Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 56957 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Eko Aditya Bagus Sulthony
"ABSTRAK
Teknologi perangkat bergerak tumbuh dan berkembang sangat pesat yang berdampak pada perubahan lingkungan masyarakat yang semakin beragam baik bagi individu maupun organisasi di lingkungan instansi atau perusahaan untuk mendukung aktivitas sehari-hari. Aplikasi mobile memberikan kesempatan yang baik bagi sektor swasta maupun pemerintahan untuk memberikan pelayanan publik yang baik. Halo Polisi adalah aplikasi m-government milik Kepolisian Resor Kota Depok yang diluncurkan sejak tahun 2017. Dalam perngembangan aplikasi mobile diperlukan evaluasi lanjutan untuk mengetahui sejauh mana tujuan, strategi dan rencana aksi yang telah dicanangkan oleh organisasi dapat tercapai. Evaluasi menyeluruh juga akan membantu dalam menemukan kekuatan dan kelemahan, menentukan pedoman baru dan membandingkan organisasi m-government di tingkat lokal, nasional dan internasional. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi aplikasi mobile Halo Polisi dan mengetahui faktor-faktor yang mendukung kesuksesan aplikasi yang berfokus pada perspektif masyarakat. Penelitian ini menggunakan model kesuksesan sistem informasi dari DeLone dan McLean. Dengan menggunakan metode olah data kuantitatif, kuesioner akan dibagikan secara daring kepada responden yang merupakan pengguna aplikasi Halo Polisi di kota Depok. Kuesioner kemudian dianalisis dengan menggunakan pendekatan PLS-SEM. Hasil penelitian ini dapat diketahui faktor-faktor yang mendukung kesuksesan aplikasi. Faktor-faktor tersebut adalah kualitas sistem, kualitas layanan, penggunaan, dan kepuasan pengguna dapat memberikan manfaat yang dirasakan oleh warga.

ABSTRACT
Mobile technology is growing and developing very rapidly which has an impact on changing the diverse community environment for individuals and organizations within the agency or company to support daily activities. Mobile applications provide a good opportunity for the private sector and government to provide good public services. Halo Polisi is the Depok City Police m-government application which was launched in 2017. In the development of mobile applications, further evaluation is needed to find out how far the objectives, strategies and action plans of the organization can be achieved. Overall evaluation will also help to find the strengths and weaknesses, determine new guidelines and compare m-government organizations at the local, national and international levels. The purpose of this study is to evaluate the Halo Polisi as mobile application and find out the success factors that focus on the perspective of citizen. This study use the information system success model from DeLone and McLean. By using quantitative data processing method, the questionnaire was distributed online to respondents who are users of Halo Polisi application in the city of Depok. The questionnaire was analyzed using the PLS-SEM approach. The results of this study can be known what the factors that support the success of the application. These factors are system quality, service quality, use, and user satisfaction can provide benefits perceived by citizen."
2019
TA-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Wisnhu Ajie Febrianto
"Implementasi Mobile Wimax IEEE sebagai teknologi wireless broadband pertama dari WiMAX menjadi sangat menarik. Khususnya di daerah DKI Jakarta dengan luas wilayah 649.71 km2 dan jumlah penduduk sekitar 10 juta jiwa. Pendekatan dilakukan dengan perhitungan cakupan, kapasitas dan analisa kelayakan penyelenggaraan bisnis. Perhitungan cakupan dan kapasitas menunjukkan bahwa modulation yang digunakan adalah 64 QAM ¾ dengan bandwidth 10 MHz. Dari kesimpulan didapatkan dalam tiga simulasi kondisi pasar pesimis, moderate dan optimis. Analisa NPV hanya kondisi pesimis yang tidak layak yaitu menunjukkan angka negatif. Untuk analisa IRR didapat angka bervariasi mulai dari 29% untuk kondisi pesimis hingga 98% untuk kondisi optimis. Analisa payback period menunjukkan lama waktu kembalinya modal pada kondisi pesimis 6 tahun dan 9 bulan dan waktu tercepat pada kondisi optimis dengan waktu 3 tahun dan 4 bulan. Analisa terakhir yaitu benefit to cost ratio menunjukkan bahwa semua kondisi layak untuk diimplementasikan dengan angka BCR berkisar dari 1,13 hingga 1,72.

