Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 57903 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Padilla, Michael J.
Jakarta: Prenhallindo, 2003
R 571.6 PAD s
Buku Referensi  Universitas Indonesia Library
cover
Kusmardi
"ABSTRAK
Ruang lingkup dan Cara penelitian :
Pemberian interleukin-2 (IL-2) pada sel killer tidak selalu menghasilkan peningkatan daya sitotoksiknya terhadap sel tumor. Keberhasilan aktivasi IL-2 in vitro sangat dipengaruhi oleh sifat intrinsik balk sel killer sebagai sel efektor imunologik maupun sel tumor sebagai sel sasaran. Untuk melihat pengaruh beberapa faktor seperti pengayaan limfosit T, asal sel efektor dan perbedaan sifat genetik yang terkait pada sal killer akibat pemberian IL-2, pada penelitian ini digunakan 2 strain mencit yaitu C3H dan GR sebagai sumber limfosit dan sel tumor kelenjar susu, baik dalam kombinasi sigenik maupun alogenik.
Efektor imun yang dipakai berasal dari limpa dan kelenjar getah bening (KGB) mencit normal dan bertumor baik terlebih dahulu mengalami pengayaan limfosit T dengan nylon-wool maupun tidak sebelum mengalami aktivasi dengan rIL-2. Aktivasi limfosit dengan IL-2 rekombinan (rIL-2) dilakukan dengan menambahkan 250 UI/ml, 1000 UI/ml, 1500 UI/ml rIL-2 pada kultur sel efektor dan diinkubasi dalam inkubator CO2 selama 72 jam.
Sedangkan sel sasaran yang dipakai dalam kombinasi singenik dan alogenik untuk menguji daya sitotoksik sel killer, berupa biakan in vitro sel tumor kelenjar susu. Pengukuran daya sitotoksik dilakukan dengan menghitung persentase sel hidup dari sekurang-kurangnya 200 sel menggunakan pewarna eksklusi trypan blue. Daya sitotoksik absolut merupakan perbandingan antara selisih persentase sel hidup dalam mikrowell kontrol dan mikrowell sampei dengan persentase sel hidup dalam mikrowell kontrol, sedangkan daya sitotoksik relatif merupakan perbandingan antara selisih persentase sel sasaran hidup pada efektor mencit normal dan bertumor dengan persentase sel sasaran hidup pada efektor mencit normal.
Hasil dan kesimpulan:
Daya sitotoksik sel killer teraktivasi rIL-2 berasal dari organ limpa berbeda bermakna dengan efektor berasal dari kelenjar getah bening. Dengan menggunakan sel sasaran singenik, daya sitotoksik efektor berasal dari kelenjar getah bening mencit C3H yang tidak mengalami pengayaan, lebih tinggi dibandingkan efektor berasal dari limpa. Pada mencit GR terjadi sebaliknya, dengan kondisi yang sama, efektor berasal dari KGB lebih rendah daya sitotoksiknya dibandingkan efektor berasal dari limpa. Sedangkan daya sitotoksik, efektor berasal dari KGB terhadap sel sasaran alogenik tetap lebih tinggi dibandingkan efektor berasal dari limpa pada mencit C3H, dan hampir sama pada mencit GR.
Pengayaan limfosit T, tidak menunjukkan pengaruh terhadap daya sitotoksik sel killer baik berasal dari limpa maupun KGB mencit C3H kecuali daya sitotoksik efektor berasal dari KGB terhadap sel sasaran alogenik. Sebaliknya pada efektor berasal dari mencit GR, pengayaan limfosit T berpengaruh baik terhadap sel sasaran singenik maupun alogenik.
Penelitian ini juga menunjukkan pengaruh rIL-2 terhadap daya sitotoksik sel killer yang tinggi, umumnya dicapai dengan dosis pemberian 1000 UI/ml dengan pengujian FJT 2511 dan 50/1. Pemberian rIL-2 dengan dosis 250 UI/ml dan 1500 UI/ml juga dapat meningkatkan daya sitotoksik sel killer baik efektor berasal dari limpa maupun KGB mencit C3H dan GR terhadap sel sasaran singenik dan alogenik.

