Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 167963 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Arsanto Triwidodo
"Kordoma adalah jenis tumor ganas dan langka yang biasanya terjadi di tulang belakang, terutama sakrum atau lumbosakrum. Tumor tersebut mengakibatkan gangguan struktur anatomi tulang belakang yang mengarah ke kondisi cacat ketika daerah yang terkena diangkat. Operasi rekonstruksi menggunakan implan tulang belakang yang terdiri atas kombinasi batang dan sekrup saat ini masih menunjukkan tingkat kegagalan dan kompleksitas pembedahan yang tinggi. Selain itu, hanya sedikit prostesis yang dapat memfasilitasi preservasi saraf dan rekonstruksi parsial. Oleh karena itu diperlukan prostesis baru untuk memenuhi kebutuhan rekonstruksi tulang belakang.
Penelitian ini merupakan proses pengembangan desain baru prostesis lumbal dan sakrum berdasarkan studi antropometri yang berpotensi untuk diproduksi dalam skala besar dan memfasilitasi preservasi saraf maupun rekonstruksi parsial. Desain dikembangkan dengan tahapan identifikasi kebutuhan, pembuatan konsep, pemilihan konsep dan material, pengembangan detail desain, dan tahap akhir berupa pembuatan prototipe. Pada tahap akhir dilakukan pengujian fisik dan instalasi pada kadaver menggunakan bahan polylactic acid (PLA) dan aluminium serta pengujian virtual dengan finite element method (FEM). Proses ini dilanjutkan dengan diskusi ahli dan uji biomekanik menggunakan prostesis berbahan dasar titanium. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Anatomi Departemen Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan Laboratorium Teknik Mesin Fakultas Mesin Universitas Indonesia (FTUI) pada Januari 2020–Juni 2022.
Dimensi ukuran morfometri tulang lumbal laki-laki lebih besar dibandingkan perempuan, kecuali parameter spinal canal depth, vertebral body height anterior, ventral straight breadth, dan transverse diameter of the base (p < 0,05). Pada proses pengembangan desain dan konsep, terdapat 3 spesifikasi produk utama yaitu desain yang menyerupai anatomi asli, sistem modular, dan implan dengan beberapa ukuran. Ti-6Al-4V dipilih untuk material berdasarkan skor terbaik untuk evaluasi material dan persyaratan kinerja kepadatan rendah, kekuatan tarik tinggi, kekuatan luluh tinggi, young modulus rendah, ketahanan aus tinggi, ketahanan korosi tinggi, dan biaya rendah. Pembobotan faktor properti dilakukan menggunakan metode logika digital. Selanjutnya pada pengujian FEM, desain yang telah dikembangkan memenuhi kriteria untuk penggunaan sehari-hari dengan tegangan tertinggi 149,53 MPa dan faktor keamanan 2,56 kali. Berdasarkan uji biomekanik kondisi nyata, tegangan terkoreksi terbesar untuk prostesis adalah pada kondisi pembebanan fleksi 118,6 MPa pada komponen sakrum S2 kanan. Semua kondisi pembebanan pada masing-masing komponen menunjukkan ketahanan terhadap tegangan dan tidak mengalami kegagalan sama sekali.
Prostesis lumbosakral yang baru dirancang ini menunjukkan hasil yang memuaskan dari segi teknik bedah, pemasangan, maupun uji biomekanik serta dapat menjadi pilihan metode bedah untuk rekonstruksi defek tulang vertebra.

Cordoma is a rare and malignant type of tumor that usually occurs in the spine, especially the sacrum or lumbosacrum. The tumor resulted in disruption of the anatomical structure of the spine leading to a deformed condition when the affected area was removed. Reconstructive surgery using spinal implants consisting of a combination of rods and screws currently still shows a high failure rate and surgical complexity. Moreover, few prostheses can facilitate nerve preservation and partial reconstruction. Therefore a new prosthesis is needed to meet the needs of spinal reconstruction.
