Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 151733 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Wasista Hanung Pujangga
"Latar Belakang. COVID-19 menyebar hampir ke seluruh dunia. Di Indonesia, pada 2 Maret 2020 telah dilaporkan dua kasus COVID-19 pertama yang terkonfirmasi positif. Karena banyaknya kasus COVID-19 yang terjadi di Indonesia terutama pada tenaga kesehatan, KEMENKES menerbitkan pedoman pencegahan dan pengendalian COVID- 19 sebagai acuan untuk meminimalisasi terjadinya penularan COVID-19.
Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang sistem skoring untuk memprediksi terjadinya infeksi COVID-19 pada tenaga kesehatan di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN CM).
Metode. Penelitian ini menggunakan metode total sampling. subyek penelitian ini adalah tenaga kesehatan yang bekerja di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. Pengumpulan data menggunakan kuisioner. Analisa data dengan analisis multivariat untuk melihat faktor risiko yang ada dapat dijadikan sebagai prediktor terjadinya infeksi berbahaya.
Hasil. Desain penelitian ini adalah potong lintang dengan jumlah subjek sebanyak 125 orang. Tenaga kesehatan yang dinyatakan positif COVID-19 sebanyak 48,7% dari seluruh jumlah tenaga kesehatan di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo periode bulan Maret sampai Oktober 2020 yang memenuhi kriteria inklusi. Faktor risiko yang dapat digunakan sebagai prediktor yaitu usia, tempat bekerja di RSCM, riwayat kontak erat dan status merokok.
Kesimpulan. Sistem skoring dalam penelitian ini dapat digunakan sebagai prediktor tenaga kesehatan terhadap kemungkinan berisiko tinggi atau rendah terinfeksi COVID- 19.

Background. COVID-19 has been spread almost all over the world. In Indonesia, on March 2, 2020, the first two confirmed cases of COVID-19 were reported. Due to the large number of COVID-19 cases occurring in Indonesia, especially in healthcare workers, the Ministry of Health issues guidelines for preventing and controlling COVID- 19 as a reference to minimize the occurrence of COVID-19 based on transmission. Objective. This study aims to design a scoring system to predict the occurrence of COVID-19 infection among health workers at RSUPN CM.
Method. This research used total sampling method. The subjects of this study were healthcare workers who worked at RSUPN. Dr. Cipto Mangunkusumo. Data was collected using questionnaires. Then, data was analyzed until multivariate analysis to see whether the existing risk factors can be utilized as predictors of the occurrence of COVID- 19 infection.
Results. This study’s design is cross-sectional with 125 people as an respondent. Health workers who tested positive for COVID-19 as many as 48.7% of the total number of health workers at RSUPN CM for the period from March to October 2020 which meets the inclusion criteria. Risk factors that contributed as predictors including age category, place of work at RSCM, history of close contact and smoking.
Conclusion. The scoring system in this study can be implemented as a predictor of having created by COVID-19 in healthcare workers in RSUPN CM, whether the health worker is in a high or low risk condition of being infected with COVID-19.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2021
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Fariz Rahmansyah
"Berdasarkan catatan WHO per Mei 2021, setidaknya ada 115.000 tenaga kesehatan yang meninggal dunia akibat infeksi virus corona. Tenaga Kesehatan sebagai garda terdepan, merupakan faktor terpenting dalam upaya penanganan COVID-19. Berbagai penelitian menunjukan, diperlukannya sistem reward khusus untuk tenaga kesehatan sebagai bentuk apresiasi atas etos kerja yang diberikan. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan tentang peran organisasi dan kepimpinan dalam memberikan bentuk reward kepada tenaga kesehatan. Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan basis data Google Scholar, Remote Lib UI dan PubMed. Hasil pencarian didapat 10 literatur berasal dari China, AS, Eropa, Afrika, England, Italy, Indonesia yang telah melakukan penelitian terkait reward yang dapat diberikan untuk tenaga kesehatan selama masa pandemi COVID-19. Hasil telaah literatur menunjukan peran organisasi dan pemimpin dalam menganalisis bentuk reward yang diberikan yaitu mengenai kesehatan mental, finansial dan reward lainnya yang mendukung kebutuhan tenaga kesehatan. Penulis melakukan analisis kebijakan reward ini agar dapat digunakan oleh organisasi atau fasilitas kesehatan di Indonesia dalam memberikan gambaran reward yang tepat untuk diberikan sesuai dengan kebutuhan tenaga kesehatan selama masa pandemi COVID-19, namun perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui tingkat efektivitas reward, agar lebih representatif.

