Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 196081 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Erman Aminullah
"Penelitian ini bertujuan menstrukturkan permasalahan rendahnya intensitas ristek industri, yang memiliki kerumitan, berubah cepat dan mengandung ketidakpastian. Hasil penstrukturan adalah sebuah model yang digunakan untuk menerangkan dan meramalkan pola dan kecendrungan ristek pemerintah, industri dan interaksinya dalam ekonomi. Analisis berdasarkan pendekatan sistem dengan metode sistem dinamis. Perilaku dan kinerja unsur-unsur yang menyusun sistem dijelaskan dalam perspektif ilmu administrasi. Analisis bersifat evaluasi waktu lampau dan mendatang. Struktur dan unsur yang mempengaruhi pola dan kecendrungan ristek dievaluasi, dalam menemukan alternatip kebijakan percepatan intensitas ristek industri, untuk meningkatkan daya saing industri dalam jangka panjang.
Proses penelitian menggunakan teknik dan prosedur pemodelan sistem dinamis. Model yang dibangun telah divalidasi, dan 'dapat diperoleh struktur model yang diyakini absah. Pemodelan dilengkapi dengan uji statistik, dan telah diperoleh kinerja model yang diyakini absah secara statistik.
Ada tiga kategori butir hasil penelitian ini, yaitu: tesis tentang tekno-ekonomi, sumbangan ilmiah dan sumbangan nyata. Pertama, tesis tentang tekno-ekonomi, yairu: intensitas ristek industri yang rendah di Indonesia disebabkan belum teciptanya umpan balik positif antara komponen teknologi dengan ekonomi dalam model administrasi telmo-ekonomi. Mekanisme umpan balik merupakan interaksi dinamis antara unsur-unsur: ristek industri, kinerja industri, efisiensi industri, somber teknologi, kebijakan dan iklim persaingan. Dua unsur yaitu kebijakan dan iklim persaingan yang belum mendukung, mempengaruhi lemahnya mekanisme umpan balik dalam model tersebut.
Kedua, sumbangan ilmiah yaitu : i) Model Dinamika Administrasi Tekno-Ekonomi, yang telah dapat menerangkan dan meramalkan pola, struktur, perilaku, dan kecendrungan ristek industri dalam jangka panjang, menyumbang kepada ilmu administrasi umumnya, evaluasi kebijakan publik khususnya; ii) Model Efisiensi Dinamis Total memperkaya teori efisiensi dalam lini ekonomi, dan; iii) penerapan Metode sistem Dinamis dalam evaluasi kebijakan telah menambah perbendabaraan metodologi ilmu administrasi di Indonesia.
Ketiga, sumbangan nyata untuk percepatan intensitas ristek industri yaitu kebijakan fungsional dan kebijakan penyesuaian struktur tekno-ekonomi. Kebijakan fungsional yang disarankan adalah: i)kebijakan pemanfaatan sistem nansfotmasi industri yang sudah ada untuk memupuk kemampuan teknologi industri; ii) kebijakan Industn untuk pemupukan basis kemampuan industri melalui pemberian rangsangan investasi modal, tenaga kerja, dan teknologi impor seiring dengan pengurangan proteksi secara bertabap. Kebijakan penyesuaian struktur yang disarankan adalah: i) Kebijakan Kemitraan Ristek untuk peningkatkan skala dan mute kemitraan ristek pemerintah-industri dengan koordinasikan dan pengelolaan oleh konsorsiunt lorganisasi industri, setta pemantapan struktur keterkaitan jenis ristek kemitraan dalam suatu pohon ristek komersial yang berorientasi ristek proses; ii) Kebijakan rancangan ulang kelembagaan ristek di Indonesia merupakan kebijakan terobosan untuk stimulasi intensitas ristek industri dalam jangka panjang.
Implikasi kebijakan adalah pentingnya strategi pembangunan industri berorientasi ke dalam (in-sourcing) melalui inovasi teknologi berbasis ristek untuk pembentukan kompetensi inti (core competence), sebagai pelengkap kelemahan strategi pembangunan berorientasi ke luar (out-sourcing) =fatal impor modal dan telatologi, untuk mengurangi ketergantungan pada pihak asing yang rentan terhadap gejolak ekonomi."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 1998
D34
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jakarta : Badan Riset Kelautan dan Perikanan, 2006
577.694 RIS
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Arif Adi Kusuma
"ABSTRAK
Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar ke-empat di
dunia. Kebutuhan akan jaringan telekomunikasi semakin hari semakin meningkat. Saat
ini, Indonesia sudah menggelar jaringan 3G serta 4G-LTE (Long Term Evolution).