This research is the process of developing a new design of lumbar and sacral prostheses based on anthropometric studies that have the potential to be produced on a large scale and facilitate nerve preservation and partial reconstruction. The design is developed with the stages of needs identification, concepts generation, concepts and materials selection, detailed designs development, and prototype production. In the final stage, physical testing and installation was carried out on the cadaver using polylactic acid (PLA) and aluminum as well as virtual testing using the finite element method (FEM). This process was followed by expert discussions and biomechanical tests using titanium-based prostheses. This research was conducted at the Anatomy Laboratory of the Department of Anatomy, Faculty of Medicine, University of Indonesia (FMUI) and Mechanical Engineering Laboratory, Faculty of Engineering, University of Indonesia (FEUI) in January 2020–June 2022.
The morphometric dimensions of the male lumbar spine were larger than those of the female, except for the parameters spinal canal depth, anterior vertebral body height, ventral straight breadth, and transverse diameter of the base (p <0.05). In the design and concept development process, there are 3 main product specifications, namely designs that mimic the original anatomy, modular systems, and implants of several sizes. Ti-6Al-4V was selected for the material based on the best score for material evaluation and performance requirements of low density, high tensile strength, high yield strength, low young modulus, high wear resistance, high corrosion resistance and low cost. Property factor weighting is done using a digital logic method. Furthermore, in the FEM test, the design that has been developed meets the criteria for daily use with a maximum stress of 149.53 MPa and a safety factor of 2.56 times. Based on real-condition biomechanical tests, the largest corrected stress for the prosthesis is at a flexion load of 118.6 MPa on the right sacral component S2. All loading conditions on each component show resistance to stress and no failure at all.
This newly designed lumbosacral prosthesis has shown satisfactory results in terms of surgical technique, fitting, and biomechanical tests and can be the preferred surgical method for reconstruction of vertebral defects.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
D-pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tegar Septyan Hidayat
"ABSTRAK,br>
Selama ini perhitungan tingkat kelelahan masih sulit dilakukan secara matematis
sehingga dibutuhkan pendekatan yang bisa mengatasi hal tersebut. Penelitian ini
berusaha mengembangkan model perhitungan tingkat kelelahan dengan variabel
independen faktor-faktor biomekanika menggunakan metode regresi berganda
pada kasus operator gardu tol. Model perhitungan yang dihasilkan dari penelitian
ini terbagi menjadi dua bagian yaitu model operator laki-laki dan perempuan.
Model operator laki-laki yang dihasilkan memilki formula sebagai berikut Y =
0.392*BMI + 3.913*MomentRshAbd + 2.812*MomentRightElbow +
0.958*AngleTrunkFlexion + 0.303*AngleLshFwbk + 0.183*AngleRshFwbk +
0.312*StrengthRightKnee ? 39.561 dengan koefisien determinasi sebesar 0.97.
Sedangkan model operator perempuan yang dihasilkan memiliki formula Y =
1.646 *AngleTrunkFlexion + 0.675*BMI + 3.172*AngleTrunkBend +
8.519*MomentRightElbow + 0.569*AngleRshFwbk ? 108.834 dengan koefisien
determinasi 0.967.

ABSTRACT
This research focus on developing mathematical model formulation for measuring
fatigue level based on biomechanics factors using multiple regression method. It
yields formulation for toll booth operators both for men and women. Based on
result, for men operators, the fatigue level can be estimated by this formula, Y =
0.392*BMI + 3.913*MomentRshAbd + 2.812*MomentRightElbow +
0.958*AngleTrunkFlexion + 0.303*AngleLshFwbk + 0.183*AngleRshFwbk +
0.312*StrengthRightKnee ? 39.561 with coefficient of determination 0.97.
