Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 108279 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Fathan Nuha Octovan
"Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan pengaruh saliva buatan dengan pH 4,5 terhadap kekerasan dari material restoratif bioaktif. Metode penelitian: Dalam penelitian ini dilakukan penelitian menggunakan material restorative bioaktif, Activa Bioactive (RMGI), Cention-N (RK Alkasit), Fuji II LC (RMGIC), Zirconomer (Zirconia reinforced Glass Ionomer) , dan Beautifill II LS (Giomer). Masing-masing specimen material tersebut dengan ukuran diameter 15 mm dengan tinggi 1 mm direndam dalam saliva buatan pH 4,5 selama 7 hari. Setelah 7 hari, specimen dilakukan uji kekerasan menggunakan Knoop Hardness test dengan 5 jejas per spesimen. Kemudian hasil pengujian dilakukan uji normalitas Shapiro-Wilk, dilanjutkan dengan One-Way Anova. Lalu dilakukan uji homogenitas Levene dan dilanjutkan uji Post-hoc Tamhane. Hasil: Terdapat perbedaan bermakna pada nilai kekerasan di antara material restoratif bioaktif yang diuji (One way anova, p<0,05). Dengan nilai tertinggi pada material Cention-N dan terendah material Activa Bioactive. Pada uji Post-hoc Tamhane didapati perbedaan bermakna, kecuali antara Beautifill II LS dengan Zirconomer. Kesimpulan: Setelah dilakukan perendaman pada saliva dengan pH 4,5, material Cention N memiliki nilai kekerasan tertinggi dan Material Activa yang terendah.

Objective: This study aims to compare the effect of artificial saliva with pH 4.5 on the microhardness of bioactive restorative materials. Method: In this study, research was carried out using restorative bioactive materials, Activa Bioactive (RMGI), Cention N (RK Alkasit), Fuji II LC (RMGIC), Zirconomer (Zirconia reinforced Glass Ionomer), and Beautifill II LS (Giomer). Each specimen of the materials are made with a diameter of 15 mm and a height of 1 mm, and were immersed in artificial saliva pH 4.5 for 7 days. After 7 days the material was subjected to a microhardness tester using the Knoop Hardness test with 5 per specimen of materials. Statistic analysis were performed using Shapiro-Wilk normality test, followed by One-Way Anova. Then the Levene homogeneity test was carried out and continued with the Post-hoc Tamhane test. Result: There was a significant difference in the hardness value between bioactive restorative materials (One way ANOVA, p <0.05). With the highest value for the Cention-N material and the lowest for Activa Bioactive material. In the Post-hoc Tamhane test, there was a significant difference, except between Beautifill II LS and Zirconomer. Conclusion: After soaking in saliva with a pH of 4.5, the Cention N material had the highest hardness value and the lowest Activa Material."
Depok: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Martin Dharma
"Latar Belakang: Saat ini, material restoratif bioaktif Giomer, komposit resin alkasit, dan semen ionomer kaca modifikasi resin (SIKMR) telah digunakan dalam praktik kedokteran gigi. Dalam rongga mulut, material restoratif bioaktif akan menahan gaya dari pengunyahan dan menghadapi perubahan pH. Oleh karena itu, dilakukan penelitian mengenai pengaruh pH saliva buatan terhadap kuat tekan material restoratif bioaktif. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan nilai kuat tekan lima material restoratif bioaktif setelah perendaman dalam saliva buatan dengan pH 7 dan 4,5. Metode: Lima kelompok material digunakan dalam penelitian ini: Giomer Beautifil II LS, Zirconomer Improved, Cention N, Activa Bioactive Restorative, dan Fuji II LC Capsule. Dua belas spesimen berbentuk silinder dengan diameter 4 mm dan tinggi 6 mm dari tiap material dibagi menjadi dua kelompok perlakuan, yaitu perendaman dalam saliva buatan pH 7 dan 4,5 selama 7 hari. Spesimen diuji menggunakan Universal Testing Machine (Shimadzu AGS-X 5kN, Japan) dengan crosshead speed 0,5 mm/menit. Hasil: Hasil uji statistik menunjukkan hanya Activa Bioactive Restorative yang memiliki nilai kuat tekan setelah perendaman dalam saliva buatan pH 4,5 lebih rendah secara bermakna dari pH 7. Kesimpulan: Nilai kuat tekan material restoratif bioaktif Giomer, komposit resin alkasit, dan SIKMR secara umum tidak lebih rendah dalam saliva buatan pH 4,5 dibanding dengan pH 7.

