Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 65933 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Elza Nur Warsa Putra
"Artritis Reumatoid (AR) merupakan penyakit autoimun yang menyerang sendi. Di Indonesia, AR 0,5 – 1% penduduk Indonesia menderita AR pada tahun 2020. Penelitian Rotte, et al. menunjukkan adanya hubungan antara jumlah sendi dengan respons terapi tunggal MTX. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara jumlah sendi dengan keberhasilan terapi MTX pada pasien AR di RSCM. Penelitian ini menggunakan data rekam medis pasien AR di RSCM sejak tahun 2020 hingga 2022. Penelitian ini dilakukan denga desain kohort retrospektif Data dianalisis menggunakan SPSS Versi 25 dan dilakukan uji normalitas distribusi data menggunakan Uji Saphiro-Wilk. Setelah dilakukan uji normalitas, data dianalisis dengan Uji Mann-Whitney untuk mengetahui hubungan jumlah sendi dengan keberhasilan terapi MTX pada pasien AR di RSCM. Hasil Uji normalitas menunjukkan bahwa data jumlah sendi dengan keberhasilan terapi tidak terdistribusi secara normal. Berdasarkan hasil Uji Komparatif Mann-Whitney menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna antara kelompok berhasil dan tidak berhasil terapi (p < 0.05). Terdapat hubungan antara jumlah sendi yang terlibat dengan keberhasilan terapi MTX pada pasien Artritis Reumatoid.

Rheumatoid arthritis (RA) is an autoimmune disease that affects the joints. In Indonesia, the prevalence of RA is 0.5 - 1% in 2020. Research by Rotte, et al. showed a relationship between the number of joints with the response to MTX monotherapy. This study was conducted to determine whether there is a relationship between the affected joints count and the success of MTX therapy in RA patients at RSCM. This study used medical records of RA patients at RSCM from 2020 until 2022. This study was conducted with a retrospective cohort design. Data were analyzed using SPSS Version 25 and normality test was carried out using the Shapiro-Wilk test. After the normality test was performed, the data were analyzed using the Mann-Whitney test to determine the relationship between the affected joints count and the success of MTX therapy in RA patients at RSCM. The results of the normality test showed that the data on the affected joints count are not normally distributed. Based on the results of the Mann-Whitney Test, there was a significant difference between the successful and unsuccessful treatment groups (p < 0.05). There is a relationship between the number of affected joints count and the success of MTX therapy in Rheumatoid Arthritis patients."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rahma Anindya Prathitasari
"Artritis reumatoid (AR) merupakan penyakit otoimun kronik terutama menyerang
sendi. AR dapat menyebabkan deformitas sendi yang menurunkan kualitas hidup
penderitanya. Penatalaksanaan AR dilakukan dengan terapi metotreksat (MTX)
dosis rendah yang berfungsi menghambat progresi penyakit. MTX memiliki efek
samping gangguan fungsi hati, yang didefinisikan sebagai peningkatan nilai SGOT dan atau SGPT hingga melebihi batas atas normal. Faktor yang diduga dapat
memengaruhi gangguan fungsi hati adalah jenis kelamin, usia, dosis kumulatif dan durasi terapi MTX. Prevalensi gangguan fungsi hati akibat pemberian MTX pada pasien AR di Indonesia masih belum diketahui. Penelitian ini bertujuan mencari proporsi gangguan fungsi hati akibat terapi MTX pada pasien AR di RSCM tahun 2013-2015 serta hubungannya dengan faktor yang berpengaruh. Data mengenai jenis kelamin, usia, dosis kumulatif dan durasi terapi MTX, nilai SGOT, dan nilai SGPT diperoleh dari 115 rekam medis pasien AR. Proporsi gangguan fungsi hati akibat terapi MTX pada pasien AR di RSCM adalah sebesar 42.60%. Jenis kelamin, usia, dosis kumulatif dan durasi terapi MTX tidak berpengaruh terhadap gangguan fungsi hati (p>0.05). Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara kejadian gangguan fungsi hati dan faktor jenis kelamin, usia, dosis kumulatif dan durasi terapi MTX pada pasien AR yang diterapi MTX di RSCM tahun 2013-2015."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
S70311
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Harahap, Alvin Tagor
"Latar Belakang. Flat fool adalah salah satu kelainan kaki yang sering dijumpai pada penderita artritis reumatoid. Selain nyeri yang disebabkan oleh penyakitnya, penderita AR juga dapat mengalami nyeri akibat flat foot. Selama ini kita selalu menganggap nyeri kaki dan gangguan berjalan pada penderita AR selalu disebabkan oleh AR, padahal mungkin juga akibat flat fool. Di Amerika prevalensi flat foot sebesar 50%. Untuk itu ingin diketahui proporsi kelainan ini pada penderita AR yang mengunjungi poliklinik reumatologi RSCM, serta gambaran dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Tujuan. (1) Mengetahui proporsi flat foot pada penderita AR. (2) Mengetahui rasio odds faktor-faktor lama menderita penyakit (LMP), Disease Activity Score (DAS), dan Indeks Massa Tubuh (IMT) terhadap kejadianflat foot pada penderita AR.
