Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 119670 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Diviandari Sabitha
"ABSTRAK
Dengan banyaknya kebutuhan penggunaan darah di rumah sakit, menjadikan darah sebagai produk yang penting. Jika jumlah minimal kebutuhan darah tidak dapat dipenuhi, rumah sakit akan mengalami kesulitan untuk melakukan transfusi darah kepada pasien yang membutuhkan. Salah satu provinsi yang kebutuhan darahnya belum terpenuhi adalah Provinsi Banten. Untuk memenuhi kebutuhan darah di Banten, maka timbul usulan untuk membuat Unit Donor Darah baru di Tangerang Selatan agar jumlah pasokan darah dapat mencapai target minimum kebutuhan darah. Dalam menentukan jumlah dan lokasi Unit Donor Darah baru yang optimal, diperlukan sebuah pengembangan model matematika yang turut mempertimbangkan beberapa faktor seperti jarak antara Unit Donor Darah dengan Unit Transfusi Darah, jumlah donasi darah pada area kandidat Unit Donor Darah baru, anggaran biaya yang dibutuhkan, serta area wilayah kandidat Unit Donor Darah baru. Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, penelitian ini menggunakan Binary Integer Programming sebagai cara untuk membuat keputusan dalam menentukan jumlah dan lokasi Unit Donor Darah dari beberapa pilihan yang ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terpilih dua lokasi Unit Donor Darah untuk dibangun. Dari lokasi pertama didapatkan jumlah donasi darah sebanyak 1680 kantong per bulan dengan biaya pembuatannya sebesar Rp 597.958.976. Dari lokasi kedua didapatkan jumlah donasi darah sebanyak 930 kantong per bulan dengan biaya pembuatannya sebesar Rp 595.056.976. Dari kedua Unit Donor Darah baru ini, jumlah darah yang didapat telah memenuhi jumlah minimal kebutuhan darah Provinsi Banten per bulan serta sudah sesuai dengan anggaran biaya yang dimiliki.

ABSTRACT
With the many needs of the use of blood in hospitals, making blood a very important product. If a minimum amount of blood needs cannot be met, the hospital will have difficulty in making blood transfusions to patients in need. Banten is one of the provinces that has not been able to meet the minimum blood needs. To meet blood needs in Banten, a proposal emerged to create new Blood Donation Unit in South Tangerang so that the amount of blood supply could reach the minimum target of blood needs. In determining the optimal number and location of new Blood Donation Units, it is necessary to develop a mathematical model that considers several factors such as the distance between the Blood Donation Unit and the Blood Transfusion Unit, the amount of blood donation in the candidate area of the new Blood Donation Unit, the required budget to make Blood Donation Unit, and new Blood Donation Unit candidate area. To solve this problem, this study uses Binary Integer Programming as a way to make decisions in determining the number and location of Blood Donation Units from several options. The results showed that two Blood Donation Unit location has been chosen to build. From the first location, the number of blood donations obtained is 1680 bags per month, with the manufacturing cost is Rp. 597.958.976. From the second location, the total number of blood donations obtained is 930 bags per month with the manufacturing cost is Rp. 595.056.976. From the two new Blood Donation Units, the amount of blood obtained has met the minimum amount of blood needs in Banten Province per month and is in accordance with the budget available."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tity Silvia
"ABSTRAK
Latar belakang. Transfusi darah mempunyai resiko untuk menyebabkan transmisi penyakit melalui darah, seperti malaria. Indonesia merupakan daerah endemik malaria terutama jenis P.falsiparum dan P.vivax. Di daerah endemik sulit menyaring kasus malaria hanya melalui wawancara dan keadaan klinis saja sehingga diperlukan pemeriksaan laboratorium untuk menyaring kasus malaria. Pemeriksaan laboratorium terhadap malaria yang ada saat ini adalah pemeriksaan mikroskopik dengan pewarnaan Giemsa, rapid diagnostic tests (RDT) dan PCR. Teknik yang digunakan tersebut memiliki keterbatasan. Perubahan yang terjadi pada permukaan membran eritrosit selama perkembangan parasit malaria intraseluler antara lain diekspresikannya berbagai protein polimorfik yang diketahui dapat memberi respon imun yang kuat. Antibodi terhadap molekul protein ini dapat ditemukan dalam serum penderita segera setelah penyembuhan infeksi malaria primer. Oleh karena itu, dilakukan penelitian ini untuk melihat apakah sediaan apus sel darah merah yang terinfeksi malaria yang diwarnai dengan teknik imunositokimia dapat mendeteksi adanya antigen pada permukaan sel darah merah tersebut menggunakan mikroskop cahaya.
