Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 141991 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Rhanda Rumana
"Natrium Karboksimetil Selulosa (NaCMC) digunakan secara luas di bidang farmasi sebagai eksipien. Serat kapuk merupakan bahan alam dengan kandungan selulosa yang cukup tinggi berkisar antara 35% - 64%. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendapatkan kondisi dan metode optimum pembuatan NaCMC dari α-selulosa serat kapuk, identitas dan karakteristik NaCMC yang dihasilkan dibandingkan dengan NaCMC komersial. Alkalisasi dilakukan dengan menggunakan 25% NaOH dan 1,7% natrium tetraborat. Karboksimetilasi dioptimasi dengan variasi berat natrium monokloroasetat (NaMCA) yang digunakan dan waktu reaksi. Derajat substitusi (DS) ditentukan dengan titrasi asam basa. Produk NaCMC yang optimal dengan nilai DS 0,72 diperoleh dari reaksi karboksimetilasi dengan rasio alfa selulosa dan NaMCA 1,25 : 1. NaCMC yang diperoleh berupa serbuk halus, tidak berbau, tidak berasa, berwarna putih dan nilai pH larutan 1% nya adalah 7,14. Spektrum inframerah NaCMC memiliki kemiripan dengan NaCMC komersial. Berdasarkan perbandingan pola difraktogram dengan difraksi sinar-X sudah terlihat kemiripan antara NaCMC serat kapuk dengan standar serta menunjukkan bentuk kristal dan amorf. Secara morfologi dengan SEM (Scanning Electron Microscope) menunjukkan bentuk morfologi yang lebih pipih dan kasar daripada standar komersial. NaCMC dari alfa selulosa serat kapuk secara keseluruhan sudah mirip dengan NaCMC komersial.

Sodium carboxymethyl cellulose (Na-CMC) is commonly used an excipient on pharmaceutical product. Kapok fiber is one of natural material that contains high amount of cellulose ranges from 35% - 64%. The present research aimed to find out the optimum condition and method of NaCMC prepared from α-cellulose kapok fiber and its identity and characteristics compared to commercial NaCMC. Alkalization was carried out using 25% sodium hydroxide and 1.7% sodium tetraborate. The carboxymethylation reaction was optimized by variation of weight of sodium monochloroacetate (NaMCA) and duration of reaction. The degree of substitution (DS) was determined by acid-base titration method. The optimum NaCMC product with DS value of 0.72 was obtained from carboxymethylation reaction with sodium monochloroacetate to alpha cellulose ratio 1.25 : 1. The NaCMC was obtained in the form of fine powder, odourless, tasteless, white and the pH value of 1% solution was 7.14. The infrared spectra of NaCMC was similar to commercial reference. Based on the comparison of diffractogram by X-Ray diffraction, there was a similarity pattern between NaCMC of kapok fiber with the reference which showed crystalline and amorphous form. Morphologically by using SEM (Scanning Electron Microscope), it showed a more flat and coarser morphological shape than the commercial reference. Overall, NaCMC from kapok fiber alpha cellulose similar with the commercial NaCMC."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Putri Zahra Ardiyanita
"Selulosa adalah salah satu komoditas yang dibutuhkan di berbagai industri, seperti di industri farmasi. Produk turunan selulosa yang sering digunakan dalam industri farmasi adalah natrium karboksimetil (NaCMC) yang berfungsi untuk meningkatkan viskositas, menstabilkan emulsi, sebagai pengikat dan disentegran pada formulasi tablet. Lambung buah Kapok berpotensi menjadi bahan baku pembuatan NaCMC karena memiliki senyawa kimia α-selulosa yang tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan NaCMC dari lambung buah kapuk α-selulosa melalui reaksi alkalisasi dan karboksimetilasi. Alkalisasi dilakukan menggunakan 25% NaOH (mengandung natrium tetraborat), sedangkan karboksimetilasi dilakukan menggunakan natrium monokloroasetat. Identifikasi dan karakterisasi dilakukan dengan analisis spektrum inframerah menggunakan FTIR, analisis kualitatif, pemeriksaan organoleptik, analisis morfologi dan topografi menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM), derajat substitusi (DS), analisis bentuk kristal dan amorf menggunakan difraksi X-Ray (XRD), Tes pH, kadar abu sulfat, kadar air, kehilangan pengeringan, kepadatan partikel, dan viskositas. Serbuk NaCMC yang diperoleh berwarna putih kekuningan, memiliki spektrum inframerah yang mirip dengan perbandingan, menunjukkan hasil positif dalam analisis kualitatif, derajat substitusi 0,57, pH 8,5, morfologi terlihat dengan SEM sangat mirip dengan perbandingan meskipun permukaan NaCMC yang dihasilkan lebih kasar, memiliki pola difraktogram yang mirip dengan perbandingan yang ditandai dengan adanya bentuk kristal dan amorf, kadar air 8,50%, abu sulfat 36,43%, kehilangan pengeringan 9,87%, dan memiliki nilai viskositas 1% 20,6 cP yang jauh berbeda dari perbandingan. Secara umum, NaCMC dari lambung hull pemenuhan persyaratan α-cellulose kapuk dipenuhi.

Cellulose is one of the commodities needed in various industries, such as in the pharmaceutical industry. Cellulose derivative products that are often used in the pharmaceutical industry are sodium carboxymethyl (NaCMC) which function to increase viscosity, stabilize emulsion, as binder and disentegran in tablet formulations. Kapok fruit hull has the potential to be the raw material for NaCMC because it has a high α-cellulose chemical compound. The purpose of this study was to obtain NaCMC from the hull of α-cellulose kapok through alkalization and carboxymethylation reactions. Alkalization is carried out using 25% NaOH (containing sodium tetraborate), while carboxymethylation is carried out using sodium monochloroacetate. Identification and characterization were carried out by infrared spectrum analysis using FTIR, qualitative analysis, organoleptic examination, morphological and topographic analysis using Scanning Electron Microscope (SEM), degree of substitution (DS), crystal and amorphous shape analysis using X-Ray diffraction (XRD), Tests pH, sulfate ash content, moisture content, drying loss, particle density, and viscosity. NaCMC powder obtained yellowish white, has an infrared spectrum similar to the comparison, showed positive results in qualitative analysis, the degree of substitution 0.57, pH 8.5, the morphology seen with SEM is very similar to the comparison even though the surface of the NaCMC produced is more rough, has a diffractogram pattern that is similar to the ratio marked by the presence of crystalline and amorphous shapes, 8.50% moisture content, 36.43% sulfate ash, 9.87% drying loss, and has a viscosity value of 1% 20.6 cP which is far different from comparison. In general, NaCMC from hull hull fulfillment of kapok α-cellulose requirements."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Gya Givana
"Natrium karboksimetil selulosa NaCMC merupakan salah satu turunan selulosa yang digunakan dalam berbagai sektor industri, yaitu sebagai bahan tambahan penting dan banyak digunakan dalam bidang farmasi, kosmetik, makanan, dan industri lainnya. Bambu betung memiliki kadar selulosa yang cukup tinggi yaitu sekitar 42,4-53,6. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendapatkan kondisi dan metode optimum pembuatan NaCMC dari alfa selulosa bambu betung, identitas dan karakteristik NaCMC yang dihasilkan dibandingkan dengan NaCMC komersial. Mula-mula alfa selulosa hasil isolasi dialkalisasi dengan NaOH 25 mengandung sodium borate dalam isopropil alkohol selama 1 jam. Reaksi karboksimetilasi dioptimasi dengan variasi berat natrium monokloroasetat NaMCA yang digunakan dan waktu reaksi. Derajat substitusi DS ditentukan dengan titrasi asam basa. Produk NaCMC yang optimal dengan nilai DS 0,71 diperoleh dari reaksi karboksimetilasi dengan berat NaMCA 3,90 g selama 3 jam. NaCMC yang diperoleh berupa serbuk halus, tidak berbau, tidak berasa, berwarna putih dan nilai pH larutan 1 nya adalah 7,41. Spektrum inframerah NaCMC memiliki kemiripan dengan NaCMC komersial. Berdasarkan perbandingan pola difraktogram dengan difraksi sinar-X sudah terlihat kemiripan antara NaCMC bambu betung dengan standar serta menunjukkan bentuk kristal dan amorf. Secara morfologi dengan SEM Scanning Electron Microscope menunjukkan bentuk morfologi yang lebih bulat dan kasar daripada standar komersial.