Namun, beberapa kota sudah mengalami congestion dan mempunyai kebutuhan data
telekomunikasi yang sangat tinggi. Kebutuhan data yang meningkat, serta mobilitas
tinggi penggunaannya merupakan sebuah kebutuhan yang perlu diperhitungkan dalam
industri telekomunikasi. Teknologi 5G merupakan suatu keberlanjutan dari
perkembangan teknologi 4G-LTE. Teknologi 5G diperkirakan paling cepat digelar
tahun 2020 oleh Indonesia. Oleh karena itu perlu perencanaan sebaik mugkin baik di
sisi teknis teknologi dan sisi ekonomi, agar tidak hanya kebutuhan data yang terpenuhi,
tetapi juga feasibilitas ekonomi untuk operator.
Penelitian ini membahas dan memperhitungkan kebutuhan data di Indonesia,
dalam hal ini kota besar dengan kebutuhan data yang tinggi, dan juga untuk menghitung
aspek tekno-ekonomi dari penyebaran jaringan 5G di Indonesia dalam rentang tahun
2020 hingga 2025. Pembangunan teknologi telekomunikasi 5G di Indonesia
membutuhkan perencanaan yang cermat untuk memenuhi traffic requirement, juga
untuk mengidentifikasi aspek kelayakan teknis dan kelayakan ekonomi untuk operator
telekomunikasi. Kota Jakarta dipilih sebagai kota utama di Indonesia dengan berbagai
pertimbangan, antara lain : pusat perekonomian, ibu kota negara saat ini, serta kota yang
menjadi role model dalam penerapan teknologi baru.
Dari hasil penelitian diperoleh kebutuhan gNodeB berdasarkan forecast demand
trafik sebesar 221 MaBS atau 237 metro gNodeb, sementara untuk mencukupi coverage
minimal memerlukan sebanyak 715 gNodeB. Total CAPEX yang dibutuhakan di awal
sebesar Rp.114.662.694.517. Kebutuhan OPEX sebesar Rp.228.618.905.616 (untuk
pemodelan tahun 2020-2026) dengan NPV (Net Present Value) sebesar Rp.
30.118.427.755.076,-. serta IRR (Internal Rate of Return) sebesar 33,07.

ABSTRACT
Indonesia is the fourth most populous country in the world. The need for
telecommunications networks is increasing significantly. At present, Indonesia has
deployed 3G and 4G-LTE (Long Term Evolution) networks. However, some cities have
experienced congestion and have very high telecommunications data requirements.
Increased data requirements and the mobility of their use are needs that need to be taken
into counting in the telecommunications industry. The 5G technology is a continuation
of the development of 4G-LTE technology. The 5G technology is estimated to be held
most quickly in 2020 by Indonesia. Therefore it is necessary to plan as well as possible
both on the technical and economic sides, so that not only data needs are met, but also
economic feasibility for operators.
This research discusses and calculates data needs in Indonesia, especially in big
cities with large data requirements, and also to calculate the techno-economic aspects of
the spread of 5G networks in Indonesia range from 2020 to 2025. Development of 5G
telecommunications technology in Indonesia requires careful planning to meet traffic
requirements, also to identify aspects of technical feasibility and economic viability for
telecommunications operators. Jakarta was chosen as the main city in Indonesia for
many reasons, such as : economic center, the national capital, and cities that are role
models in the application of new technology..
From the results of the study obtained results : Jakarta needs gNodeB which
based on traffic demand forecast : 221 MaBS or 237 Metro gNodeb, while to meet the
minimum coverage requires need amount 715 of gNodeB. The total CAPEX needed at
the beginning was Rp.114,662,694,517. Also needs OPEX amount Rp.228,618,905,616
(for modeling in 2020-2026) with NPV (Net Present Value) Rp. 30.118.427.755.076,-.
and IRR (Internal Rate of Return) of 33.07.
"
[, ]: 2019
T55219
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Malik Ibrochim
"Telah dilakukan analisis tekno-ekonomi desain konfigurasi ladang angin (wind farm) dan perhitungan feed in tariff (FiT) di Indonesia dengan metoda simulasi menggunakan software WAsP. Pada penelitian ini, data iklim angin yang digunakan adalah hasil pengamatan langsung selama 1 tahun yaitu dari 2006 sampai 2007 pada ketinggian 50 meter. Penentuan luas wind farm berdasarkan penilaian potensi energi angin skala mikro berupa peta potensi energi angin. Analisis teknis dilakukan terhadap 15 turbin angin kapasitas 500 kW, 600 kW dan 750 kW dengan spesifikasi berbeda yang memiliki nilai CF 20%-40%. Konfigurasi wind farm dikombinasikan berdasarkan jarak spasi antar turbin angin vertikal 3D×5D dan horisontal 4D×9D.
