Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 173795 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Novie Nurbeti
"Latar Belakang: Pemeriksaan MRI orbita sebagai modalitas pencitraan diagnostik bukan merupakan pilihan utama dalam mengevaluasi miopia dengan komplikasi secara kualitatif maupun kuantitatif, namun sekarang ini peranan MRI Orbita mulai dimanfaatkan untuk diagnostik, evaluasi, penilaian morfologi dan kuantitatif pada miopia dengan komplikasi sehingga mendapatkan mendapatkan penanganan yang tepat. Perkembangan miopia di Indonesia secara prevalensi mengalami peningkatan sejak anak-anak dan usia muda sehingga komplikasi akibat miopia pada usia dewasa salah satunya adalah perubahan kedudukan bola mata (esotropia) juga diprediksi mengalami peningkatan. Selain itu volume orbita pada ras di Indonesia dengan struktur anatomi kepala dan wajah yang kecil kemungkinan meningkatkan prevalensi pergeseran sudut otot-otot rektus ekstraokular pada miopia sehingga menyebabkan perubahan kedudukan bola mata. Belum banyak data mengenai sudut otot-otot rektus ekstraokular superior-lateral dan panjang aksial bola mata pada pengukuran PACS INFINITT dengan metode Yokoyama serta data volume orbita menggunakan perangkat lunak pengukuran 3D Slicer dalam karakteristik populasi miopia di Indonesia terutama pasien RSCM. Tujuan:Mengetahui hubungan sudut otot-otot rektus ekstraokular superior-lateral, panjang aksial bola mata dan/ atau volume orbita pasien miopia berdasarkan MRI 1,5T di RSCM. Metode: Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan uji korelasi menggunakan data sekunder dan ditambah data primer karena belum mencukupi. Dilakukan analisis menggunakan PACS INFINITT untuk sudut otot rektus superior-lateral dan panjang aksial bola mata, sedangkan analisis volume orbita mneggunakan 3D Slicer Data yang didapatkan dimasukkan dalam diagram baur (scatter plot) untuk melihat adanya hubungan probabilitas. Kemudian dianalisis ada tidaknya hubungan probabilitas menggunakan analisis multivariat dengan multiregresi. Hasil:. Hubungan besar Dioptri terhadap sudut otot rektus superior-lateral dengan nilai p=0,005,r=0,27 (nilai p<0,05). Hubungan panjang aksial bola mata terhadap sudut otot rektus superior-lateral dengan nilai p=0,379,r=0,09. Hubungan volume orbita terhadap sudut otot rektus superior-lateral dengan nilai p=0,057,r=-0,19. Simpulan: Terdapat hubungan antara besar Dioptri sferis negatif terhadap besar sudut otot rektus superior-lateral, peningkatan ukuran dioptri diikuti dengan peningkatan besar sudut otot rektus superior-lateral. Tidak ada hubungan antara panjang aksial bola mata dengan besar sudut otot rektus superior-lateral. Terdapat kecenderungan hubungan negatif antara volume orbita terhadap besar sudut otot rektus superior-lateral, di mana semakin kecil voume orbita, semakin besar sudut otot rektus superior-lateral. Meskipun belum terdapat hubungan yang kuat secara statistic.

Background: Orbital MRI examination as a diagnostic imaging modality is not the main choice in evaluating myopia with complications qualitatively or quantitatively, however, currently the role of orbital MRI has begun to be utilized for diagnostics, evaluation, morphological and quantitative assessment of myopia with complications so that it gets better treatment. right. The prevalence of myopia development in Indonesia has increased since childhood and young age so that complications due to myopia in adulthood, one of which is a change in the position of the eyeball (esotropia), is also predicted to increase. In addition, the orbital volume in Indonesian races with low head and face anatomical structures is likely to increase the prevalence of shifting the angle of the extraocular rectus muscles in myopia, causing changes in the position of the eyeball. There are not many data regarding the angle of the superior-lateral extraocular rectus muscles and the axial length of the eyeball on the PACS INFINITT measurement using the Yokoyama method and orbital volume data using 3D Slicer measurement software in the characteristics of the myopia population in Indonesia, especially RSCM patients. Purpose: To determine the relationship between the angle of the superior-lateral extraocular rectus muscles, the axial length of the eyeball and / or the orbital volume of myopia patients based on MRI 1.5T at RSCM. Methods: This study used a cross-sectional design with correlation test using secondary data and added with primary data because it was insufficient. Analysis was carried out using PACS INFINITT for the superior-lateral rectus muscle angle and the axial length of the eyeball, while the orbital volume analysis used 3D Slicer. The data obtained were included in a scatter plot to see a probability relationship. Then analyzed whether there is a probability relationship using multivariate analysis with multiregression. Results: Correlation the size of the diopters and the angle of the superior-lateral rectus muscle with a value of p=0.005,r=0.27 (p value <0.05). Correlation the axial length of the eyeball and the angle of the superior-lateral rectus muscle with a value of p=0.379,r=0.09. Correlation orbital volume and the angle of the superior-lateral rectus muscle with a value of p=0.057,r=-0.19. Conclusions: There is a relationship between the size of the negative spherical diopters with the angle of the superior-lateral rectus muscle, the increase in the size of the diopters is followed by an increase in the angle of the superior-lateral rectus muscle. There is no relationship between the axial length of the eyeball and the angle of the superior-lateral rectus muscle. There is a tendency for a negative relationship between the volume of the orbit and the angle of the superior-lateral rectus muscle, where the smaller the orbital volume, the greater the angle of the superior-lateral rectus muscle. Although there is no statistically strong correlation."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aldi Ishwara
