Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 113103 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Faliana Helma Luthfiah
"Lamtoro atau lebih dikenal dengan petai cina (Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit) merupakan tanaman yang mengandung senyawa sulfhidril yang memiliki khasiat sebagai antioksidan. Tanaman ini juga mengandung senyawa beracun yaitu mimosin, sehingga pengonsumsiannya tidak boleh berlebih. Namun dalam beberapa tahun terakhir diketahui mimosin dapat berperan sebagai senyawa aktif yang mempunyai peran biologis. Ionic liquid (IL) merupakan pelarut alternatif yang sedang dikembangkan dan memiliki potensi sebagai pelarut hijau. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan kombinasi IL terbaik untuk mengekstraksi senyawa mimosin dari biji tanaman lamtoro menggunakan metode Microwave Assisted Exraction (MAE). Kadar senyawa mimosin dari metode non- konvensional tersebut akan dibandingkan dengan metode konvensionalnya, yaitu dengan maserasi dan pelarut etanol dan dilakukan evaluasi dengan senyawa sulfhidril. Optimasi dilakukan dengan dua variabel bebas, yaitu konsentrasi IL yang digunakan (0,5; 1,0; dan 1,5 mol/L) dan rasio sampel-pelarut (1:5; 1:10; dan 1:15 g/mL). Kedua variabel tersebut dirancang dengan menggunakan Response Surface Methodology (RSM). Penetapan kadar senyawa mimosin dilakukan dengan Spektrofotometri UV-Vis dengan waktu optimalnya 3 menit. Panjang gelombang maksimum yang berhasil diidentifikasi berada pada 534 nm. Dari hasil analisis, kondisi ekstraksi optimum senyawa mimosin dihasilkan dari kombinasi IL berbasis imidazolium dengan anionnya yaitu 1-Heksil-3-metilimidazolium klorida [(HMIM) Cl] dengan rasio 1:15 g/mL dan konsentrasi IL 0,5 mol/L yaitu pada run 8. Pada kondisi tersebut dihasilkan kadar mimosin sebesar 68,77 mg/g. Berdasarkan hasil tersebut, IL terbukti lebih efektif digunakan untuk menarik senyawa mimosin dibandingkan metode maserasi etanol yang hanya menarik mimosin sebesar 10,88 mg/g. Selain itu, pada kondisi optimum tersebut, pelarut IL dapat menarik senyawa sulfhidril sebesar 0,70 mg/g.

Lamtoro or well known as petai cina (Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit) is a plant that contains sulfhydryl compounds which have antioxidant properties. This plant also contain a toxic compound, called mimosine, so its consumption should not be excessive. However in recent years, it is known mimosine can be an active compound that has a biological role. Ionic liquid (IL) is an alternative solvent that is being developed and has potential as a green solvent. This research was conducted to determine the best IL combination for extracting mimosine compounds from lamtoro seeds using Microwave Assisted Extraction (MAE) method. The mimosine content from non-conventional method will be compared with the conventional method, spesifically by maceration and ethanol solvent, and evaluated with the sulfhydryl compound. Optimization was carried out with two independent variables, the IL’s concentration (0,5; 1,0; and 1,5 mol/L) and the sampel-solvent ratio (1:5; 1:10; and 1:15 g/mL). Both variables were designed using Response Surface Methodology (RSM). The determination of mimosine levels was analyzed using UV-Vis Spectrophotometry with an optimal time 3 minutes. The maximum wavelength that was identified was at 534 nm. From the results of the analysis, the optimum extraction conditions for mimosine compound resulted from the combination of imidazolium-based IL with its anion, namely 1-Hexyl-3- methyllimidazolium chloride [(HMIM) Cl] with a ratio of 1:15 g/mL and an IL concentration of 0.5 mol/L at run 8. These conditions produce mimosine levels of 68,77 mg/g. Based on these results, IL was proven to be more effective to attract mimosine compounds than the ethanol maceration method which only attract 10.88 mg/g mimosine. Moreover, at that optimum condition, IL solvent can attract sulfhydryl compounds of 0,70 mg/g."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Misbahul Fitri Hanifah
"Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit (petai cina) merupakan tanaman yang tumbuh subur dan tersebar di wilayah tropis dan subtropis. Tanaman ini banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak ruminansia, namun penggunaannya dibatasi akibat kandungan mimosin di dalamnya yang bersifat toksik. Di sisi lain, mimosin memiliki aktivitas biologis seperti antimikroba, antiinflamasi, antikanker, antitumor, antifibrosis, antivirus, dan bioherbisida. Hal menarik diketahui bahwa belakangan ini ada penelitian yang menjadikan mimosin sebagai senyawa utama yang dikembangkan sebagai inhibitor spesifik RAC/CDC42- activated kinase 1 untuk pengobatan kanker. Pada penelitian ini, senyawa mimosin diekstraksi dari biji petai cina menggunakan pelarut NADES berbasis kolin klorida-asam organik menggunakan Ultrasound Asissted Extraction (UAE). Hasil yang didapat akan dibandingkan dengan metode maserasi menggunakan etanol 30%. Optimasi kondisi ekstraksi NADES-UAE ditentukan melalui metode analisis Response Surface Methodology oleh aplikasi Design Expert-12. Optimasi dilakukan pada kombinasi pelarut terbaik. Pada penelitian ini didapatkan kombinasi kolin klorida-asam laktat sebagai pelarut terbaik yang akan dioptimasi kondisi ekstraksinya terhadap tiga variabel yaitu penambahan air pada NADES (40, 60, dan 80%), waktu ekstraksi (20, 30, dan 40 menit), dan rasio pelarut terhadap serbuk (5, 10, dan 15 mL/g). Penetapan kadar senyawa mimosin dilakukan menggunakan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang maksimum 534 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar tertinggi senyawa mimosin yang didapatkan pada ekstrak UAE-NADES berbasis kolin klorida-asam laktat sebesar 28,79 mg/g serbuk dengan kondisi penambahan air pada NADES sebanyak 80%, waktu ekstraksi 30 menit, dan rasio pelarut terhadap serbuk sebanyak 15 mL/g, sedangkan kadar yang didapatkan pada ekstrak maserasi-etanol 30% sebanyak 13,49 mg/g serbuk. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa penggunaan ekstraksi UAE-NADES berbasis kolin klorida-asam laktat lebih efektif menarik senyawa mimosin dari biji petai cina dibandingkan dengan penggunaan ekstraksi maserasi-etanol 30%.

Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit (petai cina) is a plant that thrives in tropical and subtropical areas. This plant is widely used as fodder for ruminants, but its used is limited due to the content of mimosine in it which is toxic. On the other hand, mimosine has biological activities such as antimicrobial, anti-inflammatory, anticancer, antitumor, antifibrosis, antiviral, and bioherbicide. It is interesting that recently there have been studies that have made mimosine to the main compound developed as a specific inhibitor of RAC/CDC42-activated kinase 1 for the treatment of cancer. In this study, mimosine compounds will be extracted from petai cina seeds using NADES based on choline chloride-organic acid and Ultrasound Assisted Extraction (UAE). The results obtained will be compared with maceration method with 30% ethanol as solvent. Optimization is carried out on the best combination of solvents. In this study, the combination of choline chloride-lactic acid was found as the best solvent which will optimize the extraction conditions for three variables, the addition of water to NADES (40, 60, and 80%), extraction time (20, 30, and 40 minutes), and the ratio solvent to powders (5, 10, and 15 mL/g). The determination of mimosine levels was carried out using UV-Vis Spectrophotometry at a wavelength of 534 nm. The results showed that the highest levels of mimosine compounds obtained in UAE-NADES extract based on choline chloride-lactic acid were 28.79 mg/g powder with the condition of adding water to NADES as much as 80%, extraction time of 30 minutes, and the ratio of solvent to powder is 15 mL/g, while the concentration obtained in 30% maceration-ethanol extract was 13.49 mg/g powder. Therefore, it can be concluded that the use of UAE-NADES extraction based on choline chloride-lactic acid is more effective for extracting mimosine compounds from petai cina seeds compared to the use of maceration-ethanol 30% extraction."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Sudur
"ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian mengenai pengaruh pemberian ekstrak daun lamtoro (Leucaena leucocephala) secara oral terhadap spermatogenesis mencit (Mus musculus) jantan galur Swiss Derived. Dalam penelitian ini mencit dibagi menjadi empat kelompok perlakuan, yaitu kelompok I yang dicekok 0% ekstrak daun lamtoro, kelompok II yang dicekok 20% ekstrak daun lamtoro, Kelompok III yang dicekok 40% ekstrak daun lamtoro, dan kelompok IV yang dicekok 60% ekstrak daun lamtoro. Pencekokan dilakukan selama 36 hari. Sehari setelah pencekokan selesai, semua mencit pada keempat kelompok penlakuan dikorbankan, selanjutnya dilakukan pembuatan sayatan testis dengan metode parafin. Berdasarkan hasil analisis statistik, diketahui adanya penghambatan spermatogenesis mencit. Penghambatan tersebut berupa penurunan jumlah sel spermatogonia A dan sel spermatosit pakhiten secara sangat nyata (a = 0,01), serta penurunan berat testis secara nyata (a = 0,05). Sedang jumlah sel spermatogonia B, diameter tubulus seminiferus, dan berat badan tidak menunjukkan adanya perbedaan antara keempat kelompok perlakuan. Penghambatan spermatogenesis mulai terlihat pada pemberian dosis 40% dan 60% ekstrak daun lamtoro."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 1996
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sumitro Sunityoso
"Telah di lakukan penelitian laboratorium untuk melihat pengaruh pencekokan ekstrak daun lamtoro (Leucaena leucocephala) terhadap gejala klinik dan perubahan histologi organ ginjal mencit (Mus musculus L>). Masing-masing kelompok mencit dicekoki pelet yang telah dicampur dengan ekstrak daun lamtoro pada dosis:0 % (kontrol) 20 %, 40 % dan 60 %b/b setiap hari. Pengamatan harian menunjukkan tidak ditemukan adanya gejala klinik pada semua mencit kontrol dan yang diberi perlakuan ektrak daun lamtoro.Sema mencit mengalami kenaikan berat badan yang hampir sama selama masa percobaan. Hasil uji ANAVA (a=0.05) menunjukkan tidak ada perbedaan nyata pencekokan ekstrak daun lamtoro terhadap rata-rata kerusakan glomerulus organ ginjal antara kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan dosis 60 %. Pengamatan mikroskopik terhadap organ ginjal mencit dilakukan pada hari ke-36 setelah perlakuan.Pemberian ekstrak daun lamtoro dengan dosis 20 % pada mencit memperlihatkan gambaran histologi organ ginjal yang tidak berbeda dengan kontrol. Sedangkan pada dosis 40 % mulai tampak kerusakan ringan ,dan dengan dosis 60 % kerusakan yang terjadi semakin meningkat yaitu pada organ ginjal kerusakan berupa penyusutan glomerulus dan pelebaran jarak antara kedua dinding kapsula Bowman.Kerusakan organ ginjal tampak jelas meningkat seiring dengan kenaikan dosis ekstrak lamtoro yang di berikan."
1997
SAIN-II-2-Mei1997-37
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Yayuk Isneyni Ismail
"Daun cincau hijau Cyclea barbata Miers. merupakan tanaman yang berasal dari Indonesia yang dipercaya memiliki khasiat sebagai antiinflamasi. Adapun senyawa pada daun cincau hijau yang dapat berperan sebagai antiinflamasi adalah flavonoid. Proses inflamasi dipengaruhi oleh dua jalur yaitu lipoxygenase LOX dan cylooxygenase COX . Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kondisi optimum untuk ekstraksi daun cincau hijau dengan metode ionic liquid-microwave assisted extraction IL-MAE serta mengetahui penghambatannya terhadap aktivitas lipoksigenase. Spektrofotometer UV-Vis digunakan untuk penetapan kadar flavonoid total dan uji penghambatan lipoksigenase. Kondisi optimum yang diperoleh berada pada rasio simplisia banding pelarut 1:40 b/v , waktu ekstraksi 15 menit, dan konsentrasi [Bmim][Br] 2 mol/L dimana diperoleh kadar flavonoid total sebanyak 31,25 mgQE/1 g ekstrak kental dengan penghambatan aktivitas lipoksigenase tertinggi 69,29 . Hasil pengujian menunjukkan bahwa kondisi optimum didapatkan kadar flavonoid total tertinggi dan terdapat hubungan yang signifikan antara peningkatan kadar flavonoid total dengan peningkatan penghambatan aktivitas lipoksigenase.