Analisis ekonomis dilakukan terhadap perhitungan biaya dan finansial menggunakan 2 metoda discount rate berbeda termasuk perhitungan Feed in Tariff (FiT) dan desain FiT untuk energi angin sesuai potensinya di beberapa lokasi berbeda di Indonesia. Konfigurasi wind farm yang terbaik adalah 4D×9D menggunakan turbin angin kapasitas 750 kW sejumlah 92 unit dengan nilai CF 26% dan harga jual energi listrik dengan menggunakan 2 metoda discount rate yaitu masing-masing sebesar 0,19998 $/kWh dan 0,14550 $/kWh.
Metoda perhitungan biaya dan finansial menggunakan metoda AWCCreal sebagai discount rate menghasilkan harga jual yang lebih murah namun metoda AWCCnominal menawarkan waktu kembali modal yang lebih cepat. Berdasarkan asumsi-asumsi yang digunakan, nilai FiT untuk wind farm adalah berkisar antara 0,08967 $/kWh - 0,09293 $/kWh (AWCCnominal) dan 0,04968 $/kWh - 0,05148 $/kWh (AWCCreal). Sedangkan nilai FiT untuk PLTB di Indonesia berkisar antara 0,045 $/kWh - 0,430 $/kWh dengan nilai CF berkisar antara 10,64% - 37,9% untuk range kapasitas 500 kW hingga diatas 2 MW.

Techno-economic analysis of wind farm configuration design and Feed in Tariff (FiT) calculation in Indonesia using WAsP simulation software has done. The wind data that being used is observed during 2006 to 2007 at 50 meters height. Wind farm area is determined based on wind resources assessment in the form of wind potential map. The technical analysis performed on 15 units wind turbine capacity of 500 kW, 600 kW and 750 kW with different specifications that have a CF value of 20% - 40%. Wind farm configuration is combined based on 3D ×5D for vertical axis and 4D ×9D for horizontal axis.
The economic analysis is also conducted on the calculation of costs and financial using 2 different discount rate methods including feed in tariff calculation and the design of FiT for wind energy according to the potential of wind energy in several different locations in Indonesia. The best wind farm configuration is 4D ×9D using 92 units wind turbine with 750 kW capacities that has 26% CF value and the sales energy prices using 2 discount rate methods are 0.19998 $/kWh and 0.14550 $/kWh.
The method of cost and financial wind farm calculation are using AWCCreal as discount rate results the cheapest selling price but AWCCnominal method offering a faster payback period. Based on the assumptions those used to FiT calculation, the values obtained for the wind farm is in the range between 0.08967 $/kWh ? 0.09293 $/kWh (AWCCnominal) and 0.04968 $/kWh ? 0.05148 $/kWh (AWCCreal). While the FiT value wind turbine (wind power plant) in Indonesia is in the range between $ 0.045 / kWh - $ 0.430 / kWh with CF values ranged between 10.64% - 37.9% for the range of capacity 500 kW to above of 2 MW.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
T30377
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Harris Prabowo
"Program CO2 EOR adalah upaya meningkatkan produksi minyak dari lapangan tua, menahan laju produksi turun dan untuk penurunan emisi karbon di Indonesia yang cenderung menuju tekanan dan temperatur tinggi dan membawa pengotor yang relatif tinggi (CO2, H2S, ion klorida) pemicu korosi dini pada flowline dan tubing.
Berdasarkan hasil preliminary assessment, material Austenitik 28Cr dan super duplex 25Cr diusulkan untuk menjadi kandidat material potensial untuk kondisi seperti itu. Uji C-Ring dilakukan untuk mengetahui perilaku korosinya (SSC) dan kerentanan retak tegangan sulfida. Tes C-Ring dilakukan kondisi 2,55% H2S (31,48 psia) dan 50% CO2 (617,25 psia).
Terlepas dari resistansi SSC yang baik untuk kedua material, resistansi pitting yang berbeda terlihat pada kedua material. Super duplex 25Cr rentan terhadap korosi pitting dan bentuk pitting cenderung lebih besar tetapi lebih dangkal dari austenitik 28Cr. Material austenitik 28Cr memiliki kerapatan pitting yang lebih kecil, tetapi lebih dalam dan terisolasi. Tidak ditemukan perambatan retak yang berasal dari pitting pada kedua material tersebut.