"ABSTRAK
Latar belakang : miopia merupakan salah satu gangguan refraksi yang bersifat progresif dimana salah satu komplikasi yang dapat ditemukan adalah esotropia yang pada akhirnya dapat menjadi strabismus fixus. Faktor-faktor yang diduga berpotensi menunjukkan progresifitas diantaranya adalah panjang aksial bola mata dan pergeseran otot ekstraokuli dapat dikenali dengan menggunakan modalitas pemeriksaan radiologi yaitu MRI. Dengan mengenali faktor-faktor tersebut secara dini, diharapkan penderita miopia tidak mengalami komplikasi akhir tersebut sehingga dapat ditatalaksana secara dini, sekaligus memperoleh protokol sekuens MRI yang terbaik. Tujuan : Mengetahui korelasi antara besaran nilai dioptri refraksi miopia sedang dan berat dengan peningkatan panjang aksial bola mata serta besar sudut otot rektus superior dan lateral pada pasien miopia di Indonesia. Metode : Pengukuran panjang aksial dan besar sudut antara otot rektus superior dan lateral dilakukan menggunakan modalitas MRI serta perangkat lunak Image-J. Pengukuran dilakukan terhadap penderita miopia derajat sedang (-3 s/d -6 D) dan berat (sferis minus lebih besar dari -6 D) dengan total subjek penelitian sebanyak 92 mata. Hasil : Pada miopia sedang terdapat korelasi yang bermakna antara besaran dioptri terhadap peningkatan panjang aksial bola mata (uji Spearman, dengan p < 0,01), tidak terdapat korelasi signifikan antara besaran dioptri terhadap sudut otot rektus superior dan lateral (p = 0,344), serta tidak terdapat korelasi signifikan antara besaran panjang aksial dan sudut antara otot rektus superior dan lateral (p = 0,063). Pada miopia berat terdapat korelasi yang bermakna antara besaran dioptri terhadap peningkatan panjang aksial bola mata, antara besaran dioptri terhadap sudut otot rektus superior dan lateral, dan antara besaran panjang aksial dan sudut antara otot rektus superior dan lateral (p<0,01). Simpulan : Derajat miopia yang semakin berat memiliki korelasi yang kuat terhadap peningkatan panjang aksial bola mata dan peningkatan besaran sudut antara otot rektus superior dan lateral. Pada kondisi miopia berat, peningkatan panjang aksial yang terjadi berkorelasi kuat terhadap peningkatan besaran sudut otot rektus superior dan lateral sehingga semakin rentan terhadap terjadinya komplikasi esotropia.

ABSTRACT
Background: myopia is a common visual disturbance which can be complicated in a severe state. One of its various complication is esotropia that can progress into strabismus fixus. MRI is one of modality of choice to evaluate myopia's progressivity so that early intervention could be done. Several factors are suspected to be the cause such as eyeball axial length elongation and supero-lateral extraocular muscle shifting. Those factors could be evaluated using MRI with sought optimal sequence protocol as early as possible during progression, so early intervention could be done. Purpose: to determine if there is correlation between moderate and severe myopia with eye's axial length and superior-lateral rectus muscle's angle. Methods : Prospective cross sectional study with analyzing correlation between axial length and superior-lateral rectus muscles's angle measured using MRI and Image-J software. Measurement was done to patients with moderate (-3 to -6 D) and severe myopia (less than -6 D). Results: In moderate myopia, there is significant correlation between myopic dioptri and axial length (Spearman correlation < 0,01), but there is no correlation between axial length and superior-lateral rectus muscle's angle, and myopic dioptri and superior-lateral rectus muscle's angle (p = 0,344 and 0,063). In severe myopia, there is significant correlation between myopic dioptri and axial length, supero-lateral rectus muscle's angle, and between axial length and supero-lateral rectus muscle's angle (p < 0,01). Conclusion: Significant correlation between myopic dioptry with eye's axial length and superior-lateral rectus muscle's angle only occurred in severe myopia. The severe the myopia, the eye become elongated and the angle between superior and lateral rectus muscle become widened and prone to become esotropia.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Alif Novaldi
"Latar belakang: Pengukuran rasio putamen-thalamus yang diukur dengan MRI T2WI potongan aksial dilakukan untuk memperkirakan adanya atrofi pada struktur putamen pada pasien dengan penyakit Parkinson. Teknik pemeriksaan ini dapat dilakukan secara sederhana dan cepat dibandingkan dengan pengukuran volumetrik tiga dimensi. Namun, belum ada penelitian yang membandingkan metode ini dengan pengukuran tiga dimensi volumetrik pada putamen dan thalamus.
