Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 80065 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Achmad Nurmadi
Yogyakarta: Sinergi , 2006
320.854 ACH m
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Yaya Supriadi
Jakarta: Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 1998
TA3613
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Marlianis
"Penelitian ini bertujuan untuk melihat kebutuhan dan permintaan rumah di daerah perkotaan di Indonesia. Untuk kebutuhan rumah dihitung berdasarkan faktor demografi, tingkat penggantian dan tingkat kekurangan dari rumah. Sedangkan permintaan terhadap rumah dilihat faktor-faktor apa yang mempengaruhi sehingga dapat diketahui permintaan efektif dari masyarakat akan rumah. Variabel yang dianggap mempengaruhi permintaan rumah adalah total pengeluaran, harga relatif dari rumah dan rata-rata ukuran rumah tangga. Variabel tersebut dirangkum dalam satu model untuk melihat signifikansi variabel tersebut dengan pengeluaran untuk rumah sebagai variabel terikat dan meregresikannya dengan menggunakan metode Ordinary Least Square ( OLS ). Pertumbuhan penduduk daerah perkotaan dipengaruhi oleh pertambahan penduduk alamiah, migrasi netto penduduk dan reklasifikasi desa menjadi kota. Unsur ini mempengaruhi kebutuhan rumah berdasarkan faktor demografi. Di samping itu juga diperhitungkan kebutuhan untuk mengganti rumah yang tidak memenuhi persyaratan dan kekurangan rumah yang tidak terpenuhi dari tahun sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total pengeluaran masyarakat mempengaruhi pengeluaran untuk rumah yaitu masyarakat akan meningkatkan ; pengeluaran untuk rumah jika total pengeluaran masyarakat meningkat, besarnya peningkatan pengeluaran untuk rumah lebih besar dari kenaikan pengeluaran total masyarakat. Harga relatif dari rumah juga mempengaruhi pengeluaran untuk rumah~ yaitu peningkatan pengeluaran untuk rumah lebih keeil dari peningkatan harga relatif dari rumah. Sedangkan" faktor rata-rata ukuran keluarga ternyata tidak mempengaruhi pengeluaran untuk rumah. Untuk kebutuhan rumah~ jumlah rumah yang dibutuhkan terus menerus meningkat dari tahun ke tahun melebihi yang dapat "disediakan oleh sek tor formal. Pengeluaran total masyarakat ternyata mempunyai peranan yang besar dalam mempengaruhi permintaan rumah, harga relatif juga mempunyai peranan mempengaruhi permintaan rumah. Sedangkan rata-rata ukuran keluarga sama sekali tidak mempengaruhi permintaan rumah."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 1992
S18400
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Saragih, Budiman R.
"Saat ini, masih banyak potensi energi terbarukan (seperti tanaga surya, angin dan biogas) yang belum dimanfaatkan pada bangunan komersil di perkotaan. Mal atau pusat perbelanjaan, sebagai salah satu bangunan komersil memiliki potensi biogas yang cukup besar dan belum dimanfaatkan secara optimal. Dengan jumlah sampah organik yang mencapai rata-rata 2,8 ton perhari dan penggunaan energi listrik sampai bulan Oktober 2009 telah mencapai 1.904 MWh, mal Metropolitan tentu memiliki potensi energi biogas yang layak untuk dianalisis. Potensi limbah organik yang dianalisis dalam tulisan ini adalah limbah organik yang berasal dari sanitasi toilet dan sampah organik yang berasal dari sisa supermarket atau rumah makan yang banyak terdapat di mal tersebut. Dalam tulisan ini, dengan melakukan segmentasi beban maka dapat diperoleh kebutuhan energi termal pertahun sebesar 2.228.599 kWhth dan kebutuhan energi listrik pertahun mencapai 89.628 kWhe. Sementara itu, berdasarkan hasil kuisioner yang dilakukan terhadap pengunjung toilet dan pengukuran potensi sampah organik sisa rumah makan/super market/restoran hotel diperoleh potensi biogas pada mal sebesar 204,658.93 M3/Kg TS pertahun atau yang setara dengan 1.153.253,1 KWh.