ABSTRACT
Analysis Of Interleukin-2 Activated Killer Cells Cytotoxicity Of C3H And Gr Mice Against Syngenic and Allogenic Mice Mammary Tumor CellsScope and methods of study: Interleukin-2 (IL-2) treatment on killer cells has not always result in increased cytotoxicity against tumor cells. The result of IL-2 in vitro activation is influenced by an intrinsic factor, both the killer cells as immunological effector and the tumor cells as target cells. In order to analyze the effect of several factors namely T lymphocytes enrichment, the origin of effector cells and the major histocompatibility complex (MHC) restriction, in this study we use two strains of mice, C3H and GR as the source of effector cells and mammary tumor cells, both in syngenic and allogenic combination.
The immune effector used were both spleen cells and lymph node cells derived from normal and tumor-bearing mice, with or without T lymphocytes enrichment through nylon-wool column, prior activation by recombinant IL-2 (A-2). Lymphocytes were activated by 250, 1000 and 1500 IU/ml rIL-2 for 72 hours in CO2 incubator.
In vitro culture of mammary tumor cells were used as target cells for testing the killer cells cytotoxicity both in syngenic and allogenic combination. The cytotoxicity was assesed by counting the reduction of living cells enumerated from at least 200 cells using trypan blue exclusion method. The absolute cytotoxicity was determined by the ratio between the difference of the percentage of living target cells in control and sample with percentage of living target cells in control. While the relative cytotoxicity was determined by the ratio between the difference the percentage living target cells in normal and tumor-bearing mice effector cells with the percentage of living target cells in normal mice effector cells.
Result and conclusion: The cytotoxicity of IL-2 activated killer cells derived from spleen showed a significant difference from the killer cells derived from lymph node. The cytotoxicity against singenic target cells of C3H mice effector derived from lymph node without T lymphocytes enrichment was higher than the effector derived from the spleen. In contrast, the cytotoxicity of effector cells derived from GR mice lymph node showed a lower cytotoxicity than effector cells derived from the spleen. While the cytotoxicity against allogenic combinations, effector derived from the lymph node remained higher as compared to the effector derived from the spleen of C3H mice, almost similar with the GR mice.
T lymphocytes enrichment did not influence the cytotoxicity of killer cells both derived from spleen and lymph node against allogenic target cells. On the other hand, T lymphocytes enrichment of effector derived from GR mice caused elevation of the cytotoxicity both in syngenic or allogenic combination.
This study also showed the effect of IL-2 in increasing the cytotoxicity of killer cells, which was usually achieved by the 1000 IU/ml dosage in E/T 25/1 and 50/1 ratio. However the 250 and 1500 IU/ml dosage also showed the effect of IL-2 in increasing the cytotoxicity of killer cells derived from spleen or lymph node of C3H and GR mice against both syngenic and allogenic target cells.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1998
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Snyder, Laurence H.