Implementation of Mobile Wimax technology as the first wireless broadband technology from WiMAX Group with mobility support would become very interesting. Furthermore it have design in urban metropolitan Jakarta with overall area width 649.71 km2 and number of population approximate 10 million people in the year 2010. A lot of approximation to design this network have been use like coverage planning, capacity planning and finansial analysis to observe how profitable this technology is. Coverage and capacity planning shows that the most appropriate modulation and bandwidth to use is 64 QAM ¾ with 10 MHz of Bandwidth. From the summary chapter we can see this implementation of technology in three different condititions; optimis, moderate and pesimis. NPV analysis shows that pesimis conditition is not recommended cause it shows negative indication. From IRR analysis we get variation from 29% of pesimis condition until 98% for optimis conditition. Payback periode analysis shows that pesimis condition will return capital in 6 years and 9 months and the fastest time from optimis condition in 3 years and 4 month. Last analysis would be BCR analysis shows that all scenarios are suitable for implementation with range of BCR from 1,13 until 1,72.
"
Depok: Universitas Indonesia, 2009
T26248
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Wisnhu Ajie Febrianto
"Implementasi Mobile Wimax IEEE sebagai teknologi wireless broadband pertama dari WiMAX menjadi sangat menarik. Khususnya di daerah DKI Jakarta dengan luas wilayah 649.71 km2 dan jumlah penduduk sekitar 10 juta jiwa. Pendekatan dilakukan dengan perhitungan cakupan, kapasitas dan analisa kelayakan penyelenggaraan bisnis. Perhitungan cakupan dan kapasitas menunjukkan bahwa modulation yang digunakan adalah 64 QAM _ dengan bandwidth 10 MHz. Dari kesimpulan didapatkan dalam tiga simulasi kondisi pasar pesimis, moderate dan optimis. Analisa NPV hanya kondisi pesimis yang tidak layak yaitu menunjukkan angka negatif. Untuk analisa IRR didapat angka bervariasi mulai dari 29% untuk kondisi pesimis hingga 98% untuk kondisi optimis. Analisa payback period menunjukkan lama waktu kembalinya modal pada kondisi pesimis 6 tahun dan 9 bulan dan waktu tercepat pada kondisi optimis dengan waktu 3 tahun dan 4 bulan. Analisa terakhir yaitu benefit to cost ratio menunjukkan bahwa semua kondisi layak untuk diimplementasikan dengan angka BCR berkisar dari 1,13 hingga 1,72.

Implementation of Mobile Wimax technology as the first wireless broadband technology from WiMAX Group with mobility support would become very interesting. Furthermore it have design in urban metropolitan Jakarta with overall area width 649.71 km2 and number of population approximate 10 million people in the year 2010. A lot of approximation to design this network have been use like coverage planning, capacity planning and finansial analysis to observe how profitable this technology is. Coverage and capacity planning shows that the most appropriate modulation and bandwidth to use is 64 QAM _ with 10 MHz of Bandwidth. From the summary chapter we can see this implementation of technology in three different condititions; optimis, moderate and pesimis. NPV analysis shows that pesimis conditition is not recommended cause it shows negative indication. From IRR analysis we get variation from 29% of pesimis condition until 98% for optimis conditition. Payback periode analysis shows that pesimis condition will return capital in 6 years and 9 months and the fastest time from optimis condition in 3 years and 4 month. Last analysis would be BCR analysis shows that all scenarios are suitable for implementation with range of BCR from 1,13 until 1,72."
Depok: Universitas Indonesia, 2009
T40869
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Erfin Budi Sulistyanto
"ABSTRAK
Seiring dengan berjalannya waktu dan teknologin yang makin
berkembang, perkembangan bisnis telekomunikasi berkembang sangat pesat.