Metodologi. Dilakukan studi potong lintang pada penderita AR dengan keluhan kaki yang berobat ke poliklinik reumatologi RSCM untuk mengamati gambaran cetak kaki, dan kelainan kaki yang diderita, IMT, DAS, dan LMP. Gambaran kelainan kaki pada penderita AR disajikan dalam bentuk statistik deskriptif. Faktor-faktor yang mempengaruhi flat foot dianalisa dengan uji chi square serta perhitungan rasio odds.
Hasil. Selama periode Juli - September 2005 terkumpul sebanyak 52 orang penderita AR di Poliklinik Reumatologi Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Dua orang tidak sesuai dengan kriteria inklusi, sehingga hanya 50 orang yang dapat dianalisa. Ditemukan proporsi kelainan ini sebesar 40% (11(95% 26% - 53%). Pengujian bivariat menggunakan uji chi square menemukan faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian flat foot ialah IMT (P = 0,03; 012 = 3,7; IK95% 1,1 - 12,2) dan DAS (P = 0,047; OR = 0,2; IK 95% 0,03 - 0,9). Untuk mengetahui faktor-faktor yang paling berperan, dilakukan uji multivariat terhadap faktor-faktor dengan P < 0,25 (LMP, DAS, dan IMT). Ditemukan faktor yang paling berperan ialah IMT (P = 0,05; OR = 3,5;IK95% 0,99 - 12,2).
Kesimpulan. Proporsi kelainan flat foot pada penderita AR yang berobat di Poliklinik Reumatologi RSCM tidak berbeda dengan penelitian di Amerika. Faktor risiko yang berhubungan ialah IMT. Penelitian ini tidak menemukan hubungan LMP dan DAS terhadap kejadian. Flat foot pada penderita AR.

Background. Flat foot, as one of the deformities found on Rheumatoid Arthritis (RA) patients, also causes pain. In the case of RA patients, we often thought foot pain or gait disturbances were caused by pain from RA, on the other hand they might be caused by flat foot. Study in United States of America (USA) revealed the prevalence of flat foot were 50%. For this reason we would like to know the proportion of these deformities among RA patients visiting the rheumatology outpatient unit in dr. Cipto Mangunkusumo hospital, and factors which influenced it.
Objectives. To find : (1) the proportion of flat foot on RA patient, (2) the odds ratios of Body Mass Index, disease duration, and Disease Activity Score on the prevalence of flat foot in RA patients.
Methods. A cross sectional study was done on RA patients with lower extremity complaints who came to Rheumatology outpatient unit at Cipto Mangunkusumo General Hospital, Jakarta. The study was done by observing foot print, foot deformities, Body Mass Index (BMI), Disease Activity Score (DAS), and disease duration. The description of flat foot was presented in the form of descriptive statistics. Factors which influenced flat foot were analyzed using chi square method and odds ratios measurements.
