Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 2437 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Jackson Muliawan
"Phosphate Sludge (PS) waste has been a problem in metal surface finishing industry. The waste cannot be dumped in landfill due to the metal content. Valorisation of the waste will be beneficial in a way that it conserves natural reserves and reduces energy consumption. This paper describes the attempt of utilization of PS by mixing it in kaolin in preparation of ceramic bricks. A series of experiments showed that mixtures containing between 25–50 mass % PS sintered at 1200oC attained the highest compressive strength of >25 MPa. X-ray diffractions (XRD) showed that the presence of PS hindered the formation of mullite, the phase that contribute to strength in Al2O3–SiO2 kaolin system. In the mixture of 1:1 kaolin: PS fired at 1200oC, cristobalite was formed, instead of mullite, as observed in the XRD patterns."
Depok: Faculty of Engineering, Universitas Indonesia, 2018
UI-IJTECH 9:2 (2018)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Jackson Muliawan
"Penelitian ini mempelajari pengaruh pemanfaatan limbah Endapan Fosfat (EF) di dalam industri metal finishing, dengan cara mencampurkannya dengan kaolin dalam pembuatan bata keramik. Serangkaian eksperimen menunjukkan pada suhu 1200C selama 2 jam, nilai perubahan densitas tertinggi ada pada komposisi 20% EF sebesar 9,40% dengan nilai kuat tekan maksimum tertinggi pada 25% EF sebesar 28,15 MPa. Ananlisi pola XRD terhadap 50% EF pada suhu 600C hingga 1150C, didapatkan pola puncak kristalin, dengan kehadiran fasa-fasa: SiO2, Zn(PO3)2, Zn3(PO4)2, Fe2O3, SiO2, ZnP4, Fe3O4. Sedangkan, untuk EF 0% pada rentang perlakukan yang sama hanya nampak fasa amorf, dengan kehadiran fasa-fasa: Al2SiO5, SiO2, Fe2O3. Selain itu, pada komposisi 50% EF dengan suhu 1200C selama 2 jam, fasa kriostobalit beta mulai terdeteksi, berbeda pada 0% EF dengan fasa Mullite. Pengamatan SEM menunjukkan penambahan 10% EF berpengaruh terhadap peningkatan porositas. Hasil pengujian TCLP pada semua komposisi EF menunjukkan hasil di bawah ambang batas yang dipersyaratkan. Kegagalan terhadap pengujian kuat lentur dan kuat geser ikatan bata keramik disebabkan oleh ketidaksempurnaan dalam porses sintering, yang menghasilkan keretakan pada spesimen."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2014
T42985
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Efrina Hidayati
"Plasma Electrolytic Oxidation (PEO) merupakan pelapisan permukaan logam dengan plasma anodisasi untuk menghasilkan lapisan tahan karat dan keras. Sifat lapisan yang dihasilkan dikendalikan oleh parameter proses seperti arus dan waktu pembentukan. Proses PEO dilakukan dengan 2 variasi yaitu variasi waktu dan variasi arus dalam larutan 0,5 M Na3PO4. Pada variasi waktu, arus yang digunakan adalah 0,5 A dengan waktu 1, 3, dan 5 menit. Sedangkan pada variasi arus digunakan arus 0,2; 0,3; 0,4 A dan dilakukan pada waktu konstan selama 3 menit. Temperatur elektrolit dijaga tetap 30°C dan diaduk dengan magnetic stirrer dengan kecepatan konstan 300 rpm. Perubahan morfologi sebagai fungsi arus dan waktu diamati menggunakan scanning electron microscope dan energy dispersive X-ray spectroscopy (SEM-EDS). Analisis fasa dilakukan dengan X-ray Diffraction (XRD). Perubahan kekerasan diamati melalui uji kekerasan micro-Vickers. Perubahan sifat korosi diuji dengan metode electrochemical impedance spectroscopy (EIS) dan potentiodynamic polarization (PDP). Hasil karakterisasi menunjukkan fasa kristal yang terbentuk pada lapisan PEO adalah fasa Mg3(PO4)2 yang diidentifikasikan pada puncak 35°, 37°, 49° dan 62° pada pola XRD. Nilai kekerasan lapisan PEO yang terbentuk pada 1, 3 dan 5 menit masing-masing adalah 315,67; 427,67; dan 382,67 HV sedangkan pada arus 0,2; 0,3; dan 0,4 A diperoleh nilai kekerasan lapisan masing-masing sebesar 355; 421,67; dan 459 HV. Hasil uji polarisasi menunjukkan peningkatan ketahanan korosi yang ditunjukkan dengan berkurangnya rapat arus korosi. Semakin kecil rapat arus korosinya maka laju pembentukkan korosi semakin berkurang. Pada variasi waktu 1, 3 dan 5 menit nilai rapat arus korosinya adalah 3,24 x 10-5; 7,76 x 10-7; dan 1,11 x 10-6 A/cm2 sedangkan pada variasi arus 0,2; 0,3; dan 0,4 A nilai rapat
