Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 2868 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Harmin Sarana
1990
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
A. Mukramin Amran Machmud
"ABSTRAK
Telah dilakukan studi radiologis secara retrospektif terhadap kolitis ulseratif yang diperiksa dengan barium enema pada dua rumah sakit, yaitu satu rumah sakit pemerintah ( RS. Umum Dadi ) dan satu rumah sakit swasta ( RS. Stella Maris ) Ujung Pandang.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kelainan radiologis yang diketemukan, menetapkan stadium berdasar gambaran radiologis oleh akibat perubahan patologis kolon yang terserang kolitis ulserativa. Selain itu penelitian ini juga bermaksud untuk mendapatkan data distribusi umur, jenis kelamin, lokasi anatomic kolitis ulserativa dan membandingkannya dengan data kepustakaan yang ada dengan harapan ini bisa digunakan dalam melacak dan mendiagnose penyakit tersebut.
Penelitian dilakukan selama dua tahun ( 1988 - 1989 ) terhadap 457 pemeriksaan barium enema yang dicurigai sebagai kasus kolitis. Diketemukan 241 kolitis ulserativa yang terdiri dari 120 laki-laki dan 121 wanita ( 1 : 1 ) Tertinggi pada umur 21 - 40 tahun, gejala klinis yaitu menonjol adalah diare dengan atau tanpa darah, yang paling kurang yaitu demam dan takikardia. Kolitis fulminan diketemukan 8 penderita, hanya 14 penderita kolitis ulserativa timbul, neoplasms.
Kolitis tingkat ringan terbanyak diketemukan pada penderita dirumah sakit swasta sedang yang tingkat berat terbanyak pada rumah sakit pemerintah. Penderita kolitis ulserativa terbanyak menempati ruang rawat kategori B (ekonami lemah).
Lokasi anatomis kolitis ulserativa terbanyak pada kolon kiri sedang keterlibatan rectum pada penelitian ini hanya 70.5%, bandingkan dengan kepustakaan ( 95% ).
Dari penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa pemeriksaan barium enema Cukup efektif untuk: mendiagnose awal kolitis ulserativa dan dapat dilakukan penetapan stadium secara radiologis, yang berquna untuk para klinikus dalam penanganan penderita kolitis ulserativa.

Barium examination of ulcerative colitis had been studied retrospectively in two which is Dadi Goverment hospital and Stella Morris hospital ( a private one ) that located in Ujung Pandang, South of Sulawesi.
The purpose of this research was to determined radiological image of ulcerative colitis and to confirmed the stage of the disease that based on pathologic and radiological changes.
Distribution of age, sex and anatomical location were also described and compared with other articles to detect and diagnosed the disease more properly.
There were 457 barium enema examination had been performed to detect suspected cases in the period of 1933 - 1939.
From such examination, 4hc'rs were 241 cases of ulcerative colitis had been detected ( 120 men and 121 women ) with the highest age frequency was 21 till 40 years old .
The frequency clinical findings were diarrhea with or without blood staining and the lesser findings were febrile and tachycardi. There were 8 patients with fulminant stage of the disease and there were 14 patients that came up to be neoplasma.
Mild colitis were found in the private hospital but on the other hand, severe colitis were more found in the government hospital. Patients with severe colitis came from lower social economic society that they had been hospitalized in B category.
The anatomical location of ulcerative colitis were in the left side of colon and rectal involvement were only 70,5% compared to 95% from other article.