Boston: Heath, 1957
591.15 SNY p
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Bayu Rahadian
"Latar belakang: xylitol adalah gula alkohol berantai karbon lima (polyol) yang banyak digunakan sebagai pemanis alami dalam bentuk permen karet untuk mencegah karies gigi. Xylitol memiliki efek antikaries karena dapat menghambat pertumbuhan S. mutans yang merupakan salah satu agen utama penyebab karies gigi, menurunkan pembentukan plak dan meningkatkan remineralisasi gigi. Pulpa gigi berperan penting bagi vitalitas gigi. Pada pulpa gigi yang terbuka, xylitol dapat berpenetrasi dan menimbulkan efek biologik pada sel. Tujuan: untuk mendeteksi efek xylitol terhadap viabilitas dan profil protein sel-sel pulpa gigi (in vitro). Metode: sel-sel pulpa gigi didapat dari gigi sehat yang baru diekstraksi, dan dikultur dalam medium kultur DMEM (37°C, 5% CO2) hingga confluent. Selanjutnya sel-sel tersebut disubkultur pada kondisi yang sama selama semalam di 24-wellplate. Setelah itu kelompok perlakuan dipaparkan xylitol dengan konsentrasi 2%, 4%, 8% dan 16%. Sedangkan pada kelompok kontrol tidak diberi xylitol. Viabilitas sel diukur dengan MTT assay. Sedangkan profil protein dianalisis dengan SDS PAGE. Hasil: rerata optical density (OD) kelompok xylitol 2% (1,784 ± 0,052), 4% (2,465 ± 0,057), 8% (2,168 ± 0,162), dan 16% (1,912 ± 0,148) lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol (1,566 ± 0,069). Uji statistik Oneway ANOVA menunjukkan bahwa seluruh kelompok perlakuan berbeda bermakna dengan kontrol (p<0,05). Persentase viabilitas sel diperoleh dari rerata optical density. Viabilitas sel kelompok xylitol 2% (113,92%), 4% (157,40%), 8% (138,44%), dan 16% (122,09%) lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol (100%). Dari hasil SDS PAGE, tampak perubahan profil protein sel-sel pulpa gigi. Simpulan: terdapat peningkatan viabilitas sel dan perubahan profil protein sel-sel pulpa gigi setelah pemaparan xylitol.
Background: xylitol is five carbon sugar alcohol (polyol) which is used as natural sweetener in chewing gum to prevent dental caries. Xylitol has anticaries effect as it can inhibit the growth of S. Mutans, one of the main etiology of dental caries, decrease plaque formation, and increase tooth remineralization. Dental pulp has an important role in dental vitality. In exposed dental pulp, xylitol can penetrate and induce biological response of the cells. Objective: to detect the effects of xylitol to cell viability and protein profile of dental pulp cells (in vitro). Method: dental pulp cells were obtained from healthy and freshly extracted teeth, and were cultured in DMEM (37°C, 5% CO2) until confluent. Subsequently, they were subcultured in same condition overnight on 24-well plate. Afterwards, the treatment groups were exposed by 2%, 4%, 8%, and 16% xylitol. Whilst, the control group was not exposed by xylitol. Cell viability was measured by MTT assay. Whereas, the protein profile was analized by SDS PAGE. Results: the mean of optical density of treatment group with xylitol 2% (1,784 ± 0,052), 4% (2,465 ± 0,057), 8% (2,168 ± 0,162), and 16% (1,912 ± 0,148) were higher than control group (1,566 ± 0,069). Statistical test Oneway ANOVA showed that all the treatment groups were significantly different compared with the control (p<0,05). The percentage of cell viability was obtained from the mean of optical density. The cell viability of xylitol 2% (113,92%), 4% (157,40%), 8% (138,44%), dan 16% (122,09%) were higher than control group (100%). From SDS PAGE, there was protein profile alteration. Conclusion: there was an increased of cell viability and the alteration of protein profile of dental pulp cells after treated with xylitol."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2008
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Sitorus, Pardamean Robby Andreas
"Latar belakang: Trietylene glycol dimethacrylate (TEGDMA) merupakan salah satu monomer yang terkandung dalam resin komposit. Jika polimerisasi resin komposit tidak sempurna, TEGDMA dapat terlepas ke dalam rongga mulut dalam beberapa menit hingga jam dan dapat berpenetrasi mencapai pulpa. TEGDMA dilaporkan bersifat toksik terhadap sel dan jaringan rongga mulut.
Tujuan: Mengetahui efek TEGDMA terhadap sel-sel pulpa gigi ditentukan berdasarkan viabilitas dan profil protein sel pulpa (in vitro).
Metode: Sel-sel pulpa berasal dari jaringan pulpa gigi sehat yang baru diekstraksi, kemudian dikultur dalam DMEM (37o C, 5% CO2) sampai confluent (± 2 malam). Selanjutnya dilakukan subkultur dengan kondisi yang sama selama 1 malam pada 24-wellplate. Kemudian pada kelompok perlakuan dipaparkan TEGDMA dengan konsentrasi 4 mM, 8 mM dan 12 mM selama 24 jam; sedangkan pada kelompok kontrol tidak dipaparkan TEGDMA. Viabilitas sel diukur dengan menggunakan MTT assay dan hasilnya dibaca dengan microplate reader (490 nm), sedangkan gambaran profil protein dideteksi dengan menggunakan SDS-PAGE dan diinterpretasikan dengan menggunakan Gel Doc.