Based on WHO records as of May 2021, at least 115,000 health workers have died due to corona virus infection. Health workers, as the frontline, are the most important factor in efforts to deal with COVID-19. Various studies show the need for a special reward system for health workers as a form of appreciation for the work ethic given. This paper aims to provide knowledge about the role of organizations and leadership in providing a form of reward to health workers. This study uses a literature review method with Google Scholar, Remote Lib UI and PubMed databases. The search results obtained 10 literatures from China, the US, Europe, Africa, England, Italy, Indonesia which have conducted research related to rewards that can be given to health workers during the COVID-19 pandemic. The results of the literature review show the role of organizations and leaders in analyzing the form of rewards given, namely mental health, financial and other rewards that support the needs of health workers. The author analyzes this reward policy so that it can be used by organizations or health facilities in Indonesia in providing the right description of rewards to be given according to the needs of health workers during the COVID-19 pandemic, but further research needs to be done to determine the effectiveness of rewards, to make them more representative."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Chakti Ari Swastika
"Latar belakang: Salah satu aspek penting dalam upaya menurunkan angka
kematian dan morbiditas Ibu adalah sistem rujukan yang efektif. Pandemi
COVID-19 memberikan tantangan tersendiri dalam pelaksanaan sistem rujukan.
Belum pernah dilakukan penilaian terhadap penerapan sistem rujukan obstetri di
era pandemi COVID-19.
Metode: Penelitian deskriptif-analitik berdesain potong lintang yang
membandingkan efektivitas rujukan sebelum (Juli-Desember 2019) dan saat di era
pandemi COVID-19 (Maret-Agustus 2020) di Rumah Sakit Umum Pusat
Nasional dr. Cipto Mangunkusumo. Efektivitas rujukan dinilai berdasarkan dua
kriteria, yakni kesesuaian diagnosis rujukan dan ketepatan prosedur yang meliputi
komunikasi melalui sistem penanggulangan gawat darurat terpadu (SPGDT),
pengantaran dengan ambulans, dan pelampiran surat rujukan.
Hasil: Penelitian menemukan 198 kasus rujukan dari 464 kasus obstetri (42,67%)
sebelum pandemi dan 231 kasus rujukan dari 486 kasus obstetri (47,53%) di era
pandemi. Kesesuaian diagnosis dan ketepatan prosedur rujukan di era pandemi
COVID-19 secara signifikan lebih tinggi. Kesesuaian diagnosis meningkat dari
57,58% sebelum pandemi menjadi 71,00% di era pandemi (p = 0,004). Ketepatan
prosedur rujukan meningkat dari 28,28% sebelum pandemi menjadi 45,45% di era
pandemi (p < 0,001). Berdasarkan kriteria tersebut, efektivitas rujukan di Rumah
Sakit Umum Pusat Nasional dr. Cipto Mangunkusumo pada era pandemi COVID- 19 ditemukan lebih tinggi secara signifikan, yakni sebelum masa pandemi sebesar 21,72% dan di era pandemi sebesar 40,26% (p < 0,001).
