Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 116366 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Rizky Priambodo Wisnubaroto
"Pendahuluan: Instrumentasi posterior mengharuskan dipertahankannya fiksasi stabil sekrup pedikel di tulang belakang untuk mencapai fusi. Hal ini dapat menjadi sulit terutama pada kondisi tertentu, misalnya pada penurunan densitas masa tulang pedikel. Teknik insersi sekrup dengan lintasan kortikal diharapkan menambah antarmuka sekrup dan tulang dengan meningkatkan engagement antara sekrup dengan korteks tulang. Lintasan sekrup dari arah kortikal infero-superior serta kortikal supero-inferior diharapkan memiliki keunggulan kekuatan cabut (pullout strength) dibandingkan dengan lintasan konvensional dalam mengatasi masalah ini. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan profil biomekanik awal lintasan kortikal dan perbedaan pull out strength lintasan konvensional (Weinstein, 1992), kortikal infero-superior (Santoni, 2009), dan kortikal supero-inferior.
Metode: Sampel dari lumbal (L1-L5) babi Yorkshire (n=30) dilakukan pengukuran morfometri dan dibagi secara acak. Sampel dilakukan pengeboran dan sekrup dimasukkan ke dalam tulang dengan tiga lintasan: konvensional, kortikal infero-superior, dan kortikal supero-inferior. Arah lintasan diperiksa kembali dengan sinar-x. Dilakukan penarikan sekrup dengan arah sesuai aksis insersi sekrup dengan kecepatan translasi 5mm/menit. Hasil dicatat dengan satuan Newton (N).
Hasil: Didapatkan rata-rata nilai uji tarik pada kelompok konvensional, infero-superior, dan supero-inferior masing-masing 491,72 (187.23) N, 822,16 (295.73) N, dan 644,14 (201.97) N. Lintasan kortikal infero-superior dan kortikal supero-inferior masing-masing mendapatkan nilai 67% dan 30% lebih tinggi dibandingkan dengan lintasan konvensional. Hasil uji ANOVA satu arah dan uji post-hoc Tukey menunjukkan perbedaan signifikan antara lintasan kortikal infero-superior dengan konvensional (p<0.01).
Kesimpulan: Lintasan sekrup dalam tulang lumbal dapat memengaruhi nilai pullout sekrup. Keterlibatan tulang kortikal pada lintasan insersi sekrup baru ini bisa meningkatkan nilai pullout sekrup pedikel. Secara statistik pullout strength lintasan kortikal infero-superior dan kortikal supero-inferior tidak ada perbedaan. Studi ini menunjukkan nilai pullout yang lebih tinggi sebesar 30% dari lintasan yang disarankan peneliti dibandingkan dengan lintasan konvensional, walaupun tidak ada perbedaan signifikan secara statistik.

Introduction: Posterior instrumentation is aimed to achieve spinal fusion which is helped by maintaining a stable pedicle screw insertion within the pedicle. This presents a challenge especially in conditions with low bone quality. Pedicle screw insertion with cortical bone trajectory is designed to add interface between the screw and the bone through engagement between pedicles and the cortex when compared to conventional pedicle screw insertion. Pedicle screw insertion trajectory from cortical infero-superior and the proposed cortical supero-inferior should obtain better pull out performance when compared with conventional pedicle trajectory. We aim to evaluate the pull out strength differences between conventional (Weinstein, 1992) pedicle screw trajectory, cortical infero-superior (Santoni, 2009), and a proposed cortical supero-inferior trajectory.
Methods: Samples from Yorkshire porcine lumbar spine (L1-L5) (n=30) were relieved of soft tissue attachments and dried. Morphometric measurements were conducted and the samples were randomly assigned to three groups. The screws were inserted into the vertebrae by drilling with the three trajectories: conventional, cortical infero-superior, and cortical supero-inferior. The trajectory of the screws were examined using x-rays. Pull-out tests were conducted by applying uniaxial traction in line with the screw trajectory with a translational speed of 5mm/minutes. The results of the pull-out are measured in Newton (N).