Hasil: Rerata optical density (OD) ± SD kelompok perlakuan TEGDMA 4 mM (1,71 ± 0,08); 8 mM (1,59 ± 0,11); dan 12 mM (1,50 ± 0,16) lebih rendah dibandingkan dengan kelompok kontrol (1,81 ± 0,11). Uji statistik One Way ANOVA menunjukkan bahwa nilai rerata OD kelompok TEGDMA 8 mM dan 12 mM berbeda bermakna dengan kelompok kontrol (p<0.05). Profil protein sel mengalami perubahan setelah pemaparan TEGDMA.
Kesimpulan: Pada penelitian ini viabilitas sel menurun dan terjadi perubahan profil protein sel setelah pemaparan TEGDMA.

Background: Trietylene glycol dimethacrylate (TEGDMA) is one of monomer contained in composite resin. If the polimerized was incomplete TEGDMA could bereleased into oral cavity in minutes to hours and could penetrate to the dental pulp. Itwas reported that TEGDMA has cytotoxic effects to cells and tissues in oral cavity.
Objectives: To determine the toxic effect of TEGDMA on dental pulp cells culture based on cell viability and Protein Cell Profile.
Methods: The pulp cells were isolated from the pulp tissue of the freshly extracted teeth, cultured in DMEM (37o C, 5% CO2) until confluent (± 2 nights). Afterwards, subcultured with the same condition overnight in 24-wellplate. Then, the treatment groups were treated with TEGDMA 4 mM, 8 mM, dan 12 mM for 24 hours, whereas in control group without TEGDMA exposure. The optical density of cell viability was measured by MTT assay then it was read with microplate reader in 490 nm. The protein cell profile was identified by SDS-PAGE method and analyzed by Gel Doc.
Results: Mean optical density ± SD of TEGDMA treatment group 4mM (1,71 ± 0,08), 8mM (1,59 ± 0,11), and 12 mM (1,50 ± 0,16) were lower than the control group (1,81 ± 0,11). One Way ANOVA analysis showed that TEGDMA treatment group 8 mM and 12 mM had significant differences compared with the control group (p<0,05). The protein profile of cells was altered after TEGDMA exposure.
Conclusion: In this research the cell viability was decreased and the protein profile of cells was altered after TEGDMA exposure.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2008
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Risco Taufik Achmad
"Latar belakang: xylitol adalah gula alkohol dengan 5 ikatan rantai karbon yang memiliki banyak manfaat bagi kesehatan manusia. Dalam bidang kedokteran gigi, xylitol memiliki peran sebagai antikaries gigi karena dapat menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans penyebab karies gigi. Namun belum diketahui efek pemaparan xylitol terhadap sel-sel pulpa gigi. Pulpa gigi merupakan jaringan yang sensitif terhadap paparan benda asing. Pada pulpa gigi yang terbuka, xylitol dapat menimbulkan efek biologik.
Tujuan: untuk mendeteksi efek paparan xylitol dalam beberapa konsentrasi terhadap protein total dan profil protein sel-sel pulpa gigi secara in vitro.
Metode: sampel penelitian berasal dari sel-sel pulpa gigi sehat (tanpa karies) yang baru diekstraksi. Selanjutnya dikultur selama semalam dan dilanjutkan dengan subkultur selama semalam. Kemudian kelompok perlakuan xylitol dipaparkan xylitol dengan konsentrasi 2%, 4%, 8%, dan 16%, sedangkan kelompok kontrol tidak diberi paparan xylitol. Protein total sel-sel pulpa gigi diukur dengan menggunakan metode Bradford assay dan profil protein sel-sel pulpa gigi dianalisis dengan menggunakan metode SDS PAGE.