Tujuan: Menilai peranan MRI 2D dalam pengukuran volumetrik putamen pada pasien dengan parkinsonisme dan menilai kekuatan korelasi rasio putamen- thalamus (rasio P/T) berdasarkan MRI 2D dengan volumetrik putamen (VP) dan thalamus (VT) berdasarkan MRI 3D.
Metode: Terdapat 64 subjek yang memenuhi kriteria dan 128 sampel organ putamen-thalamus yang dinilai. Analisis hubungan korelasi antara rasio P/T dengan VP dan rasio P/T dengan VT dilakukan dengan uji Pearson. Dilakukan juga analisis hubungan korelasi antara rasio P/T dengan volume putamen dan thalamus yang telah dikoreksi terhadap volume intrakranial (VPk dan VTk).
Hasil: Terdapat kekuatan korelasi yang lemah antara rasio P/T dengan VP (RPearson=0,43 p<0,001) dan korelasi moderat dengan VPk (RPearson=0,51 dan p<0,001). Terdapat korelasi sangat lemah antara rasio P/T dengan VT (RPearson=0,28 dan p=0,001) dan korelasi lemah dengan VTk (RPearson=0,34 dan p<0,001). Kesimpulan: Pengukuran rasio P/T memiliki korelasi dengan VP dengan kekuatan korelasi lemah dan meningkat menjadi sedang setelah dilakukan koreksi terhadap volume intrakranial. Sehingga adanya perubahan rasio P/T dapat mencerminkan adanya perubahan pada volume putamen. Namun rasio P/T memiliki kekuatan korelasi yang sangat lemah terhadap VT dan kekuatan korelasi lemah walaupun sudah dilakukan koreksi terhadap volume intrakranial. Sehingga adanya perubahan rasio P/T cenderung tidak memperlihatkan adanya perubahan pada VT.

Background: Measurement of the putamen-thalamus ratio, assessed by axial T2WI MRI, is performed to estimate putamen atrophy in patients with Parkinson's disease. This examination technique is simple and quick compared to the time-consuming three-dimensional volumetric measurements. However, no studies have compared this method to three-dimensional volumetric measurements of the putamen and thalamus.
Objective: Assessing the role of 2D MRI in measuring putamen volume in patients with parkinsonism and evaluating the correlation strength of the putamen-thalamus ratio (P/T ratio) based on 2D MRI with volumetric measurements of putamen (VP) and thalamus (VT) based on 3D MRI.
Methods: Sixty-four subjects met the criteria, resulting in 128 putamen-thalamus organ samples. The correlation analysis between the P/T ratio and VP, as well as the P/T ratio and VT, was conducted using Pearson's test. Additionally, the correlation analysis between the P/T ratio and putamen and thalamus volume corrected for intracranial volume (VPk and cVTk) was performed.
Results: There is a weak correlation between the P/T ratio and VP (RPearson = 0,43, p < 0,001) and a moderate correlation with VPk (RPearson = 0,51, p < 0,001). There is a very weak correlation between the P/T ratio and VT (RPearson= 0,28, p = 0.001) and a weak correlation with VTk (RPearson= 0,34, p < 0.001).
Conclusion: The measurement of the P/T ratio correlates with VP with a weak correlation strength, which increases to moderate after correction for intracranial volume. Thus, changes in the P/T ratio may reflect changes in putamen volume. However, the P/T ratio shows a very weak correlation with VT and a weak correlation even after correction for intracranial volume. Consequently, changes in the P/T ratio tend not to indicate changes in VT.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yulianto
"This study is to analyse the propered of Magnetic Resonance Imaging 1.5 Tesla in Radiology Departement of Dr Cipto Mangunkusumo General Hospital, analysis to present market aspect, management aspect, technology aspect, legal and finance aspect. Using Internal External Matrix and SWOT analysis, be continued to analyse finance aspect by cash flow projection, Net Present Value analysis and Internal Rate Of Return analysis. The result of this research presented Magnetic Resonance Imaging 1.5 Tesla service in Radiology Departement Of Dr Cipto Mangunkusumo General Hospital with NPV positive value and IRR above bank rate is proper, and be able to be existence.