It had been concluded that barium enema examination was very effective to diagnosed the early stage of ulcerative colitis and others stage as well, that is important for clinical doctors to decide the proper management for the patients.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1991
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jessica Florencia
"Penyakit gastroenterologi masih merupakan masalah kesehatan utama di Indonesia, dengan kolitis menempati urutan kelima dari sepuluh penyakit terbanyak pada pelayanan rawat jalan. Kesamaan gambaran klinis dan hasil pemeriksaan diagnostik kolitis TB dan Inflammatory Bowel Disease (IBD) menyebabkan kesulitan diagnosis. Studi ini bertujuan untuk mengetahui peran diagnostik Interferon-Gamma Release Assay (IGRA) metode Elispot pada pasien terduga kolitis tuberkulosis di Indonesia. Dilakukan studi potong lintang dan acak dengan penyajian data deskriptif analitik. Subjek penelitian merupakan 60 pasien terduga kolitis tuberkulosis yang mengunjungi poliklinik gastroenterologi di RSUPNCM bulan April-Oktober 2018. Sampel yang digunakan adalah darah vena. Hasil uji diagnostik IGRA metode Elispot dengan baku emas pemeriksaan histopatologi adalah sensitivitas 83,3%, spesifisitas 57,4%, NPP 17,3%, dan NPN 96,9%. Hasil uji diagnostik IGRA metode Elispot dengan baku emas pemeriksaan kolonoskopi adalah sensitivitas 53,9%, spesifisitas 55,3%, NPP 25%, dan NPN 81,3%. Hasil uji diagnostik IGRA metode Elispot dengan baku emas pemeriksaan kolonoskopi dan histopatologi adalah sensitivitas 57,1%, spesifisitas 60,5%, NPP 28,6%, dan NPN 81,3%. Hasil uji diagnostik IGRA metode Elispot dengan baku emas pemeriksaan histopatologi, kolonoskopi, dan evaluasi klinis akhir adalah sensitivitas 100%, spesifisitas 59,3%, NPP 21,3%, dan NPN 100%. Tes IGRA Metode Elispot dapat digunakan sebagai pemeriksaan penapisan.

Gastroenterology diseases are still a major health problem in Indonesia, with colitis ranks fifth among the top ten diseases in outpatient care. The similarity of clinical features and diagnostic results of TB and Inflammatory Bowel Disease causes difficulties in diagnosis. This study is aimed to determine the diagnostic value of Interferon-Gamma Release Assay (IGRA) with Elispot Method in patients with suspected tuberculous colitis in Indonesia. It is a cross sectional and randomized study, shown as an analytic descriptive report. There were 60 patients with suspected tuberculosis colitis, visiting gastroenterology polyclinic at RSCM from April-October 2018. The sample was venous blood.  Diagnostic results of IGRA with Elispot Method with histopathology test as the gold standard are sensitivity 83,3%, specificity 57,4%, PPV 17,3%, and NPV 96,9%. As with colonoscopy as the gold standard are sensitivity 53,9%, specificity 55,3%, PPV 25%, dan NPV 81,3%. Meanwhile, with colonoscopy and histopathology test as the gold standard are sensitivity 57,1%, specificity 60,5%, PPV 28,6%, dan NPV 81,3%. And, diagnostic results  of IGRA with Elispot Method with colonoscopy, histopathology test, and final clinical judgement as the gold standard are sensitivity 100%, specificity 59,3%, PPV 21,3%, dan NPV 100%. IGRA with Elispot Method can be used as screening test."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Riris Himawati
"Latar belakang. Pemeriksaan penunjang untuk membantu menegakkan diagnosis kolitis adalah enema barium kontras ganda dan kolonoskopi. Beberapa kepustakaan menyatakan enema barium dan kolonoskopi merupakan dua modalitas pemeriksaan kolon yang saling melengkapi dengan keunggulan dan kelemahannya masing-masing. Dengan adanya kolonoskopi, saat ini penderita dengan kecurigaan kolitis jarang dikirim ke bagian Radiologi RSUPN Cipto Mangunkusumo untuk pemeriksaan enema barium kontras ganda. Tujuan. Penelitian ini dilakukan untuk menilai tingkat keselarasan hasil pemeriksaan enema barium kontras ganda (EBKG) dengan kolonoskopi dan mengevaluasi apakah EBKG dapat menjadi modalitas diagnostik alternatif pada penderita dengan gejala kolitis. Bahan dan Cara kerja. Penelitian dilakukan pada kelompok penderita