Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 129047 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Bambang Hartono
"Kajian tentang bagaimana mengukur kompleksitas pertuturan (stylistic complexity) seseorang berdasarkan analisis linguistik merupakan salah satu kajian yang dipandang kompleks dalam analisis linguistik. Kajian ini secara linguistik sangat penting untuk dilakukan. Melalui kajian ini diharapkan dapat menemukan ukuran yang dapat dijadikan patokan untuk menentukan tingkat kesulitan pemahaman suatu pertuturan.
Penelitian ini ingin menjawab masalah (1) bagaimanakah pola kalimat berdasarkan konstituen klausa dan proporsi kemunculannya di dalam wacana anak usia fase operasional konkret berusia 7-12 tahun? (2) bagaimanakah kompleksitas kalimat wacana anak usia tersebut? (3) apakah kompleksitas kalimat wacana anak usia tersebut berbeda secara bertahap dalam setiap tahun? (4) apakah kompleksitas kalimat wacana anak usia tersebut menunjukkan peningkatan yang berarti dalam setiap peningkatan tahun usia? Untuk itu, dilakukan (1) deskripsi pola kalimat wacana anak fase operasional konkret berusia anak usia 7-12 tahun, (2) deskripsi sebaran tingkat kompleksitas kalimat wacana anak itu berdasarkan rata-rata panjang kalimat, rata-rata panjang blok informasi, dan rata-rata kedalaman klausa sematan, (3) pengukuran variasi kompleksitas kalimat wacana anak usia itu, dan (4) pengukuran peningkatan kompleksitas kalimat wacana anak usia itu.
Untuk mencapai tujuan itu direkamlah tuturan lisan Bahasa Indonesia anak fase operasional konkret berusia 7-12 tahun, yang didapat dari pengamatan alamiah maupun dengan pemancingan tuturan. Korpus data wacana penelitian ini berupa transkripsi 48 tuturan lisan-yang terdiri atas 1053 kalimat-terbagi dalam 6 tingkatan usia. Tiap-tiap tingkatan usia terwakili 8 wacana. Dari 8 wacana setiap tingkatan usia ditemukan 249 kalimat untuk tingkat usia 7 tahun, 169 kalimat tingkat usia 8 tahun, 194 kalimat tingkat usia 9 tahun, 156 kalimat tingkat usia 10, 147 kalimat tingkat usia 11, dan 138 kalimat tingkat usia 12 tahun.
Berdasarkan hasil analisis data, di dalam wacana anak fase operasional konkret berusia 7-12 tahun ditemukan 34 pola kalimat. Pola kalimat yang paling banyak muncul adalah pola A, diikuti pola A+A, AB, dan BA, sedangkan pola yang lain hanyalah pola variasi. Pada wacana anak usia 7 tahun, ditemukan 9 pola kalimat dan pola yang paling banyak muncul adalah pola A, disusul pola A+A, A+A+A, dan AB. Pada wacana anak usia 8 tahun ditemukan 7 pola kalimat dan poles kalimat yang paling banyak muncul adalah A, disusul pola A+A, AB. Pada wacana anak usia 9 tahun ditemukan 14 pola kalimat dan pola yang paling banyak muncul adalah A, diikuti pola A+A, BA, dan AB. Pada wacana anak usia 10 tahun ditemukan 19 pola kalimat dan pola kalimat yang paling banyak muncul adalah pola. A, diikuti pola A+A, AB, dan BA. Pada wacana anak usia 11 tahun ditemukan 16 pola kalimat dan pola. kalimat yang paling banyak muncul adalah pola BA, diikuti pola A+A, A, dan AB. Pada wacana anak usia 12 tahun ditemukan 23 pola kalimat dan pola kalimat yang paling banyak muncul adalah pola A+A, diikuti pola A, AB, dan BA.
Hasil analisis kompleksitas kalimat wacana anak usia fase operasional konkret berusia 7-12 tahun menunjukkan bahwa kompleksitas kalimat, baik berdasarkan rata-rata panjang kalimat, rata-rata panjang blok informasi, maupun rata kedalaman klausa sematan itu berbeda. Perbedaan tingkat kompleksitas ini menunjukkan perbedaan yang signifikan. Di samping itu, jika usia anak itu bertambah, kompleksitas kalimat wacana pun ikut bertambah. Dengan kata lain, semakin tinggi usia anak, semakin tinggi kompleksitas kalimat wacananya. Peningkatan kompleksitas kalimat itu menunjukkan peningkatan kompleksitas kalimat yang signifikan. Adapun berdasarkan golongan tingkatan kompleksitasnya, kompleksitas kalimat wacana anak usia face operasional konkret berusia 7﷓12 tahun berdasarkan rata-rata panjang kalimat adalah 1,86 tergolong kompleksitas tingkat II atau sedang; berdasarkan rata-rata panjang blok informasi adalah 1,32 tergolong tingkat II atau sedang; dan berdasarkan rata-rata kedalaman klausa sematan adalah 1,24 tergolong tingkat II atau sedang.