Meanwhile, for women operators, the fatigue level can be estimated by this
formula, Y = 1.646 *AngleTrunkFlexion + 0.675*BMI + 3.172*AngleTrunkBend
+ 8.519*MomentRightElbow + 0.569*AngleRshFwbk ? 108.834 with coefficient
determination 0.967"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2014
T42606
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Relanfa Farando
"Latar belakang: Low back pain (LBP) dengan atau tanpa kelainan radikulopati merupakan penyebab utama disabilitas tertinggi ke 6 di dunia. LBP dapat disebabkan oleh stenosis foramen intervertebralis (SFI) lumbal yang disebabkan oleh proses degenerasi vertebra lumbal. Penilaian derajat SFI lumbal saat ini masih menggunakan potongan sagital, namun belum terdapat penilaian derajat SFI lumbal menggunakan potongan aksial Metode: Penelitian observasional analitik potong lintang menggunakan data sekunder; Sebanyak 54 pasien memenuhi kriteria penelitian yang telah dilakukan pemeriksaan MRI lumbal selama Januari 2023 hingga Desember 2023. Analisis kesesuaian antar 2 variabel kategorik disajikan dalam plot Kappa Cohen (R). Hasil: Kesesuaian pengukuran berdasarkan potongan axial dengan potongan sagital mempunyai nilai R sebesar 0,801; p <0,001) menunjukan kesesuaian diagnostik yang hampir sempurna dalam menilai SFI lumbal antara potongan aksial dengan sagital dan hasil uji nonparametrik menggunakan McNemar menunjukan tidak terdapat perbedaan kemampuan diagnosis derajat SFI lumbal mengunakan potongan aksial maupun sagital dengan nilai p 0,209 (p = < 0,5). Kesimpulan: Terdapat kesesuaian yang sangat baik antara potongan aksial dengan potongan sagital dalam menilai derajat SFI lumbal L4-5.

Background: Low back pain (LBP) with or without radiculopathy is the 6th leading cause of disability in the world. LBP can be caused by lumbar intervertebral foramen stenosis caused by the process of lumbar vertebral degeneration. Current assessment of lumbar intervertebral foramen stenosis degrees still uses sagittal planes, but there is no assessment of lumbar SFI degrees using axial planes Methods: Cross-sectional analytical observational study using secondary data; A total of 54 patients met the criteria for a lumbar MRI examination between January 2023 and December 2023. The conformity analysis among 2 categorical variables is presented in Cohen's Kappa plot (R). Results: The suitability of measurements based on axial planes to sagittal planes has an R value of 0.801; p <0.001) showed a near-perfect diagnostic fit in assessing lumbar SFI between axial and sagittal pieces and nonparametric test results using McNemar showed no difference in the ability to diagnose lumbar SFI degrees using axial and sagittal planes with a p value of 0.209 (p = < 0.5) Conclusion: There is an excellent fit between axial and sagittal planes in assessing grade of lumbar lumbar intervertebral foramen stenosis L4-5."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Clive Prayoga
"ABSTRAK
Permintaan bahan bakar petroleum terus meningkat setiap tahun tetapi cadangan mintak bumi sudah hampir habis. Sehingga dibutuhkan sumber energy alternative yg lebih dapat diandalkan untuk mengatasi krisis energi. Percobaan ini mempelajari Analytikal Semi Empirikal Model (ASEM) dalam merepresentasikan berbagai macam hasil produk hasil pirolisis dari minyak nabati. Percobann ini bertujuan untuk menemukan kondisi temperature optimum untuk setiap produk melalui simulasi. Percobaan ini menggunakan data sekondari dari minyak nabati yang kemudian disimulasikan dengan simulator dengan metode curve fitting.