Dengan mempertimbangkan tingginya biaya pembelian energi listrik, bahan bakar solar untuk water heater serta biaya pembuangan limbah ke tempat pembuangan akhir sampah maka pemanfaatan limbah organik yang terbuang di mal sangat potensial untuk dikaji dan dianalisis. Kajian ini merupakan studi yang akan menghitung dan menganalisis pemanfaatan energi terbarukan biogas baik dari sisi teknik maupun dari sisi ekonomi. Pembahasanpembahasan aspek teknis seperti kebutuhan energi listrik saat ini, segmentasi beban yang ada, rancangan perangkat biogas digester anaerob, pemilihan teknologi konversi biogas menjadi energi termal dan listrik, serta potensi teknis energi terbarukan yang ada. Pembahasan-pembahasan aspek ekomoni meliputi kelayakan investasi pembangunan pembangkit listrik tenaga biogas di lokasi mal dan manfaat ekonomi keberadaannya untuk mengurangi biaya penyediaan energi listrik dan panas pada mal Metropolitan Bekasi.

Currently, there are many potential renewable energy (such as solar, wind and biogas), which has not been used in commercial buildings in urban areas. Mall or shopping center, as one of the commercial buildings have the large potencial of biogas and have not used optimally. With the number of organic waste which reach the average 2.8 tonnes per day and use of electrical energy to October 2009 has reached 1.904 MWh, the Metropolitan mall has the potential of biogas energy is worth to analyze. The potential of organic wastes that are analyzed in this paper is organic waste from sanitation toilets and organic waste from the rest of the supermarkets or restaurants that are scattered throughout the mall In this paper, by doing load segmentation can be obtained thermal energy needs for 2,228,599 kWhth per year and electrical energy demand reached 89,628 per year kWhe. Meanwhile, based on questionnaire results conducted on the measurement of visitor toilets and the potential organic waste from restaurant / super market / restaurant obtained the potential for biogas in the mall 204.658,93 per year M3/Kg TS or the equivalent of 1.153.253,1 kWh.
By considering the high costs of purchasing electricity, diesel fuel for the water heater and the cost of waste disposal to garbage landfills then the utilization of organic waste at the mall is very potential to be studied and analyzed. This study is a study that will calculate and analyze the utilization of biogas as renewable energy both from the technical and economic side. Discussions on technical aspects such as electrical energy needs at the moment, the existing load segmentation, design of anaerobic digester biogas devices, selection of biogas conversion technology into thermal energy and electricity, as well as the technical potential of renewable energy available. Discussions on economyc aspects including the feasibility of the investment economic of development Biogas power plant in the mall and existence of economic benefits to reduce the cost of providing electricity and heat energy in the mall Metropolitan Bekasi."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2010
T27594
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Saragih, Budiman R.
"Saat ini, masih banyak potensi energi terbarukan (seperti tanaga surya, angin dan biogas) yang belum dimanfaatkan pada bangunan komersil di perkotaan. Mal atau pusat perbelanjaan, sebagai salah satu bangunan komersil memiliki potensi biogas yang cukup besar dan belum dimanfaatkan secara optimal. Dengan jumlah sampah organik yang mencapai rata-rata 2,8 ton perhari dan penggunaan energi listrik sampai bulan Oktober 2009 telah mencapai 1.904 MWh, mal Metropolitan tentu memiliki potensi energi biogas yang layak untuk dianalisis. Potensi limbah organik yang dianalisis dalam tulisan ini adalah limbah organik yang berasal dari sanitasi toilet dan sampah organik yang berasal dari sisa supermarket atau rumah makan yang banyak terdapat di mal tersebut. Dalam tulisan ini, dengan melakukan segmentasi beban maka dapat diperoleh kebutuhan energi termal pertahun sebesar 2.228.599 kWhth dan kebutuhan energi listrik pertahun mencapai 89.628 kWhe. Sementara itu, berdasarkan hasil kuisioner yang dilakukan terhadap pengunjung toilet dan pengukuran potensi sampah organik sisa rumah makan/super market/restoran hotel diperoleh potensi biogas pada mal sebesar 204,658.93 M3/Kg TS pertahun atau yang setara dengan 1.153.253,1 KWh. Dengan mempertimbangkan tingginya biaya pembelian energi listrik, bahan bakar solar untuk water heater serta biaya pembuangan limbah ke tempat pembuangan akhir sampah maka pemanfaatan limbah organik yang terbuang di mal sangat potensial untuk dikaji dan dianalisis. Kajian ini merupakan studi yang akan menghitung dan menganalisis pemanfaatan energi terbarukan biogas baik dari sisi teknik maupun dari sisi ekonomi. Pembahasanpembahasan aspek teknis seperti kebutuhan energi listrik saat ini, segmentasi beban yang ada, rancangan perangkat biogas digester anaerob, pemilihan teknologi konversi biogas menjadi energi termal dan listrik, serta potensi teknis energi terbarukan yang ada. Pembahasan-pembahasan aspek ekomoni meliputi kelayakan investasi pembangunan pembangkit listrik tenaga biogas di lokasi mal dan manfaat ekonomi keberadaannya untuk mengurangi biaya penyediaan energi listrik dan panas pada mal Metropolitan Bekasi.

