Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 98343 dokumen yang sesuai dengan query
cover
cover
Farel Abdia Harfy
"Gasifikasi biomassa adalah salah satu teknologi yang menjajikan dalam mengkonversi biomassa menjadi panas dan listrik. Di dalam prosesnya gasifikasi mengubah biomassa menjadi gas mampu bakar atau dikenal dengan nama syngas. Syngas tersebut dapat dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik menggunakan motor pembakaran dalam. Akan tetapi syngas tersebut mengandung zat pengotor yaitu tar, sehingga agar dapat digunakan, kandungan tar pada syngas harus dikurangi. Salah satu cara untuk mengurangi tar ini adalah menggunakan kondensor. Tim riset gasifikasi biomassa Universitas Indonesia saat ini sudah membuat prototipe kedua gasifier biomassa.

Berbagai perubahan desain dilakukan pada prototipe II ini salah satunya yaitu pada kondensor. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perubahan desain terhadap kinerja kondensor, seperti efisiensi pengurangan tar dan pressure drop. Penelitian ini juga dilakukan untuk mengetahui pengaruh penggunaan pompa pada kinerja kondensor. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan pompa pada kondensor tidak memberikan pengaruh yang besar pada kinerja kondensor. Efisiensi pengurangan tar dapat meningkat dengan ditambahkannya insulasi pada pipa sebelum kondensor dan dengan mengubah material pada pipa kondensor. Pressure drop pada pipa kondensor dapat dikurangi dengan mengubah tipe pipa menjadi vertikal dan dengan menambahkan condensate tank.

 


Biomass gasification is one of the promising technologies in converting biomass to heat and electricity. In the process, gasification converts biomass into combustible gas, known as syngas. The syngas can be used to generate electricity using an internal combustion engine. However, the syngas contains impurities namely tar, so that to be used, the tar content in syngas must be reduced. One of method to reduce this tar is to use a condenser. The University of Indonesia's biomass gasification research team has now made a second prototype of the biomass gasifier.

Several changes of design were made on this prototype II, one of which is the condenser. The purpose of this research is to determine the effect of design changes on condenser performance, such as the efficiency of tar reduction and pressure drop. This research was also conducted to determine the effect of the use of pumps on the performance of the condenser. The results of this research indicate that the use of pumps on the condenser does not have a major effect on the performance of the condenser. The efficiency of tar reduction can be increased by adding insulation to the pipe before the condenser and by changing the material in the condenser pipe. Pressure drop on the condenser pipe can be reduced by changing the pipe type to vertical and by adding a condensate tank.

 

"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2020
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dadan Kosasih
"Indonesia sebagai negara agrikultur, menyediakan potensi biomassa seperti sekam padi sebesar 16 juta ton per tahun (Agus & Sarwani, 2012). Kebaradaan sekam padi yang melimpah ini dapat digunakan untuk dikonversikan menjadi energi lain dengan teknologi gasifikasi biomassa. Gasifikasi biomassa merupakan konversi biomassa padat menjadi gas yang dapat dibakar atau biasa disebut syngas dengan suplai udara yang terbatas(Basu, 2010). Penggunaan teknologi gasifikasi tipe fixed bed downdraft cocok digunakan karena alasan produksi tar yang rendah dibanding tipe lainnya. Tar, pengotor, dan kontaminan partikel dan organik yang terbawa dalam syngas menjadi masalah operasional gasifikasi sampai saat ini (Hasler & Nussbaumer, 1999). Metode pembersihan tar saat ini memiliki nilai ekonomis yang rendah. Adsorpsi dengan menggunakan biomassa turunan padi, seperti sekam padi, jerami, dan biochar menjadi salah satu metode yang lebih ekonomis namun tetap efektif dalam pengurangan tar. Sekam padi, jerami, dan biochar memiliki karakteristik yang membuat ketinganya memiliki kemampuan dalam pengurangan tar. Pada penelitian ini akan dilakukan investigasi karakterisitik dari sekam padi, jerami, dan biochar yang memengaruhi penurunan temperatur, efisiensi pengurangan tar, dan waktu nyala burner dengan variabel ketebalan sebesar 30cm, 40cm, dan 50cm dari setiap medium yang digunakan. Pengurangan tar yang paling efisien terjadi pada medium biochar dengan ketebalan 50cm yaitu, 59,45%. Namun, medium filter yang optimum dalam efisiensi pengurangan tar, dan waktu nyala burner adalah sekam padi 50cm dengan efisiensi pengurangan tar sebesar 56,65%, dan waktu nyala burner selama 790 detik.