Tesis ini menganalisis kelayakan dari Pelayanan MRI 1,5 Tesla yang akan diadakan di RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo, pada aspek pasar, manajemen organisasi, teknologi alat, hukum/ legalitas dan keuangan. Penelitian kualitatif pada desain deskriptif dengan melakukan analisis aspek-aspek kelayakan dan keuangan. Menggunakan alat analisis Matriks Internal Eksternal dan Diagram SWOT, dilanjutkan dengan analisis aspek keuangan menggunakan proyeksi Cash Flow serta analisis Net Present Value dan Internal Rate Of Return. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa Pelayanan Magnetic Resonance Imaging 1,5 Tesla di Departemen Radiologi RSUPN CM, dengan hasil Nilai NPV positip dan nilai IRR di atas suku bunga Bank, sudah layak untuk direalisasikan."
Depok: Universitas Indonesia, 2009
T41295
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Kartika Widya Rukmi
"ABSTRAK
Latar belakang : Insiden Adenokarsinoma di RSCM meningkat pada periode 2001-2006 dibanding periode sebelumnya 1995-2000 . Banyak penderita yang resisten terhadap pengobaan hormonal. Resistensi ini diduga akibat sel tumor mengalami transformasi Neuroendokrin. Akan dilakukan penelitian untuk melihat ekspresi Androgen Receptor AR dan Chromogranin A CgA pada adenokarsinoma prostat di RSCM tahun 2011-2015.Tujuan : Membuktikan korelasi ekspresi AR dan CgA dengan derajat keganasan.Metode : Studi potong lintang analitik terhadap 70 kasus adenokarsinoma prostat di departemen PA FKUI/RSCM tahun 2011-2015. Kasus dipulas imunohistokimia AR dan Cg A serta dilakukan interpretasi hasil. AR dinilai prosentase positivitasnya pada inti epitel dan stromal. CgA dinilai prosentase positivitasnya pada sitoplasma. Uji korelasi dilakukan untuk melihat kemaknaan dan kekuatan korelasi antar variabel terikat.Hasil : Karakteristik sampel usia 47,1 >70 tahun; diferensiasi histopatologik/skor gleason 42,9 buruk/>7, grade group 28,6 grade5 dan PSA 64,3 dalam rentang 11-100ng/ml. Ekspresi CgA berkorelasi negatif lemah dengan ekspresi AR epitel r=-0,288;p=0,016 . Ekspresi CgA tidak berkorelasi dengan ekspresi AR stromal p=0,886 . Terdapat hubungan bermakna ekspresi AR epitel dengan grade group p=0,003 . Tidak terdapat hubungan bermakna ekspresi AR epitel dengan usia, diferensiasi histopatologik/skor gleason dan PSA. Ekspresi CgA berhubungan bermakna dengan diferensiasi histopatologik/skor gleason dan grade group p=0,018;p=0,038 . Tidak terdapat hubungan bermakna ekspresi CgA dengan usia dan PSA. Ekspresi AR stromal tidak berhubungan bermakna dengan usia, diferensiasi histopatologik, grade group, skor gleason, maupun PSA.Kesimpulan : Terdapat korelasi yang lemah antara AR dan CgA sehingga pulasan AR dan CgA dapat dipakai untuk pemilihan terapi.

