Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 226715 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Hifizah Nur
"ABSTRAK
UKM Kerohanian di UI, UNJ, UP dan Universitas Gunadarma merupakan organisasi
yang bertujuan untuk mensyiarkan Islam di kampus-kampus tersebut. Untuk mencapai tujuan
tersebut, UKM-UKM Kerohanian tersebut membutuhkan SDM-SDM yang memiliki
komitmen yang kuat untuk mensukseskan program-programnya. Dari hasil wawancara
dengan pengurus UKM Kerohanian tersebut, diketahui bahwa hanya sekitar 45% sampai
75% saja pengurus yang benar-benar terlibat aktif di organisasi-organisasi tersebut. Salah
satu faktor yang mempengaruhi komitmen adalah motivasi dan salah satu faktor yang
membentuk motivasi adalah goal orientation (GO), yaitu tujuan seseorang dalam mencapai
suatu prestasi (Pintrich & Schunk, 1996).
Ada dua macam goal orientation, yaitu yang task involved dan ego involved. Task
involvd GO adalah orientasi yang dimiliki seseorang ketika melakukan suatu aktivitas yang
berfokus pada melaksanakan tugas-tugas yang diberikan sesuai dengan standar pribadi,
mengembangkan keterampilan-keterampilan baru, meningkatkan kompetensi, mencoba untuk
mengatasi sesuatu yang menantang atau mencoba untuk mengerti dan mendapatkan insight
baru dalam proses pembelajaran. Sedangkan yang dimaksud dengan ego involved GO adalah
orientasi yang menitikberatkan pada kemampuan dan prestasi relatif atau bagaimana
kemampuan dan prestasi itu akan dinilai atau dibandingkan dengan orang lain (dalam
Pintrich & Schunk, 1996). Goal yang ideal adalah goal yang task involved, karena dengan
goal ini, para pengurus UKM Kerohanian tersebut memiliki keinginan untuk mengerjakan
program-rogram yang menantang dan senantiasa berorientasi untuk belajar dan
mengembangkan diri, sehingga, selain meningkatkan kualitas individu, target-target dari
organisasi pun dapat tercapai. Penelitian ini mencoba melihat bagaimana profil goal
orientation pengurus yang terlibat aktif di UKM-UKM Kerohanian tersebut, apakah lebih ke
task involved GO atau ego involved GO
Karena salah satu faktor yang mempengaruhi goal seseorang, apakah akan menjadi task
involved atau ego involved adalah berasal dari dalam diri individu tersebut, maka nilai-nilai
yang tertanam di dalam diri seorang pengurus kerohanian merupakan hal yang penting untuk
dibicarakan sebagai salah satu hal yang berpengaruh untuk menentukan goal seseorang.Nilainilai
yang seharusnya tertanam dalam diri seorang pengurus UKM Kerohanian Islam adalah
nilai-nilai keislaman yang membentuk komitmen beragama seseorang. Menurut Glock
(1962), komitmen beragama adalah kepercayaan seseorang terhadap kebenaran agamanya,
praktek dari ajaran agama seseorang, bagaimana emosi atau pengalaman sadar yang terlibat
dalam diri seseorang, pengetahuan dan pemahaman seseorang tentang ajaran-ajaran agamanya, dan bagaimana efek agama seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Pengertian
komitmen beragama ini sekaligus membentuk dimensi-dimensi komitmen beragama.
Penelitian ini bersifat kuantitatif dan dilakukan untuk mengetahui hubungan antara goal
orientation, baik yang task involved maupun yang ego involved dengan komitmen beragama
dan dimensi-dimensinya. Goal orientation diukur dengan menggunakan kuesioner yang
dirancang berdasarkan dimensi-dimensi yang dikemukakan oleh Andermen dan Maehr
(1994), Ames (1992b) dan Maehr & Midgley (1991) yang dirangkum oleh Pintrich & Schunk
(1996). Sedangkan komitmen beragama diukur dengan alat ukur yang berasal dari Glock
(1962) dan telah diadaptasi oleh beberapa orang dari UGM Yogyakarta. Hubungan antara
GO dan komitmen beragama diuji dengan menggunakan teknik korelasi dari pearson product
moment dan perbedaan mean yang berhubungan dengan data kontrol diuji dengan Anova.