Results: We obtained a mean value of pullout force in conventional trajectory 491,72 (187.2) N, cortical infero-superior 822,16 (295.73) N, and cortical supero-inferior 644,14 (201.97) N. Cortical infero-superior trajectory and cortical supero-inferior trajectory attained 67% and 30% higher pullout mean respectively. Using one-way ANOVA and a post-hoc Tukey test revealed a significant difference between cortical infero-superior and conventional trajectory (p<0.01). Differing pull out strengths between cortical infero-superior and supero-inferior trajectory showed no statistical significance. Our study showed a 30% higher pull-out strength in our proposed trajectory compared with conventional trajectory although not statistically significant.
Conclusion: The trajectory of the screws within the lumbar spine seemed to have an impact in pullout strength. Cortical bone engagement using the novel trajectories may increase screw pullout strength of pedicle screws.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Fajar Dwi Kusuma Wardhana
"Hubungan Indonesia - Australia dapat dikatakan sebagai ‘strange neighbour karena kedua negara memiliki kedekatan secara geografis tetapi merniliki kesenjangan sosio historis yang sangat besar. Tesis ini berupaya menjelaskan hubungan bilateral yang teijadi diantara kedua negara berdasarkan kebijakan luar negeri kedua negara.
Sebagai sebuah negara yang memiliki sistem pemerintahan yang telah mapan, kebijakan luar negeri Australia secara umum telah digariskan dalam buku putih pertahanan Australia. Dalam hal ini, penulis berupaya memetakan pola kebijakan luar negeri yang dimiliki berdasarkan buku putih pertahanan yang ditetapkan dcngan btiku putih pertahananyang dimiliki oleh AustraIia.,Di sisi Iain, buku putih pertahanan Indonesia tidak banyak mcnggambarkan kebijakan luar negeri yang dirniliki oleh negara ini, sehingga pola kebijakan luar negeri yang dimiliki oleh Indonesia dipetakan melaui periode pemerintahan di Indonesia.
Meskipun dalam tcsis ini kcbijakan luar negeri Australia yang dibahas didasarkan pada buku putih pertahanan yang dimiliki, perubahan konstelasi politik intemasional dan aktor penting di Australia juga akan tetap dibahas. Mengingat faktor intemasional, negara clan aktor sebuah negara tidak dapat dipisahkan dalam pembuatan kebijakan luar negeri. peran Indonesia dalam dunia internasional juga akan dibahas sebagai upaya menjelaskan kebijakan luar negeri Indonesia secara umum.
Dengan melakukan komparasi terhadap kebijakan luar negeri kedua negara, dapat digambarkan kemungkinan kebijakan luar negeri yang akan ditetapkan Australia terhadap Indonesia, schingga dapat mcmberikan masukan kepada Indonesia dalam menetapkan kebijakan luar negerinya terutama dalam menjalin hubungan bilateral dcngan Australia.

Indonesia - Australia relations can be mentioned as a “strange neighbour" because of these countries close geographis and huge sociohistoric discrepancy. This thesis try to explain the bilateral relations between both countries based on their foreign policies.
As a country that has established its governmental system, Australia’s foreign policy has been outlined in Austra1ia’s defence white papers. On the oher hand, Indonesia’s defence white papers does not much describe its foreign policy, therefore the pattem of Indonesia’s foreign policy is mapped by the period ofthe government in Indonesia.
Although in this thesis, Australian foreign policy is dismissed based on its defence white papers,the changes of intemational political constellation, state and important actor in Australia will remained to be discussed. Given the intemational factor, thc state and a _state actor can not be separated in the making of tbreign policy. Indoncsia’s role in the intemational world will also be discussed as an attempt to explain lndonesia‘s foreign policy in general.
By doing a comparison to the foreign policy of both countries, the Australia's foreign policy to Indonesia can be estimated, so as to provide input to Indonesia in the making of its foreign policies especially in the bilateral relationship with Australia.
