Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 95374 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Yul Iskandar
"Depresi merupakan penyakit yang terbanyak didapati baik pada praktik spesialis maupun umum. Gangguan psikiatrik ini dapat bersifat ringan atau penyakit yang berat. Gangguan penyakit yang berat dapat fatal, karena biasanya penderita mencoba untuk bunuh diri (suicidium). Diagnosis penyakit tidak mudah. Gangguan yang ringan, sering bermanifestasi sebagai penyakit fisik, dan gangguan emosional tersamar oleh keluhan somatiknya. Pada masa akut sering gangguan yang berat menyerupai gangguan lain seperti skizofrenia. Banyak sarjana di bidang psikiatri mencari markah biologik sebagai alat untuk membantu diagnosis depresi. Salah satu markah biologik adalah gambaran poligrafik tidur. Hasil yang positif dari laboratorium tidur sulit dipakai di klinik, karena mahal dan sangat memakan waktu, baik penilaian maupun interpretasi. Kelompok Studi Psikiatri Biologik Jakarta (KSPBJ) telah melakukan modifikasi dari teknik standar dengan teknik yang dinamakan Teknik KSPBJ. Pada teknik ini hanya merekam satu menit dari lima menit selama perekaman yang berlangsung tujuh jam. Dari penelitian kami dengan sukarelawan normal dan pasien depresi didapatkan bahwa Teknik KSPBJ mempunyai agreement yang tinggi dengan teknik standar. Lebih lanjut didapatkan bahwa dengan teknik itu, seperti juga pada teknik standar didapatkan markah biologik untuk depresi. Penderita depresi mempunyai latensi REM yang rendah, yang berbeda dengan normal (P<0,001). Selaln itu ternyata pula pada penderita depresi terjadi shifting p-REM ke 1/3 awal malam dan pada perbaikan depresi terjadi shifting ke 1/3 akhir malam. Penelltian ini konsisten dengan hipotesis adanya ketidak-seimbangan sistem kolinergik - noradrenergik pada mekanisme latency REM, dan ketidak-seimbangan noradrenergik-serotonergik pada phasic REM.

Sleep In Depressed Patient (A Study On Sleep, REM, and Phasic REM In Depressed Patients)Up to 10 % of all patients seeing a doctor are depressed. This conclusion emerged from an enquiry conducted in 1973 by over 10.000 physicians practicing in Austria, Federal Republic of Germany, France, Italy and Switzerland. Approximately 15% of the severely depressed commit suicide, whereas the moderate and mild forms usually cause reduction in the quality of life of these patients. The diagnosis of depression is not easy. Depressive states often escape diagnosis because these patients are so overwhelmed by the impact of their physical symptoms, particularly since they can more easily accept the idea that their illness is of physical, as opposed to mental origin. By referring only to their physical complaints, and deliberately failing to disclose their slate of mind, they lead the unwary physician up the wrong diagnostic path. In most mental hospitals, or departments of psychiatry, the diagnosis of depression is also not easily made. In the acute and severe forms these condition sometimes are wrongly diagnosed as schizophrenia. Numerous scientists are presently searching for a biological marker of depression. The Ideal biological marker must be sensitive, specific, easy to identify and relatively Inexpensive In its operation. Research over the past two decades has led to the development of a standardized sleep EEG methodology, which has been proven useful for the identification of characteristic sleep abnormalities of depressed patients. Application of REM abnormalities as a biological marker has produced an accurate, reliable and objective laboratory method for a diagnostic aid in the identification of depression. Even though this is proven to be a useful tool, in clinical practice it is not presently practical as a routine screening test in depressed patients. One of the drawbacks of these methods is the limited number of and the access to standard sleep laboratories. Expenses of EEG sleep studies run high, approximately US$ 500.00 per night. The other factor is that it is time consuming to evaluate 1200 pages of EEG sleep records. In 1980 KSPBJ (Study Group for Biological Psychiatry) developed a modification of the Rechtschaffen and Dales method. The KSPBJ technique records only one minute in every five minutes. That is one minute on and four minutes off for a period of seven hours. In this dissertation a comparison was made between the KSPRJ technique and the standard technique. With 18 normal volunteers, 14 new cases of depression, and 13 medicated depressed patients, the conclusion can