Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 106978 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Natasha Talya
"

Latar Belakang: Cisplatin telah menjadi terapi lini pertama untuk kanker ovarium, namun efek samping terbesar cisplatin adalah peningkatan resistensi sel kanker yang menyebabkan hepatotoksisitas pada sel normal. Kurkumin terbukti memiliki sifat hepatoprotektif, tetapi efek terapeutik kurkumin terbatas karena memiliki bioavailabilitas yang rendah. Penggunaan kitosan nanopartikel pada kurkumin telah terbukti meningkatkan bioavailabilitas kurkumin sehingga efektivitasnya lebih besar. Penelitian ini dilaksanakan untuk melihat pengaruh nanokurkumin terhadap hepatotoksisitas akibat pemberian cisplatin. Tujuan: Membandingkan pengaruh kurkumin dan nanopartikel kurkumin untuk digunakan sebagai ko-kemoterapi dengan cisplatin pada kanker ovarium tikus yang ditinjau melalui jalur apoptosis, khususnya marker Bax dan Kaspase-3. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental in vivo pada model kanker ovarium tikus betina galur Wistar yang diinduksi 7,12-dimethybenzen[a]anthracene (DMBA) dan dilaksanakan di Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sejak bulan Juni 2019 hingga Juni 2020. Cisplatin diberikan dalam dosis sebesar 4 mg/kgBB secara intraperitoneal. Kurkumin dan nanokurkumin diberikan dalam dosis oral sebesar 100 mg/kgBB. Organ tersimpan hepar yang diambil dari 25 ekor tikus terbagi menjadi 5 kelompok perlakuan, yaitu kelompok tikus normal, model kanker ovarium tikus, terapi cisplatin, terapi cisplatin + kurkumin, dan terapi cisplatin + nanokurkumin. Setelah dikelompokkan, dilakukan homogenisasi sampel yang terpilih. Lalu, RNA Bax dan Kaspase-3 diisolasi dari homogenat sampel organ hepar dan cDNA kedua gen disintesis. Kemudian, tingkat ekspresi mRNA Bax dan Kaspase-3 pada hepar diukur menggunakan qRT-PCR. Data ekspresi mRNA Bax dan Kaspase-3 dianalisis dan diuji korelasi antarkelompok menggunakan aplikasi SPSS. Hasil: Tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelima kelompok pada tingkat ekspresi mRNA Bax (p=0,372) dan Kaspase-3 (p=0,111). Kesimpulan: Tidak ditemukan pengaruh kurkumin dan nanokurkumin terhadap ekspresi mRNA Bax dan Kaspase-3 organ hepar pada model kanker ovarium tikus setelah pemberian terapi cisplatin.


Background: Cisplatin has become the first-line therapy for ovarian cancer, but it has a side effect of increasing cancer cell resistance which causes hepatotoxicity in normal cells. Curcumin has been shown to have hepatoprotective properties, but its therapeutic effect is limited because of its low bioavailability. The use of chitosan nanoparticles in curcumin has been shown to increase the bioavailability of curcumin. This research was conducted to see the effect of nanocurcumin on hepatotoxicity due to cisplatin administration. Aim: Comparing the effect of curcumin and curcumin nanoparticles as co-chemotherapy with cisplatin in rat ovarian cancer that is evaluated through apoptotic pathways, specifically Bax and Kaspase-3 markers. Methods: This research is an in vivo experimental study on a female ovarian cancer model of Wistar rats induced 7,12-dimethybenzen[a]anthracene (DMBA) and was carried out in the Department of Pharmacology and Therapeutics of the Faculty of Medicine, University of Indonesia from June 2019 to June 2020. Cisplatin is given in doses of 4 mg/kgBW intraperitoneal. Curcumin and nanocurcumin are given in oral doses of 100 mg/kgBW. Stored liver organs which was taken from 25 rats was divided into 5 treatment groups which are normal, ovarian cancer model, cisplatin therapy, cisplatin + curcumin therapy, and cisplatin + nanocurcumin therapy group. After the samples are grouped, homogenization of the selected sample is carried out. Then, the Bax and Kaspase-3 RNA were isolated from the homogenate samples and the cDNA of the two genes was synthesized. Then, the levels of Bax and Kaspase-3 mRNA expressions in the liver were measured using qRT-PCR. Bax and Kaspase-3 mRNA expressions were analyzed and tested intergroup correlations using the SPSS application. Results: There were no significant differences between the five groups in the expression levels of Bax mRNA (p=0,372) and Kaspase-3 (p=0,111). Conclusion: This study shows no effect of curcumin and nanocurcumin on the expression of Bax and Caspase-3 liver organ mRNA in rat ovarian cancer models after cisplatin therapy.