ABSTRACT
The demand of petroleum fuel keep increasing every year but the fossil fuel reserve is almost depleted. That is why there is a need to find another reliable alternative energy source to solve the energy crisis.This research studies predictive Analytical Semi Empirical Model (ASEM) in representing various vegetable oil pyrolysis products. This research aims to find optimum temperature condition for each products through simulation. This Experiment use secondary data of vegetable oils are simulated using simulator with curve fitting method"
2015
S60024
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Toni Sutomo
"Tugas Akhir ini memberikan pemaparan tentang penyelesaian masalah pemfaktoran bilangan bulat (integer factorization problem, IFP) dan masalah logaritma diskret dari suatu kurva eliptik (elliptic curve discrete logarithm problem, ECDLP) dengan menggunakan metode Pollard Rho. Kedua masalah tersebut merupakan dasar keamanan sistem kriptografi kunci publik (public key cryptography, PKC). Ide dasar metode Pollard Rho dalam menyelesaikan IFP adalah dengan mendapatkan suatu faktor dari sebuah bilangan n dengan memanfaatkan sifat pembagi yaitu dengan hanya mengetahui bahwa n mempunyai pembagi tanpa harus mengetahui apa pembagi itu. Sedangkan dalam menyelesaikan ECDLP, ide dasarnya adalah membuat barisan elemen dalam medan berhingga dari kurva eliptik yang bersangkutan. Elemen awal dipilih secara random, kemudian elemen berikutnya dibuat menggunakan pemetaan iteratif. Untuk himpunan berhingga, barisan tersebut menjadi periodik. Setelah sejumlah iterasi akan diperoleh elemen yang sama dan dapat diterapkan metematika diskret untuk menyelesaikannya. Implementasi dilakukan dengan bahasa pemrograman Java 2 SDK Standard Edition versi 1.4.2. Pengujian IFP dilakukan pada bilangan bulat dengan ukuran sampai 120 bit menggunakan komputer dengan sistem operasi Windows XP Professional, prosesor 1.5 GHz Intel Pentium 4, dan memori 256 MB SDRAM. Sedangkan pengujian ECDLP dilakukan pada kurva eliptik dalam medan berhingga Fp dengan order sampai 35 bit menggunakan komputer dengan sistem operasi Windows XP Professional, prosesor 1.7 GHz Intel Pentium 4, dan memori 256 MB DDRAM.. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kompleksitas waktu metode Pollard Rho dalam menyelesaikan IFP dan ECDLP sesuai perkiraan teoretis dengan akurasi sekitar 85% untuk IFP dan sekitar 91% untuk ECDLP. Untuk masalah praktis dibutuhkan waktu yang masih sangat besar. Semakin lama waktu yang dibutuhkan berarti keamanan sistem kripto dengan kunci publik berdasarkan IFP dan ECDLP semakin baik. "
Depok: Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, 2005
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yoke Arfela Adlan
"ABSTRAK
Saat ini industri konstruksi dan bangunan memegang peranan penting. Namun, praktik-praktik pembangunan diakui sebagai salah satu kontributor utama permasalahan lingkungan terutama dalam pengeluaran energi listrik. Fakultas Teknik UI merupakan salah satu pemakaian listrik terbesar di kampus UI. Maka dengan hal tersebut, dibutuhkan suatu energi alternatif untuk mengurangi biaya operational FT UI. Salah satunya adalah dengan pemanfaatan ground reaction force pada aktivitas berjalan sebagai alternatif di FT UI. Berdasarkan dari hasil penelitian sebelumnya, nilai Ground Reaction Force (GRF) dan Energi Potensial saat manusia melakukan aktivitas berjalan perubahan ketinggian lantai sedalam 5 cm menghasilkan nilai yang terbesar. Maka dengan hal tersebut, perlu adanya analisis biomekanik pada aktivitas berjalan normal sebagai atribut perancangan energy floor (perubahan ketinggian pada lantai) dengan inverse dynamics model untuk mengetahui tingkat kenyamanan pada aktivitas berjalan terhadap faktor ketinggian lantai dinamis tersebut dengan melakukan perhitungan joint moment pada knee dan ankle. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil bahwa rata-rata nilai joint moment pria Indonesia pada saat berjalan pada lantai dinamis 5 cm mempunyai nilai lebih kecil daripada lantai statis. Sehingga dapat disimpulkan tingkat kenyamanan pada sendi pada segmen leg dan foot masih berada kondisi nyaman ketika berjalan di lantai dinamis 5 cm.