ABSTRACT
Background Prevalence of prostate adenocarcinoma doubled in 2001 2006 compared to 1995 2000 in RSCM. Many patients resistant to hormonal treatment. This resistance is thought to be due to tumor cells undergoing neuroendocrine transformation. Study will be conducted to analyze the expression of Androgen Receptor AR and Chromogranin A CgA in prostate adenocarcinoma at RSCM in 2011 2015. Objective To prove correlation of expression of AR and CgA with degree of malignancy. Methods A cross sectional study was carried out on 70 cases of prostate adenocarcinoma in department of Anatomic Pathology FKUI RSCM from 2011 2015. AR expressed in stromal and epithelial nuclei, CgA expressed in cytoplasm. Statistical tests used to discover significance and correlation between the dependent variables. Results Most samples are more than 70 years old 47,1 , has poor histologic gleason score 42.9 , are in clinical grade 5 28.6 , and has PSA score range between 11 100 ng ml. CgA expression negatively correlates to epithelial AR expression r 0,288 p 0.016 , while no correlation are found between CgA expression and stromal AR expression p 0.886 . There is significant difference between epithelial AR expression with grade group p 0.003 , but not with age, histopathologic differentiation Gleason score and PSA. There are significant difference between CgA expression and histopathologic differentiation grade group and Gleason score p 0.018 p 0.038 , but not with age and PSA. No significant difference observed between stromal AR expression with age, histopathologic differentiation gleason score, grade group or PSA. Conclusion There rsquo s a weak correlation between AR and CgA so that AR and CgA expression can be used for the selection of therapy. "
2017
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Denie Kartono
"Latar Belakang: CT scan orbita merupakan modalitas radiologi yang mudah dan efisien untuk menilai adanya penebalan otot ekstraokular pada penderita oftalmopati Graves. Penebalan otot ekstraokular memiliki korelasi dengan masing-masing derajat oftalmopati Graves. Di Indonesia, belum ada korelasi antara ketebalan otot ekstraokular dengan derajat oftalmopati Graves menurut klasifikasi NOSPECS.
Tujuan: Mendapatkan nilai korelasi antara ketebalan otot ekstraokular pada CT scan orbita dengan derajat oftalmopati Graves.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan metode consecutive sampling. Sampel penelitian berjumlah 89 orbita yang berasal dari 50 pasien penderita oftalmopati Graves yang telah menjalani pemeriksaan CT scan orbita di Departemen Radiologi RSUPN Cipto Mangunkusumo periode Januari 2012 hingga Desember 2016. Penelitian dilakukan sejak Februari hingga Maret 2017. Pengukuran ketebalan otot ekstraokular pada CT scan orbita dilakukan setelah meninjau ulang derajat oftalmopati Graves melalui hasil pemeriksaan oftalmologi.
Hasil: Terdapat perbedaan bermakna di antara rerata ketebalan otot ekstraokular menurut derajat oftalmopati Graves (p<0,05). Uji korelasi Spearman didapatkan korelasi yang bermakna dan nilai r yang bervariasi di antara ketebalan otot ekstraokular dengan derajat oftalmopati Graves. Nilai r=0,43 untuk rektus medial, r=0,37 untuk rektus lateral, r=0,49 untuk rektus superior, r=0,45 untuk rektus inferior dan r=0,57 untuk ketebalan total ekstraokular.
Kesimpulan: Terdapat korelasi positif sedang antara ketebalan otot ekstraokular pada CT scan orbita dengan derajat oftalmopati Graves.

Background: CT scan is an easy and efficient radiological modality to measure extraocular enlargement in the patient with Graves' ophthalmopathy disease. Extraocular muscles enlargements were had correlated with each grade of Graves' ophthalmopathy. In Indonesia, there is not yet a study about correlation between extraocular muscles diameter in orbital CT scan with Graves' ophthalmopathy severity based on NOCPECS classification.
Purpose: To obtain the correlation values between extraocular muscles diameter in orbital CT scan with Graves' ophthalmopathy severity.
Method: This study used a cross sectional design. Eighty nine samples from fifty patients with Graves' opthalmopathy were chosen using consecutive sampling from patients that underwent orbital CT scan at the Radiology Departement of the Indonesia University's Faculty of Medicine' Cipto Mangunkusumo Hospital from time periode January 2012 until December 2016. This study was done from February until March 2017. The measurement of extraocular muscles diameter in orbital CT scan was performed after had reviewed Graves' ophthalmopathy severity from ophthalmology examination on medical record.
Results: There are significantly differences between extraocular muscles diameter mean with Graves' ophthalmopathy severity (p<0,05). Spearman correlation test between extraocular muscles diameter with Graves' ophthalmopathy grading shows significant correlation with varied r values, r=0,43 for rectus medial, r=0,37 for rectus lateral, r=0,49 for rektus superior, r=0,45 for rectus inferior and r=0,57 for total diameters of extraocular muscles.
