Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 107537 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Muhammad Syah Abdaly
"Latar Belakang. Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab kematian utama pada populasi diabetes mellitus (DM). Proses aterosklerosis pada populasi DM sudah terjadi sebelum diagnosis DM ditegakkan, yaitu pada fase resistensi insulin. Resistensi insulin terjadi akibat pengaruh faktor genetik dan lingkungan. Secara genetik, populasi keluarga derajat pertama (first degree relative, FDR) penyandang DM tipe 2 lebih berisiko memiliki gangguan aterosklerosis akibat resistensi insulin, bila dibandingkan dengan populasi tanpa riwayat keluarga DM. Penelitian mengenai aterosklerosis subklinik pada kelompok FDR DM tipe 2 usia dewasa muda di Indonesia masih terbatas.
Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data perbedaan tebal tunika intima media karotis antara kelompok FDR DM tipe 2 dan kelompok bukan FDR DM tipe 2 usia dewasa muda.
Metode. Metode yang digunakan adalah studi potong lintang, melibatkan 16 subjek FDR dan 16 subjek non-FDR berusia 19-40 tahun, dengan toleransi glukosa normal dan tidak memiliki hipertensi. Kelompok non-FDR didapatkan dengan metode matching berdasarkan jenis kelamin dan usia. Data yang dikumpulkan berupa karakteristik subjek, pemeriksaan antropometrik (indeks massa tubuh dan lingkar pinggang), pemeriksaan darah (glukosa darah puasa, HbA1c, profil lipid) dan pemeriksaan tebal tunika intima-media arteri karotis menggunakan ultrasonografi (USG) B-mode.
Hasil. Rerata tebal tunika intima-media arteri karotis (CIMT) pada subjek FDR dan non-FDR secara berturut adalah 0,44 mm dan 0,38 mm, p=0,005. Setelah dilakukan adjust dengan lingkar pinggang, indeks massa tubuh, kolesterol LDL dan trigliserida, masih terdapat perbedaan CIMT yang signifikan antara kedua kelompok. Indeks massa tubuh dan lingkar pinggang mempunyai korelasi terhadap CIMT.
Simpulan. Tunika intima-media arteri karotis pada populasi FDR DM tipe 2 usia dewasa muda lebih tebal dibandingkan dengan populasi bukan FDR DM tipe 2."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Dyah Purnamasari
"Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan profil polimorfisme I/D gen ACE, konsentrasi ACE serum, tebal KIM Arteri Karotis serta hubungan antara ketiganya pada populasi anak kandung DM tipe 2 di Jakarta.
Metode yang digunakan adalah potong lintang, melibatkan 96 anak kandung subjek DM tipe 2 berusia 20-40 tahun. Dilakukan pengumpulan data berupa karakteristik subjek, pemeriksaan fisik, pemeriksaan darah (polimorfisme I/D gen ACE, aktivitas ACE, TTGO) dan pemeriksaan tebal KIM Arteri Karotis menggunakan ultrasonografi (USG) B-mode.
Analisis polimorfisme I/D gen ACE dilakukan pada 73 sampel. Pemeriksaan tebal KIM Arteri Karotis dilakukan pada 62 sampel. Proporsi alel D dan alel I secara berturutan adalah 28,8 % dan 71,2 %. Proporsi genotip DD, ID dan II secara berturutan adalah 9,6 %; 38,4 % dan 52 %. Konsentrasi ACE serum pada genotip DD lebih tinggi daripada genotip II (2,66±0,38 IU/L v 2,10±0,33 IU/L, p<0,01).
Konsentrasi ACE serum pada genotip ID lebih tinggi daripada genotip II (2,76±0,43 IU/L vs 2,10±0,33 IU/L, p<0,01). Tidak ada perbedaan konsentrasi ACE serum yang bermakna antara genotip DD dan ID (p=0,528). Tidak ada perbedaan tebal KIM arteri karotis yang bermakna antara ketiga genotip gen ACE (p=0,984).
Simpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah polimorfisme I/D gen ACE berhubungan dengan konsentrasi ACE serum, namun tidak dengan tebal KIM arteri karotis pada populasi anak kandung subjek DM tipe 2 di Jakarta.