Background: Currently, bioactive restorative materials of Giomer, alkasite composite resin, and resin modified glass ionomer cement (RMGIC) are being used in dental practice. In the oral cavity, bioactive restorative materials will resist the load from mastication and face changes in pH. Therefore, a study on the effect of pH of artificial saliva on the compressive strength of bioactive restorative materials was conducted. Objective: This study aims to determine the differences in the compressive strength of five bioactive restorative materials after immersion in artificial saliva with a pH of 7 and 4.5. Methods: Five groups of materials were used in this study: Giomer Beautifil II LS, Zirconomer Improved, Cention N, Activa Bioactive Restorative, and Fuji II LC Capsule. Twelve cylindrical specimens with a diameter of 4 mm and a height of 6 mm of each material were divided into two groups, namely immersion in artificial saliva with a pH of 7 and 4.5 for 7 days. The specimens were tested using a Universal Testing Machine (Shimadzu AGS-X 5kN, Japan) with a crosshead speed of 0.5 mm/minute. Result:. Statistical tests showed that only Activa Bioactive Restorative had a compressive strength value after immersion in artificial saliva with a pH of 4.5 was significantly lower than pH of 7. Conclusion: The compressive strength values of bioactive restorative materials of Giomer, alkasite composite resin, and RMGIC were generally not lower in artificial saliva with a pH of 4.5 than in pH of 7."
Depok: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2021
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Eikla Luwlu Yasmina
"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama perendaman dalam berbagai pH saliva buatan terhadap kekerasan permukaan material restoratif glass hybrid (EQUIA® FORTE Glass Hybrid Restorative System, GC Corporation, Japan). Jumlah spesimen 90 buah terbagi dalam sembilan kelompok perlakuan yaitu perendaman dalam saliva buatan dengan pH 4,5; 5,5; dan 7 dengan waktu perendaman masing-masing 1 jam, 24 jam, dan 72 jam pada suhu 37oC. Uji kekerasan permukaan menggunakan Knoop Microhardness Tester (Shimadzu HMV-G Micro Hardness Tester, Japan) dengan beban 50 gram selama 15 detik sebanyak 5 indentasi pada tiap spesimen. Hasil data dianalisis statistik dengan One-way ANOVA (p<0,05).
Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan bermakna pada setiap kelompok perlakuan yaitu nilai kekerasan pada perendaman dengan larutan saliva buatan pH 4,5 dan lama perendaman 1 jam, 24 jam, dan 72 jam berturut-turut adalah sebesar 69,48 0,57 KHN, 54,76 0,23 KHN, dan 42,90 0,41 KHN. Sementara itu, nilai kekerasan dengan saliva buatan pH 5,5 dan lama perendaman 1 jam, 24 jam, dan 72 jam berturut-turut adalah sebesar 75,34 0,32 KHN, 57,45 0,47 KHN, dan 45,84 0,27 KHN. Dengan larutan saliva buatan pH 7 dan lama perendaman 1 jam, 24 jam, dan 72 jam didapatkan nilai kekerasan berturut-turut adalah 82,89 0,68 KHN, 62,49 0,37 KHN, dan 49,84 0,14 KHN. Disimpulkan bahwa dengan menurunnya pH saliva buatan dan semakin lamanya perendaman dapat menurunkan nilai kekerasan permukaan material restoratif glass hybrid.

This study aims to determine the effect of immersion time in various pH of artificial saliva on the surface hardness of glass hybrid restorative materials (EQUIA® FORTE Glass Hybrid Restorative System, GC Corporation, Japan). There were 90 specimens (diameter 6mm, thickness 3mm), and the specimens were divided into nine groups immersed in artificial saliva with pH 4,5; 5,5; and 7 for 1 hour, 24 hours, and 72 hours at 37oC respectively. The surface hardness of each specimens were tested using Knoop Microhardness Tester (Shimadzu HMV-G Micro Hardness Tester, Japan) with 50 grams load for 15 seconds, with 5 indentations on each specimens. The statistical analysis using One-way ANOVA (p<0,05) showed that there were significant differences between each groups.
