Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 119843 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ganang Dwi Kartika
"Persoalan kebohongan dan persoalan-persoalan fundamental yang tersembunyi di baliknya direfleksikan dari sudut pandang eksistensial dan etis atas dasar keempat drama penulis Norwegia, Henrik Ibsen. Penggunaan kedua pendekatan tersebut dimaksudkan untuk memperoleh pengertian secara mendasar tentang pertanyaan mengapa kebohongan dijadikan sebagai tumpuan dan andalan oleh para tokoh untuk mempertahankan "eksistensi" masa lalu. Persoalan selanjutnya adalah bahwa setelah kebohongan dijadikan sebagai ciri dan cara bereksistensi para tokoh, lalu apa yang semestinya dilakukan oleh masing-masing pelaku (tokoh) drama yang telah terlanjur membangun eksistensi dirinya di atas kebohongan demi kebohongan.
Dengan metode abduktif, induktif-verifikatif dan esensialistis kebohongan-kebohongan para tokoh dari keempat drama Ibsen tersebut diinterpretasikan dan direfleksikan berdasarkan pemikiran seorang filsuf eksistensial religius, Soren A. Kierkegaard, dan seorang filsuf eksistensial ateis Jean-Paul Sartre. Dengan itu difahami bahwa sikap mempertahankan kebohongan sebagai cara bereksistensi semakin menjauhkan masing-masing pelaku dan bahkan korban tindak kebohongan dari peluang pengembangan dan pemenuhan eksistensi dirinya.
Dengan bercermin pada berbagai kisah kebohongan yang dilakukan oleh para tokoh dan peristiwa yang menimpa para pelaku dan korban kebohongan, diketahui bahwa kebohongan -- pada hakekatnya -- tidak sesuai dengan kodrat kemanusiaan pada diri manusia. Mengapa setiap kebohongan senantiasa terbongkar dari ditanggalkan oleh (seorang) pelaku berpangkal pada fakta dasariah di dalam diri manusia, yakni bahwa kebohongan tidak sesuai dengan keyakinan akan kebenaran di dalam dirinya dan ciri kontradiktif dari setiap kebohongan itu sendiri. Kedua hal tersebut menjadikan kebohongan tidak pernah mampu menjadi dan dijadikan landasan eksistensi yang dapat dipertanggung-jawabkan.
Kenyataan dasariah tersebut di atas dipahami berdasarkan fakta bahwa para tokoh - sebagai manusia yang berkesadaran - akhirnya sampai pada suatu kesadaran bahwa hidup sebagai manusia tidak cukup dengan hanya sekedar bertahan (surviuelzen). Lebih dari itu, manusia pada akhirnya senantiasa menemukan suatu ruang transenden di dalam dirinya, yakni kecenderungan untuk dapat `hidup bahagia' (euzen) - hal mana tidak dapat dicapai melalui kebohongan (penipuan/pembohongan diri/orang lain).
Akhirnya, penelitian atas empat drama Ibsen dengan menggunakan pendekatan eksistensial dan etis ini sampai pada satu kesimpulan bahwa kebohongan hanya menjadikan manusia sebagai eksistensi tidak otentik, bahwa manusia harus menanggalkan kebohongan sebagai ciri eksistensialnya untuk mencapai suatu eksistensi otentik, bahwa manusia memang harus menjadi dirinya sendiri. Dan `menjadi dirinya sendiri' tetap merupakan suatu hasil yang tidak pernah final dari proses perubahan dari `ada' menuju suatu keadaan `menjadi,' yang akan kembali menjadi `ada' dan dibawa ke dalam proses perubahan untuk menjadi dirinya yang hakiki."
Depok: Universitas Indonesia, 1999
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
M. Yoesoef
Jakarta: Wedatama Widya Sastra, 2007
899.22 YOE s
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Gonggrijp, G.
Jakarta: Balai Pustaka, 1956
I 899.22 G 314 a
Koleksi Publik  Universitas Indonesia Library
cover
Gonggrijp, G.
Djakarta: Balai Pustaka, 1948
899.22 GON a
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Wisran Hadi
Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1981
899.224 4 WIS p
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Faiza Mardzoeki
Yogyakarta: DJB, Penerbit Djaman Baroe, 2016
808.82 FAI n
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
George Junus Aditjondro
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003
577 Adi k
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Maria Regina Widhiasti
"Using the deconstruction theory and close reading method as the tools to analyze, this thesis tried to prove that identity is not a fixed essence. It is always constructed through memory, fantasy, narration, and myth. Jakob Heym, the leading man in Jakob the Liar is considered as a hero, although he has no hero-qualities prior to what people had in mind. As a hero he only uses a single weapon, lies, to rebuild his communities' hope and spirit to survive in a Poland ghetto. Therefore he had deconstructed the meaning and function of lies. He had managed to transform a common and constructively negative thing into a valuable one."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2005
S14797
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Al-Masyhur, Idrus Alwi
Jakarta: Saraz, 2012
297.64 ALM m
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Bagus Takwin
"This paper explains what love is by referring to the philosophical thoughts of some philosophers and the results of empirical research that have been done on the phenomena of love. Here also discussed the tendency to extend love on one side, narrowing and even negating love on the other. This paper takes the position that love as an existential project. Philosophically, love is seen as a continuing search for truth. As the fruit of the will and the sincerity of human endeavor, love has real and concrete results. In its concrete form, love is the embodiment of a common promise into reality a step by step process presents a concrete manifestation of the statements contained in the promise. This philosophical thought is corroborated by empirical studies of love that love differs from sexual passion or lust. Love can last long, eternal and stay intense through the couples efforts to care for each other, nurture and develop each other."
Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan, 2018
305 JP 23:1 (2018)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>