Results. We observed 52 patients with RA during July - September 2005 in rheumatology outpatient unit Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta. Two patients did not conform inclusion criteria, thus excluded from this study. We found the proportion of flat foot in those patients was 40% (95% CI = 26% to 53%). Bivariate analysis using chi square method revealed BMI (P = 0.03, OR = 3.7 95% CI = 1.1 to 12.2) and DAS (P = 0.047, OR = 0.2, 95% CI = 0.03 to 0.9) as factors related to flat foot in RA patients. Further analysis on variables which had P value <0.25 (BMI, DAS, and disease duration) using multivariate method revealed BMI as the factor related to flat foot in RA patients.
Conclusion. The flat foot proportion on RA patients visiting Rheumatology outpatient Unit RSCM did not differ from that in USA. Factor related to this deformity was BMI. This study did not find relations of disease duration and DAS to flat foot in RA patients.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006
T21422
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Harry Isbagio
"Pada awal penyakit diagnosis Artritis reumatoid (AR) sering dikacaukan dengan Lupus eritematosus sistemik (LES). Persendian terutama pada tangan dapat terserang pada kedua penyakit, sehingga pasien LES sering salah diagnosis sebagai AR. Oleh karena hasil-akhir dari kedua penyakit ini sangat berbeda , maka dibutuhkan suatu marker serologik untuk membedakan keduanya pada saat awitan penyakit. Antibodi anti-citrullinated peptide (anti ?CCP) telah dilaporkan sangat spesifik pada AR. Tujuan penelitian ini untuk memastikan spesifitas antibodi anti-CCP pada AR dan kemungkinan antibodi ini dapat membedakan pasien RA dari SLE. Penelitian ini suatu studi potong-lintang pada pasien AR (n=27), LES dengan artritis (n=20). penyakit otoimun lain (non-reumatik, n=8) dan kontrol dewasa (n=20). Anti-CCP diperiksa dengan cara Elisa dan faktor-reumatoid (FR) dengan uji latex. Sensitivitas dan spesifitas anti-CCP untuk diagnosis RA adalah 63.0% dan 97.9%, dibandingkan dengan FR yang hanya sebesar 40.7% dan 85.4%. Hanya 1 dewasa sehat dengan anti-CCP+, tidak satupun pasien LES maupun pasien penyakit otoimun lain yang mempunyai anti-CCP+. Nilai rerata titer anti-CCP pada dewasa sehat, penyakit otoimun lain, LES dan AR berturut-turut sebesar 1.35 ± 2.04, 0.63 ± 0.59, 0.75 ± 0.59, and 38.17 ± 44.22 RU/ml. Terdapat perbedaan sangat bermakna di antara titer anti-CCP pada pasien AR dengan yang lainnya (p<0.001). Disimpulkan bahwa deteksi anti-CCP sangat berguna untuk diagnosis AR, dan untuk membedakan AR dari LES. (Med J Indones 2004; 13: 227-31)

Diagnosis of Rheumatoid arthritis (RA) and systemic lupus erythematosus (SLE) can be confused in their initial stages. The joints, especially the hands, are commonly affected in both disorders, many patients with SLE are initially misdiagnosed as having RA Given that the outcome for the two diseases is diverse, it would be helpful to have serological marker to distinguish between them at onset. Anti-citrullinated peptide antibodies (anti-CCP) have recently been described as highly specific for RA. The objective of this study is to confirm the specificity of anti-CCP antibodies and to determine whether they might distinguish patients with RA from those with SLE. This study is a cross sectional study on a group of patients with RA (n=27), SLE with arthritis (n=20), other autoimmune diseases (non-rheumatic diseases, n = 8), and healthy adults (n=20). Anti-CCP was determined by a commercial Elisa test and Rheumatoid factor (RF) was determined by the standard slide latex test. The sensitivity and specificity of anti-CCP for the diagnosis of RA was 63.0% and 97.9% respectively, comparing with RF for RA that was 40.7 % and 85.4 %. Only 1 healthy adult was anti-CCP+, no anti-CCP was detected from SLE and other autoimmune disease. The mean of titer anti CCP in normal healthy adult, other autoimmune diseases, SLE and RA was 1.35 ± 2.04, 0.63 ± 0.59, 0.75 ± 0.59, and 38.17 ± 44.22 RU/ml, respectively. There was a highly significant difference between the mean of titer anti CCP for RA with others diseases (p<0.001). We conclude that detection of anti-CCP is very useful for the diagnosis of RA and distinguishing RA from SLE. (Med J Indones 2004; 13: 227-31).
