Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 125696 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Halimatuzahra
"Dewasa ini, terdapat banyak media yang dapat digunakan penggemar untuk memperoleh informasi, berpartisipasi, dan berinteraksi dengan idolanya. Hal itu membuat penggemar menjadi terobsesi dengan kehidupan idola. Dalam psikologi, obsesi penggemar pada kehidupan idola dikenal dengan istilah celebrity worship. Fenomena celebrity worship dapat dilihat dalam salah satu drama Korea yang berjudul Geunyeoeui Sasaenghwal. Dengan menggunakan teori representasi dan definisi konsep celebrity worship oleh McCutcheon, penelitian ini berfokus pada penggambaran celebrity worship yang ditunjukkan oleh Deok-Mi, tokoh utama dalam drama tersebut. Penelitian yang menggunakan metode deskriptif analisis ini bertujuan untuk mengidentifikasi perilaku dan dampak celebrity worship yang digambarkan oleh Deok-Mi. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa representasi celebrity worship yang terdapat dalam drama Geunyeoeui Sasaenghwal dapat dilihat melalui perilaku yang ditunjukkan oleh Deok-Mi. Perilaku yang ditunjukkan oleh Deok-Mi, antara lain mencari informasi idola, membeli merchandise idola, menonton acara yang menampilkan idola, dan melakukan hal yang tidak biasa demi bertemu dengan idola. Sementara itu, dampak dari perilaku celebrity worship yang ditunjukkan Deok-Mi adalah mementingkan idola daripada diri sendiri dan memiliki cara menangani stress yang baik. Melalui penelitian ini, penulis juga menemukan bahwa Deok-mi menggambarkan sosok penggemar yang dapat menyeimbangkan kehidupannya sebagai pekerja dan penggemar. 
Currently, many media can be used by fans to get some information, participate, and interact with their idols. It makes the fans obsessed with their idols lives. In psychology, the obsession of the fans towards their idols can be called celebrity worship. The phenomenon of celebrity worship can be seen in one of the Korean drama entitled Geunyeoeui Sasaenghwal. By using representation theory and the definition of celebrity worship concept by McCutcheon, this research focused on the illustration of celebrity worship behavior which was performed by Deok-Mi, the main character in that drama. This research used a descriptive analysis method that aimed to identify the celebrity worship behaviors and the effect which were performed by Deok-Mi. The result of this research showed that the representation of celebrity worship in  Geunyeoeui Sasaenghwal drama can be seen through the behavior performed by Deok-Mi. Deok-Mi represented some celebrity worship behavior such as searching information about the idol, buying idols merchandise, watching shows that showed idol, and doing unusual thing to meet idol. The negative effect of that behavior is giving priority to idol rather than herself and the positive effect is having a good way to handle stress. Through this research, the authors found that Deok-Mi portrays a fan figure who can balance her life as a worker and a fan."
2020
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Cahya Ratu Aisya
"araknya pengaruh budaya K-Pop yang menyebar, meningkatkan jumlah penggemar K-Pop di Indonesia. Banyak penggemar yang membangun ikatan khusus untuk memformulasikan kedekatan hingga sampai pada pemujaan terhadap selebriti. Ikatan dan paparan kepada selebriti terus menerus ini dapat menimbulkan kecenderungan penggemar untuk mengonsumsi segala hal yang berkaitan dengan idola. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara celebrity worship dan perilaku konsumtif terhadap merchandise pada emerging adulthood penggemar K-Pop di Indonesia. Partisipan pada penelitian ini adalah emerging adulthood berusia 18-29 tahun dan penggemar idola K-Pop yang pernah melakukan pembelian merchandise minimal satu kali dalam satu tahun terakhir (N = 289). Alat ukur yang digunakan dalam penelitian adalah Celebrity Attitude Scale (CAS) dan Skala Perilaku Konsumtif. Berdasarkan hasil analisis korelasi Pearson ditemukan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara celebrity worship dan perilaku konsumtif. Selain itu, ketiga komponen celebrity worship juga ditemukan berkorelasi positif signifikan dengan Perilaku Konsumtif. Artinya semakin tinggi celebrity worship makan semakin tinggi perilaku konsumtif penggemar dan sebaliknya.