be made that the KSPBJ technique has a statistically high agreement with the standard technique. (Po m 0.78 - 0.82, Kappa - 0.71 - 0.75). Another result of these studies with 91 depressed patients and 50 normal volunteers is finding that depressed patients have shortened REM Latency (<60 minutes). This shortened REM Latency could be used in predicting the diagnosis of depression with a quite high level of sensitivity (73-76%), and specificity (over 90%). Yet another conclusion with this KSPBJ technique is that in depressed patients, there seem to be a shifting to the left of phasic REM (to one third of initial night), and on recovery a shifting to the right (to one third of terminal night). These findings are consistent with the hypothesis, of choilnergic - noradrenergic balance mechanism in the forming of latency REM, and the balance of noradrenergic - serotonergic mechanism in the forming of phasic REM. When comparing this technique with the standard technique, there is an 80% reduction of the cost of sleep EEG recording, and an 80% saving in time for evaluation. In conclusion, the KSPBJ technique can be considered as a biological marker for depression which is reasonably sensitive and specific, easy to identify, and in addition relatively inexpensive.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 1990
D150
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wimala Tiastrinindita Purwa
"Penelitian ini merupakan suatu penelitian untuk melihat tingkat depresi pada penyandang carat fisik. Untuk melihat tingkat depresi penelitian ini menggunakan Beck Depression Inventory. Subyek yang diikutsertakan dalam penelitian ini adalah penyandang cacat fisik yang tinggal di Panti Sasana Bina Daksa Budhi Bakti di Cipayung & Pondok Bambu serta penyandang cacat fisik yang tinggal di Yayasan Sinar Pelangi di Jati Kramat, Pondok Gede. Subyek yang menjadi sample penelitian adalah penyandang cacat fisik yang berusia 17 hingga 40 tahun (N = 44). Uji validitas BDI adalah menggunakan validitas kriteria di mana item yang ada dalam BDI mengacu pada kriteria depresi yang disebutkan di dalam DSM IV. Hasil uji analisis data menunjukkan skala BDI memiliki koefisien alpha Cronbach sebesar 0.797. Koefisien korelasi bergerak antara 0,0352 hingga 0,6105. Penelitian ini juga menggunakan metode wawancara untuk mendapatkan informasi mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat depresi dari subyek penelitian. Jumlah subyek yang diwawancara adalah sebanyak enam orang, dua orang merupakan subyek yang tergolong dalam kategori faking good, dua orang merupakan subyek yang tergolong depresi ringan dan dua orang yang tergolong dalam kategori depresi berat."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2006
T17866
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hari Santosa S
1983
S2195
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Burns, David D.
Jakarta: Erlangga , 1980
616.85 BUR f t
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Abdul Rozak
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 1998
S2421
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Priyanka Ardiya
"Individu homoseksual kerap menerima sikap negatif dari masyarakat. Sikap negatif tersebut dapat diinternalisasi oleh individu dan menjadi sebuah stres minoritas bernama internalized homophobia. Penelitian sebelumnya menemukan bahwa internalized homophobia berhubungan dengan gejala depresi melalui sense of belonging. Penelitian kali ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara internalized homophobia dan gejala depresi, hubungan antara sense of belonging dan gejala depresi, serta efek mediasi sense of belonging terhadap hubungan antara internalized homophobia dan gejala depresi pada individu homoseksual di Indonesia. Partisipan terdiri dari 295 gay dan lesbian berusia 18-37 tahun yang berwarga negara Indonesia.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa internalized homophobia berhubungan positif dan signifikan dengan gejala depresi (r = 0,211, p < 0,05) dan sense of belonging berhubungan negatif dan signifikan dengan gejala depresi (r = -0,563, p < 0,05). Analisis regresi berganda menggunakan PROCESS for SPSS model 4 menunjukkan sense of belonging memediasi hubungan antara internalized homophobia dan gejala depresi secara parsial. Melalui hasil dari penelitian ini, individu homoseksual dapat mengenali internalized homophobia sebagai sebuah faktor risiko dari gejala depresi dan mengetahui pentingnya sense of belonging dalam mengurangi gejala-gejala tersebut.