Sodium Carboxymethyl Cellulose NaCMC is a cellulose derivative used in various industrial sectors as an important excipient and used in pharmacy, cosmetic, food, and other industries. Betung bamboo contains high cellulose at approximately 42.4 53.6. The present research aimed to find out the optimum condition and method of NaCMC prepared from alpha cellulose betung bamboo and its identity and characteristics compared to commercial NaCMC. Initially, alpha cellulose isolated was alkalized using NaOH 25 contained sodium borate in isopropyl alcohol for 1 hour. The carboxymethylation reaction was optimized by variation of weight of sodium monochloroacetate NaMCA and duration of reaction. The degree of substitution DS was determined by acid base titration method. The optimum NaCMC product with DS value of 0.71 was obtained from carboxymethylation reaction of 3.90 g NaMCA for 3 hours. The NaCMC was obtained in the form of fine powder, odourless, tasteless, white and the pH value of 1 solution was 7.41. The infrared spectra of NaCMC was similar to commercial reference. Based on the comparison of diffractogram by X Ray diffraction, there was a similarity pattern between NaCMC of betung bamboo with the reference which showed crystalline and amorphous form. Morphologically by using SEM Scanning Electron Microscope, it showed a more rounded and coarser morphological shape than the commercial reference.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ghina Fauziah
"Natrium karboksimetil selulosa Na-CMC merupakan salah satu eksipien yang bisa digunakan sebagai peningkat kekentalan pada sediaan topikal maupun oral dan parenteral, serta sebagai pengikat dan penghancur pada sediaan tablet. Bambu merupakan salah satu bahan alam yang memiliki kadar selulosa yang cukup tinggi yaitu sekitar 42,4-53,8. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan Na-CMC melalui reaksi alkalisasi dan karboksimetilasi. Alkalisasi dilakukan dengan menggunakan NaOH 25 dan 1,7 natrium tetraborat. Karboksimetilasi dilakukan menggunakan rasio natrium monokloroasetat dengan alfa selulosa sebesar 1,3 : 1. Serbuk yang diperoleh berwarna putih yang memiliki kemiripan pada spektrum inframerah bila dibandingkan dengan pembanding. Karakteristik lain yang memiliki kemiripan dengan pembanding berupa derajat subtitusi sebesar 0,7073, derajat keasaman pH 7,61, rata-rata distribusi ukuran partikel 71,54 mikrometer, kadar air 5,88, kadar abu sulfat 32,64 dan susut pengeringan 9,85, Berdasarkan perbandingan pola difraktogram dengan difraksi sinar-X telah terlihat kemiripan antara pembanding dan produk Na-CMC dari bambu betung. Namun, terdapat perbedaan pada viskositas dan analisis morfologi dengan SEM antara produk dan pembanding.