Hasil: rerata konsentrasi protein total (µg/ml ± SD) sel-sel pulpa gigi kelompok perlakuan xylitol 2% (23031,305 ± 1636,87), kelompok perlakuan xylitol 4% (26380,865 ± 3278,0), kelompok perlakuan xylitol 8% (23192,574 ± 1441,39), dan kelompok perlakuan xylitol 16% (21498,481 ± 2633,37) memiliki rerata konsentrasi protein total sel-sel pulpa gigi yang lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol (19013,045 ± 2188,51) dan memiliki perbedaan bermakna berdasarkan uji statistik Oneway ANOVA. Namun, antar kelompok perlakuan xylitol 2%, 4%, 8% dan 16% tidak terdapat perbedaan bermakna (p<0,05). Pada gambaran profil protein, tampak terjadi perubahan profil protein pada kelompok perlakuan xylitol 2% dan 8%.
Simpulan: pada penelitian ini terjadi peningkatan konsentrasi protein total dan perubahan profil protein selsel pulpa gigi setelah pemaparan xylitol.

Background: xylitol is sugar alcohol with 5 carbon atom in the molecule which has many benefits for human health. In dentistry, xylitol is an anti-cariogenic agent as it can inhibit Streptococcus mutans growth. Nevertheless, the effect of xylitol exposure to dental pulp cells has not been known yet. Dental pulp is a sensitive tissue toward exposure of several agents. In the exposed dental pulp, xylitol can cause biological effects.
Objectives: the effect of xylitol with several concentrations determined to total protein and protein profile of the dental pulp cells culture.
Methods: the dental pulp cells were obtained from healthy and freshly extracted teeth (non-caries). Furthermore, dental pulp cells were cultured overnight and then subcultured another overnight. Afterwards, xylitol treatment group was exposured by 2%, 4%, 8%, and 16% xylitol, while control group was not exposured by xylitol. Total protein cells was measured by Bradford assay method and protein profile was analized by SDS PAGE.
Results: the mean of total protein (µg/ml ± SD) cells concentration? of 2% xylitol group (23031,305 ± 1636,87), 4% xylitol group (26380,865 ± 3278,0), 8% xylitol group (23192,574 ± 1441,39), and 16% xylitol group (21498,481 ± 2633,37) were statistically higher than the control group (19013,045 ± 2188,51). However, there were not significant differences between 2%, 8%, and 16% xylitol groups. From the result of SDS PAGE, it was shown that there was altered protein profile in 2% and 8% xylitol group.
Conclusions: in this research, the concentration of total protein cells were increased and the cells protein profile was altered in the dental pulp cells after xylitol exposured.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2008
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Karina
"Latar belakang: Trietylene glycol dimethacrylate (TEGDMA) merupakan salah satu monomer yang terkandung dalam bahan tambal resin komposit. Jika resin komposit mengalami polimerisasi tidak sempurna, TEGDMA dengan mudah terlepas ke dalam rongga mulut dalam beberapa menit hingga jam setelah penambalan, kemudian berpenetrasi mencapai pulpa. TEGDMA yang terlepas dilaporkan bersifat sitotoksik.
Tujuan: Menentukan efek TEGDMA (4 mM, 8 mM, dan 12 mM) terhadap protein total dan profil protein medium kultur sel-sel pulpa gigi.
Metode: Sel-sel pulpa didapat dari jaringan pulpa gigi sehat yang baru diekstraksi, kemudian dikultur pada medium kultur DMEM. Setelah sel kultur tampak confluent (±2 malam), dilakukan subkultur yang kemudian digunakan sebagai sampel pada penelitian ini. Selanjutnya, kultur sel-sel pulpa gigi pada kelompok perlakuan masing-masing dipapar TEGDMA 4 mM, 8 mM, dan 12 mM. dan diinkubasi pada suhu 37°C, 5% CO2 selama 24 jam. Sedangkan pada kelompok kontrol tidak dipaparkan TEGDMA. Konsentrasi protein total medium kultur diukur menggunakan Bradford protein assay lalu dibaca dengan microplate reader pada panjang gelombang 655 nm. Kemudian, identifikasi profil protein medium kultur dilakukan dengan metode SDS PAGE.