Kesimpulan: Terdapat peningkatan efektivitas rujukan ke Rumah Sakit Umum Pusat Nasional dr. Cipto Mangunkusumo berdasarkan kesesuaian diagnosis dan
ketepatan prosedur di era pandemi COVID-19 hingga 2x dibanding sebelum masa pandemi COVID-19."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2021
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ade Nissa Cantika
"Tingkat literasi kesehatan remaja terkait COVID-19 termasuk hal yang perlu diperhatikan dalam mengoptimalkan upaya pencegahan penularan sebab remaja berpotensi untuk meningkatkan penyebaran virus corona karena adanya karakteristik taking-risk behavior. Skripsi ini membahas mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat literasi kesehatan remaja dalam mencari serta memahami informasi terkait COVID-19 selama masa pandemik. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kuantitatif dengan desain analitik. Responden yang berpartisipasi dalam penelitian ini adalah 427 siswa/i dari 10 sekolah di provinsi DKI Jakarta. Terdapat dua instrumen yang diaplikasikan dalam penelitian ini, yaitu HLS-COVID-Q22 untuk menilai tingkat literasi remaja terkait COVID-19 dan kuesioner karakteristik remaja untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat memengaruhi tingkat literasi kesehatan. Instrumen HLS-COVID-Q22 dibuat dan telah diuji oleh Okan, Bollweg, Berens, Hurrelmann, Bauer, dan Schaeffer (2020) (r=0.851), sedangkan kuesioner karakteristik remaja disusun serta diuji dalam penelitian Santosa (2012) (r=0.859). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara akses pelayanan kesehatan dengan tingkat literasi terkait COVID-19 pada remaja di DKI Jakarta (p < 0.05). Akses pelayanan kesehatan yang mudah akan meningkatkan literasi terkait COVID-19 pada remaja. Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara usia, jenis kelamin, bahasa, etnis, pendidikan, dan akses informasi kesehatan dengan tingkat literasi terkait COVID-19 pada remaja. Peneliti menganjurkan agar pihak sekolah bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dalam memberikan edukasi pemanfaatan akses informasi dan pelayanan kesehatan terkait COVID-19.

The level of adolescent health literacy related to COVID-19 is one of the things that needs to be considered in optimizing efforts to prevent transmission because adolescents have the potential to increase the spread of the corona virus due to the characteristics of risk-taking behavior. This study discusses the factors related to the level of adolescent health literacy in finding and understanding information related to COVID-19 during the pandemic. This research is a type of quantitative research with an analytical design. Respondents who participated in this study were 427 students from 10 schools in DKI Jakarta. There are two instruments applied in this study, namely the HLS-COVID-Q22 to assess the literacy level of adolescents related to COVID-19 and the adolescent characteristics questionnaire to identify factors that can affect the level of health literacy. The HLS-COVID-Q22 instrument was created and tested by Okan, Bollweg, Berens, Hurrelmann, Bauer, and Schaeffer (2020) (r=0.851), while the adolescent characteristics questionnaire was compiled and tested in Santosa's research (2012) (r=0.859). The results showed that there was a significant relationship between access to health services and literacy levels related to COVID-19 in adolescents in DKI Jakarta (p < 0.05). Easy access to health services will increase literacy related to COVID-19 in adolescents. In addition, the results of the study also show that there is no relationship between age, gender, language, ethnicity, education, and access to health information with literacy levels related to COVID-19 in adolescents. The researcher suggest that schools cooperate with the Ministry of Health in providing education regarding the use of access to information and health services related to COVID-19."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nurchahyono Budi Kurniawan
"Rumah sakit di lingkungan Kementerian Pertahanan (Kemhan) menjadi salah satu elemen penting. Kesiapan Rumah Sakit di lingkungan Kementerian Pertahanan harus senantiasa diperhatikan, ditingkatkan dan dimutakhirkan untuk mampu merespon dinamika yang semakin berkembang. Ini selaras dengan kebijakan rencana pembangunan negara dalam konteks perkuatan ketahanan ekonomi, pengurangan kesenjangan, peningkatan sumber daya manusia dan daya saingnya, pengembangan pelayanan dasar, meningkatkan ketahanan bencana dan memperkuat stabilitas politik, hukum, pertahanan dan keamanan. Pandemi Covid-19 telah memicu berbagai perubahan di sektor kesehatan secara global. Indonesia pun dituntut untuk mampu beradaptasi sehingga kemandirian dan ketahanan sektor kesehatan dapat meningkat. pandemi Covid-19 ini juga menjadi pemantik bagi seluruh sektor untuk meningkatkan kemampuan ketahanan kesehatan bangsa Indonesia. Dihadapkan dengan tantangan ke depan yang ada maka diperlukan sebuah rumah sakit yang dapat mengantisipasi kemungkinan terjadinya pandemi serupa di masa yang akan datang. Oleh sebab itu untuk menjawab tantangan tersebut diperlukan pengembangan rumah sakit yang ada. Aspek Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3L) pada pelaksanaan pembangunan gedung Rumah Sakit dr. Suyoto tahap 1 di Kementerian Pertahanan RI merupakan hal yang sangat penting. Waktu pelaksanaan pekerjaan harus sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan oleh sebab itu untuk mendukung hal tersebut maka penerapan beberapa program K3L merupakan hal yang mutlak dilakukan. Tentunya pelaksanaan pembangunannya menerapkan Aspek Kode Etik Insinyur dan Profesionalisme dalam rangka membuat suatu pekerjaan dapat dilaksanakan dengan baik dan bertanggung jawab serta berpijak pada prinsip-prinsip perilaku etis dan standar integritas tertinggi.