Green grass jelly leaf Cyclea barbata Miers. is a plant from Indonesia that is believed to have anti inflammatory activity. The compound in the leaves of green grass jelly that can act as an anti inflammatory is flavonoids. There are two pathways in which the inflamatory process can occur, lipoxygenase LOX and cylooxygenase COX . The purpose of this research was to find the optimum condition in green grass jelly extraction using the ioninc liquid microwave assisted extraction IL MAE and to find its inhibition activity of lipoxygenase. Spectrophotometry UV Vis was used to determined the total flavonoid content and its inhibition activity of lipoxygenase. The optimum condition was achieved using the simplicia and solvent ratio of 1 40 w v , with 15 minutes of extraction time, and the concentration of Bmim Br 2 mol L. The total flavonoid content obtained was 31.25 mgQE 1 g of viscous extract and the highest inhibition of lipoxygenase activity was 69.29 . Based from the results can be concluded that the total flavonoid content was the highest at the optimal conditions, and there was a linear corelation between the levels of flavonoids and inhibition activity of lipoxygenase.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2017
S69073
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hary Anwar Laksono
"Senyawa curcuminoid dan xanthorrhizol merupakan kandungan senyawa terbesar dalam rimpang temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) yang bersifat non-polar. Ionic liquid (IL) merupakan salah satu pelarut alternatif yang dapat menarik senyawa yang bersifat polar maupun non-polar dan memiliki potensi yang tinggi dalam ekstraksi bahan alam. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan kondisi optimal dalam ekstraksi rimpang temulawak menggunakan pelarut IL 1-Tetradesil-3-metilimidazolium klorida ([C14mim][Cl]) dengan metode Ultrasound Assisted Extraction (UAE), yang kemudian dibandingkan dengan hasil ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Optimasi dilakukan menggunakan variabel bebas, yaitu konsentrasi pelarut (0,05; 0,1; dan 0,15M), waktu ekstraksi 10; 12,5; dan 15 menit), dan rasio sampel:pelarut (1:15; 1:20; dan 1:25) yang didapatkan dari uji pre-optimasi sebelumnya menggunakan IL [C16mim][Br] dengan garam salting-out NaCl. Optimasi dilakukan menggunakan Respon Surface Methodology (RSM) dengan metode Box- Behnken. Penetapan kadar senyawa Curcuminoid dan Xanthorrhizol dilakukan menggunakan metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) dengan detektor UV-Vis dan sistem gradien dengan fase gerak asetonitril:asam format 0,07% dalam air (45-85%) selama 0-60 menit pada panjang gelombang 425 dan 275 nm. Kondisi ekstraksi optimal yang didapatkan untuk metode UAE-IL [C14mim][Cl] menunjukan hasil terbaik pada garam salting-out Na2SO4, konsentrasi IL 0,15 M, waktu ekstraksi 15 menit, dan rasio sampel:pelarut 1:20 dengan hasil kadar per serbuk sebesar 9,14±0,02 mg/g curcuminoid dan 21,41±0,08 mg/g xanthorrhizol. Hasil tersebut lebih besar dari ekstraksi dengan metode maserasi-etanol 96% yaitu sebesar 4,92±0,03 mg/g curcuminoid dan 12,47±0,09 mg/g xanthorrhizol.