"
Jakarta: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2004
MJIN-13-4-OctDec2004-227
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Tulus Widiyanto
"Latar Belakang. Arthritis Reumatoid terkait dengan kehilangan massa tulang dan fraktur osteoporosis. Kehilangan massa tulang pada penyakit ini disebabkan oleh proses inflamasi dan autoimunitas. Penelitian ini bertujuan menilai kaitan antara autoimuntas dan kehilangan massa tulang pada pasien yang telah mencapai remisi dan low-disease activity dengan pemberian conventional synthetic Disease Modifying Anti-Rheumatic Drugs.
Metode.Penelitian ini diikuti oleh 38 pasien dengan usia rerata 40 ± 7,6 yangtelah mencapai remisi dan low-disease activitydi RS Cipto Mangunkusumo pada bulan Agustus hingga September 2019. Data pasien yang dikumpulkan berupa data demografis, skor aktivitas penyakit 28 (DAS-28), dan riwayat pengobatan. Semua subjek menjalani pemeriksaan darah untuk menilai kadar Anti Citrullinated Protein Antibodies (ACPA) yang diwakili oleh Anti-Mutated Citrullinated Vimentin(Anti-MCV), C-Terminal cross-linking telopeptide of type I collagen(CTX-1), N-Terminal Propeptide of Type 1 Procollagen(P1NP).
Hasil.Sebagian besar subjek merupakan wanita dengan median lama sakit selama 36 bulan. Pada subjek penelitian ditemukan 26 pasien (68,4%) dengan ACPA positif. Korelasi antara kadar ACPA dengan kadar CTX-1 ditemukan koefisien r 0,101 (p: 0,279). Korelasi antara kadar ACPA dan P1NP ditemukan koefisien r -0,449 (p: 0,001).
Simpulan. Tidak ditemukan korealasi antara kadar ACPA dengan kadar CTX-1 dan ditemukan korelasi negatif lemah yang bermakna secara statistik anatra kadar ACPA dan P1NP pada pasien Artritis Reumatoid yang telah mencapai remisi dan Low-Disease Activity dengan penggunaan conventional synthetic disease modifying anti-rheumatic drugs. "
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Tiur Farida I.S.
"Tujuan : Mengetahui pengaruh LASER tenaga rendah, latihan isometrik tangan dan that rutin pada pasien artritis rematoid (AR) tangan untuk mengurangi nyeri dan meningkatkan lingkup gerak sendi metacarpofalangeal.
Desain : Pra dan parka perlakuan.
Tempat : Polildinik Rehabilitasi Medik Bagian Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Perjan RS dr Ciptomangunkusumo Jakarta
Subyek : Dua puluh lima pasien wanita yang menderita artritis rematoid tangan di RS dr Cipto Mangunkusumo.Enam orang tidak termasuk dalam kriteria inklusi,dua orang mengundurkan diri dari penelitian.
Intervensi : Antara bulan Juli-November 2004, tujuhbelas wanita dengan artritis reumatoid tangan yang masuk dalam kriteria inklusi dilakukan terapi LASER tenaga rendah, latihan penguatan isometrik pads otot tangan dan obat rutin selama empat minggu.
Hasil : Hasil penelitian selama empat minggu adanya penurunan nyeri sendi MCP diukur dengan Visual Analog Seale ( VAS) yang bermakna (p<0,001 )dan peningkatan lingkup gerak sendi metacarpofalangeal yang bermakna (p< 0,00 I)
Kesimpulan : Terapi LASER tenaga rendah dengan latihan penguatan isometrik otot tangan dan obat rutin dapat mengurangi nyeri dan meningkatkan lingkup gerak sendi metacarpofalangeal pads pasien dengan artritis rematoid tangan.