Hospitals within the Ministry of Defense (Kemhan) are one of the essential elements. Hospital readiness within the Ministry of Defense must always be considered, improved, and updated to respond to the growing dynamics. It aligns with the country's development plan policy to strengthen economic resilience, reduce inequality, increase human resources and competitiveness, develop essential services, increase disaster resilience, and enhance political, legal, defense, and security stability. The Covid-19 pandemic has triggered various changes in the health sector globally. Indonesia is also required to adapt so that the independence and resilience of the health sector can increase. The Covid-19 pandemic is also a trigger for all sectors to improve the health security capabilities of the Indonesian nation. Faced with the challenges ahead, it needs a hospital that can anticipate the possibility of a similar pandemic occurring in the future. In implementing the construction of the Hospital building dr. Suyoto Phase 1 at the Indonesian Ministry of Defense aspects of Health, Safety and Environmental (HSE) is essential. The time of implementation of the work must be following a predetermined schedule. Therefore, implementing several HSE programs is an absolute must to support this. Of course, the performance of its development applies aspects of the Engineer's Code of Ethics and Professionalism to do a job that can be carried out responsibly and adequately and is based on the principles of ethical behavior and integrity standards highest. Therefore, to answer these challenges, it is necessary to develop existing hospitals."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2023
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Diva Azizah Nitisara
"COVID-19 merupakan penyakit yang disebabkan oleh jenis virus corona baru, yaitu Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2). Sejak 11 Maret 2020, WHO menyatakan bahwa COVID-19 dikategorikan sebagai sebuah pandemi. Penularan COVID-19 dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Kepatuhan penerapan protokol kesehatan COVID-19 merupakan salah satu hal yang sangat penting dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat termasuk mahasiswa sehingga diharapkan nantinya dapat mengendalikan penyebaran COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi kepatuhan penerapan protokol kesehatan COVID-19 pada Mahasiswa Rumpun Ilmu Kesehatan Universitas Indonesia angkatan 2017 – 2019. Studi cross sectional dilakukan kepada 443 responden yang diperoleh melalui purposive sampling, dengan proporsi responden perempuan sebesar 88,7% dan laki-laki sebesar 11,7%. Data dianalisis secara univariat dan bivariat dengan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi kepatuhan responden terhadap penerapan protokol kesehatan COVID-19 sebesar 52,1% ; terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi manfaat, persepsi hambatan, persepsi kemampuan diri, informasi yang didapatkan, dan dukungan lingkungan sosial dengan kepatuhan penerapan protokol kesehatan COVID-19; dan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara umur, jenis kelamin, pengetahuan terkait COVID-19, persepsi kerentanan, persepsi keparahan, dan riwayat COVID-19 dengan kepatuhan penerapan protokol kesehatan COVID-19. Optimalisasi progam pencegahan COVID-19 oleh pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat dapat mengendalikan penyebaran COVID-19.

