Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 181908 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Abdul Kadir
"Penyakit mata sampai saat ini merupakan masalah kesehatan di Indonesia, terutama yang menyebabkan kebutaan. Hasil survei morbiditas mata dan kebutaan Departemen Kesehatan pada tahun 1982, buta dua mata sebesar 1,2 persen, dan buta satu mata sebesar 2,1 persen. Hasil survei tersebut melaporkan pula bahwa prevalensi gangguan tajam penglihatan sebesar 25,3 persen. hasil peneltian lain oleh Hilman Taim tahun 1989 gangguan tajam penglihatan sebesar 36,6 persen. Hasil survei tersebut diketahui tingginya prevalensi gangguan tajam penglihatan, dimana penyebab kebutaan salah satunya adalah gangguan tajam penglihatan ( refraksi ).
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui huhungan beberapa faktor dengan kejadian miopi di Jawa Tengah. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis data sekunder indera penglihatan dan pendengaran, Departemen Kesehatan tahun 1995. Rancangan penelitian adalah cross-sectional. Pengumpulan data dilakukan wawancara ,angket, dan pemeriksaan mata dengan snellen charts. PengoIahan data mengunakan program statistik SUDAAN ( Survey Data Analysis ), karena teknik Dan penelitian dihasilkan bahwa terjadinya gangguan miopi di Jawa Tengah adalah 5,3 persen ( 153 responder ), dan faktor yang mempunyai hubungan bermakna dengan gangguan Miopi adalah umur dan pekerjaan. Meningkatnya umur ada kecenderungan resiko kejadian gangguan miopi cukup tinggi, sedangkan pekerjaan yang beresiko ada kecenderungan akan mengakibatkan gangguan miopi yang lebih besar dibandingkan dengan pekerjaan yang tidak beresiko.
Kebiasaan membaca walaupun secara statistik hubungannya tidak bermakna, namun ada kecenderungan bahwa perilaku membaca berbaring atau tiduran bertambah umur mempunyai resiko kejadian gangguan miopi. Dan faktor keturunan dan pencahayaan dalam penelitian ini tidak terbukti ada hubungan bermakna dengan kejadian miopi.

The Relationship Between Job, Attitude, Heredity, Lumination, And Age And The Myopia In Central Java In 1996.Eye desease, especially that cause blindness, is still remain as a health problem in Indonesia. The result of an eye morbidity survey and the blindness conducted by the Ministry of Health show that two-eye blindness is 1.2 %, and one-eye blindness is 2.1 %. The surveys report also that refraction is 25.3 %, while similar survey done by Hilman Taim In 1989 shows that refraction is 36,6 %. The survey results also indicate the high of refraction. As we are aware, the refraction is one among other diseases that cause blindness.
The objective of this research is to identify the relationship between some factors and the myopia in Central Java. Research method used In this survey is an analysis of the secondary data on hearing and sight capabilities of the 1995 Ministry of Health data. A cross-sectional research is chosen. Data collection method Is including Interviews, questionnaires, and "eye exercise using snellen charts. SUDAAN (Survey Data Analysis) statistical program is used to process all data
The results of this survey, which involve 153 respondents, recorded that the myopia problem in Central Java is 5.3 %. In one hand, Age and Job are two factors that have significant relationship with the myopia. With the increase of the age, the risk in having myopia is also increase. On the other hand, some risky jobs have higher possibility In causing myopia than unrlsky ones.