Objective : To evaluate the influence of low level LASER therapy,isomertric hand strengthening and routine medications in patient with hand rheumatoid arthritis (RA) to reduce pain and increase the range of motion of the metacarpophalanges ( MCP ).
Design : Pre and post treatment.
Setting : Medical Rehabilitation policlinic, Physical Medicine and Rehabilitation Departement Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta.
Participants : Twenty five female patients with hand rheumatoid arthritis in Cipto Mangunkusumo Hospital. Six subjects did not meet the inclusion criteria, two subjects dropped out from the study.
Intervention : Between July and November 2004, seventeen female patients with hand rheumatoid arthritis, who were classified in the inclusion criteria were given low laser LASER therapy, isometric hand srengthening exercise and routine medications for four weeks.
Results : After four weeks of intervention there was significant decrease on MCP joint pain, marked by decrease in Visual Analog Scale ( VAS ) (p<0,001) and significant increase of MCP range of motions (p< 0,001 )
Conclusion : Low level LASER therapy combine with isometric hand strenghthening exercise can reduce pain and increase the MCP range of motions in patients with hand rheumatoid arthritis.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2005
T58453
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Manusia usia lanjut ( usila ) adalah kelompok penduduk yang mengalami penurunan fungsi pada sistem - sistem tubuhnya, termasuk sistem pergerakan. Arthritis rheumatoid merupakan salah satu masalah pergerakan yang sering dialami usila. Gangguan pergerakan ini belum diketahui penyebabnya, namun dapat dikurangi gejalanya dengan melakukan latihan - latihan fisik tertentu, misalnya dengan senam. Oleh karena itu tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adakah perbedaan keluhan arthritis rheumatoid pada usila yang mengikuti senam jantung sehat dan usila yang tidak mengikuti senam jantung sehat. Sampel yang diambil sebanyak 21 orang dan desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif perbandingan dengan menggunakan metode analisa t test unpaired. Hasil penelitian yang didapat menyatakan bahwa terdapat perbedaan keluhan arthritis rheumatoid pada usila yang mengikuti senam jantung sehat dan usila yang tidak mengikuti senam jantung sehat."
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2001
TA4990
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Aggarwal, R.
"Artritis reumatoid ialah penyakit poliartritis kronik progresif yang menimbulkan deformasi, meliputi multisistem dan disertai morbiditas yang nyata. Obat-obatan imunosupresif telah digunakan untuk mengurangi/menghambat progresi penyakit. Penelitian ini diadakan untuk membandingkan keberhasilan azatioprin dan siklosporin pada penderita artritis reumatoid. Penelitian meliputi 100 penderita artritis reumatoid (sesuai kriteria American Rheumatism Association, 1987) yang dibagi atas dua kelompok: kelompok I mendapat azatioprin 1 mg/kg/h dan kelompok II mendapat siklosporin 2,5-3,0 mg/kg/h selama 16 minggu. Penilaian keberhasilan berdasarkan parameter klinis, biokimiawi dan radiologis. Semua penderita menunjukkan perbaikan nyata (nilai p < 0.001) pada semua parameter klinis, yaitu hilangnya nyeri, berkurangnya kekakuan pagi hari, sendi yang nyeri/membengkak dan waktu yang diperlukan untuk berjalan sejauh 50 kaki serta menguatnya kekuatan genggaman. Semua penderita menunjukkan penurunan LED (p < .001) tanpa perubahan apapun pada titer faktor reumatoid. Kedua obat menunjukkan keberhasilan yang sama (nilai p tidak bermakna) dalam hal perbaikan parameter klinis dan biokimiawi. Tetapi dengan siklosporin erosi tulang dan osteoporosis yukstaartikular lebih banyak berkurang. Sepuluh penderita menunjukkan nefrotoksisitas dengan siklosporin. Siklosporin lebih baik dari azatioprin dalam hal mengurangi derajat progresi kelainan sendi pada artritis reumatoid, tetapi insidens efek samping lebih tinggi, yang pada umumnya dapat diatasi. (Med J Indones 2002; 11: 153-7)

