Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 23630 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Endang Darmoutomo
"Tujuan: (1) mengetahui perubahan komposisi cairan tubuh dalam 24 jam pasca bedah pintas koroner dengan pintas jantung paru (BPK+PJP); (2) mengetahui besarya katabolisme protein dalam 24 jam pasca PBK+PJP; (3) mengetahui hubungan antara perubahan cairan infra sal (OS) dengan katabolisme protein.
Tempat: Unit Terapi Intensif Rumah Sakit Jantung Harapan Kita
Metodologi: Setelah mendapat persetujuan etik dari komite etik penelitian medis NCC, Harapan Kita Hospital, diperoleh 20 pasien laki-laki dengan BPK terencana. Volume cairan tubuh diukur dengan multiple frequency bioelecirical impedance (Dietosystem, Italy) pada frekuensi 1, 50, dan 100 kHz dengan menggunakan formula Guricci. Impedans diukur, 1 kali pra bedah dan 3 kali pasca bedah setiap 8 jam. Perubahan komposisi cairan tubuh dinilai dengan uji-t untuk 2 kelompok berpasangan. Nitrogen urea urin (NUU), kreatinin urin dan imbang nitrogen digunakan sebagai indikator katabolisme protein dengan menampung urin 8 jam pada interval yang sama dengan pe ukuran MFBIA Imbang nitrogen diperoleh dengan menghitung asupan dan NUU 24 jam pasta bedah. Hubungan antara perubahan cairan infra sel (CIS) dengan indikator katabolisme dihitung dengan uji korelasi Spearman Rank
Hasil: Nilai ZI00 adalah 479 5l, indeks impedans 57,3 cm2/Q, dan volume cairan tubuh total (CM') 33,1 L terdiri dari 44,0% cairan ekstra sel (CES) dan 56,0% CIS. Pra bedah pasien termasuk euvolemia. Intra bedah terjadi imbang cairan +1744 (826-4312) mL. Delapan jam pertama terjadi peningkatan bermakna dari cairan tubuh. Dalam 24 jam pasca BPK+PJP terjadi peningkatan CTT 16,0%; CES 20,7%, dan CIS 13,0%. Peningkatan cairan masih dalam nilai euvolemia. Tidak terdapat hubungan bermakna antara perubahan volume cairan tubuh yang diukur dengan MFBIA dan imbang cairan. Median asupan selama 24 jam pasca bedah adalah 926 (127-1903) kkal dan 28 (0-69) g protein. Secara statistik terjadi peningkatan bermakna dari NUU pada 8 jam ketiga pasca BPK+PIP. Tidak terdapat perbedaan bermakna antara kreatinin urin pra bedah dan pasca bedah. Median imbang nitrogen -8{(-12,7) - (-1,6)} g. Terdapat korelasi negatif antara peningkatan volume CIS dan NUU (r - 0,57; p = 0,01).
Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan kompartemen cairan tubuh meningkat dalam 24 jam pasca BPK+PJP. Katabolisme protein ringan terjadi dalam 24 jam pasca BPK+PTP. Terdapat korelasi negatif antara peningkatan volume CIS dengan NUU, namun diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menjelaskan hubungan ini, terutama pada pasien BPK+PJP".