Homosexual individuals often receive negative attitudes from society. These negative attitudes can be internalized by individuals and become a minority stress called internalized homophobia. Previous research has found that internalized homophobia is associated with depressive symptoms through sense of belonging. This study aims to determine the relationship between internalized homophobia and depressive symptoms, the relationship between sense of belonging and depressive symptoms, and the mediating effect of sense of belonging on the relationship between internalized homophobia and depressive symptoms among homosexual individuals in Indonesia. Participants consisted of 295 gays and lesbians aged 18-37 years who are Indonesian citizens.
Results showed that internalized homophobia was positively and significantly associated with depressive symptoms (r = 0,211, p <0,05) and sense of belonging was negatively and significantly associated with depressive symptoms (r = -0,563, p <0,05). Multiple regression analysis using PROCESS for SPSS model 4 shows that sense of belonging partially mediates the relationship between internalized homophobia and depressive symptoms. Through the results of this research, homosexual individuals can identify internalized homophobia as a risk factor of depressive symptoms and learn the importance of sense of belonging in reducing those symptoms.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Herlina J EL Matury
"ABSTRAK Disertasi ini membahas model faktor-faktor yang mempengaruhi depresi, kecemasan
dan stres pada mahasiswa S1. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan disain cross
sectional. Hasil factor analysis pada sumber masalah, didapat sumber masalah ada 3
faktor yaitu komunikasi dan adaptasi, personal dan emosional. Hasil structure equation
modeling, bahwa faktor sumber masalah dan faktor harga diri berhubungan signifikan
terhadap terjadinya depresi, kecemasan dan stres pada mahasiswa S1. Sumber masalah
merupakan faktor yang paling mempengaruhi depresi, kecemasan, dan stress pada
mahasiswa S1. Hasil penelitian menyarankan perlu ditambahkan program/kegiatan
seperti pelatihan, seminar, talk show, dan diskusi tentang peningkatan harga diri
mahasiswa.
ABSTRACT This dissertation discusses the model of factors that influence depression, anxiety and
stress in undergraduate students. This research is quantitative with cross sectional
design. The results of factor analysis on the source of the problem, the source of the
problem is that there are three factors, namely communication and adaptation, personal
and emotional. The results of structure equation modelling, that the problem and selfesteem
factors are significantly relate to depression, anxiety and stress in undergrasuate
students. The problem is the most affects depression, anxiety, and stress in
undergrasuate students. The results of the study suggest that programs / activities need
to add such as training, seminars, talk shows, discussions, about increasing student selfesteem.

"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2019
D2587
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lori Oktavia
"ABSTRAK
Kehamilan, persalinan dan menjadi seorang ibu merupakan pengalaman
penting dalam kehidupan seorang wanita. Pada sebagian besar wanita, memiliki
seorang anak adalah peristiwa yang sangat membahagiakan karena peristiwa ini
dianggap sebagai pemenuhan tertinggi bagi identitas mereka sebagai wanita.
Namun demikian, pada sebagian wanita lainnya, peristiwa tersebut dapat pula
menimbulkan gangguan-gangguan yang mempengaruhi kesehatan mental mereka.
Hal ini terjadi karena proses persalinan dan masa sesudahnya merupakan keadaan
yang cukup berat bagi sang ibu. Perubahan-perubahan yang terjadi baik di dalam
maupun di luar tubuh para ibu tersebut dapat menjadi faktor penyebab timbulnya
gangguan emosi pasca persalinan. Dalam penelitian ini, gangguan emosi yang
akan diteliti adalah gangguan depresi pasca persalinan. Gangguan ini umumnya
j
terjadi dalam kurun waktu beberapa minggu hingga beberapa bulan setelah
persalinan dan ditandai dengan simtom seperti: mudah menangis, merasa tidak
berguna, bersalah, merasa lelah berkepanjangan dan gangguan tidur.
Menurut hasil beberapa penelitian, penderita depresi pasca persalinan
lebih banyak terdapat pada mereka yang kurang mendapatkan dukungan sosial >
dari orang-orang di sekitarnya. Dari sini, timbul asumsi peneliti tentang adanya
hubungan antara dukungan sosial dengan ada/tidaknya gangguan depresi pasca
persalinan. Namun, mengingat dukungan sosial itu sendiri adalah suatu konsep
yang luas, maka yang difokuskan pada penelitian ini adalah dukungan sosial yang diterima secara nyala (enacted support), yaitu pemberian bantuan yang benarbenar
terjadi dalam suatu situasi yang spesifik (Collins et al, 1993). Adapun
Permasalahan yang hendak dijawab dalam penelitian ini adalah : apakah ada
hubungan yang signifikan antara jumlah dan kepuasan terhadap dukungan sosial
yang diterima secara nyata dengan ada/tidaknya gangguan depresi pasca
persalinan.
