Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 90021 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Isabella Sasqia Mulya
"Individu dengan orientasi homoseksual seringkali mendapatkan prasangka, diskriminasi, dan kekerasan berkenaan dengan orientasi seksual yang dimilikinya. Oleh karena itu, individu homoseksual mengalami salah satu stressor spesifik yaitu stres minoritas dalam bentuk stigma consciousness. Stigma consciousnessdan dukungan sosial secara konsisten berkaitan dengan kesehatan mental. Penelitian kali ini dilakukan untuk melihat efek mediasi dari persepsi terhadap dukungan sosial pada hubungan antara stigma consciousnessdan gejala depresi. Terdapat 295 partisipan dalam penelitian ini dengan kriteria; memiliki orientasi homoseksual, berusia minimal 18 tahun, dan warga negara Indonesia.
Analisis regresi berganda menggunakan PROCESS for SPSS model 4 menunjukkan bahwa hipotesis penelitian ini didukung data yaitu persepsi terhadap dukungan sosial memediasi secara penuh hubungan antara stigma consciousnessdan gejala depresi. Berdasarkan hasil penelitian ini, penting bagi indvidu homoseksual maupun masyarakat untuk memahami stres minoritas serta mengidentifikasi dukungan sosial yang dapat diberikan kepada individu homoseksual.

Homosexuals often get prejudice, discrimination, and violence regarding their sexual orientation. Therefore, homosexuals experience one specific stressor namely minority stress in the form of a stigma consciousness. Stigma consciousness and social support are consistently related to mental health. This research was conducted to investigate the mediating effects of perceived social support on the relationship between the stigma consciousness and depressive symptoms.There were 295 participants in this study with criteria; have a homosexual orientation, at least 18 years old, and an Indonesian.
Multiple regression analysis using PROCESS for SPSS model 4 shows that the hypothesis of this study is supported by data, that is perceived social support is fully mediated the relationship between the stigma consciousness and depressive symptoms. Based on the results of this study, it is important for homosexuals and community to understand the minority stress and identify social support that can be given to homosexuals.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yul Iskandar
"Depresi merupakan penyakit yang terbanyak didapati baik pada praktik spesialis maupun umum. Gangguan psikiatrik ini dapat bersifat ringan atau penyakit yang berat. Gangguan penyakit yang berat dapat fatal, karena biasanya penderita mencoba untuk bunuh diri (suicidium). Diagnosis penyakit tidak mudah. Gangguan yang ringan, sering bermanifestasi sebagai penyakit fisik, dan gangguan emosional tersamar oleh keluhan somatiknya. Pada masa akut sering gangguan yang berat menyerupai gangguan lain seperti skizofrenia. Banyak sarjana di bidang psikiatri mencari markah biologik sebagai alat untuk membantu diagnosis depresi. Salah satu markah biologik adalah gambaran poligrafik tidur. Hasil yang positif dari laboratorium tidur sulit dipakai di klinik, karena mahal dan sangat memakan waktu, baik penilaian maupun interpretasi. Kelompok Studi Psikiatri Biologik Jakarta (KSPBJ) telah melakukan modifikasi dari teknik standar dengan teknik yang dinamakan Teknik KSPBJ. Pada teknik ini hanya merekam satu menit dari lima menit selama perekaman yang berlangsung tujuh jam. Dari penelitian kami dengan sukarelawan normal dan pasien depresi didapatkan bahwa Teknik KSPBJ mempunyai agreement yang tinggi dengan teknik standar. Lebih lanjut didapatkan bahwa dengan teknik itu, seperti juga pada teknik standar didapatkan markah biologik untuk depresi. Penderita depresi mempunyai latensi REM yang rendah, yang berbeda dengan normal (P<0,001). Selaln itu ternyata pula pada penderita depresi terjadi shifting p-REM ke 1/3 awal malam dan pada perbaikan depresi terjadi shifting ke 1/3 akhir malam. Penelltian ini konsisten dengan hipotesis adanya ketidak-seimbangan sistem kolinergik - noradrenergik pada mekanisme latency REM, dan ketidak-seimbangan noradrenergik-serotonergik pada phasic REM.