The aims of this research are to determine the ACE gene I/D polymorphism profile, serum ACE level, the carotid intima media thickness and the association of them among offspring of type 2 DM in Jakarta.
Cross sectional study was conducted among 96 offspring of type 2 DM whose aged 20-40 years. Data collection consists of characteristics of subjects, physical examination, laboratory examination (ACE gene I/D polymorphism, serum ACE level and oral glucose tolerance test) and ultrasonography examination to evaluate the carotid intima media thickness.
Analysis of ACE gene I/D polymorphism was done among 73 subjects. The carotid intima media thickness examination was done among 62 subjects. Proportion of D alel and I alel were 28,8 % and 71,2 % respectively. Proportion of DD, ID and II genotypes were 9,6 %; 38,4 % and 52 % respectively. Serum ACE level among DD genotype was higher than that of II genotype (2,66±0,38 IU/L vs 2,10±0,33 IU/L, p<0,01).
Serum ACE level among ID genotype was higher than that of II genotype (2,76±0,43 IU/L vs 2,10±0,33 IU/L, p<0,01). There was no significant difference of serum ACE level between DD genotype and ID genotype (p=0,528). There was no difference of the carotid intima media thickness among the ACE gene genotypes (p=0,984).
This research concluded that there is association between ACE gene I/D polymorphism and serum ACE level but not with the carotid intima media thickness among offspring of type 2 DM in Jakarta
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2012
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Shirly Elisa Tedjasaputra
"Latar Belakang. Kalsifikasi vaskular yang ditandai dengan penebalan tunika intima-media (TIM) karotis pada pasien diabetes melitus (DM) tipe 2 merupakan faktor prediktor terhadap kejadian serebro-kardiovaskular. Osteoprotegerin (OPG) merupakan petanda disfungsi endotel yang dapat digunakan sebagai prediktor terhadap penebalan TIM karotis.
Penggunaan ultrasonografi (USG) karotis untuk menilai ketebalan TIM karotis masih terbatas di Indonesia sehingga diperlukan metode diagnostik lain yang lebih cost effective. Tujuan. Menentukan faktor-faktor determinan yang bermakna dan nilai tambah diagnostik
pemeriksaan OPG dalam mendeteksi penebalan TIM karotis pada pasien DM tipe 2. Metodologi. Studi potong lintang dilakukan di poliklinik Metabolik Endokrin dan poliklinik spesialis Ilmu Penyakit Dalam RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) pada bulan April-Juni 2012 pada pasien DM tipe 2 tanpa komplikasi serebro-kardiovaskular, tanpa komplikasi penyakit ginjal kronik (PGK) stadium III – V dan tidak merokok. Pada penelitian ini dilakukan analisis bivariat dan multivariat pada variabel lama menderita DM, hipertensi, dislipidemia, HbA1c dan OPG, kemudian ditentukan nilai tambah pemeriksaan OPG dalam mendeteksi penebalan TIM karotis pada pasien DM tipe 2. Hasil dan Pembahasan. Dari 70 subyek penelitian, didapatkan jumlah subyek dengan peningkatan OPG dan penebalan TIM karotis adalah sebesar 45,7 % dan 70 %. Dari 49 subyek dengan penebalan TIM karotis, didapatkan 61,2 % subyek dengan peningkatan OPG. Lama menderita DM (OR 26,9; IK 95 % 2 – 365,6), hipertensi (OR 22; IK 95 % 2,3 – 207,9), dislipidemia (OR 85,2; IK 95 % 3,6 – 203,6) dan OPG (OR 12,9; IK 95 % 1,4 –
117,3) berhubungan secara bermakna dengan penebalan TIM karotis. Pemeriksaan OPG mempunyai spesifisitas dan nilai duga positif tinggi (90,5 % dan 84 %). Nilai tambah diagnostik OPG hanya sebesar 2,3 % dalam mendeteksi penebalan TIM karotis. Kesimpulan. Faktor-faktor determinan yang bermakna untuk mendeteksi penebalan TIM karotis pada pasien DM tipe 2 adalah lama menderita DM, hipertensi, dislipidemia dan OPG. Nilai tambah diagnostik dari pemeriksaan OPG adalah sebesar 2,3 % dalam mendeteksi penebalan TIM karotis pada pasien DM tipe 2

Background. Vascular calcification measured by carotid intima-media thickness
(CIMT) in type 2 diabetes mellitus (DM) patient is a predictor for cerebrocardiovascular
event. Osteoprotegerin (OPG) as a marker for endothelial dysfunction
can be used as a predictor for increased CIMT. Applicability of carotid ultrasonography
(USG) in Indonesia is still limited, therefore other diagnostic method that is more cost
effective is needed.
