Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 17955 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Djody Gondokusumo
"Masalah-masalah estetika terutama yang berhubungan dengan konsep keindahan, telah menjadi bahan renungan manusia sejak dahulu kala. Hal tersebut tampaknya sejalan dengan kodrat manusia yang menghargai dan menyukai sesuatu yang indah dan hasrat terhadap keindahan tersebut sangatlah menggugah. MengaIami keindahan hanya dialami manusia, agaknya filsafat keindahan atau estetika itu termasuk gejala manusiawi yang sangat jelas terlihat.
Dalam pemikiran filsafat, gejala keindahan merupakan ladang penelitian yang sangat menarik. Estetika sering diartikan sebagai "filsafat keindahan" atau "teori penilaian terhadap karya seni." Pada estetika yang diteliti tercakup keindahan alam, kehidupan manusia maupun karya seni yang dibuat oleh manusia, kemudian mencari pendekatan-pendekatan yang memadai untuk menjawab masalah objek pengamatan inderawi (khususnya pada karya seni) yang menimbulkan pengaruh kejiwaan pada manusia, misalnya: pemikirannya, perenungannya, perilakunya dan penghayatan emosi' kemanusiaannya. Selain itu estetika juga meneliti tentang istilah-istilah dan konsep-konsep keindahan serta membuat teori-teori untuk menemukan jawaban atas persoalan-persoalan di sekitar objek-objek yang menerbitkan pengalaman keindahan."
Depok: Universitas Indonesia, 2000
D425
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jakob Sumardjo, 1939-
Bandung: ITB Press, 2000
100 JAK f
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Alfarida Herlina
"Di masa kontemporer, seni menjadi konsumsi global sehingga genre Global Art menjadi popular. Galeri, rumah lelang, museum, dan tempat pameran seni menjadikan seni adalah konsumsi publik terutama kaum borjuis. Skripsi ini membahas pergeseran yang terjadi dari seni kontemplatif yang hanya untuk seni menjadi seni konsumtif yang tanpa makna. Posisi seni dan seniman dipertanyakan karena tidak ada otonomi atas mereka. Seni hanya dinikmati oleh kaum borjuis dan seniman yang tidak mampu mengikuti standarisasi yang ada akan ternegasi secara tidak langsung. Pemikiran para pemikir seni menampilkan gambaran seni yang kontemplatif dan konsumtif. Pembahasan pergeseran seni akan mengantarkan skripsi ini pada refleksi kritis terhadap perkembangan kehidupan seni.

In contemporary times, the art of being a global consumption so that the genre of the Global Art became popular. Galleries, auction houses, museums, art exhibitions and the making of art is public consumption, especially the bourgeoisie. This paper discusses the shift that occurred from the contemplative art only for art into a consumptive art without meaning. The position of art and artists is questionable because there is no autonomy over them. Art is only enjoyed by the bourgeoisie and the artists who are not able to follow the existing standards will indirectly. Thinkers of art explained of contemplative art and consumptive. The discussion of art will bring this essay to a critical reflection on the development of artistic life."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2011
S13
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Astrianto Adianggoro
"Karya seni merupakan sebuah fenomena sosial yang keberadaannya dapat dijumpai daiam kehidupan sehari-hari. Sebagai subjek yang berkesadaran, manusia harus kritis terhadap fenomena-fenomena yang melingkupinya. Mengapa sebuah predikat karya seni dapat ditempelkan kepada objek tertentu yang membuatnya menjadi lama sekali berbeda dengan objek-objek biasa? Hal ini merupakan pertanyaan yang sangat mendasar yang berusaha untuk dijawab oleh para filsuf. Penulisan ini mencoba untuk mengangkat sebuah usaha untuk menjawab pertanyaan tersebut. Sebuah usaha untuk mendefinisikan seni. Berawal dari sebuah kritik, dan pada akhirnya sampai pada sebuah formulasi dari definisi seni. Arthur Danto merupakan filsuf yang menjadi fokus dalam penulisan skripsi ini. Usahanya dalam membuat sebuah definisi berawal dari kritiknya terhadap Wittgenstein. Wittgenstein memang lebih akrab dibicarakan dalam ruang lingkup filsafat bahasa, namun pemikirannya berimplikasi juga terhadap pembicaraan etika dan estetika. Dalam analisis bahasanya, Wittgenstein mencoba untuk ikut dalam praktik bahasa itu sendiri. Ternyata, sesuatu yang menjadi menarik baginya adalah adanya kebudayaan yang selalu melekat dalam diri tiap-tiap individu dalam berbahasa. Dengan adanya latar belakang kebudayaan ini, bagi Wittgenstein, bahasa menjadi plural sifatnya dan tidak bisa berada dibawah sebuah teori yang tunggal. Begitu juga dengan seni, seni menjadi tidak bisa didefinisikan. Tetapi, bila masing-masing kebudayaan memiliki pengertiannya masing_masing tentang apa itu seni, bukankah artinya mereka telah membuat sebuah pembedaan antara karya seni (artwork) dan benda belaka (mere thing)? Dari sini, Arthur Danto melihat sebuah benang merah tentang perbedaan yang akan dirnunculkan antara karya seni (artwork) dan benda belaka (mere thing). Sebuah pintu masuk yang dipilih oleh Danto untuk memulai pendefinisian seni dan sebagai kritik terhadap pemikiran Wittgenstein."