"
Depok: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2010
T34225
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
"In the process of communication science maturity there are three sciences that giving a huge contribution. Those are political science, sociology, and psychology. There are also undeniable contribution from another science like mathematical science (like Shannon use to explain the basic process of communication)."
384 WACA 8:27 (2009)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Stevie Kristianti
"Latar Belakang: Semakin bertambahnya populasi usia lanjut dan berubahnya gaya hidup di Indonesia, insidensi silent disease osteoporosis pun meningkat. International Osteoporosis Foundation (IOF) menyatakan bahwa 1 dari 4 wanita Indonesia berusia >50 tahun berisiko terkena osteoporosis. Penyakit ini tampak secara klinis setelah terjadi fraktur, sedangkan pada tahap awal tidak memiliki gejala klinis. Korteks inferior mandibula merupakan salah satu tulang yang dapat diamati untuk melihat perkembangan penyakit osteoporosis karena sangat dipengaruhi oleh perubahan usia fisiologis serta cukup luas dan mudah diidentifikasi. Baku emas alat deteksi osteoporosis di Indonesia sangat terbatas dan cukup mahal sehingga banyak pasien yang tidak terdeteksi. Oleh karena itu, mulai dikembangkan alternatif baru deteksi dini risiko osteoporosis menggunakan indeks radiomorfometri mandibular cortical width (MCW) pada radiograf panoramik digital yang dapat dilakukan oleh dokter gigi.
Tujuan: Memperoleh data rerata MCW pada wanita 31-45 tahun dibandingkan dengan MCW pada wanita usia 46-75 tahun sehingga dapat digunakan untuk pengembangan alat deteksi dini risiko osteoporosis.
Metode: Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa 270 sampel radiograf panoramik digital wanita usia 31-75 tahun di Rumah Sakit Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (RSKGM UI). Subjek dibagi menjadi 3 kategori: 31-45 tahun, 46-60 tahun, dan 61-75 tahun. Untuk mendapatkan nilai MCW, diukur jarak korteks mandibula dalam (endosteum) dan luar pada garis tegak lurus foramen mental dengan batas bawah mandibula. Pengukuran lebar kortikal mandibula dilakukan dengan perbesaran 2 x pada regio bawah foramen mental. Kemudian dilanjutkan dengan uji reliabilitas intraobserver dan interobserver dengan t-test dan Bland Altman.
Hasil: Rerata dan standar deviasi kelompok usia 31-45 tahun adalah 3.40 ± 0.42 mm; 46-60 tahun 3.18 ± 0.47 mm; dan 61-75 tahun 2.76 ± 0.66 mm. Rerata MCW wanita antar kelompok usia berbeda bermakna (p<0,05 berdasarkan uji One-way Anova). Semakin bertambah usia dalam rentang 15 tahun, nilai lebar kortikal mandibula semakin menurun secara signifikan.
Kesimpulan: Indeks radiomorfometri panoramik MCW pada usia 31-45 tahun berbeda bermakna dibandingkan pada usia risiko osteoporosis 46-60 dan 61-75 tahun.

Background: The increasing number of elderly population and lifestyle changes in Indonesia, raise the number of the incidence of the silent disease, osteoporosis. International Osteoporosis Foundation (IOF), stated that one out of four Indonesian women at age more than 50 years old having the risk of osteoporosis. Osteoporosis can be seen clinically as bone fracture, while in the early stage osteoporosis does not have specific symptom. Mandibular inferior cortex is one of the bone landmark that is useful for observing osteoporosis progression because it is affected by physiological changes and wide enough to identify. The gold standard of osteoporosis detection in Indonesia is very limited in number and the cost is quite high, thus most of people with the risk of osteoporoses go undetected. Therefore, a new alternative early detection tool for osteoporosis risk is developed by using radiomorphometric index, mandibular cortical width (MCW), on digital panoramic radiograph that can be done by a dentist.
Objective: To obtain the mean of mandibular cortical width in women 31-45 years old and comparison with women 46-75 years old in order to develop mandibular cortical width index usage for early osteoporosis risk detection tool.
