyllanthus niruri L. ethanolic extract methanol fraction are glycosides, alkaloids and tannins.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2012
S1797
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Safhira Dwidanitri
"Prevalensi diabetes melitus di Indonesia terus meningkat terutama pada kelompok usia produktif. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) terbaru 2018 menunjukkan bahwa DKI Jakarta sebagai provinsi dengan prevalensi DM tertinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor risiko dengan DM Tipe 2 pada penduduk usia produktif di DKI Jakarta dengan menggunakan data Posbindu PTM tahun 2019. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Jumlah sampel yang didapat yaitu 22.515 orang. Analisis yang digunakan pada penelitian ini yaitu hingga analisis multivariat dengan uji regresi logistik prediksi model ganda. Hasil penelitian didapat ada hubungan antara usia (POR 4,16; 95% CI 3,75 - 4,62), jenis kelamin (POR 0,75; 95% CI 0,67 - 0,84), riwayat keluarga DM (POR 4,83; 95% CI 4,35 - 5,37), pendidikan (POR 1,68; 95% CI 1,51 - 1,86), obesitas (POR 0,86; 95% CI 0, 77 - 0,97), obesitas sentral (POR 1,35; 95% CI 1,2 - 1,53), hipertensi (POR 1,42; 95% CI 1,28 - 1,57), konsumsi sayur dan buah (POR 1,32; 95% CI 1,18 - 1,48), dan merokok (POR 0,57; 95% CI 0,49 - 0,67) dengan DM Tipe 2. Aktivitas fisik tidak memiliki hubungan yang berhubungan dengan DM Tipe 2. Riwayat keluarga DM merupakan faktor risiko dominan DM Tipe 2 pada penelitian ini. Setelah adanya penelitian diharapkan untuk orang yang memiliki risiko tinggi DM untuk rutin memeriksakan kesehatannya dan menerapkan pola hidup sehat.
The prevalence of diabetes mellitus (DM) in Indonesia continues to increase, especially in the productive age group. The latest Basic Health Research (Riskesdas) data in 2018 data shows that DKI Jakarta is the province with the highest DM prevalence. This study aims to determine the risk factors associated with Type 2 Diabetes Mellitus among the productive age population in DKI Jakarta using Posbindu PTM data in 2019. This research is a quantitative study with a cross-sectional study design. The number of samples obtained was 22,515 people. The analysis used in this study is until multivariate analysis with multiple logistic regression tests of predictive models. The results obtained that age (POR 4.16; 95% CI 3.75 - 4.62), sex (POR 0.75; 95% CI 0.67 - 0.84), family history of DM (POR 4, 83; 95% CI 4.35 - 5.37), education (POR 1.68; 95% CI 1.51 - 1.86), obesity (POR 0.86; 95% CI 0.77 - 0.97 ), central obesity (POR 1.35; 95% CI 1.2 - 1.53), hypertension (POR 1.42; 95% CI 1.28 - 1.57), consumption of vegetables and fruit (POR 1, 32; 95% CI 1.18 - 1.48), and smoking (POR 0.57; 95% CI 0.49 - 0.67) were significantly associated with Type 2 Diabetes Mellitus. Physical activity does not have a significant relationship with Type 2 Diabetes Mellitus. Family history of DM is the dominant risk factor for Type 2 DM in this study. After this research is expected for people who have a high risk of DM to regularly check their health and adopt a healthy lifestyle."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Riza Apriani
"Diabetes mellitus atau penyakit gula darah adalah salah satu penyakit yang cukup menonjol di antara penyakit-penyakit lain seperti penyakit jantung dan pembuluh darah, serta penyakit kanker. Pengobatan diabetes melitus dapat dilakukan dengan pemberian Insulin, obat hipoglikemik oral, dan obat herbal. Salah satu tanaman obat yang bisa dijadikan sebagai obat herbal untuk penyakit diabetes melitus adalah kayu manis.
