Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 14708 dokumen yang sesuai dengan query
cover
cover
Napitupulu, Albertus
"Mohammad Hoesni Thamrin pada masa sekarang lebih dikenal masyarakat sebagai nama jalan protokol di Jakarta maupun nama rumah sakit. Masih sedikit orang yang mengetahui peranan semasa ia hidup sampai dinobatkan oleh Presiden Soekarno menjadi pahlawan nasional pada tahun 1960. Besarnya jasa dan peranan terhadap Indonesia, dapat dilihat pada museum Mohammad Hoesni Thamrin yang terletak di Jalan Kenari II, Senen, Jakarta. Sebagai museum sejarah yang dikelola oleh pemerintah daerah, museum ini bertujuan untuk menjadi museum yang representatif bagi sejarah kota Jakarta yang mengeksplorasi sosok Mohammad Hoesni Thamrin dan menjadi kebanggaan warga Jakarta dan Indonesia. Namun apakah hal tersebut telah tercermin pada pameran yang ada. Berdasarkan hal tersebut dilakukan penelitian terhadap museum ini dengan menggunakan metode penelitian kualitatif yang berusaha untuk mengetahui kesesuaian tujuan museum dengan penggambaran yang telah ditampilkan melalui pameran. Data penelitian berupa tata pamer serta koleksi dari museum Moehammad Hoesni Thamrin. Koleksi museum yang menjadi data adalah yang berupa teks narasi serta yang memiliki penggambaran tokoh Mohammad Hoesni Thamrin seperti patung, diorama, lukisan, dan foto yang menampilkan sosoknya. Penelitian ini menggunakan teori representasi dan identitas untuk mengungkap permasalahan yang ada. Berdasarkan analisis, didapatkan hasil bahwa museum ini lebih menunjukan gambaran sebagai tokoh pahlawan nasional dibandingkan pahlawan lokal. Hal ini tidak sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai oleh pengelola museum. Untuk itu maka perlu adanya penyesuaian dalam pameran agar representasi dan identitas sebagai pahlawan lokal dapat lebih terlihat. Konsep new museology dapat diterapkan dalam menyusun sebuah pameran yang dapat lebih menampilkan tokoh Moehammad Hoesni Thamrin sebagai pahlawan lokal Jakarta. Sehingga identitasnya sebagai pahlawan lokal dapat digambarkan pada pameran yang lebih bersifat tematis yang memiliki relevansi juga terhadap kondisi sosial masyarakat saat ini.

Mohammad Hoesni Thamrin is more popularly known as the name of Jakarta main streets and hospitals. There are only few people who are aware of his contribution to the society during his lifetime and the reason why President Soekarno named him as a national hero in 1960.  His contribution and service to Indonesia are recorded and can be learned in the museum of Mohammad Hoesni Thamrin which is located in Jalan Kenari II, Senen, Jakarta. As a historical museum run by the local government, the museum has a vision which is to be a representative museum for the history of Jakarta, which explores the figure of Mohammad Hoesni Thamrin, as well as to be the pride of Jakarta and Indonesia. Nevertheless, is this vision projected in the existing exhibition In order to answer the question, a study is conducted by using qualitative method which aims to seek a coherent relation between the museums vision and the depiction projected by the exhibition. The data used in this study comprises exhibition and the collections of Mohammad Hoesni Thamrin museum, which are narrative text and collections which depict the figure of Mohammad Hoesni Thamrin namely statues, diorama, paintings, and pictures. This study applies representation and identity theories to investigate the query. The analysis conducted to the data set shows that the museum projects Mohammad Hoesni Thamrin more as a national hero than a local hero. This projection does not meet the objective envisioned by the museum itself. Hence, an adjustment in the exhibition is essential in order to create a bolder representation and identity of Mohammad Hoesni Thamrin as a local hero. New museology concept may be applied in organizing an exhibition which depicts Mohammad Hoesni Thamrin as a Jakarta hero. Thus, his identity as a local hero can be thematically pictured in the exhibition and has relevance with the state of the society today."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2019
T52825
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Annisa Jumiati. A
"Perkembangan komik di Rusia tidak terlepas dari globalisasi yang memiliki kemampuan dalam
mengusung perpindahan arus budaya global. Hal tersebut menjadi penyebab adanya
percampuran antara budaya lokal dan budaya luar. Bubble Comics adalah salah satu penerbitan Rusia yang banyak mengeluarkan komik bertemakan pahlawan super versi Rusia dengan
mengadaptasi budaya komik dari Amerika dan Eropa. Dalam artikel ini, rumusan masalah yang
akan dibahas adalah bagaimana identitas budaya tokoh pahlawan direpresentasikan dalam
komik Бесобой. Tujuan artikel ini adalah untuk mengeksplorasi identitas budaya yang
ditampilkan dalam komik Бесобой. Artikel ini mengkaji identitas budaya dalam komik
Бесобой seri 1—50 dengan menggunakan konsep cultural identity milik Stuart Hall. Hasil dari
penelitian ini menunjukkan bahwa komik Rusia, terutama Bubble Comics, tetap mengangkat
nilai budaya Rusia di dalam ceritanya meskipun mengadopsi budaya komik Amerika dan
Eropa. Identitas budaya dari karakter komik Бесобой sebagai pahlawan Rusia digambarkan
dalam bentuk kesamaan nilai budaya yang dimiliki oleh karakter masyarakat Rusia, terutama
Moskow.

