Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 98485 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Endang Hanani
"ABSTRAK
Solasodin adalah suatu senyawa alkaloid steroid yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar untuk pembuatan beberapa hormone steroid yang banyak digunakan untuk kontrasepsi oral. Solanum acculeatissimum adalah salah satu tanaman jenis Solanum, telah diketahui mengandung solasodin, dan banyak tumbuh di Indonesia.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh zat pengatur tumbuh terhadap kadar solasodin dalam kalus Solanum acculeatissimum yang tumbuh pada media Murashige-Skoog dengan penambahan kinetin, 2,4 diklorofenoksi-asamasetat, indolasamasetat dan bensilaminopurin.
Hasil penelitian menunjukan bahwa kadar solasodin dalam media dengan penambahan campuran kinetin 1 ppm dengan 2,4 diklorofenoksi asamasetat 0,5 , 1,2 ppm adalah 1,45 % indolasamasetat 1 ppm dengan bensilaminopurin 0 , 1 , 10 ppm adalah 1,41 % dihitung terhadap berat kering. Jumlah ini tidak berbeda bermakna dengan kadar solasodin dalam biji tanaman asal jaringan, antara lain berberin, saponin ginseng, antrakinon, diosgenin (3). Kemungkinan lain, dengan metode kultur jaringan ini akan diperoleh senyawa baru yang sebelumnya tidak terdapat dalam tumbuhan induk atau metabolit sekunder yang diperoleh justru lebih kecil atau tidak ada sama sekali (3). Banyak faktor yang mempengaruhi produksi metabolit sekunder melalui kultur jaringan, antara lain cahaya, zat pengatur tumbuh, media suhu dan sebagainya (2).
Dalam penelitian ini hanya diteliti pengaruh zat pengatur tumbuh terhadap produksi metabolit sekunder dalam kultur jaringan Solanum accu1eatissimum. Zat pengatur tumbuh baik macam ataupun jumlahnya juga berpengaruh pada kecepatan tumbuh kalus (3)."
Depok: Lembaga Penelitian Universitas Indonesia, 1993
LP-Pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Fahrayhansyah Muhammad Faqih
"Background: Colon cancer is being the third most-prevalent type of cancer worldwide. Options for treatment and therapy are available including surgery, chemotherapy, radiotherapy, and many other therapies. Even though, the treatment of cancer nowadays is quite challenging due to numerous factors, such as socio-economic, geographic, and side effects. Chery tomatoes potentially can come up to be the alternative treatment of cancer due to its active components and cytotoxicity. This alternative treatment might also prevent the resistance of the main treatment of cancer. From several studies, it is found that the tomatoes have a decent antioxidant activity and cytotoxic capability towards various cancer cells. This study aims to determine the phytochemicals components, antioxidant activity and cytotoxic effect of the cherry tomatoes (Solanum lycopersicum Var. cerasiforme) towards HT-29 colon cancer cells.
Method: Solanum lycopersicum Var. cerasiforme was grinded until it becomes juice. Maceration is done with solvent of petroleum ether, ethyl acetate, and methanol, which results petroleum ether, ethyl acetate, and methanol extract of Solanum lycopersicum Var. cerasiforme, respectively. The three extracts undergo phytochemical screening and thin layer chromatography (TLC) to determine the amount and secondary metabolite of the phytochemical components, followed by measuring antioxidant activity by DPPH assay, and evaluating the cytotoxic activity towards HT-29 colon cancer cells by MTT assay.
Results: Solanum lycopersicum Var. cerasiforme extract contained secondary metabolites of flavonoids, alkaloids, tannins, saponins, and triterpenoids and there was a total of 8 phytochemical components. Among the three extracts, ethyl acetate extract showed a the highest (active) antioxidant activity towards DPPH free radical with IC50 of 47.655 μg/mL and an active cytotoxic evaluation with IC50 of 63.224 μg/mL. Petroleum ether extract has shown the highest cytotoxic value with IC50 of 32.676 μg/mL (active). Meanwhile, methanol is categorized as moderate cytotoxic evaluation with 108.992 μg/mL.