Berdasarkan penelitian sebelumnya, kayu manis memiliki penghambatan terhadap aktivitas α-glukosidase, namun senyawa aktif tidak diketahui kepolarannya, sehingga dilakukan fraksinasi untuk mengidentifikasi golongan senyawa dari fraksi yang aktif. Pengujian dilakukan secara in vitro terhadap ekstrak petroleum eter, etil asetat, n-butanol dan air menggunakan α- glukosidase dan substrat p-nitrofenil-α-D-glukopiranosida yang menghasilkan produk paranitrofenol. Produk tersebut diukur serapannya menggunakan Spektrofotometer UV-Vis pada λ 400 nm. Parameter adanya aktivitas penghambatan yang dimiliki oleh ekstrak ditunjukan oleh nilai %inhibisi dan IC50.
Hasil uji penghambatan aktivitas α-glukosidase menunjukkan bahwa ke empat fraksi ekstrak kulit batang kayu manis menunjukkan aktivitas penghambatan. Fraksi ekstrak yang memiliki penghambatan terbaik terhadap aktivitas α- glukosidase adalah ekstrak n-butanol dengan nilai IC50 sebesar 1,168 μg/mL. IC50 ekstrak etil asetat, air dan petroleum eter adalah 19,239 μg/mL, 24,244 μg/mL, dan 69,717 μg/mL. Golongan senyawa yang dikandung oleh ekstrak n-butanol adalah flavonoid, glikosida dan tanin.

Diabetes mellitus or blood sugar disease is a quite prominent disease among other diseases such as heart and blood vessel, and cancer. Treatment of diabetes mellitus can be done by administering insulin, oral hypoglycemic drugs, and herbal medicine. One of the medicinal plants that could be used as herbal medicine for diabetes mellitus is cinnamon.
Based on previous studies, cinnamon has inhibitory activity against α-glucosidase, but the polarity of active compound is unknown, so that fractionation is done to identify the compound of the active fraction. The method was an in vitro model to extract of petroleum ether, ethyl acetate, n-butanol and water using α- glucosidase and substrate of p-nitrophenyl-α-D-glucopyranoside that produced p-nitrophenol. The product was measured by spectrophotometer UV-Vis at λ 400 nm. The parameters of inhibitory activity of extracts is shown by the values of % inhibition and IC50.
The test results of inhibitory activity of α-glucosidase showed that the four fractions of cinnamon bark extract, showed inhibitory activity. The extract fraction that have the best inhibitory activity against α-glucosidase is n-butanol extract with IC50 values of 1.168 mg/mL. IC50 values of ethyl acetate, water and petroleum ether extract is 19.239 μ/ml, 24.244 μ/mL, and 69.717 μ/ mL. The compounds contained by n-butanol extract are flavonoids, glycosides and tannins."
Depok: Universitas Indonesia, 2012
S1793
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Irene Dorthy Santoso
"Latar belakang: Diabetes melitus tipe 2 merupakan salah satu penyakit metabolik yang sering dijumpai dan merupakan salah satu dari empat prioritas penyakit tidak menular. Prevalensi penyakit DM meningkat dengan pesat dan akan menjadikan Indonesia peringkat ke empat dunia. Betambahnya jumlah penyandang DM dan komplikasi akibat DM menjadi beban negara terutama bagi negara berkembang seperti Indonesia. Salah satu komplikasi yang terkait dengan bidang Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin adalah komplikasi mikrovaskular yakni neuropati. Neuropati otonom ditandai dengan kulit kering dan jumlah keringat yang berkurang. Kekeringan kulit yang tidak di tata laksana dengan baik mempermudah timbulnya kaki diabetik.
Tujuan: Mengetahui pengaruh kadar HbA1c dan gula darah terhadap kulit kering pada pasien DM tipe 2.
Metode: Penelitian ini merupakan studi potong lintang yang dilakukan terhadap pasien diabetes melitus tipe 2 di Poliklinik Endokrin Ilmu Penyakit Dalam dan Poliklinik Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUPN. Dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta pada bulan Juli hingga September 2018. Dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik untuk menentukan derajat kekeringan kulit dengan menggunakan penilaian SRRC, dilanjutkan dengan pemeriksaan corneometer dan tewameter. Terakhir dilakukan pemeriksaan laboratorium darah untuk kadar HbA1c dan GDS.