The comic’s development in Russia is inseparable from globalization which has the ability to carry the movement of global culture. This is the cause of the interfusion between local culture and foreign culture. Bubble Comics is one of the Russian publications that releases Russian versions of superhero-themed comics by adapting comic culture from America and Europe. In
this article, the formulation of the problem that will be discussed is how the cultural identity of the hero is represented in the Бесобой comics. The aim of this article is to explore the cultural identity featured in Бесобой comics. This article examines cultural identity in the Бесобой comics series 1—50 by using Stuart Hall’s concept of cultural identity. The results of this research indicate that Russian comics, especially Bubble Comics, still carry Russian cultural values in their stories even though they adopt American and European comic culture. The cultural identity of the comic character Бесобой as a Russian hero is depicted in the form of similar cultural values shared by the characters of Russian society, especially Moscow.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2023
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Umar Naufal Ula Maghribi
""Modern Military Shooter" merupakan salah satu genre paling umum bagi permainan video dan sesuai istilahnya, merupakan jenis permainan dimana pemain berperan sebagai anggota angkatan bersenjata, umumnya dengan seorang prajurit infanteri sebagai protagonis. Permainan - permainan tersebut pada umumnya mengandung sebuah narrative yang melibatkan para pemain sebagai protagonis yang melawan tentara-tentara lawan dalam jumlah yang banyak. Banyak indidvidu yang telah mengkritik bagaimana genre ini nampak menyepelekan peperangan dan menglorifikasikan kekerasan dalam sebuah konteks militer. Dalam rangka mengeksplorasi bagaimana salah satu pengembang video game mengkritik dan mengomentari genre ini dengan karya mereka sendiri, artikel ini akan meneliti Spec Ops: The Line, sebuah tanggapan dekonstruktif terhadap genre modern military shooter yang dikembangkan oleh Yager Development pada tahun 2012. Artikel ini akan secara utama menganalisis bagaimana perkembangan dari protagonis sekaligus player character permainan tersebut, yaitu Kapt. Martin Walker didalam alur naratif Spec Ops: The Line mengomentari genre modern military shooter, dan juga bagaimana tokoh ini mendekonstruksi konsep "pahlawan" dalam fiksi. Secara konklusif, penulis menympulkan bahwa naratif dari Spec Ops: The Line serta tindakan - tindakan Martin Walker sebagai protagonis mendekonstruksi beberapa konvensi - konvensi yang membentuk konsep "pahlawan" dalam fiksi, serta mengomentari bagaimana penggambaran - penggambaran peperangan sangat jarang dilakukan tanpa menglorifikasikan kekerasan dengan menganalisa bagaimana Spec Ops: The Line menggambarkan peperangan dengan pandangan yang berbeda.