Method: This study utilizing secondary data, totally 270 digital panoramic radiographs of women 31-75 years old Universitas Indonesia Dental Hospital (RSKGM UI). Subjects are divided into 3 categories: 31-45 years old, 46-60 years old and 61-75 years old. MCW was obtained by measuring mandible cortex distance from endosteum to the border of mandible at the perpendicular line between mental foramen and tangent line of border of the mandible. Mandibular cortical width measurement was done with 2 times magnification on the region below foramen mental. The reliability test for both intraobserver and interobserver were done using t-test and Bland altman test.
Results: Average and standard deviation 31-45 years old group is 3.40 ± 0.42 mm; 46-60 years old 3.18 ± 0.47 mm; and 61-75 years old 2.76 ± 0.66 mm. Mandibular cortical width average between age group is statistically different (p < 0,05 in one-way anova test) and decreases with age.
Conclusion: Mandibular radiomorphometric index MCW on women aged 31-45 years group significantly different compared with women in the risk ages of osteoporosis 46-60 and 61-75 years old.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hanung Sunarwibowo
"ABSTRAK
OBJECTIVE: We determined whether the accuracy of thoracaolumbar pedicle screw
direction placement is optimized with a technique using anatomic landmarks for
pedicle screw and using S30 as guidance (Technique 1). This technique was
compared with a technique using anatomic landmarks for pedicle screw placement
without S3D as guidance (Technique 2).
METHODS: T7-L1 specimens were harvested from fresh human cadavers. Pedicle
screw placement using technique 2 was performed on lelt side. Vertebral rotation
and vertebral tilting measurement was determined using S3D. Then pedicle screw
placement using technique 1 was performed on right side. Axial dissections were
performed on pedicular specimens. Deviation of the screws from the ideal entry point
or trajectory was analyzed to quantitatively compare the two techniques.
RESULTS: Axial analysis of the specimens showed that all screw placements were
within the pedicles. Scatter plot analysis demonstrated that screws placed using
Technique 2 were more likely to have the combination of entry points and
trajectories medial to the ideal entry point and trajectory.
CONCLUSION: All screw placements were grossly within the confines of the
pedicles, regardless of technique, as evidenced by axial dissections analysis."
2007
T21343
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Oryza Satria
"[ABSTRAK
Pada fraktur pelvis tidak stabil yang disertai dengan fraktur vertikal sakrum (AO Tipe C1.3) terdapat instabilitas terhadap gaya shearing aksial yang besar. Fiksasi pada fraktur tersebut harus memberikan kekuatan biomekanik yang baik dan minimal invasif. Penempatan sekrup iliosakral (SIS) di S1-S3 secara divergen dapat meningkatkan kekuatan biomekanik terutama kekakuan translasi. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi kekuatan biomekanik SIS S1-S3 dan sekrup pubis (PS) dibandingkan konfigurasi fiksasi lain untuk memberikan solusi konfigurasi fiksasi baru pada fraktur pelvis AO Tipe C1.3.
Simulasi fraktur pelvis dibuat dengan fraktur ramus pubis superior, inferior, dan fraktur vertikal sakrum ipsilateral (AO tipe C1.3) pada tulang sintetik Synbone®. Enam kombinasi fikasi yaitu Tension Band Plate (TBP)+PS, TBP+plat symphysis (SP), SIS S1-S2+PS, SIS S1-S2+SP, SIS S1-S3+PS, SIS S1-S3+SP diuji dengan diberikan beban aksial menggunakan mesin kompresi Tensilon® sampai titik kegagalan fiksasi sebesar ≥2 mm atau ≥20, kemudian dievaluasi kekakuan translasi, kekakuan rotasi, dan titik kegagalan fiksasi. Analisis statistik dilakukan dengan uji ANOVA dilanjutkan dengan uji post-hoc Bonferroni
Dari hasil uji biomekanik didapatkan kelompok fiksasi SIS S1-S3+PS memiliki kekakuan translasi, kekakuan rotasi, dan titik kegagalan fiksasi tertinggi (830,36 N/mm, 599,68 N/°, dan 1522,20 N) terhadap beban aksial.