Conclusion: Solanum lycopersicum Var. cerasiforme extract contained phytochemical components that had biological activity of antioxidant toward DPPH free radical and cytotoxic effect towards HT-29 colon cancer cell.

Latar Belakang: Kanker kolorektal merupakan kanker yang paling umum ketiga di seluruh dunia. Pilihan untuk pengobatan yang tersedia termasuk operasi, kemoterapi, radioterapi. Namun, pengobatan kanker saat ini cukup menantang karena beberapa faktor, seperti sosio-ekonomi, geografi, dan efek samping. Tomat ceri berpotensi menjadi alternatif pengobatan kanker karena kandungan komponen aktif dan sitotoksisitas-nya. Dari beberapa penelitian diketahui bahwa tomat memiliki aktivitas antioksidan dan kemampuan sitotoksik yang cukup baik terhadap berbagai sel kanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komponen fitokimia, aktivitas antioksidan dan efek sitotoksik tomat ceri (Solanum lycopersicum Var. cerasiforme) terhadap sel kanker kolorektal HT-29.
Metode: Solanum lycopersicum Var. cerasiforme digiling hingga menjadi jus. Maserasi dilakukan ke dengan petroleum eter, etil asetat, dan metanol, yang menghasilkan ekstrak masing-masing pelarut untuk Solanum lycopersicum Var. cerasiforme masing-masing. Tiga ekstrak menjalani penapisan fitokimia dan kromatografi lapis tipis (KLT) untuk mengetahui jumlah dan metabolit sekunder komponen fitokimia, dilanjutkan dengan pengukuran aktivitas antioksidan dengan uji DPPH, dan evaluasi aktivitas sitotoksik terhadap sel kanker usus besar HT-29 dengan uji MTT.
Hasil: Ekstrak Solanum lycopersicum Var. cerasiforme mengandung metabolit sekunder flavonoid, alkaloid, tannin, saponin dan triterpenoid dengan total 8 komponen fitokimia. Diantara ketiga ekstrak tersebut, ekstrak etil asetat menunjukkan aktivitas antioksidan tertinggi terhadap radikal bebas DPPH dengan IC50 sebesar 47,655 g/mL dan evaluasi sitotoksik aktif dengan IC50 sebesar 63.224 g/mL. Ekstrak petroleum eter menunjukkan nilai sitotoksik tertinggi dengan IC50 sebesar 32,676 g/mL (aktif). Sedangkan metanol sebesar 108,992 g/mL.
Kesimpulan: Ekstrak Solanum lycopersicum Var. cerasiforme mengandung komponen fitokimia yang memiliki aktivitas biologis antioksidan terhadap radikal bebas DPPH dan aktivitas sitotoksik terhadap sel HT-29 kanker usus besar.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Chairunisa Larasati Yusuf
"Tomat (Solanum lycopersicum L.) merupakan suatu bahan pangan yang banyak dikonsumsi serta memiliki kandungan antioksidan yang tinggi yang dapat digunakan sebagai zat aktif dalam sediaan kosmetik untuk kecantikan kulit. Namun, kendala utamanya yaitu ekstrak tomat mudah terdegradasi akibat pengaruh lingkungan. Liposom merupakan sistem pembawa obat yang dapat melindungi zat aktif dari pengaruh lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasi sediaan gel liposom topikal yang mengandung ekstrak etanol buah tomat sebagai antioksidan dengan menggunakan berbagai perbandingan konsentrasi kolesterol dan fosftidilkolin untuk melihat efisiensi penjerapa zat aktif kemudian sediaan diuji kestabilannya selama 4 minggu dalam tiga suhu yang berbeda dan dilakukan cycling test. Penentuan aktivitas antioksidan ekstrak dan sediaan dilakukan dengan metode peredaman DPPH. Hasil IC50 ekstrak etanol buah tonat yaitu 46,965 ppm. Pengecilan ukuran partikel dilakukan dengan sonikasi dan ekstrusi bertingkat. Evaluasi yang dilakukan terhadap liposom yaitu pengukuran distribusi ukuran vesikel menggunakan Particle Size Analyzer, pengamatan morfologi bentuk vesikel menggunakan Scanning Electron Microscope, dan uji efisiensi pejerapan liposom. Hasil pengukuran distribusi ukuran vesikel liposom F1, F2, dan F3 secara berturutturut setelah diekstrusi yaitu 249,50; 225,88; dan 208,20 nm. Hasil SEM menunjukkan bahwa vesikel berbentuk sferis. Uji efisiensi penjerapan zat aktif oleh liposom F1, F2, dan F3 secara berturut-turut yaitu 60,48+0,08; 34,99+0,08; dan 22,33+0,0%. Aktivitas antioksidan dalam gel liposom (28,20%) mengalami penuruan yang lebih rendah dibandingkan dengan blanko positif (47,10%) yang tidak mengandung liposom namun mengandung ekstrak. Uji stabilitas selama 4 minggu dan cycling test menunjukan bahwa gel tidak mengalami perubahan organoleptis dan bersifat stabil.