Indonesia as an agricultural country, provides biomass potential such as rice husk of 16 million tons per year (Agus & Sarwani, 2012). The abundance of rice husks can be used to be converted into other energy by biomass gasification technology. Biomass gasification is the conversion of solid biomass into combustible gas or commonly called syngas with limited air supply (Basu, 2010). The use of downdraft fixed bed gasification technology is suitable for reasons of low tar production compared to other types. Tar, impurities, and particulate and organic contaminants carried in syngas are operational problems of gasification (Hasler & Nussbaumer, 1999). The current tar cleaning method has a low economic value. Adsorption by using biomass derived from rice, such as rice husk, straw, and biochar is one of the more economical methods but remains effective in reducing tar. Rice husk, straw, and biochar have characteristics that have the ability to reduce tar. In this study, a characteristic investigation of rice husk, straw and biochar will be carried out which affects the temperature decrease, the efficiency of tar reduction, and the burner flame time with variable thicknesses of 30cm, 40cm, and 50cm from each medium used. The most efficient tar reduction occurred in the biochar medium with a thickness of 50cm, 59.45%. However, the optimum filter medium in tar reduction efficiency, and burner flame time is 50cm rice husk with a decrease in tar reduction efficiency of 56.65%, and burner flame time for 790 seconds."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hafif Dafiqurrohman
"ABSTRAK
Pemanfaatan biomassa sangat berguna karena merupakan proses re-cycle karbon melalui proses fotosintesis. Salah satu potensi biomassa terbesar di Indonesia adalah sekam padi, yang mencapai 16 juta ton per tahun. Teknologi gasifikasi menjadi teknologi sangat bagus untuk pemanfaatan biomassa menjadi energi lain karena fleksibilitas produk syngas untuk dimanfaatkan. Tar menjadi komponen yang paling membahayakan dalam syngas karena jumlah tar yang sangat besar dibandingkan yang lain. Metode pembersihan tar saat ini ada banyak menggunakan metode sekunder yang lebih ekonomis. Salah satu teknik lama yang masih jarang dikembangkan adalah metode kondensasi. Metode ini dapat memisahkan tar dengan syngas berdasarkan titik embun tar. Selain itu ada metode lain yang sekarang sedang menjadi tren penelitian, yaitu adsorpsi. Adsorpsi bisa menggunakan jerami padi yang mempunyai sifat menarik partikel halus menggunakan silika yang dikandungnya. Pada penelitian ini akan dilakukan investigasi pressure drop pada water condenser, filter, dan kombinasi water condenser-filter yang mempengaruhi karakteristik penurunan temperature dengan variable laju aliran blower sebesar 72 lpm, 96 lpm, 120 lpm, 144 lpm, dan 168 lpm. Efisiensi pengurangan tar juga diteliti pada tiap-tiap variable tersebut dan dilihat karakteristiknya pada water condenser, filter, dan kombinasi water condenser-filter. Pengurangan tar tertinggi terjadi pada moda kombinasi water condenser-filter 120 lpm, yaitu efisiensi pengurangan tar 84,87%.

ABSTRACT
The use of biomass is very useful because it is a carbon re-cycle process through photosynthesis. One of the biggest biomass potentials in Indonesia is rice husk, which reaches 16 million tons per year. Gasification technology is a very good technology for utilizing biomass into other energy because of the flexibility of syngas products to be utilized. Tar is the most dangerous component in syngas because the number of tar is very large compared to the others. The current tar cleaning method uses many more economical secondary methods. One old technique that is still rarely developed is the method of condensation. This method can separate tar with syngas based on tar dew point. In addition there are other methods that are now becoming a research trend, namely adsorption. Adsorption can use rice straw which has interesting properties of fine particles using silica it contains. In this study, pressure drop investigations on water condensers, filters, and water condenser-filter combinations will be carried out which affect the characteristics of temperature drop with variable blower flowrate of 72 lpm, 96 lpm, 120 lpm, 144 lpm, and 168 lpm . Tar reduction efficiency was also examined in each of these variables and the characteristics of the water condenser, filter, and water condenser-filter combination were observed. The highest tar reduction occurs in the 120 lpm water condenser filter combination, which is the efficiency of tar reduction of 84.87%.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2019
T52320
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Arief Wildhan Naro Putra
"