Reading habits, even though It is not statistically significant, shows that reading while lying on the bed In' older people have a higher risk of getting myopia. The survey found there is no significant evidence that heredity and lumination have significant relationship with the myopia.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 1996
T3713
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Pritha Maya Savitri
"Latar belakang: Orientasi ruang (spatial orientation) merupakan masalah utama untuk penerbang yang ditentukan dengan menggunakan persepsi penglihatan, vestibuler, dan propioseptif. Miopia merupakan kelainan refraksi yang paling sering terjadi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor risiko yang mempengaruhi timbulnya miopia ringan pada penerbang sipil di Indonesia.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode potong lintang dengan pengambilan sampel secara purposif. Responden mengisi kuesioner sedangkan data tajam penglihatan dan kadar gula darah didapatkan dari rekam medis. Analisis data dengan regresi cox menggunakan Stata 10. Batasan miopia ringan pada penelitian ini adalah subyek yang mengalami penurunan tajam penglihatan dan menggunakan lensa koreksi -0,25 s/d -0,30.
Hasil : Subyek penelitian adalah penerbang pria dengan usia 21-45 tahun yang sedang melaksanakan pemeriksaan kesehatan berkala di Balai Kesehatan Penerbangan Kementerian Perhubungan. Persentase miopia ringan dalam penelitian ini sebesar 36,1%. Faktor risiko dominan terhadap miopia ringan jam terbang [risiko relatif (RRa) = 1,23; 95% interval kepercayaan (CI) = 0,96-1,58; P = 0,108], riwayat orang tua miopia (RRa = 5,29; P = 0,000), gejala kelelahan visual kesulitan fokus (RRa = 1,30; 95% CI = 1,01-1,65; P = 0,039), dan gejala kelelahan visual huruf berkabut (RRa = 1,16 ; 95% CI = 0,89-1,48; P = 0,259).
Kesimpulan: Jam terbang total, riwayat orang tua miopia, adanya gejala kelelahan visual kesulitan fokus dan huruf berkabut merupakan faktor risiko yang berpengaruh terhadap miopia ringan pada penerbang sipil di Indonesia. Diperlukan koordinasi antara spesialis mata, spesialis kedokteran penerbangan dan balai kesehatan penerbangan dalam pencegahan miopia dan pengawasan kesehatan mata bagi penerbang sipil inisial dan reguler.

Background: Spatial orientation is the main problem to pilot that determined by visual, vestibuler and propioseptif. Myopia is more prevalent refraction error in civilian aviator and other populatian. This study aims to identify risk factors that affect the incidence of mild myopia in civilian pilot in Indonesia.
Method: This study using cross-sectional method with purposive sampling. Subjects answered the questionaire. The researcher using the medical record to get data about visual acuity and fasting blood glucose. Cox regression analyses using Stata 10. Mild myopia in this study is defect distant visual acuity with corrected lens power -0.25 s/d -0.30.
Result : Subject of this study are 21-45 years old male civilian aviators which performs scheduled medical check up at Civil Aviatian Medical Centre. Mild myopia percentage in this study is 36.1%. Dominant risk factor for mild myopia is total flight time (RRa 1.23; 95% CI 0.96-1.58; P 0.108), parental myopia (RRa 5.29; P 0,000), visual fatigue; difficulty in focusing (RRa 1.30; 95% CI 1.01-1.65; P 0.039), and visual fatigue foggy letters (RRa 1.16 ; CI 0.89-1.48 P 0,259).
Conclusion: Total flight time, parental myopia, visual fatigue; difficulty in focusing and foggy letters are influenced risk factors for mild myopia in civilian aviator in Indonesia. Suggested to have coordination among ophthalmologist, aviation medicine specialist, airline and Civil Aviation Medical Centre to preventing myopia and eye health surveillance for initial and reguler civilian pilot.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Irma Sari Sugiyanto
"Salah satu populasi yang terbanyak penderita miopia ialah usia remaja. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan miopia pada siswa SMAN I Depok tahun 2009 dengan desain cross sectional. Jumlah responden pada penelitian ini adalah 52 siswa kelas X-XII. Teknik pengambilan responden ialah total populasi yaitu semua siswa miopia tanpa slindris. Sebanyak 28 siswa (53,85%) memiliki derajat miopia ringan sedangkan 24 siswa (46,25%) memiliki miopia berat. Dari penclitian disimpulkan tidak ada hubungan antara pola kebiasaan menggunakan komputer (p=0,448),jenis kelamin (p=0,945) (p=0,57 1 ), dan faktor genetik (p=0,723) dengan prevalensi miopia pada namun ada hubungan antara miopia dengan pola kebiasaan membaca (p=0,023). Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk memotivnsi siswa meminimalisir pajanan terhadap faktor risiko miopia. Saran bagi penelit selunjutnya adalah memperluas area penelitian.