Curcuminoid and xanthorrhizol are the most significant and non-polar chemical compounds in Javanese turmeric (Curcuma xanthorrhiza Roxb.). Ionic liquid (IL) is an alternative solvent that can attract polar and non-polar compounds and has a high potential for extracting natural products. This study aimed to obtain optimal conditions for Javanese turmeric rhizome extraction using IL 1-Tetradecyl-3-methylimidazolium chloride ([C14mim][Cl]) as a solvent with Ultrasound Assisted Extraction (UAE) method, which was then compared with the results of maceration extraction using ethanol 96% as a solvent. Optimization was carried out using the independent variables of solvent concentration (0.05, 0.1, and 0.15 M), extraction time (10, 12.5, and 15 minutes), and the sample:solvent ratio (1:15, 1:20, and 1:25) obtained from the previous pre-optimization test using IL [C16mim][Br] with salting-out salt NaCl. Optimization was carried out using the Response Surface Methodology (RSM) with the Box-Behnken method. Curcuminoid and xanthorrhizol content determined using gradient system High-Performance Liquid Chromatography (HPLC) method with UV-Vis detector and a mobile phase of acetonitrile:formic acid 0.07% in water (45-85%) for 0-60 minutes at 425 and 275 nm wavelengths. The optimal extraction condition obtained for UAE-IL [C14mim][Cl] showed that salting-out salt Na2SO4, IL concentration 0.15 M, extraction time 15 minutes, sample:solvent ratio 1:20 with concentration per powder 9.14±0.02 mg/g curcuminoid and 21.41±0.08 mg/g xanthorrhizol. The results were greater than the extraction using maceration-ethanol 96% that showed 4.92±0.03 mg/g curcuminoids and 12.47±0.09 mg/g xanthorrhizol."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dinar Meltiara
"Ionic liquid merupakan salah satu jenis pelarut hijau yang sudah banyak diuji keberhasilannya dalam mengekstraksi berbagai senyawa bahan herbal. IL merupakan designer solvent, dimana kation dan anion pada IL bersifat fleksibel menyesuaikan dengan sifat zat aktif target, membuat IL efisien dalam menarik senyawa polar maupun non-polar. Tujuan dari penelitian ini yaitu memperoleh kondisi optimum ekstraksi kurkuminoid dan xantorizol dari rimpang temulawak (Curcuma xanthorrhiza roxb.) menggunakan 1-Heksadesil-3-metilimidazolium bromida secara UAE (Ultrasonic Assisted Extraction) serta mengetahui perbandingannya dengan maserasi menggunakan etanol 96%. Variabel-variabel bebas yang digunakan dalam optimasi yaitu konsentrasi IL (0.05; 0.1; 0.15M), waktu ekstraksi (10; 12.5; 15 menit) dan rasio sampel-pelarut (15; 20; 25 mL/g). Semua variabel di desain menggunakan metode Response Surface Methodology. Kuantifikasi senyawa kurkuminoid dan xantorizol dilakukan menggunakan KCKT UV-Vis menggunakan fase gerak asetonitril (A) dan asam format 0.007% dalam air (B) dengan program elusi gradien 45–85% (A): 0-60 menit dan dideteksi pada panjang gelombang 425 nm dan 275 nm. Hasil kadar senyawa kurkuminoid terbesar diperoleh pada konsentrasi IL 0.05M; waktu ekstraksi 12 menit dan rasio sampel-pelarut 25 mL/g dengan perolehan sebesar 8.709 mg/g. Sementara, kadar xantorizol optimum diperoleh sebesar 14.099 mg/g pada konsentrasi IL 0.05M; waktu ekstraksi 14 menit dan rasio sampel-pelarut 1:24.5 mL/g. Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa kadar senyawa kurkuminoid dan xantorizol yang diekstraksi secara IL-UAE memberikan nilai lebih tinggi dibandingkan metode konvensional. Maserasi temulawak menggunakan etanol 96% hanya mampu menghasilkan kadar kurkuminoid dan xantorizol berturut-turut sebesar 4,92 mg/g dan 12,467 mg/g.