The result showed that the hardness number of the groups immersed in artificial saliva pH 4,5 for 1 hour, 24 hours, and 72 hours respectively are 69,48 0,57 KHN, 54,76 0,23 KHN, and 42,90 0,41 KHN. Meanwhile, the hardness number of the groups immersed in artificial saliva pH 5,5 for 1 hour, 24 hours, and 72 hours respectively are 75,34 0,32 KHN, 57,45 0,47 KHN, and 45,84 0,27 KHN. With artificial saliva of pH 7 for 1 hour, 24 hours, and 72 hours, the hardness number are 82,89 0,68 KHN, 62,49 0,37 KHN, and 49,84 0,14 KHN. It can be concluded that the lower pH value of artificial saliva and prolonged immersion time can reduce the surface hardness value of glass hybrid restorative materials.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Windy Almyra Hanyouri
"Saliva di dalam rongga mulut merupakan agen perlindungan alami karena memiliki kapasitas penyangga yang mampu menetralkan asam yang dihasilkan oleh mikroorganisme asidogenik. Seiring dengan perkembangan material restoratif, beberapa material bioaktif baru dikembangkan yang memiliki kemampuan untuk bereaksi terhadap perubahan dalam lingkungan mulut, dengan melepaskan sejumlah ion kalsium, fosfat, hidroksil, dan fluor terutama dalam kondisi asam. Oleh karena itu, maka akan lebih menguntungkan jika material restoratif bioaktif memiliki karakteristik kapasitas penyangga seperti yang dimiliki oleh saliva. Hal ini dapat memicu remineralisasi gigi dan lingkungan sekitarnya, sehingga perkembangan karies akibat suasana asam dapat dikurangi. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan membandingkan kapasitas penyangga yang dimiliki oleh material restoratif bioaktif dalam larutan kariogenik (saliva buatan pH 4,7) selama 30 menit, 60 menit, 90 menit, 120 menit, dan 150 menit. Material restoratif bioaktif yang digunakan pada penelitian ini adalah Giomer, Activa (Activa Bioactive Restorative), Cention N (Alkasit Composite Resin), Fuji II LC (RMGIC), dan Zirconomer Improved. Penelitian eksperimental laboratorik menggunakan 30 spesimen yang terdiri dari 5 kelompok material restoratif bioaktif. Spesimen berbentuk lempeng dengan diameter 15 mm dan ketebalan 1 mm yang direndam dalam 10 ml saliva buatan (pH 4,7) kemudian disimpan dalam inkubator dengan suhu (37 ± 1)oC. Uji kapasitas penyangga menggunakan pH meter (Thermo Scientific Orion Star A211 Benchtop) untuk melihat perubahan nilai pH saliva buatan setiap 30 menit sampai 150 menit. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan nilai pH saliva buatan pada seluruh kelompok material seiring dengan waktu perendaman. Berdasarkan Uji One-Way ANOVA serta Post Hoc Bonferroni dan Tamhane, terdapat perbedaan bermakna antar kelima material restoratif bioaktif, seiring dengan waktu perendaman. Namun, hanya antara material Giomer dan Activa Bioactive tidak terdapat perbedaan bermakna. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa material restoratif bioaktif, yaitu Giomer, Activa Bioactive, Cention N, Fuji II LC, dan Zirconomer Improved memiliki kapasitas penyangga yang dapat meningkatkan pH saliva buatan (pH 4,7) ke arah lebih netral dalam 150 menit perendaman.

Saliva in the oral cavity is a natural protective agent because it has a buffering capacity that is able to neutralize acids that produced by acidogenic microorganisms. Along with the development of restorative materials, several new bioactive materials were developed with the ability to react changes in the oral environment, by releasing a number of calcium, phosphate, hydroxyl and fluoride ions especially in acidic conditions. Therefore, it would be more advantageous if the bioactive restorative material had the buffer capacity characteristic as owned by saliva. This can induce remineralization of the teeth and the surrounding environment, so that the development of caries due to an acidic condition can be reduced. The aim of this research was to observe and compare the buffer capacity owned by bioactive restorative materials in cariogenic solutions (artificial saliva pH 4.7) during 30 minutes, 60 minutes, 90 minutes, 120 minutes, and 150 minutes. The bioactive restorative materials used in this study were Giomer, Activa (Activa Bioactive Restorative), Cention N (Alcasite Composite Resin), Fuji II LC (RMGIC), and Improved Zirconomers. The experimental research laboratory used 30 specimens consisting of 5 groups of bioactive restorative materials. Disk-shaped specimens with a diameter of 15 mm and a thickness of 1 mm were immersed in 10 ml of artificial saliva (pH 4.7) and then stored in an incubator at a temperature of (37 ± 1)oC. Buffer capacity test was conducted