Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 8666 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Julius Valentinus H. Anggawan
"En tant que principal fabricant et transformateur de papier appartenant au groupe SINAR MAS, Asia Pulp and Paper (Groupe APP) developpe une presence mondiale par ses 31 filiales dans 22 pays aux USA, Moyen Orient, Asie, et particulierement en Europe (France, Angleterre, Belgique, Danemark, Italie, et Espagne), en distribuant tous les produits fabriques sur les principaux sites de production (Indonesie, Chine, Inde, Malaisie, et Singapour).
APP France, filiale a 100 % du groupe indonesien APP, est importateur exclusif et distributeur des papiers, cartons et produits transformes fabriques par le groupe APP, don't les papiers impression ecriture et les specialties dans les usines de Pindo Deli, Tjiwi Kimia, Perawang et Tangerang; le carton SINARBOARD et SINARPACK fabriques dans I'usine de Serang (Indah Kiat), et la papeterie scolaire et les fournitures de bureau, dans I'usine a Mojokerto, I'Est de Java en Indonesie.
Les Produits Francais de Papeterie sont une nouveaute pour le groupe APP, les gammes ne sont pas encore toutes developpees. Cependant les parts de marche sont tres importantes et les gammes de haute qualite ce qui permettra d'elever la papeterie du groupe APP a haut niveau international, meme s'il y a les concurrents existent depuis des decennies.
En face des concurrences mondiales et locales de chaque pays, il est necessaire de developper des gammes de nouveaux produits, basees sur la connaissance du marche, en respectant toujours la perception de la valeur par le client ou le consommateur, et dans le meme temps en comparant la qualite des produits APP aux produits de nos confreres.
Done, pour obtenir les informations afin de developper les produits papeteries sur le marche francais, il faut subdiviser I'analyse en trois parties, MARKET ANALYSIS ou etude du marche papeterie qui consiste Market Demand Analysis, Strategic Market Definition for Stationery Market in France, et Segmentation Process pour bien connattre tous le segment en plus detaille; CONSUMER PERCEIVED VALUES ANALYSIS ou I'analyse de la perception de la valeur par le client ou le consommateur et I'analyse par les distributeur en tant que mediateur entre la fournisseur et le consommateur, et PRODUCT BENCHMARKING, qui est une evaluation identique des valeurs, qualite-produit, caracteristique techniques et analyse des benefice consommateur de produit APP par rapport a la concurrence."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2000
T503
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hawkins, Del I.
Boston : 2004
658HAWC002
Multimedia  Universitas Indonesia Library
cover
Hawkins, Del I.
Boston: McGaw-Hill, 2010
658HAWC004
Multimedia  Universitas Indonesia Library
cover
Hawkins, Del I.
Boston: McGaw-Hill, 2010
658HAWC003
Multimedia  Universitas Indonesia Library
cover
Hawkins, Del I.
New York: McGraw-Hill, 2014
658.834 2 HAW c
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Hawkins, Del I.
"Covers consumer behavior including the psychological, social, and managerial implications. This work features examples that are tied into global and technology consumer behavior issues and trends, a foundation in marketing strategy, integrated coverage of ethical/social issues, and outlines the consumer decision process."
Boston: McGraw-Hill , 2010
658HAWC001
Multimedia  Universitas Indonesia Library
cover
Beti Hapsarie
"Industri fashion memiliki berbagai dampak negatif pada keadaan lingkungan, dan ketimpangan sosial, dan ekonomi, terutama terkait model bisnis fast fashion. Karenanya, muncul gerakan fashion berkelanjutan (sustainable fashion) yang berusaha menyediakan solusi bagi permasalahan ini. Penelitian terdahulu menunjukkan 50% konsumen tertarik dengan produk fashion berkelanjutan, namun pangsa pasar akhir hanya berjumlah 1%. Sehingga, fashion berkelanjutan masih dilihat sebagai ceruk pasar (niche market). Penelitian ini bertujuan untuk menggali persepsi dari kelompok konsumen ceruk pasar akan fashion berkelanjutan, serta pengemasan informasi fashion berkelanjutan yang disajikan kepada kelompok konsumen dalam membentuk persepsi tersebut. Riset ini menggunakan adaptasi model persepsi konsumen Wells & Prensky (1996), dengan melibatkan konsep persepsi, stimuli, dan kelompok referensi. Beranjak dari paradigma konstruktivisme, penelitian ini mengumpulkan data menggunakan metode wawancara mendalam terhadap 5 orang perempuan yang secara sadar telah mengkonsumsi produk fashion berkelanjutan dan atau mempraktikkan pola konsumsi yang sesuai kaidah fashion berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumen melihat fashion berkelanjutan sebagai lebih dari sebuah produk yang bisa dibeli, melainkan sebuah praktik sebagai bagian dari gaya hidup. Pemahaman dan praktik fashion berkelanjutan yang mengakar perlu dimiliki oleh konsumen dan publik untuk menghindari persepsi fashion berkelanjutan hanya sekedar tren. Jika tidak, akan berlawanan dengan filosofi ‘berkelanjutan’ itu sendiri.