The Correlation Between Intra Cellular Water And Protein Catabolism After Coronary Artery Bypass Grafting: Using Multiple Frequency Bioelectrical Impedance
Objective: (1) to investigate the changes of body water compartment within 24 hours after elective coronary artery bypass grafting (CABG) surgery with extracorporeal circulation; (2) to observe protein catabolism within 24 hours after elective CABG with extracorporeal circulation, and (3) to correlate between the changes of intra cellular water (ICW) with protein catabolism indicators.
Location: Intensive Care Unit, Harapan Kita National Cardiac Center, Jakarta.
Subjects and Methods: Twenty male patients with coronary artery disease were recruited for the study. Impedance was measured at 1, 50, 100 kHz using multiple frequency bioelectrical impedance (Dietosystem, Italy) four times: at baseline, at the 1°, 2 and 3 8 hours after surgery. The volume of body water compartment was calculated using Guricci's formula. Urinary urea nitrogen (UUN) and urinary creatinine were assessed using 8-hour urine collection within 24-hour period. Nitrogen balance was calculated by subtracting nitrogen intake with urinary nitrogen. The correlation between the changes of ICW and protein catabolism indicators was tested with Spearman Rank Correlation.
Results: At the baseline, mean values of Ziw impedance and impedance index were 479 S~ and 57.3 cm21n, respectively. Mean total body water (TBW) was 33.1 ± 3.1 L or 48.8% of body weight, consist of 44.0% ECW and 56.0% ICW. This composition was classified as euvolemic. Median intra-operative fluid balance was 1744 (826-3412) mL. Significant increased in TBW, ECW, and ICW was observed at the 1' 8 hours. At the 3'a 8 hours after surgery, TRW, ECW, and ICW increased by 16.3%, 20.7%, and 12.8%, respectively, but the values were within desirable ranges. There was no correlation between TBW changes measured by MFBIA and calculated fluid balance. During 24 hours after surgery, median total energy intake was 926 (127-1903) kcal and protein intake was 28 (0-69) g. UUN increased significantly at the 3'd 8 hours after surgery. No significant difference in urinary creatinine was observed between before and after surgery. Nitrogen balance was -8 ((-12,7)-(-1.6)) g, and there was a negative correlation between ICW changes and NL-U (r = - 0.57; p = 0.01).
Conclusions: The current study indicates that changes of body water compartment occur during 24 hours after CABG, ICW increases within 24 hours after CABG. Mild protein catabolism occurs within 24 hours after CABG. ICW changes have negative correlation with NULL However further comprehensive study is needed to explain this association, especially in CABG patients."
2001
T1474
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Cellular responses to stress including DNA damage show multiple options involving the mechanisms of growth arrest, DNA repair and programmed cell death or apoptosis. Failures in these mechanisms can result in oncogenesis or accelerated senescence. Much of the response is coordinated by p53, a nuclear phosphoprotein with a central role in the defences against physical, chemical and pathogenic agents which challenge the DNA integrity. The p53 pathways for mobilising the cellular defences are linked to the pRb/E2F pathways regulating the cell cycle progression. This paper aims to review the current understanding on the networks and main molecular machinery of these processes. In addition, the implications on cellular decision making for the defences as well as evolutionary aspects of these mechanisms are discussed in brief."
Jakarta: Journal of Dentistry Indonesia, 2003
AJ-Pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Rasmussen, Howard
New York: John Wiley & Sons, 1981
599.018 8 RAS c
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Fitri Anugraheni
"ABSTRAK
Dewasa awal memiliki tugas perkembangan mandiri dengan memiliki pekerjaan dan berkomitmen dalam sebuah hubungan. Fase dewasa awal sedang dialami oleh sarjana baru. Untuk menyelesaikan tugas-tugas perkembangan tersebut dibutuhkan efikasi diri. Keberadaan efikasi diri merupakan salah satu faktor yang memengaruhi mekanisme koping. Tujuan penelitian ini mengetahui hubungan antara tingkat efikasi diri dengan kedua jenis mekanisme koping pada sarjana baru yang berstatus lajang. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan total sampel 107 orang. Hasil analisis dalam penelitian ini. Pertama, terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat efikasi diri dengan problem focused coping (p value=0,002), dan tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat efikasi diri dengan emotional focused coping (p value=0,266). Hasil penelitian ini merekomendasikan kepada tenaga kesehatan untuk melakukan promosi kesehatan terkait cara-cara meningkatkan efikasi diri dan pilihan-pilihan penggunaan mekanisme koping yang adaptif.

