Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 933 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sianturi, Grace Nami
"Helicobacter pylori (Hp) infection is the most common chronic bacterial infection in human. The role of Hp infection in various GI disorders had been widely accepted. However, further studies have found new extragastrointestinal involvement such as urticaria. Chronic urticaria is a common disorder that has complex pathophysiologic mechanism. As mater of fact, etiology remains unclear in most of the cases. This condition is called Idiopathic Chronic Urticaria. Several studies had shown high prevalence of Hp infection in patients with ICU and improved symptoms after eradication therapy of Hp. This observation had suggested that Hp has important role as etiologic factor in some cases of ICU. The presence of Hp infection and its role in ICU should be proven before initiating eradication therapy, so that irrational used of drugs and antibiotics resistance can be prevented."
The Indonesia Journal of Gastroenterology Hepatology and Digestive Endoscopy, 2005
IJGH-6-2-August2005-48
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Ridha Rosandi
"[Latar belakang : Terdapat beberapa studi yang menunjukkan keterlibatan jalur pembekuan darah dalam patogenesis urtikaria kronis. D-dimer yang merupakan produk akhir jalur pembekuan darah secara tidak langsung dapat digunakan untuk menilai trombin di darah. Trombin dapat menimbulkan edema karena dapat meningkatkan permeabilitas kapiler, dapat menstimulasi degranulasi sel mast, dan mengaktifkan komplemen C5a. Tujuan : Mengetahui rerata kadar D-dimer pada pasien urtikaria kronis serta korelasi antara kadar D-dimer dengan derajat keparahan penyakit dan lama sakit pasien urtikaria kronis. Metode : penelitian ini merupakan penelitian potong lintang, dengan subyek penelitian sebanyak 30 pasien. Dilakukan penilaian Urticaria Activity Score dan lama sakit serta pemeriksaan kadar D-dimer. Hasil: Nilai tengah kadar D-dimer pada 30 SP adalah 100 μg/L. Pada penelitian ini terdapat 5 SP (16,67%) yang terdapat peningkatan kadar D-dimer. Terdapat korelasi positif kuat antara kadar D-dimer dengan derajat keparahan urtikaria kronis (r = 0,8; p = 0,0000). Terdapat korelasi positif lemah antara kadar D-dimer dengan lama sakit pasien urtikaria kronis (r = 0,05; p = 0,979). Kesimpulan: Terdapat korelasi positif kuat antara kadar D-dimer dengan derajat keparahan urtikaria kronis dan korelasi positif lemah antara kadar D-dimer dengan lama sakit pasien urtikaria kronis., Background : There are some studies that show blood clotting pathways involved in the pathogenesis of chronic urticaria. D - dimer is a blood clotting pathway end products can indirectly be used to assess thrombin in the blood. Thrombin can induce edema because it can increase capillary permeability , can stimulate mast cell degranulation , and activating the complement C5a. Objective : Knowing the average levels of D - dimer in chronic urticaria patients and the correlation between D - dimer levels with severity and disease duration. Methods : This study is a cross sectional study , the study subjects were 30 chronic urticaria patients. Assessment urticaria activity score ,disease duration and D – dimer level on all patients. Results : Median of the D - dimer levels in 30 patients is 100 ug / L. In this study there were 5 patients ( 16.67 % ) with elevated levels of D - dimer. There is a strong positive correlation between D- dimer levels with severity of chronic urticaria ( r = 0.8 ; p = 0.0000 ). There is a weak positive correlation between D - dimer levels with disease duration ( r = 0.05 ; p = 0.979) . Conclusions : There is a strong positive correlation between D - dimer levels with disease severity and weak positive correlation between D - dimer levels with disease duration of chronic urticaria.]"
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
SP-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Sianturi, Grace Nami
"Urtikaria kronik (UK) adalah urtikaria yang berlangsung lebih dari 6 minggu, dengan frekuensi minimal kejadian urtika sebanyak dua kali dalam 1 minggu. Urtikaria kronik merupakan penyakit yang umum dijumpai dengan insidens pada populasi umum sebesar 1-3%, serta melibatkan mekanisme patofisiologi yang kompleks. Urtikaria kronik lebih sering ditemukan pada orang dewasa dibandingkan dengan anak-anak dan wanita dua kali lebih sering terkena daripada pria. Laporan morbiditas divisi Alergi-Imunologi Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin (IKKK) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI)-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta antara Januari 2001 hingga Desember 2005 menunjukkan jumlah pasien UK sebesar 26,6% dari total 4453 orang pasien baru.