As the influence of K-Pop culture spreads, the number of K-Pop fans in Indonesia increases. Many fans build special bonds to formulate closeness to the point of celebrity worship. This bond and continuous exposure to celebrities can lead to the tendency of fans to consume everything related to idols. Therefore, this study aimed to find out the relationship between celebrity worship and consumptive behavior towards merchandise in emerging adulthood K-Pop fans in Indonesia. The participants in this study are emerging adulthood aged 18-29 years and K-Pop idol fans who have purchased merchandise at least once in the past year (N = 289). The measuring instruments used in the study were Celebrity Attitude Scale (CAS) and Consumptive Behavior Scale. Pearson correlation analysis showed a positive and significant relationship between celebrity worship and consumptive behavior. In addition, the three components of celebrity worship were also found to be significantly positively correlated with consumptive behavior. This findings implies that the higher the celebrity worship, the higher the consumptive behavior of fans."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Siska Putri Prameswari
"Kesuksesan selebgram diukur dari jumlah pengikut, likes, share, dan komentar. Namun, banyak selebgram yang tidak lagi mengedepankan kebenaran dari hal yang diunggah. Dampaknya, pengikut mereka tidak bisa lagi membedakan mana yang nyata dan palsu. Keadaan ini disebut sebagai hiperrealitas atau realitas yang lebih nyata dari yang nyata. Fenomena hiperrealitas adalah fenomena dunia yang juga terjadi di Korea Selatan. Bentuk hiperrealitas pada selebgram Korea Selatan dapat dilihat dalam drama berjudul Celebrity (2023). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk hiperrealitas dalam drama Celebrity. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menganalisis penokohan tokoh. Mengacu kepada gagasan hiperrealitas oleh Jean Baudrillard, penulis melakukan analisis bentuk hiperrealitas melalui karakter dan hal yang dilakukan selebgram. Penelitian ini menyimpulkan bahwa drama Celebrity merupakan representasi fenomena hiperrealitas di Korea Selatan. Bentuk hiperrealitas yang ditunjukkan di dalam drama ini adalah menyembunyikan masa lalu, menutupi tindakan konsumsi psikotropika, membentuk citra setia kawan, menyewa dan meniru barang mewah, serta menggunakan teknologi deepfake. Hal tersebut menunjukkan bahwa media sosial menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern.

This research uses a qualitative descriptive method by analyzing characterizations. Referring to the idea of hyperreality by Jean Baudrillard, the author analyzes the form of hyperreality through the characters and things that celebrities do. This research concludes that Celebrity drama is a representation of the phenomenon of hyperreality in South Korea. The forms of hyperreality include hiding the past, covering up psychotropic consumption, forming a loyal friend image, renting and imitating luxury goods, and using deepfake technology. This shows that social media has become part of the lifestyle of modern society."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2024
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Alfida Hanum
"

Perilaku menggemari selebritas disebut dengan celebrity worship, yang tergambarkan melalui perilaku mulai dari mendiskusikan selebritas bersama teman hingga memuja selebritas ke tahap yang lebih ekstrem. Celebrity worship ditandai dengan adanya keterlibatan emosional antara penggemar dengan selebritas. Namun, ikatan dan paparan pada selebritas secara terus menerus dapat menimbulkan kecenderungan penggemarnya untuk melakukan perbandingan diri. Perbandingan diri tersebut dapat memicu ketidakpuasan pada citra tubuh yang kemudian dapat mengarah pada perilaku makan terganggu. Penelitian ini bertujuan untuk melihat peran Body Image Dissatisfaction (BID) sebagai mediator hubungan antara celebrity worship dengan perilaku makan terganggu pada sampel penggemar K-Pop usia emerging adulthood (18-25 tahun). Hasil penelitian pada penggemar K-Pop (N = 219) menggunakan Celebrity Attitude Test (CAS), Eating Attitude Test-8 (EAT-8), dan Body Shape Questionnaire-Revised-10 (BSQ-R-10) menunjukkan bahwa terdapat indirect effect yang signifikan antara celebrity worship dan perilaku makan terganggu melalui BID (𝛽 = .07, BootSE = .01, CI = [.0425 – .0987]). Hasil penelitian ini mendukung hipotesis penelitian bahwa BID memediasi hubungan antara celebrity worship dan  perilaku makan terganggu. Temuan ini mengimplikasikan bahwa semakin tinggi celebrity worship pada penggemar K-Pop, maka semakin tinggi pula BID yang dirasakan, hingga meningkatkan perilaku makan terganggu pada penggemar K-Pop. 