Modern Military Shooter games have become one of the staple genres of video games, and as the name implies, involves the player in the role of military members, typically a soldier as the main protagonist. These games typically contain a narrative plot which involves the player as the protagonist typically shooting down a large number of enemy combatants, many have critiqued the genre’s perceived trivialization of warfare and glorification of violence in a military context. To explore how one particular video game developer criticizes and their commentary of the genre with their own work, this article will examine Spec Ops: The Line, a deconstructive take on the Modern Military Shooter genre developed in 2012 by Yager Development. The article primarily examines the game’s player character and protagonist, Capt. Martin Walker, and how his character’s progression within the game’s story provides a commentary on the Military Shooter genre, and also how this character deconstructs the concept of heroes in fiction. Ultimately, the writer concludes that the game’s story and Capt. Walker’s actions within it as the protagonist, deconstruct many of the known conventions of the “Hero” concept in fiction, and also provides commentary on how depictions of warfare are rarely done without glorifying violence by analyzing how Spec Ops: The Line conducts its depiction of warfare as for entertainment in a different light."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2023
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Emmi Destiatmi
"ABSTRAK
Setiap masyarakat mempunyai figur atau sosok yang menjadi teladan dalam kehidupan. Pahlawan merupakan figur yang diimajinasikan sebagai seorang yang mempunyai kemampuan lebih dan jasa yang luar biasa sehingga masih tetap dikenang dan dijadikan teladan bagi generasi berikutnya. Indonesia merupakan negara yang mempunyai banyak Pahlawan Nasional. Penganugerahan gelar pahlawan melibatkan beberapa pihak, salah satunya adalah Tim Peneliti Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP). Tim tersebut meneliti dan mengkaji calon pahlawan yang diusulkan melalui Kementerian Sosial. Sebagai tim independen, maka setiap anggota tim berhak menyampaikan penilaian maupun argumen pada saat sidang pembahasan calon Pahlawan Nasional. Penilaian terhadap calon pahlawan lahir dari sebuah proses negosiasi dan kekuasaan. Pahlawan Nasional menjadi simbol identitas bangsa. Pahlawan Nasional juga menjadi memori kolektif bangsa. Keberadaan Pahlawan tidak bisa lepas dari sejarah, nasionalisme, negosiasi, dan kekuasaan. Sering dikatakan bahwa negara yang menentukan pahlawan. Negara tidak seharusnya dipahami sebagai bentuk kekuasaan yang kaku sehingga bisa menentukan apa saja. Sekelompok orang yang dianggap ahli dibidangnya turut mempengaruhi keputusan gelar Pahlawan Nasional.

ABSTRACT
Every society has a figure or personage as a model in life. Hero is a figure that is imagined as someone who has more capabilities and extraordinary merit that is still remembered and used as a model for the next generation. Indonesia is a country that has many National Heroes. Comferment of the title hero involves multiple sides, one of which is the Tim Peneliti Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP). The team is researching and reviewing the proposed of the candidate of hero through the Ministry of Social. As an independent team, each member of the team can give an assessment and argument at debate of the candidates of National Hero. Assessment of the hero born from a process of negotiation and power. National Hero become a symbol of national identity. National Hero also become the nation?s collective memory. The existence of a National Hero can not be sparated from history, nationalism, negotiating, and power. State is often understood as a determinant of national hero. The state should not be understood as a form of power that rigid so that it can determine anything. A group of people who are considered experts in their fields also influence decisions of National Hero.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2013
T35547
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Gibran, Kahlil, 1883-1931
New York: Philosophical Library, 1947
892.78 GIB s
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
R. Soepomo
Djakarta: Djambatan, 1951
340.570 9 Sup s
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Nafron Hasjim
Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1993
398.215 NAF p (1)
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Ika Septiana Sari
"Arketipe adalah sebuah cetakan, gambaran, atau model ideal dari suatu fenomena dan karakter, seperti peran-peran yang mudah dikenali di dalam seni pertunjukan yakni ibu tiri yang kejam, pahlawan yang berani, dan lain-lain. Masyarakat percaya bahwa sosok ideal pahlawan mencerminkan sifat-sifat superior dalam perangkat oposisi biner. Penelitian ini membahas tentang bagaimana tokoh Ghost Rider dalam film Ghost Rider (2007) mendekonstruksi arketipe dan ideologi dualisme tersebut dengan menggunakan teori arketipe Jung dan teori strukturalisme Greimas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh Ghost Rider mendekonstruksi sekaligus mengadaptasi arketipe pahlawan.Selain itu, dualisme dari kebaikan-kejahatan dan cahaya-kegelapan juga berhasil digulingkan oleh tokoh Ghost Rider tersebut.Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi bagi penelitian selanjutnya yang membahas mengenai elemen-elemen narasi.

Archetype is an ideal print, image, or model of phenomena or characters such as easily-recognized characters in an art performance's cruel step-mother, a brave hero, etc. People believe that an ideal hero mirrors superior criterion in binary opositions. This research focuses on how Ghost Rider in a movie titled Ghost Rider (2007) deconstructs the archetypal hero image as well as the dualism by using theory of Jung's archetype and theory of Greimas' structuralism. The result of the research indicates that Ghost Rider deconstructs as well as adapts the image of an archetypal hero. Besides, the dualism of good-evil and light-darkness are also deconstructed by Ghost Rider. This result is expected to be a reference for further researches on narrative elements."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2011
S499
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Boxer
959.802 Box j
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>