Hasil: Didapatkan total 95 subjek dengan usia rerata 54 tahun, hampir sebagian besar pasien tidak merokok, tidak menggunakan pelembap dan AC, tidak menggunakan air hangat untuk mandi, mengkonsumsi obat penurun kolesterol, mengalami neuropati dan menopause, serta durasi lama DM ≥5 tahun. Hasil utama penelitian ini didapatkan korelasi yang bermakna secara statistik antara kadar HbA1c dengan nilai SRRC berdasarkan uji nonparametrik Spearman (r = 0,224; p = 0,029). Perhitungan statistik dilanjutkan kembali dengan analisis stratifikasi dan regresi linear stepwise.

Background: Type 2 diabetes mellitus is one of the most common metabolic diseases and is one of the top four non-contagious priorities. DM prevalence has been increasing rapidly and would make Indonesia ranked fourth in the worldwide. The increasing number of people with DM and its associated complications are major burden, especially for developing countries such as Indonesia. One of the complications associated with Dermatology and Venereology is microvascular complications, specifically neuropathy. Autonomic neuropathy is characterized by dry skin and reduced amount of sweat. Unmanaged dry skin is a potential risk factor of developing diabetic foot.
Objective: To determine the effect of HbA1c and blood glucose level on dry skin in type 2 diabetes mellitus patient.
Methods: This study was a cross-sectional study conducted on patients with type 2 diabetes mellitus in the Endocrine outpatient clinic of the Internal Medicine and Dermatology and Venereology outpatient clinic of RSUPN. Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta from July to September 2018. History taking, physical examination to determine the degree of skin dryness using SRRC assessment, followed by examination of the corneometer and tewameter. At last, blood test examination was performed for HbA1c and random blood glucose levels measurement.
Results: A total of 95 subjects were enrolled with an average age of 54 years, most if the patients were non-smoker, did not use moisturizers and air conditioning, did not use warm water for bathing, consumed cholesterol lowering agent, experienced neuropathy and menopause, and have been suffering DM for more than 5 years. The main results of this study were statistically significant correlation between HbA1c levels and SRRC values based on the Spearman nonparametric test (r = 0,224; p = 0,029). Statistical calculations were continued with stratification analysis and stepwise linear regression.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Syah Abdaly
"Latar Belakang. Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab kematian utama pada populasi diabetes mellitus (DM). Proses aterosklerosis pada populasi DM sudah terjadi sebelum diagnosis DM ditegakkan, yaitu pada fase resistensi insulin. Resistensi insulin terjadi akibat pengaruh faktor genetik dan lingkungan. Secara genetik, populasi keluarga derajat pertama (first degree relative, FDR) penyandang DM tipe 2 lebih berisiko memiliki gangguan aterosklerosis akibat resistensi insulin, bila dibandingkan dengan populasi tanpa riwayat keluarga DM. Penelitian mengenai aterosklerosis subklinik pada kelompok FDR DM tipe 2 usia dewasa muda di Indonesia masih terbatas.
Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data perbedaan tebal tunika intima media karotis antara kelompok FDR DM tipe 2 dan kelompok bukan FDR DM tipe 2 usia dewasa muda.
Metode. Metode yang digunakan adalah studi potong lintang, melibatkan 16 subjek FDR dan 16 subjek non-FDR berusia 19-40 tahun, dengan toleransi glukosa normal dan tidak memiliki hipertensi. Kelompok non-FDR didapatkan dengan metode matching berdasarkan jenis kelamin dan usia. Data yang dikumpulkan berupa karakteristik subjek, pemeriksaan antropometrik (indeks massa tubuh dan lingkar pinggang), pemeriksaan darah (glukosa darah puasa, HbA1c, profil lipid) dan pemeriksaan tebal tunika intima-media arteri karotis menggunakan ultrasonografi (USG) B-mode.
Hasil. Rerata tebal tunika intima-media arteri karotis (CIMT) pada subjek FDR dan non-FDR secara berturut adalah 0,44 mm dan 0,38 mm, p=0,005. Setelah dilakukan adjust dengan lingkar pinggang, indeks massa tubuh, kolesterol LDL dan trigliserida, masih terdapat perbedaan CIMT yang signifikan antara kedua kelompok. Indeks massa tubuh dan lingkar pinggang mempunyai korelasi terhadap CIMT.
Simpulan. Tunika intima-media arteri karotis pada populasi FDR DM tipe 2 usia dewasa muda lebih tebal dibandingkan dengan populasi bukan FDR DM tipe 2."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>