Metodologi.Penelitian ini dilakukan pada 42 bahan penelitian yang terdiri dari bahan yang positif dan negatif berdasarkan pemeriksaan mikroskop. Bahan penelitian ini diperiksa dengan teknik PCR sebagai baku emas, lalu dilanjutkan dengan pemeriksaan imunositokimia ( immunocytochemistry,ICC).
Hasil. Dari 42 bahan penelitian yang diperiksa dengan PCR , dua bahan tidak dapat dilanjutkan dengan pemeriksaan ICC karena sediaan terlalu kecil.Dari 40 bahan yang diperiksa dengan PCR dan ICC, tiga bahan penelitian menunjukkan hasil positif dengan pemeriksaan PCR maupun ICC. Satu bahan penelitian yang negatif dengan pemeriksaan PCR menunjukkan hasil positif dengan pemeriksaan ICC. Sensitivitas pemeriksaan menggunakan teknik ICC dibandingkan dengan PCR adalah 100% dengan spesifisitas 97%.
Simpulan. Pemeriksaan ICC cukup sensitif untuk menyaring adanya sel darah merah yang terinfeksi malaria sehingga dapat dipertimbangkan sebagai pemeriksaan untuk uji saring malaria pada darah donor.

ABSTRACT
Background. Blood transfusion are at risk to cause the transmission of blood borne diseases, such as malaria. Indonesia is a malaria- endemic areas , especially P.falciparum and P.vivax. In endemic areas, malaria is difficult to filter out throught interviews and clinical manifestation only. Hence, the laboratory tests to screen cases of malaria are needed. The existing laboratory techniques to detect malaria are microscopic examination with Giemsa staining, rapid diagnostic test and PCR. These technique had limitation . Changes that occur on the surface of the erythrocyte membrane during intracellular malaria parasite development such as the expression of various polymorphic protein, is known to induce a strong immune response. Antibodies to this protein molecule can be found in the serum of patients immediately after primary malarial infection. Therefore this research aims to search if the red blood cells smear of blood infected with malaria using immunocytochemistry technique can detect the presence of antigens on the surface of red blood cells using a light microscope.
Methodology. In this study conducted at 42 study material consisting of positive and negative material base on microscope examination. This research material examined by PCR as gold standard, followed by immunocytochemistry examination (ICC).
Result. Forty two research material were examined by PCR, two material can not be able to proceed with the ICC examination because the size of preparation are too small. Forty material were examined by PCR and ICC, three material research shows positive result with PCR and ICC . One study material negative with PCR shows positive result with the ICC. Sensitivity checks using ICC compared to PCR technique was 100% with specificity was 97%.
Conclusion. ICC technique is sensitive to screen for red blood cells infected with malaria. It can be considered as a screening examination for malaria in blood donor.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Teuku Ilhami Surya Akbar
"[ABSTRAK
Latar belakang. Komponen darah washed erythrocyte (WE) mempunyai fungsi yang sama dengan leukodepleted PRC (LD-PRC) yaitu untuk mencegah atau mengurangi reaksi transfusi. Namun banyak kekhawatiran para klinisi tentang cara pembuatan komponen darah WE dan bahan yang terkandung pada filter leukosit untuk menangkap leukosit. Tujuan utama dari penelitian ini adalah memberikan bukti secara ilmiah akan keamanan dalam pemakaian komponen darah PRC yang telah dimodifikasi ini dan juga memberikan pemahaman tentang pemakaian yang benar untuk komponen darah ini. Metoda. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang pada 52 sampel darah. Pemeriksaan darah dilakukan pada 26 sampel WE sebelum dan sesudah menjadi komponen darah WE dan 26 sampel LD-PRC sebelum dan sesudah menjadi komponen darah LD-PRC. Pemeriksaan hematologi diperiksa secara otomatis menggunakan Sysmex Xn-2000, total protein diperkirakan menggunakan ADVIA 1650/1800, sedangkan hemolisis darah diamati menggunakan uji Osmotic Fragility Test (OFT). Hasil. Menunjukan kadar hemoglobin pada kelompok WE berkurang 15,4%, volume hematokrit menurun 8,55%, kadar protein menurun 98,4 %, dan jumlah leukosit menurun 87,31% dibandingkan dengan kelompok PRC sebelum dicuci. Selain itu, kadar hemoglobin dari komponen darah leukodepleted menurun 29,1%, volume hematokrit meningkat 21%, kadar protein menurun 79,1% dan jumlah leukosit menurun 99,9% dibandingkan dengan kelompok WB sebelum dijadikan komponen leukodepleted PRC. Persentase hemolisis pada komponen darah WE dan LD-PRC adalah < 0,8% Perbedaan bermakna komponen darah WE dan LD-PRC dapat diamati pada parameter penilaian protein sisa dan leukosit sisa (p<0,05). Simpulan. Dalam pembuatan komponen darah WE protein plasma berkurang sebanyak 98,4%, sedangkan dalam pembuatan leukodepleted PRC, jumlah leukosit berkurang sebanyak 99,97%. Terjadinya hemolisis dapat diabaikan karena pada kedua komponen darah, hemolisis terjadi < 0,8%. Jika diperlukan komponen darah dengan kandungan protein plasma yang sedikit dapat digunakan komponen darah WE, sementara itu jika diperlukan komponen darah dengan jumlah leukositnya sedikit dapat digunakan/dipilih komponen darah leukodepleted.