Conclusion: There is a moderate positive correlation between extraocular muscles diameter in orbital CT scan with Graves' ophthalmopathy severity."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Cahyo Wibisono
"Kanker adalah proliferasi sel yang abnormal dan berlebihan. Salah satu gejala kanker adalah rasa sakit. Faktor penting dalam mengelola nyeri kanker adalah melakukan nyeri yang akurat penilaian termasuk intensitas, lokasi, durasi, kualitas rasa sakit, dan upaya untuk mengurangi rasa sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi rasa sakit berdasarkan demografi pada kanker pasien di RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan pengambilan sampel berurutan dan diaplikasikan pada 395 sampel, yaitu rekam medis PT pasien kanker di atas usia 17 tahun yang telah dirawat di RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo sejak 2014 hingga 2019. Data dianalisis menggunakan proporsi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase wanita yang mengalami nyeri parah lebih tinggi daripada pria 51,1%. Kelompok usia 41-65 tahun memiliki rasa sakit yang lebih parah daripada kelompok lain dengan 50,6%. Jenis kanker paling menyakitkan yang ditemukan pada kanker leher dan kepala adalah 57,6%. Selagi kanker dengan kelompok stadium 4 memiliki rasa sakit yang lebih tinggi dibandingkan kelompok lain dengan 56,9%. Ini Studi merekomendasikan perlunya pedoman untuk penilaian nyeri, terutama di awal penilaian mengenai durasi, lokasi, dan kualitas nyeri sehingga penilaian nyeri bisa lebih akurat.

Cancer is an abnormal and excessive cell proliferation. One symptom of cancer is pain. Important factors in managing cancer pain are conducting accurate pain assessments including intensity, location, duration, quality of pain, and efforts to reduce pain. This study aims to identify pain based on demographics in cancer patients in Dr. Cipto Mangunkusumo General Hospital. This study used a cross sectional design with sequential sampling and was applied to 395 samples, namely the medical records of PT cancer patients over the age of 17 who had been treated at Dr Cipto Mangunkusumo General Hospital from 2014 to 2019. Data were analyzed using proportions.
The results showed that the percentage of women who experienced severe pain was higher than men 51.1%. The 41-65 year age group had more severe pain than the other group with 50.6%. The most painful type of cancer found in neck and head cancer is 57.6%. While cancers with the stage 4 group had higher pain than other groups with 56.9%. This study recommends the need for guidelines for pain assessment, especially in the initial assessment regarding the duration, location, and quality of pain so that pain assessment can be more accurate.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Isnaniah
"[ABSTRAK
Pendahuluan: Osteopontin merupakan salah satu penanda molekuler hipoksia
endogen tumor. Hipoksia adalah salah satu faktor yang menentukan agresifitas
penyakit. Kadar osteopontin tinggi pada berbagai keganasan termasuk glioma
maligna. Peningkatan kadar osteopontin akan menyebabkan respon terapi berkurang.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara kadar osteopontin praradiasi
dengan respon radiasi pada glioma maligna.
Metode: Penelitian ini merupakan studi retrospektif kohort terhadap 15 pasien
maligna glioma yang menjalani terapi radiasi dari juli 2004 sampai mei 2015 di
RSUPN. DR. Cipto Mangunkusumo. Osteopontin diperiksa menggunakan metode
ELISA dari sampel parafin blok. Volume tumor dihitung dari CT scan atau MRI
berdasarkan pengukuran volume tiga dimensi. Respon tumor dinilai dengan
membandingkan volume tumor sebelum dan sesudah radiasi dengan menggunakan
CT dan MRI.
Hasil: Didapatkan rerata kadar osteopontin sebesar 0,49 ± 0,45 ng/ml, rerata
persentase perubahan volume tumor 8,59 ± 54,22 %. Volume tumor yang membesar
60%. Tumor yang progresif sebesar 26,7%. Secara keseluruhan terdapat korelasi
negatif lemah yang tidak bermakna ( r -0,39 dan p 0,146 ) antara kadar osteopontin
dengan respon radiasi. Terdapat korelasi positif kuat yang tidak bermakna ( r +0,68
dan p 0,219 ) antara kadar osteopontin dengan respon radiasi pada kelompok yang
menggunakan kemosensitizer temozolamide.
Kesimpulan: Terdapat korelasi negatif lemah yang tidak bermakna antara kadar
osteopontin dengan respon radiasi. Terdapat korelasi positif kuat yang tidak
bermakna antara kadar osteopontin dengan respon radiasi pada kelompok yang
menggunakan kemosensitizer temozolamide.

ABSTRACT
Introduction : Osteopontin is an endogenous molecular marker of tumor hypoxia,
which is one of factors that determine the aggressiveness of the disease. Increased
level of osteopontin will decrease therapeutic response which will eventually
influence the success of therapy.The purpose of this study is to determine the
correlation between osteopontin level and radiation response in malignant glioma.
Method : This is a retrospective cohort study of 15 malignant glioma patients who
underwent radiation from July 2004 to May 2015 at Cipto Mangunkusumo Hospital.
Osteopontin level was measured with ELISA from paraffin embedded tissue. Tumor
volume was calculated by measuring three dimensional volume of tumor imaging
from CT or MRI. Tumor response was evaluated by comparing pre-irradiation with
post-irradiation tumor volume seen in CT and MRI.