Fiksasi SIS di S1-S3 dan sekrup pubis merupakan fiksasi terbaik untuk fraktur pelvis tidak stabil dengan fraktur vertikal sakrum karena mempunyai properti biomekanik yang baik dan secara klinis fiksasi ini memberikan keuntungan prosedur yang minimal invasif dan pasien dapat mobilisasi segera sehingga mengurangi komplikasi postoperatif.

ABSTRACT
In unstable pelvic fracture with vertical sacral fracture (AO Type C1.3), there are tremendous instability towards axial shearing load. Ideally, the fixation should provide good biomechanical properties and minimal invasive. Divergent Iliosacral screw (ISS) placement on S1-S3 could enhance biomechanical strength. The purpose of this research was to evaluate the biomechanical properties of ISS S1-S3 and pubic screw (PS) compared to other configuration to provide solution for new configuration of fixation in AO Type C1.3 pelvic fracture.
A simulation of pelvic fracture was created on superior and inferior pubic rami, and ipsilateral vertical sacral fracture (AO Type C1.3) on a synthetic bone (Synbone®). Six fixation combination including tension band plate (TBP)+PS, TBP+symphyseal plate (SP), ISS S1-S2+PS, ISS S1-S2+SP, ISS S1-S3+PS, ISS S1-S3+SP were tested using compression machine Tensilon® until failure point defined by ≥2 mm or ≥20 displacement was met. Translational stiffness, rotational stiffness and load to failure were evaluated. Statistical analysis was performed with ANOVA test followed by Bonferroni post hoc-test.
From biomechanical test, fixation using ISS S1-S3+PS had the highest translational stiffness, rotational stiffness, and load to failure (830,36 N/mm, 599,68 N/°, and 1522,20 N respectively) toward axial load.
Fixation by ISS S1-S3+PS was the best configuration in unstable pelvic fracture with vertical sacral fracture due to its good biomechanical strength, minimal invasiveness which renders early immobilization for patients hence decreasing postoperative complications., In unstable pelvic fracture with vertical sacral fracture (AO Type C1.3), there are tremendous instability towards axial shearing load. Ideally, the fixation should provide good biomechanical properties and minimal invasive. Divergent Iliosacral screw (ISS) placement on S1-S3 could enhance biomechanical strength. The purpose of this research was to evaluate the biomechanical properties of ISS S1-S3 and pubic screw (PS) compared to other configuration to provide solution for new configuration of fixation in AO Type C1.3 pelvic fracture.
A simulation of pelvic fracture was created on superior and inferior pubic rami, and ipsilateral vertical sacral fracture (AO Type C1.3) on a synthetic bone (Synbone®). Six fixation combination including tension band plate (TBP)+PS, TBP+symphyseal plate (SP), ISS S1-S2+PS, ISS S1-S2+SP, ISS S1-S3+PS, ISS S1-S3+SP were tested using compression machine Tensilon® until failure point defined by ≥2 mm or ≥20 displacement was met. Translational stiffness, rotational stiffness and load to failure were evaluated. Statistical analysis was performed with ANOVA test followed by Bonferroni post hoc-test.
From biomechanical test, fixation using ISS S1-S3+PS had the highest translational stiffness, rotational stiffness, and load to failure (830,36 N/mm, 599,68 N/°, and 1522,20 N respectively) toward axial load.
Fixation by ISS S1-S3+PS was the best configuration in unstable pelvic fracture with vertical sacral fracture due to its good biomechanical strength, minimal invasiveness which renders early immobilization for patients hence decreasing postoperative complications.]"