ABSTRACT
Currently, the building and construction industry play an important role. However, development practices recognized as one of the main contributors to environmental problems especially in the production of electrical energy. Faculty of Engineering Universitas Indonesia (FT UI) is one of the largest on-campus electrical consumption of the UI. Because of that, needs an alternative energy to reduce the operational costs of the FT UI. One of them is with utilization of Ground Reaction Force (GRF) on the activity of walking as an alternative at FT UI. Based on the results of previous study, the value of GRF and the potential energy of human gait (walking) on the floor height change as deep as 5 cm yield the greatest value. Therefore, the need for analysis of biomechanics in human gait as design attributes of energy floor (elevation changes on the floor) with inverse dynamics model to find out the level of comfort on the human gait to the floor height of the dynamic factor by doing the calculation of knee and ankle joint moments. Based on the results that the average value of joint moment male Indonesian that walked on the dynamics floor has a value of 5 cm smaller that static floor. In summary, the comfort level can be summed up in the joint segment of the leg and foot were still comfortable conditions when walking on the dynamics floor of 5 cm."
2014
S55525
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mira Fitriningsih
"ABSTRAK
Latar belakang dan tujuan: MRI merupakan pemeriksaan paling sensitif untuk mengevaluasi herniasi diskus lumbalis. Kekurangan MRI adalah lamanya waktu pengambilan gambar dan kurangnya ketersedian diberbagai tempat. Pada institusi dengan keterbatasan alat dan jumlah pasien yang banyak hal ini dapat menyebabkan terjadinya stagnansi pasien. Maka perlu dipikirkan suatu studi alternatif pada MRI untuk mempersingkat waktu. Di RSCM, protokol terbatas belum menjadi standar, sehingga dibutuhkan penelitian untuk menilai sensitivitas dan spesifisitas MRI protokol terbatas pada diagnosis herniasi diskus lumbalis, stenosis kanalis spinalis lumbal, stenosis foraminal pada vertebra lumbalis.
Metode: Uji diagnostik dengan pendekatan potong lintang untuk mengetahui sensitivitas dan spesifisitas protokol terbatas dalam mendiagnosis herniasi diskus, stenosis kanal spinalis dan stenosis foraminal pada vertebra lumbal pada 60 subyek.
Hasil: Sensitivitas dan spesifitas MRI protokol terbatas pada diagnosis herniasi diskus, stenosis kanal spinalis, stenosis foraminal baik, yaitu 97,2% dan 95,2%, pada diagnosis herniasi diskus, 97,6% dan 96,6% pada stenosis kanal spinalis, dan 91,6% dan 92,6% pada stenosis foraminal.
Kesimpulan: Sensitivitas dan spesifisitas MRI protokol terbatas pada diagnosis herniasi diskus, stenosis kanal spinalis dan stenosis foraminal baik, akan tetapi penggunaan secara luas perlu mempertimbangkan hal-hal lainnya seperti: pasien murni hanya herniasi diskus tanpa penyulit lainnya, menuntut kehadiran dokter spesialis radiologi pada saat pemeriksaan MRI berlangsung, dan protokol pemeriksaan MRI harus dibuat optimal.

ABSTRACT
Background and purpose: MRI is the most sensitive examination to evaluate lumbar disc herniation. Disadvantages of MRI is the long duration of examination and the lack of availability of various places. At institutions with limited equipment and patient loads it can lead to stagnation of the patient. Then it should be considered an alternative to MRI studies to shorten the time. At RSCM, restricted protocols yet to be standarized, so that research is needed to assess the sensitivity and specificity of Limited Protocol MRI protocol in diagnosing of lumbar disc herniation, lumbar spinal canal stenosis, lumbar foraminal stenosis
Methods: Diagnostic Test with cross sectional approach to determine the sensitivity and specificity of the protocol in diagnosing lumbar disc herniation, lumbar spinal canal stenosis, lumbar foraminal stenosis in 60 subjects.
Results: The sensitivity and specificity of limited protocol MRI is good, that is 97.2% and 95.2%, in the diagnosis of lumbar disc herniation, 97.6% and 96.6% in the lumbar spinal canal stenosis and 91.6% and 92.6% at lumbar foraminal stenosis
Conclusion :Sensitivity and specificity of Limited Protocol MRI in diagnosising of a lumbar disc herniation, lumbar stenosis canal spinal and lumbar stenosis foraminal is good, but the widespread use need to consider other things such as: the diagnosis patient is purely a herniated disc without other complications, demanding the presence of radiologist during MRI examinations, and the protocol MRI examination should be made optimal."