Hasil analisa keekonomian material Superduplex 25Cr dan Austenitik 28Cr masing-masing positip untuk NPV, ROR = 9,98% dan 8,54%. POT = 25Cr (6,47 tahun) dan 28Cr (7,48 tahun). PIR = 25Cr (1,9127) dan 28Cr (1,7206).

CO2 EOR program is an effort to increase oil production from mature fields, to keep the decreasing production rate and to reduce CO2 emissions in Indonesia which tend to lead to high pressures & temperatures and carry impurities (CO2, H2S, chloride ions) that prompt early corrosion occurrence of flowline and tubing.
Based on the preliminary assessment results, austenitic 28Cr & super duplex 25Cr are proposed to be option materials for such conditions. The C-Ring test was conducted to determine its corrosion behavior (SSC) and susceptibility to SSC. The C-Ring test was carried out under conditions of 2.55% H2S (31.48 psia) & 50% CO2 (617.25 psia).
Apart from good SSC resistance for both materials, different pitting resistance is seen in both materials. Super duplex 25Cr is prone to pitting corrosion and pitting forms tend to be larger but shallower than austenitic 28Cr. The austenitic 28Cr has a lower pitting density but is deeper and insulated. No crack propagation was found from pitting in the two materials.
The economic analysis of Superduplex 25Cr and Austenitic 28Cr are positive for NPV, ROR = 9.98% & 8.54%, respectively. POT = 25Cr (6.47 years) & 28Cr (7.48 years). PIR = 25Cr (1.9127) & 28Cr (1.7206)CO2 EOR program is an effort to increase oil production from mature fields, to keep the decreasing production rate and to reduce CO2 emissions in Indonesia which tend to lead to high pressures & temperatures and carry impurities (CO2, H2S, chloride ions) that prompt early corrosion occurrence of flowline and tubing.
Based on the preliminary assessment results, austenitic 28Cr & super duplex 25Cr are proposed to be option materials for such conditions. The C-Ring test was conducted to determine its corrosion behavior (SSC) and susceptibility to SSC. The C-Ring test was carried out under conditions of 2.55% H2S (31.48 psia) & 50% CO2 (617.25 psia).
Apart from good SSC resistance for both materials, different pitting resistance is seen in both materials. Super duplex 25Cr is prone to pitting corrosion and pitting forms tend to be larger but shallower than austenitic 28Cr. The austenitic 28Cr has a lower pitting density but is deeper and insulated. No crack propagation was found from pitting in the two materials.
The economic analysis of Superduplex 25Cr and Austenitic 28Cr are positive for NPV, ROR = 9.98% & 8.54%, respectively. POT = 25Cr (6.47 years) & 28Cr (7.48 years). PIR = 25Cr (1.9127) & 28Cr (1.7206)
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2021
D-pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fiqi Giffari
"Adsorbed natural gas ANG adalah teknologi penyimpanan gas bumi yang, berpotensi untuk menjadi teknologi pengangkutan darat dengan skala kecil dan menengah. Oleh karenanya dilakukanlah penelitian ini untuk mengetahui kelayakan teknologi ANG dalam memanfaatkan gas suar bakar yang pada umumnya memiliki volume kecil dan menengah ke sektor pengguna di sekitar sumber gas suar bakar. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah simulasi pemodelan proses, simulasi pemodelan keekonomian dan optimalisasi kelayakan proyek dengan variabel yang dioptimalisasi antara lain : harga jual ANG, harga gas suar bakar, dan presentase pembiayaan biaya capital oleh pemerintah. Hasil simulasi proses menghasilkan produk ANG dengan rentang 0,32 ndash; 2,97 mmscfd. Sedangkan hasil simulasi kekeonomian menghasilkan interest rate of return IRR dibawah 10 . Namun dengan optimalisasi kelayakan dapat dihasilkan IRR hingga diatas 20.