using a pH meter (Thermo Scientific Orion Star A211 Benchtop) to see changes in the pH value of artificial saliva every 30 minutes until 150 minutes. The results showed an increase in the pH value of artificial saliva in all groups of materials along with the immersion time. Based on the One-Way ANOVA also Post Hoc Bonferroni and Tamhane tests, showed that there were significant differences between the five materials along with the immersion time. However, only between Giomer and Activa Bioactive material there were no significant differences. Based on the research results, it can be concluded that the bioactive restorative material, namely Giomer, Activa Bioactive, Cention N, Fuji II LC, and Improved Zirconomer have a buffering capacity that can increase the pH of artificial saliva (pH 4.7) towards a more neutral direction within 150 minutes of immersion"
Depok: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fajar Nurrachman
"Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan nilai kekerasan resin komposit microhybrid G-aenial Posterior™ setelah perendaman dalam saliva buatan dengan pH 4,5; 5,5; dan 7 selama 1 hari dan 7 hari.Metode Penelitian: Dalam penelitian ini digunakan 36 spesimen resin komposit microhybrid G-aenial Posterior™ berbentuk silinder dengan ukuran diameter 6 mm dan tebal 2 mm. Selembar mylar strip diletakkan diatas permukaan resin komposit sebelum dilakukan proses curing. Polimerisasi dilakukan menggunakan Light Curing Unit (LED DBA iLed) selama 10 detik dengan irradiansi 1200 mW/cm2. Setelah polimerisasi, spesimen direndam dalam akuades pada suhu 37oC selama 24 jam. Spesimen dibagi menjadi enam kelompok (n = 6) yaitu; perendaman pada saliva buatan pH 4,5 selama 1 hari, saliva buatan pH 5,5 selama 1 hari, saliva buatan pH 7 selama 1 hari, saliva buatan pH 4,5 selama 7 hari, saliva buatan pH 5,5 selama 7 hari, dan saliva buatan pH 7 selama 7 hari. Spesimen diuji menggunakan HMV-G Series Micro Vickers Hardness Tester (Shimadzu, Jepang) dengan beban 50 gram selama 15 detik untuk mendapatkan nilai kekerasan. Data dianalisis dengan uji statistik One-Way ANOVA dan Post-Hoc Bonferroni. Hasil Penelitian: Hasil uji statistik menunjukkan penurunan bermakna nilai kekerasan material G-aenial PosteriorTM setelah dilakukan perendaman selama 1 dan 7 hari dalam saliva buatan dengan pH 4,5; 5,5; dan 7. Nilai kekerasan tertinggi terlihat pada resin komposit microhybrid G-aenial Posterior™ setelah perendaman 1 hari pada pH saliva buatan pH 7 yaitu sebesar 19,14 ± 0,61 VHN. Sedangkan nilai kekerasan terendah terlihat pada resin komposit microhybrid G-aenial Posterior™ setelah perendaman 7 hari pada pH saliva buatan pH 4,5 yaitu sebesar 14,37 ± 0,31 VHN. Kesimpulan: Disimpulkan bahwa dengan pertambahan waktu perendaman, dan penurunan pH saliva buatan didapatkan nilai kekerasan yang menurun pada resin komposit microhybrid G-aenial PosteriorTM.

Objective: The aim of this study was to determine the difference of Microhybrid G-Aenial Posterior™ Composite Resin hardness value after immersion in artificial saliva with pH 4.5; 5.5; and 7 for 1 day and 7 days. Method: 36 specimens of Microhybrid G-Aenial Posterior™ Composite Resin were used in this study. All materials were prepared into disk-shaped specimens of 6 mm in diameter and 2 mm in thickness. A piece of mylar strip was placed on the top of the specimens just before the polymerization. Polymerization was done using LED curing unit (LED DBA iLed) in 10 seconds with irradiance 1200 mW/cm2. After polymerization, specimens were immersed in 37C aquadest solution for 24 hours. Specimens were divided into six groups (n=6) immersed with artificial saliva pH 4,5 in a day; pH 5,5 in a day; pH 7 in a day; pH 4,5 in 7 days; pH 5,5 in 7 days; and pH 7 in 7 days. Specimens were tested with HMV-G Series Micro Vickers Hardness Tester (Shimadzu, Japan) with 50 gram indentation in 15 seconds. Data were analyzed using One-Way ANOVA and Post-Hoc Bonferroni to assess the significant differences among groups. Result: The result showed hardness significant decreased of G-aenial PosteriorTM after were immersed in 1 and 7 days in 4,5; 5,5; dan 7 pH of artificial saliva. The highest and lowest hardness value seen in microhybrid G-aenial Posterior™ composite resin after were immersed in one day with pH 7 of artificial saliva (19,14 ± 0,61 VHN) and 7 days with pH 4,5 (14,37 ± 0,31 VHN) respectively. Conclusion: It was concluded that the increased immersion time and the decrease in the pH value of the artificial saliva decreased the hardness value of the G-aenial PosteriorTM microhybrid composite resin."