Result : The mean osteopontin level was 0.49 ± 0.45 ng/ml and the mean percentage
of change in tumor volume was 8.59 ± 54.22 %. Enlargement of tumor volume was
60 %. Progressive disease was found in 26.7 % of patients. Overall, there was an
insignificant weak negative correlation (r -0.39 and p 0.146) between level of
osteopontin and radiation response. There was an insignificant strong positive
correlation (r +0.68 and p 0.219) between level of osteopontin and radiation response
in the group that received radiation therapy concurrent with temozolamide.
Conclusion : Overall, there was an insignificant weak negative correlation between
level of osteopontin and radiation response. In the group that received radiation
therapy concurrent with temozolamide, there was an insignificant strong positive
correlation between level of osteopontin and radiation response, Introduction : Osteopontin is an endogenous molecular marker of tumor hypoxia,
which is one of factors that determine the aggressiveness of the disease. Increased
level of osteopontin will decrease therapeutic response which will eventually
influence the success of therapy.The purpose of this study is to determine the
correlation between osteopontin level and radiation response in malignant glioma.
Method : This is a retrospective cohort study of 15 malignant glioma patients who
underwent radiation from July 2004 to May 2015 at Cipto Mangunkusumo Hospital.
Osteopontin level was measured with ELISA from paraffin embedded tissue. Tumor
volume was calculated by measuring three dimensional volume of tumor imaging
from CT or MRI. Tumor response was evaluated by comparing pre-irradiation with
post-irradiation tumor volume seen in CT and MRI.
Result : The mean osteopontin level was 0.49 ± 0.45 ng/ml and the mean percentage
of change in tumor volume was 8.59 ± 54.22 %. Enlargement of tumor volume was
60 %. Progressive disease was found in 26.7 % of patients. Overall, there was an
insignificant weak negative correlation (r -0.39 and p 0.146) between level of
osteopontin and radiation response. There was an insignificant strong positive
correlation (r +0.68 and p 0.219) between level of osteopontin and radiation response
in the group that received radiation therapy concurrent with temozolamide.
Conclusion : Overall, there was an insignificant weak negative correlation between
level of osteopontin and radiation response. In the group that received radiation
therapy concurrent with temozolamide, there was an insignificant strong positive
correlation between level of osteopontin and radiation response]"
2015
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Norma Mediciani
"ABSTRAK
Epilepsi lobus temporal mesial adalah sindrom epilepsi yang banyak diderita oleh dewasa yang sering mengalami refrakter dalam pengobatan. Atrofi hipokampus yang terlihat melalui MRI kepala dapat ditemukan sebanyak 87% pada pasien epilepsi lobus temporal mesial dan memiliki respon yang baik dengan operasi epilepsi. Salah satu syarat operasi epilepsi adalah EEG monitoring untuk mencari EEG iktal untuk mencari fokus epileptik, walaupun sudah didapatkan adanya gelombang interiktal sebelumnya.
Tujuan: Untuk mengetahui hubungan dan kesesuaian antara abnormalitas gelombang EEG dengan sisi atrofi hipokampus dan untuk mengetahui prevalensi atrofi hipokampus pada epilepsi lobus temporal mesial.
Metode: Penelitian ini adalah penelitian potong lintang dengan 37 subyek epilepsi lobus temporal mesial, yang terbukti secara klinis dan EEG. Dilakukan pemeriksaan MRI kepala 1,5T untuk melihat ada atau tidaknya atrofi hipokampus secara visual. Kemudian dibandingkan antara abnormalitas gelombang EEG interiktal dengan sisi atrofi hipokampus. Onset usia bangkitan, frekuensi bangkitan, riwayat kejang demam, lama menderita epilepsi dan penggunaan obat entiepilepsi dianalisis sebagai data demografi klinis.
Hasil: Prevalensi atrofi hipokampus sebesar 64,8% dengan 64,8% subyek ditemukan gambaran EEG berupa gelombang epileptiform dan 45,8% gelombang lambat. Didapatkan kesesuaian yang kuat antara lateralisasi EEG interiktal, yaitu gelombang epileptiform, dengan MRI (p 0,000; nilai kappa 1,00) dan didapatkan keseuaian yang lemah antara gelombang lambat dengan atrofi hipokampus (p 0,500; nilai kappa 0,689, p 0,008).
Simpulan: Pada penelitian ini, didapatkan keseuaian yang kuat antara lateralisasi gelombang epileptiform dengan sisi atrofi hipokampus dan kesesuaian yang lemah antara gelombang lambat dengan sisi atrofi hipokampus.