ABSTRACT
Young Adults have development tasks by having work and commitment in a relationship. The early adult phase is being experienced by new graduates of the bachelor degrees. To complete development tasks required self-efficacy. The existence of self-efficacy is one of the factors that influence coping mechanisms. This research was conducted on the relationship between the levels of self-efficacy with the two types of coping mechanisms in new graduates with single status. This study uses a cross-sectional design with sample of 107 people. The results of the analysis in this study here is a significant relationship between the level of self-efficacy and problem-focused coping (p-value = 0.002), and there is no significant relationship between the level of self-efficacy with emotion-focused coping (p-value = 0.266). The results of this study recommend that health workers carry out health promotion related to ways to improve self-efficacy and choices for using adaptive coping mechanisms."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lukman Hakim
"Komunikasi tanpa kabel pada masa depan akan menuju pada penyatuan beberapa jenis trafik yang berbeda seperti suara, data, gambar dan kompresi video. Untuk mendukung pelayanan ini, jaringan yang tersedia harus memiliki kemampuan dalam meyediakan berbagai macam kebutuhan termasuk rate dan QoS yang berbeda. Berbagai macam cara untuk mengontrol QoS pada sistem CDMA antara lain dengan menentukan nilai daya yang dikirim, processing gain dan jumlah kode yang digunakan.
Penggunaan processing gain dan daya yang dikirim memberikan pengaruh yang besar pada unjuk kerja sistem CDMA Optimasi processing gain akan meningkatkan rentang kapasitas dan QoS, termasuk error rate yang rendah, throughput yang besar dan delay yang kecil. Dalam sistem kelas jamak menggunakan kode jamak, user data akan mendapatkan rate yang sama seperti user suara, sehingga level daya yang digunakan kedua jenis user tersebut sama. Hal ini akan mengoptimalkan unjuk kerja sistem.
Tesis ini menganalisa perumusan matematis dari kapasitas multiclass CDMA dengan multicode. Dengan penggunaan multicode diharapkan unjuk kerja sistem akan meningkat.

Future services for wireless communication will lead to integrity of several different types of traffics such as voice, data, image and video compressing. To support these services, the available network must have the ability in providing various needs including different rate and QoS. Some ways to control the QoS in the CDMA system are choosing certain value of transmitted power, processing gain and number of codes.
The use of processing gain and transmitted power give a great influence to the performance of CDMA system. Optimizing the processing gain will increase the range of capacity and also the QoS, including low error rate, large throughput and small delay. In a multiclass system using multicode, data users will have the same rate as voice users leading to the same level power used by both users. This will optimize the system.
This thesis will further discuss mathematics derivation of cellular CDMA capacity for multiclass using multicode scheme. Using multicode, system performance will hopefully increase.
"
2001
T2261
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ivan Garniwan
"Perangkat komunikasi selular dewasa ini berkembang sangat pesat. Hal ini terjadi karena berbagai fitur yang terdapat dalam perangkat komunikasi bergerak semakin lengkap dan kompleks. Diantaranya dengan ditambahkannya perangkat penentu lokasi atau Global Positioning System (GPS) ke dalam perangkat komunikasi bergerak. Ditambahkannya perangkat GPS pada perangkat komunikasi bergerak membuat kebutuhan antenna yang kecil dan kompak serta mampu beroperasi pada frekuensi multiband semakin meningkat.
Antena GPS yang ada pada umumnya merupakan antena perangkat luar/eksternal, atau menggunakan beberapa antena internal yang beroperasi pada band frekuensi yang berbeda-beda dimana konstruksi ini kurang sesuai karena membuat perangkat selular menjadi lebih besar.
Oleh karena itu, pada penelitian ini akan dirancang sebuah antena yang kecil dan mampu beroperasi pada dua band frekuensi yang berbeda yaitu single band frekuensi cellular CDMA 826 MHz dan single band frekuensi civillian GPS L1. Antena yang dirancang berupa antena microstrip segiempat tiga susun dimana dua susunan yang pertama merupakan antena selular dengan patch yang dishort ke groundplane untuk mendapatkan ukuran yang kompak, dan susunan yang paling atas merupakan antena GPS single band.
Karena membutuhkan perhitungan yang rumit dan berulang-ulang maka rancang bangun antena ini menggunakan bantuan perangkat lunak Microwave office. Untuk antena selular didapat frekuensi band sebesar 92,4MHz (800,799-893,039) dengan gain yang diperoleh sebesar 5,64dB pada frekuensi tengah 826MHz. Sedangkan untuk antena GPS diperoleh frekuensi resonansi 1573,3MHz dengan Gain yang didapat sebesar 6.22dB. Perolehan ini cukup baik dan memenuhi spesifikasi yang dibutuhkan untuk dapat digunakan pada kebutuhan antena selular dan GPS.