arus korosinya adalah 2,26 x 10-6; 3,12 x 10-6; dan 7,60 x 10-7 A/cm2. Hasil EIS menunjukkan bahwa nilai R1 semakin besar yang artinya ketahanan resistansi polarisasi semakin besar dengan meningkatnya waktu dan arus pembentukan. Pada variasi waktu 1, 3 dan 5 menit nilai R1 adalah 42,35; 564,7; dan 574,4 Ω.cm2 sedangkan pada variasi arus 0,2; 0,3; dan 0,4
A nilai R1 adalah 254,5; 169; 627,5 Ω.cm2 setelah dicelupkan selama 3 jam.

Plasma Electrolytic Oxidation (PEO) is a coating for metal surface by plasma anodization to produce corrosion resistant and hard coating. The resulting coating properties were controlled by process parameters such as formation current and time. The PEO process in this research uses 2 variation: time and current formation in 0,5 M Na3PO4 solution. At the time variation, the current used is 0,5 A with time of 1, 3 and 5 minutes. Whereas in the current variation used 0,2;0,3 and 0,4 A for 3 minutes. The electrolyte temperature was kept at 30 oC and stirred with a magnetic stirrer at 300 rpm. Morphological changes were investigated by using scanning electron microscope and energy dispersive X-ray spectroscopy (SEM-EDS). Phase analysis was performed by X-ray Diffraction (XRD). Hardness changes were observed using micro-Vickers hardness test. Changes in corrosion properties were investigated by electrochemical impedance spectroscopy (EIS) and potentiodynamic polarization (PDP). The phases formed in the PEO layer is Mg3(PO4)2 which identified at the peaks of 35°, 37°, 49° and 62° in the XRD pattern. Hardness of AZ31 alloys at 1, 3 and 5 minutes was 315,67 HV, 427,67 HV and 382,67 HV whilte at currents 0,2;0,3 and 0,4 A is 355 HV, 421,67 HV dan 459 HV. The polarization test results showed an increase in corrosion resistance which is approved by the reduced corrosion current density. The smaller the corrosion current, the rate of corrosion formation decreases. At the time variation of 1, 3 and 5 minutes the value of the corrosion current density is 3,24 x 10-5, 7,76 x 10-7, and 1,11 x 10-6 A/cm2 whereas in the variation of current 0,2; 0,3; and 0,4 A the
corrosion current density is 2,26 x 10-6; 3,12 x 10-6; and 7,60 x 10-7 A/cm2. EIS results showed that the higher value of R1 means the greater the polarization resistance. At the time variation of 1, 3 and 5 minutes the value of R1 are 42.35. 564.7, 574.4 Ω.cm2 whereas in the current variation of 0,2;0,3 and 0,4 A the value of R1 are 254.5, 169, 627.5 Ω.cm2 after being immersed for 3 hours.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Fauzun
"This research was done to investigate influence of the base metal surface roughness on the BAg-8 spreading behavior and to get a proper surface roughness number for large area brazing. The filler metal was melted at 830o C for 15 minutes on a S50C surface for with various roughness levels. After solidified, the spreading area was observed and characterized in macro and micro scale. The results show that physically the filler spreading consists of two kinds of spreading forms: true and apparent filler spreading with composition of the both being almost same; 77% Ag and 23% Cu. For some roughness numbers, irregularities in uniformity of the heating and cooling process on the filler and dissolving of contaminant into the molten filler caused the true spreading that tend to separate became several parts and tend to flow out from initial placement. Increasing of the surface roughness tends to increase the capillarity effect and to decrease imbalance in the surface tension. Optimum surface roughness was obtained at Rz = 0.92. At this number, the ratio, as well as fitness of the true spreading with initial condition, was at the maximum. During the application process, this condition is predicted as being able to prevent or avoid weaknesses in the joint, thereby increasing the joint strength and its appearance quality."