Sleep In Depressed Patient (A Study On Sleep, REM, and Phasic REM In Depressed Patients)Up to 10 % of all patients seeing a doctor are depressed. This conclusion emerged from an enquiry conducted in 1973 by over 10.000 physicians practicing in Austria, Federal Republic of Germany, France, Italy and Switzerland. Approximately 15% of the severely depressed commit suicide, whereas the moderate and mild forms usually cause reduction in the quality of life of these patients. The diagnosis of depression is not easy. Depressive states often escape diagnosis because these patients are so overwhelmed by the impact of their physical symptoms, particularly since they can more easily accept the idea that their illness is of physical, as opposed to mental origin. By referring only to their physical complaints, and deliberately failing to disclose their slate of mind, they lead the unwary physician up the wrong diagnostic path. In most mental hospitals, or departments of psychiatry, the diagnosis of depression is also not easily made. In the acute and severe forms these condition sometimes are wrongly diagnosed as schizophrenia. Numerous scientists are presently searching for a biological marker of depression. The Ideal biological marker must be sensitive, specific, easy to identify and relatively Inexpensive In its operation. Research over the past two decades has led to the development of a standardized sleep EEG methodology, which has been proven useful for the identification of characteristic sleep abnormalities of depressed patients. Application of REM abnormalities as a biological marker has produced an accurate, reliable and objective laboratory method for a diagnostic aid in the identification of depression. Even though this is proven to be a useful tool, in clinical practice it is not presently practical as a routine screening test in depressed patients. One of the drawbacks of these methods is the limited number of and the access to standard sleep laboratories. Expenses of EEG sleep studies run high, approximately US$ 500.00 per night. The other factor is that it is time consuming to evaluate 1200 pages of EEG sleep records. In 1980 KSPBJ (Study Group for Biological Psychiatry) developed a modification of the Rechtschaffen and Dales method. The KSPBJ technique records only one minute in every five minutes. That is one minute on and four minutes off for a period of seven hours. In this dissertation a comparison was made between the KSPRJ technique and the standard technique. With 18 normal volunteers, 14 new cases of depression, and 13 medicated depressed patients, the conclusion can be made that the KSPBJ technique has a statistically high agreement with the standard technique. (Po m 0.78 - 0.82, Kappa - 0.71 - 0.75). Another result of these studies with 91 depressed patients and 50 normal volunteers is finding that depressed patients have shortened REM Latency (<60 minutes). This shortened REM Latency could be used in predicting the diagnosis of depression with a quite high level of sensitivity (73-76%), and specificity (over 90%). Yet another conclusion with this KSPBJ technique is that in depressed patients, there seem to be a shifting to the left of phasic REM (to one third of initial night), and on recovery a shifting to the right (to one third of terminal night). These findings are consistent with the hypothesis, of choilnergic - noradrenergic balance mechanism in the forming of latency REM, and the balance of noradrenergic - serotonergic mechanism in the forming of phasic REM. When comparing this technique with the standard technique, there is an 80% reduction of the cost of sleep EEG recording, and an 80% saving in time for evaluation. In conclusion, the KSPBJ technique can be considered as a biological marker for depression which is reasonably sensitive and specific, easy to identify, and in addition relatively inexpensive.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 1990
D150
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wimala Tiastrinindita Purwa
"Penelitian ini merupakan suatu penelitian untuk melihat tingkat depresi pada penyandang carat fisik. Untuk melihat tingkat depresi penelitian ini menggunakan Beck Depression Inventory. Subyek yang diikutsertakan dalam penelitian ini adalah penyandang cacat fisik yang tinggal di Panti Sasana Bina Daksa Budhi Bakti di Cipayung & Pondok Bambu serta penyandang cacat fisik yang tinggal di Yayasan Sinar Pelangi di Jati Kramat, Pondok Gede. Subyek yang menjadi sample penelitian adalah penyandang cacat fisik yang berusia 17 hingga 40 tahun (N = 44). Uji validitas BDI adalah menggunakan validitas kriteria di mana item yang ada dalam BDI mengacu pada kriteria depresi yang disebutkan di dalam DSM IV. Hasil uji analisis data menunjukkan skala BDI memiliki koefisien alpha Cronbach sebesar 0.797. Koefisien korelasi bergerak antara 0,0352 hingga 0,6105. Penelitian ini juga menggunakan metode wawancara untuk mendapatkan informasi mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat depresi dari subyek penelitian. Jumlah subyek yang diwawancara adalah sebanyak enam orang, dua orang merupakan subyek yang tergolong dalam kategori faking good, dua orang merupakan subyek yang tergolong depresi ringan dan dua orang yang tergolong dalam kategori depresi berat."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2006