COVID-19 is a disease caused by a new type of corona virus, namely Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2). Since the 11 th of March 2020, WHO has declared that COVID-19 is categorized as a pandemic. Transmission of COVID-19 can occur directly or indirectly. Compliance with the implementation of the COVID-19 health protocols is one of the most important things that must be done by all levels of society, including university students. The purpose of this study was to determine the factors that affect compliance with the implementation of the COVID-19 health protokolin the University of Indonesia Health Sciences Cluster Students University of Indonesia class of 2017 – 2019. A cross sectional study was conducted by recruiting 443 respondents obtained through purposive sampling, with the proportion of female respondents being 88.7. % and male by 11.7%. Data were analyzed by univariate and bivariate with chi square test. The results showed that the proportion of respondents compliance with the implementation of the COVID-19 health protokolwas 52.1%; there was a significant relationship between perceived benefits, perceived barriers, perceived self-efficacy, information obtained, and social environment support with compliance to the implementation of the COVID-19 health protocols; and there was no significant relationship between age, gender, knowledge related to COVID-19, perception of vulnerability, perception of severity, and history of COVID-19 with compliance to the implementation of the COVID-19 health protocols. Optimization of the COVID-19 prevention program by the government and all levels of society can control the spread of COVID-19."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kreshna Adhika Danuputra
"Penting melakukan penelitian terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi intensi berwisata domestik pada mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab kebutuhan tersebut dengan meneliti pengaruh dari keberanian mengambil risiko dan kepatuhan individu terhadap protokol kesehatan terhadap intensi berwisata pada mahasiswa di era pandemi COVID-19. Keduanya sudah diteliti oleh penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa keduanya memiliki korelasi yang signifikan terhadap intensi berwisata. Dalam penelitian cross-sectional yang dilakukan kepada mahasiswa, peneliti berusaha untuk mengetahui hubungan antara keberanian mengambil risiko dan kepatuhan protokol kesehatan sebagai prediktor dan intensi berwisata domestik sebagai outcome. Pengukuran intensi berwisata domestik menggunakan alat ukur intensi berwisata yang diadopsi, pengukuran risk-taking menggunakan skala DOSPERT dimensi kesehatan/keamanan yang diadaptasi, lalu pengukuran kepatuhan protokol kesehatan menggunakan kuesioner kepatuhan protokol kesehatan. Pengukuran telah dilakukan kepada 131 mahasiswa 18-25 tahun berdomisili Jabodetabek. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa tidak ditemukan korelasi yang signifikan di antara risk-taking dan kepatuhan protokol kesehatan terhadap intensi berwisata domestik. Diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai topik ini menggunakan alat ukur yang lebih valid dan reliabel, demografi partisipan yang lebih fokus, dan menggunakan metode penelitian dengan kontrol lebih besar.

It is important to research the factors that influence students' domestic travel intentions. This study aims to answer this need by examining the effect of risk-taking and individual compliance with health protocols on student travel intentions in the COVID-19 pandemic. Both have been investigated by previous research showing that they have a significant correlation to travel intentions. In this study conducted on university students, researchers sought to determine the relationship between risk-taking and obedience to health protocols as predictors and domestic travel intentions as an outcome. The measurement of domestic travel intentions uses the travel intention measurement tool, the risk-taking measurement uses the adapted health/safety dimension DOSPERT scale, and the measurement of health protocol obedience uses a health protocol obedience questionnaire. Analysis has been done to 131 students 18-25 years old who live in jabodetabek. The results showed that there was no significant correlation between risk-taking and health protocols compliance on domestic travel intentions. Further research on this topic is needed using more valid and reliable measuring instruments, more focused participant demographics, and using research methods with greater control."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Simarmata, Veronika Jenny
"Latar belakang: Pandemi COVID-19 merupakan tantangan bagi dokter spesialis mata di Indonesia. Kondisi ini mengakibatkan terjadinya perubahan pada pola pelayanan kesehatan dan dapat menjadi faktor risiko terjadinya infeksi COVID-19 pada dokter spesialis mata.