Depok: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Marisa Amini
"ABSTRAK
Dalam penggunaannya di rongga mulut, resin komposit dapat mengalami degradasi oleh asam, terutama pada pasien dengan resiko karies tinggi. Resin komposit alkasit merupakan material dual-cured yang berbasis UDMA dan mampu melepaskan ion fluor, kalsium, dan hidroksida. Adanya ion hidroksida yang dilepaskan diketahui dapat menetralkan suasana asam. Namun, belum diketahui bagaimana pengaruh pH saliva buatan terutama pH kristis hidroksiapatit dan fluoroapatit terhadap sifat kekerasan resin komposit alkasit. Penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh pH saliva buatan terhadap kekerasan resin komposit alkasit polimerisasi kimia dan cahaya. Penelitian berupa eksperimental laboratorik dengan menggunakan masing-masing 48 spesimen resin komposit alkasit (Cention-N, Ivoclar-Vivadent, Liechstenstein) polimerisasi kimia dan cahaya. Spesimen berbentuk silindris dengan diameter 6 mm dan tinggi 2 mm yang dibagi menjadi 16 kelompok perendaman. Perendaman dilakukan pada pH saliva buatan 4,5 dan 5,5 dengan lama perendaman 1, 3, 5, dan 7 hari di dalam inkubator dengan suhu 37°C. Uji kekerasan menggunakan Knoop Microhardness Tester (HMV-G Shimadzu). Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan kekerasan pada resin komposit alkasit polimerisasi kimia dan cahaya setelah dilakukan perendaman selama 1, 3, 5, dan 7 hari dalam saliva buatan dengan pH 4,5 dan 5,5. Nilai kekerasan tertinggi terlihat pada resin komposit alkasit polimerisasi cahaya setelah perendaman 1 hari pada pH saliva buatan 5,5 yaitu 58,41±0,23 KHN. Sedangkan nilai kekerasan terendah terlihat pada resin komposit alkasit polimerisasi kimia setelah perendaman 7 hari pada pH saliva buatan 4,5 yaitu 47,38±0,49 KHN. Berdasarkan uji statistik One-way Anova terdapat perbedaan bermakna (p<0,05) antar kelompok lama perendaman pada pH saliva buatan 4,5 dan 5,5. Hasil uji statistik Independent T-test menunjukkan terdapat perbedaan bermakna (p<0,05) antar kelompok pH saliva buatan dan antar kelompok metode polimerisasi. Dapat disimpulkan bahwa terdapat penurunan nilai kekerasan resin komposit alkasit seiring dengan semakin rendahnya pH saliva buatan dan semakin lamanya perendaman dengan penurunan terbesar pada perendaman 1 hari pertama.

ABSTRACT
In its application in the oral cavity, composite resins can be degraded by acids, especially in patients with a high caries risk. Alkasite composite resin is a dual-cured material based on UDMA and capable of releasing fluoride, calcium, and hydroxide ions. The presence of hydroxide ion which released to its environtment can neutralize the acidic condition. However, it has not yet determined how saliva pH, especially the critical saliva pH for hydroxyapatite and fluoroapatite, affects the hardness properties of alkasite composite resins. The aim of this study was to determine the effect of artificial saliva pH on the hardness of self-cured and dual-cured alkasite composite resin. This laboratory study used 48 cylindrical-shaped specimens with 6 mm in diameter and 2 mm in thickness of alkasite composite resin specimens (Cention-N, Ivoclar-Vivadent, Liechstenstein) for each polymerization methods. The specimens were divided into 16 groups for immersion in artificial saliva pH 4.5 and 5.5 and then stored in an incubator at 37°C for the next 1, 3, 5, 7 days. The hardness test was performed using a Knoop Microhardness Tester (HMV-G Shimadzu). The results showed that the hardness of self-cured and dual-cured alkasite composite resins decreased after immersion. The highest hardness value was seen in dual-cured alkasite composite resin after 1 day immersion in artificial saliva pH of 5.5 (58.41 ± 0.23 KHN). While the lowest hardness value was seen in the self-cured alkasite composite resin after 7 days immersion in artificial saliva pH 4.5 (47.38 ± 0.49 KHN). Based on the One-way Anova statistical test, there were significant differences (p <0.05) between the different immersion time groups in each artificial saliva pH. The results of the Independent T-test statistical test showed that there were significant differences (p <0.05) between the artificial saliva pH groups and between polymerization methods groups. It was concluded that there was a decrease in the hardness of alkasite composite resin along with the lower pH of artificial saliva and the increasing immersion time. The greatest decrease occured in the first day of immersion."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Christhania Cornelius
"ABSTRAK
Resin komposit alkasit mampu melepaskan ion hidroksida sehingga dapat mempertahankan pH netral saliva. Ion yang dilepaskan lebih banyak pada suasana asam. Resin komposit alkasit dapat dipolimerisasi secara kimia dan/atau menggunakan sinar. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan resin komposit alkasit polimerisasi kimia dan sinar dalam menetralkan saliva buatan. Jumlah spesimen 96 buah dibagi menjadi 16 kelompok perlakuan yang terdiri dari 2 kelompok saliva buatan (pH 4,5 dan 5,5), 2 kelompok metode polimerisasi (kimia dan sinar), dan 4 kelompok waktu perendaman (1, 3, 5, dan 7 hari). Spesimen berbentuk lempeng dengan diameter 15 mm dan tebal 1 mm yang direndam dalam 5 ml saliva buatan dan disimpan dalam inkubator bersuhu 37˚C. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pH saliva buatan pada seluruh kelompok perlakuan seiring dengan waktu perendaman. Berdasarkan uji statistik Independent T test dan Mann Whitney U, secara umum tidak terdapat perbedaan bermakna dalam meningkatkan pH saliva buatan antara kelompok metode polimerisasi kimia dan sinar. Sedangkan, terdapat perbedaan bermakna kenaikan pH saliva buatan pada kelompok yang direndam pada saliva buatan pH 4,5 dan 5,5. Dapat disimpulkan bahwa kemampuan resin komposit alkasit polimerisasi kimia dan sinar sama baik dalam meningkatkan pH saliva buatan hingga hari ke 7, terutama dalam suasana yang lebih asam.