Celebrity worship is a form of idolizing celebrities that ranges from discussing celebrity with friends to worshiping celebrities to a more extreme level. Celebrity worship is referred to as a one-sided emotional attachment to a celebrity. However, continuous exposure to celebrities could lead to a tendency for fans to do self-comparisons that trigger dissatisfaction with body image and further become disordered eating behavior. This study aims to see whether Body Image Dissatisfaction (BID) mediates the relationship between celebrity worship and disordered eating behavior among emerging adulthood (18-25 years of age) K-Pop fans. The results of this study (N = 219) using Celebrity Attitude Test (CAS), Eating Attitude Test-8 (EAT-8), dan Body Shape Questionnaire-Revised-10 (BSQ-R-10) showed that there was a significant indirect effect between celebrity worship and disordered eating behavior through BID (𝛽 = . 07, BootSE = .01, CI = [.0425 – .0987]). The results of this study proved that BID mediates the relationship between celebrity worship and disordered eating behavior. This finding implies that the higher the celebrity worship of K-Pop fans, the higher the perceived BID, which then increases the tendency of disordered eating behavior among K-Pop fans.

"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ranny Rizky Fitriani
"Penelitian ini ingin meilhat pengaruh pemujaan selebriti, kesempatan bertemu selebriti, serta persepsi kongruensi antara selebriti dan produk terhadap perilaku membeli produk yang di-endorse oleh selebriti tersebut. Dalam penelitian ini, selebriti yang dimaksud adalah grup band Slank. Celebrity attitude scale (Maltby, Houran, Lange, Ashe, & McCutcheon, 2002) digunakan untuk mengukur pemujaan selebriti, kesempatan bertemu selebriti diukur dengan jarak antara domisili partisipan dengan markas grup band Slank, serta persepsi kongruensi antara selebriti dan produk diukur dengan jarak makna semantik antara konsep 'grup band Slank' dan konsep 'produk'.
Hasil penelitian yang dilakukan kepada 80 partisipan memperlihatkan bahwa tingkat pemujaan selebriti tinggi hanya membuat partisipan membeli lebih banyak pada produk tertentu. Kesempatan bertemu dengan selebriti yang rendah justru membuat partisipan membeli lebih banyak produk yang di-endorse Slank. Hasil penelitian ini juga menunjukan bahwa persepsi kongruensi yang tinggi antara konsep grup band Slank dan produk tidak membuat partisipan lebih membeli produk tersebut. Partisipan mempersepsikan kongruensi antara konsep grup band Slank dan produk yang di-endorse Slank secara lebih tinggi dibandingkan ketika mempersepsikan kongruensi antara konsep grup band Slank dan produk sejenis yang tidak di-endorse Slank.

The aim of this present study was to examine the influence of celebrity worship level, opportunity to meet celebrity, and perception of congruence between celebrity and product toward purchasing behavior on product endorsed by celebrity. The celebrity intended in this study is Slank. Celebrity attitude scale (Maltby, Houran, Lange, Ashe, & McCutcheon, 2002) was used to measure celebrity worship, the opportunity to meet celebrity was measured by counting the distance between participant's domicilies and Slank's fanbase, and the perception of congruence between celebrity and product was measured using semantic meaning distance between 'Slank band' concept and 'product' concept.