Depok: Universitas Indonesia, 2007
S15995
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Apollo
Jakarta: Mitra Wacana Media, 2024
100 APO f
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Bagoes P. Wiryomartono
Jakarta: Gramedia Purtaka Utama, 2001
700 BAG p
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Poedjo Soesantyo
"Pertumbuhan dan kehidupan seni dipengaruhi juga oleh herbagai faktor, baik faktor di dalam seni maupun di luar seni. Faktor di luar seni antara lain, adalah faktor lingkungan. Faktor lingkungan yang obvektif seperti kondisi alam sekitar, iklim dan sebagainya, juga faktor lingkungan yang subyektif seperti tingkat kemampuan suatu bangsa, kondisi kecerdasan umumnya pada bangsa yang mendukung budaya di mana seni itu tumbuh dan hidup. Apa yang dicoba jelaskan dalam skripsi ini adalah faktor yang juga mempengaruhi pertumbuhan kehidupan seni yang berada dalam lingkup seni sendiri. Permasalahan ini dilihat oleh Susanne K. Langer dengan membandingkan antara seni dan ilmu pengetahuan. la melihat ilmu pengetahuan yang didukung oleh bahasa, suatu ungkapan bentuk simbolis, telah mencapai perkembangan yang lebih pesat daripada kehidupan seni. Bagi Susanne K. Langer masalahnya cukup jelas, bahwa kemajuan bahasa sebagai salah satu bentuk Simbol diskursif tak dapat disangkal telah menunjang kemajuan ilmu-ilmu.Perkembangan ilmu-ilmu berhutang pada pengkajian konsep-konsep dan teori-teori yang kesemuanya dapat dirumuskan sebagai bahasa ilmu. Bahasa dengan demikian sung-guh-sungguh membuka wilayah di mana ilmu-ilmu pengetahuan dapat dikembangkan. Jikalau analisa yang menyangkut simbol diskursif dapat berekor pada kritik ilmu-ilmu, maka analisa yang menyangkut simbol presentasional harus mencapai perkembangan kritik seni. Dalam Philosophy in a New Key dikatakan bahwa teori simbolisme yang dikembangkan di sana harus menuju kepada suatu kritik seni, seserius dan sejauh kritik ilmu yang berasal dari analisis simbol diskursif. Feeling and Form berusaha memenuhi janji tersebut menjadi kritik seni. Tetapi ternyata usaha yang kedua ini tidaklah sepesat usaha yang pertama. Kritik ilmu-ilmu sudah berkembang sedemikian pesat, sementara kritik seni belum juga rnencapai kata sepakat mengenai berbagai macam peristilahan teknis. Hal ini menghambat perkembangan teori seni. Kesulitan ini juga disebabkan oleh sifat seni, yaitu seni bukanlah deskripsi dan fakta obyektif atau analisis terhadapnya seperti halnya pada ilmu pengetahuan. Pada seni selalu masih tinggal tersembunyi subyektivitas seniman sebagai faktor penentu. Itu juga sebabnya mengapa Langer menyebut tulisannya sebagai suatu teori seni, dan bukan menyusun hipotesa metafisis tentang seni. Dasarnya adalah mencoba merumuskan satu teori seni yang didekati dari hasil teori simbolnya."