"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia , 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ekida Rehan Firmansyah
"Salah satu obat antikanker yang sekarang paling efektif digunakan sebagai kemoterapi kanker ovarium adalah cisplatin. Namun, cisplatin memiliki banyak efek samping pada berbagai organ, salah satunya hepar. Hepatotoksisitas akibat cisplatin menyebabkan terbatasnya dosis kemoterapi cisplatin. Salah satu faktor kunci patofisiologi kerusakan akut hepar adalah inflamasi. Kurkumin merupakan senyawa alami yang memiliki sifat antiinflamasi tetapi bioavailabilitasnya rendah. Untuk itu, diformulasikan nanokurkumin untuk meningkatkan bioavailabilitasnya. Meskipun begitu, efek kurkumin dan nanokurkumin dalam memodulasi jalur inflamasi hepatotoksisitas akibat cisplatin pada kanker ovarium belum diamati. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pengaruh kurkumin dan nanokurkumin sebagai ko-kemoterapi terhadap hepatotoksisitas cisplatin dalam jalur inflamasi. Penelitian in vivo dilakukan pada tikus Wistar betina yang diinduksi DMBA untuk mendapatkan model kanker ovarium. Kemudian, tikus-tikus diberi perlakuan terapi dengan cisplatin secara intraperitoneal (4 mg/kgBB/minggu) dan kombinasinya dengan kurkumin (100 mg/kgBB/hari) dan nanokurkumin (100 mg/kgBB/hari) per oral. Tikus-tikus tersebut dibagi menjadi kelompok: tikus normal, model kanker ovarium saja, terapi cisplatin, terapi cisplatin + kurkumin, dan terapi cisplatin + nanokurkumin. Setelah 1 bulan, tikus di-sacrifice dan organ hepar disimpan beku. Ekspresi mRNA relatif NF-κB dan IL-1β serta kadar protein IL-6 diukur dengan metode qt RT-PCR dan ELISA secara berurutan. Data hasil pengukuran IL-6 dan data hasil transformasi logaritma NF-κB dan IL-1β dianalisis menggunakan uji one-way ANOVA, menggunakan perangkat lunak SPSS20. Tidak terdapat perbedaan signifikan secara statistik antar kelompok perlakuan dalam mRNA NF-κB (p=0,503), mRNA IL-1β (p=0,237), dan protein IL-6 (p=0,157). Tidak ada perbedaan yang signifikan antara kurkumin dan nanokurkumin dalam memodulasi jalur inflamasi hepatotoksisitas cisplatin pada model kanker ovarium tikus.

Up to now, one of the most effective anticancer drug as ovarian cancer chemotherapy is cisplatin. Nevertheless, cisplatin has many side effects on several organs, one of which is liver. Cisplatin-induced hepatotoxicity causes limited cisplatin chemotherapy dose. One of the pathophysiological key factor of acute liver injury is inflamation. Curcumin is natural compound which has antiinflamation properties but the bioavailability is low. To overcome it, nanocurcumin is made to increase its bioavailability. Nonetheless, curcumin and nanocurcumin effect on modulating inflammatory pathway toward cisplatin-induced hepatotoxicity in ovarian cancer rat model has not been observed. This study aims to compare the effect of curcumin and nanocurcumin as co-chemotherapy toward cisplatin-induced hepatotoxicity in inflammatory pathway. An in vivo study was done on female Wistar rats induced by DMBA to achieve ovarian cancer model. Then, rats was treated with cisplatin intraperitoneally (4 mg/kgBW/week) and the combination with per oral curcumin (100 mg/kgBW/day) and nanocurcumin (100 mg/kgBW/day). Those rats were divided into groups, which are normal rat, only ovarian cancer model, cisplatin therapy, cisplatin + curcumin therapy, and cisplatin + nanocurcumin therapy. After 1 month, rats are sacrificed and liver organs are stored frozen. mRNA relative expression of NF-κB and IL-1β as well as protein level of IL-6 was measured using qt RT-PCR and ELISA method, respectively. The result data from the measurement of IL-6 and the data from logarithmic transformation of NF-κB and IL-1β was analysed using one-way ANOVA test using SPSS20 software. There is no significant differences between groups in mRNA NF-κB (p=0.503), mRNA IL-1β (p=0.237), and protein IL-6 (p=0.157). There is no significant differences between curcumin and nanocurcumin in modulating inflammatory pathway of cisplatin-induced hepatotoxicity in ovarian cancer rat model.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia , 2020
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nunung Ainur Rahmah
"

Kurkumin merupakan pigmen kuning alami dari rimpang kunyit yang diduga memiliki aktivitas kemopreventif terhadap sel kanker melalui mekanisme jalur pensinyalan apoptosis. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan kurkumin terhadap kadar protein RASSF1A,  Bax, dan aktivitas kaspase-3 dalam menunjang  mekanisme apoptosis pada sel kanker payudara CSA03, MCF-7, dan MDA-MB-468.