Meski telah dilakukan pemeriksaan klinis maupun berbagai pemeriksaan penunjang, etiologi tidak ditemukan pada 80-90% pasien UK dan digolongkan sebagai urtikaria kronik idiopatik (UKI). Urtikaria kronik idiopatik seringkali menimbulkan masalah bagi dokter maupun pasien. Pada penelitian lebih lanjut ditemukan autoantibodi pelepas histamin pada 30-50% kasus UKI, sehingga digolongkan sebagai urtikaria autoimun (UA). Autoantibodi pada UA dapat dideteksi dengan beberapa pemeriksaan, antara lain uji kulit serum autolog (UKSA) atau disebut pula tes Greaves. Saat ini UKSA dianggap sebagai uji kiinik in vivo terbaik untuk mendeteksi aktivitas pelepasan histamin in vitro pada UA. Angka morbiditas UA di Indonesia belum pernah dilaporkan hingga saat ini. Soebaryo (2002) melaporkan angka kepositivan UKSA sebesar 24,4% pada 127 pasien UK, sedangkan Nizam (2004) memperoleh angka prevalensi kepositivan UKSA sebesar 32,1% pada 81 pasien UK.
Infeksi kuman Helicobacter pylori (Hp) merupakan infeksi bakterial kronik tersering pada manusia, mencapai 50% dari seluruh populasi dunia. Peran infeksi Hp sebagai etiologi kelainan gastrointestinal telah diterima luas. Studi lebih lanjut menemukan keterlibatan infeksi Hp pada berbagai kelainan ekstragastrointestinal, antara lain UKI.
Berbagai penelitian di Iuar negeri memperlihatkan tingginya prevalensi infeksi Hp pada pasien UKI, disertai dengan remisi klinis UKI pasca terapi eradikasi Hp. Pada penelitian-penelitian awal didapatkan angka prevalensi mencapai 80% dan remisi klinis pasta terapi eradikasi Hp terjadi pada 95-100% pasien. Pada penelitian-penelitian selanjutnya ditemukan prevalensi dan frekuensi keterkaitan yang bervariasi. Suatu studi meta-analisis mengenai infeksi Hp pada UKI menyimpulkan bahwa kemungkinan terjadinya resolusi urtika empat kali lebih besar pada pasien yang mendapat terapi eradikasi Hp dibandingkan dengan pasien yang tidak diterapi. Namun demikian, remisi total hanya terjadi pada 1/3 pasien yang mendapat terapi eradikasi. Pengamatan ini mendasari timbulnya pemikiran bahwa Hp berperan penting sebagai etiologi pada sebagian kasus UKI."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006
T21318
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Julia R.D. Nizam
"UKSA metode Sabroe dinyatakan positif bila diameter edema akibat penyuntikan serum lebih besar atau sama dengan 1,5 mm dibandingkan dengan diameter edema akibat penyuntikan satin, dan eritema akibat penyuntikan serum sewama dengan eritema akibat penyuntikan histamin. Dengan menggunakan kriteria tersebut, sensitivitas berkisar 65-71 %, dan spesifisitas mencapai 78-81 %.
RW Soebaryo (2002) dengan menggunakan metode tanpa kontrol positif (histamin), melaporkan angka kepositivan UKSA pada 31 pasien dari 127 pasien UK (24,4%). Penulis akan meneliti prevalensi kepositivan UKSA pada pasien UK dengan menggunakan pemeriksaan UKSA metode Sabroe yang dapat rnemberi hasil sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi, sehingga dapat diperoleh angka morbiditas UA di antara pasien UK secara tepat.
PEMBATASAN DAN PERUMUSAN MASALAH
a. Penyebab UK sebagian besar (50-80 %) tidak diketahui (UKI). Sekitar 50% pasien UKI temyata memiliki etiologi autoimun. Untuk membuktikan etiologi autoimun dapat dilakukan pemeriksaan UKSA metode Sabroe yang memberikan angka sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi untuk mendeteksi autoantibodi dalam serum pasien.
b. Gambaran klinis pasien yang memiliki autoantibodi fungsional cenderung lebih parah dibandingkan dengan pasien tanpa autoantibodi.
PERTANYAAN PENELITIAN
a. Berapakah angka kepositivan UKSA metode Sabroe pada pasien UK di Departemen IKKK RSCM ?
b. Apakah terdapat perbedaan keparahan klinis antara pasien UK dengan UKSA positif dan pasien UK dengan UKSA negatif ?