Hasil: Nilai rerata konsentrasi protein total medium kultur (µg/ml ± SD) kelompok perlakuan TEGDMA 4 mM, 8 mM, dan 12 mM berturut turut adalah 28635.85 ± 2373.39, 35288.41 ± 3469.47, dan 38199.79 ± 2752.47. Nilai-nilai tersebut lebih tinggi daripada kelompok kontrol 27073.83 µg/ml ± 2772.46. Analisis statistik one way ANOVA menunjukan terdapat perbedaan bermakna antara kelompok perlakuan TEGDMA 8 mM dan 12 mM dengan kelompok kontrol (p<0,05). Hasil identifikasi profil protein medium kultur menunjukan tampak perubahan profil protein pada setiap kelompok setelah pemaparan TEGDMA 4 mM, 8 mM, dan 12 mM.
Kesimpulan: Pada penelitian ini konsentrasi protein total medium kultur meningkat dan profil protein medium kultur mengalami perubahan setelah pemaparan TEGDMA 4 mM, 8 mM, dan 12 mM pada sel-sel pulpa.

Background: Trietylene glycol dimethacrylate (TEGDMA) is one of monomer that contained in composite resin restoration. TEGDMA could be released from composite resins to the oral cavity following incomplete polymerization in a few minutes to hours after the placement of restoration, and then the monomers of TEGDMA could penetrate the dental pulp. TEGDMA that released was reported has cytotoxic effects.
Objectives: To determine the effect of TEGDMA (4 mM, 8 mM, dan 12 mM) on total protein and protein profile of culture medium of the dental pulp cells.
Methods: The pulp cells were isolated from the pulp of the freshly extracted teeth, and cultured in culture medium of DMEM. After the cells visually confluent (±2 nights), subcultured to be used as samples. Afterwards, the cells culture in treatment group were treated with TEGDMA 4 mM, 8 mM, dan 12 mM and incubated at 37°C, 5% CO2 for 24 hours. Whereas, in control group without TEGDMA exposure. The concentration of total protein in culture medium was measured by Bradford protein assay then were read by microplate reader in 655 nm. Then, the protein profile of culture medium was identified by SDS PAGE method.
Result: The mean of total protein of culture medium (µg/ml ± SD) on treatment groups of TEGDMA 4 mM, 8 mM, dan 12 mM were 28635.85 ± 2373.39, 35288.41 ± 3469.47, and 38199.79 ± 2752.47 were higher than the controls 27073.83 ± 2772.46. One way ANOVA statistic analysis showed that treatment group of TEGDMA 8 mM and 12 mM were significant different compared with the control group (p<0,05). The protein profile of culture medium was altered after TEGDMA exposure.
Conclusion: In this research the total protein of culture medium was increased and its protein profile was altered after exposure of TEGDMA 4 mM, 8 mM, and 12 mM to dental pulp cells.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2008
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Pandujiwo Noormanadi
"Latar belakang: xylitol merupakan gula alkohol (polyols) dengan 5 ikatan rantai karbon yang dilaporkan bermanfaat bagi kesehatan manusia. Dalam bidang kedokteran gigi, xylitol memiliki peran sebagai bahan antikaries gigi karena dapat menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans. Namun, efek xylitol terhadap sel-sel pulpa gigi belum diketahui. Pulpa gigi merupakan jaringan yang sensitif terhadap paparan benda asing. Pada pulpa gigi yang terbuka, xylitol dapat
menimbulkan efek biologik sel.
Tujuan: untuk mendeteksi efek paparan xylitol terhadap protein total dan profil protein medium kultur sel-sel pulpa gigi.
