Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 6688 dokumen yang sesuai dengan query
cover
cover
Illinois: Research Press, 1986
155.9 PAR
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Bode, Janet
Taibei: Tian Xia Wen Hua, 1994
SIN 150 BOD r
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Hanifah Arief
"Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena keadaan pasien penyakit jantung koroner (PJK) di Rumah Sakit Jantung Dan Pembuluh Darah Harapan Kita yang mengalami kecemasan dalam menghadapi kematian. Serangan penyakit jantung koroner bisa kapan saja terjadi, dengan gejala rasa sakit dan nyeri pada dada, camas, tercekik atau rasa terbakar. Dapat pula terjadi palpitasi (jantung berdebar), berkeringat dingin, posing atau sampai kehilangan kesadaran. Bagi seorang mukmin kematian adalah beristirahat ditempat yang penuh kedamaian (QS Al-Fajar : 27-29). Artinya kematian tidak perlu dicemaskan, karena kematian adalah gerbang memasuki dunia baru yang lebih indah, dan bahagia bagi mereka yang meiliki bekal. Variabel yang diduga dapat menetralisir kecemasan menghadapi kematian adalah salat tahajjud dan sabar. Hal ini sebagaimana yang di isyaratkan dalam QS Al-Baqarah : 153. jadi penelitian ini mempertanyakan apakah Peranan Salat Tahajjud Dan Sabar terhadap Kecemasan Menghadapi Kematian? (Studi Kasus Penyakit Jantung di Rumah Sakit Jantung Dan Pembuluh Darah Harapan Kita).
Penelitian ini dilakukan terhadap 6 (enam) orang pasien rawat inap dimana tiga orang subyek melaksanakan salat tahajjud dan sabar, dan sebagai pembandingnya diambii tiga orang sabyek sisanya yang tidak melaksanakan salat tahajjud, atau tidak sabar, atau tidak kedua-duanya.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus dalam mengungkap fakta di lapangan, yang menggunakan alat penelitian melalui wawaneara sebagai instrumen utama dalam mengumpulkan data dan observasi sebagai metode penunjang.
Hasil penelitian di temukan bahwa pasian rawat inap yang menjadi subyek merasakan sebagian gejala yang berbeda tentang PJK, terutama gangguan kecemasan menghadapi kematian. Subyek yang melakukan salat tahajjud merasakan unsur meditasi dan relaksasi cukup tinggi, sehingga merasakan ketenanggan. Apalagi kalau dilakukan secara khusyu, dapat mengurangi gangguan berbagai mental, diantaranya gangguan kecemasan menghadapi berbagai kecemasan, karena dalam sabar mengandung unsur-unsur dapat mengendalikan diri, tidak mengeluh, menerima kenyataan.
Hasil penelitian menunjukan bahwa salat tahajjud dan sabar berperan terhadap kecemasan menghadapi kematian. Hal ini dapat dilihat perbandingan antara tiga orang subyek yang melaksanaka salat tahajjud dan sabar, tga orang subyek yang tidak melaksanakan salat tahajjud dan tidak sabar, atau tidak kedua-duanya.

The phenomenon of coronary heart disease patient condition at RSJPD HK that experiencing anxiety facing dying time (terminally ill) has been the background of this research. Coronary attack might take place at anytime with the symptoms' such as ; chest hurt, anxiety, choke or feeling like burning. Sometimes the following symptoms also happen : palpitation, cool perspiration, headache or unconciousness. For mu'min, to die is to rest in a fully peace place (Q.S. Al Fajar : 27-29). To die is not necessary to be worried of because it is a gate to enter a more beautiful new life and brings happiness for those who have enough preparation (fully prepared). Anxiety towards dying time can probably be netralized by salat tahajjud and patiency, a couple of independent variables, these are indicated in QS. AI Baqarah : 153. Therefore, this study attempt to answer the question of what is the role of salat tahajjud and facing on anxiety facing dying time (Case Study on Heart Disease Patient at RSJPD HK).