Sodium carboxymethylcellulose Na CMC is one of pharmaceutical excipients that can be used for increasing viscosity in topical, oral and parenteral pharmaceutical formulation, beside that it can also be used as binder and disintegrant in tablet formulation. Bamboo is one of natural material that contains high concentration of cellulose for about 42.4 53.8. The purpose of this study was to obtain Na CMC through alkalization and carboxymethylation reaction. Alkalization was carried out using 25 sodium hydroxide and 1.7 sodium tetraborate. Carboxymethylation was done with sodium monochloroacetate to alpha cellulose ratio 1.3 1. The obtained powder has white colour which has similarities of its infrared spectrum to reference. Other characteristics that showed similarities to reference was degree of subtitution 0.7073, pH 7.61, average of particle size distribution 71.54 micrometer, moisture content 5.88, sulfated ash content 32.64 and loss on drying 9.85. Based on the comparison of diffraction pattern with X ray diffraction, there is similarity between reference and product Na CMC from betung bamboo. However, there were differences in viscosity and morphological analysis with SEM to referance.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mi`rajunnisa
"Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan enzim selulase dari kapang terpilih untuk pembuatan selulosa mikrokristal dari kulit buah kapuk. Alfa selulosa didapatkan melalui biodelignifikasi dan enzim selulase murni diperoleh dari galur kapang terpilih. Selulosa mikrokristal didapatkan melalui hidrolisis enzimatis dengan enzim selulase yang telah dimurnikan, lalu diidentifikasi dengan analisa kualitatif Fourier transformed infrared spectroscopy (FTIR), dan differential scanning calorimetry (DSC), diikuti oleh karakterisasi selulosa mikrokristal seperti x-ray diffraction (XRD), analisis ukuran dan distribusi partikel, dan pengukuran scanning electron microscope-energy dispersive x-ray (SEM-EDX). Hasil penelitian menunjukkan bahwa biodelignifikasi terbaik dilakukan pada suhu 40˚C menghasilkan14,88% α-selulosa. Penicillium sp. sebagai kapang terpilih memiliki aktivitas selulase tertinggi dengan indeks selulolitik 4,83 dan aktivitas selulase sebesar 0,04299 U/mL. Fraksi pertama digunakan untuk hidrolisis memiliki aktivitas tertinggi yaitu 649,68 mU/mL. Hasil identifikasi FTIR menunjukkan kemiripan diagram dengan Avicel PH 101 dengan titik lebur 244,580˚C. Karakterisasi XRD menunjukkan kristalinitas pada 2 puncak 2Ɵ (deg) nilai 22,58 dengan intensitas 634 dan nilai 21,85 dengan intensitas 51. Susut pengeringan 3,74%, derajat keasaman pH 7,0, ukuran partikel antara 13,06 hingga 196,79μm, kerapatan serbuk ruah 0,111 g/cm3, serbuk mampat 0,235 g/cm3, laju alir cukup baik, SEM-EDX menunjukkan bentuk morfologi selulosa mikrokristal kulit buah kapuk berbentuk memanjang. Selulosa mikrokristal kulit buah kapuk telah menunjukkan karakteristik yang berbeda dengan referensi dan dapat dikembangkan lebih lanjut.

This study aims to obtain cellulase enzymes from selected molds for microcrystalline cellulose preparation from α-cellulose of kapok pericarpium. Alpha cellulose was obtained by biodelignification and the purified cellulase was obtained from selected mold. The Microcrystalline cellulose that obtained from enzymatic hydrolysis then identified by qualitative analysis, Fourier transformed infrared spectroscopy (FTIR), and differential scanning calorimetry (DSC), followed by characterization of microcrystalline cellulose includes X-Ray Diffraction (XRD), Particle Size and Distribution Analysis (PSA), and Scanning Electron Microscope-Energy Dispersive X-ray (SEM-EDX). Biodelignification carried out at a temperature of 40C produced 14.88% α-cellulose, Penicillium sp. as the selected mold had the highest cellulase activity with a cellulolytic index of 4.83 and cellulase activity of 0.04299 U/mL. The first fraction used for hydrolysis had the highest activity of 649.68 mU/mL. FTIR identification showed a similarity with Avicel PH 101 with a melting point of 244.580C. XRD characterization was showed the crystallinity at 2 peaks 2Ɵ (deg) 22.58 with intensity 634 and 21.85 with intensity 51. Loss on drying was 3.74%, pH was 7.0, particle size ranged from 13.06 to 196.79 um, bulk density and tapped density were 0.111 g/cm3 and 0.235 g/cm3, the flow rate character is quite good, and SEM-EDX was showed that the morphological shape of the microcrystalline cellulose of the kapok pericarpium is elongated. Microcrystalline cellulose has shown a difference in characteristic and can be furthered.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2019