Ionic liquid is one of the green solvents studied in relation to its success in extracting natural compounds. Ionic liquids are considered to be designer solvents due to its ability to alter cation and anion combination adapting to the compounds target, making it efficient for extraction on polar and non-polar compounds. The purpose in this study is to find the optimum extraction of curcuminoid and xanthorrhizol from rhizome of javanese turmeric using ionic liquid 1-Hexadecyl-3-methylimidazolium bromide based UAE (Ultrasonic Assisted Extraction) and to compare the effectiveness of the extraction with 96% ethanol by maceration method. Independent variables used for optimization are IL concentration (0.05; 0.1; 0.15M), time extraction (10; 12.5; 15 minutes) and ratio of solvent to powder (15; 20; 25 mL/g). All variables were designed by using Response Surface Methodology (RSM). Curcuminoid and xanthorrhizol quantification was done using HPLC UV-Vis with mobile phase composition of acetonitrile (A) and 0.07% formic acid on water (B) with gradient elution program 45–85% (A): 0-60 min, 65 – 100% (A): 60-75 min, 100% (A): 75-80 min and was detected on a wavelength of 425 (curcuminoid) and 275 (xanthorrhizol). The results showed that the highest curcuminoid content obtained was 8.709 mg/g with IL concentration 0.05M; time extraction 12 minutes and a ratio of solvent to powder 1:25 g/mL. While the highest xanthorrhizol content obtained was 14.099 mg/g with IL concentration 0.05M; time extraction 14 minutes and a ratio of solvent to powder 1:24.5 g/mL. Based on the result, IL-UAE is more effective to attract curcuminoid and xanthorrhizol than the conventional method. Maceration using 96% ethanol of javanese turmeric rhizome only gave results of 4.92 mg/g for curcuminoid and 12.467 mg/g for xanthorrhizol."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dinar Meltiara
"Ionic liquid merupakan salah satu jenis pelarut hijau yang sudah banyak diuji keberhasilannya dalam mengekstraksi berbagai senyawa bahan herbal. IL merupakan designer solvent, dimana kation dan anion pada IL bersifat fleksibel menyesuaikan dengan sifat zat aktif target, membuat IL efisien dalam menarik senyawa polar maupun non-polar. Tujuan dari penelitian ini yaitu memperoleh kondisi optimum ekstraksi kurkuminoid dan xantorizol dari rimpang temulawak (Curcuma xanthorrhiza roxb.) menggunakan 1-Heksadesil-3-metilimidazolium bromida secara UAE (Ultrasonic Assisted Extraction) serta mengetahui perbandingannya dengan maserasi menggunakan etanol 96%. Variabel-variabel bebas yang digunakan dalam optimasi yaitu konsentrasi IL (0.05; 0.1; 0.15M), waktu ekstraksi (10; 12.5; 15 menit) dan rasio sampel-pelarut (15; 20; 25 mL/g). Semua variabel di desain menggunakan metode Response Surface Methodology. Kuantifikasi senyawa kurkuminoid dan xantorizol dilakukan menggunakan KCKT UV-Vis menggunakan fase gerak asetonitril (A) dan asam format 0.007% dalam air (B) dengan program elusi gradien 45–85% (A): 0-60 menit dan dideteksi pada panjang gelombang 425 nm dan 275 nm. Hasil kadar senyawa kurkuminoid terbesar diperoleh pada konsentrasi IL 0.05M; waktu ekstraksi 12 menit dan rasio sampel-pelarut 25 mL/g dengan perolehan sebesar 8.709 mg/g. Sementara, kadar xantorizol optimum diperoleh sebesar 14.099 mg/g pada konsentrasi IL 0.05M; waktu ekstraksi 14 menit dan rasio sampel-pelarut 1:24.5 mL/g. Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa kadar senyawa kurkuminoid dan xantorizol yang diekstraksi secara IL-UAE memberikan nilai lebih tinggi dibandingkan metode konvensional. Maserasi temulawak menggunakan etanol 96% hanya mampu menghasilkan kadar kurkuminoid dan xantorizol berturut-turut sebesar 4,92 mg/g dan 12,467 mg/g.