Hasil perhitungan t-test menunjukkan bahwa pengurus UKM kerohanian tersebut
memiliki nilai mean yang tinggi pada task involved GO dan nilai mean yang rendah pada ego
involved GO. Dan mereka pun mendapatkan nilai mean yang tinggi untuk semua dimensi
komitmen beragama.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang positif dan signifikan antara
task involved GO dengan dimensi ritual, dimensi eksperiensial, dimensi konsekuensial dan
dimensi ideologis dari komitmen beragama dan ada hubungan yang negatif dan signifikan
antara ego involved GO dengan dimensi ritual, dimensi eksperiensial dan dimensi intelektual
dari komitmen beragama.
Hasil perhitungan anova menunjukkan tidak adanya hubungan antara GO dan dimensidimensi
komitmen beragama dengan katagori jenis kelamin subyek. Pada katagori asal
universitas. Gunadarma mendapatkan nilai mean tinggi pada task involved GO, dimensi
ideologis dan dimensi konsekuensial. Universitas Indonesia mendapatkan nilai teringgi pada
dimensi intelektual dan dimensi ideologis dari komitmen baragama sedangkan UNJ
mendapatkan nilai tinggi pada dimensi ritual. Universitas Pancasila mendapatkan nilai yang
lebih rendah pada semua variabel dan dimensi dibandingkan dengan universitas-unuversitas
yang lain. Untuk katagori jabatan, hanya berhubungan dengan dengan dimensi intelektual
dari komitmen beragama dan level middle manager mendapat nilai tertinggi pada dimensi ini
dibandingkan dengan level top manager dan level staff. Pada katagori angkatan,
berhubungan dengan dimensi ritual dan dimensi konsekuensial dari komitmen beragama dan
angkatan 1996 mendapatkan nilai tertinggi pada kedua katagori tersebut.
Nilai mean yang tinggi pada variabel task involved GO menunjukkan orientasi para
pengurus UKM tersebut dalam beraktivitas lebih ke task involved dari pada ego involved.
Dan mereka juga memiliki komitmen beragama yang baik dan ini terlihat dari nilai mean
yang tinggi pada semua dimensi komitmen beragama.
Hubungan yang positif dan signifikan antara task involved GO dengan beberapa dimensi
dari komitmen beragama menunjukkan bahwa semakin baik dimensi-dimensi tersebut
dilakukan, maka akan semakin task involved orientasi seseorang dalam beraktivitas di
organisasi tersebut. Di lain pihak hubungan yang negatif dan signifikan antara ego involved
GO dengan beberapa dimensi komitmen beragama menunjukkan bahwa semakin baik
pelaksanaan dimensi-dimensi komitmen beragama tersebut akan membuat orientasi ego
involved semakin rendah.
Tidak adanya hubungan antara katagori jenis kelamin dengan GO mendukung pernyataan
dari Pintrich dan Schunk yang menyatakan bahwa perbedaan jenis kelamin tidak menentukan
GO seseorang. Dan hal ini juga menunjukkan bahwa pria dan wanita tidak memiliki
perbedaan dalam komitmen beragama dengan semua dimemnsinya. Pada katagori universitas, lebih rendahnya nilai komitmen beragama pada pengurus
UKM kerohanian di Universitas Pancasila menunjukkan bahwa UKM di universitas tersebut
lebih diminati oleh beragam mahsiswa dalam hal komitmen beragamanya dan hal ini
disebabkan karena program-programnya yang lebih variatif dan lebih dapat diterima oleh
mahasiswa di universitas tersebut.
Untuk kategori jabatan, adanya perbedaan di setiap level pada dimensi intelektual
menunjukkan bahwa pemahaman para pengurus UKM kerohanian terhadap agamanya tidak
merata, level midclle mcinager memiliki nilai mean yang lebih tinggi pada dimensi tersebut
dan hal ini memerlukan perhatian yang cukup serius dari penghasil kebijakan di organisasiorganisasi
tersebut.