Objective. To determine the significant determinant factors and the diagnostic added
value of OPG to detect increased CIMT in type 2 DM patient.
Methods. Cross sectional study was conducted in Metabolic Endocrine and Internal
Medicine outpatient clinic Cipto Mangunkusumo Hospital between April and June 2012
in type 2 DM patient without history of cerebro-cardiovascular event, without history of
chronic kidney disease (CKD) stage III – V and without smoking. Bivariate analysis and
multivariate analysis were performed to variables duration of DM, hypertension,
dyslipidemia, HbA1c and OPG, followed by determining the diagnostic added value of
OPG to detect increased CIMT in type 2 DM patient.
Results. From 70 subjects, there were 45,7 % subject with increased OPG and 70 %
subject with increased CIMT. From 49 subject with increased CIMT, 61,2 % subject had
increased OPG. Duration of DM (OR 26,9; IK 95 % 2 – 365,6), hypertension (OR 22;
IK 95 % 2,3 – 207,9), dyslipidemia (OR 85,2; IK 95 % 3,6 – 203,6) and OPG (OR 12,9;
IK 95 % 1,4 – 117,3) were correlated significantly to increased CIMT. OPG
measurement had high specificity and positive predictive value (90,5 % and 84 %).
Diagnostic added value of OPG was only as 2,3 % to detect increased CIMT in type 2
DM patient.
Conclusion. The significant determinant factors for detection of increased CIMT in
type 2 DM patient were duration of DM, hypertension, dyslipidemia and OPG. The
diagnostic added value of OPG was 2,3 % to detect increased CIMT in type 2 DM
patient.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2012
T42723
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
I Nyoman Wiryawan
"Latar Belakang. Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan dunia dan merupakan salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskular yang berhubungan dengan proses aterosklerosis dan aterotrombosis. Pengukuran tekanan darah di klinik atau rumah sakit saat ini masih dianggap sebagai metode referensi dalam mendiagnosis dan evaluasi pasien hipertensi, tetapi disebabkan adanya fenomena white-coat terlihat semakin jelas informasi yang diberikan seringkali tidak adekuat tentang status tekanan darah pasien yang sebenarnya. Hipertensi sendiri dikaitkan dengan kerusakan target organ dan salah satu diantaranya ke organ pembuluh darah. Pemeriksaan ketebalan tunika intima media arteri karotis dimaksudkan untuk melihat kerusakan yang terjadi akibat efek fenomena white-coat pada pembuluh darah yang mencerminkan terjadinya proses aterosklerosis dini.
Tujuan dari penelitian ini adalah menilai hubungan antara kejadian fenomena white-coat pada pasien hipertensi dalam pengobatan dengan ketebalan tunika intima media arteri karotis.
Metode. Studi potong lintang dengan pengambilan pasien hipertensi dalam pengobatan secara konsekutif, mulai bulan Januari - Mei 2014 di poli rawat jalan RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Jakarta. Pasien menjalani pemeriksaan OBP saat kontrol dan HBP dilakukan selama 4 hari berturut-turut dengan memakai alat tensimeter osilometri yang tervalidasi. Pemeriksaan ketebalan tunika intima media arteri karotis dilakukan pada semua pasien yang masuk dalam kriteria inklusi untuk mendapatkan nilai rerata ketebalan kompleks tunika intima.