Teenager is one of populution that has high prevalence of myopia. This was descriptive research and used cross sectional design which has a purpose to identify factors that related to rnyopia in SMAN 1 Depok students at 2009. Respondents in this research were 52 students from 1st-3rd grade. Sampling technique which is used in this rcseanch was purposive sampling with population total. twenty eight students (53,85%) have non severe myopia whereas twenty four students (46,25%} have severe myopia. The conclusion from this research, there was no relation between computer using habit pattem (p=0.448), sexes (p=0,945), age (p=0,571), and genetic factors (p=0,723) with but there was at relation between reading hubit pattem with myopia (p=0,023). The result fiom this research can be used to motivate students to minimize activity that has high risk of myopia. Recommend for next researcher research area become wider."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2009
TA5815
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Indah Nurkasih
"Tujuan: Untuk mengetahui prevalensi miopia pada penjahit dan faktor-faktor risiko lain yang mempengaruhinya serta hubungan antara kerja jarak dekat dengan miopia.
Metoda: Desain penelitian adalah cross sectional dengan subyek penelitian terdiri dari 310 penjahit wanita di Departemen Stitching Atletik 11 Pabrik Sepatu `X'. Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan April sampai dengan Mei 2004 dengan pengukuran jarak kerja secara langsung pada subyek, pengukuran iluminasi di tempat kerja dan wawancara dengan kuesioner. Sedangkan status refraksi berdasarkan basil pemeriksaan berkala 1 tahun sebelumnya. Hasil yang diperoleh diolah menggunakan komprrter dengan program SPSS 11.0.
Hasil: Terdapat 39 orang (12,6%) penderita miopia pada penjahit wanita di Departemen .S'titching Atletik 11 Pabrik Sepatu terdiri dari 36 orang (92,3%) miopia ringan dan 3 orang (7,9%) miopia sedang. Dengan regresi logistik ditemukan hubungan yang bermakna antara kerja jarak dekat dengan miopia (OR = 1,206; p = 0,001). Tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara faktor-faktor lain dengan miopia.
Kesimpulan: Ditemukan hubungan yang bermakna secara statistik antara kerja jarak dekat dengan miopia pada penjahit wanita di Departemen Stitching Atletik I I Pabrik Sepatu X.

Purpose: To investigate myopia prevalence among stitchers, and other influential factors and the relationship between neanvork and myopia.
Methods: A cross sectional study was performed among 310 female shoe stitchers in Athletic Shoes Stitching 11 Department of `X' Shoe Factory. Data was collected from April until May 2004, including measurement of work distance and ilumination and interviewing with questionnaire. Whereas subject's refraction status based on the medical check-up record of the one year before. The collected data was processed by SPSS 11.0 computer programme.
Results: There were 39 (12,6%) miopic female shoe stitchers, consisted of 36 (92,3%) mild myopia and 3 (7,9%) moderate myopia. Logistic regression model revealed the significant relationship between nearwork and myopia (OR = 1.206; p - 0,001). No relationship was found between other factors and myopia.
Conclusion: There is statistically significant relationship between neanvork and myopia among female shoe stitchers in Athletic Shoes Stitching 11 Department of X Shoe Factory.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2004
T 13641
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Damanik, Jandra
"Dalam dunia penerbangan, terutama penerbangan jenis helikopter ditemukan adanya awak pesawat yang mengalami gangguan pada penglihatan yakni berupa penurunan ketajaman penglihatan (miopia), yang akan mengganggu penerbangan. Faktor yang berperan untuk terjadi miopia ini, berasal dari dalam ataupun luar lingkup penerbangan.