Hal ini menuntut pada operator untuk lebih kompetitif dalam pencarian pangsa
pasar serta dalam memberikan layanan yang terbaik kepada pelanggan. Jumlah
operator seluler yang banyak semakin meningkatkan persaingan para operator
dalam memperebutkan pangsa pasar, baik untuk memperoleh pangsa pasar baru
atau untuk mempertahankan pangsa pasar yang telah didapatkan. Operator
telekomunikasi harus selalu menjaga kualitas serta performansi jaringan
telekomunikasi.
Untuk meningkatkan kapasitas dan menjaga kualitas layanan,
serta meningkatkan kemampuan dan kehandalan perangkat telekomunikasi,
khususnya pada sisi RF (Radio Frequency), maka operator melakukan upgrade
teknologi. Dalam hal ini dilakukan upgrade teknologi pada jaringan akses RF
dari yang sebelumnya masih tradisional V3 BTS ke SDR BTS dengan berbagai
kelebihan yang dimiliki, sehingga implementasi upgrade BTS tersebut
diharapkan dapat meningkatkan fleksibilitas, reliabilitas, kapasitas dan kualitas
performansi.
Implementasi teknologi pada jaringan akses Telkomsel tersebut
diperlukan karena semakin meningkatnya jumlah pelanggan Telkomsel dan
diharapkan bisa menggalakkan revenue dengan tambahan cakupan coverage dan
capacity yang dimiliki. Selain itu juga berkaitan dengan persiapan jaringan
akses dalam implementasi teknologi 4G LTE ke depan pada jaringan Telkomsel.
SDR BTS diharapkan dapat meningkatkan kinerja dan performansi jaringan
sehingga dapat mendukung implementasi teknologi broadband.
Parameter OSS KPI yang meningkat performansinya diantaranya
Handover Success rate (HOSR), TCH Call Drop Rate (TDR), SDCCH Success
Rate (SDSR), TBF Completion Rate (TBF CR), TBF UL/DL Establishment
Success Rate (TBF UL/DL Est SR), TCH Traffic, TCH Blocking Rate (excluding
handover), EDGE&GPRS Payload dan EDGE&GPRS Troughput.Parameter
Drive Test KPI secara event yang meningkat performansinya diantaranya Call
Setup Success Rate (CSSR),Dropped Calls (CDR), Handover Success rate
(HOSR), Rx Quality, Speech Quality Index (SQI), Rx Level , Routing Area
Update Intra System Success Rate dan Distribusi Trafik Data. Apabila dilihat
dari sisi investasi dengan melihat Net Present Value, Internal Rate of Return,
dan Payback Period maka implementasi modernisasi RF ini sangat
menguntungkan dan memiliki tingkat profitabilitas yang cukup tinggi.
Berdasarkan hasil analisis resiko sensitivitas terhadap investasi disimpulkan
bahwa nilai NPV berbanding lurus dengan perubahan trafik dan tarif, namun
nilai NPV berbanding terbalik dengan discount rate, OPEX dan nilai tukar dolar.

ABSTRACT
As time goes by and with acquired technology, the development of the
telecommunications business is growing very rapidly. This requires the operator
to be more competitive in the search market share as well as in providing the
best service to customers. Many number of mobile operators was increased
competition in gaining market share, both to gain new market share or to
maintain market share has been obtained. Telecom operators must always
maintain the quality and performance of telecommunication networks. To
increase capacity and maintain quality of the service, and to improve the
capacity and reliability of telecommunications equipment, particularly in the RF
(Radio Frequency), then the operator to upgrade technology.
In this case the
telecommunication operator do upgrading the technology in the access network
from the previous RF V3, that still traditional BTS to SDR BTS. With the
implementation of the upgrade V3-SDR BTS is expected to increase the
flexibility, reliability, capacity and performance quality.
Technology implementation in the Telkomsel access network become necessary
because of the growing of Telkomsel subscribers and can be expected to
generate revenue to promote coverage and capacity owned. It also relates to the
preparation of access networks in 4G LTE technology of Telkomsel network
implementation forward. SDR base stations are expected to improve the network
performance so that it can support the implementation of broadband
technologies.