T55018
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Pingkan Lestari
"Bambu betung Dendrocalamus asper merupakan tanaman yang tumbuh di Indonesia yang memiliki kandungan selulosa sebesar 42,4 -53,6. Selulosa bambu betung dapat dimanfaatkan untuk pembuatan berbagai turunan selulosa, salah satunya Hydroxypropyl Cellulose HPC. Tujuan penelitian ini, melakukan optimasi metode pembuatan dan karakterisasi HPC yang dimodifikasi dari alfa selulosa bambu betung. Modifikasi pembuatan HPC dari alfa selulosa bambu betung menggunakan variasi konsentrasi NaOH 25 dan 30, propilen oksida 5 ml,10 ml dan 15 ml tiap gram selulosa dan variasi suhu 60oC dan 70o. Produk HPC diidentifikasi serta dilakukan karakterisasi menggunakan spektrofotometri Inframerah, Scanning Electron Microscope SEM dan X-Ray Diffraction XRD. Diperoleh hasil HPC yang paling optimum pada kondisi reaksi dengan menggunakan NaOH 25, propilen oksida 10 pada suhu pembuatan 70oC. HPC yang paling optimum memiliki molar substitusi 3,30, dengan pH 7,49 dan spektra IR HPC bambu betung memiliki pola yang sama dengan spektra standar. Identifikasi HPC yang diperoleh yaitu terbentuknya berkabut didalam larutan pada suhu diatas 40oC. Berdasarkan perbandingan pola difraktogam dengan difraksi sinar-X sudah terlihat kemiripan antara HPC bambu betung dengan standar serta menunjukkan bentuk kristal dan amorf. Secara morfologi dengan SEM Scanning Electron Microscope menunjukkan bentuk morfologi yang lebih bulat dan kasar daripada standar HPC.

Betung bamboo Dendrocalamus asper is one of bamboo grow in Indonesia, it contain cellulose at approximately 42.4 53.6. Betung bamboo cellulose can be used to produce various cellulose derivatives and one of them is Hydroxypropyl Cellulose HPC. The present research aims to optimize production method and characterization of HPC prepared from alpha cellulose of betung bamboo. The modification of HPC were carried out using NaOH 25 and 30, propylene oxide 5 ml, 10 ml and 15 ml in each gram of cellulose and temperature variations were 60 and 70. HPC product was identified and characterized using Infrared Spectrophotometry, Scanning Electron Microscope SEM, and X Ray Diffraction XRD. The most optimum reaction condition of HPC was using NaOH 25, 10 ml propylene oxide at 70 C. The most optimum HPC had 3.2987 Molar Substitution value, with pH 7.49 and IR spectra of betung bamboo HPC had similar pattern to the reference spectra. The identification of HPC was the formation cloudy solution at a temperature above 40oC. Based on the comparison of diffractogram with X Ray diffraction, there was a similarity between HPC of betung bamboo with the standard one and it showed crystalline and amorphous form. Morphologically by using SEM Scanning Electron Microscope, it showed a more rounded and coarser morphological shape than the reference HPC.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Devan Rizky Fadillah
"Penelitian ini melakukan studi pemanfaatan minyak biji kapuk randu termodifikasi belerang sebagai bahan aditif Extreme Pressure . Bahan baku adalah minyak biji kapuk randu yang di sulfurisasi menggunakan sinar UV dengan panjang sinar 254nm selama 20 jam. Belerang yang digunakan berupa gas H 2S. Minyak biji kapuk randu yang sudah di sulfurisasi diuji kandungan sulfur dan didapat 19875 ppm sulfur selama 20 jam sulfurisasi. Pengujian performa aditif adalah dengan cara uji 4-Ball dengan mencampurkan minyak dasar mineral dengan minyak yang sudah di sulfurisasi selama 20 jam. Parameter yang diuji adalah tingkat ketahanan keausan benda. Hasil uji keausan terbaik adalah pada formulasi minyak dasar mineral + minyak tersulfurisasi 20 jam 10% dengan meningkatkan performa sebesar 97% dari performa minyak dasar mineral. Data diambil pada kondisi operasi alat uji four ball berupa beban/beban 62kg, kecepatan putar 1150 rpm, dan waktu pengujian selama 2 jam.