ABSTRACT
Alkasite composite resin is able to release hydroxide ions so it can maintain a neutral pH of saliva. More ions released in an acid condition. This composite resin can be polymerized chemically or using LED light. This study aimed to determine the ability of self-cured and light-cured alkasite composite resin to neutralize artificial saliva pH. Ninety-six specimens were immersed in 5 ml of artificial saliva, 15 mm in diameter and 1 mm thick were divided into 16 groups consist of 2 groups of artificial saliva (pH 4,5 and 5,5), 2 groups of polymerization method (self-cured and light-cured), and 4 groups of immersion time (1, 3, 5, and 7 days). The result showed that there was an increase in the pH of the artificial saliva in all treatment groups over the time of immersion. The statistical test using Independent T test and Mann Whitney U showed that in general there were no significant differences between the polymerization method. Meanwhile, there were significant differences between the groups that immersed in each artificial saliva pH. It was concluded that self cured and light cured composite resin alkasite have the same ability to increase the pH of artificial saliva until the 7th day, especially in an acid condition."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yogi Pamungkas
"Latar Belakang : Resin komposit menjadi salah satu jenis material restorasi yang banyak digunakan karena memiliki keunggulan dalam sifat fisik, mekanik, dan estetika. Salah satu resin komposit yang beredar di Indonesia adalah Resin Komposit Palfique Supra-Nano Universal Flow yang dikembangkan partikel filler-nya dan diklaim memiliki sifat fisik yang baik antara lain water sorption dan solubility. Penggunaan resin komposit seiring waktu akan terpapar oleh lingkungan rongga mulut akibat adanya saliva yang pH-nya bisa berubah seiring konsumsi makanan dan minuman sehingga mempengaruhi water sorption dan solubility-nya. Hingga saat ini, belum terdapat penelitian mengenai pengaruh perendaman pada berbagai pH saliva buatan terhadap water sorption dan solubility Resin Komposit Palfique Supra-nano Universal Flow. Tujuan : Menganalisis pengaruh perendaman Resin Komposit Supra-Nano Palfique Universal Flow tipe Super Low dan Medium pada berbagai pH saliva buatan terhadap water sorption dan solubility. Metode : Empat puluh delapan spesimen Resin Komposit Supra-Nano Palfique Universal Flow tipe Super Low dan Medium dengan dimensi 15 x 1 mm dibagi menjadi delapan kelompok uji berdasarkan tipe dan perendaman, yaitu pada perendaman di dalam akuades, saliva buatan pH 3, 5,5, dan 7 masing-masing selama 7 hari. Perhitungan dari nilai water sorption dan solubility dilakukan sesuai ISO 4049 : 2019. Analisis data menggunakan uji One way ANOVA dan Kruskall Wallis. Hasil : Nilai water sorption dan solubility pada kedua tipe Resin Komposit Palfique Supra-nano Universal Flow semakin tinggi pada perendaman pH yang semakin rendah. Perendaman di dalam akuades dan saliva buatan pH 3 mengalami kenaikan secara signifikan (p<0,05), dan tidak signifikan pada perendaman di dalam saliva buatan pH 3 dengan pH 5,5 dan pH 7 (p<0,05). Nilai solubility pada perendaman di dalam saliva buatan pH 3 dengan pH 5,5 mengalami kenaikan secara signifikan (p<0,05), sedangkan pada saliva buatan pH 5,5 dengan 7 tidak signifikan (p>0,05). Tipe Super Low memiliki nilai water sorption dan solubility yang lebih tinggi dibandingkan tipe Medium pada semua perendaman namun tidak signifikan (p>0,05). Kesimpulan : Terjadi peningkatan nilai water sorption dan solubility Resin Komposit Palfique Supra-nano Universal Flow setelah perendaman di dalam saliva buatan pH 3 dibandingkan pH 5,5, 7, dan akuades.