Gasifikasi biomassa adalah teknologi mengubah limbah menjadi energi yang telah sukses dan sangat menarik untuk dipelajari. Meskipun telah berjalan dengan efektif masih ada beberapa masalah yang sering terjadi, seperti tar. Untuk pengaplikasian lanjut gas harus cukup bersih dari tar, sebab tar dapat membahayakan system karena dapat merusak peralatan serta merusak mesin pembakaran dalam. Saat ini banyak digunakan metode sekunder untuk mengurangi kadar tar yang terkandung dalam syngas, salah satu tekniknya adalah menggunakan filter biomassa sebagai media untuk menyerap tar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui medium biomassa dengan variasi ketinggian yang paling tepat untuk digunakan dalam penyerapan tar. Dengan menggunakan analisis simulasi dan eksperimental didapatkan biochar sebagai medium dengan efisiensi penyerapan tar yang paling baik, jika dibandingkan dengan sekam padi dan jerami yaitu sebesar 59% dengan penurunan tekanan yang paling besar yaitu sebesar 67 Pa.

 


Biomass gasification is an attractive and successful technology that transform waste into energy. Even though it has been performing effectively. Many problem are still occuring, such as tar. For the advanced applications, gas needs to be clean enough and tar should be removed, because tar can harm the system and it can damage equipment and damage internal combustion engines as well. For now, many secondary method used to reduce the tar levels that contained in syngas, such as using biomass filter as a medium to adsorp tar. This study aims to determine the best biomass medium with height varations to use in tar adsorption. Using simulation and experimental analysis, biochar known as a medium with the best tar removal efficiency, if compared with rice husk and rice straw, with 59% removal efficiency and 67 Pa of pressure drop.

 

"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Alfien Muhammad
"

Indonesia sebagai negeri agraris mayoritasnya menggunakan padi sebagai makanan pokok. Selain menjadi bahan makanan, padi juga dapat dimanfaatkan sebagai energi terbarukan salah satunya dengan menggunakan teknologi gasifikasi. Salah satu keuntungan teknologi ini adalah fleksibilitas produk syngas yang dapat dimanfaatkan langsung atau digabungkan dengan pembangkit listrik. Namun masih ada kendala besar sebelum dapat memanfaatkan syngas ini yaitu adanya tar yang tidak diinginkan. Sebelum dapat dimanfaatkan seperti masuk kedalam motor pembakaran dalam (Internal Combustion Engine ) tar perlu dikurangi kadarnya dengan beberapa metode, salah satunya adalah metode sekunder yaitu kondensasi. Metode ini dapat memisahkan tar dengan syngas berdasarkan titik embun tar. Pada penelitian ini akan dilakukan analisis senyawa tar yang terkondensasi dengan menggunakan aplikasi Computational Fluid Dynamic (CFD) Ansys Fluent 19.2 dengan menggunakan laju aliran 0,002 m3/s yang didapatkan dari hasil penelitian sebelumnya dan variable waktu pengambilan data dari rentan waktu 10 sampai 25 menit, 30 sampai 45 menit, 40 sampai 65 menit, dan 70 sampai 85 menit. Efisiensi pengurangan tar juga diteliti pada tiap-tiap variable tersebut dan dilihat karakteristiknya pada kondenser. Pengurangan tar tertinggi terjadi pada rentan waktu 70-85 menit, yaitu efisiensi pengurangan tar 64,46%.

 


Indonesia as an agrarian country whose majority use rice as the main food. Besides food, rice could become a renewable energy resource by using gasification technology. One of the advantages of gasification technology is the flexibility of the producer gas so-called syngas. It could use in direct combustion and or coupled using the Internal Combustion Engine (IC Engine) for electricity. The biggest problem before it can be used is the presence of tar. Before it enters the IC Engine, it has to be removed using some methods, one of them is condensation. This method can separate tar with syngas based on tar dew point. In this study, the compounds of tars that condensed will be analysed using Computational Fluid Dynamic (CFD) Ansys Fluent 19.2 application with 0,002 m3/s from previous study and variable time with range 10-25 minute, 30-45 minute, 40-65 minute, dan 70-85 minute. Tar reduction efficiency was also examined in each of these time variables and the characteristics of the water condenser observed. The highest tar reduction occurs in the range of 70-85 minutes, which is the efficiency of tar reduction of 64,45%.