Untuk kategori angkatan, 1996 memiliki nilai yang lebih tinggi dari angkatan-angkatan
yang ada di bawahnya dalam hal pelaksanaan ibadah-ibadah ritual dan penerapan nilai-nilai
keagamaan dalam kehidupan sehari-hari dan hal ini pun memerlukan perhatian yang serius
dari para BPH UKM Kerohanian tersebut.
Dari diskusi di atas, peneliti mengajukan beberapa saran teoritis dan prakstis. Saran
teoritis yang terkait dengan penelitian diatas adalah yang terkait dengan alat ukur yang
dipakai dalam penelitian. Untuk alat ukur GO, perlu diteliti ulang keakuratan pengadopsian
dimensi-dimensi tersebut dari dunia pendidikan ke dunia organisasi, karena ada satu dimensi
yang seluruh itemnya gugur dalam uji reliabilitas dan validitas. Sedangkan untuk alat ukur
komitmen beragama perlu dikaji lebih mendalam unsur-unsur penting dalam agama Islam
yang dapat mengukur dimensi komitmen beragama. Selain itu pengambilan sampel dengan
teknik random sampling dan pembuatan norma dalam penelitian yang akan datang perlu
dilakukan agar hasil dari penelitian ini dapat digenerlisasikan kepada seluruh populasi.
Kemudian, saran praktis yang diajukan oleh peneliti adalah training-training untuk
peningkatan keterampilan berorganisasi juga perlu dilakukan mengingat besarnya keinginan
pengurus tersebut untuk belajar di organisasi. Dan juga perlu ditingkatkan penerapan nilai
keislaman di organisasi agar bisa meningkatkan task involved mereka."
2001
S3042
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Imaduddin Hamzah
"Penyalahgunaan Narkotika dan Psikotropika memperlihatkan peningkatan jumlah kasus baik peredaran dan penyalahgunaan yang memprihatinkan setiap tahunnya. Sebagian besar yang terlibat sebagai penyalahguna berusia remaja. Kaum agamawan memandang agama dapat menjadi kendali individu melakukan tindakan menyimpang.
Penelitian ini hendak mengkaji apakah ada perbedaan komitmen beragama Islam antara remaja penyalahguna dan bukan pengguna narkotika dan psikotropika remaja muslim?
Agama merupakan suatu sistem nilai dan norma yang ada di masyarakat. Komitmen beragama terbentuk melalui internalisasi dan sosialisasi masyarakat terhadap anggotanya. Agama dapat menjadi kendali bagi seseorang untuk tidak melakukan tindakan yang menyimpang dari norma agama dan norma sosial. Agama juga dapat menjadi pengikat individu dengan kelompok keagamaannya. Dengan demikian komitmen Beragama Islam yang tinggi diperkirakan dapat menjadi kendali internal dan sosial bagi siswa untuk melakukan tindakan menyimpang dalam bentuk penyalahgunaan Narkotika dan Psikotropika.
Penelitian ini menggunakan metoda kausal komparatif untuk menguji adanya hubungan sebab akibat dengan membandingkan dan menganalisa komitmen Beragama Islam penyalahguna dan bukan pengguna narkotika dan psikotropika pads populasi siswa SMU "X" Tangerang dengan jumlah responden sebanyak 90 siswa. Teknik Pengambilan sampel dilakukan dengan cara stratified random sampling Variabel babas penelitian ini adalah Tingkat Komitmen Beragama Islam yang terdiri atas komponen Kesadaran Beragama Islam, partisipasi Beragama Islam, kendali keluarga dan keyakinan nilai agama. Variabel terikat adalah keterlibatan siswa dalam penyalahgunaan narkotika dan psikotropika.