Penelitian eksperimen in vitro dilakukan di laboratorium terpadu Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta,  laboratorium terpadu Fakultas Kedokteran Universitas YARSI Jakarta, RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, serta RS Islam Jakarta tahun 2016–2018. Pemberian kurkumin terhadap sel kanker didasarkan atas perbedaan dosis dan waktu pemberian. Uji sitotoksisitas  setelah pemberian kurkumin ditentukan secara MTS.   Kadar protein RASSF1A dan Bax diuji secara ELISA. Aktivitas kaspase-3 digunakan untuk mengetahui apoptosis diuji secara flowsitometri. Selanjutnya perubahan morfologi sel diamati melalui pewarnaan acridine orange/ethidium bromide.

Pemberian kurkumin terhadap sel-sel yang diuji menunjukkan konsentrasi IC50 yaitu 40,85 µg/mL pada sel CSA03; 75,73 µg/mL pada sel MCF-7; dan 380,79 µg/mL pada sel MDA-MB-468. Pemberian kurkumin menunjang mekanisme apoptosis melalui jalur RASSF1A, Bax, dan aktivitas kaspase-3 pada sel kanker payudara.

 

Kata Kunci:  Apoptosis, Bax, CSA03, kaspase-3, kurkumin,  MCF-7, MDA-MB-468, pewarnaan ganda, RASSF1A

 


Curcumin is a natural yellow pigment from turmeric rhizome which is thought to have a chemopreventive effect on cancer through the mechanism of apoptotic signaling pathways. This study aims to examine the correlation of curcumin with protein level of RASSF1A, Bax, and caspase-3 activities in conjunction with the mechanism of apoptosis in CSA03, MCF-7, and MDA-MB-468 breast cancer cells.

In vitro experimental research was carried out at the Integrated Laboratory of Faculty of Medicine, Universitas Indonesia Jakarta; RSUPN. Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta; and Jakarta Islamic Hospital during 2016–2018. Curcumin was administered to the cancer cells in different doses and time. Cytotoxicity test after administration of curcumin was determined by MTS. The protein level of RASSF1A and Bax were measured by ELISA. Caspase-3 activity was used to determine apoptosis by flow cytometry. Furthermore, changes in cell morphology were observed by acridine orange/ethidium bromide staining.

The administration of curcumin to the cells showed IC50 concentrations of 40.85 µg/mL in CSA03 cells; 75.73 μg/mL in MCF-7 cells; and 380.79 µg/mL in MDA-MB-468 cells. The administration of curcumin supports the mechanism of apoptosis through the RASSF1A, Bax, and caspase-3 activity in breast cancer cells.

"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
D-pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Azis Muhammad Putera
"Latar Belakang: Cisplatin, agen kemoterapi pilihan untuk kanker ovarium, bersifat hepatotoksik dengan menginduksi stres oksidatif. Kurkumin adalah agonis jalur Nrf2/Keap1 yang penting dalam respons terhadap stres oksidatif, namun bioavailabilitasnya buruk. Pemberian kurkumin dalam bentuk nanopartikel meningkatkan bioavailabilitasnya dalam tubuh dan distribusinya ke organ target. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh nanopartikel kurkumin terhadap hepatotoksisitas cisplatin melalui modulasi jalur Nrf2/Keap1 dilihat dari kadar MDA dan ekspresi gen jalur Nrf2/Keap1.
Metode: 25 ekor tikus Wistar betina dikelompokkan menjadi 5 kelompok yaitu kelompok normal, 4 kelompok model kanker ovarium yang diinduksi DMBA yang dibagi menjadi kelompok tanpa terapi, monoterapi cisplatin 4 mg/KgBB intraperitoneal, ko-kemoterapi cisplatin dan kurkumin konvensional 100 mg/KgBB per oral, serta ko-kemoterapi cisplatin dan nanopartikel kurkumin dalam kitosan 100mg/KgBB per oral selama 1 bulan. Tikus dikorbankan dan hepar disimpan beku. Pengukuran MDA dilakukan dengan metode spektrofotometri, sementara analisis gen jalur Nrf2/Keap1 dilakukan dengan prosedur qRT-PCR.
Hasil: Uji parametrik ANOVA dan post-hoc Tukey menunjukkan adanya penurunan kadar MDA hepar secara bermakna antara kelompok ko-kemoterapi kurkumin konvensional dan ko-kemoterapi nanokurkumin dengan kelompok monoterapi cisplatin (p=0,000 dan p=0,005). Tidak ada perbedaan bermakna antarkelompok pada ekspresi relatif mRNA Keap1 (p=0,190). Tidak ada perbedaan bermakna antara kelompok ko-kemoterapi kurkumin konvensional dengan nanokurkumin terkait ekspresi relatif Nrf2 (p=0,990), HO-1 (p=0,513), dan NQO-1 (p=1,000).
Kesimpulan: Pemberian kurkumin menurunkan kadar MDA jaringan hepar dibanding kelompok monoterapi cisplatin. Tidak ada perbedaan bermakna antara kurkumin konvensional dan nanokurkumin dalam melemahkan hepatotoksisitas cisplatin dilihat dari MDA dan ekspresi gen jalur Nrf2/Keap1.