Hasil. Didapatkan 219 subyek penelitian yang masuk kriteria inklusi. Uji statistik Mann Whitney digunakan untuk mengetahui hubungan pasien hipertensi yang mengalami fenomena white-coat dengan ketebalan tunika intima media arteri karotis. Hasil yang didapat, tidak terdapat perbedaan rerata yang bermakna secara statistik ketebalan tunika intima media arteri karotis antara pasien hipertensi yang mengalami fenomena white-coat dan yang tidak (A. Karotis kanan 0,7 ± 0,5 vs 0,8 ± 0,4 mm, nilai p = 0,153 ; A. Karotis kiri 0,8 ± 0,4 vs 0,7 ± 0,4 mm, nilai p = 0,900 ; A. Karotis kanan dan kiri 0,7 ± 0,4 vs 0,8 ± 0,3 mm, nilai p = 0,260). Dari hasil uji bivariat terhadap seluruh faktor perancu didapatkan variabel obat antihipertensi golongan enzym penyekat angiotensin dan usia terbukti sebagai perancu dalam penilaian hubungan antara fenomena white-coat dengan rerata ketebalan tunika intima media arteri karotis.
Kesimpulan. Penelian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan rerata yang bermakna secara statistik ketebalan tunika intima media arteri karotis antara pasien hipertensi yang mengalami fenomena white-coat dan yang tidak.

Background. Hypertension is one of the most important public health problems worldwide and a major risk factor for all forms of atherosclerotic and atherothrombotic CVD. Office blood pressure monitoring nowadays still considered as a method of reference for diagnosing an evaluating hypertensive patients, but due to white coat phenomenon, the information for the real blood pressure status is unclear. Hypertension itself was related to target organ damage and one of them is vascular damage related to atherosclerosis. Evaluation of carotid intima media thickness can represent early atherosclerotic process that happened in organ vascular caused by white-coat phenomenon.
Our objective was to analyze the relationship between white-coat phenomenon in hypertensive patients with carotid intima media thickness.
Method. This is a cross sectional, consecutive study. Data was collected from January ? May 2014 in National Cardiac Centre Harapan Kita Hospital Outpatient clinic. Office Blood pressure was measured when patients controlled to the clinic and HBP was measured for 4 consecutive days with the same validated electronic device. B-mode ultrasound of carotid arteries was performed to measured mean of carotid intima media thickness.
Results. Two hundred and nineteen hypertensive patients on therapy were enrolled in this study. Mann Whitney statistic test was used to determine the relationship of independent variables in hypertensive patients with white-coat phenomenon with carotid intima media thickness and found that there is no significant difference between hypertensive patients with white-coat phenomenon and no white-coat phenomenon with mean carotid intima media thickness (Right Carotid artery 0.7 ± 0.5 vs 0.8 ± 0.4 mm, p value = 0.153 ; Left Carotid Artery 0.8 ± 0.4 vs 0.7 ± 0.4 mm, p value 0.900 ; Right and left Carotid Artery 0.7 ± 0.4 vs 0.8 ± 0.3 mm, p value 0.260). From bivariate analysis results, obtained on all confounding variables, ACE-inhibitor and age proved as confounding in the assessment of the relationship between hypertensive patients with white-coat phenomenon and mean carotid intima media thickness.
Conclusions. This study showed that there is no significant difference of mean carotid intima media thickness in hypertensive patients with white-coat and no white-coat phenomenon.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Harbanu Hermawan Mariyono
"ABSTRAK
Latar Belakang: Aterosklerosis merupakan penyakit sistemik, bisa terjadi di seluruh pembuluh darah. Pada arteri karotis terjadi penebalan tunika intima yang dapat dideteksi menggunakan penunjang non invasif yaitu dengan ultasound. Pada tungkai dapat dilakukan pemeriksaan non invasif yaitu Ankle-Brachial Index (ABI) dan Toe-Brachial Index (TBI) untuk mengetahui adanya penyakit arteri perifer, dengan asumsi bahwa adanya penurunan ABI atau TBI menunjukkan sudah ada stenosis. Berdasarkan hal ini diduga terdapat hubungan antara ABI dan TBI dengan Carotid Intima Media Thickness (CIMT). Tujuan: Mendapatkan hubungan antara ABI dan TBI dengan CIMT. Metode: Dilakukan studi potong lintang pada 36 pasien diabetes tipe II. Dilakukan pemeriksaan ABI dan TBI bila memenuhi kriteria Penyakit Arteri Perifer, dilanjutkan dengan pemeriksaan ultrasound untuk mengetahui ketebalan tunika intima karotis. Hubungan antara ABI dan TBI dengan CIMT dihitung dengan Spearman. Hasil: Rerata ABI yang diperoleh adalah 0,97 ± 0,15, rerata TBI 0,56 ± 0,1. Nilai tengah CIMT 0,96 (0,77 - 3,60). Tidak terdapat hubungan antara ABI dengan CIMT (r=-259, p=0,127) dan terdapat hubungan negatif bermakna antara TBI dengan CIMT (r=-0,47, p=0,004). Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara ABI dengan CIMT. Terdapat hubungan negatif bermakna antara TBI dengan CIMT.