ABSTRACT
Background. Washed erythrocyte (WE) and leukodepleted erythrocyte (LD-PRC) are normally used in clinical transfusion to prevent transfusion reaction. However, clinicians are wondering on the safety of those two blood components. The open system with saline for erythrocyte washing and the use of filter for blood leukodepletion still leave quiries on the possibility of hemolysis and their effectiveness for clinical transfusion. This study aims to provide scientific reasoning and the appropriate use of WE and leukodepleted blood respectively. Methods. A cross sectional approach was employed in this study on two groups of blood component consisting of 52 blood samples each , i.e. WE and LD-PRC respectively. Blood examinations were carried out on 26 WE samples prior to and after washing and on 26 LD-PRC samples prior to and after leukodepletion. Blood indices were examined automatically using Sysmex Xn-2000, total protein was estimated using ADVIA 1650/1800, while blood hemolysis was observed employing Osmotic Fragility Test (OFT). Results. It was shown that hemoglobin concentration of WE group decreased by 15.4%, hematocrit volume decreased by 8.55%, protein concentration decreased by 98.4%, and leukocyte count decreased by 87.3% compared to those the original Packed Red Cells. In addition, it was shown that the hemoglobin concentration of the leucodepleted blood component decreased by 29.1%, hematocrit volume increased by 21%, protein concentrations decreased 79.1% and the leukocyte count decreased by 99.9%. All the sampel of the WE blood products and all the LD-PRC blood sampel has hemolysis level <0,8% However, a significant difference in protein concentration and leukocyte count was observed betwen WE and LD-PRC (p<0.05). Conclusion. The process of erythrocytes? washing decreased the plasma protein concentration by 98.4%, whilst the process of leucodepletion decreased the leucocyte count by 99.97%. Hemolysis during the preparation of both blood components could be negligible. It is concluded that WE blood component is preferable for transfusion when low plasma protein is required. On the other hand, leukodepleted PRC is preferable when blood component with low in leucocyte count is required.;Background. Washed erythrocyte (WE) and leukodepleted erythrocyte (LD-PRC) are normally used in clinical transfusion to prevent transfusion reaction. However, clinicians are wondering on the safety of those two blood components. The open system with saline for erythrocyte washing and the use of filter for blood leukodepletion still leave quiries on the possibility of hemolysis and their effectiveness for clinical transfusion. This study aims to provide scientific reasoning and the appropriate use of WE and leukodepleted blood respectively. Methods. A cross sectional approach was employed in this study on two groups of blood component consisting of 52 blood samples each , i.e. WE and LD-PRC respectively. Blood examinations were carried out on 26 WE samples prior to and after washing and on 26 LD-PRC samples prior to and after leukodepletion. Blood indices were examined automatically using Sysmex Xn-2000, total protein was estimated using ADVIA 1650/1800, while blood hemolysis was observed employing Osmotic Fragility Test (OFT). Results. It was shown that hemoglobin concentration of WE group decreased by 15.4%, hematocrit volume decreased by 8.55%, protein concentration decreased by 98.4%, and leukocyte count decreased by 87.3% compared to those the original Packed Red Cells. In addition, it was shown that the hemoglobin concentration of the leucodepleted blood component decreased by 29.1%, hematocrit volume increased by 21%, protein concentrations decreased 79.1% and the leukocyte count decreased by 99.9%. All the sampel of the WE blood products and all the LD-PRC blood sampel has hemolysis level <0,8% However, a significant difference