T17866
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Arvin Imamsatria Widijanto
"Studi ini menyelidiki hubungan kompleks antara jam kerja dan gejala depresi di kalangan karyawan di Indonesia, dengan menggunakan data dari gelombang keempat dan kelima RAND Indonesian Family Life Survey (IFLS). Dengan fokus khusus pada berbagai kelompok sosial ekonomi dan demografi, penelitian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan yang signifikan dalam literatur yang ada dengan memberikan pemahaman yang mendalam tentang bagaimana jam kerja mempengaruhi kesehatan mental dalam konteks sosial budaya dan ekonomi yang unik di Indonesia serta mencoba mengatasi masalah kausalitas terbalik (yang sebagian besar diabaikan dalam studi lain di Indonesia). Analisis ini menggunakan model regresi logit untuk memeriksa efek deviasi dari rata-rata jam kerja sektoral terhadap gejala depresi, dengan perhatian khusus pada hubungan non-linier. Temuan utama menunjukkan hubungan kurva berbentuk “U” untuk kelompok utama dan subkelompok perempuan, yang mana penyimpangan dari rata-rata jam kerja awalnya mengurangi gejala depresi tetapi secara signifikan meningkatkannya setelah melewati ambang tertentu. Untuk subkelompok usia 15-25 tahun dan subkelompok pendapatan “miskin”, hubungan kurva eksponensial positif diamati, menunjukkan bahwa gejala depresi meningkat lebih tajam dengan penyimpangan dari rata-rata jam kerja. Temuan ini menekankan pentingnya intervensi dan kebijakan kesehatan mental yang ditargetkan, dengan mempertimbangkan perubahan sosial ekonomi yang lebih luas yang dapat mempengaruhi kesehatan mental.

This study investigates the complex relationship between working hours and depressive symptoms among employees in Indonesia, utilizing data from the fourth and fifth waves of the RAND Indonesian Family Life Survey (IFLS). With a specific focus on various socioeconomic and demographic groups, this research aims to fill a notable gap in existing literature by providing a nuanced understanding of how working hours impact mental health within the unique socio-cultural and economic context of Indonesia and while attempting to address reverse causality issues (mostly glossed over in other studies in Indonesia). The analysis employs a logit regression model to examine the effects of deviations from sectoral average working hours on depressive symptoms, with particular attention to non-linear relationships. Key findings indicate a U-shaped curve relationship for the main group and female subgroup, where deviations from average working hours initially reduce depressive symptoms but significantly increase them beyond a certain threshold. For the 15-25 age subgroup and “poor” income subgroup, a positive exponential curve relationship is observed, indicating that depressive symptoms increase more sharply with deviations from average working hours. These findings underscore the importance of targeted mental health interventions and policies considering broader socio-economic changes that may impact mental health."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hari Santosa S
1983
S2195
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Taylor, John E.
Massachusetts: MIT Press, 1999
153 TAY r
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Herlina J EL Matury
"ABSTRAK Disertasi ini membahas model faktor-faktor yang mempengaruhi depresi, kecemasan
dan stres pada mahasiswa S1. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan disain cross
sectional. Hasil factor analysis pada sumber masalah, didapat sumber masalah ada 3
faktor yaitu komunikasi dan adaptasi, personal dan emosional. Hasil structure equation
modeling, bahwa faktor sumber masalah dan faktor harga diri berhubungan signifikan
terhadap terjadinya depresi, kecemasan dan stres pada mahasiswa S1. Sumber masalah
merupakan faktor yang paling mempengaruhi depresi, kecemasan, dan stress pada
mahasiswa S1. Hasil penelitian menyarankan perlu ditambahkan program/kegiatan
seperti pelatihan, seminar, talk show, dan diskusi tentang peningkatan harga diri
mahasiswa.