Ionic liquid is one of the green solvents studied in relation to its success in extracting natural compounds. Ionic liquids are considered to be designer solvents due to its ability to alter cation and anion combination adapting to the compounds target, making it efficient for extraction on polar and non-polar compounds. The purpose in this study is to find the optimum extraction of curcuminoid and xanthorrhizol from rhizome of javanese turmeric using ionic liquid 1-Hexadecyl-3-methylimidazolium bromide based UAE (Ultrasonic Assisted Extraction) and to compare the effectiveness of the extraction with 96% ethanol by maceration method. Independent variables used for optimization are IL concentration (0.05; 0.1; 0.15M), time extraction (10; 12.5; 15 minutes) and ratio of solvent to powder (15; 20; 25 mL/g). All variables were designed by using Response Surface Methodology (RSM). Curcuminoid and xanthorrhizol quantification was done using HPLC UV-Vis with mobile phase composition of acetonitrile (A) and 0.07% formic acid on water (B) with gradient elution program 45–85% (A): 0-60 min, 65 – 100% (A): 60-75 min, 100% (A): 75-80 min and was detected on a wavelength of 425 (curcuminoid) and 275 (xanthorrhizol). The results showed that the highest curcuminoid content obtained was 8.709 mg/g with IL concentration 0.05M; time extraction 12 minutes and a ratio of solvent to powder 1:25 g/mL. While the highest xanthorrhizol content obtained was 14.099 mg/g with IL concentration 0.05M; time extraction 14 minutes and a ratio of solvent to powder 1:24.5 g/mL. Based on the result, IL-UAE is more effective to attract curcuminoid and xanthorrhizol than the conventional method. Maceration using 96% ethanol of javanese turmeric rhizome only gave results of 4.92 mg/g for curcuminoid and 12.467 mg/g for xanthorrhizol."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Disqi Fahira Maharani
"Biji Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit atau petai cina memiliki manfaat sebagai antioksidan yang didapatkan dari senyawa sulfhidril, namun biji ini juga memiliki efek toksik dari senyawa mimosin. Pada penelitian ini, dilakukan ekstraksi biji petai cina menggunakan konsep ekstraksi ramah lingkungan dengan Natural Deep Extraction (NADES) berbasis kolin klorida-gula sederhana dan Ultrasound Asissted Extraction (UAE) dibandingkan dengan ekstraksi menggunakan maserasi dengan pelarut etanol 30% dengan kadar senyawa sulfhidril lebih tinggi dan kadar senyawa mimosin lebih rendah pada kombinasi UAE-NADES. Optimasi kondisi ekstraksi ditentukan melalui metode analisis Response Surface Methodology (RSM). Penetapan kadar senyawa sulfhidril dilakukan menggunakan Microplate Reader dan penetapan kadar senyawa mimosin dengan Spektrofotometri UV-Vis. Optimasi kadar senyawa sulfhidril dilakukan sebanyak 17 kali dengan menggunakan tiga variabel yaitu persentase penambahan air pada NADES (65%, 70%, dan 75%), waktu ekstraksi (5 menit, 10 menit, dan 15 menit), serta rasio pelarut terhadap serbuk (3 mL/g, 5 mL/g, dan 7 mL/g).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar tertinggi senyawa sulfhidril yang didapatkan pada ekstrak UAE-NADES berbasis kolin klorida-sukrosa sebesar 0,6667 mg/g serbuk dengan kondisi penambahan air pada NADES sebanyak 75%, waktu ekstraksi 10 menit, dan rasio pelarut terhadap serbuk sebanyak 3 mL/g, sedangkan kadar yang didapatkan pada ekstrak maserasi-etanol 30% sebanyak 0,5206 mg/g serbuk. Kadar senyawa mimosin yang didapatkan pada ekstrak UAE-NADES sebanyak 4,946 mg/g serbuk, sedangkan sebanyak 12,5631 mg/g serbuk pada ekstrak maserasi-etanol 30%. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa penggunaan ekstraksi UAE-NADES berbasis kolin klorida-sukrosa lebih selektif pada penarikan senyawa sulfhidril dibandingkan dengan penggunaan ekstraksi maserasi-etanol 30%.

Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit or River Tamarind seeds have benefits as antioxidants obtained from sulfhydryl compounds, but these seeds also have a toxic effect from mimosine compounds. In this study, river tamarind seeds were extracted using an environmentally friendly extraction concept with Natural Deep Extraction (NADES) based on choline chloride-simple sugar and Ultrasound-Assisted Extraction (UAE) compared with extraction using maceration with 30% ethanol solvent with higher sulfhydryl compounds content and lower mimosine levels in the UAE-NADES combination. The optimization of the extraction conditions was determined through the Response Surface Methodology (RSM) analysis method. The assay of sulfhydryl compounds was carried out using a Microplate Reader and the assay of mimosine compounds by UV-Vis Spectrophotometry. The optimization of sulfhydryl compounds was carried out 17 times using three variables, namely the percentage of addition of water to NADES (65%, 70%, and 75%), extraction time (5 minutes, 10 minutes, and 15 minutes), and the ratio of solvent to powder ( 3 mL/g, 5 mL/g, and 7 mL/g).