in protein concentration and leukocyte count was observed betwen WE and LD-PRC (p<0.05). Conclusion. The process of erythrocytes’ washing decreased the plasma protein concentration by 98.4%, whilst the process of leucodepletion decreased the leucocyte count by 99.97%. Hemolysis during the preparation of both blood components could be negligible. It is concluded that WE blood component is preferable for transfusion when low plasma protein is required. On the other hand, leukodepleted PRC is preferable when blood component with low in leucocyte count is required., Background. Washed erythrocyte (WE) and leukodepleted erythrocyte (LD-PRC) are normally used in clinical transfusion to prevent transfusion reaction. However, clinicians are wondering on the safety of those two blood components. The open system with saline for erythrocyte washing and the use of filter for blood leukodepletion still leave quiries on the possibility of hemolysis and their effectiveness for clinical transfusion. This study aims to provide scientific reasoning and the appropriate use of WE and leukodepleted blood respectively. Methods. A cross sectional approach was employed in this study on two groups of blood component consisting of 52 blood samples each , i.e. WE and LD-PRC respectively. Blood examinations were carried out on 26 WE samples prior to and after washing and on 26 LD-PRC samples prior to and after leukodepletion. Blood indices were examined automatically using Sysmex Xn-2000, total protein was estimated using ADVIA 1650/1800, while blood hemolysis was observed employing Osmotic Fragility Test (OFT). Results. It was shown that hemoglobin concentration of WE group decreased by 15.4%, hematocrit volume decreased by 8.55%, protein concentration decreased by 98.4%, and leukocyte count decreased by 87.3% compared to those the original Packed Red Cells. In addition, it was shown that the hemoglobin concentration of the leucodepleted blood component decreased by 29.1%, hematocrit volume increased by 21%, protein concentrations decreased 79.1% and the leukocyte count decreased by 99.9%. All the sampel of the WE blood products and all the LD-PRC blood sampel has hemolysis level <0,8% However, a significant difference in protein concentration and leukocyte count was observed betwen WE and LD-PRC (p<0.05). Conclusion. The process of erythrocytes’ washing decreased the plasma protein concentration by 98.4%, whilst the process of leucodepletion decreased the leucocyte count by 99.97%. Hemolysis during the preparation of both blood components could be negligible. It is concluded that WE blood component is preferable for transfusion when low plasma protein is required. On the other hand, leukodepleted PRC is preferable when blood component with low in leucocyte count is required.]"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Soenardi Moeslichan
"Rasa syukur kita ini akan bertambah nikmat manakala kita menyadari eksistensi diri di alam jagat raya ini. Manusia adalah salah satu dari sejumlah makhluk bumi, dan seorang manusia adalah seorang warga penduduk bumi yang diperkirakan akan mencapai 6,2 milyard pada tahun 2000 nanti. Mereka saling berinteraksi dan saling merindukan kedamaian (walaupun masih terjadi peperangan antar manusia disana-sini yang masih sulit untuk didamaikan).
Menyadari betapa kecil kehadiran manusia di bumi ini, manusia akan lebih merasakan betapa kecilnya lagi manakala dianugerahi kemampuan berfikir, bahwa bumipun hanya merupakan sebagian kecil eksistensinya dalam tata surya alam ini. Allahu Akbar.
Dengan manusia sebagai titik tumpu setelah teropong megamakro digunakan untuk mengagumi kebesaran jagad raya dalam makrokosmos berbalik teropong itu diarahkan ke dalam dunia mikro terhadap komposisi tubuh manusia. Kita akan dapat temukan berbagai fenomena menakjubkan yang dapat dilihat dan dipelajari. Salah satu diantaranya adalah darah.