Tomatoes (Solanum lycopersicum L.) are widely consumed as food; they are rich in antioxidants which can be used in cosmetic preparations for skincare products. However, tomato antioxidants are sensitive to the environment and therefore can easily be degraded. Liposomes are a type of drug delivery system which can protect the degradation of active ingredients from the environment such as from heat and light. This research aims to formulate a liposomal gel preparation which contains ethanolic tomato extracts as an antioxidant by formulating liposomes with different molar ratios of cholesterol and phosphatidylcholine. Antioxidant activities of both extract and gel preparation was done by DPPH radical scavenging method. Liposomes were evaluated for particle size distribution using PSA, morphology using SEM image analysis, and its entrapment efficiency. The liposomal gel was then evaluated for its stability for a period of 4 weeks in three different temperatures as well as cycling test. Ethanol extract of tomato fruit had an antioxidant activity of 46,965 ppm. Liposome F1, F2, and F3 had vesicle sizes of 249.50 nm; 225.88nm; and 208.20 nm. The SEM imgae analysis results showed that the liposome had a spherical shape. Entrapment efficiency results of Liposome F1, F2, and F3 were 60.48+0.08; 34.99+0.08; and 22.33+0.0%. Over the period of 4 weeks, antioxidant activity of the liposomal gel (28.20%) experienced a lower decrease than the positive control gel (47.10%). Stability testing of the liposomal gel showed that the gel was stable and did not show organoleptic changes through a period of 4 weeks."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2014
S55326
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rizky Yuniarti
"Komposisi sampah yang mendominasi di kampus Universitas Indonesia yaitu sampah organik. Salah satu cara yang ramah lingkungan untuk mengurangi sampah organik yaitu dengan cara mengolah sampah organik menjadi kompos yang ada di Unit Pengolahan Sampah UI. Manfaat kompos dapat meningkatkan kesuburan tanah dan nutrisi pada media tanam. Penelitian menggunakan tanaman terung hijau varietas Kenari yaitu tanaman terung yang banyak digunakan sebagai lalapan khsususnya di daerah Jawa Barat. Tujuan penelitian dilakukan untuk menguji variasi komposisi kompos UPS UI Depok sebagai media tanam terhadap pertumbuhan tanaman terung hijau Solanum melongena L. var. Kenari). Metode penelitian yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor dengan lima perlakuan dan lima ulangan. Komposisi media tanam masing-masing yaitu tanah : pasir : kompos terdiri dari K0 yaitu pasir : tanah (1: 1: 0), K1 yaitu media tanam siap pakai komersil, K2 yaitu tanah : pasir : kompos (1 : 1 : 0,5 ), K3 yaitu tanah : pasir : kompos (1 : 1 : 1), K4 yaitu tanah : pasir : kompos (1 : 1 : 2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat perlakuan tidak menunjukkan perbedaan terhadap bentuk daun dan warna batang. Hasil penelitian pertumbuhan vegetatif terbaik terdapat pada K4, sementara pertumbuhan generatif terdapat pada perlakuan K3 dan K4.