ABSTRACT
Background: Atherosclerosis is a systemic disease that can be found in all arteries. Carotid Intima Media Thickness can be measure with ultrasound. Peripheral Artery Disease can be assessed with Ankle Brachial Index (ABI) And Toe Brachial Index (TBI). Low ABI or TBI can detect stenosis on the lower extremity arteries. Objective:To determine correlation between Ankle Brachial Index And Toe Brachial Index With Carotid Intima Media Thickness Methods: A cross sectional study on type II diabetic patients. Peripheral artery were assessed with Ankle Brachial Index and Toe Brachial Index. Carotid Intima Media Thickness measured with ultrasound. Correlation between ABI and TBI with CIMT were calculated with Spearman correlation test. Results: Mean Ankle Brachial Index were 0,97 ± 0,15, mean Toe Brachial Index 0,56 ± 0,1. Median of Carotid Intima Media Thickness 0,96 (0,77 - 3,60). Correlation between ABI with CIMT (r=-259, p=0,127) and TBI with CIMT (r=-0,47, p=0,004) Conclusions:There were no correlation between Ankle Brachial Index with Carotid Intima Media Thickness. There were negative correlation between Toe Brachial Index with Carotid Intima Media Thickness."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
T55532
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Shirly Elisa Tedjasaputra
"ABSTRAK
Latar Belakang. Kalsifikasi vaskular yang ditandai dengan penebalan tunika intima-media
(TIM) karotis pada pasien diabetes melitus (DM) tipe 2 merupakan faktor prediktor terhadap
kejadian serebro-kardiovaskular. Osteoprotegerin (OPG) merupakan petanda disfungsi
endotel yang dapat digunakan sebagai prediktor terhadap penebalan TIM karotis.
Penggunaan ultrasonografi (USG) karotis untuk menilai ketebalan TIM karotis masih
terbatas di Indonesia sehingga diperlukan metode diagnostik lain yang lebih cost effective.
Tujuan. Menentukan faktor-faktor determinan yang bermakna dan nilai tambah diagnostik
pemeriksaan OPG dalam mendeteksi penebalan TIM karotis pada pasien DM tipe 2.
Metodologi. Studi potong lintang dilakukan di poliklinik Metabolik Endokrin dan poliklinik
spesialis Ilmu Penyakit Dalam RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) pada bulan April – Juni
2012 pada pasien DM tipe 2 tanpa komplikasi serebro-kardiovaskular, tanpa komplikasi
penyakit ginjal kronik (PGK) stadium III – V dan tidak merokok. Pada penelitian ini
dilakukan analisis bivariat dan multivariat pada variabel lama menderita DM, hipertensi,
dislipidemia, HbA1c dan OPG, kemudian ditentukan nilai tambah pemeriksaan OPG dalam
mendeteksi penebalan TIM karotis pada pasien DM tipe 2.
Hasil dan Pembahasan. Dari 70 subyek penelitian, didapatkan jumlah subyek dengan
peningkatan OPG dan penebalan TIM karotis adalah sebesar 45,7 % dan 70 %. Dari
49 subyek dengan penebalan TIM karotis, didapatkan 61,2 % subyek dengan peningkatan
OPG. Lama menderita DM (OR 26,9; IK 95 % 2 – 365,6), hipertensi (OR 22; IK 95 % 2,3 –
207,9), dislipidemia (OR 85,2; IK 95 % 3,6 – 203,6) dan OPG (OR 12,9; IK 95 % 1,4 –
117,3) berhubungan secara bermakna dengan penebalan TIM karotis. Pemeriksaan OPG
mempunyai spesifisitas dan nilai duga positif tinggi (90,5 % dan 84 %). Nilai tambah
diagnostik OPG hanya sebesar 2,3 % dalam mendeteksi penebalan TIM karotis.