Metode: sel-sel pulpa gigi didapat dari jaringan pulpa gigi sehat yang baru diekstraksi, kemudian dikultur dalam medium DMEM (37ºC, 5% CO2) hingga confluent. Kemudian dilakukan subkultur dengan kondisi yang sama selama semalam. Kelompok perlakuan dipaparkan xylitol dengan konsentrasi 2%, 4%, 8%, dan 16%, tetapi kelompok kontrol tidak dipapar xylitol. Konsentrasi protein total medium kultur sel-sel pulpa gigi diukur dengan menggunakan Bradford protein assay pada panjang gelombang 655 nm. Sedangkan profil protein medium kultur sel-sel pulpa gigi dianalisis dengan teknik SDS PAGE.
Hasil: rerata konsentrasi protein total (µg/ml ± SD) medium kultur sel-sel pulpa gigi pada kelompok perlakuan xylitol 2% (24.253,71 ± 2.363,29), xylitol 4% (21.925,42 ± 1.001,38), xylitol 8% (25.456,51 ± 4.569,45), dan xylitol 16% (26.306,66 ± 5.550,82) secara statistik dengan Oneway ANOVA lebih rendah bermakna (p<0,05) dibandingkan dengan kontrol (33.395,64 ± 4.209,08). Dari hasil SDS PAGE, ternyata tidak terjadi perubahan profil protein medium kultur sel-sel pulpa gigi setelah pemaparan xylitol.
Simpulan: konsentrasi protein total medium kultur sel-sel pulpa gigi menurun setelah pemaparan dengan xylitol, namun profil protein medium kultur sel-sel pulpa gigi tidak mengalami perubahan.

Background: xylitol is one of sugar alcohol (polyols) with 5 carbon atoms which is reported to have benefits to our health. In dentistry, xylitol has anti-caries effect as the growth of Streptococcus mutans could be inhibited. However, the xylitol effects on dental pulp have not been known yet. Dental pulp tissue is sensitive to foreign substances. Xylitol could penetrate the exposed dental pulp and induce the biological response of the cells.
Objective: to detect the effects of xylitol on dental pulp cells determined by total protein and protein profile of culture medium of the dental pulp cells (in vitro).
Methods: dental pulp cells were obtained from healthy and freshly extracted teeth. Then, they were cultured in DMEM medium (37ºC, 5% CO2) until confluent approximately 2 days. Subsequently they were subcultured and used as samples. The treatment groups were treated with xylitol 2%, 4%, 8%, and 16% and incubated at 37°C, 5% CO2 for overnight, while the control groups without xylitol. The total protein of culture medium was determined by Bradford protein assay in 655 nm. Whereas, the protein profile of culture medium were analized by SDS PAGE method.
Results: the mean of total protein? concentration (µg/ml ± SD) of culture medium in treatment groups with xylitol 2% (24.253,71 ± 2.363,29), xylitol 4% (21.925,42 ± 1.001,38), xylitol 8% (25.456,51 ± 4.569,45), dan xylitol 16% (26.306,66 ± 5.550,82) were lower than control group (33.395,64 ± 4.209,08). The comparison between the controls and treatment groups were analysed by Oneway ANOVA. All the treatment groups were signifcantly different compared with the controls (p<0,05). By SDS PAGE, the protein profile of culture medium in all treatment groups was not altered.
Conclusion: the total protein? concentration of culture medium of the dental pulp cells were decreased after treated with xylitol. However, the protein profile of culture medium of dental pulp cells was not altered.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2008
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Agung Kurniawan
"Silikon dapat bersifat seperti cermin dan memantulkan ± 30% cahaya yang diterimanya. Dalam aplikasi solar sel ada dua metode yang dapat digunakan untuk mengurangi pemantulan pada permukaan silikon solar sel. Metode yang pertama adalah dengan membentuk tekstur permukaan seperti piramida atau piramida terbalik. Metode kedua adalah dengan membentuk suatu lapisan anti refleksi (antire flection coating).
Pada penelitian ini dilakukan perhitungan dan simulasi untuk mencari parameter optimal untuk dual layer antireflection coating. Parameter yang perlu diperhatikan dalam penggunaan antireflection coating adalah indeks refraksi dan ketebalan lapisan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan melalui perhitungan dan uji simulasi dengan menggunakan PCID, ketebalan dan indeks refraksi optimal dari dual layer antireflection coating diketahui sebagai berikut: Lapisan atas (pertama) n1 = 1,57 ; d1 = 93 nm - 96 nm, Lapisan bawah (kedua) n2 = 2,46 ; d2 = 56 nm - 58 nm.