The result from 80 participants shows that the level of celebrity worship only makes the participants to purchase more in certain products. In contrary, low opportunity to meet celebrity makes the participants to purchase more on products endorsed by Slank. Result from this study also shows that the high perception of congruence between Slank band and product does not make participants buy that product. Participant perceive higher in congruency between concept of Slank band and products endorsed by them, compare to congruency between concept of Slank band and other similar products not endorsed by them."
Depok: Universitas Indonesia, 2009
659.1 RAN p
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Asya Al Shifa
"My Liberation Notes merupakan drama Korea yang mengangkat tema tentang permasalahan yang dialami oleh kalangan dewasa muda. Fokus drama bercerita tentang pencarian jati diri tokoh-tokoh utama dalam menemukan arti kebebasan. Penelitian ini membahas mengenai permasalahan eksistensial yang terjadi pada tokoh Yeom Mi-Jeong. Mi-Jeong memiliki konflik dalam dirinya sehingga ia merasa hidupnya berjalan tanpa ambisi. Rumusan masalah dari penelitian ini adalah bagaimana relasi menjadikan seseorang menjadi eksis. Penelitian ini bertujuan untuk menjabarkan perubahan tahapan eksistensialisme yang terjadi pada tokoh Yeom Mi-Jeong. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan drama Korea My Liberation Notes sebagai sumber data primer. Selain itu landasan teori yang digunakan berasal dari buku yang ditulis oleh Gabriel Marcel, yaitu The Mystery of Being dan Being and Having. Hasil penelitian menunjukkan bahwa relasi intersubjektif yang terjadi pada tokoh Yeom Mi-Jeong mendorong munculnya perasaan cinta yang kemudian menjadikan seseorang menjadi individu yang being atau eksis. Yeom Mi-Jeong sebagai tokoh utama dalam drama My Liberation Notes memiliki berbagai momen yang memunculkan permasalahan eksistensial. Cara pandang Yeom Mi-Jeong yang berbeda dalam menghadapi setiap masalah yang ada menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan dalam tahapan eksistensi pada tokoh Yeom Mi-Jeong. Relasi intersubjektif yang terjalin juga ikut memengaruhi eksistensinya.

My Liberation Notes is a Korean drama that addresses the issues faced by young adults. The drama primarily focuses on the quest for self-discovery in finding the meaning of liberation. This research discusses the existential problems experienced by the character Yeom Mi-Jeong. Mi-Jeong faces inner conflicts that make her feel as if her life lacks ambition. The formulation of the problem of this research is how relationships contribute to one’s existence. This study aims to describe the changes in the stages of existentialism that occur in the character Yeom Mi-Jeong. This study uses a qualitative method with the Korean drama My Liberation Notes as the primary data source. Other than that, the theoretical basis used comes from a book written by Gabriel Marcel namely “The Mystery of Being” and “Being and Having. The results showed that the intersubjective relationships experienced by the character Yeom Mi-Jeong lead to the emergence of feelings of love, which in turn contribute to one’s being or existence. Yeom Mi-Jeong as the main character in the drama My liberation Notes has various moments that raise existential problems. Yeom Mi-Jeong's different perspective in dealing with every problem that exists causes changes in the stages of existence of Yeom Mi-Jeong's character. The intersubjective relations that exist also influence its existence."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2023
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Nadia Maghfira Ramadhani