Introduction: Cisplatin induces hepatotoxicity by oxidative stress-related mechanism. Curcumin activates the Nrf2/Keap1 pathway, modulating cellular response to oxidative stress, but its bioavailability is poor. The administration of curcumin in nanoparticles may increase the bioavailability and distribution of curcumin into tissues. This research aimed to assess the attenuation of cisplatin- induced hepatotoxicity through the modulation of Nrf2/Keap1 pathway by nanocurcumin.
Methods: 25 female Wistar rats were divided into a normal group and four ovarian cancer models by DMBA induction (further classified into a no treatment group, cisplatin monotherapy [4 mg/KgBW i.p.], co-administration of cisplatin and conventional curcumin [100 mg/KgBW p.o.], and co-administration of cisplatin and curcumin-loaded chitosan nanoparticles [100mg/KgBW p.o.]) for a month. The livers of the sacrificed animals were frozen. MDA level was measured by spectrophotometry, while the analysis of Nrf2/Keap1 pathway was done using qRT-PCR.
Results: The ANOVA parametric test showed significant differences between groups in hepatic MDA level ((p<0,001). MDA level was markedly reduced in groups receiving conventional (p<0,001) and nanocurcumin (p=0,005), though there were no significant differences between the administration of conventional and nanocurcumin in MDA level (p=0,277). There were no significant differences between groups in Keap1 relative mRNA expression (p=0,190). No statistically significant differences were observed between groups receiving conventional curcumin and nanocurcumin in the relative gene expression Nrf2 (p=0,990), HO-1 (p=0,513), and NQO-1 (p=1,000) mRNAs.
Conclusion: Curcumin did attenuate cisplatin-induced hepatotoxicity, but no significant differences were observed in hepatic MDA level and relative expression of genes in the Nrf2/Keap1 pathway between conventional curcumin and nanocurcumin administration.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia , 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ni Nyoman Berlian Aryadevi Meylandari Putri
"Latar Belakang: Selama beberapa dekade, cisplatin menjadi kemoterapi paling aktif yang tersedia untuk kanker ovarium. Terlepas dari keunggulan hasilnya, cisplatin juga memiliki beberapa efek samping, salah satunya adalah hepatotoksisitas. Dalam perkembangan kedokteran, curcumin ditemukan memiliki efek hepatoprotektif dalam beberapa penelitian, tetapi ternyata memiliki bioavailabilitas yang rendah. Dengan demikian, nanocurcumin dibuat dan ditemukan untuk meningkatkan bioavailabilitasnya. Meskipun demikian, efek curcumin dan nanocurcumin dalam hepatotoksisitas yang disebabkan oleh terapi cisplatin pada kanker ovarium belum diamati. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh kedua obat tersebut terhadap hepatotoksisitas yang diinduksi oleh cisplatin. Metode: Percobaan in vivo dilakukan pada tikus Wistar betina, dengan berat 150-200 gram, yang diinduksi oleh DMBA untuk mencapai model kanker ovarium. Kemudian, terapi cisplatin (4mg / kgBB / minggu) diberikan secara intraperitoneal pada tikus. Kemudian beberapa tikus juga diberi terapi kombinasi dengan curcumin (100 mg / kgBB / hari) dan nanocurcumin (100 mg / kgBB / hari). Tikus-tikus ini dibagi menjadi beberapa kelompok: tikus sehat, tidak ada pengobatan, terapi cisplatin, terapi cisplatin + curcumin, dan terapi cisplatin + nanocurcumin. Setelah sebulan, sampel darah diambil dan disentrifugasi untuk mendapatkan plasma. Tingkat AST, ALT, dan ALP diukur menggunakan spektrofotometer untuk menggambarkan fungsi hati. Hasilnya dianalisis menggunakan one-way ANOVA untuk ALT dan ALP dan Kruskall-Wallis untuk AST, menggunakan perangkat lunak SPSS24. Hasil: Tidak ada perbedaan statistik yang signifikan antara kelompok dalam AST plasma (p = 0,125), AlT (p = 0,154), dan ALP (p = 0,072). Kesimpulan: Tidak ada perbedaan yang signifikan untuk kurkumin dan nanokurkumin dalam mengurangi efek hepatotoksisitas cisplatin