Recently, mobile communication device technology has been growing rapidly. It has very complete features with the size become smaller. GPS or global positioning system is one of popular feature that has been integrated to the mobile communication device recently. That mean the demand of small, compact antenna that capable to operate in multiband frequency are become highly increase.
Convensional GPS antenna generally were an external antenna, or use couple internal antenna that operate in different frequency were the construction are less fit because made the device become bigger. Therefore on this thesis, we develope a compact internal dual band microstrip antenna that capable to operate in dualband frequency, cellular CDMA band (824MHz-894MHz) and GPS L1 (1575.75 MHz).
The antenna which has been design is a triple stacked patch where the first two stacked is a cellular antenna with groundplane shorted using multiple pins. This construction made the antenna smaller and suitable to use for mobile communication. The highest stack patch use for single band GPS antenna.
The design need very complex calculation and use a computer software microwave office to solve the problem. The result is good enough to fulfill the spesification to use in both cellular and GPS band, the frequency band of the cellular antenna is 92,4 MHz(800,799MHz - 893,039MHz) with gain achievement 5,64dB at center frequency 826MHz and for frequency of GPS antenna is 1573.3 MHz with gain achievement 6.22dB."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2006
T24930
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Harry Sudibyo S.
"Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh suatu perangkat radio CDMA yang dirakit dalam bentuk sebuah atau 1 buah prosesor DSP. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari ketergantungan komponen impor terutama komponen Custom chip nya . dengan menggunakan prosesor DSP, seluruh proses dilakukan oleh perangkat lunak yang tersimpan dalam EPROM dari prosesor DSP tersebut.
Rangkaian CDMA terdiri dari : Unit Pembangkit COMA, (yang terdiri dari rengkaian PN Generator, dan rangkaian Modulator QPSK) dan unit Penditeksian CDMA , yang terdiri dan rangkaian PN Generator dan rangkaian Demodulator QPSK. Perangkat tersebut dapat digunakan untuk pemakaian pada sistim komunikasi satelit, radio link (terestrial) dan bergerak.
Permasalah yang perlu diperhatikan dalam melakukan penelitian adalah bagaimana agar seluruh rangkaian CDMA dapat diproses oleh sebuah prosesor DSP. Untuk itu dalam penelitian ini perlu dicari teknik atau algoritma yang paling singkat. Ada 2 metode yang dilakukan yaitu dengan menggunakan table lookup, Persamaan matematis Input Output dimana dicari persamaan hubungan antara output dengan input, metode statistik dan metode dengan menggunakan teknik kecerdasan buatan. Pada penelitian saat ini barudilakukan metode table look up dan matematis input output.
Penelitian dilakukan 2 tahap yaitu : rancang bangun dengan menggunakan simulator, dan rancang bangun dengan mengggunakan emulator. Seluruh kegiatan dilakukan dengan menggunakan perangkat TMS 320C54x. Pembuatan prototype dengan menggunakan prosesor DSP hanya dapat dilakukan di pabrik karena memerlukan peralatan khusus dalam penyoldiran kaki-kaki Chip TMS."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2001
LP-Pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
New Haven: The Shoe String Press, Inc., 1961
621.8 NAT p
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Ravika Mutiara Savitrah
"

Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris pengaruh kualitas laporan keberlanjutan terhadap asimetri informasi dan mengetahui peran dari CEO Power sebagai variabel moderasi dalam memperkuat pengaruh tersebut. Sampel yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 105 perusahaan non keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan menerbitkan laporan keberlanjutan secara terpisah sejak tahun 2013-2017. Penelitian ini merupakan penelitian empiris kuantitatif. Hasil penelitian membuktikan bahwa perusahaan yang memiliki laporan keberlanjutan berkualitas dapat menurunkan tingkat asimetri informasi. CEO power yang diproksikan dengan optimisme CEO terbukti tidak dapat memperkuat pengatuh negatif kualitas laporan keberlanjutan terhadap asimetri informasi.  Sedangkan untuk kedua proxy CEO Power yang lain yaitu reputasi CEO dan kepemilikan CEO terbukti memperkuat pengaruh negatif antara kualitas laporan keberlanjutan dan asimetri informasi.