Benda cair yang berwarna merah ini tersusun dari berbagai materi biologis yang juga saling berinteraksi. Interaksi yang serasi diperankan oleh masing-masing unsur untuk mempertahankan homeostasis tubuh agar terpelihara tubuh yang sehat. Mereka diproduksi .di dalam sumsum tulang. Sumsum tulang ini seakan-akan suatu pabrik yang memproduksi berbagai jenis sel darah, setiap hari tiada hentinya. Diperhitungkan sekitar 200 bilion sel darah merah, 10 bilion sel darah putih dan 400 bilion butir trombosit diproduksi setiap hari. Betapa besar kapasitas pabrik dalam tubuh kita ini. Keindahan semakin dirasakan karena terbukti masing-masing materi bioiogis ini saling berinteraksi yang sangat unik di dalam dunianya. Apabila karena sesuatu hal interaksi dan produksi tersebut terganggu maka terjadilah penyakit yang mengancam kehidupan individu tersebut.
Darah masih merupakan materi biologis yang belum dapat di sintesis di luar tubuh, atas dasar itu apabila pada suatu saat terjadi kekurangan darah atau komponennya, biasanya seseorang memerlukan bantuan darah dari orang lain yang disebut transfusi darah. Tetapi dalam transfusi darah yang bertujuan menyelamatkan jiwa sesama manusia tersebut, dapat mengundang pula berbagai risiko yang merugikan kesehatan tubuh, bahkan dapat berakibat kematian. Atas dasar itu praktek transfusi darah yang benar haruslah dilandasi oleh suatu disiplin ilmu yang disebut Ilmu Transfusi Darah (Transfusion Medicine).
Berbagai keindahan dan pesona darah yang mendasari ilmu ini mengundang kekaguman, dan kadang-kadang enak dinikmati, karena itu saya ingin berbagi rasa dengan para hadirin dengan menyajikan sekelumit tentang transfusi darah yang berkaitan dengan profesi saya sebagai dokter anak, kemudian ikut memikirkan kemungkinan permasalahannya dalam suatu sajian yang berjudul Kajian Pediatrik Terhadap Transfusi Darah.
Para hadirin yang berbahagia,
Seperti dikemukakan sebelumnya darah adalah materi biologis, berbentuk cair berwarna merah. Didalamnya terkandung bagian yang bersifat korpuskuler dan sebagian lainnya bersifat tarutan. Bagian korpuskuler ini disebut sebagai butiran darah yang terdiri dari sel darah merah (erythrocyte), sel darah putih (leukocyte) dan butir trombosit (platelet), Ketiga jenis butiran darah ini terutama dibuat di dalam sumsum tulang dari sejenis sel yang disebut sel stem. Sel stem ini seolah-olah suatu benih yang mampu terus-menerus bertahan dengan memperbanyak diri serta berdeferensiasi. Hal ini dimungkinkan karena di dalam sumsum tulang terdapat strama yang memberkan lingkungan mikro (micraenvironment) seakan-akan suatu lahan tanah yang subur bagi pertumbuhan sel stem.
Katau diperhatikan lebih seksama, sel darah merah itu berbentuk diskus bikonkaf yang fleksibel, diameternya 8 um, dan didalamnya berisi cairan hemoglobin. Hemoglobin inilah yang memberi warna merah darah kita. Bentuk sel darah merah yang fleksibel memungkinkan sel darah merah melalui saluran sirkulasi mikro yang berdiameter lebih kecil."
Jakarta: UI-Press, 1995
PGB 0121
UI - Pidato  Universitas Indonesia Library
cover
New Delhi: WHO, 1998
362.178 4 WOR s
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Ria Syafitri Evi Gantini
"Pendahuluan: Transfusi darah pada hakekatnya adalah suatu proses pemindahan darah dari seorang donor ke resipien. Untuk memastikan bahwa transfusi darah tidak akan menimbulkan reaksi pada resipien maka sebelum pemberian transfusi darah dari donor kepada resipien, perlu dilakukan pemeriksaan golongan darah ABO dan Rhesus serta uji silang serasi antara darah donor dan darah resipien. Walaupun golongan darah donor dan pasien sama, ternyata dapat terjadi ketidakcocokan(inkompatibilitas) pada uji silang serasi.Sehingga perlu dilakukan analisis penyebab ketidakcocokan pada uji silang serasi antara darah donor dan pasien.
Cara kerja : Hasil pemeriksaan terhadap 1.108 sampel darah pasien yang dirujuk ke laboratorium rujukan unit transfusi darah daerah (UTDD) PMI DKI dari bulan Januari-Desember 2003 dikumpulkan, kemudian dikaji penyebab terjadinya inkompatibilitas pada uji silang serasi.