Tujuan: Menilai dampak pandemi terhadap faktor pola pelayanan kesehatan mata dan hubungannya dengan riwayat terinfeksi COVID-19 pada dokter spesialis mata di Indonesia
Metode: Penelitian menggunakan desain potong lintang dengan survei daring (Google form) pada November 2022.
Hasil: Kuesioner terdiri dari 30 pertanyaan yang dikirimkan kepada 1555 responden dengan respon rate 20,97%, sehingga diperoleh 318 responden. Responden umumnya berusia 30-40 tahun dengan pengalaman kerja >10 tahun, dan merupakan dokter mata umum. Terdapat 175 responden yang memiliki riwayat terinfeksi COVID-19 di awal pandemi (Maret 2020 – Desember 2021) dan di masa transisi pandemi (Januari – November 2022). Faktor pola pelayanan kesehatan mata (penggunaan APD, pembatasan jumlah pasien di poliklinik, pembatasan jumlah praktik, pembatasan jumlah operasi mata, konsultasi telemedisin) tidak berhubungan dengan riwayat terinfeksi COVID-19 pada dokter spesialis mata di masa pandemi (p>0,05).
Kesimpulan: Terdapat lebih dari separuh jumlah dokter spesialis mata yang pernah terinfeksi COVID-19 selama pandemi. Pembatasan jumlah pasien di poliklinik rawat jalan tidak berhubungan dengan riwayat terinfeksi COVID-19 pada dokter spesialis mata di Indonesia di awal dan masa transisi pandemi.

Background: The COVID-19 pandemic is a challenge for ophthalmologists in Indonesia. This condition causes a change of eye health services and can be a risk factor for COVID-19 infection in ophthalmologists.
Purpose: To evaluate changes in patterns of eye health services and risk factors related to COVID-19 infection in ophthalmologists
Methods: The design of this study was used a cross-sectional study with an online survey (Google form) in November 2022.
Results: The questionnaire consisted of 30 questions which were sent to 1555 respondents with a response rate of 20.97%, so that 318 respondents were obtained. Respondents are generally aged 30-40 years with work experience >10 years, and work as general ophthalmologists. There were 175 respondents who had a history of being infected with COVID-19 in early pandemic (March 2020 – December 2021) and transition period of pandemic (January – November 2022). Factors in the pattern of eye health services (use of PPE, limiting the number of patients at the polyclinic, limiting the number of practices, limiting the number of eye surgeries, telemedicine consultations) were not associated with a history of COVID-19 infection among ophthalmologists during the pandemic (p>0.05).
Conclusion: More than half of ophthalmologists have been infected with COVID-19 during the pandemic. Limiting the number of patients at the polyclinic was not related to a history of COVID-19 infection among ophthalmologists in Indonesia at the early and transition period of the pandemic.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2023
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Dwina Anggraini
"Di tengah pemberlakuan kebijakan new normal, risiko para tenaga kesehatan terinfeksi COVID-19 masih tinggi. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memberikan arahan terhadap rumah sakit untuk melaksanakan langkah preventif, kuratif dan promotif dalam penanganan COVID-19. Brebes merupakan kabupaten dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi kedua di Jawa Tengah yaitu sebanyak 1.925.365 jiwa dengan luas wilayah Kabupaten Brebes mencapai 1.769,62 km2. Dengan tingkat kepadatan penduduk serta luas wilayah yang tinggi, rumah sakit di Kabupaten Brebes tentunya dituntut untuk dapat memberikan pelayanan maksimal dengan pemenuhan standar rumah sakit dan tenaga kesehatan. Pelaksanaan pencegahan dan pengendalian COVID19 di rumah sakit merupakan upaya penting dalam melindungi tenaga kesehatan dari risiko infeksi COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa penerapan manajemen risiko pada tenaga kesehatan yang menangani COVID-19 di RSUD Brebes tahun 2022. Penelitian kualitatif dengan desain studi kasus deskriptif ini menggunakan data primer yang berasal dari wawancara mendalam dan data sekunder yang berasal dari telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan penerapan manajemen risiko COVID-19 pada tenaga kesehatan di RSUD Brebes belum berjalan secara maksimal. Hal utama yang menyebabkan belum dilaksanakannya manajemen risiko secara maksimal ini adalah belum adanya komitmen dari seluruh staf terutama pimpinan dalam mengupayakan dan mendukung terlaksananya program manajemen risiko. Kondisi ini juga didukung dengan masih minimnya jumlah personil tenaga kesehatan sehingga menjadi pemicu kendala dalam penerapan manajemen risiko COVID-19.Oleh karena itu, peneliti menyarankan untuk memasukkan manajemen risiko sebagai salah satu kebijakan strategis rumah sakit dalam upaya peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja. Untuk tenaga kesehatan, disarankan untuk lebih berpartisipasi aktif dalam penerapan dan pengembangan manajemen risiko.