dengan diagnosis kecurigaan kolitis selama periode Juni 1998 sampai dengan Oktober 1998 diteruskan Februari 1999 sampai dengan April 1999. Sesuai dengan perhitungan jumlah sampel minimal didapatkan 20 penderita yang mendapat perlakuan pemeriksaan EBKG dan kolonoskopi masing-masing dibagian radiologi dan di sub bagian gastroenterologi penyakit dalam RSUPNCM. Hasil. Pada pemeriksaan EBKG didapatkan 40% penderita kolitis dan 60% bukan kolitis sedangkan dengan kolonoskopi didapatkan penderita kolitis dan bukan kolitis sama banyak. Hasil kedua pemeriksaan tersebut dibandingkan dengan menggunakan rumus Kappa, dan diperoleh nilai K 0,78. Kesimpulan. Terdapat keselarasan yang cukup baik antara EBKG dengan kolonoskopi. Sedangkan pada kasus kolitis lanjut yang lokasi kelainannya di caecum dan appendiks pemeriksaan EBKG lebih unggul."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1999
T57299
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kemal Imran
"Latar Belakang : Pada penelitian sebelumnya terdapat korelasi yang positif antara kemampuan deformabilitas, jumlah eritrosit dan shear rate yang rendah yang berakibat terhadap perfusi otak yang akhirnya akan mempengaruhi perburukan pasien stroke iskemik. Hal ini bisa dilihat dengan pemeriksaan Laju Endap Darah (LED). LED merupakan metode yang mudah dan merupakan petunjuk tidak langsumg terhadap deformabilitas eritrosit. Jika ada kondisi yang meningkatkan kadar fibrinogen atau makroglobulin lainnya akan menyebabkan eritrosit mengendap lebih cepat. Dengan melihat konsep ini kami melakukan penelitian untuk mengeksplorasi korelasi antara komponen eritrosit dengan keluaran klinis stroke iskemik.
Obyektif : Apakah LED ini mempunyai nilai prognostik klinis.
Desain dan Metode: Potong Lintang sesuai kriteria seleksi dan dieksplorasi apakah intensitas respon fase akut terdapat informasi keluaran klinis jangka pendek dengan melakukan uji korelasi antara LED pada pasien dalam 72 jam sejak onset stroke dengan keluaran Minis 7 hari kemudian yang diukur dengan National Institute of Health Stroke Scale (N1HSS).
Hasil: 51 pasien stroke iskemik akut ,dalam 72 jam dari onset klinis. semua pasien dilakukan neuroimejing and pemeriksaan darah rutin, tennasuk LED. 28 pasien (54,9%) terdapat peningkatan LED. LED meningkat (Laki-laki >13 dan wanita > 20) sebanding dengan penigkatan NIHSS. Dengan uji korelasi Spearman Koefisien korelasinya moderat (r=0,642) dan berhubungan bermakna (p < 0,001).

Background: In the recent study, there is a positive correlation among deformability, the amount of erythrocyte and low shear rate which impact to cerebral perfusion. By reducing the cerebral perfusion could increased the infarct size and clinical manifestation worse. The erythrocyte sedimentation rate (ESR) is a simple method and an indirect marker of erythrocyte deformability. If any conditions that increased the amount of fibrinogen and other macroglobulin will increase the ESR. By this concept we did the research to explore the correlation between erythrocyte component and the outcome of ischemic stroke.
Objective: To evaluate whether the ESR can be used as a clinical prognostic value.
Design and Methods: Consecutive Cross sectional study and explore the intensity of the acute-phase response by the correlation test between the ESR within 72 hour from the onset of stroke and the out come at day 7 measured by National ?Institute of Health Stroke Scale (NIHSS) and whether provided further information concerning the short term out come.
Results: 51 acute ischemic stroke, within 72 hours from clinical onset. All patients had neuroimaging and routine blood tests, including erythrocyte sedimentation rate (ESR). 28 patients (54,9%) had increased ESR. The ESR was increased (men >13 and woman > 20) as the NIHSS was high. With Spearman Correlation test the coefficient correlation is moderate (r4,642) and was significant correlated (p < 0,001).
Conclusion: The ESR is a predictor of short term stroke outcome. These findings might be indicative the amount of fibrinogen, hyperviscosityand the erythrocyte deformability changes.