Hasil dan diskusi: Dari 1.108 kasus yang dirujuk, 677 (61.10%) kasus menunjukkan adanya inkompatibilitas pada uji silang serasi. Sisanya 431 (38.90 %) menunjukan adanya kompatibilitas (kecocokan) pada uji silang serasi. Dari 677 kasus inkompatibel, 629 (92.90%) kasus disebabkan karena pemeriksaan antiglobulin langsung (DAT-Direct Antiglobulin Test) yang positif. Sisanya yaitu 48 (7.10%) kasus disebabkan karena adanya antibodi pada darah pasien yang secara klinik berpengaruh terhadap transfusi darah dari donor ke pasien. Kasus inkompatibel yang menunjukan hasil positif pada uji antiglobulin langsung (DAT=Direct Antiglobulin Test )sebanyak 629 kasus (92.90%), dengan perincian hasil positip DAT terhadap IgG pada ditemukan sebanyak 493 kasus (78.38%), hasil positip DAT terhadap komplemen C3d sebanyak 46 kasus (7.31%), dan hasil positip DAT terhadap kombinasi IgG dan C3d sebanyak 90 kasus (14.31%)."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2004
T13665
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Myhre, Byron A.
New York: John Wiley & Sons, 1974
615.650 7 MYH q
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Evira Putricahya, authot
"Human platelet antigen (HPA) merupakan salah satu antigen yang berpengaruh dalam keberhasilan transfusi trombosit, selain human leukocyte antigen (HLA). Ketidakcocokkan HPA akan menyebabkan platelet transfusion refractoriness (PTR). Berdasarkan penelitian sebelumnya, diketahui bahwa HPA alel 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 15 sering dikaitkan dengan proses terjadinya PTR. Penelitian bertujuan untuk mengetahui frekuensi gen pada HPA alel 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 15 pada populasi Indonesia dan membuat panel data HPA alel 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 15 dari donor, khususnya donor lestari, untuk peningkatan pelayanan transfusi trombosit di Indonesia. Genotyping dilakukan dengan menggunakan metode polymerase chain reaction- sequence specific primer (PCR-SSP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada populasi Indonesia, frekuensi gen HPA 1a dan 1b sebesar 0,97% dan 0.03%; frekuensi gen HPA 2a dan 2b sebesar 0,94% dan 0,06%; frekuensi gen HPA 3a dan 3b sebesar 0,52% dan 0,48%; frekuensi gen HPA 4a dan 4b sebesar 0,95% dan 0,05%; frekuensi gen HPA 5a% dan 5b% sebesar 0,97% dan 0,03%; frekuensi gen HPA 6a dan 6b sebesar 0,95% dan 0,05%; dan frekuensi gen HPA 15a dan 15b sebesar 0,51% dan 0,49%.

Human platelet antigen (HPA) is one of the antigens that influences the success of platelet transfusion, in addition to human leukocyte antigen (HLA). Human Platelet Antigen mismatch leads to platelet transfusion refractoriness (PTR). Based on previous research, it is known that the HPA alleles of 1, 2, 3, 4, 5, 6, and 15, are linked to the PTR process. This aims of this research are to determine the genotypes of HPA alleles 1, 2, 3, 4, 5, 6, and 15, and also to estimate the frequency of those alleles in Indonesia. The results will be put into the data panel, for improvement in platelet transfusion services for sustainable donors. Polymerase Chain Reaction-Sequence Specific Primers (PCR-SSP) was used in this research for allele detection. The result shows the frequency of those alleles are as follows; the frequency of HPA gene 1a and 1b are 0.97 and 0.03; HPA gene 2a and 2b are 0.94 and 0.06, HPA gene 3a and 3b are 0.52 and 0.48, HPA gene 4a and 4b are 0.95 and 0.05, GPA gene 5a and 5b are 0.97 and 0.03, HPA gene 6a and 6b are 0.95 and 0.05, and HPA gene 15a and 15b are 0.51 and 0.49.;Human platelet antigen (HPA) is one of the antigens that influences the success of
platelet transfusion, in addition to human leukocyte antigen (HLA). Human
Platelet Antigen mismatch leads to platelet transfusion refractoriness (PTR).
Based on previous research, it is known that the HPA alleles of 1, 2, 3, 4, 5, 6, and
15, are linked to the PTR process. This aims of this research are to determine the
genotypes of HPA alleles 1, 2, 3, 4, 5, 6, and 15, and also to estimate the
frequency of those alleles in Indonesia. The results will be put into the data panel,
for improvement in platelet transfusion services for sustainable donors.