Uji statistik dilakukan dengan uji koefisien kotingensi dalam taraf signifikansi 95% (0,05) dan dipero]eh 0 (phi) hitung 0,33 > 0 tabel 0,205, yang menunjukkan Ho ditolak, berarti dapat disimpulkan bahwa Tingkat komitmen Beragama Islam penyalahguna Narkotika dan Psikotropika lebih rendah daripada bukan pengguna pada siswa SMU "X" Tangerang."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2003
T12498
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rizky Susanty
"Penelitian-penelitian terdahulu menunjukkan hasil-hasil yang bertentangan dan tidak konsisten mengenai hubungan antara performance goal orientation dan self-regulated learning. Terdapat dua tipe performance goal orientation, yaitu performance-approach goal orientation dan performance-avoidance goal orientation. Sebagian besar ahli berpendapat bahwa performance goal orientation tidak menunjang self-regulated learning. Namun, beberapa penelitian membuktikan bahwa performance goal orientation, khususnya tipe performance-approach goal orientation dapat memberikan efek yang menguntungkan bagi siswa dengan konteks atau kondisi tertentu. Penelitian ini menguji trait extraversion dan neuroticism dari Five Factor Model yang merupakan salah satu kondisi siswa sebagai moderator pada hubungan masing-masing dari kedua tipe performance goal orientation dan self-regulated learning. Partisipan yang terlibat dalam penelitian ini sebanyak 293 siswa dari tiga SMA yang menerapkan Kurikulum 2013. Hasilnya menunjukkan bahwa performance-approach goal orientation tidak memiliki korelasi yang signifikan dengan self-regulated learning. Performance-avoidance goal orientation ditemukan secara signifikan berkorelasi negatif dengan self-regulated learning. Sementara itu, trait extraversion dan neuroticism sama-sama terbukti tidak signifikan sebagai moderator.
Previous research suggested contradictive and inconsistent result about the correlation between performance goal orientation and self regulated learning. There are two types of performance goal orientation. They are performance approach goal orientation and performance avoidance goal orientation. Most of theorists suggested that performance goal orientation doesn rsquo t support self regulated learning. However, some researches found that performance goal orientation, especially performance approach goal orientation could be beneficial for students with certain context or condition. This study examines trait extraversion and neuroticism from Five Factor Model, which is one of students rsquo condition, as moderator in the correlation between each of the two types of performance goal orientation and self regulated learning. Participant involved are 293 students from three high schools that implements Kurikulum 2013. The result suggets that performance approach goal orientation has no significant correlation with self regulated learning. Performance avoidance goal orientation is found significantly has negative correlation with self regulated learning. Trait extraversion and neuroticism are not significant as moderator."
2017
T48604
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dewi Fitrianti
2001
S2785
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Nani Widjaja
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2004
S3466
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
M.K. Rono J.
"Penelitian ini berusaha melihat hubungan antara goal orientation dengan prestasi akademis pada Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Goal orientation diukur dengan menggunakan alat ukur ?goal orientation? yang dikembangkan oleh Larasati (2010). Sedangkan untuk mengukur prestasi akademis dilihat dari IPK terakhir yang diraih oleh partisipan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara goal orientation dengan prestasi akademis. Lebih lanjut lagi, ditemukan adanya hubungan positif yang lemah antara learning goal orientation terhadap prestasi akademis, namun terdapat hubungan positif yang signifikan antara performance goal orientation terhadap prestasi akademis. Selain itu ditemukan bahwa mahasiswa yang menggunakan learning dan performance goal orientation yang tinggi secara bersamaan, mencapai prestasi akademis terbaik dibandingkan dengan mahasiswa yang hanya menggunakan salah satu goal orientation maupun kedua goal orientation secara rendah. Berdasarkan jenis kelamin, tidak ditemukan adanya perbedaan yang signifikan antara goal orientation, learning goal orientation, maupun performance goal orientation antara laki-laki dan perempuan. Namun perempuan secara signifikan lebih tinggi dalam prestasi akademis dibandingkan dengan laki-laki.