This research conducted a study on the use of sulfur-modified kapok seed oil as an Extreme Pressure additive. The raw material is kapok seed oil which is sulfurized using UV light with a light length of 254nm for 20 hours. The sulfur used is H 2S gas. Kapok seed oil that had been sulfurized was tested for sulfur content and obtained 19875 ppm sulfur during 20 hours of sulfurization. Testing the performance of additives is by means of a 4-Ball test by mixing mineral base oil with oil that has been sulfurized for 20 hours. The parameter tested is the level of wear resistance of the object. The best wear test results were in the formulation of mineral base oil + 20 hours 10% sulfurized oil with a performance increase of 97% compared to the performance of mineral base oil. Data was taken under the operating conditions of the four ball test equipment in the form of a load of 62 kg, rotational speed of 1150 rpm, and testing time of 2 hours."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tiara Nurul Haq
"Glukosa sebelumnya diproduksi dengan hidrolisis pati karena ada dalam bentuk yang berbeda relatif murni pada tanaman dan salah satu produk pertanian terbesar. Kaleng pati digunakan sebagai sumber makanan, etanol, dan pakan ternak. Namun, karena nilainya kompetitif dan pemanfaatan pati menjadi mahal. Oleh karena itu, saat ini sedang diteliti pemanfaatan selulosa. Selulosa bisa digunakan untuk membuat sirup glukosa, asam jawa organik, dan bioetanol. Serat tumbuhan alami seperti serat kapuk (Ceiba pentandran Gaertn) berpotensi tinggi sebagai sumber selulosa untuk pembuatan glukosa.
Studi ini menunjukkan kondisi optimal untuk parameter hidrolisis meningkatkan hasil hidrolisis enzimatis dari enzim kasar kapang terpilih.
Penelitian ini diawali dengan peremajaan garis kapang selulolitik yang diperoleh dari Koleksi Kebudayaan Universitas Indonesia (UICC), Departemen Biologi, FMIPA UI, isolasi serat kapas α-selulosa, preparasi enzim selulase kasar, dan dilanjutkan dengan mengevaluasi aktivitas selulase enzim kasar menggunakan 2 metode: metode zona bening sedang untuk CMC 1% dan metode spektrofotometri gula reduksi, dan optimalisasi kondisi hidrolisis. Persiapan enzim dan uji aktivitas Selulase kasar dilakukan pada enzim dari 3 jenis kapang, yaitu Trichoderma reesei, Fusarium oxysporum, dan Penicillium vermiculatum. Aktivitas selulolitik tertinggi di CMC 1% terhidrolisis ditunjukkan pada jamur Penicillium vermiculatum dengan akuisisi glukosa 3,8045%. α-selulosa dihasilkan dari serat kapuk dibandingkan dengan serat kapas kasar dan penggunaan Avicel PH 101 Fourier Transform Infrared Spectrophotoscopy (FTIR). Tingkat sakarifikasi maksimum Pada konsentrasi 5% substrat α-selulosa ditemukan serat kapuk pada penambahan serat kapuk 2% konsentrasi enzim selulase kasar. PH dan suhu optimal untuk hidrolisis yang optimal berada dalam kondisi hidrolisis pH 5 dan suhu 50 ° C, selama 48 jam inkubasi, dengan peningkatan glukosa 0,4022%. Glukosa yang dihasilkan diidentifikasi menggunakan FTIR dan sifat gula pereduksi dideteksi dengan menggunakan uji rasio Fehling.