2016
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Asrafi Rizki Gatam
"ABSTRAK
Pendahuluan. Penggunaan autograft dalam fusi interkorpus tulang belakang
masih menjadi pilihan utama, tetapi jumlah yang terbatas dan morbiditas pada
tempat donor mendorong penggunaan substitusi tulang. Kombinasi HA dan DBM
menjadi pilihan utama selain autograft dalam fusi interkorpus, namun hasil yang ada menunjukan variasi diantara jenis DBM. Tujuan penelitian ini untuk
mengevaluasi luaran klinis dan radiologis fusi interkorpus lumbal menggunakan
kombinasi DBM dan HA.
Metode Penelitian. Penelitian ini merupakan prospektif cohort pada 35 pasien
yang terbagi atas 18 pasien kelompok autograft dan 17 pasien kelompok
kombinasi HA dan DBM. Pasien merupakan pasien spondilosis lumbal yang
diindikasikan untuk tindakan operatif. Evaluasi klinis pada masing-masing
kelompok pasca operasi menggunakan VAS, JOA dan ODI yang dinilai pada
bulan ke-3, 6 dan 12. Evaluasi radiologis pada masing-masing berupa fusi di
evaluasi dengan ct scan pada bulan ke-12. Karakteristik pasien seperti jenis
kelamin, usia, riwayat merokok, level operasi, dan BMI juga dievaluasi.
Temuan Penelitian. Dua orang ahli bedah orthopaedi tulang belakang melakukan operasi stabilisasi posterior dan TLIF. Terdapat 55 pasien (27 kelompok autograft, 28 kelompok kombinasi HA dan DBM) yang masuk ke dalam kriteria, 9 pasien dari masing-masing kelompok di eksklusi karena tidak dapat di follow up sampai 12 bulan. Perbandinagn skor VAS, JOA dan ODI diantara kedua kelompok tidak menunjukan perbedaan yang bermakna dengan nilai p masing-masing 0,599, 0,543 dan 0,780. Perbandingan fusi antara kelompok autograft dan kombinasi HA dan DBM menunjukan nilai p 1,000, sehingga tidak bermakna secara statistik.
Simpulan Hasil luaran klinis dan radiologis pada penggunaan kombinasi HA dan
DBM dalam fusi interkorpus tidak menunjukan inferioritas bila dibandingkan
dengan autograft. Kombinasi HA dan DBM dapat dipertimbangkan sebagai
alternatif bagi pasien spondilosis lumbal yang diindikasikan untuk tindakan
operatif.

ABSTRACT
Introduction The use of autograft still remains a gold standard in lumbar
interbody fusion surgery, but the limited amount and donor site morbidity
encourages the use of bone substitute. Combination of HA and DBM become a
main choice other than autograft in lumbar interbody fusion, however there were variable result between DBM product. These research was aimed to evaluate the clinical and radiological outcome of interbody fusion using combination of DBM and HA.
Methods A cohort prospective research was conducted in 35 patients that were divided into 18 autograft group patients and 17 combination of HA and DBM group patient. All the patients were diagnosed with lumbar spondylosis and indicated for surgery. Clinical evaluation on each group was evaluated using VAS, JOA and ODI on the 3rd, 6th and 12th month post operatively. Radiologic outcome of fusion was evaluated using ct scan on the 12th month. Other patient characteristic such as sex, age, smoking history, level operation dan BMI were also evaluated in this research.
Results Two orthopaedic spine surgeon conducted the posterior stabilization and TLIF procedure. There were 55 patients (27 autograft group patients, 28
combination of HA and DBM group patients) that was included according to the criteria, 9 patients on each group were excluded due to loss of follow up below 12 months. Comparison of VAS, JOA and ODI score between the two group did not show any difference that significant statiscally with the p value was 0.599, 0.543, and 0.780 each. Comparison of fusion rate between the two groups showed p value of 1.000 which was not significant statiscally.