The composition of waste that dominates in the University of Indonesia campus is organic waste. One of the environmentally friendly ways to reduce organic waste is by processing organic waste into compost made at the Universitas Indonesia of Waste Management Unit. The benefits of compost can increase soil fertility and nutrition in planting media. The study used Kenari variety of green eggplant which is a widely used eggplant as a special vegetable in the area of West Java. The purpose of this study was to examine variations in the compost composition of Universitas Indonesia of Waste Management Unit as a planting media for the growth of green eggplant (Solanum melongena L. var. Kenari). The research method used was a completely randomized design one factor with five treatments and five replications. The composition of the planting media of each treatment consisted of K0, namely sand: soil: compost (1: 1: 0), K1, namely commercial planting media, K2, soil: sand: compost (1: 1: 0.5), K3, namely soil : sand: compost (1: 1: 1), K4 namely soil: sand: compost (1: 1: 2). The results showed that the five treatments did not show differences in leaf shape and stem color. The results of the best vegetative plant growth research were in the K4 treatment, while the best generative growth of the eggplant plants was the best in the K3 and K4 treatments."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Latifah
"Buah Leunca (Solanum nigrum L.) adalah salah satu tanaman obat Indonesia yang dikenal memiliki aktivitas sebagai antidisentri, antiinflamasi, dan fitoestrogen. Kandungan kimia buah leunca antara lain diosgenin, solanin, solamargin, dan chaconine. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efek pemberian ekstrak etanol buah leunca (Solanum nigrum L.) terhadap pengurangan kerapuhan tulang pada tikus betina galur Sprague-Dawley. Tiga puluh ekor tikus dibagi dalam 6 kelompok terdiri atas kelompok kontrol normal, kelompok ovariektomi (OVX), kelompok OVX-tamoxifen dosis 1,8 mg/kg bb, dan 3 kelompok OVX-ekstrak etanol buah leunca dosis 150 mg/kg bb, 300 mg/kg bb, dan 600 mg/kg bb. Bahan uji diberikan selama 12 minggu berturut-turut. Parameter yang diamati adalah kadar kalsium dan alkalin fosfatase (ALP) darah serta histologi tulang femur.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mulai dosis 300 mg/kg bb terjadi peningkatan densitas dan ketebalan trabekula tulang femur yang bermakna (α < 0,05) bila dibandingkan kontrol ovariektomi dan setara dengan kontrol normal. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemberian ekstrak etanol buah leunca memiliki potensi mengurangi kerapuhan tulang.

Black Nightshade fruit (Solanum nigrum L.) is one of Indonesian medicinal plant which known showing many activities such as antidisentry, antiinflamation, and also as phytoestrogen. Black Nightshade fruit contains diosgenin, solanine, solamargine, and chaconine. This research was conduct to investigate the effect of ethanolic extract of black nightshade fruit (Solanum nigrum L.) on ovariectomized rats bone loss. Thirty-3-months-old female rats Sprague-Dawley strain were randomly divided into six groups, namely 3 control groups and 3 treatment groups. The control groups consist of normal group, ovariectomized (ovx) group, and ovx group treating with tamoxifen 1,8 mg/kg bb. The treatment groups consist of the ovx group treating with ethanolic extract of black nightshade fruit dose of 150 mg/kg bb, 300 mg/kg bb, and 600 mg/kg bb. The treatment done every day for 12 weeks.
The result showed that start on 300 mg/kg bb, ethanolic extract of black nightshade fruit increased significantly (α < 0,05) the density and thickness of trabecular of femur bone. We can conclude that ethanolic extract of black nightshade fruit has potentially effect to decrease bone loss."