Currently, there are many potential renewable energy (such as solar, wind and biogas), which has not been used in commercial buildings in urban areas. Mall or shopping center, as one of the commercial buildings have the large potencial of biogas and have not used optimally. With the number of organic waste which reach the average 2.8 tonnes per day and use of electrical energy to October 2009 has reached 1.904 MWh, the Metropolitan mall has the potential of biogas energy is worth to analyze. The potential of organic wastes that are analyzed in this paper is organic waste from sanitation toilets and organic waste from the rest of the supermarkets or restaurants that are scattered throughout the mall. In this paper, by doing load segmentation can be obtained thermal energy needs for 2,228,599 kWhth per year and electrical energy demand reached 89,628 per year kWhe. Meanwhile, based on questionnaire results conducted on the measurement of visitor toilets and the potential organic waste from restaurant / super market / restaurant obtained the potential for biogas in the mall 204.658,93 per year M3/Kg TS or the equivalent of 1.153.253,1 kWh. By considering the high costs of purchasing electricity, diesel fuel for the water heater and the cost of waste disposal to garbage landfills then the utilization of organic waste at the mall is very potential to be studied and analyzed. This study is a study that will calculate and analyze the utilization of biogas as renewable energy both from the technical and economic side. Discussions on technical aspects such as electrical energy needs at the moment, the existing load segmentation, design of anaerobic digester biogas devices, selection of biogas conversion technology into thermal energy and electricity, as well as the technical potential of renewable energy available. Discussions on economic aspects including the feasibility of the investment economic of development Biogas power plant in the mall and existence of economic benefits to reduce the cost of providing electricity and heat energy in the mall Metropolitan Bekasi."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2010
T40898
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Charles Surjadi
Jakarta: FK Atma Jaya, 1985
362.104 2 CHA k
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Nono Hartono
"Pelaksanaan program penyerahan kewenangan pengelolaan irigasi, dari pemerintah kepada P3A, pada awalnya didorong keinginan pemerintah untuk melaksanakan Pembaharuan Kebijakan Pengelolaan Irigasi (PKPI). Kebijakan tersebut dituangkan dalam Intruksi Presiden Nomor 3 tahun 1999 dan PP No 77 Tahun 2001 Tentang Irigasi. Keberhasilan pelaksanaannya sangat tergantung kepada kesiapan P3A untuk mampu dan siap menerima penyerahan kewenangan pengelolaan jaringan irigasi. Tetapi juga sangat dipengaruhi oleh kesiapan pemerintah untuk menyerahkan kewenangan pengelolaan irigasi kepada organisasi P3A.
Pelaksanaan kebijakan ini telah mempengaruhi perubahan sosial masyarakat dalam pengelolaan irigasi. Proses pelaksaaan program PPI telah melalui berbagai tahapan kegiatan, namun hasilnya belum sesuai dengan yang diharapkan, karena dalam pelaksanaannya masih berorientasi kepada target ketimbang proses pelaksanaan. Hal ini memperlihatkan belum adanya perubahan paradigma pembangunan yang menempatkan masyarakat sebagai obyek dan subyek pembangunan.
Berbagai tahapan kegiatan telah dilakukan di tingkat lokasi diawali kegiatan Profil Sosio Ekonomi Teknik dan Kelembagaan (PSETK), kegiatan ini didasarkan bahwa, pembangunan yang dalam setiap kawasan ekologi, membutuhkan solusi khusus berdasarkan data kultural dan data ekologi setempat. Karena itu, pembangunan berwawasan ekologi dilaksanakan berdasarkan kriteria pembangunan yang dihubungkan dengan setiap kasus tertentu, dan penyesuaian diri terhadap lingkungan. Untuk memperkuat organisasi P3A, telah ditugaskan Tenaga Pendamping Petani (TPP) yang direkruit dari kalangan LSM dan perguruan tinggi.