The results showed that the highest content of sulfhydryl compounds obtained in UAE-NADES extract based on choline chloride-sucrose was 0.6667 mg/g powder with the condition of adding water to NADES as much as 75%, extraction time of 10 minutes, and the ratio of solvent to powder as much as 3 mL/g, while the concentration obtained in the maceration-ethanol 30% extract was 0.5206 mg/g powder. The levels of mimosine compounds obtained in the UAE-NADES extract were 4.946 mg/g powder, while as much as 12.5631 mg/g powder in the maceration-ethanol 30% extract. Therefore, it can be concluded that the use of UAE-NADES extraction based on choline chloride-sucrose is more selective in the extraction of sulfhydryl compounds compared to the use of maceration-ethanol 30% extraction.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mazaya Fadhila
"Ekstrak akar murbei putih (Morus alba) mengandung senyawa terpenoid, flavonoid, dan stilben. Senyawa stilben yang terdapat diantaranya oksiresveratrol dan resveratrol yang memiliki aktivitas sebagai antioksidan dan anti tirosinase. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki dan mengevaluasi nanoemulsi topikal ekstrak akar murbei putih hasil ekstraksi lonic Liquid-based Microwave Assisted Extraction (IL-MAE). Nanoemulsi dibuat dengan VCO, sebagai fasa minyak Tween 80, dan PEG 400 sebagai surfaktan dan ko surfaktan dengan metode titrasi fase air. Diagram fase pseudoternary dikembangkan untuk menentukan daerah terbentuknya nanoemulsi. Nanoemulsi ditentukan diameter globul, indeks polidispersitas, viskositas, zeta potensial, dan diuji stabilitas fisik selama 12 minggu. Kemanpuan penetrasi /n vitro oksiresveratrol melalui kulit perut tikus ditentukan dengan sel difusi Franz. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak akar murbei putih memiliki kandungan oksiresveratrol 21,88% (b/b). Uji antioksidan in vitro DPPH ekstrak akar murbai menunjukkan ICs = 6,29 ug/mL. Uji penghambatan enzim tirosinase menunjukan nilai ICs9 = 0,2 ug/mL. Berdasarkan hasil diagram pesudoternary, nanoemulsi ekstrak akar murbei putih dibuat dengan 2% VCO dan 18% campuran surfaktan Tween 80 dan PEG 400 (1:1). Nanoemulsi memiliki diameter globul 81,61 nm, indeks polidispersitas 0,22 dan nilai zeta potensial -1,56. Jumlah oksiresveratrol kumulatif yang terpenetrasi adalah 55,86 ug/cm? dengan fluks 6.53 ug/cm2 jam.

White mulberry Morus alba root extract has terpenoid, flavonoid, and stilbens. Thestilbens are oxyresveratrol and resveratrol which have antioxidant and anti tyrosinaseactivities. The aim of this study was to investigate and evaluate a topical nanoemulsionof white mulberry root extract which extracted by Ionic Liquid based MicrowaveAssisted Extraction IL MAE 1 butyl 3 methylimidazolium chloride BmimCl .Nanoemulsion was prepared by VCO, Tween 80 and PEG 400, used aqueous phasetitrationmethod. Pseudoternary phase diagram was constructed for the identification ofnanoemulsion existence zones. Prepared nanoemulsions were characterized for dropletsize, viscosity, zeta potential, and physical stability tests for 12 weeks. In vitro skinpenetration of oxyresveratrol was determined by the Franz diffusion cell. The resultsshowed that the root extract of white mulberry had 21.88 b b oxyresveratrol content,with DPPH scavenged showed IC50 6.29 mL, and tyrosinase inhibitor activity withIC50 0.2 . Based on pseudoternary phase diagram, nanoemulsion of whitemulberry root extract was made of 2 VCO and 18 mixture of surfactant Tween 80and PEG 400 1 1 . Nanoemulsion has globule size of 81.61 nm, polydispersity indexwas 0.22, and potential zeta val 1.56. The cumulative penetration of oxyresveratrol was5 2 with flux of cm2/hour.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2018
T50674
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>