Key Words : ischemic stroke ; erythrocyte sedimentation rate ; prognosis.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2004
T21441
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hanauer, Stephen B.
New York: Raven Press , 1985
616.344 HAN i
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Kamm, Michael A
London: Martin Dunitz, 1999
616.344 KAM i
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Rianti Maharani
"ABSTRAK
Prevalensi kolitis ulseratif semakin meningkat dari tahun ketahun. Penelitian ini bertujuan untuk melihat efek Ekstrak Etanol Daun Mahkota Dewa (EEDMD) terhadap gambaran histopatologi dan  ekspresi TNF-α, COX-2, dan NF-κβ pada jaringan kolon mencit Swiss berusia 20 minggu yang diinduksi dengan Dextran Sodium Sulfat (DSS) 2% melalui air minum. EEDMD dosis 100 mg, 200 mg, 300 mg, aspirin 0,21 mg, diberikan per oral selama 2 minggu. Pemeriksaan kandungan EEDMD menunjukan kadar total fenol sebesar 4,4103% atau 44,103 mgGAE/g ekstrak, kadar flavonoid sebesar 0,3429% atau 3,429 mgQE/g ekstrak, dan memiliki aktivitas antioksidan sedang (IC50 sebesar 219,716 µg/mL). Pemeriksaan histopatologi pada jaringan kolon mencit dinilai dengan mengkuantifikasi jumlah radang dan rerata sel goblet pada jaringan kolon yang diwarnai hematoksilin-eosin. Pemberian EEDMD pada semua dosis menunjukan perbedaan bermakna pada jumlah radang (p<0,00) dan rerata sel goblet (p<0,00). Pemeriksaan imunohistokimia dilakukan untuk melihat ekspresi TNF-α, COX-2. NF-κβ. Sel positif mengekspresikan TNF-α, COX-2, dan NF-κβ dihitung/1000 sel epitel. Hasil menunjukan EEDMD mampu menurunkan ekspresi TNF-α secara signifikan dibandingkan dengan kontrol negatif. Sedangkan pada COX-2 (p<0,80) dan NF-κβ (p<0,90) tidak terdapat perbedaan yang signifikan.

ABSTRACT
Ulcerative colitis prevalence increases from year to year. The purpose of this research to see the effect of Ethanol Extract of Mahkota Dewa Leaves (EEDMD) on histopathology and expression of TNF-α, COX-2, and NF-κβ on 20-week Swiss mice tissue induced with 2% Dextran Sodium Sulfate (DSS) through drinking water. EEDMD dose 100 mg, 200 mg, 300 mg, aspirin 0.21 mg, given orally for 2 weeks. Examination of EEDMD content showed total phenol levels of 4.4103% or 44.103 mgGAE / g extract, flavonoid levels of 0.3429% or 3.429 mgQE / g extract, and had moderate antioxidant activity (IC50 of 219.716 µg / mL). Histopathological examination of mice colon tissue was assessed by quantifying the amount of inflammation and the mean of goblet cells in colon tissue stained by hematoxylin-eosin. Giving EEDMD at all doses showed a significant difference in the number of inflammation (p <0.00) and mean goblet cells (p <0.00). Immunohistochemical examination was performed to see the expression of TNF-α, COX-2. NF-κβ. Positive cells express TNF-α, COX-2, and NF-κβ counts / 1000 epithelial cells. The results showed that EEDMD significantly reduced TNF-α expression compared to negative controls. Whereas in COX-2 (p <0.80) and NF-κβ (p <0.90) there were no significant differences.
"
2019
T52377
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Gastrointestinal manifestations are common is systemic lupus erythematosus (SLE). Although the relationship between SLE with ulcerative colitis (UC) rarely obtained, SLE patients with gastrointestinal manifestations should preferably be evaluated for the possibility of an inflammatory bowel disease (IBD). UC prognosis associated with SLE is usually good, whereas by proper diagnosis and management, the clinical output and a good life expectancy of patients will be obtained. A young female, 17 years old, who had previously been diagnoses with SLE for 5 years, come with complaints of abdominal pain and chronic diarrhea. From the result of colonoscopy and biopsy of the intestinal mucosa was noted that in accordance with UC. After receiving treatment for 6 days, she no longer obtained compalints of abdominal pain and diarrhea."