Walaupun bentuk organisasi instansi pemerintah telah mengalami perubahan, baik struktur, tanggung jawab maupun kewenangannya, tetapi belum diimbangi dengan adanya perubahan paradigrna, hal ini ditujukan dengan lemahnya komitmen dalam upaya mendorong penguatan posisi dan peran masyarakat dalam pengelolaan jaringan irigasi. Adanya program PPI menimbulkan rasa ketakutan dari petugas, karena merasa akan kehilangan perannya dalam pengelolaan jaringan irigasi. Kondisi tersebut menimbulkan langkah-langkah kontradiktif dengan upaya penguatan organisasi P3A, padahal komitmen aparat pemerintah sangat berpengaruh terhadap motivasi pengurus P3A dan angggotanya dalam mengembangkan organisasinya.
Sedangkan proses perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat dapat dilihat dari fungsi adaptasi sosial masyarakat dalam bentuk organisasi P3A dan kepengurusan yang mampu untuk mengorganisir sumberdaya yang ada dalam daerah itu, seperti pembiayaan operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi. Fungsi integrasi, mengatur pola hubungan antara unit organisasi P3A, gabungan P3A, sehingga dapat membangun solidaritas untuk mencapai tujuan bersama. Pemeliharaan pola yang tersembunyi, dalam bentuk pemeliharaan sistem, yaitu melakukan sosialisasi tentang pengurus dan aturan main organisasi (AD/ART) untuk mendorong pengurus dan anggota P3A mau melaksanakan fungsi dan tugasnya.
Atas dasar perubahan yang terjadi, secara prinsip Organisasi P3A siap menerima penyerahan pengelolaan jaringan irigasi dari pemerintah, kesiapan tersebut ditunjukan dengan upaya-upaya yang dilakukan oleh petani seperti; perubahan struktur organisasi P3A yang sesuai dengan tuntutan perubahan dan kebutuhan pelayanan kepada anggotanya. Bentuk struktur organisasi P3A di daerah irigasi Cihea terdiri dari; unit P3A, Gabungan P3A dan Induk P3A, sedangkan di daerah irigasi Susukan Gede hanya unit P3A dan gabungan P3A. Kesiapan lain yaitu, organisasi P3A legalitas formal telah diakui, karena di kedua daerai irigasi organisasi P3Anya telah mempunyai AD/ART P3A yang telah disahkan oleh Bupati. Perbedaan bentuk struktur tersebut sangat dipengaruhi oleh kondisi fisik jaringan irigasi.
Kemampuan teknis operasi dan perneliharaan jaringan irigasi oleh P3A, telah mampu dilakukan terutama untuk kegiatan pembabatan rumput, pengangkatan sedimentasi dan penutupan saluran bor. Sedangkan untuk pengaturan air baik di Cihea maupun di Susukan Gede telah mempunyai jadwal pergiliran air sesuai hasil musyawarah. Tetapi untuk pengooperasian pintu bendung di kedua lokasi ini sementara ini masih tetap dilakukan oleh petugas pemerintah, karena apabila salah operasi akan sangat beresiko. Sedangkan sumber pembiayaan untuk pengelolaan irigasi berasal dari iuran anggota, sebesar 50 kg/ha/ musim. Tetapi hasilnya belum mampu untuk membiayai pelaksanaan operasi dan pengelolaan jaringan irigasi. Untuk itu, sumber pembiayaan dari pemerintah menjadi sangat penting untuk tetap menjaga keberlanjutan fungsi jaringan irigasi.
Untuk memperkuat pelaksanaan implementasi PPI, dalam pelaksanaannya dibentuk kelompok kerja irigasi. Unsur keanggotaanya masih didominasi oleh aparat birokrasi pemerintah yang mewakili berbagai dinas instansi pada tingkat kabupaten dan kecamatan. Sementara unsur diluar pemerintah hanya diwakili oleh beberapa orang pengurus P3A dari kedua daerah irigasi. Keberadaannya didasarkan bahwa, pengelolaan irigasi bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja, tetapi juga perlu melibatkan stakeholders lain yang punya kepedulian terhadap nasib petani, karena irigasi tidak hanya dilihat dari perspektif telmis saja, melainkan juga perlu dilihat dari perspektif sosial."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2004
T14423
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Nowadays flood is a serius prolem in Jakarta, and this is caused by the uncontrolled urbanisation and bad watershed management in the upper stream. During the 207 floodingm Kampung Melayu, Jatinegara district, Esat Jakarta is one of areas that suffered from big losses...."
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Freude TPH
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2003
T39642
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1985
309.2 PEN
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>