This study involves six hospitalized patients, three of them rutinely do the salat tahajjud and be patient, in contrary three others don't do the salat Tahajjud or inpatient or not salat and inpatient simultaneously.
This study uses qualitative approach with case study with using facts through interview as the main instrument in collecting data and observation as the supporting methods.
Based on the result, it is found that the hospitalized patient as the subject of this research pointing out themselves differently on a variety of symptoms of coronary heart disease, especially anxiety facing dying time. The salat tahajjud subjects feels that the meditation and relaxation elements are high enough to make them calm and peace, especially if they do it intensively (khusyu'). It can reduce mental disturbancy such as anxiety facing dying time.As well as patient subject feel themselves have the ability to overcome the anxiety because patiency contains elements such as self control, incomplaint, stay with the fact.
The result of this research indicates that salat tahajjud and patiency play their roles on reducing anxiety facing dying time. This is reflected on the comparation between three subject that do salat tahajjud and being patient and the others three subject that don't do salat Tahajjud and/or impatient, nor both.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2006
T17608
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Komaruddin Hidayat
"Membahas soal kematian bisa menimbulkan sebuah pemberontakan yang menyimpan kepedihan pada setiap jiwa manusia; yaitu kesadaran dan keyakinan bahwa mati pasti akan tiba serta punahlah semua yang dicintai dan dinikmati dalam hidup ini. Kesadaran ini lalu memunculkan sebuah proses berupa penolakan bahwa masing-masing kita tidak mau mati. Setiap orang berusaha menghindari semua jalan yang mendekatkan ke pintu kematian.
Banyak orang bersikap seperti itu karena tak memahami apa sesungguhnya kematian. Kematian bagi mereka adalah misteri. Sesuatu yang tak dikenal memang cenderung untuk ditolak. Karena itu, buku ini mengajak pembaca untuk memahami lebih jauh apa itu kematian.
Buku ini juga telah meruntuhkan bayang-bayang kematian yang amat menakutkan itu. Ternyata, seperti dijelaskan buku ini, kematian adalah sesuatu yang indah. Menyelami lautan hakikatnya membuat hidup kita semakin optimis.
Buku karya Rektor saya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, MA, yang berjudul "Psikologi Kematian" ini menggambarkan kematian sebagai suatu yang berbeda dari pandangan banyak orang. Bahwa kematian selain pasti kita hadapi juga harus kita lewati dengan rasa optimisme. Sebuah topik menarik yang membuat saya memutuskan membeli buku ini, selain merasa punya kewajiban untuk mengenal lebih dekat Rektor saya tentunya (hahaha..). Tujuan buku ini pada akhirnya adalah merubah paradigma berpikir kebanyakan ummat mengenai kematian, dari ketakutan menjadi optimisme.
Ada bagian yang menarik dalam buku ini, ada sebuah ungkapan barat yang sesuai dengan makna kematian dalam Islam.
"Segala sesuatu yang pasti akan terjadi, berarti dekat"
Kita sebagai manusia sudah pasti tahu bahwa kita akan mati. Sehingga kematian adalah kepastian. Maka mati adalah dekat, bahkan lebih dekat dari kemungkinan-kemungkinan yang ada didunia. Mengapa? Karena waktu mati tidak ada seorangpun yang tahu.
Prof. Komaruddin yang bidang keahliannya memang di bidang filsafat agama menjabarkan hakikat kematian juga dari sisi filsafat. Beliau bercerita bagaimana filsuf Yunani, Socrates, dihukum mati karena keyakinannya, dan juga beberapa tokoh lainnya. Disini yang ditekankan adalah bagaimana orang-orang ini punya kebermaknaan sendiri dalam menghadapi kematian.