Glucose was previously produced by hydrolysis of starch because it exists in different forms relatively pure in plants and is one of the largest agricultural products. Starch cans are used as a source of food, ethanol and animal feed. However, due to its competitive value and use of starch it is expensive. Therefore, the use of cellulose is currently being investigated. Cellulose can be used to make glucose syrup, organic tamarind, and bioethanol. Natural plant fibers such as kapok fiber (Ceiba pentandra
Gaertn) has high potential as a source of cellulose for the manufacture of glucose. This study shows that the optimal conditions for the hydrolysis parameters increase the enzymatic hydrolysis yield of selected mold crude enzymes.
This research began with the rejuvenation of cellulolytic mold lines obtained from the Cultural Collection of the University of Indonesia (UICC), the Department of Biology, FMIPA UI, isolation of α-cellulose cotton fibers, preparation of crude cellulase enzymes, and continued by evaluating the activity of crude cellulase enzymes using 2 methods: methods. medium clear zone for CMC 1% and reduction sugar spectrophotometric method, and optimization of hydrolysis conditions. Enzyme preparation and crude cellulase activity tests were carried out on the enzymes of 3 types of fungi, namely Trichoderma reesei, Fusarium oxysporum, and Penicillium vermiculatum. The highest cellulolytic activity in hydrolyzed 1% CMC was shown in the fungus Penicillium vermiculatum with glucose acquisition of 3.8045%. α-cellulose is produced from cotton fibers compared to coarse cotton fibers and the use of Avicel PH 101 Fourier Transform Infrared Spectrophotoscopy (FTIR). Maximum saccharification rate At a concentration of 5% of the α-cellulose substrate, kapok fibers were found in the addition of kapok fibers
2% concentration of crude cellulase enzymes. The optimal pH and temperature for optimal hydrolysis are in the hydrolysis conditions of pH 5 and a temperature of 50 ° C, for 48 hours of incubation, with an increase of 0.4022% glucose. The resulting glucose was identified using FTIR and the properties of reducing sugars were detected using the Fehling ratio test.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rd. Roro Altrista Yusrina Kharismi
"Salah satu polimer turunan selulosa yaitu selulosa mikrokristal, merupakan bahan yang digunakan pada makanan, kosmetik, industri khususnya dalam pembuatan sediaan farmasi, yaitu sebagai eksipien dalam pembuatan tablet secara cetak langsung. Bambu betung memiliki kadar selulosa yang cukup tinggi yaitu sekitar 44,94. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan serbuk selulosa mikrokristal dari bambu betung dan identitasnya melalui spektrofotometri inframerah dan penentuan titik lebur, serta karakteristik fisika dan kimianya dengan membandingkan hasil selulosa mikrokristal dengan Avicel PH 101 sebagai standar. Pada penelitian ini, selulosa mikrokristal diperoleh melalui hidrolisis kimia dengan asam klorida encer HCl.
Identitas dari selulosa mikrokristal diperoleh melalui spektrum inframerah yang mirip dengan standar serta suhu lebur dalam rentang 260-270 C. Selulosa mikrokristal yang diperoleh berupa serbuk halus, tidak berbau dan berasa serta berwarna putih. Karakteristik selulosa mikrokristal yang diperoleh meliputi tidak terbentuk warna biru dengan larutan iodin, distribusi ukuran partikel sebesar 1117,4 nm, pH 6,88, kadar abu 0,0584, kadar air 4.36, susut pengeringan 4,59, serta kerapatan partikel, laju alir dan sudut istirahat yang memenuhi persyaratan sesuai literatur. Berdasarkan perbandingan pola difraktogram dengan difraksi sinar-X dan secara morfologi dengan SEM Scanning Electron Microscope sudah terlihat kemiripan antara selulosa mikrokristal hasil hidrolisis dengan standar, namun bentuk morfologi selulosa mikrokristla lebih kasar dan berbentuk batang.