Kesimpulan. Faktor-faktor determinan yang bermakna untuk mendeteksi penebalan TIM
karotis pada pasien DM tipe 2 adalah lama menderita DM, hipertensi, dislipidemia dan
OPG. Nilai tambah diagnostik dari pemeriksaan OPG adalah sebesar 2,3 % dalam
mendeteksi penebalan TIM karotis pada pasien DM tipe 2.

ABSTRACT
Background. Vascular calcification measured by carotid intima-media thickness
(CIMT) in type 2 diabetes mellitus (DM) patient is a predictor for cerebrocardiovascular
event. Osteoprotegerin (OPG) as a marker for endothelial dysfunction
can be used as a predictor for increased CIMT. Applicability of carotid ultrasonography
(USG) in Indonesia is still limited, therefore other diagnostic method that is more cost
effective is needed.
Objective. To determine the significant determinant factors and the diagnostic added
value of OPG to detect increased CIMT in type 2 DM patient.
Methods. Cross sectional study was conducted in Metabolic Endocrine and Internal
Medicine outpatient clinic Cipto Mangunkusumo Hospital between April and June 2012
in type 2 DM patient without history of cerebro-cardiovascular event, without history of
chronic kidney disease (CKD) stage III – V and without smoking. Bivariate analysis and
multivariate analysis were performed to variables duration of DM, hypertension,
dyslipidemia, HbA1c and OPG, followed by determining the diagnostic added value of
OPG to detect increased CIMT in type 2 DM patient.
Results. From 70 subjects, there were 45,7 % subject with increased OPG and 70 %
subject with increased CIMT. From 49 subject with increased CIMT, 61,2 % subject had
increased OPG. Duration of DM (OR 26,9; IK 95 % 2 – 365,6), hypertension (OR 22;
IK 95 % 2,3 – 207,9), dyslipidemia (OR 85,2; IK 95 % 3,6 – 203,6) and OPG (OR 12,9;
IK 95 % 1,4 – 117,3) were correlated significantly to increased CIMT. OPG
measurement had high specificity and positive predictive value (90,5 % and 84 %).
Diagnostic added value of OPG was only as 2,3 % to detect increased CIMT in type 2
DM patient.
Conclusion. The significant determinant factors for detection of increased CIMT in
type 2 DM patient were duration of DM, hypertension, dyslipidemia and OPG. The
diagnostic added value of OPG was 2,3 % to detect increased CIMT in type 2 DM
patient."
2013
T42723
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mohammad Arief Rachman Kemal A S
"[Latar Belakang. Infeksi HIV merupakan suatu proses inflamasi kronik, diawali dengan cidera endotel yang mengakibatkan penebalan kompleks intima media. Pada HIV yang disertai infeksi oportunistik intrakranial resiko terjadinya penebalan kompleks intima media akan menjadi lebih besar serta akan memberikan manifestasi gangguan pembuluh darah, khususnya pembuluh darah karotis. Oleh karena itu perlu dilakukan deteksi dini pembuluh darah karotis sebagai salah satu dasar untuk menentukan perlu tidaknya pencegahan kejadian serebrovaskular
Metode. Desain penelitian adalah potong lintang untuk mengetahui gambaran ketebalan KIM karotis pada pasien HIV dengan infeksi oportunistik intrakranial. Subjek penelitian sejumlah 65 orang didapatkan di ruang rawat inap, poliklinik UPT HIV RSCM. Dilakukan wawancara menggunakan form penelitian, dan pemeriksaan ultrasonografi karotis.
Hasil. Didapatkan kadar rerata ketebalan KIM karotis pada pasien HIV dengan infeksi oportunistik intrakranial sebesar 0.62±0.07 mm, sedangkan rerata ketebalan KIM karotis pada pasien HIVtanpa infeksi oportunistik intrakranial sebesar 0.61±0.08 mm. Tidak terdapat perbedaan rerata yang bermakna antar kedua kelompok tersebut (p=0,79).