Depok: Faculty of Engineering, Universitas Indonesia, 2011
UI-IJTECH 2:3 (2011)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Schwartz, Mel M.
Ohio: ASM International, 1990
666 SCH c
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Lee D. Wilson
"The machining of complex sculptured surfaces is a global technological topic, in modern manufacturing with relevance in both industrialized and emerging in countries, particularly within the moulds and dies sector whose applications include highly technological industries such as the automotive and aircraft industry. Machining of complex sculptured surfaces considers new approaches to the manufacture of moulds and dies within these industries. The traditional technology employed in the manufacture of moulds and dies combined conventional milling and electro-discharge machining (EDM) but this has been replaced with high-speed milling (HSM) which has been applied in roughing, semi-finishing and finishing of moulds and dies with great success.
Machining of complex sculptured surfaces provides recent information on machining of complex sculptured surfaces including modern CAM systems and process planning for three and five axis machining as well as explanations of the advantages of HSM over traditional methods ranging from work piece precision and roughness to manual polishing following machining operations."
London : Springer, 2012
e20425850
eBooks  Universitas Indonesia Library
cover
Pane, Irfan Faisal
"ABSTRAK
Buah manggis adalah buah yang berlimpah di daerah tropis salah satunya di Indonesia. Kulit manggis mengandung senyawa fenolik yaitu xanthone, dimana alpha-mangostin memiliki komponen terbanyak yang ditemukan. Senyawa xanthone memiliki sifat anti-oksidan, anti-kanker, anti-virus dan anti-mikrobial yang sangat bermanfaat bagi kesehatan manusia. Proses pengambilan senyawa bioaktif ini dilakukan dengan ekstraksi menggunakan pelarut organik yang memiliki kekurangan yaitu tidak ramah lingkungan dan dapat merusak kesehatan. Deep Eutectic Solvent DES hadir sebagai solusi green solvent yang dapat memecahkan masalah dari pelarut organik. Terbukti bahwa ikatan hidrogen antara betain sebagai penerima ikatan hidrogendan 1,2-propanediol sebagai donor ikatan hidrogen memiliki tingkat ekstraksi yang paling tinggi dibandingkan dengan jenis donor ikatan hidrogen lainnya. Diperlukannya penelitian terkait kondisi operasi dari proses ekstraksi yaitu suhu, waktu ekstraksi dan rasio simplisia dengan DES sebagai usaha optimasi yang dapat mengambil bahan bioaktif xanthone dari alpha-mangostin lebih banyak sehingga dapat dimanfaatkan di bidang kesehatan. Response Surface Methodology adalah metode statistik optimasi yang berperan dalam penelitian ini. Box-Behnken Design digunakan dengan keunggulan yaitu sampel yang sedikit dan hasil yang lebih akurat untuk 3 variabel. Didapatkan hasil optimal yaitu 4,25 kandungan alpha-mangostin pada kondisi suhu ekstraksi 56,52oC, rasio massa simplisia dengan DES sebesar 0,118:1 dan waktu ekstraksi selama 6,87 jam.