One of the cellulose derivatives is microcrystalline cellulose. Microcrystalline cellulose is an ingredient used in food, cosmetics, industry especially in the manufacture of pharmaceutical preparations as an excipient in the manufacturing of tablets. Bamboo betung has high cellulose content for about 44,94. The purpose of this study was to obtain microcrystalline cellulose powder from bamboo betung and the identity by infrared spectrophotometry and melting point determination and the physical and chemical characteristics were compared to Avicel PH 101 as standard. In this study, microcrystalline cellulose obtained by acid hydrolysis with chloride acid HCl.
The identities were obtained from infrared spectrum which similar as standard and melting point between 260 270 C. The powder was moderately fine, odorless, tasteless and white compared to standard. The characteristics were obtained, including not giving blue coloured with iodine solution, particle size distribution for 1117,4 nm, pH 6,88, ash contents 0,0584, moisture content 36, loss on drying 4,59, also the density, flow rate and angle of repose fulfilled the requirements based on the literature. Based on the comparison of diffractogram patterns by X ray Diffraction and morphology by SEM Scanning Electron Microscope, there is similarity for both microcrystalline cellulose from hydrolysis and standard. But the morphological form of microcrystalline cellulose is more rough and rod shaped.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2017
S68952
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Monica Angeline Sudarsono
"Salah satu turunan selulosa, selulosa mikrokristal, merupakan bahan penting dalam pembuatan sediaan farmasi, yaitu sebagai eksipien dalam pembuatan tablet secara cetak langsung. Tumbuhan gulma eceng gondok memiliki kadar selulosa yang cukup tinggi yaitu sekitar 60 . Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan serbuk selulosa mikrokristal dari eceng gondok dan identitasnya melalui spektrofotometri inframerah dan penentuan titik lebur, serta karakteristik fisika dan kimianya dan membandingkan hasilnya dengan Avicel PH 101 sebagai standar. Pada penelitian ini, selulosa mikrokristal diperoleh melalui hidrolisis enzimatis dengan enzim selulase. Identitas dari selulosa mikrokristal diperoleh melalui spektrum inframerah yang mirip dengan standar serta suhu lebur dalam rentang 247-250 C. Selulosa mikrokristal yang diperoleh berupa serbuk sedikit kasar, tidak berbau dan berasa serta berwarna sedikit kekuningan dibandingkan standar. Karakteristik selulosa mikrokristal yang diperoleh meliputi tidak terbentuk warna biru dengan larutan iodin, distribusi ukuran partikel sebesar 741 nm, pH 7,49, kadar abu 0,203 , kadar air 3,685 , susut pengeringan 3,8741 , serta kerapatan partikel, laju alir dan sudut istirahat yang memenuhi persyaratan sesuai literatur. Berdasarkan perbandingan pola difraktogram dengan difraksi sinar-X dan secara morfologi dengan SEM Scanning Electron Microscope sudah terlihat kemiripan antara selulosa mikrokristal hasil hidrolisis dengan standar.

One of the cellulose derivatives, microcrystalline cellulose is normally used in the pharmaceutical industry as an excipient in the manufacturing of tablets. Water hyacinth is a weed plant that has high cellulose content for about 60 . The purpose of this study was to obtain microcrystalline cellulose powder from water hyacinth and the identity by infrared spectrophotometry and melting point determination and the physical and chemical characteristics were compared to Avicel PH 101 as standard. In this study, microcrystalline cellulose obtained by enzymatic hydrolysis with cellulase enzymes. The identities were obtained from infrared spectrum which similar as standard and melting point chars between 247 250 C. The powder was moderately fine, odorless, tasteless and yellowish compared to standard. The characteristics were obtained, including not giving blue coloured with iodine solution, particle size distribution for 741 nm, pH 7,49, ash contents 0,203 , moisture content 3,685 , loss on drying 3,8741 also the density, flow rate and angle of repose fulfilled the requirements based on the literature. Based on the comparison of diffractogram patterns by X ray Diffraction and morphology by SEM Scanning Electron Microscope , there is similarity for both microcrystalline cellulose from hydrolysis and standard."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2017
S67879
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>