Simpulan. Rerata ketebalan KIM karotis pada pasien HIV dengan infeksi oportunistik intrakranial dibandingkan tanpa infeksi oportunistik intrakranial tidak ditemukan perbedaan yang bermakna. Rerata ketebalan KIM karotis pasien HIV dengan infeksi oportunistik intrakranial lebih tebal dibandingkan pasien sesuai umurnya., Background. HIV infection is a chronic inflammatory process that causes endothelial injury leading to thickening of the intima media complex. As a result, HIV patients with intracranial opportunistic infections have a higher risk to manifest vascular disturbance, especially within the carotid vessels. Therefore, early detection using carotid vessel examination is fundamental to determine the need for preventive action against cerebrovascular incidents.
Methods. This was a cross-sectional study in adult HIV patients with intracranial opportunistic infection. Sixty-five patients were recruited in neurology ward, and integrated outpatient clinic of HIV at Pokdisus AIDS Cipto Mangunkusumo hospital. Data was obtained via interview and questionnaires and the complex intima media thickness (CIMT) was assessed using carotid ultrasonography.
Results. Mean CIMT in HIV patients with intracranial opportunistic infection was 0.62±0.07mm, while it was 0.61±0.08mm in HIV patients without intracranial opportunistic infection. There was no significant difference in mean CIMT in HIV patients with or without intracranial opportunistic infection (p=0.79).
Conclusion. There was no significant difference in mean CIMT in HIV patients with or without intracranial opportunistic infection. Mean CIMT in HIV patients with intracranial opportunistic infection was higher than that in age-adjusted normal population.]"
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015
SP-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Longbottom, Audrey
Sydney: Wentworth Books, 1979
828.991 LON r
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Gupita Nareswari
"[ABSTRAK
Latar belakang : Penyebab kematian nomor tiga di Indonesia adalah Penyakit Jantung Koroner (PJK). PJK dapat dievaluasi dengan menilai skor Coronary Artery Calcium (CAC) menggunakan modalitas radiologi CT cardiac. Permasalahan saat ini adalah modalitas CT cardiac tidak tersedia di semua institusi kesehatan, sehingga dibutuhkan modalitas lain yang berguna untuk skrining skor CAC menggantikan modalitas CT cardiac. Dari 4 modalitas yang dapat mendeteksi skor CAC,pemeriksaan USG Doppler arteri karotis komunis merupakan modalitas terpilih untuk melakukan skrining.
Tujuan : Menilai apakah terdapat korelasi antara skor CAC dengan nilai CIMT dan RI arteri karotis komunis menggunakan modalitas USG Doppler arteri karotis komunis.
Metode : Penelitian cross sectional ini menggunakan data primer dari pasien yang menjalani pemeriksaan CT cardiac dengan temuan skor CAC. Subjek penelitian yang masuk ke dalam kriteria penerimaan kemudian dilakukan pemeriksaan USG Doppler arteri karotis komunis bilateral dan dilakukan pengukuran terhadap nilai CIMT dan nilai RI.
Hasil : Jumlah subjek penelitian adalah 27 orang, dengan hasil terdapat korelasi positif bermakna dengan nilai korelasi sedang antara skor CAC dan nilai CIMT maksimum dengan persamaan : skor CAC = -85.51 + 199.82 x nilai CIMT maksimum. Terdapat korelasi positif bermakna dengan nilai korelasi sedang antara skor CAC dan nilai RI arteri karotis komunis dengan persamaan : skor CAC = -503.53 + 849.00 x nilai RI.
Kesimpulan : Modalitas USG Doppler arteri karotis komunis pengukuran nilai CIMT dan nilai RI dapat digunakan sebagai modalitas skrining untuk memperkirakan skor CAC pada pasien.

ABSTRACT
Background : Coronary artery disease (CAD) known as the third cause of morbidity in Indonesia. CAD can be evaluated using CAC scoring from CT cardiac. Nowadays the issue related to its availability, not all health institution has this modality. We need other modality imaging that can replace CT cardiac for screening CAC scoring. From 4 modalities imaging that can evaluated CAC scoring, common carotid artery Doppler ultrasonography is the modality of choice for screening.
Purpose : To evaluate correlation value between CAC scoring and carotid intima media thickness (CIMT) and resistive index common carotid artery using Doppler ultrasonography.
Method : Cross sectional research using primary data CAC scoring from CT cardiac. All subject that met research?s criteria will have bilateral common carotid artery Doppler ultrasonography measurement of CIMT and common carotid artery resistive index value.