Polymerase Chain Reaction-Sequence Specific Primers (PCR-SSP) was used in
this research for allele detection. The result shows the frequency of those alleles
are as follows; the frequency of HPA gene 1a and 1b are 0.97 and 0.03; HPA gene
2a and 2b are 0.94 and 0.06, HPA gene 3a and 3b are 0.52 and 0.48, HPA gene 4a
and 4b are 0.95 and 0.05, GPA gene 5a and 5b are 0.97 and 0.03, HPA gene 6a
and 6b are 0.95 and 0.05, and HPA gene 15a and 15b are 0.51 and 0.49.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2013
S52929
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tanamal, Grace C.D.
"ABSTRAK
Latar belakang. Defisiensi besi adalah salah satu gangguan gizi yang paling umum di seluruh dunia dan ini bisa terjadi pada para donor darah laki-laki yang rutin. Seorang donor tetap diharapkan dapat menyumbangkan darahnya secara teratur dalam jangka waktu yang tertentu. Pada donor darah yang seringkali diambil, dikhawatirkan pada suatu waktu dapat terjadi defisiensi besi, tanpa anemia. Dengan demikian menjadi perhatian utama para donor tersebut untuk dilakukan skrining defisiensi besi yang bertujuan bagi para donor darah ini agar tetap sehat dan terus mendonorkan darahnya.
Metodologi. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang pada para donor darah laki-laki yang menyumbangkan darahnya pertama, kelima dan kesepuluh kali. Masing-masing donasi terdiri dari 25 orang yang diambil sampel darahnya untuk dilakukan pemeriksaan hematologi darah lengkap dan pemeriksaan serum iron, TIBC, saturasi transferin dan feritin serum.
Hasil. Didapatkan hasil pada donasi pertama, rerata kadar feritin adalah 91,78; pada donasi kelima terjadi peningkatan kadar feritin yaitu sebesar 111,49 dan menurun lagi pada kelompok pendonor donasi kesepuluh yakni 65,28. Hasil uji kruskal wallis menunjukkan ada perbedaan rerata yang bermakna antara kadar feritin pada donasi pertama, kelima dan kesepuluh kali (nilai p = 0,044).
Simpulan. Terdapat penurunan cadangan besi tubuh (feritin serum) pada donasi pertama dan kesepuluh. Semakin sering kita menyumbangkan darah dapat terjadi defisiensi besi tahap pertama yang kita sebut juga iron depletion. Karena itu perlu diperhatikan pola makan atau status gizi dan juga suplemen yang diberikan sesudah donor.

ABSTRACT
Background : Iron deficiency is one of the most common nutritional disorder in the world and this can occur in the routine male blood donors. A blood donor is expected to donate blood regularly in a certain period of time. In routine blood donors, it is feared that they could have iron deficiency without anemia. Thus the need for screening these donors the iron status of these donors, becomes major concern to keep these blood donors healthy and can donate their blood intensly continue to donate blood.
Methodology : This study used a cross-sectional design on the first, fifth and tenth times male blood donors. Each donation consists of 25 people who were test for serum iron, total iron binding capacity ( TIBC), transferrin saturation and serum ferritin.
Results : it is increasing in the first donation, the mean ferritin levels were 91,78, the fifth donation ferritin levels increase in the amount of 111,49 and declined again in the tenth donation donor group 65,28. Results of Kruskal Wallis test showed significant difference between the mean ferritin levels at the first donation, the fifth and the tenth time (p = 0,044).