The study how to measure stylistic complexity of a person based linguistic analysis is one of the complicated study in linguistic analysis. This study is worth doing linguistically. Through this study, it is expected that standard of measurement for comprehension level of difficulties of style is found out.
The research aims to answering the following problems (1) What sentence patterns, based on clause constituent and the frequency of occurrence in the discourse of concrete operational phase age of children of 7 to 12 years old? (2) How complex is the discourse sentence in those ages? (3) Are the complexities of the discourse sentences for every difference of one year's age? (4) Is there any improvement in the complexities that are significantly seen as their age increasing of their age? For those purposes the following steps are taken (1) Describing discourse sentence patterns concrete operational phase children of 7 - 12 years. (2) Describing the distribution of children discourse sentence complexities based on sentence length, information block length, embedded clause depth averages. (3) Measuring the children discourse sentence complexities, and. (4) Measuring the improvement/increase the complexities of the children sentence discourse.
To achieve the goals the oral style of the children was re corded, by means of natural observation or by probing questions. The corpus of this research discourse consists of transcription of 48 says of oral style--consisting of 1053 sentences--divided into 6 levels based in the age of the children. Each level of ages is represented in 6 discourse. In those levels can be found out the following, 249 sentences in 7 year level, 169 in 8 year level, 194 in 9 year level, 156 sentences in 10 years old level, 147 sentences in 11 years old level, and 138 sentences in 12 years old level.
Based on the data analysis, 34 sentence patterns are found out in the concrete operational phase children discourse of the age 7 - 12 years. The sentence patterns frequency in their order of their frequencies is, A pattern, A+A pattern, AB and BA, and the frequency are patterns of variation. In the children discourse of 7 year old 9 sentence pattern are found, and their order of frequency is A, A+A, AB, and A+A+A. In the children discourse of 8 years 7 sentence patterns, in the order of A, A+A, and AB. Fourteen sentence patterns are for found in the 14 years old children discourse with the order of frequency A, A+A, BA, and BA. From the 10 years old children discourse, 19 sentence patterns are found with their order of frequency, A, A+A, AB, and BA. In the discourse of 11 years old children, 16 patterns are found out with the order of frequency BA, A+A, A and AB. From the discourse of 12 year old children, 23 patterns are found with the order of frequency A+A, A, AB, and BA.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1999
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Semarang: IKIP Semarang Press, 1995
306.44 CRI c
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2009
410 PES
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Sandra
"Bahasa adalah suatu kemampuan yang penting dikuasai oleh anak. Terutama pada
usia di sekitar 18 bulan, di mana terjadi peningkatan jumlah kata yang pesat. Anak
tidak hanya cukup menambah jumlah kosakatanya, tetapi juga mengerti kata-kata
tersebut. Untuk dapat berkomunikasi penting bagi anak tidak hanya mengerti kata-
kata tetapi juga dapat mengucapkan kata-kata. Pada usia 16 - 24 bulan anak-anak
dapat mengucapkan sekitar 50 sampai 400 kata. Kata-kata ini sebagian besar
adalah kata benda yang mengacu pada objek yang dekat dengan kehidupan anak.
Kata-kata Iain yang dipelajari anak adalah nama binatang, makanan, dan
panggilan untuk orang-orang yang dekat dengan anak.
Menurut teori interaksionis, perkembangan bahasa anak tidak hanya dipengaruhi
oleh kemampuan anak untuk menguasai bahasa, tetapi juga ditentukan oleh faktor
interaksi anak dengan lingkungan. Faktor interaksi dan lingkungan ini tidaklah