In the midst of the implementation of the new normal policy, the risk of health workers being infected with COVID-19 is still high. The Central Java Provincial Government provides directions for hospitals to carry out preventive, curative and promotive steps in handling COVID-19. Brebes is the district with the second highest population density in Central Java, which is 1,925,365 people with the area of ​​Brebes Regency reaching 1,769.62 km2. With a high level of population density and area, hospitals in Brebes Regency are certainly required to be able to provide maximum service by meeting hospital standards and health workers. The implementation of the prevention and control of COVID-19 in hospitals is an important effort to protect health workers from the risk of COVID-19 infection. This study aims to analyze the application of risk management to health workers who handle COVID-19 at the Brebes Hospital in 2022. This qualitative research with a descriptive case study design uses primary data from in-depth interviews and secondary data from document review. The results showed that the application of COVID-19 risk management to health workers at the Brebes Hospital had not run optimally. The main reason why risk management has not been implemented to its full potential is the lack of commitment from all staff, especially the leadership, in seeking and supporting the implementation of risk management programs. This condition is also supported by the still minimal number of health personnel so that it triggers obstacles in the implementation of COVID-19 risk management. Therefore, the researchers suggest including risk management as one of the hospital's strategic policies in an effort to improve occupational safety and health. For health workers, it is recommended to actively participate in the implementation and development of risk management."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2022
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Amalia Nurul Hidayah
"Pandemi Covid-19 menyebabkan sejumlah perubahan di masyarakat. Perubahan tersebut dilakukan sebagai upaya untuk mencegah penyebaran virus Covid-19. Hal ini berpengaruh pada kesehatan mental emerging adulthood (18-25) di Indonesia (Kwong dkk., 2021). Penelitian ini bertujuan untuk meneliti hubungan setiap dimensi kepribadian Big Five dengan depresi, kecemasan, dan stress pada emerging adulthood (N = 233). Skala yang digunakan adalah Big Five Inventory (BFI) dan Depression, Anxiety, Stress, Scale-21 (DASS-21). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya dimensi neuroticism yang berhubungan positif dengan depresi, kecemasan, dan stres (r (233) = 0,535 - 0,704). Dimensi extraversion, conscientiousness, dan agreeableness berhubungan negatif dengan depresi, kecemasan, dan stres. Namun, hanya openness yang memiliki hubungan tidak signifikan dengan depresi, kecemasan, dan stres.

The Covid-19 pandemic has caused a number of changes in society. These changes was conducted in order to prevent the spread of the Covid-19 virus. These matters have affected the mental health of emerging adulthood (18-25) in Indonesia. This study aims to examine the relationship of each Big Five personality dimension with depression, anxiety, and stress in emerging adulthood (N = 233) using the Big Five Inventory (BFI) and Depression, Anxiety, Stress, Scale- 21 (DASS-21). The results showed that neuroticism is the only dimension which is positively correlated with depression, anxiety, and stress (r (233) = 0,535 – 0,704). Extraversion, conscientiousness, and agreeableness were negatively correlated with depression, anxiety, and stress. However, only openness had no significant correlation with depression, anxiety, and stress.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>