Depok: Universitas Indonesia, 1987
S16157
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Esty Hayuningtyas
"Kehidupan manusia tidak bisa terlepas dari makanan sebagai media untuk bertahan hidup. Di masa kini, makanan telah menjadi sebuah fenomena tersendiri yang menarik perhatian manusia, bukan sekedar untuk menghilangkan rasa lapar, namun ada sebuah makna yang tersembunyi di balik makanan. Salah satu makna yang tersembunyi di dalam makanan dapat digali melalui kajian seni dan estetika. Ternyata, ada sebuah makna yang dapat menjadikan makna sebagai sebuah seni. Hal ini dapat dicapai melalui apresiasi estetik yang melibatkan fungsi persepsi dan penggalian makna oleh manusia itu sendiri. Apresiasi estetik pada makanan harus melalui proses konsumsi yang melibatkan kerja seluruh persepsi tanpa terpisahkan atau disebut dengan aesthetic engagement. Status seni pada makanan bagi Berleant melibatkan sebuah pengalaman estetik yang mengedepankan isu sosial dan proses pemaknaan kontekstual yang terwujud melalui pengalaman makan yang dihayati.

Food cannot be separated from human‟s life as a media to survive. In present time, food has become a phenomena that interests people, not only as to relieve hunger, but there‟s also a hidden meaning beyond food itself. One of meanings that is hidden beyond the food can be cultivated through perspective of aesthetics and art. Evidently, there‟s a meaning that can make food as an art form. This can be achieved through aesthetic appreciation that involves the function of perception and meaning cultivation by human himself. Aesthetic appreciation on food must go through the process of consumption that involves the work of whole perception comprehensively or can be known as aesthetic engagement. The art status on food for Berleant requires a social aesthetic experience and a process of contextual meaning that can be formed through the activities of intimacy eating."
Depok: Universitas Indonesia, 2013
S53017
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kuala Lumpur, Malaysia : National Visual Art Gallery, 2011
R 750.1 RAJ
Buku Referensi  Universitas Indonesia Library
cover
Margareth Wilson
"ABSTRAK
Skripsi ini merupakan sebuah penelitian yang berada dalam ruang lingkup Estetika. Teori estetika yang menjadi landasan teori dalam penelitian ini adalah estetika Immanuel Kant. Objek kajian dalam penelitian ini merujuk pada salah satu konsep yang terdapat dalam teori estetika Kant, yaitu konsep Genius. Dengan menggunakan metode studi kepustakaan deskriptif ndash;analisis, konsep genius akan dijelaskan dan didefinisikan oleh penulis agar para pembaca dapat mengetahui karakteristik apa saja yang terdapat di dalam konsep ini. Setelah genius dijelaskan secara deskriptif, penulis akan masuk ke dalam pembahasan analisis, yaitu implikasi konsep genius di dalam tiga karya seni, diantaranya puisi, musik, dan lukis. Genius memiliki implikasi pada penciptaan karya seni di jamannya, salah satunya adalah aliran Romantik. Dari sini penulis mengharapkan penelitian ini akan menghasilkan sebuah kejelasan tentang apa itu genius dan bagaimana sebuah karya seni dapat disebut sebagai karya seorang genius. Dalam penelitian ini penulis ingin menyatakan tesis yang membuktikan adanya justifikasi sosial yang ditemukan dalam proses menciptakan suatu karya seni pada jaman Romantik, sebagai implikasi kemunculan konsep genius. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan terlebih dahulu perihal deskripsi dan karakteristik konsep genius dari filsuf Immanuel Kant dan menjelaskan implikasinya di dalam tiga contoh karya Romantik yang penulis ambil untuk membuktikan adanya justifikasi sosial yang terikat dalam seni Romantik.

ABSTRACT
This thesis is a study that is within the scope of Aesthetic. Aesthetic theory that became the theoretical basis of this research is the aesthetics of Immanuel Kant. The object of study in this research refers to one of the concepts contained in Kant 39 s aesthetic theory, the concept of Genius. By using the methods of literature study and descriptive analysis, the concept of genius will be explained and defined by the author so that readers may know the characteristics of what is contained in this concept. Once the concept of genius described, the author will get into the discussion of the analysis, the implications of the concept of genius in three works of art, such as poetry, music, and painting. Genius has implications on the creation of works of art at the time, one of them is Romantic. From here the author expect the study will yield a clarity about what genius is, and how a work of art can be described as work of a genius. In this study, the author would like to express the thesis that prove their social justification is found in the process of creating works of art in the Romantic era, as the implications of the emergence of the concept of genius. The purpose of this study is to explain in advance regarding the description and characteristics of the genius concept of the philosopher Immanuel Kant and to explain its implications in three examples of Romantics works which tooks to prove their social justification bound in Romanesque art."
2017
S68771
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>