Rheumatoid Arthritis (RA) is a chronic progressive deforming polyarthritic disease involving multisystems and associated with considerable morbidity. Immunosuppressive drugs have been used to reduce/arrest the progression of the disease. The present study was undertaken to compare the efficacy of Azathioprine and cyclosporin in Rheumatoid Arthritis patients. Study consisted of 100 patients of Rheumatoid Arthritis (as per criteria of American Rheumatism Association, 1987) divided into two groups : group I received Azathioprine 1 mg/kg/d and group II received cyclosporin 2.5-3.0 mg/kg/d for 16 weeks. Assessment of efficacy was based on clinical, biochemical and radiological parameters. All patients showed marked improvemen (p value < 0.001) in all clinical parameters i.e. relief in pain, reduction in morning stiffness, painful/swollen joint along with walking time for 50 feet and increase in grip strength. All patients showed reduction (p < 0.001) in ESR without any change in rheumatoid factor titres. Both drugs showed equal efficacy (p value = NS) in improvement of clinical and biochemical parameters. But cyclosporin showed more reduction in bony erosions and juxtaarticular osteoporosis. Ten patients showed nephrotoxicity with cyclosporin. Cyclosporin has an edge over azathioprine in reducing the rate of progression of joint change in Rheumatoid Arthritis but is associated with increased incidence of side effects that are generally manageable. (Med J Indones 2002; 11: 153-7)"
Medical Journal of Indonesia, 2002
MJIN-11-3-JulSep2002-153
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Philadelphia: Mosby Elsevier, 2009
616.722 7 RHE
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Digdho Nugroho
"Pengetahuan dan pemahaman dari pasien-pasien Diabetes Melitus (DM) tipe 2 tentang penyakit dan pengobatannya adalah faktor penting untuk mempengaruhi kepatuhan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa edukasi kepada pasien adalah dasar untuk mewujudkan kepatuhan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara tingkat pengetahuan tentang terapi antidiabetes oral dengan kepatuhan dalam menjalani terapi pada pasien DM tipe 2. Penelitian ini menggunakan desain crosssectional/ potong lintang dengan mewawancarai responden berdasarkan kuisioner yang disusun. Responden adalah 96 pasien DM tipe 2 di Poliklinik Penyakit Dalam RSCM Jakarta yang berusia 40 tahun ke atas dan telah menjalani terapi antidiabetes oral sedikitnya selama tiga bulan. Informasi yang diperoleh yaitu tentang karakteristik, tingkat pengetahuan dan tingkat kepatuhan pasien DM tipe 2 dalam menjalani terapi antidiabetes oral. Data dianalisis dengan menggunakan metode statistik Kai-kuadrat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan tentang terapi antidiabetes oral dengan kepatuhan dalam menjalani terapi pada pasien DM tipe 2.
Knowledge and comprehension of patients with type 2 Diabetes Mellitus about their disease and treatment are important factor to influence adherence. Whereas, adherence to antidiabetic oral therapy to be required for successful treatment of type 2 Diabetes Mellitus. Studies have shown that education is a cornerstone for establishing adherence. Therefore, the aim of this study is to carry out the correlation between level of knowledge about antidiabetic oral therapy and level of adherence to antidiabetic oral therapy in pasients with type 2 Diabetes Mellitus. This research used cross-sectional study design with interview respondents based on questionaire. Respondents were ninety-six type 2 Diabetes Mellitus at the interna clinic of RSCM Jakarta at age more than 40 years and have been carrying out antidiabetic oral therapy at last three months. Informations which were gotten characteristic, level of knowledge about antidiabetic oral therapy and level of adherence. Data was analyzed by using Chi-Square statistic method. The result showed that there was significant correlation between level of knowledge about antidiabetic oral therapy and level of adherence to antidiabetic oral therapy."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2006
S32694
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>