Introduction: For decades, cisplatin has remained the most active chemotherapy available for ovarian cancer. Despite the excellence of the outcome, cisplatin also has severe side effects, one of which is hepatotoxicity. In the development of medicine, curcumin was found to exert a hepatoprotective effect in several studies, but it was found to have low bioavailability. Thus, nanocurcumin was established and discovered to improve its bioavailability. Nonetheless, the effect of curcumin and nanocurcumin in hepatotoxicity caused by cisplatin therapy in ovarian cancer has not been observed. This study aims to examine the effect of both drugs on the cisplatin-induced hepatotoxicity. Method: An in vivo experiment was done on female Wistar rats, weighing from 150-200 grams, which was induced by DMBA to achieve ovarian cancer models. Then, cisplatin therapy (4mg/kgBW/week) was given intraperitoneally to the rats. Then some of the rats were also given combination therapy with curcumin (100 mg/kgBW/day) and nanocurcumin (100 mg/kgBW/day). They were divided into groups of: healthy rats, no treatment, cisplatin therapy, cisplatin+curcumin therapy, and cisplatin+nanocurcumin therapy. After a month, blood sample was taken and centrifuged to obtain plasma. The AST, ALT, and ALP level was measured using spectrophotometer to depict the liver function. The result was analysed using one-way ANOVA for ALT and ALP and Kruskall-Wallis for AST using SPSS24 software. Results: Theres no significant statistical difference between groups in plasma AST (p=0.125), AlT (p=0.154), and ALP (p=0.072). Conclusion: There was no significant differences for both curcumin and nanocurcumin in reducing hepatotoxic effect of cisplatin."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dini Maryani
"Kanker ovarium yaitu kanker yang terbentuk di jaringan pada ovarium. Studi kasus kontrol berbasis rumah sakit ini menilai hubungan riwayat reproduksi, penggunaan hormon, dan riwayat kanker pada keluarga dengan kejadian kanker ovarium pada pasien rawat jalan RSKD Jakarta tahun 2013, menggunakan alat kuesioner dan rekam medik pasien. Peneliti merekrut 71 penderita kanker ovarium sebagai kasus dan 140 responden sebagai kontrol yang seluruhnya terdiri dari penderita kanker serviks. Hasil penelitian menemukan bahwa semakin banyak jumlah kehamilan semakin besar efek protektif (1-2 kali (OR= 0.18, 95% CI= 0.05-0.59) dan ≥ 3 kali (OR= 0.06, 95% CI= 0.02-0.20)) dibandingkan tidak pernah hamil. Pola tersebut juga terlihat pada jumlah melahirkan. Pernah menyusui anak pun memberikan perlindungan terhadap kanker ovarium (OR=0.17, 95% CI= 0.08-0.39) dan efek protektif meningkat seiring dengan panjangnya durasi (1-24 bulan (OR= 0.31, 95% CI= 0.12-0.80) dan ≥ 25 bulan (OR= 0.13, 95% CI= 0.06-0.31)) dibandingkan tidak pernah menyusui anak. Perlindungan pun timbul dari riwayat pernah menggunakan kontrasepsi oral (OR=0.37, 95% CI= 0.20-0.68), dan efeknya meningkat seiring dengan tingginya episode (1 episode (OR= 0.39, 95% CI= 0.20-0.76) dan ≥ 1 episode (OR= 0.32, 95% CI= 0.10-0.99)), panjangnya durasi (1-24 bulan (OR= 0.46, 95% CI= 0.23-0.93) dan ≥ 25 bulan (OR= 0.25, 95% CI= 0.09-0.69)), serta pendeknya rentang waktu sejak terakhir menggunakan kontrasepsi oral_umur saat didiagnosis (< 15 tahun (OR= 0.33, 95% CI= 0.13-0.80) dan ≥ 15 tahun (OR= 0.41, 95% CI= 0.20-0.87)) dibandingkan tidak pernah menggunakan kontrasepsi oral. Sebaliknya, ada peningkatan risiko terkena kanker ovarium akibat pernah mengalami infertilitas (OR= 2.09, 95% CI= 1.06-4.13) dibandingkan tidak pernah mengalami infertilitas, dan adanya riwayat kanker ovarium pada keluarga (OR= 7.55, 95% CI= 1.53-7.35) dibandingkan tidak ada riwayat kanker ovarium pada keluarga. Oleh karena itu, perlu adanya upaya peningkatan promosi kesehatan mengenai faktor protektor dan faktor risiko tersebut kepada masyarakat.