TUJUAN PENELITIAN
1. Mengetahui prevalensi kepositivan UKSA metode Sabroe pada pasien UK.
2. Menilai dan membandingkan gambaran klinis antara pasien UK dengan UKSA positif dan pasien UK dengan UKSA negatif."
Depok: Universitas Indonesia, 2004
T 21445
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nopriyati
"Diantara peneliti ada perbedaan temuan klinis hasil ASST pada urtikaria kronik idiopatik (UKI). Tanuus dkk (1996) melaporkan tidak ada perbedaan klinis bermakna pada UKI, sedangkan Sabroe dkk (1999) menemukan perbedaan bermakna dalam hal durasi dan gatal pada UKI. Prevalensi urtikaria pada Rumah Sakit Dr. Moh. Hoesin Palembang memperlihatkan peningkatan tetapi tidak ada data mengenai UKI dan derajat gambaran klinis. Tujuan penelitian untuk mencari hubungan antara hasil ASST dengan derajat gambaran klinis UKI dan membandingkan gambaran klinis UKI dengan hasil ASST positif dan ASST negatif. Penelitian ini merupakan studi analitik dengan rancangan cross sectional. Lima puluh empat subjek diikutkan dalam studi setelah diseleksi. Persetujuan etik didapatkan dari Unit Bioetik dan Humaniora FK Unsri. Anamnesis UKI berupa gambaran klinis berupa skor klinis dan data hasil pemeriksaan fisik dikumpulkan dan dianalisis menggunakan piranti lunak SPSS. Korelasi Spiermann digunakan untuk menganalisis hubungan diantara derajat gambaran klinis UKI dengan hasil ASST. Ada hubungan bermakna diantara tingkat keparahan klinis UKI dengan hasil ASST (p=0,00; 0,598). Pasien UKI dengan skor 27 (nilai cut-off) 11 kali lebih sering menderita urtikaria autoimun daripada pasien dengan nilai cut-off dibawah 27 (p=0,00).

There were differences in clinical finding among authors about autologous serum skin test/ASST result in chronic idiopathic urtikaria/CIU. Tanus et al (1996) reported there was no significant differences in clinical features of CIU, whereas Sabroe et al (1999) found significant differences in duration and itch of CIU patients. The prevalence of urticaria in General Hospital Dr. Moh. Hoesin Palembang showed increased tendency but there was no data about CIU and the severity of clinical features. The objectives of this study were to find out the significant correlation between ASST and severity of clinical features of CIU, and compared the difference of clinical features of CIU with and without positive ASST. This study was an observational analytic study, with cross sectional design. Fifty four subjects included in this study after following selection. Ethical approval was obtained from Bioethics and Humanities Unit, Faculty of Medicine Sriwijaya University and Dr. Moh. Hoesin Hospital Palembang. The clinical feature of 54 patients with CIU were evaluated. The data of physical examination and the anamnesis about clinical scores collected and analyzed using SPSS software and Spierman correlation was used to analyze the correlation between clinical severity of CIU and ASST result. Student?s t-test was used to analyze the differences in clinical severity of CIU with and without positive ASST. There was significant correlation between the severity clinical feature of CIU and ASST result (p=0,00 ; R=0,598). Patients with positif ASST results (46,3%) had more duration of illness (0,00), higher pruritus score (0,00), and angiodema score (0,024). The CIU patients with severity clinical score of 27 (cut-off point), 11 times more likely to develop autoimmune urticaria than the patients with cut-off below 27 (p=0,00)"
Palembang: Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, 2008
AJ-Pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Ari Fahrial Syam
"Dyspepsia is one of numerous general complaints, which is commonly encountered by doctors of various disciplines. In daily practice, the complaint is not only limited for gastroenterologists. Knowledge on pathophysiology of dyspepsia have been developing continuously since a scientific investigation has been started in 1980s, which considers Helicobacter pylori as one of key factor in managing dyspepsia, either it is associated with ulcer or non-ulcer. The management of dyspepsia cannot be separated from the management of H. pylori and there is an additional new knowledge associated with definition, pathophysiology, diagnosis and treatment of both dyspepsia and H. pylori infection.