diambil dari : http://noura.mizan.com/index.php?fuseaction=buku_full&id=1710
http://www.nanyaterus.com/2012/09/psikologi-kematian-ubah-ketakutan-jadi.html"
Jakarta : Noura Books, 2013
181.07 KOM p
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Temes, Roberta
"There is no more stressful and traumatic experience than coping with the death of a loved one. There are various stages of grief and loss, which often take months or even years for many people to overcome. But with the right guidance, readers can learn to lessen the pain and live happy lives. "Solace" provides soothing comfort and hope for those who are suffering. As an award-winning bereavement expert, Roberta Temes believe all of us experience and process grief in our own way. Here she helps readers through the stages of grief, tells them when they should worry, helps them consider the pros and cons of bereavement groups and counselors, and shows them how to use visualization to help the healing process. Featuring anecdotes drawn from her bereavement practice so readers may learn from the experiences of others who have also gone through and struggled with loss, "Solace" is also filled with comforting affirmations, quotations and words of encouragement. Dealing with loss is never easy, but this book provides a calming companion to help readers through their mourning and begin enjoying life again."
New York: American Management Association, 2009
e20440675
eBooks  Universitas Indonesia Library
cover
Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2001
S2996
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhamad Reza Tiansah
"ABSTRAK
Latar Belakang: Keguguran berulang memiliki dampak psikologis yang besar, didefinisikan sebagai keguguran dua kali atau lebih. Sekitar 10-15% dari semua kehamilan yang secara klinis berakhir dengan keguguran. Sekitar 2% wanita mengalami dua kali keguguran dan 0,4-1% wanita mengalami tiga kali secara berturut-turut. Prevalensi dan variasi data di setiap negara berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola karakteristik subjek di poliklinik kebidanan Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo. Metode : Data dikumpulkan selama 5 tahun dari 2013 hingga 2017. Peserta adalah pasien dengan riwayat keguguran berulang yang tercatat di poliklinik Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo kemudian data dianalisis secara statistik deskriptif. Hasil: Prevalensi keguguran berulang sebesar 28 kasus. Usia termuda yang mengalami keguguran berulang adalah 25 tahun sedangkan usia tertua 46 tahun. 80% kasus merupakan keguguran berulang primer, 20% kasus merupakan keguguran berulang sekunder. Terdapat 30% kasus dengan Indeks massa tubuh normal, 6.67% underweight, 36.67% overweight dan 26.67% dengan obesitas. Pemeriksaan ACA didapatkan 7.1% hanya ACA IgG positif, 14.3% hanya ACA IgM positif, 7.1% ACA IgG dan IgM positif dan 71.4% ACA IgG dan IgM negatif. Kesimpulan:. Karakteristik pasien keguguran berulang pada penelitian ini sangat beragam.

ABSTRACT
Background: Recurrent miscarriage has a large psychological impact, defined as twice or more miscarriages. About 10-15% of all pregnancies that clinically end in miscarriage. About 2% of women experience two miscarriages and 0.4-1% of women experience three times in a row. The prevalence and variation of data in each country is different. This study aims to describe the pattern of subject characteristics in polyclinic of the National Center General Hospital Dr. Cipto Mangunkusumo. Method: Data was collected for 5 years from 2013 to 2017. Participants were patients with a history of recurrent miscarriages recorded in the polyclinic of the National Center General Hospital Cipto Mangunkusumo then the data were analyzed descriptively. Results: The prevalence of recurrent miscarriages was 28 cases. The youngest age to experience a recurrent miscarriage is 25 years while the oldest age is 46 years. 80% of cases are primary recurrent miscarriages, 20% of cases are secondary recurrent miscarriages. There are 30% of cases with a normal body mass index, 6.67% underweight, 36.67% overweight and 26.67% with obesity. ACA examination found 7.1% only ACA IgG positive, 14.3% only ACA IgM positive, 7.1% ACA IgG and IgM positive and 71.4% ACA IgG and IgM negative. Conclusion:. The characteristics of recurrent miscarriage patients in this study are very diverse."
2018
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
New York: Lawrence Erlbaum Associates, 2007
155.937 EXI
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
New york: Plenum Medical Book, 1986
616.994 CAN
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>