OSS KPI parameters increasingafter implementation for Handover Success rate
(HOSR), TCH Call Drop Rate (TDR), SDCCH Success Rate (SDSR), TBF
Completion Rate (CR TBF), TBF UL / DL Establishment Success Rate (TBF UL
/ DL Est SR), TCH Traffic, TCH Blocking rate (excluding handover), EDGE &
GPRS Payload and EDGE & GPRS Troughput.Parameter Test Drive KPI event
that increases its performance such as
Call Setup Success Rate (CSSR),
Dropped Calls (CDR), handover Success rate (HOSR) , Rx Quality, Speech
Quality Index (SQI), Rx Level, Intra Routing Area Update Distribution System
Success Rate and Traffic Data. When viewed from the side of the investment by
looking at the Net Present Value, Internal Rate of Return, Payback Period thus
the implementation of the modernization is profitable and has a fairly high
level of profitability. Based on the results of risk analysis concluded that the
sensitivity of the NPV of investment is proportional to the change in traffic and
the tariff, but its NPV is inversely related to the discount rate, OPEX and dollar
exchange rate."
Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2013
T35978
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"This book highlights the most important research areas in Information and Telecommunication Technologies as well as Radio Electronics. The respective chapters share in-depth and extended results in these areas with a view to resolving practically relevant and challenging issues including: management services and quality control, improved estimates for reliability indicators, the cryptographic technology Blockchain, research and forecasting of technological characteristics, satellite communications, multiservice transmission systems and effective technological solutions. These results can be used in the implementation of novel systems and to promote the exchange of information in e-societies."
Switzerland: Springer Nature, 2019
e20505955
eBooks  Universitas Indonesia Library
cover
Anita Wulandari
"Tahun 1991 terjadi ledakan belanja iklan televisi,
dengan terlihatnya antusiasme pemasang iklan dalam belanja
iklan televisi yang terus meningkat. Hadirnya televisi
swasta sejak tahun 1989 memberi peluang kepada pemasang iklan
untuk menggunakan media elektronik audio visual ini sebagai
medium periklannya.
Dengan menggunakan sampel purposive analisis isi
pesan iklan niaga ini meneliti sampe sebanyak 450 iklan
niaga di RCTI sepanjang tahun 1991 selama prime time yang
dikumpulkan dengan merekam melalui video. Kemudian iklaniklan
tersebut dikategorikan berdasarkan kategorisasi
produk yang dibuat oleh SRI. Berdasarkan kategori produk
tersebut penelitian dilanjutkan dengan pengkategorisasian
pada elemen audio visual, eksekusi, daya tarik, pendekatan,
dan ide besar pesan iklan Dari hasil penelitian terhadap 450 iklan niaga ternyata elemen audio yang terbanyak dimanfaatkan dalam iklan niaga televisi di Indonesia adalah gaya tutur narasi (70,21%), dan
gaya tutur dialog hanya 9, 93%. Musik ilustrasi dimanfaatkan
61,41% dan jingle (37,86%) sebagai musik komersial yang
mengidentifikasikan sebuah produk ternyata belum mendominasi
penampilan pesan iklan. Sed angkan elemen visual didominasi
oleh teknik produks· gambar hidup (7 1,11%) dan sesuai dengan
perkembangan teknologi dampak sudah cukup banyak iklan -iklan
yang memanfaatkan teknik produksi animasi (1 9,11%). Jenis
pembawa pesan yang te rbanyak dimanfaatkan oleh pemasang iklan
adalah Pembawa pesan yang memiiki nilai atau
attractiveness (76,14%). "
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 1994
S4098
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nana Rusdiana
"Beragamnya layanan informasi semakin menuntut peningkatan bandwidth dan kehandalan jaringan yang memadai. Oleh karena itu PT Telkom Indonesia, melakukan perencanaan jaringan backbone DWDM 40G link Jatinegara - Cikupa. perencanaan ini berasal dari jaringan exsisting sampai batas maksimum kapasitas yang dapat ditampung. Pada tahun 2012 kebutuhan bandwidth adalah 380 Gbps sampai tahun 2024 mencapai 1178,296 Gbps yang dihitung menggunakan regresi linear. Terdapat perbedaan teknologi yang dipakai antara DWDM 40G dengan teknologi DWDM dibawahnya seperti faktor dispersi kromatik dan format modulasi (RZ-DQPSK). Pada perencanaan ini dilakukan kalkulasi level daya dan penambahan DCM untuk mendapatkan parameter perencanaan yang optimum seperti BER dan OSNR.