2015
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Universitas Indonesia, 2005
S27591
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Handi Harawan
"Penelitian ini membahas tentang analisis perbandingan produksi komponen lifter screw, dilihat dari segi kualitas dan biaya. Komponen lifter screw ini berfungsi sebagai alat bantu untuk mengangkat, memindahkan, dan membalik dies. Selama ini komponen tersebut dipesan dan dibeli dari suatu perusahaan pemasok yang berasal dari luar negeri. Dalam pengerjaanya, komponen tersebut memerlukan waktu yang cukup lama untuk sampai kepada penggunanya di perusahaan. Analisis perbandingan produksi lokal dan produk impor komponen bertujuan untuk membantu memberikan pertimbangan tentang keputusan apakah akan dilakukan produksi sendiri secara lokal atau tetap memakai jasa pemasok asing tersebut.
Adapun arah analisa terhadap komponen ini menitikberatkan kepada masalah kualitas yang berarti berasal dari perbandingan bahan baku pembentuk komponen tersebut, dan juga analisa finansial terhadap kemungkinan untung atau ruginya jika komponen tersebut dibuat secara lokal. Analisa finansial yang akan dilakukan meliputi tentang perhitungan NPV, IRR, PP, dan PI. Sedangkan dari segi kualitas, akan ditinjau dari spesifikasi bahan baku pembentuk komponen lifter screw.

This research will discusses the comparative analysis of the lifter screw component production, due to quality and cost. Lifter screw component uses as an additional tool to lift, move, and turned the dies. Until now, these components are being ordered and purchased from a supplier company which originated from abroad. In it's manufacturing process, these components require a long time to deliver to it's users in the company. Comparative analysis of local production of components with imported one intended to help and give consideration about the decision whether to do production locally or continue to use foreign.
The analysis of this component focuses on quality issues which means it comes from a comparison of the raw materials that form these components, as well as financial analysis of the possibility of profit or loss if the component is made locally. Financial analysis to be undertaken include the calculation of NPV, IRR, PP, and PI. In terms of quality, will be reviewed from it's raw material specifications lifter screw-forming component.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2010
S52053
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Gracia Carolien Franswijaya
"Ekstrak kembang telang mengandung antosianin yang tinggi sehingga memiliki aktivitas antikatarak. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan bukti ilmiah yang kuat mengenai kemampuan ekstrak kembang telang dalam air untuk meluruhkan ion kalsium dan natrium dalam model katarak kortikal. Pada penelitian ini juga dilakukan rekonstruksi model katarak kortikal dengan variasi rasio kadar natrium terhadap kalsium sebesar 16, 17, dan 18.
Kondisi optimum maserasi panas kembang telang pada suhu 80°C terjadi pada waktu ekstraksi 15 menit dengan jumlah kembang telang sebanyak 1 gram per 50 ml air. Peluruhan ion natrium dan untuk model 1, 2, dan 3 berturut-turut adalah 4,90-7,82%; 7,40-28,03%; dan 19-49,7% sedangkan ion kalsium adalah 0,003-0,033%; 0,1405-1%; dan 0,11-0,40%. Kemampuan peluruhan ion natrium dan kalsium oleh ekstrak kembang telang adalah 1,61-6,46% dan 0,007%-0,145% lebih besar dibandingkan oleh air.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kembang telang memiliki kemampuan peluruhan ion kalsium dan natrium dimana agen peluruh yang berperan adalah antosianin. Ekstrak kembang telang memiliki jangkauan peluruhan ion kalsium dan natrium yang lebar sehingga cocok untuk lebih dari satu jenis komposisi katarak.

Butterfly pea flower (Clitoria ternatea) contains high anthocyanin that has anti cataractous activity. This study aims to provide strong scientific evidence about the ability of aqueous butterfly pea flower extract in order to remove calcium and sodium ions in the model of cortical cataract. In this study also conducted reconstruction of cortical cataract models with variations in the ratio of sodium to calcium levels at 16, 17, and 18.