sama untuk setiap tempat. Sayangnya, di Indonesia penelitian perkembangan
bahasa pada anak-anak yang berusia di bawah lima tahun masih Iangka, sehingga
tidak diketahui berapa jumlah kata yang dapat diucapkan pada anak yang berusia
di sekitar 18 bulan, serta jenis kata apa saja yang dikuasainya, penelitian ini
berusaha untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Hasil yang diperoleh adalah: pada anak yang berusia 16-18 bulan rata~rata jumlah
kata yang dapat diucapkan sebanyak 50 kata, pada anak yang berusia 18-20 bulan
rata-rata jumlah kata yang dapat diucapkan sebanyak 281 kata. Untuk keseluruhan
subyek, (usia 16-20 bulan) diperoleh rentang sebanyak 9 - 514 kata. Jenis kata
yang paling banyak dikuasai adalah kata benda, diikuti oleh kata kerja. Jenis kata
yang menyangkut waktu dan kata ganti orang jarang dikuasai oleh anak yang
berusia 16 - 20 bulan, bahkan jenis kata sambung belum dikuasai sama sekali.
Jenis kata seperti nama binatang, panggilan untuk orang mengalami perubahan
dalam proporsinya seiring dengan meningkatnya usia.
Secara umum hasil penelitian ini bersesuaian dengan teori. Beberapa hal yang
menarik adalah bahwa faktor-faktor seperli pendidikan ibu dan tingkat ekonomi
yang sama tidak menjamin anak mendapatkan rangsang bahasa yang sama.
Bentuk interaksi anak dengan orang dewasa juga tampak Iebih penting dari pada
dengan siapa atau seberapa banyak anak berinteraksi."
2000
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Chichester: Wiely-Blackwell, 2012
401.93 RES
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
V. Suhani Djaja
"Berdasarkan studi literatur dijumpai bahwa para peneliti bahasa anak berbeda pendapat mengenai sejumlah struktur sintaksis yang belum dikuasai anak usia sekolah dasar. Secara khusus penelitian ini bertujuan mengulang kembali penyelidikan yang telah dilakukan oleh Carol Chomsky, yang bar-pendapat bahwa anak berbahasa Inggris yang lebih muda usianya dalam kelompok usia 5 - 10 tahun akan menguasai lebih kemudian kalimat yang hubungan grarnatikal di antara kata-kata tertentu di dalamnya tidak dinyatakan secara eksplisit pada struktur lahir, dan bahwa anak pada mulanya menerapkan Prinsip Jarak Minimal (Minimal Distance Principal) pada setiap verbs yang berklausa komplemen.
Metode eksperimental yang ditulis oleh Bennett-Kastor, dan daftar pertanyaan berdasarkan penelitian yang telah dilakukan Carol Chomsky diterapkan untuk memperoleh jawaban dan tanggapan 36 subjek penelitian berbahasa Inggris, di British International School, Jakarta. Hasil pengelompokan data menurut inter_pretasi yang benar dan interpretasi, yang salah disajikan dalam bentuk tabel. Ternyata anak yang lebih muda usianya dalam kelompok 5-10 tahun masih banyak melakukan kesalahan ketika menginterpretasi kalimat Is this doll easy to see or hard to see?, yang hubungan gramatikal di antara kata-kata tertentu di dalamnya tidak dinya_takan secara eksplisit pada struktur lahir, dan gagal ketika menginterpretasikan subjek pelaku verba komplemen pada NP1 promise NP2 to vb inf, Makin meningkat usia anak, makin sedikit kesalahan yang timbul. Secara bertahap anak dapat menguasai dan menerapkan dengan konsisten dan benar kaidah yang berlaku dalam kedua konstruksi kalimat yang diujikan."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1992
S13956
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Willard, Christopher
Yogyakarta: Bentang Pustaka, 2021
128.2 WIL k
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Stacia Ariella
"Latar Belakang: Kolaborasi antara kedokteran dan kedokteran gigi merupakan hal yang esensial dalam meningkatkan efisiensi sumber daya dan standar pelayanan. Namun, masih sangat sedikit penelitian yang membahas mengenai hal ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui awareness mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) dan Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Indonesia (UI) terhadap kolaborasi antara dokter dan dokter gigi dalam praktik.

Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional. Seluruh populasi mahasiswa FK & FKG UI angkatan 2013-2017 (n = 1432) diminta untuk melengkapi kuesioner. Kuesioner terdiri dari 12 pertanyaan yang didesain untuk mengetahui awareness mahasiswa mengenai kolaborasi antara praktik kedokteran dan kedokteran gigi.

Hasil: Response rate penelitian ini adalah 79.39%. Mayoritas mahasiswa (86.1%) aware terhadap kolaborasi antara praktik kedokteran dan kedokteran gigi. Mahasiswa menganggap bahwa disiplin ilmu Kecelakaan dan Layanan Darurat, Bedah, dan Telinga, Hidung & Tenggorokan (THT) merupakan tiga disiplin ilmu yang paling umum memiliki kolaborasi antara praktik kedokteran dan kedokteran gigi.

Kesimpulan: Dalam penelitian ini, mahasiswa kedokteran dan kedokteran gigi pada umumnya menunjukkan awareness yang baik terhadap kolaborasi antara praktik kedokteran dan kedokteran gigi di Universitas Indonesia. Hal ini merupakan fondasi penting untuk terus mendorong kolaborasi yang sangat vital dalam meningkatkan efisiensi sumber daya dan standar pelayanan kesehatan.


Background: Medical-dental collaboration is essential for improving resource efficiency and standards of care. However, few studies have been conducted on it. This study aimed to investigate the awareness of medical and dental students about collaboration between medical and dental practices in University of Indonesia.

Methods: The study design used is cross-sectional. All population of Faculty of Medicine & Faculty of Dentistry UI students (n = 1432) in the year of 2013-2017 was asked to complete a questionnaire. It contained 12 questions designed to elicit their awareness of the collaboration between dentistry and medicine.

Results: The response rate of this study is 79.39%. Most students (86.1%) were aware of the collaboration between medical and dental practice in University of Indonesia. They considered that Accident & Emergency, Surgery, and Ear, Nose & Throat were the three most common medical disciplines which entailed collaboration between medical and dental practice.

Conclusion: In this study, the medical and dental students in general demonstrated a good awareness of the collaboration between medical and dental practice in University of Indonesia. This established an essential foundation for fostering medical-dental collaboration, which is vital to improving resource efficiency and standards of care."

Depok: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2017
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ngusman Abdul Manaf
"ABSTRACT
The focus of this sociolinguistic study is the relationship between social economic status (socionomic status) and the linguistic code, especially the sentence complexity. The purposes of the study are (1) to measure sentence patterns' among groups of speaker socionomic lower-low, upper-low, lower-middle, and upper-middle; (2) to measure the index of sentence complexity based of the average sentence length (ASL), the index of sentence complexity based on average block length (ABL), and the index of sentence based of the average clause depth (ACD) of four socionomic status groups; (3) to measure the variety of sentence complexity among four socionomic status groups; (4) to measure the effect of socionomic status on the sentence complexity; (5) to measure the contributions of each subvariable of socionomic status to the sentence complexity, and; (6) to measure the close relationship between socionomic status and sentence complexity.
This study used two approaches, namely lingustic and sociological approaches. The relationship between socionomic status and sentence complexity was analyzed in terms deficit theory. The subjects of this study were the native speakers of the Minangkabau language in Municipality of Padang. The data were sentences spoken by informants and individual reports about the social, economic, and cultural conditions of the informants. The data were collected by using recording and questionnaire. The data in the form of sentence were analyzed by using the technique of sentence patterns measurement and sentence complexity according to Cook (1979). Data that were collected by using questionnaire were analyzed by using Hollingshead and Redlich's (1958) and Labov's techniques (1966) to measure the socionomic status of the speakers. Sentence complexity variation among the four socionomic status groups was measured by using one-way variant analysis. The effect of socionomic to the sentence complexity and the contributions of each socionomic's subvariables to sentence complexity were measured by using double regresion analysis technique.
The findings of this study include the following.
There is no significant different between sentence patterns and the index of sentence complexity of oral Minangkabau language spoken by lower-low, upper-low, lower-middle, and upper-middle socionomic status speaker. The sentence patterns and sentence complexity do not indicate the socionomic status of its speakers. There is no difference of linguistic codes in sentence complexity among the four socionomic status groups.
There is no significant effect between socionomic and ASL. On other side, socionomic status gives significant effect to ABL and ACD. All socionomic's subvariables (Job, education, and income) do not give significant contribution to ASL. Among the three subvariables of socionomic, it is only the income that gives significant contribution to ABL and ACD. Although the effect of socionomic to ASL is minimal, it indicates positive correlation between the socionomic status and ASL, ABL, and ACD.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1997
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>