Diversity of information services increasingly demanding higher bandwidth and network reliability are adequate. Therefore, PT Telkom Indonesia, planning 40G DWDM backbone network link Jatinegara - Cikupa. This plan comes from exsisting network to the maximum capacity that can be accommodated. In 2012 was 380 Gbps bandwidth requirements up to 2024 Gbps reached 1178.296 calculated using linear regression. There are differences between 40G DWDM and under 40G DWDM such as chromatic dispersion factor and modulation format (RZ-DQPSK). This planning is done calculations on the power level and the addition of DCM to obtain the optimum design parameters such as A and OSNR."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2013
S46107
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sinambela, Horas
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1993
S38355
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Vina Sari Thaher
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1998
S39498
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Teguh Prasetya
"Kebutuhan akan TV mobil yang dapat dinikmati di handset berkembang dengan pesat akhir-akhir ini, hal tersebut saat ini dimungkinkan dengan menggunakanjaringan seluler berbasis 3G. Akan tetapi jaringan 3G yang berbasis komunikasi point to point tidak dapat secara efisien menampung jumlah pengakses konten siaran TV yang dikirimkan dalam waktu bersamaan sebagaimana layaknya TV broadcaster. Sebagai alternatif dengan adanya teknologi digital broadcast yang didesain untuk mengatasi hal tersebut akan memungkinkan pengiriman konten TV ke handset secara massal dan diharapkan akan mampu menampung lonjakan kebutuhan akan jasa mobile TV mobil ini. Berbagai macam Teknologi Digital di Mobile TV yang berkembang dewasa ini khususnya yang paling populer adalah DVB-H yang menunjukkan trend adopsi terbesar di banyak negara perlu dicermati dalam hal pemilihan transmisi maupun implementasi di lapangan. Implementasi Mobile TV berbasis DVB-H di Jakarta yang merupakan uji coba secara mikro guna menentukan konsep secara keseluruhan baik tingkat adopsi maupun konsep bisnisnya menurut perhitungan adalah sangat layak untuk dilakukan dengan hasil untuk meliput wilayah Jakarta dan sekitarnya dibutuhkan 7 pemancar outdoor dan 40 repeater di dalam gedung bertingkat dengan hasil perhitungan bisnis adalah NPV sebesar Rp. 200 Milyar, IRR sebesar 47% dan Payback Period 2.5 tahun. Dengan demikian direkomendasikan untuk melakukan implementasi layanan Mobile TV berbasis teknologi DVB-H di Jakarta.

Trend of Mobile TV has been started in Indonesia, currently available Mobile TV access is through 3G cellular network. 3G cellular network has limitation since it was design based on point to point communication therefore for broadcast capabilities using 3G network is limited compare with the real broadcasting network itself. As an alternative for delivering mobile TV solution currently is by using new technology of digital broadcast that has been design for more reliable TV channel delivery to mobile mass user handset at one times. This solution supposed to answer needs of user demands on the mobile TV access. Most popular mobile TV access technology is DVBH based which is adopted in many major country in the world, for Indonesia adoption on which technology is the best really need to have brief in detail implementation study along with business case exercise especially for big cities deployment such as Jakarta. Implementation of DVB-H Mobile TV in Jakarta has proven to be success and feasible based on the analysis that Jakarta is covered by 7 big transmitter cell and 40 in-door repeater for high rise building, financial analysis shown that business case result are NPV is Rp. 200 Billion, IRR is 47% and Payback period is 2.5 years. The analysis of implementing DVB-H in Jakarta is covered both cost and revenue associated with along recommendation for adapting DVB-H technology for Mobile TV deployment in Jakarta."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2008
T24771
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>