Ovarian cancer is cancer that forms in tissues of the ovary. This hospital-based case-control study evaluated reproductive history, hormone use, and family history of cancer in relation to ovarian cancer on patient of RSKD Jakarta in 2013. Data were collected through questionnaires and medical record of patients. Researcher recruited 71 ovarian cancer cases and 140 controls that a whole consists of cervix cancer patients. The result found the a significant protection to ovarian cancer risk because of number of pregnancy 1-2 , number of pregnancy ≥ 3 (OR= 0.06, 95% CI= 0.02-0.20), parity 1-2 (OR= 0.23, 95% CI= 0.08-064), parity ≥ 3 (OR= 0.07, 95% CI= 0.03-0.20), ever breastfeeding (OR= 0.17, 95% CI= 0.08-0.39), breastfeeding during 1-24 months (OR= 0.31, 95% CI= 0.12-0.80), breastfeeding during ≥ 25 months (OR= 0.13, 95% CI= 0.06-0.31), ever use of oral contraceptive (OR= 0.37, 95% CI= 0.20-0.68), using oral contraceptive during 1-24 months (OR= 0.46, 95% CI= 0.23-0.93), using oral contraceptive during ≥ 25 months (OR= 0.25, 95% CI= 0.09-0.69), have time since last use of oral contraceptive_age of diagnose (OR= 0.33, 95% CI= 0.13-0.80), and have time since last use of oral contraceptive_age of diagnose (OR= 0.41, 95% CI=0.20-0.87). Conversely, ever infertility (OR= 2.09, 95% CI= 1.06-4.13), and family history of ovarian cancer (OR= 7.55, 95% CI= 1.53-7.35) increased ovarian cancer risk significantly. Therefore, the health promotion about protector factors and risk factors of ovarian cancer have to be increased."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2013
S52427
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Henny Meitri A. R. P.
"Latar belakang: Angka kematian akibat kanker ovarium mencapai 54%. Hal ini dikarenakan sebagian besar kasus kanker ovarium datang pada stadium lanjut dan membutuhkan kualitas pembedahan prima untuk mencapai sitoreduksi optimal. Prediksi luaran operasi menjadi penting sebagai bahan pertimbangan antara benefit operasi dan morbiditas perioperatifnya. Salah satu model yang memprediksi luaran operasi dikembangkan oleh Suidan dkk. Skor prediksi ini melibatkan berbagai senter ginekologi onkologi, dilakukan secara prospektif dengan akurasi 75.8%. Untuk itu, dibutuhkan validasi terhadap model prediksi ini.
Tujuan: Menilai sensitivitas dan spesifisitas skor prediksi luaran operasi yang dikembangkan oleh Suidan dkk. pada pasien-pasien dengan kanker ovarium stadium III dan IV dengan cut-off point 9 dan beberapa cut-off point lainnya.
Metode: Penelitian observasional non-eksperimental dilakukan secara kohort (prospektif Januari 2018 - Mei 2019 dan retrospektif Januari 2015 - Desember 2017) di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta-Indonesia. Subjek penelitian adalah pasien-pasien dengan kanker ovarium stadium lanjut (stadium FIGO III dan IV) yang dilakukan operasi debulking primer. Validasi eksternal dilakukan pada skor Suidan yang menggunakan 3 parameter klinis dan 8 parameter hasil CT-Scan. Selain itu, 3 kriteria klinis dan 5 gambaran CT-Scan/MRI yang juga dicatat sebagai data tambahan.
Hasil: Diperoleh 57 subjek, terdiri dari 28 operasi suboptimal dan 29 operasi optimal. Skor dengan cut-off point 7 memiliki nilai sensitivitas 60,71% dan spresifisitas 75,68% (OR 4,86; 95% CI 1,55-15,18) dan akurasi 68,42%. Cut-off point ini lebih baik dibandingkan cut-off point 9 pada penelitian aslinya (sensitivitas 53,56% dan spresifisitas 75,68% dan akurasi 64.91%). Berdasarkan analisis bivariat dan multivariat dikembangkan skor lokal menggunakan beberapa parameter; kadar albumin darah < 3,5 g/dL (skor 2), gambaran massa pada porta hepatis atau kantung empedu (skor 1), lesi pada subkapsular hepar atau intraparenkim hepar (skor 4), dan omental cake yang luas (skor 4). Hasil signifikan tampak pada analisis mean skor yang lebih tinggi pada operasi suboptimal (7,61 ± 3,19) dan nilai akurasi 86%. Pada cut-off point 7, sensitivitas dan spesifisitas yang dihasilkan adalah 85,71% dan 72,22% dengan akurasi 77,19%.
Simpulan: Skor Suidan dkk. belum dapat diterapkan di RSCM karena sensitivitas dan spesifisitas yang relatif rendah. Skor lokal dengan cut-off point 7 pada penelitian ini dapat dikembangkan untuk penggunaannya lebih lanjut.