Metode: Penelitian dilakukan terthadap 172 awak pesawat helikopter (pilot dan juru mesin udara) TNIAU dan TNIAD. Untuk menentukan prevalensi serta mencari faktor yang berperan pada terjadinya miopia reversibel dilakukan pendekatan nested case-control. Penelitian dilakukan dengan cara mempergunakan data dari hasil rekaman medis berkala dari tahun 1972 sampai tahun 1994 dan dari log board masing-masing awak pesawat.
Hasil: Prevalensi miopia pada awak pesawat sebesar 30,2% (2,9% diantaranya adalah miopi reversibel) dari 172 subyek yang diteliti. Analisis statistik terhadap faktor risiko yang diperkirakan berkaitan dengan terjadinya miopia reversibel dari 47 kasus dan 94 kontrol, menunjukkan bahwa terdapat sejumlah faktor yang berpengaruh yaitu: vibrasi helikopter, jabatan awak pesawat dalam penerbangan, dan golongan pangkat. Jika dibandingkan yang terpajan dengan vibrasi lemah, maka awak pesawat helikopter yang mengalami vibrasi kuat mempunyai risiko sebesar 3,75 kali lipat mengalami miop reversibel (95%CI:1,25-12,O3). Jabatan awak pesawat sebagai juru mesin udara dibandingkan dengan penerbang mempunyai risiko mendapat miop reversibel sebesar 3,89 kali lipat (95%CI : 1,50 - 10,21). Golongan pangkat Bintara dibandingkan Perwira mempunyai risiko terkena miop reversibel sebesar 9,78 kali lipat {95% CI : 2,49 - 24,05).
Kesimpulan: Prevalensi miop dikalangan awak pesawat helikopter TNIAU dan TNIAD cukup tinggi {30,2%). Vibrasi helikopter merupakan faktor risiko untuk terjadinya miopia. Disamping itu golongan pangkat Bintara dan Juru mesin udara perlu perhatian yang khusus, supaya risiko untuk mendapat miop reversibel dapat dikurangi."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 1996
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Amalia Y. Lestari Santoso
"Tujuan: Untuk mengetahui prevalensi miopia fisiologis (miopia derajat ringan dan sedang) pada siswa pesantren madrasah tsanawiyah berusia 12-15 tahun serta pola amplitude respon akomodasi dan panjang aksis bola mata pada miopia fisiologis dibandingkan dengan emetropia. Ingin pula diketahui hubungan antara amplitude respon akomodasi dengan panjang aksis bola mata pada miopia fisiologis sebagai dasar pemberian kacamata bifokal untuk menghambat progresivitas miopia.
Metode: Penelitian cross-sectional terhadap 325 siswa dengan melakukan pemeriksaan refraksi subyektif dengan dan tanpa koreksi, refraksi sikloplegik, retinoskopi dinamik metode Nott untuk menilai amplitude respon akomodasi dan biometri A-scan untuk menilai panjang aksis bola mata. Semakin besar amplitude respon akomodasi berupa accommodative lag diduga akan mengakibatkan bertambahnya panjang aksis bola mata.
Hasil: Prevalensi miopia fisiologis didapatkan sebesar 23,4% dengan amplitude respon akomodasi pada miopia lebih rendah dan panjang aksis bola mata lebih panjang daripada emetropia. Tidak terdapat hubungan antara amplitude respon akomodasi dengan panjang aksis bola mata. Faktor sosiodemografi tidak mempengaruhi risiko terjadinya miopia.