UI-IJGHE 15:1 (2014)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Nurul Hayati
"Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran dalarn beberapa dekade belakangan
ini berkembang sangat pesat, terutarna sejak berakhirnya Perang Dunia ke-2. Diantara
kemajuan di bidang kedokteran yang saat ini banyak diminati orang adalah bidang bedah
plastik (plastic surgery). Menurut Ensiklopedi Indonesia, bedah plastik adalah cabang
ilmu bedah yang mempelajari cara melakukan perbaikan bentuk organ tubuh yang tidak
sempurna (hal.269-270). Oleh sebab itu tujuan dati ilmu yang di Indonesia dikembangkan
pertama kali oleh Prof Moenadjat Wiraatmaja adalah untuk peningkatan fungsi organ
tubuh yang tidak/kurang sempurna serta mengurangi kecacatan yang mengganggu.
Dalam perkembangannya, ternyata ilmu bedah plastik ini juga dipergunakan untuk
mempercantik diri, memperbaiki penampilan fisik yang dirasa kurang sempurna meski
tidak cacat. Melalui pemaduan dengan ilmu kecantikan, maka lahirlah ilmu bedah kosmetik
(cosmetic surgery). Tindakan-tindakan dalam bidang bedah plastik biasanya barn dapat
dikatakan berhasil bila pasien puas setelah tindakan itu dilakukan. Namun hila yang terjadi
sebaliknya, pasien merasa tidak puas akan hasilnya maka besar kemungkinan hal ini akan
menjadi masalah hukum. Narnun mungkinkah hila pasien tidak puas itu berarti ada
kesalahan dokter? Tentu perlu ditelaah lebih jauh lagi, misalnya apakah tindakan dokter
sudah sesuai dengan Standar Profesi? Memang kasus tuntutan terhadap kegagalan operasi
menunjukkan peningkatan bila kita baca di surat kabar belakangan ini. Hal ini karena
dalam tindakan bedah plastik terdapat banyak aspek hukumnya. Salah satu aspek
hukumnya adalah bahwa hubungan dokter dengan pasien dalarn bidang bedah plastik ini
termasuk Inspanningverbintenis dan bukan Resultaatverbintenis. Artinya bahwa dok1er
tidak dapat menjamin hasil dari setiap tindakan bedah plastik tetapi hanya akan berupaya
semaksimal mungkin. Juga perihal kewenangan yakni dokter apa yang berwenang untuk
melakukan tindakan bedah plastik itu? Menurut UU No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan
selain Dokter Spesialis Bedah Plastik, yang berwenang juga Dokter Spesialis THT,
Dokter Spesialis Mata dan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin. Tentunya kewenangan
tersebut tergantung pada bidang spesialisasinya. Juga seorang dokter yang melakukan
tindakan bedah plastik harus tetap memperhatikan hak-hak pasien, khususnya penerapan
hak atas informed consent. Dengan informasi itu diharapkan pasien tidak akan mempunyai
harapan yang berlebihan akan hasilnya, tapi juga tidak merasa takut yang tidak wajar pula.
lni akan banyak memberi manfaat kepada pasien maupun dokternya serta dapat menghindari dati tuntutan malapraktek medis. Hal yang disebutkan di atas hanyalah
sebagian kecil dari masalah-masalah hukum yang timbul dari tindakan bedah plastik
disarnping masalah lain seperti bagaimana tanggung jawab dokter dan rumah sakit bila
terjadi malapraktek, bagaimana aturan hukum yang ada mengenai penyelenggaraan
bedah plastik yang mempunyai keunikan dan kekhususan dibanding tindakan bedah lain.
Oleh sebab itu menarik penulis untuk mengungkap lebih jauh hal itu dalam skripsi ini.
"
Depok: Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 1995
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>