Background: Optimal cytoreduction operation and chemotherapy are the cornerstone management of advanced stage ovarian cancer. The mortality of ovarian cancer is as high as 54%. Ovarian cancer is mostly present at late stage and in need of excellent cytoreductive surgery if not extensive surgery to reach optimal debulking. Prediction of cytoreduction outcome is necessary to be incorporated in advanced ovarian cancer management to aim for optimal cytoreduction with minimal morbidity. One of the predictive models established by Suidan et. al. (multicenter prospective trial with accuracy 75.8%) could act as an alternative non-invasive model and should be validated.
Objectives: To determine sensitivity and specificity score developed by Suidan et.al. on patients with stage III and IV ovarian cancer.
Methods: Observation non-experimental study was conducted (prospectively January 2018 – May 2019 and restrospectively January 2015 – December 2017) at Dr. Cipto Mangunkusumo National General Hospital, Jakarta-Indonesia after ethical clearance. Subjects are patients with ovarian cancer FIGO stage III and IV who underwent primary debulking surgery. External validation was performed for Suidan’s score which used 3 clinical parameters and 8 CT-scan parameters. Moreover, three other clinical features and five other advanced imaging results were included.
Results: Fifty-seven subjects were included, consist of 28 suboptimal debulking and 29 optimal debulking. Score with cut-off point 7 has sensitivity value 60.71% and specificity of 75.68% (OR 4.86; 95% CI 1.55-15.18) with accuracy 68.42%. They were better than original cut-off points 9 (sensitivity 53.56%, specificity 75,68%, and accuracy 64.91%). Based on bivariate and multivariate results, local score was developed and established with several parameters; blood albumin < 3.5 g/dL (score 2), image of mass on porta hepatis and gall bladder (score 1), lesion of subcapsular and intraparenchymal liver, and vast omental cake (score 4). Mean of the score was significantly higher on suboptimal debulking (7.61 ± 3.19) with accuracy 86%. Cut-off points 7 showed sensitivity value of 86.71% and specificity 0f 72.22% (accuracy 77.19%).
Conclusion: The Suidan’s prediction score could not provide good sensitivity and specificity to be used at RSCM. Local score should be developed to be used at RSCM, the local score in this study could be sat as a beginning.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
T58918
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Heru Prasetyo
"Latar belakang: Kanker ovarium khususnya jenis epitelial merupakan salah satu kanker tersering yang diderita oleh perempuan dengan angka mortalitas dan morbiditas yang tinggi. Hingga saat ini, beberapa penelitian telah meneliti berbagai faktor prognostik pada kanker ovarium, khususnya trombosit yang secara patofisiologi memiliki hubungan dengan berbagai marker inflamasi pada kanker. Tujuan: (1) Membuktikan bahwa trombositosis sebagai faktor prognosis pada pasien kanker ovarium jenis epitelial (2) Membuktikan angka OS selama 3 tahun pada pasien kanker ovarium jenis epitelial dengan trombositosis lebih buruk dibandingkan tanpa trombositosis. Metode: Penelitian ini menggunakan studi kohort retrospektif menggunakan data rekam medis pasien kanker ovarium epitelial yang terdaftar pada cancer registry Departemen Obstetri dan Ginekologi Divisi Onkologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo pada tahun Januari 2014- Juli 2016. Pengamatan dilakukan saat subjek pertama kali didiagnosis kanker ovarium hingga terjadi peristiwa hidup, meninggal, atau hilang dari pengamatan dalam waktu 3 tahun. Hasil: Didapatkan 220 subjek penelitian yang merupakan populasi terjangkau dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Dari 220 subjek penelitian, 132 (60%) dari 220 subjek penelitian merupakan pasien dengan kanker ovarium stadium lanjut (Stadium II/III/IV). Trombositosis didapatkan pada 94 orang subjek penelitian (42,7%). Pasien dengan kanker stadium lanjut memiliki risiko trombositosis yang lebih tinggi dibandingkan subjek pada stadium awal (p=0,005;OR=2,329). Meski begitu, ada atau tidaknya trombositosis secara statistik tidak bermakna pada OS selama 3 tahun (p=0,555). Terdapat mean time survival yang lebih rendah pada pasien dengan trombositosis tetapi tidak ada perbedaan hazard ratio yang bermakna antara subjek dengan atau tanpa trombositosis (p=0,399). Pada penelitian ini, didapatkan faktor prognostik yang bermakna pada OS selama 3 tahun antara lain adalah ada tidaknya asites (HR=3,425; p=0,025), stadium (HR=9,523; p=0,029) dan residu tumor ≥ 1 cm (HR=4,137; p=0,015) dengan stadium kanker ovarium merupakan faktor independen (HR=9,162; p=0,033). Sensitivitas dan spesifisitas trombositosis terhadap kanker ovarium stadium lanjut didapatkan sebesar 50,75% dan 69,32%. Kesimpulan: Trombositosis sebagai faktor prognostik pada pasien kanker ovarium jenis epitelial tidak dapat dibuktikan dan angka OS selama 3 tahun pada pasien dengan trombositosis dibandingkan dengan pasien tanpa trombositosis tidak bermakna secara statistik.