This research is proposed to find the relationship of goal orientation and academic achievement in college student in Faculty of Psychology University of Indonesia. Goal orientation was measured by measurement tools constructed by Larasati (2010). And academic achievement was measured by Grade Point Average of the subject. The result from this study is there?s a positive and significant relationship between goal orientation and academic achievement. Furthermore, it was founded that learning goal orientation has a positive but weak relationship with academic achievement, whereas performance goal orientation has a positive and significant relationship with academic achievement. Beside that, it was founded that student with high on learning and performance goal orientation achieved the highest Grade Point Average than student with only using either learning or performance goal orientation alone or neither goal orientation. By sex, there is no significant differences on goal orientation, learning goal orientation nor performance goal orientation among male and female college student. But female is significantly higher on academic achievement than male college student.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2012
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Eky Susilowati
"ABSTRAK

Penelitian ini membahas tentang hubungan antara prokrastinasi akademis dengan tiga jenis goal orientation, yakni mastery orientation, performance approach orientation dan performance avoidance orientation. Prokrastinasi diukur dengan melihat frekuensi menunda serta persepsi individu mengenai seberapa besar dampak prokrastinasi. Pengujian data dilakukan dengan menggunakan analisis statistika korelasi parsial. Untuk memahami lebih dalam arah hubungan antara goal orientation dengan prokrastinasi akademis, dilakukan pengujian korelasi tambahan antara jenis goal orientation dengan alasan-alasan melakukan prokrastinasi. Penelitian terhadap 208 mahasiswa S1 Universitas Indonesia menunjukkan bahwa mastery orientation memiliki hubungan yang signifikan negatif dengan prokrastinasi akademis, sementara performance approach orientation memiliki hubungan yang signifikan positif dengan prokrastinasi. Di sisi lain performance avoidance orientation tidak memiliki hubungan yang signifikan, namun jenis goal orientation ini paling banyak banyak berhubungan positif signifikan dengan alasan melakukan prokrastinasi. Analisa tambahan menunjukkan bahwa jenis goal orientation paling dominan pada responden adalah mastery orientation. Sementara itu ditinjau dari jenis kelamin, perbedaan signifikan hanya ditemukan pada kecenderungan mengadopsi performance avoidance orientation.


ABSTRACT

This study investigated the relationship between academic procrastination and three types of goal orientation, that are mastery orientation, performance approach orientation and performance avoidance orientation. Two hundred and eight University of Indonesia’s students are participated in this study. Academic procrastination was assessed by the frequency of delays and person’s perception about problems related to the delays. To assess the relationship between those variables, partial correlation is used in this study. Since partial correlation cannot assess the correlation’s direction, additional analysis such as the correlation between goal orientation types and reasons to procrastination is necessary to be done. Mastery orientation was found to be inversely significantly correlated with academic procrastination, while performance orientation was positively correlated with the same variable. Performance avoidance orientation was not significantly correlated with academic procrastination, but this type of goal orientation was found to be correlated with most of procrastination’s reasons. Additional results show that mastery orientation is the most dominant adopted goal orientation. Meanwhile based on gender, the only significant difference in adopting goal orientation was found only in performance avoidance orientation.

"
Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2014
S56973
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Iftita Rahmi
"Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran mengenai hubungan antara Implicit Theory of Intelligence dan Goal-Orientation yang dimilki oleh siswa kelas tujuh Sekolah Menengah Pertama. Pengukuran implicit theory of intelligence menggunakan alat ukur personal conception of intelligence (Faria & Fontaine, 1997) yang telah diadaptasi oleh peneliti. Pengukuran goal-orientation menggunakan alat ukur goal-orientation yang dikembangkan Ames dan Archer (1988) dan telah diadaptasi oleh Murdaningtyas (2006) serta peneliti sendiri. Partisipan penelitian ini berjumlah 75 orang siswa sekolah menengah pertama. Hasil penelitian ini menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara incremental theory of intelligence dan mastery goal-orientation (r = 0,549 l.o.s 0,01), dan juga terdapat hubungan negatif yang signifikan antara entity theory of intelligence dan mastery goal-orientation (r = -0,264 l.o.s 0,05). Artinya, semakin tinggi incremental theory of intelligence yang dimiliki seseorang, maka semakin tinggi ia menampilkan mastery goal-orientation, dan semakin tinggi entity theory of intelligence yang dimiliki seseorang, akan semakin rendah ia menampilkan mastery goal-orientation. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, untuk dapat mengembangkan mastery goal-orientation, siswa hendaknya mengembangkan incremental theory of intelligence sejak dini terutama ketika memasuki Sekolah Menengah.