Berdasarkan simulasi yang dilakukan, pemantulan minimum dual layer antireflection coating terjadi pada panjang gelombang 400 nm - 1200 nm (dibawah 10 %). Pemantulan paling kecil (0 %) terjadi pada panjang gelombang 800 nm - 850 nm. Peningkatan performa solar sel dapat dilihat pada peningkatan arus short-circuit sebesar 120 mA (±4%) jika dibandingkan dengan solar sel yang menggunakan tekstur permukaan."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2005
S39947
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Arief Udhiarto
"Salah satu karakteristik penting bahan semikonduktor untuk aplikasi solar sel yang menentukan tingginya tingkat efisiensi adalah kofisien absorpsi (a) bahan terhadap cahaya. Setiap semikonduktor menyerap cahaya dengan koefisien yang berbeda-beda. Satu bahan semikonduktor juga memiliki daya absorpsi yang berbeda terhadap cahaya yang memiliki panjang gelombang berbeda. Cahaya biru memilik intensitas paling besar dibandingkan dengan cahaya lain [1]. Pada tesis ini dilakukan sebuah perancangan dan simulasi divais silikon solar sel untuk mengoptimalkan peran cahaya biru, yaitu dengan cara menempatkan pusat persambungan pn pada kedalaman 0,7 µm, dan menambahkan sebuah lapisan tipis dengan doping konsentrasi tinggi pada masing-masing permukaan emiter dan basis serta dengan membentuk struktur permukaan dengan pola piramida tegak dengan ketinggian 4 µm dan sudut kemiringan sebesar 65°. Dari simulasi menggunakan perangkat lunak PCID58 didapatkan konsentrasi doping untuk tipe-p sebesar 2,64 x 10zo cm3 dan untuk tipe-n sebesar 2,9 x 10Z0 cm3. Pasivated emitter diberikan pada bagian emiter untuk mengurangi rekombinasi permukaan [2]. Dan simulasi dan analisa rancangan, berhasil diperoleh sebuah rancangan divais silikon solar sel dengan efisiensi 15,17%, berdaya keluaran basis maksimum sebesar 2,055 W, dengan arus basis short-circuit sebesar -3,356 A dan tegangan basis open-circuit sebesar 0,5676 V. Dengan mengasumsikan bahwa perhitungan efesiensi yang dilakukan oleh Allen Jiun-Hua Gou adalah benar, maka tingkat efisiensi dari rancangan solar sel akan menjadi lebih besar dari 20,55% dengan ketebalan sel sebesar 30 pm. Se!uruh simulasi dilakukan terhadap rancangan solar sel dengan luas permukaan 100 cm2.

One of the important parameters from semiconductor material in solar cell application is absorption coefficient material toward the light. Every semiconductor has its own absorption coefficient. A semiconductor material was absorbed differently toward different wavelength of light. Blue light has biggest intensity than others light [1]. In this thesis, we design a silicon solar cell to optimize role of blue light by placing the center of injunction at depth of 0.7 µm, add the thin of n-type at front surface and thin of p-type at rear surface with heavy doping also by applying pyramid structured at surface with depth of 4 µm and angle of 65°. By using software PC1D58 we obtain doping concentration for p-type is 2.64 x 1016 cm 3 and for n-type is 2.9 x 1026 cm-3. Pass: gated emitter is introduced to reduce surface recombination [2]. From simulation and analysis, we have succeed developed a solar cell structure design with efficiency of 15.17%, where the maximum base power out is 2.055 W; the base current short-circuit is -3.356 A and voltage base open-circuit is 0.5676 V. By assuming that calculation of efficiency that recommended by Allen Jiun-Hua Gou is valid, the efficiency of solar cell will be more than 20.55% and the thickness of cell is 30µm. Solar cell was designed with area of 100 cm2."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2003
T14742
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>