This consensus document on the management of dyspepsia and H. pylori infection in Indonesia has been developed using the evidence-based medicine principles; therefore, it can be used as a reference for doctors in dealing with dyspepsia and H. pylori infection cases in their daily practice. It is expected that with the new consensus, doctors can provide greater service to their patients who have dyspepsia and H. pylori infection.
"
Jakarta: University of Indonesia. Faculty of Medicine, 2017
610 UI-IJIM 49: 3 (2017)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
"Dyspepsia is a common complain in clinical practice. Correlation between helicobacter pylori (H. pylori) and functional dyspepsia had been reported in many studies, but studies that analyzed the severity of dyspepsia and H. pylori were limited and the result were controversial. This study is about to know the correlation between the severity of dyspepsia and H. pylori infection. A retrospective descriptive analysis to patients with dyspepsia at Permata Bunda Hospital, Medan was done in 2010-2014. Simple random sampling was done to get 44 patient with dyspepsia, 22 are H. pylori positive and 22 patients are H. pylori negative. The severity of dyspepsia assessed with porto alegre dyspeptic symptoms questionnaire (PADYQ) scoring instrument. Univariate and bivariate analysis (Chi-square and spearman correlation) were done using SPSS version 22. Epigastric pain is teh most common symptom in dyspepsia patients. There is a correlation between ulcer type dyspepsia and H. pylori infection (p=0.030), while dysmotility type and mixed type were not correlated. The severity of epigastric pain has significant positive correlation with H. pylori (r=0.386;p=0.01), while the severity of other symptoms such as nausea, vomit, and abdominal bloating have negative correlation with H.pylori. Dyspepsia total scoring is significantly lower in H. pylori positive than in H.pylori negative (p=0.033). There is a positive correlation between the severity of nausea, vamit, and abdominal bloating and H.pylori infection, and correlation between lower dyspepsia total scoring and H.pylori pain."
UI-IJGHE 15:1 (2014)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Ari Fahrial Syam
"Data epidemiologi infeksi Helicobacter pylori (H. pylori) terus berubah dalam beberapa dekade terakhir. Indonesia dilaporkan memiliki prevalensi infeksi H. pylori yang rendah dibandingkan dengan negara lain di Asia. Beberapa penelitian di Indonesia melaporkan bahwa sanitasi yang buruk, usia, agama, etnis merupakan faktor risiko untuk infeksi H. pylori. Dibandingkan dengan tes diagnostik lainnya, tes urine merupakan tes yang dapat diandalkan untuk mendeteksi H. pylori di Indonesia karena tes tersebut bersifat non-invasif dengan harga yang cukup terjangkau dan memiliki akurasi yang tinggi. Meskipun banyak penelitian telah dilakukan mengenai prevalensi infeksi H. pylori pada beberapa etnis di Indonesia, peneliti masih memiliki beberapa pertanyaan yang belum terjawab mengenai infeksi H. pylori di Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan untuk membangun pusat penelitian H. pylori yang menyediakan fasilitas untuk kultur, evaluasi resistensi antibiotik, dan memperoleh informasi genotipe yang dapat menjelaskan perbedaan dalam infeksi H. pylori di antara berbagai etnis di Indonesia."
2016
Pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Paulus Simadibrata
"Helicobacter pylori has been known as a cause of chronic gastritis, a predisposition to gastric and duocenal ulcers, and a class I gastric carcinogen. Throughout the world, H. pylori infection is very common, reaching 40% -50% of the population in developed nations and 80% - 90% of the population in developing nations.
Several techniques have been used to detect H. pylori infection, such as the urea breath test, rapid urease test, serological test, as well as biopsies of gastric or duodenal tissues for culture and histopathology. In this review article, we will discuss a relatively new method to detect H. pylori antigen in stools with enzyme immunoassay, and comparisons with other standard techniques. However, the H. pylori stool antigen test is not yet commercially available in Indonesia.
"
2002
IJGH-3-2-August2002-46
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
"Helicobacter pylori (H.pylori) infection is still a big issue in gastroenterology field. Its relationship with gastrointestinal malignancies now is widely known and the extra-gastrointestinal manifestation of this epidemic bring new problems. Although the prevalence is decreasing in develop countries, the resistance rate of some strains to standard therapy needs more attention and new strategies. Recent epidemiology studies revealed that H.pylori infection is a specific population disease. Many trials and meta analyses revealed new evidence and horizons in the management of this infection. This review update and highligted pathophysiology, clinical aspects, and new epidemiology data on H.pylori infection which is published in the last five years"
UI-IJGHE 15:1 (2014)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>