Depok: Universitas Indonesia, 2013
S44480
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Siti Nurhasanah
"[ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis gel elektrode konduktif berbasis carbopol polymer dengan variasi konsentrasi penambahan solanum tuberosum (sari, pati, nano partikel bentuk suspensi, nano partikel bentuk serbuk) 1%, 5%, dan 10%. Gel hasil sintesis diuji, terdiri dari : organoleptis (warna, bau, dan homogenitas), pH, viskositas dan sifat alir, daya sebar, impedansi, uji mikrobiologi dan uji iritasi pada kelinci. Data hasil penelitian dianalisis dengan Meann-Whitney. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan nano partikel Solanum Tuberosum bentuk serbuk dengan konsentrasi 5 % berbasis carbopol polymer dapat dibuat menjadi gel elektrode konduktif.

ABSTRACT
This study aims to synthesize electrode conductive gel based on carbopol polymer with the addition of solanum tuberosum (pollen, starch, nanoparticle suspension, nanoparticle starch) to the concentration variation of 1%, 5%, and 10%. The result of gel?s synthesized tested for the consisting of : organoleptic (color, odor, and homogeneity), pH, viscosity and rheogram, dispersive power, impedance test, microbiology and irritation in rabbit. The data were analyzed statisically by Mean Whitney. The results of this study indicate that the addition of solanum tuberosum nanoparticle starch into gel based on carbopol polymer can be made to be electrode conductive gel., This study aims to synthesize electrode conductive gel based on carbopol polymer with the addition of solanum tuberosum (pollen, starch, nanoparticle suspension, nanoparticle starch) to the concentration variation of 1%, 5%, and 10%. The result of gel’s synthesized tested for the consisting of : organoleptic (color, odor, and homogeneity), pH, viscosity and rheogram, dispersive power, impedance test, microbiology and irritation in rabbit. The data were analyzed statisically by Mean Whitney. The results of this study indicate that the addition of solanum tuberosum nanoparticle starch into gel based on carbopol polymer can be made to be electrode conductive gel.]"
2015
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dwi Setiawati
"Berjenis-jenis tanaman Solanum yang tumbuh di Indonesia diketahui kaya akan kandungan obatnya. Salah satu di antaranya adalah Solanum khasianum yang cukup potensial kandungan solasodinnya untuk dijadikan sebagai bahan dasar obat kontrasepsi. Penanaman eksplan petiolus S. khasianum pada medium LS (1964) yang diberi 2,4-D 1,0 mg/l dan BAP 2,5 mg/l akan terbentuk kalus. Kalus diketahui menghasilkan senyawa metabolit sekunder bila diekstraksi. Kandungan metabolit sekunder tersebut dapat ditingkatkan dengan menambah kolesterol ke dalam medium sub kultur kalus, yang berfungsi sebagai prekursol. Perlakuan yang dicobakan adalah menggunakan kolesterol sebanyak 50 mg/l dan 100 mg/l serta kontrol (tanpa kolesterol). Dari hasil analisis statistik diperoleh, bahwa pemberian masing-masing kolesterol memberikan pengaruh pada pertambahan berat basah kalus, sehubungan dengan pembentukan metabolit sekunder. Bentuk hubungan ini secara jelas terlihat pada kurva pertumbuhan kalus.Dalam hal ini diduga produksi metabolit sekunder terjadi pada saat pertumbuhan sel sedang menurun."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Indonesia, 1987
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rianigustin Mozar
"Tempuyung (Shoncus arvensis L.) merupakan salah satu anggota famili Compositae yang berkhasiat sebagai bahan obat-obatan. Kalus diketahui mempunyai potensi untuk diekstraksi senyawa metabolit sekundernya. Pada medium Murashige & Skoog (1962) yang diperkaya dengan 0,2 mg/l ?yeast extract? dan 15 % (v/v) air kelapa, dan mengandung gula 0,05-0,25 ppm 2,4-D, IAA, NAA, dan 0,05-0,5 ppm kinetin, eksplan daun dapat membentuk kalus. Kalus yang terbentuk disubkultur untuk meningkatkan berat basah dan dirangsang untuk membentuk organ seperti tunas dan akar. Pengukuran pertambahan berat basah kalus dilakukan setiap minggu