 

"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia , 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Andika Akbar Hermawan
"Gasifikasi biomassa adalah proses konversi bahan baku biomassa padat menjadi bahan bakar gas yang dapat dibakar combustible gas dengan suplai udara yang terbatas Basu, 2010. Gas mampu bakar dan tidak mampu bakar producer gas yang berasal dari gasifikasi biomassa mengandung pengotor atau kontaminan partikel dan organik, seperti tar, yang jika tidak dihilangkan dapat menyebabkan masalah operasional yang sangat berat Hasler Nussbaumer, 1999. Venturi Scrubber terbukti efektif untuk menghilangkan pengotor atau kontaminan partikel dan organik, seperti tar Thana, 2010 . Pada penelitian ini pengaruh rasio laju air scrubbing liquid dari venturi scrubber terhadap laju producer gas Ql/Qg telah teridentifikasi. Efek dari rasio tersebut dapat terlihat berdasarkan tiga parameter yaitu penurunan suhu, perubahan tekanan dan efisiensi penangkapan tar. Rasio Ql/Qg = 0.040 telah diketahui sebagai penyumbang penurunan suhu terbesar yaitu sebesar 39.91o C dan perubahan tekanan terbesar yaitu 1004.72 Pa. Namun, hal ini belum tentu sebanding dengan performa penangkapan tar. Dalam penelitian ini, ditemukan Ql/Qg = 0.014 telah ditemukan sebagai titik optimal dalam penangkapan tar, dimana efisiensi penangkapan tar pada rasio tersebut mencapai 88.

Biomass gasification is the process of converting raw solid biomass materials into combustible gas fuels with a limited air supply Basu, 2010 . Gas capable of burning and incapable of fuel gas producer derived from biomass gasification contains impurities or particulate and organic contaminants, such as tar, which, if not eliminated, can cause severe operational problems Hasler Nussbaumer, 1999. Venturi Scrubber is proven to be effective for removing impurities or particulate and organic contaminants, such as tar Thana, 2010. In this study, the effect of the ratio of the rate of liquid scrubbing water from the venturi scrubber to the gas producer rate Ql Qg has been identified. The effect of these ratios can be seen based on three parameters temperature drop, pressure change and tar capture efficiency. The ratio Ql Qg 0.040 has been known as the largest contributor to the temperature drop of 39.91o C and the largest pressure change is 1004.72 Pa. However, this is not necessarily proportional to tar fishing performance. In this study, found Ql Qg 0.014 has been found as an optimal point in tar fishing, where tar capture efficiency at the ratio reached 88.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2017
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Simatupang, Felly Rihlat Gibran
" ABSTRAK
Sekam padi merupakan limbah pertanian terbesar dengan potensi 13.662 MWe per tahun. Melalui proses gasifikasi biomassa, sekam padi dapat dikonversi menjadi producer gas yang dapat digunakan untuk kebutuhan energi panas maupun listrik. Untuk menghasilkan producer gas berkualitas baik, sistem gasifikasi dengan kandungan tar rendah menjadi fokus utama penelitian. Penelitian menggunakan open top fixed bed downdraft gasifier sistem batch dilakukan dengan memvariasikan posisi injeksi udara sekunder Z dan Air Ratio AR . Hasilnya, pada AR 80 , saat Z = 38 cm, tercipta flaming pyrolysis dengan durasi terpanjang selama 400 sekon yang mengindikasikan kandungan tar terendah, serta saat Z = 50 cm, dihasilkan producer gas dengan energi pembakaran tertinggi sebesar 734,64 kJ.
ABSTRACT Rice husk is one of agricultural waste with the largest annual potency of 13,662 MWe. Using biomass gasification, rice husk can be converted into producer gas for thermal and electrical energy needs. In order to produce a good in quality producer gas, gasification with low tar content become the main focus in this research. Experiment using open top fixed bed downdraft gasifier batch system was conducted by variying the secondary air injection position Z and Air Ratio AR . As a result, when AR 80 , at Z 38 cm, flaming pyrolysis with the longest duration of 400 seconds was created which indicated that this condition had the lowest tar content, meanwhile, at Z 50 cm, producer gas with the highest combustion energy of 734.64 kJ was obtained"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2017
S66125
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Naufal Riadhi Yusuf
"Sekam padi merupakan salah satu biomassa yang memiliki potensi energi sebesar 3,84 GW. Dengan proses gasifikasi biomassa, sekam padi bisa menghasilkan energi. Tapi setelah proses gasifikasi, masih ada limbah berupa arang maupun abu sekam padi. Untuk menanggulanginya, unsur karbon dari limbah dimanfaatkan kembali. Penelitian ini menggunakan sistem batch fixed bed downdraft gasifier. Dengan memvariasikan posisi injeksi udara sekunder Z , didapatkan temperatur pirolisis yang berbeda. Karena perbedaan temperatur, didapatkan kandungan karbon dan jumlah massa limbah yang bervariasi. Hasilnya, saat Z = 34 cm kandungan karbonnya paling tinggi yaitu, 27,47 . Sedangkan saat Z = 46 cm kandungan karbonnya paling rendah yaitu, 22,11 . Ketika Z = 38 cm massa limbah yang dihasilkan paling rendah yaitu 27,4 dari massa awal.
.....
Rice husk is one of the biomass that has an energy potential of 3,84 GW. With the biomass gasification process, rice husk can produce energy. But after the gasification process, there is still waste either rice husk char or rice husk ash. To overcome it, the carbon element from waste is used. This research uses a fixed bed downdraft gasifier batch system. By varying the position of secondary air injections Z , obtain different pyrolysis temperatures. Due to the temperature difference, the carbon content and the amount of waste mass vary. The result, when Z 34 cm carbon content is the highest that is, 27,47 . When Z 46 cm carbon content is the lowest that is 22,11 . When Z 38 cm waste mass produced is the lowest 27,4 from the initial mass."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2017
S67543
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Apri Wiyono
"ABSTRAK
Kebutuhan energi yang terus meningkat, sejalan dengan laju pertambahan penduduk selalu diikuti dengan laju timbunan sampah. Dimana persentase terbesar berasal dari sampah organik, hal ini berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku campuran biomassa untuk upaya reduksi emisi pada konversi bahan bakar dari energi sampah. Tujuan utama dari makalah ini adalah untuk mempelajari karakteristik co-gasifikasi, temperatur tungku reaktor, LHV producer gas dan output ash, terhadap kinerja proses gasifikasi biomassa pada downdraft fixed bed gassifier. Pada penelitian ini, sampah organik yang digunakan ranting, serabut kelapa dan sekam padi yang di peletisasi sebagai bahan baku pada pembakaran dengan teknologi Downdraft Gassifier. Metode yang dilakukan dengan teknik co-gasifikasi antara WCF wood-coconut fibers pelet dan sekam padi pada komposisi 100 pelet, 75:25, 50:50, 25:75 dan sekam padi 100 . Dimana pengujian syngas dilakukan pengukuran langsung dengan gas cromatograph tipe TCD Shimadzu 8A. Temperatur reaktor tertinggi pada zona pirolisis sebesar 400 C ndash; 850 C and temperatur pada zona oksidasi sebesar 1000 C ndash; 1200 C. Hasil dari pengujian syntetic gas didapatkan lower heating value tertinggi pada komposisi WCF pelet 100 sebesar 4.51 MJ/Nm3. Lower heating value syngas paling rendah pada komposisi pelet 100 sebesar 2.99 MJ/Nm3, dimana pertambahan WCF pelet akan meningkatkan nilai LHV syngas. Hal ini menyebabkan konten tar rendah dan rendahnya partikel ash pada semua komposisi kira-kira 30-35 massa awal tiap komposisi, dengan ash terendah pada komposisi sekam padi 100 sebesar 0.29 gr. Kata Kunci : Biomassa, peletisasi, co-gasifikasi, downdraft gassifier, syntetic gas