Adsorbed natural gas ANG is a natural gas storage technology, which potential to be small and medium natural gas transportation technology. Therefore, this study was undertaken to determine the feasibility of ANG technology in the use of gas flaring which generally has a small and medium volume to consument around the source of gas flaring. The method used in this research is the process simulation modeling, economic simulation modeling and optimization of project feasibility with variables include ANG selling price, fuel flare gas price, and percentage of financing of capital cost by the government. The result of process simulation yield ANG product with range 0,32 2,97 mmscfd. While the economic simulation results generate interest rate of return IRR below 10 . However, by optimizing the feasibility, IRR can generate up to over 20 ."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2017
T48785
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jakarta: Kementrian Negara Riset dan Teknologi, 2010
R 303.483 IND o
Buku Referensi  Universitas Indonesia Library
cover
Yacob Sapan Panggau
"

Infrastruktur akses broadband belum dapat menjangkau 100% wilayah Indonesia. Pembangunan infrastruktur akses,  khususnya fixed broadband belum merata dan belum dapat menjangkau pelosok terpencil sepenuhnya. Pembangunan akses infrastruktur broadband menggunakan teknologi serat optik, teresterial, maupun seluler tidak dapat dilaksanakan karena tidak layak secara bisnis, terlebih untuk kondisi daerah rural dengan kepadatan pelanggan rendah dan lokasi tersebar. Teknologi High throughput satellite (HTS) dan subsidi merupakan solusi bagi negara-negara Uni Eropa dalam menjangkau 100% wilayahnya. High throughput satellite dan subsidi merupakan hal baru dan berisiko bagi Pemerintah Indonesia, Operator, dan Service Provider. Pemerintah Indonesia berinisiatif menyelenggarakan layanan akses satelit menggunakan HTS melalui model Kerjasama Pemerintah Badan Usaha. Bentuk-bentuk Kerjasama Pemerintah Badan Usaha perlu disepakati antara Pemerintah, Operator dan Service Provider. Tesis ini menilai dampak biaya bagi Pemerintah dan kelayakan bisnis dari sudut pandang Operator, Service Provider dan Konsorsium dalam membangun HTS pada orbit plan band (7 Gbps) dan orbit asumsi Ka band (65 Gbps) pada Skenario Availability Payment dan Skenario Forecasting. Dampak biaya dan kelayakan bisnis akan dihitung menggunakan metode tekno ekonomi. Hasil penelitan menunjukkan bahwa dengan pelunasan VSAT selama 5 tahun semua skenario, baik Skenario Availability Payment maupun Skenario Forecasting akan bernilai layak. Skenario yang paling menguntungkan Operator untuk pembayaran pembangunan satelit adalah Skenario Availability Payment Decline. Sementara, skenario yang paling optimal bagi Service Provider dan Pemerintah untuk pembayaran layanan satelit didukung subsidi adalah Skenario Forecasting dengan pelunasan instalasi VSAT maksimal 5 tahun. Biaya yang diperlukan untuk menyelenggarakan jaringan akses satelit setiap tahunnya mencapai Rp 1,65 trilliun - Rp 2,81 trilliun untuk satelit 7 Gbps, dan Rp 4,88 trilliun – Rp 9,59 trilliun untuk satelit 65 Gbps untuk satelit 65 Gbps


Broadband access infrastructure in Indonesia cannot cover 100% of its territory. The development of access infrastructure, especially fixed broadband has not been evenly distributed and able to reach remote areas completely. Development of broadband infrastructure access using fiber optic, terrestrial and cellular technology cannot be implemented because it is not feasible on business basis, especially for rural conditions with low customer density and scattered locations. High throughput satellite (HTS) technology and subsidies are a solution for EU countries to reach 100% of their territory.  The development of High throughput satellite and subsidies are a new thing and risky for the Government of Indonesia, Operator and Service Provider. The Indonesian government took the initiative to organize satellite access services using HTS through Joint Venture Public private patnership. The forms of Joint Venture Public private patnership need to be agreed upon between the Government, Operators and Service Providers. This thesis assesses the impact of costs for the Government and business feasibility from the point of view of Operators, Service Providers and Consortiums in building HTS on plan band orbit (7 Gbps) and orbit assumptions on Ka band (65 Gbps) in  Availability Payment and Forecasting Skenarios. The cost effects and business feasibility will be assessed using techno-economic method. The results of the study show that with the rePayment of VSAT for 5 years, all skenarios, both the Availability Payment and Forecasting Skenarios will be worthy. The most favorable skenario for the operator to get pay for satellite construction is Decline Availability Payment Skenario. Meanwhile, the most optimal skenario for Service Providers and the Government,  to get pay for satellite services supported by subsidies is the Forecasting Skenario with a maximum rePayment of VSAT installation for 5 years. The costs required to conduct satellite access networks each year reach Rp 1.65 trillion - Rp 2.81 trillion for 7 Gbps satellites, and Rp 4.88 trillion - Rp 9.59 trillion for 65 Gbps satellites.

"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2019
T51901
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Said Zainal Abidin
Jakarta: Suara Bebas, 2006
350 Abi d
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Widodo Wahyu Purwanto
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1999
LP-pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>