Background: Ovarian cancer, especially, epithelial ovarian cancer is one of the most common cancer in women with high rate of mortality and morbidity. Some studies have found that some biological factors that can be used as a prognostic factor for epithelial ovarian cancer, particularly, thrombocytes which pathophysiologically correlates with inflammation markers in cancer. Aim: (1) To determine thrombocytosis as a prognostic factor for epithelial ovarian cancer. (2) To determine that 3-year overall survival in epithelial ovarian cancer with thrombocytosis is significantly shorter than patients without thrombocytosis. Method: This study is a retrospective cohort study using medical record of patients with epithelial ovarian cancer which are registed in the cancer registry of Oncology Division in Obstetric and Gynecology Department, Cipto Mangunkusumo Hospital from January 2014 until July 2016. Datas were collected when subjects were first diagnosed with epithelial ovarian cancer until diseases outcomes (survive, death, or loss to follow up) were identified in 3 years. Result: Out of 220 subjects, 132 (60%) were patients with advanced stage epithelial ovarian cancer (stage II/III/IV). 94 (42,7%) subjects had thrombocytosis. Patients with advanced stage of disease had higher risk of having thrombocytosis than the ones with earlier stage (p=0,005;OR=2,329). Correlation between thrombocytosis and 3-year overall survival was known to be insignificant (p=0,555). There was shorter mean time survival between patients with thrombocytosis and the ones without but the there was no significant difference in hazard ratio between the two groups. In this study, several prognostic factors of epithelial ovarian cancer were identifed such as ascites (HR=3,425; p=0,025), stage of disease (HR=9,523; p=0,029), and post-operative residual tumor ≥ 1 cm (HR=4,137; p=0,015) with stage of disease being the independent prognostic factor (HR=9,162; p=0,033). Sensitivity and specificity of thrombocytosis to advance stage of epithelial ovarian cancer were found to be 50,75% and 69,32%, respectively. Conclusion: Thrombocytosis as a prognostic factor in patients with epithelial ovarian cancer cannot be proven statistically. There is also no significant difference of 3-year overall survival between patients with or without thrombocytosis."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
T58866
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dieta Nurrika
"Ovarian cancer is one of the largest cause of death in women. It is often refered to as the silent killer because the symtoms remain unseen to the patient. The number of ovarian cancer cases varies in each country. For example, the rate of ovarian cancer in counties such as Asia and Africa lower rather than in most industrialized countries like Europe and North America, Rate of Epithelial ovarian cancer in women ages 45-49 was 16.4 cases per 100,000 people. The risk of being diagnosed increases with age. The risk more than doubles in women 60 and over with 40 cases per 100,000, and the highest rate at 61 cases to 100,000 is in the age group of women 80-84. Currently, informaiion regarding ovarian cancer in Indonesia is limited, but Dharmais Cancer Hospital found about 30 new cases of ovarian caricer every year.
The purpose of this study is to determine the probability of serum albumin levels in the survivors of epithelial ovarian cancer at Dharmais Cancer Hospital in Jakarta in 1996-2004. Design study is retvospective cohort usirg secondary data epithelial ovarian cancer patients at Dharmais Cancer Hospital. The study uses observations of 48 patients from the time of their diagnotion until they are cured, their death or they lost to follow up.
The data were analyzed using survival analysis. The resu!ts shows that overall probability five-year survival in patients with epithelial ovarian cancer at the Dharmais Cancer Hospital Jakarta in 1996-2004 is 26.2%. the probability of patients surviving five years on the serum albumin with > 3.6 mg / dl was 36.1% whichis higher than those of patients with serum albumin <3.6 mg / di at 15.7%. After controled by stage of the cancer, the ascites and hemoglobin levels of the patients with an albumin level of < 3.6 mg / dl had a risk of death 7.979 times higher than with an a!tumin fevel > 3.6 mg / dl. "
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2010
T33368
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Tutug Kinasih
"Endometriosis adalah pertumbuhan jaringan mirip endometrium di luar uterus. Jaringan ini memiliki kemampuan tertanam di berbagai tempat ektopik karena dipengaruhi sistem aktivator plasminogen yang berperan dalam proses fibrinolisis. Pada endometriosis terdapat ekspresi plasminogen activator inhibitor-1 (PAI-1) berlebih yang menyebabkan kurangnya fibrinolisis sehingga menyebabkan terbentuknya produk fibrin terdegradasi yang dapat mempengaruhi penempelan dan perkembangannya. Faktor epigenetik perubahan tingkat metilasi DNA berperan pada patogenesis endometriosis.
Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat metilasi gen PAI-1 dan hubungannya dengan perkembangan jaringan endometriosis ovarium dan peritoneum. Studi potong lintang ini menggunakan 13 sampel wanita endometriosis ovarium, 5 wanita endometriosis peritoneum, dan 8 wanita tanpa endometriosis. DNA dari sampel diisolasi, dilakukan konversi bisulfit, kemudian diamati tingkat metilasi DNAnya dengan metode methylation specific polymerase chain reaction (MSP). Hasilnya dianalisis dengan uji Kruskal-Wallis dan uji Mann-Whitney. Terdapat perbedaan yang signifikan tingkat metilasi DNA gen PAI-1 pada ketiga kelompok sampel (p<0,05).
Penelitian ini menemukan perbedaan signifikan antara endometriosis ovarium dan peritoneum dibandingkan dengan kontrol (p=0,006 dan p = 0,003); namun tidak ada perbedaan yang signifikan pada endometriosis peritoneum dibandingkan dengan ovarium (p>0,05). Penelitian kami menunjukkan rendahnya tingkat metilasi gen PAI-1 yang dapat meningkatkan ekspresi gen PAI-1 dan hal ini disugestikan dapat berkontribusi sebagai faktor risiko endometriosis pada ovarium dan peritoneum."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>