Kesimpulan: Tidak terdapatnya hubungan antara amplitude respon akomodasi dengan panjang aksis bola mata kemungkinan disebabkan desain penelitian yang bersifat cross-sectional tidak dapat menilai pertambahan panjang aksis bola mata tanpa dipengaruhi faktor genetik. Kemungkinan lain adalah adanya distribusi subyek yang tidak normal dan terdapat faktor lain yang berperan dalam terjadinya miopia.

Purpose: To study the prevalence of physiologic myopia (mild and moderate) in religious boarding junior high school children in Jakarta with age 12-15 years old and to evaluate the accommodative response amplitude and axial length pattern in physiologic myopia compared with emmetropia. To know the correlation between accommodative response amplitude and axial length in physiologic myopia that could lead to the progressive addition lenses therapy in preventing myopia progression.
Methods: Cross-sectional study in 325 school-age children. Measurement methods included subjective uncorrected and best corrected refraction, cycloplegic refraction, Nott dynamic retinoscopy to measure accommodative response amplitude and A-scan biometry for axial length measurement. Larger accommodative response amplitude which means larger accommodative lag refers to increasing axial length in physiologic myopia.
Results: Of these 325 children, 23.4% were myopic (-0.50 D or more) with larger accommodative response amplitude (larger accommodative lag) and longer axial length in myopia compared to emmetropia, but there was no correlation between accommodative response amplitude and axial length. Socio-demographic factor such as age and class, had no correlation with myopia development.
Conclusions: Larger accommodative response amplitude (accommodative lag) in children with more near work activities than ordinary school children had no correlation with longer axial length. It maybe due to the cross sectional data could not measure the axial length only in one session but must be followed to evaluate the axial growth rate. Possibly there was another factor related to the ocular growth in children cause myopia development.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sony Agung Santoso
"Tujuan :
Untuk mengetahui apakah ada perbedaan hasil pengukuran tekanan intraokular sebelum dan sesudah lindakan laser-assisted in situ keratomileusis (LASIK).
Subyek dan metode :
Penelitian ini merupakan uji klinis analitik dengan desain pre post .study. Penderita yang memenuhi kriteria inklusi dan menjalani bedah LASIK dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok dengan nilai spherical equivalent (SE) < 6 dioptri (D) dan kelompok SE 6 D. Parameter yang dinilai adalah tekanan intraokular (T1O) yang diperiksa dengan alat Tonopen dan ketebalan komea sebelum dan minimal 4 minggu sesudah bedah LASIK.
Hasil :
Hasil pengukuran tekanan intraokular sebelum LASIK pada kelompok SE < 6 D adalah 13.10 ± 2.05 mmHg, dan pada kelompok SE ? 6 D adalah 13,05 } 2,69 rrunHg. Hasil pengukuran tekanan intraokular sesudah LASIK pada kelompok SE < 6 D adalah 11.70 f 1,49 mmHg. dan pada kelompok SE 6 D adalah 10,50 ± 1,00 mmHg. Hasil pengukuran TIO sesudah LASIK lebih rendah dibandingkan sebelum LASIK dan secara statistik bermakna. Selisih basil pengukuran tekanan intraokular sebelum - sesudah LASIK kelompok SE 6 D (2,55 ± 2,32 mmHg) lebih besar dibandingkan kelompok SE < 6 D (1,40 = 1,30 mmHg) dengan p=0,06.
Kesimpulan :
Tindakan bedah refraktif LASIK akan mengurangi ketebalan kornea dan merubah rigiditas kornea sehingga mempengaruhi hasil pengukuran tekanan intraokular.

Purpose :
To evaluate the intraocular pressure (IOP) measurement with Tonopen before and after laser-assisted in situ keratommileusis (LASIK).
Patients and Methods :
In a prospective study of clinic-based population undergoing elective LASIK surgery for myopia correction, lOP measurements were obtained preoperatively and postoperatively with Tonopen. Central corneal thickness was also obtained before and after surgery. Subject were assigned into two groups, spherical equivalent (SE) less than 6 dioptri (D) and 6 D above.