Conclusion : There is a significant of serum ferritin in the first and tenth routine male male blood donors. Therefore need to be considered diet or nutritional status and iron supplements were given after the donor."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Transfusi darah autologous (TDA) adalah jenis transfusi darah paling aman baik untuk operator maupun pasien. Sedangkan teknik donasi pre operatif merupakan salah satu teknik TDA yang telah berhasil menurunkan permintaan darah homologous dengan sukses. Transfusi darah homologous (TDH) lebih banyak mempunyai risiko terjadinya komplikasi seperti penularan penyakit, reaksi anafilaktik, reaksi hemolitik dsb. Penelitian ini merupakan suatu uji paralel, membandingkan kelompok yang memperoleh TDA dengan kelompok yang memperoleh TDH pada operasi tulang belakang. Parameter yang digunakan adalah nilai hemoglobin(Hb) dan hematokrit(Ht) pre operasi (pasca donasi pada TDA), nilai Hb dan Ht pasca transfusi dan jumlah hari perawatan pasca operasi. Penelitian ini juga untuk mengetahui keberhasilan penggunaan TDA dilihat dari jumlah pasien yang akhirnya menggunakan TDH tambahan. Sampel adalah 74 pasien orthopaedi yang akan menjalani operasi tulang belakang dengan diagnosis fraktur, spondilitis TB, scoliosis, spinal stenosis dan spondilolisthesis. Pada kelompok TDA usia pasien 33,9 ± 14 tahun, sedangkan pada TDH 29,1 ± 11,5 tahun. Berat badan pemakai TDA 55,3 ± 11,1 kg dan pemakai TDH 52,8 ± 9,7 kg. Jumlah donasi pre operatif pada pemakai TDA 798,6 ± 170 cc. Ada 12 pasien (32,4%) yang jumlah donasi pre operatifnya tidak sesuai dengan permintaan. Pada kelompok pemakai TDA, ada delapan pasien (21,6%) yang akhirnya memerlukan tambahan TDH rata-rata 550 cc. Ada tiga pasien (8,1%) dari pemakai TDA mendapatkan transfusi yang tidak sesuai dengan indikasi (perdarahan < 15% dari total blood volume). Nilai Hb dan Ht pre operasi (pasca donasi) pada pemakai TDA secara bermakna (p=0,001) lebih rendah daripada pemakai TDH. Nilai Hb pasca transfusi pada pemakai TDA secara tidak bermakna (p=0,30) lebih rendah daripada pemakai TDH. Jumlah hari perawatan pasca operasi secara bermakna (p=0,000) lebih tinggi pada pemakai TDH dibanding pemakai TDA. Dapat disimpulkan bahwa : ada 21,6% dari pemakai TDA dengan teknik donasi pre operatif yang akhirnya memrlukan TDH tambahan; tidak ada perbedaan yang bermakna Hb, Ht pre operasi dan pasca transfusi pada pemakai TDA dan TDH; jumlah hari perawatan pasca operasi secara bermakna lebih tinggi pada pemakai TDH dibanding pemakai TDA. (Med J Indones 2004; 13: 17-23)

Autologous Blood Transfusion (ABT) is the safest type of blood transfusion for the operator and the patient. The preoperative donation technique had already been reduced the homologous blood requirements successfully. Homologous Blood Transfusion (HBT) brings more risks in complications such as transmission of diseases, anaphylactic reactions, haemolitic reactions etc. This was a parallel study, comparing one group receiving ABT and a second group receiving HBT where in both groups were performed spine surgery. The parameter used was the hemoglobin(Hb) and hematocrit(Ht) content preoperatively (after donation of ABT) and after transfusion, total days in hospitalization after surgery. Another purpose of this study was also to achieve understandings in using ABT by considering the total patients who finally required additional HBT. There were 74 patients with diagnosis of spine fracture, tuberculous spondylitis, scoliosis, spinal stenosis and spondylolisthesis. In the ABT group the average age was 33,9 ± 14 years old and the HBT group was 29,1 ± 11,5 years old. Both groups consisted of 21 males and 16 females. Body weight of the ABT group was 55,3 ± 11,1 kg and the HBT group 52,8 ± 9,7 kg. Amount of donations preoperatively in ABT was 798,6 ± 170 cc. There were 12 patients (32,4%) where the donated blood amount preoperatively did not match up the requests. There were eight patients (21,6%) in the ABT group that required additional HBT of about 550 cc. Three patients (8,1%) of the ABT group received transfusion that did not match the indications (blood loss < 15% of the total blood volume). The Hb and Ht content preoperatively (after donation) of the ABT group significantly was less than the HBT group (p= 0,001). Hb content after transfusion in the ABT group was not significantly less than the HBT group (p = 0,30). Hospitalization days after surgery were significantly higher in the HBT group (p = 0,000). In conclusions : there was 21,6% of the ABT group with the preoperative donation technique that finally required additional HBT. Also there was no difference in the Hb and Ht content preoperatively and post transfusion in the ABT and HBT group, whereas hospitalization days after surgery were higher in the group receiving HBT than in the group receiving ABT. (Med J Indones 2004; 13: 17-23)"
Medical Journal of Indonesia, 13 (1) January March 2004: 17-23, 2003
MJIN-13-1-JanMar2004-17
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>