Conclusions Clinical and radiological outcome of combination of HA and DBM
in lumbar interbody fusion did not show inferiority compared with autograft.
Combination of HA and DBM can be considered as an alternative in lumbar
spondylosis patient that need operative procedure"
2016
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Asrafi Rizki Gatam
"ABSTRAK
Pendahuluan. Penggunaan autograft dalam fusi interkorpus tulang belakang masih menjadi pilihan utama, tetapi jumlah yang terbatas dan morbiditas pada tempat donor mendorong penggunaan substitusi tulang. Kombinasi HA dan DBM menjadi pilihan utama selain autograft dalam fusi interkorpus, namun hasil yang ada menunjukan variasi diantara jenis DBM. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi luaran klinis dan radiologis fusi interkorpus lumbal menggunakan kombinasi DBM dan HA.
Metode Penelitian. Penelitian ini merupakan prospektif cohort pada 35 pasien yang terbagi atas 18 pasien kelompok autograft dan 17 pasien kelompok kombinasi HA dan DBM. Pasien merupakan pasien spondilosis lumbal yang diindikasikan untuk tindakan operatif. Evaluasi klinis pada masing-masing kelompok pasca operasi menggunakan VAS, JOA dan ODI yang dinilai pada bulan ke-3, 6 dan 12. Evaluasi radiologis pada masing-masing berupa fusi di evaluasi dengan ct scan pada bulan ke-12. Karakteristik pasien seperti jenis kelamin, usia, riwayat merokok, level operasi, dan BMI juga dievaluasi.
Temuan Penelitian. Dua orang ahli bedah orthopaedi tulang belakang melakukan operasi stabilisasi posterior dan TLIF. Terdapat 55 pasien (27 kelompok autograft, 28 kelompok kombinasi HA dan DBM) yang masuk ke dalam kriteria, 9 pasien dari masing-masing kelompok di eksklusi karena tidak dapat di follow up sampai 12 bulan. Perbandinagn skor VAS, JOA dan ODI diantara kedua kelompok tidak menunjukan perbedaan yang bermakna dengan nilai p masing-masing 0,599, 0,543 dan 0,780. Perbandingan fusi antara kelompok autograft dan kombinasi HA dan DBM menunjukan nilai p 1,000, sehingga tidak bermakna secara statistik.
Simpulan Hasil luaran klinis dan radiologis pada penggunaan kombinasi HA dan DBM dalam fusi interkorpus tidak menunjukan inferioritas bila dibandingkan dengan autograft. Kombinasi HA dan DBM dapat dipertimbangkan sebagai alternatif bagi pasien spondilosis lumbal yang diindikasikan untuk tindakan operatif.

ABSTRACT
Introduction The use of autograft still remains a gold standard in lumbar interbody fusion surgery, but the limited amount and donor site morbidity encourages the use of bone substitute. Combination of HA and DBM become a main choice other than autograft in lumbar interbody fusion, however there were variable result between DBM product. These research was aimed to evaluate the clinical and radiological outcome of interbody fusion using combination of DBM and HA.
Methods A cohort prospective research was conducted in 35 patients that were divided into 18 autograft group patients and 17 combination of HA and DBM group patient. All the patients were diagnosed with lumbar spondylosis and indicated for surgery. Clinical evaluation on each group was evaluated using VAS, JOA and ODI on the 3rd, 6th and 12th month post operatively. Radiologic outcome of fusion was evaluated using ct scan on the 12th month. Other patient characteristic such as sex, age, smoking history, level operation dan BMI were also evaluated in this research.
Results Two orthopaedic spine surgeon conducted the posterior stabilization and TLIF procedure. There were 55 patients (27 autograft group patients, 28 combination of HA and DBM group patients) that was included according to the criteria, 9 patients on each group were excluded due to loss of follow up below 12 months. Comparison of VAS, JOA and ODI score between the two group did not show any difference that significant statiscally with the p value was 0.599, 0.543, and 0.780 each. Comparison of fusion rate between the two groups showed p value of 1.000 which was not significant statiscally.