selama 2 bulan, dan pembentukan organ diamati setiap 5 hari sekali selama 40 hari. Warna dan jenis kalus yang terbentuk pada perlakuan IAA & kinetin dan NAA & kinetin putih kehijauan da kompak, sedangkan perlakuan 2,4-D & kinetin kuning kecoklatan dan meremah (friable) ?loose?. Pembentukan organ terjadi secara tidak langsung dan uji statistik menunujukkan tidak ada perbedaan antara IAA & kinetin dengan NAA & kinetin. Zat pengatur tumbuh 0,25 ppm 2,4-D & 0,1 ppm kinetin, 0,1 ppm 2,4-D & 0,5 ppm kinetin, dan 0,25 ppm 2,4-D & 0,5 ppm kinetin dapat meningkatkan berat basah kalus rata-rata dari 1,205 g menjadi 3,334 g (176,68 %), 4,854 g (302,82 %), dan 4,357 g (261,58 %)."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Indonesia, 1987
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hartiningsih
Universitas Indonesia, 1994
S31894
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yuri Permatasari
"ABSTRAK
Metode kultur jaringan tanaman akhir-akhir ini banyak dikembangkan untuk memproduksi metabolit sekunder, khususnya senyawa-senyawa steroid untuk keperluan kontrasepsi oral. Solasodin adalah alkaloida steroid yang dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan obat-obat kontrasepsi oral. Untuk mendapatkan kandungan solasodin yang maksimal banyak dilakukan modifikasi media dengan penambahan zat pengatur tumbuh yang dapat mempengaruhi pertumbuhan kultur dan kandungan metabolit sekunder. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menentukan kadar solasodin dalam kultur jaringan biji Solanwn capsicoides All, yang ditanam pada media Murashige Skoog dengan penambahan zat pengatur tumbuh kinetin dan asain 2,4-dikloro fenoksi asetat. Identifikasi dilakukan dengan kromatografi lapis tipis (KLT) menggunakan tiga macam eluen, yaitu : kioroforininetanol 19:1, kloroformetil asetat 9:1, dan heksanetil asetat 8:2, sedangkan penetuan kadar dilakukan dengan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) menggunakan eluen metanol absolut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kalus dan plantlet Solanuin capsicoides All inengandung alkaloida steroid solasodin. Fenambahan kinetin dan asam 2.4-dikloro fenoksi asetat masing-masing 1 ppm membentuk kalus dan plantlet dengan kadar yang paling tinggi, yaitu 1,23-1,43 % berat kering. Penambahan asam 2,4-dikioro fenoksi asetat 1 ppm membentuk kalus dengan kadar solasodin 1,00-1,16 % berat kering, sedangkan peinberian kinetin 1 ppm terbentuk plantlet dengan kadar 0,62-0,66 % berat kering.
ABSTRACT
At present, plant tissue cultures are more developed to produce secondary metabolites especially steroid substances for oral contraceptives used. Solasodine is steroid alkaloid, it can be used as an ingredient to make oral contraceptive drugs. To get the maximum contain of solasodine, many experiments have done b y medium modification with growth hormone to influence culture development and contain of secondary metabolites. The purpose of this experiment was to identify and to account solasodine quantity in tissue culture of Solanuin capsicoides All seeds, which grown on Murashige-Skoog media, by adding growth hormone kinetin and 2,4-dichloro fenoxy acetic acid. The identification was done by thin layer. chromatography (TLC) used th±ee kinds of eluen chloroform-methanol 19:1, chloroform-ethyl acetat = 9:1, and hexan-ethyl acetat = 8:2, and the quantity of solasodine was determined by high performance liquid chromatography (HPLC) used absolut methanol as eluen. The result have shown that callus and plantlet Solanwn capsicoides All contained of steroid alkaloid solasodine. Added of kinetin and 2,4-dichioro fenoxy acetic acid each 1 ppm formed callus and plantlet with highest quantity, it was 1,23-1,43 % dry weight. By adding 2,4-dichioro fenoksi acetic acid 1 ppm formed callus with solasodine quantity 1,00-1,16 % dr y weight, while 1 ppm kinetin formed plantlet with solasodine quantity 0,62-0,66 % dry weight."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 1991
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>