"W-Two Worlds merupakan drama Korea yang bercerita mengenai webtoon yang ada di  Korea Selatan, tokoh utamanya melakukan pencarian jati diri dan perlawanan atas takdir yang ada di dalam kehidupannya. Oleh karena itu, penulis menganalisis unsur eksistensialisme untuk memahami tokoh Kang Chul pada drama W - Two Worlds. Kang Chul yang memiliki konflik diri dan krisis identitas akibat kehilangan keluarganya menjadi faktor utama bagaimana eksistensialisme ada. Dengan metode kualitatif, penulis menyelami masalah terkait dengan menonton drama beberapa kali dan mengambil adegan terkait. Kemudian adegan yang telah dipilih oleh penulis dianalisis keterkaitannya dengan eksistensialisme dari sudut pandang beberapa tokoh eksistensialisme. Tindakan tokoh Kang Chul yang merepresentasikan suatu bentuk eksistensialisme diperlihatkan secara eksplisit melalui beberapa dialog dan adegan yang ada di dalamnya. Tindakannya dalam menentang maut yang diberikan oleh penciptanya sebagai bentuk upaya melawan takdir telah mengubah eksistensinya dari wujud être en soi menjadi wujud yang être pour soi. Upaya dari perlawanan Kang Chul atas takdirnya merupakan negasi yang ada pada wujud awalnya,  être en soi. Kang Chul yang menjalani kehidupannya sebagai makhluk être pour soi memiliki kehidupan yang dinamis dan berubah-ubah layaknya seorang manusia yang nyata wujudnya. Sebagai seorang tokoh utama dari sebuah kartun, Kang Chul berbeda dari tokoh kartun pada umumnya yakni memiliki tindakan eksistensialisme dalam menjalani kehidupannya.

W-Two Worlds is a Korean drama that tells the story of a webtoon in South Korea, the main character doing a search for identity and resistance to the destiny in his life. Therefore, the authors analyze the element of existentialism to understand the character of Kang Chul in the drama W-Two Worlds. Kang Chul who has a self-conflict and identity crisis due to the loss of his family is a major factor in how existentialism exists. With qualitative methods, the writer will explore the problems associated with watching the drama several times and taking related scenes. Then the scene chosen by the author is analyzed in relation to existentialism from the point of view of some existentialism figures. Kang Chul actions that represent a form of existentialism are shown explicitly through several dialogues and scenes in it. His actions in opposing death given by his creator as an effort to fight destiny have changed their existence from the form of être en soi to the form that is être pour soi. The effort of Kang Chul is opposition to his destiny is a negation that was in its original form, être en soi. Kang Chul who lives his life as a creature être pour soi has a dynamic and changing life like a real human being. As a main character of a cartoon, Kang Chul is different from the general cartoon character who has an existentialism in living his life."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2020
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Abilita Putinagari Imani
"Drama adalah karya seni yang terdiri dari percakapan lisan atau gerak yang dilakukan oleh tokoh serta memiliki subjek, aksi, perkembangan, klimaks, dan kesimpulan. Drama memerlukan alur cerita dan penokohan yang kuat untuk dapat membentuk cerita yang menarik. K-Drama merupakan fase pertama dari hallyu yang menjadi awal globalisasi budaya dan produk hiburan Korea. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis penokohan dan konflik pada tokoh utama drama Voice 3 menggunakan pendekatan psikologi sastra. Penelitian ini menggunakan teori psikoanalisis Jacques Lacan untuk menganalisis karakteristik tokoh utama dalam drama Voice 3. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik studi pustaka. Pada hasil penelitian ini disimpulkan bahwa kedua tokoh utama, Do Kangwoo dan Kang Kwonjoo, adalah tokoh protagonis yang memiliki nilai moral yang berbeda. Kemudian disimpulkan juga bahwa konflik pada penokohan kedua tokoh utama berada pada fokus yang berbeda. Konflik Kwonjoo difokuskan pada konflik antartokoh, sedangkan konflik Kangwoo difokuskan pada konflik batin dengan dirinya sendiri. Kedua konflik ini timbul karena adanya psikopati pada other Kangwoo dan pengaruh tokoh antagonis, Kaneki Masayuki. Kedua elemen tersebut juga menjadi benang merah yang menghubungkan Kangwoo dan Kwonjoo.