Background : Composite resin is one type of restoration material that is widely used because it has advantages in physical, mechanical, and aesthetic properties. One of the composite resins distributed in Indonesia is Palfique Supra-nano Universal Flow Composite Resin which developed its filler particles and claimed to have good physical and mechanical properties, one of which is the physical properties of water sorption and solubility. The use of composite resins over time will be exposed to the oral environment due to the presence of saliva which pH of saliva can change with the consumption of food and drinks, that affecting the water sorption and solubility of the Composite Resin. Until now, there’s not yet research the effect of immersion at various pH artificial saliva on water sorption and solubility of Palfique Supra-nano Universal Flow Composite Resin. Objective : To analyze the effect of immersion type Super Low and Medium Palfique Supra-Nano Universal Flow Composite Resin at various pH artificial saliva on water sorption and solubilty. Methods : Forty-eight type Super Low and Medium Palfique Supra-Nano Universal Flow Composite Resin specimens with dimensions of 15 x 1 mm were divided into eight test groups based on type and immersion ; distilled water, artificial saliva pH 3, 5,5, and 7 for 7 days. Calculations of water sorption and solubility values will be made according to ISO 4049: 2019. Data analysis used One way ANOVA and Kruskall Wallis test. Results : The value of water sorption and solubility for both types (Super Low and Medium) is higher in immersion at lower pH. Immersion in distilled water and artificial saliva pH 3 in both types increased significantly (p<0.05), and in artificial saliva pH 3 with pH 5.5 and pH 7 was not significant (p<0.05). The solubility value in pH 3 immersion with pH 5.5 increased significantly (p<0.05), while at pH 5.5 and 7 it was not significant (p>0.05). The Super Low type has higher water sorption and solubility values than the Medium type in all immersions but not significant (p>0.05). Conclusion : There is an increase on water sorption and solubility of Palfique Supra-nano Universal Flow Composite Resin after immersion at artificial pH 3 compared to pH 5,5, 7, and distilled water."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Elgiva Kallita Tafiana
"Latar Belakang: Palfique Universal Flow® merupakan resin komposit flowable yang digunakan untuk merestorasi gigi anterior dan posterior. Untuk dapat beredar di pasaran, material restorasi harus memenuhi karakteristik standar, salah satunya adalah kekuatan fleksural. Material restorasi akan terpapar oleh lingkungan mulut yang kondisi pH-nya selalu berubah sehingga dapat berdampak pada kekuatan fleksuralnya. Tujuan: Menganalisis pengaruh perendaman resin komposit supra-nano Palfique Universal Flow® tipe medium pada berbagai pH saliva buatan terhadap kekuatan fleksural. Metode: Sejumlah dua puluh empat spesimen resin komposit supra-nano Palfique Universal Flow® tipe medium dengan dimensi 25 x 2,8 x 2 mm dikelompokkan menjadi empat, yaitu kelompok tanpa perlakuan, perendaman di saliva buatan pH 3, pH 5,5, dan pH 7. Setelah direndam selama 7 hari, kekuatan fleksural diukur menggunakan Universal Testing Machine. Data dianalisis menggunakan uji Kruskal Wallis, Mann-Whitney, dan Independent T-Test. Hasil: Nilai kekuatan fleksural pada kelompok tanpa perlakuan merupakan yang tertinggi dan semakin rendah pada perendaman di dalam saliva buatan pH 7; 5,5; dan 3 secara berturut-turut dengan perbedaan signifikan (p≤0,05). Nilai antar kelompok berbeda signifikan pada seluruh kelompok (p≤0,05), kecuali pada pH 3 dengan pH 5,5 dan pH 5,5 dengan pH 7 (p>0,05). Kesimpulan: Saliva buatan yang asam menyebabkan nilai kekuatan fleksural resin komposit supra-nano Palfique Universal Flow® tipe medium menjadi lebih rendah.

Background: Palfique Universal Flow® is a flowable composite resin that used for restoring both anterior and posterior teeth. To be marketed, restorative materials must meet standard characteristics, one of which is flexural strength. Restorative materials are exposed to the oral environment, where pH conditions continuously change, potentially affecting their flexural strength. Objective: To analyze the effect of immersion medium-type supra-nano composite resin Palfique Universal Flow®in artificial saliva at various pH levels on the flexural strength. Methods: Twenty-four specimens of medium-type supra-nano composite resin Palfique Universal Flow®, with dimensions of 25 x 2.8 x 2 mm, divided into four groups: untreated, immersion in artificial saliva with pH 3, pH 5.5, and pH 7. After a 7-days immersion, the flexural strength was measured using a Universal Testing Machine. The data were analyzed using Kruskal-Wallis, Mann-Whitney, and Independent T-Test. Results: The flexural strength values in the untreated group were the highest, decreasing within immersion in artificial saliva at pH 7, 5.5, and 3 with significant differences observed (p≤0.05). Significant differences were noted between groups in all cases (p≤0.05), except between pH 3 and pH 5.5, as well as between pH 5.5 and pH 7 (p>0.05). Conclusion: Artificial saliva with acidic pH levels leads to lower flexural strength values of the medium-type supra-nano composite resin Palfique Universal Flow®.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Marcella Lydia
"Latar Belakang: Resin komposit Giomer Bulk-Fill merupakan resin komposit yang dapat ditumpat hingga ketebalan 4 mm dan dapat melepas ion fluor. Resin komposit ini juga menjadi buffer asam ketika tingkat pH saliva turun dan mengembalikan ke pH netral. Namun, kenaikan pH diikuti dengan penurunan sifat fisik dari material. Belum diketahui apakah terdapat pengaruh terhadap kekerasan permukaan setelah material ini melepas fluor dan perubahan pH saliva.
Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh perbedaan pH saliva buatan dan lama perendaman terhadap kekerasan permukaan resin komposit Giomer Bulk-Fill.
Metode: Penelitian eksperimental laboratorik menggunakan sembilan puluh spesimen resin komposit Giomer Bulk-Fill berdiameter 6 mm dan tinggi 3 mm dibagi menjadi 9 kelompok perendaman yaitu dengan saliva buatan pH 7 (kontrol); pH 5,5; pH 4,5 dengan lama perendaman 1 jam, 24 jam, dan 72 jam yang disimpan dalam inkubator dengan suhu 37°C. Uji kekerasan menggunakan Knoop Microhardness Tester (Shimadzu HMV-G21DT, Jepang).
Hasil: Berdasarkan hasil uji statistik One-way ANOVA terdapat perbedaan bermakna (p<0,05) antara kelompok perendaman dalam saliva buatan pH 4,5 dengan kelompok perendaman dalam saliva buatan pH 5,5 dan kelompok perendaman dalam saliva buatan pH 4,5 dengan kelompok perendaman dalam saliva buatan pH 7 yang dilakukan perendaman selama 72 jam. Nilai kekerasan pada perendaman dengan saliva buatan pH 4,5 dan lama perendaman 1 jam, 24 jam, dan 72 jam beruturut-turut sebesar 35,9±2,40 KHN, 33,75±2,98 KHN, dan 32,7±2,71 KHN. Sementara itu, nilai kekerasan dengan saliva buatan pH 5,5 dan lama perendaman 1 jam, 24 jam, dan 72 jam beruturt-turut sebesar 38,92±2,96 KHN, 37,00±1,82 KHN, dan 38,6±3,42 KHN. Dengan larutan saliva buatan pH 7 dan lama perendaman 1 jam, 24 jam, dan 72 jam didapatkan nilai kekerasan berturut-turut adalah 37,01±2,21 KHN, 37,05±1,79 KHN dan 37,72±2,51 KHN.
Kesimpulan: Lama perendaman dan tingkat keasaman dalam saliva buatan dapat menurunkan nilai kekerasan permukaan resin komposit Giomer Bulk-Fill.

Introduction: Composite resin Giomer Bulk-Fill is a material for restoration that can be placed in single increment with depth until 4 mm and release fluoride ion. This composite resin can be an acidic buffer when pH saliva drops and turns it back to pH neutral. However, the physical properties of the material are decreased. It is unknown if there any change of surface hardness of the material due to fluoride ion release and changes in pH saliva.
Objective: This study aimed to determine the effect of immersion time and different pH levels of artificial saliva on surface microhardness of composite resin Giomer Bulk-Fill.
Methods: Laboratory experimental research using ninety specimens of resin composite Giomer Bulk-Fill and divided into nine groups with immersion in artificial saliva pH 7 (control); 5,5; and 4,5 for 1, 24, and 72 hours at 37°C respectively and tested using Knoop Microhardness Tester (Shimadzu HMV-G21DT, Japan).
Result: The statistical test using One-way ANOVA showed that there were significant differences (p<0,05) between group of immersion in artificial saliva pH 4,5 compared to group of immersion in artificial saliva pH 5,5 and group of immersion in artificial saliva pH 5,5 compared to group of immersion in artificial saliva pH 7 for 72 hours of immersion. The result showed that the hardness number of the groups immersed in artificial saliva pH 4,5 for 1 hour, 24 hours, and 72 hours respectively are 35,9±2,40 KHN, 33,75±2,98 KHN, and 32,7±2,71 KHN. Meanwhile, the hardness number of the groups immersed in artificial saliva pH 5,5 for 1 hour, 24 hours, and 72 hours respectively 38,92±2,96 KHN, 37,00±1,82 KHN, and 38,6±3,42 KHN. The hardness number of the groups immersed in aritificial saliva of pH 7 for 1 hours, 24 hours, and 72 hours are 37,01±2,21 KHN, 37,05±1,79 KHN dan 37,72±2,51 KHN.
Conclusion: Different immersion times and pH levels decrease surface microhardness of Giomer Bulk-Fill composite resin.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>