Penelitian dilakukan terhadap 35 oreng responden. Adapun responden
dalam penelitian ini adalah wanita pasca persalinan yang berusia 20-35 tahun,
pendidikan minimal SMU/sederajat, melahirkan bayi yang sehat dan tidak
prematur dan tidak memiliki sejarah gangguan psikiatrik di masa lampau.
Pengukuran variabel-variabel yang hendak diteliti dilakukan dengan
menggunakan kuesioner, yang terdiri dari kuesioner yang mengukur jumlah dan
kepuasan terhadap dukungan sosial yang diterima serta instrumen BDI (Beck
Depression Inventory) yang mengukur simtom depresi pasca persalinan.
Sedangkan untuk menganalisis data guna menjawab permasalahan utama di atas,
digunakan perhitungan korelasi biserial.
Dari hasil penelitian, ditemukan bahwa ada hubungan yang signifikan
antara jumlah dukungan emosional, penghargaan, instrumental dan informasi
yang diterima secara nyata, dengan ada/tidaknya gangguan depresi pasca
persalinan pada ibu dewasa muda. Selain itu, ditemukan pula hubungan yang
signifikan antara kepuasan responden terhadap bentuk dukungan emosional,
penghargaan, instrumental dan informasi yang diterimanya, dengan ada/tidaknya
gangguan depresi pasca persalinan.
Saran peneliti, untuk masa yang akan datang sebaiknya dilakukan
penelitian yang lebih mendalam tentang gangguan emosi yang dialami oleh para
ibu pada masa pasca persalinan, misalnya dengan menggunakan metode penelitian
secara kualitatif, sehingga dapat diperoleh informasi yang lebih banyak tentang
masalah gabgguab emosi pasca persalinan ini dan bagaimana cara pencegahannya."
2002
S3106
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Vina Ganakin Pendit
1990
S2392
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Isabella Sasqia Mulya
"Individu dengan orientasi homoseksual seringkali mendapatkan prasangka, diskriminasi, dan kekerasan berkenaan dengan orientasi seksual yang dimilikinya. Oleh karena itu, individu homoseksual mengalami salah satu stressor spesifik yaitu stres minoritas dalam bentuk stigma consciousness. Stigma consciousnessdan dukungan sosial secara konsisten berkaitan dengan kesehatan mental. Penelitian kali ini dilakukan untuk melihat efek mediasi dari persepsi terhadap dukungan sosial pada hubungan antara stigma consciousnessdan gejala depresi. Terdapat 295 partisipan dalam penelitian ini dengan kriteria; memiliki orientasi homoseksual, berusia minimal 18 tahun, dan warga negara Indonesia.
Analisis regresi berganda menggunakan PROCESS for SPSS model 4 menunjukkan bahwa hipotesis penelitian ini didukung data yaitu persepsi terhadap dukungan sosial memediasi secara penuh hubungan antara stigma consciousnessdan gejala depresi. Berdasarkan hasil penelitian ini, penting bagi indvidu homoseksual maupun masyarakat untuk memahami stres minoritas serta mengidentifikasi dukungan sosial yang dapat diberikan kepada individu homoseksual.

Homosexuals often get prejudice, discrimination, and violence regarding their sexual orientation. Therefore, homosexuals experience one specific stressor namely minority stress in the form of a stigma consciousness. Stigma consciousness and social support are consistently related to mental health. This research was conducted to investigate the mediating effects of perceived social support on the relationship between the stigma consciousness and depressive symptoms.There were 295 participants in this study with criteria; have a homosexual orientation, at least 18 years old, and an Indonesian.
Multiple regression analysis using PROCESS for SPSS model 4 shows that the hypothesis of this study is supported by data, that is perceived social support is fully mediated the relationship between the stigma consciousness and depressive symptoms. Based on the results of this study, it is important for homosexuals and community to understand the minority stress and identify social support that can be given to homosexuals.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>