The optimum conditions for butterfly pea flower hot maceration at 80°C occurs in the extraction time 15 minutes with the number of flowers is 1 gram per 50 ml of water. Decay of sodium ion and for models 1, 2, and 3 respectively are 4.9 to 7.82%; 7.4 to 28.03%; and 19 to 49.7% while the for calcium ion are 0.0029 to 0.0332%; 0.1405 to 1%; and 0.1133 to 0.399%. The ability of sodium and calcium ions decay by butterfly pea flower extract is from 1.61 to 6.46% and 0.007% to 0.145% higher than by water.
The results showed that the aqueous extract of butterfly pea flower has the ability decay of calcium and sodium ions. Butterfly pea flower extract has a wide range of decay calcium and sodium ions, making it suitable for more than one type of cataract composition.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2014
S57239
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Willi Yaohandy
"Jumlah penderita katarak di Indonesia semakin meningkat setiap tahunnya. Cara pengobatan katarak yang tersedia di Indonesia adalah operasi. Namun, operasi katarak membutuhkan biaya yang mahal dan memiliki resiko terjadinya komplikasi pasca operasi. Bunga telang (Clitoria ternatea) dapat dimanfaatkan sebagai sumber anti-katarak alami karena mengandung senyawa fenolik berupa antosianin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh ekstrak antosianin dari bunga telang dan mengetahui kemampuannya sebagai anti-katarak. Kondisi optimal ekstraksi maserasi untuk antosianin dari bunga telang adalah pada temperatur 80℃, waktu ekstraksi 15 menit, dan massa bunga telang 1,25 gram per 50 ml air (rasio volum air terhadap massa bunga = rasio a/t (ml air/ g bunga telang) = 40).
Dalam penelitian ini, juga dilakukan rekonstruksi model katarak kortikal yang tersusun atas natrium oksalat, natrium karbonat, kalsium oksalat, kalsium karbonat, albumin, protein, dan lemak dengan berbagai variasi komposisi. Jumlah ion natrium yang meluruh pada model A, B, C, dan D berturut-turut adalah 0,0188; 0,03701; 0,17543; dan 0,24362%, jumlah ion kalsium yang meluruh pada model A, B, C, dan D berturut-turut adalah 0,00098; 0,00159; 0,00674; dan 0,00963%, sedangkan jumlah peluruhan protein pada model A, B, C, dan D berturut-turut adalah 12,755; 14,433; 12,695; dan 13,513%. Peluruhan ion natrium, ion kalsium, dan protein oleh ekstrak bunga telang ini lebih besar dibandingkan oleh air. Oleh karena ekstrak kembang telang memiliki jangkauan peluruhan ion natrium, kalsium, dan protein yang lebar sehingga cocok digunakan.

The number of cataract patients in Indonesia is increasing every year. In Indonesia, the alternative for cataract treatment is only cataract surgery. However, cataract surgery is very expensive and has a risk of surgical complications. On the other hand, butterfly pea flower (Clitoria ternatea) can be expected to be utilized as a source of natural souce of anti-cataract because it contains phenolic compounds such as anthocyanin. The purpose of this study is to obtain anthocyanin and phenolic extracts from butterfly pea flower and to evaluate its anti-cataract activity. The optimal condition of maceration extraction for anthocyanin of butterfly pea flower is in temperature 80℃, extraction time 15 minute, and 1,25 gram flower per 50 ml water (ratio between water?s volumeto flower?s mass = ratio a/t = 40).
In this research, also conducted reconstruction of cortical cataract models which contain sodium oxalate, sodium carbonate, natrium oxalate, natrium carbonate, albumine, protein, and lipid with various composition. The decay for sodium ion for model A, B, C, and D respectively are 0,0188; 0,03701; 0,17543; and 0,24362%, the decay for calcium ion for model A, B, C, and D respectively are 0,00098; 0,00159; 0,00674; and 0,00963%, while for protein respectively are 12,755; 14,433; 12,695; and 13,513%. The ability of sodium and calcium ions, and also protein decay by butterfly pea flower extract is higher than by water. Butterfly pea flower extract has a wide range of decay sodium ion, calcium ion and protein, making it suitable for more than one type of cataract composition.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2015
S58200
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>