-Results
Four weeks after LASIK, mean IOP in two groups were lower than before surgery (P=0,00), as measured by Tonopen were 11,70 * 1,49 mmHg (SE < D) and 10,50 ± 1,00 mmHg (SE > 6 D). The mean 1OP reduction in SE a 6 D was higher than in SE < 6 D (2,55 ± 2,32 mmHg, 1,40 ± 1,30 mmHg, respectively, p=0.06).
Conclusion :
After LASIK, corneal thickness and corneal rigidity were reduced, causing it to undervalue IOP.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2005
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aldi Ishwara
"ABSTRAK
Latar belakang : miopia merupakan salah satu gangguan refraksi yang bersifat progresif dimana salah satu komplikasi yang dapat ditemukan adalah esotropia yang pada akhirnya dapat menjadi strabismus fixus. Faktor-faktor yang diduga berpotensi menunjukkan progresifitas diantaranya adalah panjang aksial bola mata dan pergeseran otot ekstraokuli dapat dikenali dengan menggunakan modalitas pemeriksaan radiologi yaitu MRI. Dengan mengenali faktor-faktor tersebut secara dini, diharapkan penderita miopia tidak mengalami komplikasi akhir tersebut sehingga dapat ditatalaksana secara dini, sekaligus memperoleh protokol sekuens MRI yang terbaik. Tujuan : Mengetahui korelasi antara besaran nilai dioptri refraksi miopia sedang dan berat dengan peningkatan panjang aksial bola mata serta besar sudut otot rektus superior dan lateral pada pasien miopia di Indonesia. Metode : Pengukuran panjang aksial dan besar sudut antara otot rektus superior dan lateral dilakukan menggunakan modalitas MRI serta perangkat lunak Image-J. Pengukuran dilakukan terhadap penderita miopia derajat sedang (-3 s/d -6 D) dan berat (sferis minus lebih besar dari -6 D) dengan total subjek penelitian sebanyak 92 mata. Hasil : Pada miopia sedang terdapat korelasi yang bermakna antara besaran dioptri terhadap peningkatan panjang aksial bola mata (uji Spearman, dengan p < 0,01), tidak terdapat korelasi signifikan antara besaran dioptri terhadap sudut otot rektus superior dan lateral (p = 0,344), serta tidak terdapat korelasi signifikan antara besaran panjang aksial dan sudut antara otot rektus superior dan lateral (p = 0,063). Pada miopia berat terdapat korelasi yang bermakna antara besaran dioptri terhadap peningkatan panjang aksial bola mata, antara besaran dioptri terhadap sudut otot rektus superior dan lateral, dan antara besaran panjang aksial dan sudut antara otot rektus superior dan lateral (p<0,01). Simpulan : Derajat miopia yang semakin berat memiliki korelasi yang kuat terhadap peningkatan panjang aksial bola mata dan peningkatan besaran sudut antara otot rektus superior dan lateral. Pada kondisi miopia berat, peningkatan panjang aksial yang terjadi berkorelasi kuat terhadap peningkatan besaran sudut otot rektus superior dan lateral sehingga semakin rentan terhadap terjadinya komplikasi esotropia.