The fashion industry has various negative impacts on environmental conditions, and social and economic inequality, especially related to the fast fashion business model. Because of this, Sustainable Fashion movement has emerged to provide a solution to this problem. Previous research shows that 50% of consumers are interested in sustainable fashion products, but the final market share is only 1%. Thus, Sustainable Fashion is still seen as niche market. This study aims to explore the perceptions of niche market consumer groups for Sustainable Fashion, as well as the packaging of Sustainable Fashion information presented in shaping these perceptions. This research uses an adaptation of Wells & Prensky's (1996) consumer perception model, involving the concepts of perception, stimuli, and reference groups. Using the constructivism paradigm, this study collects data using in-depth interviews with 5 women who have consciously consumed sustainable fashion products and or practiced consumption patterns according to sustainable fashion philosophy. The results show that consumers see sustainable fashion as more than products to be bought, but a practice as part of their lifestyle. A deep-rooted understanding and practice of sustainable fashion needs to be shared by consumers and the public. Otherwise, it would be against the philosophy of 'sustainability' itself."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia , 2021
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hawkins, Del I.
Boston: McGraw-Hill, 2004
658.834 2 HAW c
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Hawkins, Del I.
New York: McGraw-Hill, Irwin, 2001
658.834 2 HAW c
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Nellia Putri
"Pada pertengahan tahun 1997 perekonomian indonesia mengalami krisis yang terparah sepanjang sejarah Orde Baru. Hal ini diawali dengan penurunan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS hingga 80 persen dan peningkatan suku bunga deposito dan sekitar 15 persen menjadi 30 persen, serta inflasi yang melonjak hingga dua digit. Hampir seluruh perusahaan Indonesia tidak mampu membayar kewajibannya. Secara teknis perusahaan-perusahaan tersebut dapat dinyatakan bangkrut. Kondisi ini menimbulkan efek penurunan harga-harga saham perusahaan yang terdaftar- di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Indeks pasar yang ditunjukkan oleh Indeks Harga Saham Gabungan ([HSG) merosot tajam dan nilai 726 (akhir Juil 1997) menjadi hanya 260 pada bulan September 1998. Hal ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan terjadi perubahan harga saham pada waktu berubahnya indikator-indikator ekonomi tersebut.
Namun terdapat fenomena menarik yang terjadi selama periode krisis tersebut, dimana ada saham-saham yang mampu bertahan dan hampir tidak terpengaruh oleh kondisi ekonomi makro maupun situasi politik, yang oleh para analis dan investor di pasar modal dikategorikan sebagai defensive stocks. Saham-saham ini biasanya berasal dari emiten yang bergerak di bidang komoditi utama atau yang setiap saat dibutuhkan oleh konsumen dan memiliki pasar yang luas. Beberapa saham yang termasuk dalam kategori tersebut adalah saham perusahaan sektor industri consumer goods, terutama dari sektor indutri makanan-minuman dan rokok.
Fenomena ini menarik untuk dilakukan penelitian guna mengetahui adanya pengaruh faktor-faktor ekonomi makro terhadap kinerja saham saham perusahaan sektor industri consumer goods. Dan bila terdapat pengaruh faktor-faktor ekonomi terhadap kinerja saham saham perusahaan seictor industri consumer goods, seberapa signifikan pengaruhnya terhadap harga saham tersebut.
Untuk menganalisis permasalahan tersebut digunakan pemodelan multifaktor, dimana seluruh data variabel penelitian yang diguriakan berupa data runtun waktu (urne series) dengan skala data bulanan (monthly) dan metode analisis data yang digunakan adalah regresi berganda (OLS). Indeks Harga Saham Gabungan (ll-ISG), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, perubahan suku bunga SBI I buían dan tingkat itifiasi merupakan faktor-faktor yang mewakili faktor ekonomi makro yang sangat bergejolak selama krisis berlangsung dan menjadi variabel bebas (independent variable) dalam persamaan regresi. Sedangkan indeks harga saham perusahaan kategori industri Consumer goods sebagai vanabel terikatnya (dependent varíabk). Indeks saham perusahaan Consumer goods yang digunakan dalam penelitian adalah INDF, MYOR, SUBA, ¡JLTJ (kategori food & beverages); BATI, GGRM dan HMSP (kategori tobacco manufactures); DNKS, KLBF dan TSPC (kategon pharmaceuticals); UNVR (kategori cosmetics & household) dan KDSI (kategori houseware), sefla IHSCG (indeks harga saham sektor consumer goods).
Hasil penelitian menunjukJn bahwa secara umum IHSG berpengaruh sangat signifikan dan positif terhadap seluruh indeks harga saham kecuali pada indeks ?larga saham IJLTJ, BATI dan DNKS. Pengaruh negatif nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (kurs) cukup signifikan terhadap indeks harga saham INDF, MYOR, HMSP, DNKS, KLBF, dan TSPC. Sedangkan perubahan suku bunga SBI memberi pengaruh negatif hanya pada indeks harga saham HMSP dan inflasi juga memberi pengaruh negatif hanya pada indeks harga saham MYOR dan BATI.
Langkah berikutnya dalam penelitian adalah dengan mengembangkan model yaig mengikutsertakan faktor autoregressive function (AR) sebagai fi.ingsi residual atau penyimpangan (Ut) dan moving average function (MA) sebagai fiingsi inovasi yang membenkan informasi tentang residual (et) atau kombinasi keduanya yang dikenal sebagai model ARMA yang dapat digunakan untuk meramalkan indeks saham ke depan dengan lebih baik, karena faktor AR dan MA ternyata mampu memberikan informasi tambahan yang menjelaskan terjadinya variabilitas indeks saham consumer goods seperti INDF, SUBA, IJLTJ, DNKS, KLBF, TSPC, UNVR dan KDSI. Kriteria pemodelan yang digunakan adalah sesuai degan kriteria Box-Jenkins, yaitu parsimony, gccdncss offi dan information "
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2003
T5540
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>