Drama is a work of art that consists oral conversations or movements carried out by characters and has a subject, action, development, climax, and conclusion. Drama needs a strong plot and characterization to build an interesting story. K-Drama was the first phase of hallyu which marks the beginning of the globalization of Korean culture and entertainment. The purpose of this research is to analyze the characterization and conflicts of Voice 3 Korean drama’s main characters using literary psychology approach. This research uses Jacques Lacan’s psychoanalysis theory to analyze the characteristic of the main characters. This research uses descriptive method with literature review technic. From the result of this research it is concluded that both main characters, Do Kangwoo and Kang Kwonjoo, are protagonists who have a different moral value. It is also concluded that there was a different focus on the conflict of the main characters. Kwonjoo’s conflict is focused on conflict between character, meanwhile Kangwoo’s conflict is focused on his inner conflict with himself. These conflicts are caused by Kangwoo’s psychopathic other and the influence an antagonist character, Kaneki Masayuki. Those two elements also become a connecting line between the main characters."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2021
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Kirana Amarissa Qonita Muniruzaman
"Perilaku menggemari idola K-pop dapat berdampak pada hubungan romantis penggemarnya. Salah satunya adalah romantic beliefs penggemar yang berperan penting pada tahap awal membangun sebuah hubungan romantis. Sebelumnya, mayoritas penelitian lebih berfokus pada hubungan parasosial yang intensitas perilakunya lebih ringan dibandingkan celebrity worship. Penelitian ini bertujuan untuk memperkaya literatur celebrity worship dengan melihat peran setiap tingkatan celebrity worship (entertainment-social, intense-personal feelings, dan borderline-pathological) dalam memprediksi romantic beliefs penggemar K-pop. Penelitian diikuti oleh 238 penggemar K-pop berumur 18-25 tahun (80.3% perempuan) dan diuji menggunakan alat ukur Celebrity Attitude Scale (CAS) dan Romantic Beliefs Scale (RBS). Uji hierarchical multiple regression menunjukkan bahwa entertainment-social (R2 = 0.045, p < .05), intense-personal feelings (R2 = 0.090, p < .05), dan borderline-pathological (R2 = 0.100, p < .05) dapat memprediksi romantic beliefs secara signifikan bahkan setelah status hubungan romantis dan status pernikahan orang tua dikontrol. Semakin tinggi intensitas celebrity worship penggemar K-pop, maka semakin ideal romantic beliefs-nya. Hasil ini dapat digunakan untuk melengkapi literasi mengenai celebrity worship serta dijadikan pertimbangan oleh pelaku intervensi dan manajemen artis K-pop dalam melakukan tindakan yang berkaitan dengan penggemar K-pop

The behavior of worshiping K-pop idols can have an impact on the fans’ romantic relationships in real life, including their romantic beliefs. Romantic beliefs play an important role in the beginning stage of a relationship. Previous research mainly focused on parasocial relationships which are less intense than celebrity worship. The purpose of the study was to examine the role of each level of celebrity worship (entertainment-social, intense-personal feelings, and borderline-pathological) in predicting K-pop fans’ romantic beliefs. In this study, 238 K-pop fans between the ages of 18 to 25 years (80.3% female) participated and were tested using Celebrity Attitude Scale (CAS) and Romantic Beliefs Scale (RBS). Hierarchical multiple regression showed that entertainment-social (R2 = 0.045, p < .05), intense-personal feelings (R2 = 0.090, p < .05), and borderline-pathological (R2 = 0.100, p < .05) could significantly predict romantic beliefs even after controlling the fans’ relationship status and their parent’s marital status. Therefore, the higher the intensity of a fan’s celebrity worship, the more ideal their romantic beliefs are. This finding provides new information to the existing literature regarding celebrity worship and can be taken into consideration by interventionists and K-pop artist management when taking actions related to K-pop fans"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>