ABSTRACT
Background: myopia is a common visual disturbance which can be complicated in a severe state. One of its various complication is esotropia that can progress into strabismus fixus. MRI is one of modality of choice to evaluate myopia's progressivity so that early intervention could be done. Several factors are suspected to be the cause such as eyeball axial length elongation and supero-lateral extraocular muscle shifting. Those factors could be evaluated using MRI with sought optimal sequence protocol as early as possible during progression, so early intervention could be done. Purpose: to determine if there is correlation between moderate and severe myopia with eye's axial length and superior-lateral rectus muscle's angle. Methods : Prospective cross sectional study with analyzing correlation between axial length and superior-lateral rectus muscles's angle measured using MRI and Image-J software. Measurement was done to patients with moderate (-3 to -6 D) and severe myopia (less than -6 D). Results: In moderate myopia, there is significant correlation between myopic dioptri and axial length (Spearman correlation < 0,01), but there is no correlation between axial length and superior-lateral rectus muscle's angle, and myopic dioptri and superior-lateral rectus muscle's angle (p = 0,344 and 0,063). In severe myopia, there is significant correlation between myopic dioptri and axial length, supero-lateral rectus muscle's angle, and between axial length and supero-lateral rectus muscle's angle (p < 0,01). Conclusion: Significant correlation between myopic dioptry with eye's axial length and superior-lateral rectus muscle's angle only occurred in severe myopia. The severe the myopia, the eye become elongated and the angle between superior and lateral rectus muscle become widened and prone to become esotropia.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Adi Prathama
"Latar belakang: Mata merupakan indera yang sangat penting dalam penerbangan. Salah satu fungsi untuk menentukan perkiraan jarak, sehingga diperlukan fungsi kedua mata yang baik. Tujuan penelitian ini adalah diketahuinya identifikasi pengaruh jam terbang total terhadap risiko miopia ringan pada pilot sipil di Indonesia.
Metode: Studi potong lintang dengan purposif sampel pada pilot sipil yang melakukan pemeriksaan kesehatan berkala di Balai Kesehatan Penerbangan dengan rentang waktu 27 April sampai dengan 13 Mei 2015. Definisi miopia ringan jika mata memerlukan koreksi penglihatan jauh dengan lensa < -3 dioptri. Data karakteristik demografi, pekerjaan, kebiasaan diperoleh dari kuesioner. Data tajam penglihatan dan kadar gula darah puasa didapatkan dari rekam medis Balai Kesehatan Penerbangan. Analisis menggunakan regresi Cox dengan waktu konstan.
Hasil: 690 pilot sipil yang melakukan pemeriksaan kesehatan di Balai Kesehatan Penerbangan, 428 subjek bersedia menjadi responden. Subjek terpilih untuk dianalisis berjumlah 413 pilot dan 15 pilot lainnya menderita miopia berat. Dari 413 pilot, 141(34,1%) miopia ringan dan 272 (65,8%) normal. Faktor-faktor yang mempengaruhi miopia ringan adalah ras, status perkawinan dan jam terbang total secara signifikan. Subjek dengan ras selain Asia dibandingkan dengan ras Asia berisiko 2,1 kali lipat lebih besar menderita miopia ringan [risiko relatif suaian (RRa)=2,19; p=0,030]. Dibandingkan dengan subjek tidak menikah, subjek yang menikah berisiko 3,8 kali lipat menderita miopia ringan (RRa=3,80; p=0,000). Selanjutnya, dibandingkan subjek dengan jam terbang total 16-194 jam, subjek dengan jam terbang total 195-30285 jam mempunyai risiko 4,5 kali lipat menderita miopia ringan (RRa=4,56; p=0,000).
Kesimpulan: Subjek yang menikah, ras non Asia dan yang memiliki 195 atau lebih jam terbang total mempunyai risiko lebih tinggi menderita miopia ringan di Indonesia.

Background: Eye is very important organ in aviation?s operation. One of the functions is to estimate distance where both healthy eyes are needed. The purpose of this study was to identify the influence of total flight hours on the risk of mild myopia among civilian pilots in Indonesia.
Methods: Study design was cross-sectional with purposive sampling among pilots those who got medical examinations at Civil Aviation Medical Center on April 27th - May13th, 2015. Mild myopia is condition the eyes need negatif lens corection for distance visual acuity less than -3 diopters. Demographic characteristic, occupational characteristic, ranking characteristics, and habits were obtained from questionnaire. Visual acuity and fasting blood sugar levels data were obtained from medical records in Aviation Medical Board. Data were analysed with Cox regression.