ABSTRACT
Mangosteen is fruit that is abundant in the tropics one of them in Indonesia. Mangosteen skin contains phenolic compounds namely xanthone, where alpha mangosteen has the most components found. Xanthone compound in mangosteen skin has antioxidant properties, anti cancer, anti virus and antimicrobial which is very useful for human health. Where the organic solvent has deficiency that is not environmentally friendly and can damage health. Deep Eutectic Solvent DES comes as green solvent solution that solves the problem of organic solvents. It has been shown that hydrogen bonds between butanes as hydrogen bonding receptors and 1,2 propanediol as hydrogen bonding donors have the highest level of extraction compared to other types of hydrogen bonding donors. The need for research on the operating conditions of the extraction process is temperature, extraction time and simplicia ratios with DES as an optimization effort that can take xanthone bioactive material from alpha mangostin more so it can be utilized in the health field. Response Surface Methodology is used as a method of data processing to obtain the most value of extraction with 3 variables. The optimum result is 4.25 alpha mangostin content at 56.52 C extraction temperature, the simplisia mass ratio with DES 0.118 1 and the extraction time 6.87 hours."
2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Livi Edwina
"Bentonit Tapanuli merupakan salah satu mineral yang banyak dimanfaatkan dalam bidang penelitian sebagai adsorben, khususnya logam berat. Hal ini disebabkan sifatnya yang memiliki permukaan negatif sehingga dapat menyerap kation. Tujuan interkalasi bentonit adalah untuk menghasilkan sifat kimia dan fisika yang lebih baik dari sebelumnya. Proses interkalasi menggunakan monosodium glutamat terjadi pada interlayer bentonit dan berhasil meningkatkan basal spacing dari 14,96 A pada Na-MMT (Na-Bentonit) menjadi 15,42 A dan 15,34 A masing masing pada organobentonit 1 KTK dan 2 KTK dengan karakterisasi menggunakan XRD. Keberhasilan terjadinya interkalasi juga dikarakterisasi dengan FTIR. Kemampuan bentonit menyerap logam dipengaruhi oleh kapasitas tukar kationnya. KTK bentonit Tapanuli yang didapatkan dari penelitian ini adalah 46,74 mek/100 gram bentonit.
Dari hasil penelitian juga didapatkan waktu optimum adsorpsi bentonit terhadap masing-masing ion logam adalah 2 jam. Daya adsorpsi paling besar dengan waktu optimum 2 jam adalah organobentonit 2 KTK sebesar 14,4025 mg/0,1 gram bentonit (93,3773 mek/100 gram bentonit) dan 12,1876 mg/0,1 gram bentonit (93,2348 mek/100 gram bentonit) masing-masing terhadap ion logam Cd2+ dan Zn2+.

Tapanuli bentonite is a mineral which is widely used in research as an adsorbent, especially for heavy metals. This is due to it has a negative charge on its surface so it can adsorp cations. The aim of intercalation bentonite is to produce a better chemical and physical properties. The intercalation process occurs in the interlayer of bentonite and success to increase the basal spacing from 14,96 A in Na-MMT (Na-Bentonite) to 15,42 A and 15,34 A respectively on organobentonite 1 CEC and 2 CEC. The success of intercalation was also characterized by FTIR. The ability of bentonite to absorb metal ions was also influenced by cation exchange capacity. The CEC of Tapanuli bentonite is 46,74 mek/100 grams bentonite.
The result of this research is the optimum time of adsorption bentonite is 2 hours. The most large energy adsorption with the optimum time 2 hours is organobentonit 2 CEC at 14,4025 mg/0,1 grams bentonite (93,3773 mek/100 grams bentonite) and 12,1876 mg/0,1 grams of bentonite (93,2348 mek/100 grams bentonite) for each metal ions Cd2+ and Zn2+.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2014
S54061
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>