ABSTRACT This dissertation discusses the model of factors that influence depression, anxiety and
stress in undergraduate students. This research is quantitative with cross sectional
design. The results of factor analysis on the source of the problem, the source of the
problem is that there are three factors, namely communication and adaptation, personal
and emotional. The results of structure equation modelling, that the problem and selfesteem
factors are significantly relate to depression, anxiety and stress in undergrasuate
students. The problem is the most affects depression, anxiety, and stress in
undergrasuate students. The results of the study suggest that programs / activities need
to add such as training, seminars, talk shows, discussions, about increasing student selfesteem.

"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2019
D2587
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Burns, David D.
Jakarta: Erlangga , 1980
616.85 BUR f t
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Henni Kusuma
"Kualitas hidup pada pasien HIV/AIDS sangat penting untuk diperhatikan karena penyakit infeksi ini bersifat kronis dan progresif sehingga berdampak luas pada segala aspek kehidupan baik fisik, psikologis, sosial, maupun spiritual. Masalah psikososial khususnya depresi dan kurangnya dukungan keluarga terkadang lebih berat dihadapi oleh pasien sehingga dapat menurunkan kualitas hidupnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menjelaskan hubungan antara depresi dan dukungan keluarga dengan kualitas hidup pada pasien HIV/AIDS. Penelitian ini menggunakan rancangan studi potong lintang dan merekrut sampel sebanyak 92 responden dengan teknik purposive sampling.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden mempunyai kualitas hidup kurang baik (63,0%), mengalami depresi (51,1%), dukungan keluarga non-supportif (55,4%), berjenis kelamin laki-laki (70,7%), berpendidikan tinggi (93,5%), bekerja (79,3%), berstatus tidak kawin (52,2%), mempunyai penghasilan tinggi (68,5%), berada pada stadium penyakit lanjut (80,4%), rata-rata usia 30,43 tahun, dan rata-rata lama mengidap penyakit 37,09 bulan. Pada analisis korelasi didapatkan adanya hubungan yang bermakna antara depresi dan dukungan keluarga dengan kualitas hidup (p=0,000 & p=0,000, α=0,05).
Selanjutnya, hasil uji regresi logistik menunjukkan responden yang mengalami depresi dan mempersepsikan dukungan keluarganya non-supportif beresiko untuk memiliki kualitas hidup kurang baik setelah dikontrol oleh jenis kelamin, status marital, dan stadium penyakit. Selain itu, diketahui pula bahwa dukungan keluarga merupakan faktor paling dominan yang berhubungan dengan kualitas hidup dengan nilai OR=12,06.
Rekomendasi dari penelitian ini adalah perlu dilakukan intervensi untuk memberdayakan keluarga agar dapat senantiasa memberikan dukungan pada pasien HIV/AIDS dan upaya pencegahan serta penanganan terhadap masalah depresi agar dapat memperbaiki kualitas hidup pasien HIV/AIDS.

Quality of life of patients with HIV/AIDS become a main concern since this chronic and progressive illness may impact in all aspects of patient?s life: physical, psychological, social, and spiritual. Psychosocial problems especially depression and lack of family support are frequently faced of this patients which effect in reducing their quality of life. The purpose of this study was to identify and to explain the relationship between depression and family support with quality of life in patients with HIV / AIDS. This study used cross-sectional study design, with a total sample is 92 respondents that recruited by purposive sampling technique.
The results showed that the majority of respondents have poor quality of life (63.0%), depression (51.1%), lack of family support (55.4%), male (70.7% ), higher education level (93.5%), work (79.3%), unmarried (52,2%), have higher income (68.5%), in advanced stage of disease (80.4% ), with an average age of 30.43 years, and the average length of illness 37.09 months. Analysis of the correlation showed any significant relationship between depression and family support with quality of life (p=0,000 & p=0,000, α=0,05).
Further analysis with logistic regression test demonstrated that respondents who perceive depressed and family non-supportive are at risk to have poor quality of life after being controlled by gender, marital status, and stage of disease. In addition, this analysis showed that family support is the most influential factors to the quality of life with OR=12,06.
Recommendations from this study is necessary to empower family in order to continously giving support to patients with HIV/AIDS and also needs to prevent and resolve problem of depression in order to improve quality of life of patients with HIV/AIDS.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2011
T-Pdf
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Baruss, Imants
"Buku ini berisi pembahasan mengenai konsep kesadaran, merupakan analisis empiris untuk ilmuwan sosial."
Washington: American Psychological Association, 2003
154 BAR a
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>