Kata Kunci:

Asimetri informasi, CEO power, kualitas laporan keberlanjutan.

 


This study aims to empirically examine the effect of the quality of sustainability reports asymmetry and find out the role of CEO Power as a moderating variable in strengthening that influence. The sample used in this study was 105 non-financial companies listed on the Indonesia Stock Exchange and published sustainability reports separately from 2013-2017. This research is a quantitative empirical research.The results of the study prove that companies that have quality sustainability reports can reduce the level of information asymmetry. CEO power which is proxied by CEO optimism has proven unable to reinforce negative adherence to the quality of sustainability reports on information asymmetry. While for the other two CEO Power proxies, the CEO reputation and CEO ownership is proven to strengthen the negative influence between the quality of sustainability reports and information asymmetry.

 

Key words:

 

Information asymmetry, CEO power, quality of sustainability reports.

 

"
2019
T52663
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mohamad Syaugi
"Pada Jaringan Operator PT. Excelcomindo Pratama, khususnya area Jabodetabek, memiliki beban trafik MSC yang tidak merata. Skripsi ini membahas optimasi MSC dengan menerepakan sistem TS 23.236 sebagai salah satu solusi untuk meratakan beban pada MSC.
Dalam perencanaan MSC pool dengan konsep 3GPP TS 23.236 yang diperhatikan adalah struktur TMSI dan NRI. Jumlah identifikasi TMSI menjadi acuan untuk menentukan jumlah subscriber aktif yang berada pada area MSC Pool. Sedangkan NRI berfungsi menentukan untuk jumlah node. Area Jabodetabek dimana terdapat 31 BSC, 18 MGw, dan 10 MSC-Server, dalam skripsi ini dibagi menjadi 3 service pool area. Dari pembagian ini menyebabkan daya tampung seluruh area pool untuk Jabodetabek area adalah 19,996,000 subscriber aktif. Pembagian area pool tersebut adalah Pool 1, Jakarta yang mengarah ke Tanggerang dan serang, Pool 2, Jakarta yang mengarah kearah Bekasi dan Cikampek, Pool 3, Jakarta yang mengarah kearah Depok dan Bogor. Dari perencanaan didapatkan perhitungan bahwa beban yang akan diterima dengan mengaplikasikan MSC Pool adalah 50 ~ 60 %.
Dari hasil simulasi didapatkan bahwa MS akan terdistribusi secara merata ke seluruh MSC/VLR, dengan maksimum MSC/VLR adalah 800.000 subscriber. MS akan dialokasikan ke MSC/VLR secara berurutan. Trafik yang dihasilkan oleh BSC terdistribusi secara porposional berdasarkan kapasitas trunk yang di sediakan antar BSC ? MGw. Jika ternyata kapasitas trafik melebih kapasitas trunk yang ada, maka terdapat trafik yang hilang atau terbuang.

Cellular operator network, PT Excelcomindo Pratama, special in Jabodetabek area, have unbalance traffic load at MSC. This paper studying on optimize core network with 3GPP TS 23.236 application, as one of solution to balancing load MSC as core network.
In the plan MSC pool with 3GPP TS 23.236 concept which is attention on TMSI and NRI structure. Amount identifies TMSI become reference to determine the amount of active subscriber which resides in MSC Pool area. While function NRI determine to the amount of MSC node. Area Jabodetabek where there are 31 BSC, 18 MGW, and 10 MSC-SERVER, in this paper is divided to become 3 area pool services. From this division causes accommodate all pool area for the Jabodetabek of area is 19,996,000 active subscribe. Division of the pool area is Pool 1, Jakarta which flange to Tanggerang and Serang, Pool 2, Jakarta which flange toward Bekasi and Cikampek, Pool 3, Jakarta which flange toward Depok and Bogor. From planning by calculation that burden to be accepted with MSC Pool application is 50 ~ 60 %.
From result of simulation, MS distribution will flattened to all MSC/VLR, maximum MSC/VLR is 800.000 subscribers. Allocation MS to MSC/VLR alternately. Traffic which yielding by BSC, distribute by porposional pursuant to trunk capacities which providing between BSC - MGW. If in the reality traffic capacities more existing trunk capacities, hence there are missing traffic.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2008
S52309
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>