ABSTRACT
Mesial temporal lobe epilepsy (mTLE) is the most common epilepsy syndrome in adults and often refractory in medical treatment. The Magnetic resonance imaging (MRI) showed hippocampal atrophy present in 87% patients with mesial temporal lobe epilepsy and have good respons with surgery. EEG monitoring is needed to find ictal EEG although interictal EEG already obtained as one of the requirements of epilepsy surgery for localize the epileptic region.
Objective: To investigate the concordance between abnormalities EEG and side of hippocampal atrophy in patients with mesial temporal lobe epilepsy. To determine prevalance of hippocampal atrophy.
Methods: We reviewed 37 consecutive patients with mesial temporal lobe epilepsy defined by clinical and EEG criteria and had 1,5T MRI visually analyzed by radiologist. We compared the interictal EEG and side of hippocampal atrophy. Age of seizure onset, seizure frequency, history of febrile seizure, antiepileptic drug and duration of epilepsy were analyzed as clinical demographic data.
Results: The prevalence hippocampal atrophy was 64,8%. With 64,8% had epileptiform discharge and 45,8% had slow wave associated with hippocampal atrophy. There was significant concordance between MRI lateralization and interictal EEG (p 0,000, Kappa value 1,00). There was weak concordance between hippocampal atrophy and focal slow wave (p 0,500; Kappa value 0,689, p 0,008).
Conclusions: We found strong concordance between MRI lateralization and interictal EEG in patients with mTLE and weak concordance between hippocampal atrophy and interictal slow wave.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Alfathiah Safanissa
"Latar Belakang
Refleks okulokardiak (OCR) dapat menyebabkan penurunan denyut jantung signifikan dan peningkatan risiko mual muntah pascabedah. Kejadian refleks okulokardiak dilaporkan berkisar antara 14% hingga 90% yang dipengaruhi oleh agen anestesi, premedikasi, dan proses saat operasi.2 Terdapat banyak faktor yang memengaruhi kejadian refleks okulokardiak. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor yang memengaruhi refleks okulokardiak pada pembedahan mata di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo yang merupakan rumah sakit rujukan dengan karakteristik pasien yang bervariasi
Metode
Penelitian ini adalah penelitian analitik dengan desain potong lintang, menggunakan data pasien pembedahan mata dengan anestesi umum di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo periode Mei 2023 - Februari 2024. Analisis perbedaan kelompok dengan OCR dan tanpa OCR dilakukan dengan uji Mann Whitney dan chi-square. Analisis multivariat dengan regresi logistik metode backward dilakukan pada variabel yang dianggap memiliki pengaruh yang signifikan dengan refleks okulokardiak.
Hasil
Dari 178 data pasien yang terkumpul dilakukan eksklusi sehingga terdapat 165 pasien yang dianalisis. Faktor usia anak (0-18 tahun) memiliki OR=0,143 (p=0,015), strabismus memiliki OR 14,843 (p=0,000), konsentrasi agen anestesi inhalasi (sevoflurane dan desflurane) < 1 MAC memiliki OR 5,070 (p=0,004) berpengaruh secara signifikan dengan kejadian OCR. Namun, dosis opioid tidak terbukti signifikan berpengaruh dengan kejadian OCR (p=0,840)
Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara usia, jenis bedah, dan konsentrasi agen anestesi inhalasi terhadap kejadian refleks okulokardiak pada anestesi pembedahan mata di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo.

Introduction
The oculocardiac reflex (OCR) can cause a significant decrease in heart rate and increase the risk of postoperative nausea and vomiting. Many factors influence the occurrence of OCR. The incidence of OCR ranges from 14% to 90%, depending on the anesthetic agents, premedication, and surgical procedure. This study aims to identify the factors influencing OCR during eye surgery anesthesia at RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, a referral hospital with a diverse patient population.
Method
This was an analytical study with a cross-sectional design, using data from patients undergoing eye surgery under general anesthesia at Dr. Cipto Mangunkusumo National Central General Hospital from May 2023 to February 2024. The association was analyzed using the Mann-Whitney test and chi-square test. Multivariate analysis with the backward logistic regression method was performed on variables considered to have a significant relationship with the oculocardiac reflex.
Results
178 patient records collected and 165 patients of it were analyzed after exclusions. Younger age (0-18 years) was significantly associated with OCR (OR=0.143, p=0.015), as well as strabismus surgery (OR=14.843, p=0.000) and concentration of inhalation anesthetic (sevoflurane and desflurane) ≤ 1 MAC (OR=5.070, p=0.004). However, opioid dosage did not show a significant association with OCR (p=0.840). Conclusion This study shows a significant influence between age, type of surgery, and concentration of inhalation anesthetic with the incidence of OCR in eye surgeries anesthesia at RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>