ABSTRACT
Increasing energy demand, in line with the rate of population growth is always with the pile of garbage. The largest percentage of organic waste, it can be used as raw material. This is primarily to discuss co gasification characteristics, reactor furnace temperatures, LHV gas producers and ash output, on the performance of biomass gasification at. In this study, organic waste used twigs, coconut fibers and rice husks in the pelletization as raw materials on technology with downdraft gassifier. The method is performed by co gasification technique between WCF coconut wood fiber pellet and rice husk on the composition of 100 pellets, 75 25, 50 50, 25 75 and 100 rice husk. Where the syngas testing is done directly with TCD Shimadzu gas cromatograph 8A. The reactor temperature in the pyrolysis zone of 400 C 850 C and the temperature in the oxidation zone 1000 C 1200 C. The results of testing the synthetic gas obtained lower heating value in the WCF 100 pellet composition of 4.51 MJ Nm3. The lower heating value of syngas is lowest in 100 pellet composition of 2.99 MJ Nm3, where the increase of WCF pellets will increase LHV syngas. The effect makes low tar content and low ash particles in all compositions approximately 30 35 of the initial mass of each composition, with minimal ash on 100 rice husk composition of 0.29 g. Keywords Biomass, pelletization, co gasification, downdraft gassifier, synthetic gas"
2017
T48475
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>