Conclusions Clinical and radiological outcome of combination of HA and DBM in lumbar interbody fusion did not show inferiority compared with autograft. Combination of HA and DBM can be considered as an alternative in lumbar spondylosis patient that need operative procedure"
2016
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Nicko Perdana Hardiansyah
"ABSTRAK
Pendahuluan Penggunaan tandur tulang lokal saat ini masih menjadi pilihan utama dalam tatalaksana fusi posterolateral pada kasus spondilosis lumbal di negara berkembang. Rendahnya tingkat fusi yang dihasilkan oleh tindakan ini mendorong penggunaan alternatif material lain. Penambahan aspirat sumsum tulang pada tandur tulang lokal dapat menjadi pilihan yang efektif dalam tatalaksana fusi posterolateral pada pasien spondilosis lumbal, namun saat ini belum ada data mengenai luaran klinis dari tatalaksana jenis ini di Indonesia. Metode Penelitian ini merupakan metode Kohort Retrospektif pada 38 pasien dengan tatalaksana fusi posterolateral dengan menggunakan tandur tulang lokal yang terbagi atas 19 pasien kelompok dengan penambahan aspirat sumsum tulang dan 19 pasien kelompok tanpa penambahan aspirat sumsum tulang. Seluruh pasien mendapatkan tindakan operasi setelah tindakan konservatif gagal dalam mengatasi keluhan nyeri. Evaluasi klinis pada masing-masing kelompok menggunakan skor IDO dinilai sebelum operasi, bulan ke-3 dan ke-6 setelah operasi. Hasil Tiga orang Ahli Orthopaedi Divisi Tulang Belakang melakukan operasi fusi posterolateral dan stabilisasi posterior. Perbandingan skor IDO sebelum operasi di antara kedua kelompok tidak menunjukan perbedaan yang bermakna. Tidak terdapat perbedaan bermakna rerata skor IDO pada kedua kelompok hingga bulan ketiga. Namun, perbandingan skor IDO pre operasi dan 6 bulan paska operasi menunjukkan kelompok dengan penambahan aspirat sumsum tulang akan menghasilkan rerata skor IDO lebih baik. Kesimpulan Luaran klinis pasien spondilosis lumbal yang menjalani fusi posteralateral menggunakan tandur tulang lokal dengan penambahan aspirat sumsum tulang menunjukkan hasil yang baik. Penambahan aspirat sumsum tulang pada fusi posterolateral menggunakan tandur tulang lokal dapat dipertimbangkan sebagai alternatif bagi pasien spondilosis lumbal yang diindikasikan untuk tindakan operatif.

ABSTRACT
Introduction The use of local bone graft still a mainstay in posterolateral fusion surgery for lumbar spondylosis cases in developing countries. Low rates of fusion encourage the alternative use of other materials. The addition of bone marrow aspirates in the local bone graft may be an option in the treatment of posterolateral fusion in the lumbar spondylosis patients, however there is no data on the clinical outcomes of treatment of this procedure in indonesia. Methods A retrospective cohort study was conducted in 38 patients treated by posterolateral fusion using local autograft that were divided into 19 patients with addition of bone marrow aspirates and 19 patients without addition of bone marrow aspirates. All patients received surgery after conservative treatments failed to address the complaint of pain. Clinical evaluation in each group using ODI score assessed preoperatively, 3rd, and 6th month postoperatively. Results Three Orthopedic Spine Surgeon performed posterolateral fusion and posterior stabilization. Comparison of preoperative ODI score between the two groups showed no significant difference. There were no significant differences in ODI score mean in both groups in 3 months after surgery. However, the bone marrow aspirate group produced a better mean difference of ODI score after 6 months. Conclusions The clinical outcomes of lumbal spondylosis patients undergoing posteralateral fusion using local autograft with addition of bone marrow aspirate showed good results. The addition of bone marrow aspirates in posterolateral fusion using local bone graft can be considered as an alternative for lumbar spondylosis patients who are indicated for surgery. "
2017
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>