This research was conducted to find the correlation between implicit theory of intelligence and goal-orientation among grade seven students. Implicit theory of intelligence was measured using a modified instrument named personal conception of intelligence (Faria & Fontaine, 1997). Goal-orientation was measured using a modified instrument which developed from Ames and Archer (1988) by Murdaningtyas (2006) and researcher. Participants of this study is 75 junior high school students. This study indicates a significant positive relationship between the incremental theory of intelligence and mastery goal-orientation (r = 0.549 l.o.s. 0.01), and a significant negative correlation between the static conception of intelligence and mastery goal-orientation (r = -0.264 l.o.s. 0.05). That is, the higher the incremental theory of intelligence one’s own, the higher showing mastery goal-orientation, and the higher the static conception of intelligence one’s own, the lower showing mastery goal-orientation. Based on these results, in order to develop a mastery goal-orientation, students should develop a incremental theory of intelligence from an early age, especially when entering high school."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2013
S45335
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tsalitsa Haura Syarifah
"Banyaknya permasalahan perilaku pada siswa jenjang menengah memicu munculnya program pendidikan karakter di berbagai negara, termasuk Indonesia. Pembentukan karakter dapat dilakukan melalui keterlibatan siswa di dalam kelas, sehingga persepsi siswa terhadap iklim kelasnya menjadi penting untuk dilihat pada penelitian ini. Sebagai upaya menjelaskan perilaku siswa jenjang menengah yang terkait dengan pendidikan karakter, penelitian ini hadir untuk melihat hubungan antara classroom climate sebagai faktor lingkungan dan performance goal orientation sebagai faktor diri pada siswa Sekolah Menengah Atas (SMA). Classroom climate diukur menggunakan Individualized Classroom Environment Questionnaire (ICEQ) short version (Fisher & Fraser, 1985), sedangkan performance goal orientation diukur menggunakan Goal Orientation And Learning Strategies Survey (GOALS-S) (Dowson & McInerney, 1997). Teknik analisis yang digunakan adalah multiple correlation dengan R menunjukkan besaran koefisien korelasi yang didapatkan. Hasil penelitian terhadap 149 siswa kelas XI yang berasal dari jurusan Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Sosial menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara classroom climate dan performance goal orientation (R = 0,332, p<0,01). Selanjutnya ditemukan pula hubungan yang signifikan antara classroom climate dan mastery goal orientation, namun tidak terbuktikan adanya hubungan antara classroom climate dan work avoidance goal orientation, serta social goal orientations.

Many behavioral problems at secondary level students cause the character education program in many countries, including Indonesia. Character building can be done by involving students in the classroom. Therefore, students perception of classroom climate becomes essential to be analyzed in this study. As an attempt to explain secondary level students behavior which is related to character education, this study presents to investigate the correlation between classroom climate as environmental factor and performance goal orientation as person factor among senior high school students. Classroom climate variable is measured using the Individualized Classroom Environment Questionnaire (ICEQ) short version (Fisher & Fraser, 1985), while the performance goal orientation is measured using Goal Orientation And Learning Strategies Survey (GOALS-S) (Dowson & McInerney, 1997). Multiple correlation is used for the analysis technique with R shows the amount of correlation coefficient earned. The results from 149 students class of XI majoring in science and social science indicates that there is a significant correlation between classroom climate and performance goal orientation (R = 0.332, p<0.01). Furthermore, research also found a significant correlation between classroom climate and mastery goal orientation, but it does not prove the existence of the correlations between classroom climate and work avoidance goal orientation, as well as the social goal orientations."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2015
S60738
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>