Resulted: 690 civilian Indonesia?s pilots who conducted medical examination, 428 subjects were willing to participate. Total subjects to be analyzed were 413 pilots and 15 pilots were not involved since severe myopia. Amongst of 413 pilots, 141 (34,1%) mild myopia and 272 (65,8%) normal. Factors influencing mild myopia were race, marital status and total flight hours. Non-Asian subject had 2.1-fold risk of mild myopia compared to Asian race subject [adjusted relative risk (RRa)=2.19; p=0.030]. Subjects who were married had 3.8-fold risk of mild myopia compared with subjects who were not married (RRa=3.80; p=0.000). Subjects who had total flight hours 195-30285 hours had 4.5-fold risk to be mild myopia compared with subjects 194 or less total flight hours (RRa=4.56; p=0.000).
Conclusion: Married subject, non-Asian race and those who have 195 or more total flight hours constitute a higher risk of suffering mild myopia.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tsania Rachmah Rahayu
"Koroid memiliki peran dalam mengatur metabolisme fotoreseptor dan epitel pigmen retina (EPR) serta sumber perdarahan ke lapisan luar retina. Pada miopia terjadi elongasi aksial yang berdampak pada penipisan ketebalan koroid dan memengaruhi prognosis visual. Studi ini bertujuan mengetahui hubungan antara ketebalan koroid dengan derajat miopia dan ketebalan fotoreseptor-EPR. Studi ini merupakan studi potong lintang yang dilakukan pada 102 mata. Setiap subjek dikelompokkan menjadi empat kelompok, yaitu emetropia, miopia ringan, sedang, dan berat. Setiap subjek dilakukan pemeriksaan mata menyeluruh dan pemindaian makula menggunakan spectral domain optical coherence tomography (SD-OCT), dengan pengaturan HD-1-Line100x dan enhanced depth imaging (EDI). Gambar pemindaian dinilai secara manual dan dikelompokkan berdasarkan Early Treatment of Diabetic Retinopathy Study (ETDRS) grid. Hasil studi menunjukkan ketebalan koroid terbesar ditemukan di subfovea atau lingkar superior bergantung pada kelompok, dan ketebalan terendah ditemukan pada regio nasal setiap kelompok. Terdapat perbedaan signifikan ketebalan koroid dengan derajat miopia pada setiap kelompok. Korelasi signifikan ketebalan koroid dan ketebalan lapisan fotoreseptor-EPR hanya ditemukan pada lingkar inferior dalam (r=0,34; p<0,001). Penelitian ini menunjukkan ketebalan koroid yang beragam dan signifikan tiap derajat miopia, serta korelasi negatif lemah antara ketebalan koroid dan ketebalan lapisan fotoreseptor-EPR pada di regio inferior.

The choroid is crucial for regulating the metabolism of photoreceptors and the retinal pigment epithelium (RPE) while supplying blood to the outer retinal layer. Myopia, characterized by axial elongation, is linked to choroidal thinning, impacting visual prognosis. This study investigates the relationship between choroidal thickness (CT), different myopia degrees, and photoreceptor-RPE thickness. In a cross-sectional study of 102 eyes, categorized into emmetropia, mild, moderate, and high myopia groups, comprehensive eye exams and macular scans using spectral domain optical coherence tomography (SD-OCT) with HD-1-Line100x settings and enhanced depth imaging (EDI) were conducted. Manual evaluations of scan images based on the Early Treatment of Diabetic Retinopathy Study (ETDRS) grid revealed varied and significant CT across myopia degrees. The thickest CT found either in the subfovea or superior ring depending on the group, and the thinnest consistently in the nasal region for all groups. A significant correlation between choroidal thickness and photoreceptor-RPE layer thickness was noted in the inner inferior circle (r=0.34; p<0.001). In summary, this study unveils varying and significant CT across myopia degrees, emphasizing weak negative correlations between choroidal thickness and photoreceptor-RPE layer thickness, specifically in the inferior region."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>