Result : Total subject is 27 people. There is a positive correlation with medium correlation value between CAC scoring and maximum CIMT using this approach : CAC scoring = -85.51 + 199.82 x maximum CIMT value. There is also a positive correlation with medium correlation value between CAC scoring and common carotid artery resistive index value using this approach : CAC scoring = -503.53 + 849.00 x resistive index value.
Conclusion : Common carotid artery Doppler ultrasonography measurement of CIMT and common carotid artery resistive index value is a promising screening modality to predict patient?s CAC scoring., Background : Coronary artery disease (CAD) known as the third cause of morbidity in Indonesia. CAD can be evaluated using CAC scoring from CT cardiac. Nowadays the issue related to its availability, not all health institution has this modality. We need other modality imaging that can replace CT cardiac for screening CAC scoring. From 4 modalities imaging that can evaluated CAC scoring, common carotid artery Doppler ultrasonography is the modality of choice for screening.
Purpose : To evaluate correlation value between CAC scoring and carotid intima media thickness (CIMT) and resistive index common carotid artery using Doppler ultrasonography.
Method : Cross sectional research using primary data CAC scoring from CT cardiac. All subject that met research’s criteria will have bilateral common carotid artery Doppler ultrasonography measurement of CIMT and common carotid artery resistive index value.
Result : Total subject is 27 people. There is a positive correlation with medium correlation value between CAC scoring and maximum CIMT using this approach : CAC scoring = -85.51 + 199.82 x maximum CIMT value. There is also a positive correlation with medium correlation value between CAC scoring and common carotid artery resistive index value using this approach : CAC scoring = -503.53 + 849.00 x resistive index value.
Conclusion : Common carotid artery Doppler ultrasonography measurement of CIMT and common carotid artery resistive index value is a promising screening modality to predict patient’s CAC scoring.]"
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
SP-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Yudhisman Imran
"[Latar Belakang. Aterosklerosis merupakan salah satu penyebab stroke iskemik yang diawali dengan terjadinya disfungsi endotel akibat dari peningkatan stress oksidatif oleh reactive oxygen species (ROS). Proses ini mengakibatkan penebalan komplek intima media (KIM) pada pembuluh darah karotis. Vitamin C (antioksidan) berperan dalam proteksi terhadap stress oksidatif dengan mencegah oksidasi LDL. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar dan asupan vitamin C dengan ketebalan komplek intima-media, sehingga konsumsi makanan yang tinggi vitamin C diharapkan dapat menghambat perjalanan aterosklerosis.
Metode. Desain penelitian adalah potong lintang untuk mengetahui gambaran kadar dan asupan vitamin C dengan komplek intima media penderita stroke iskemik onset sampai dengan 2 minggu. Subjek penelitian sejumlah 40 orang didapatkan di ruang rawat inap, poli neurologi dan IGD RSCM. Dilakukan wawancara pola maka melalui metode food recall, pemeriksaan laboraturium kadar vitamin C plasma dan USG carotis doppler.
Hasil. Didapatkan kadar rerata vitamin C plasma sebesar 0,13 ± 0,11mg/dl dan rerata asupan vitamin C yang dikonsumsi pasien perhari dalam 1 minggu terakhir SMRS adalah 102 ±74mg. Rerata ketebalan komplek intima media pada subyek penelitian adalah 0,98 ± 0,23mm. Tidak terdapat hubungan antara rerata kadar Vitamin C plasma dengan ketebalan komplek intima media dan asupan vitamin C. Terdapat hubungan antara asupan vitamin C dengan ketebalan komplek intima media (p = 0,05).
Simpulan. Kadar rerata vitamin C plasma pada penderita stroke iskemik lebih rendah dari nilai normal. Rerata ketebalan komplek intima media pada pasien stroke lebih tinggi dibandingkan nilai normal. Asupan vitamin C yang tinggi memiliki kemungkinan ketebalan kompleks intima media yang tidak menjadi semakin tebal.;Background. Atherosclerosis is one of the cause of ischemic stroke that is initiated by endothelial dysfuncion caused by increased oxidative stress from reactive oxygen species (ROS). This process leads to the thickening of intima media complex within the carotid arteries. Vitamin C, an antioxidant, plays a protective role against oxidative stress by preventing LDL oxidation. This research is aimed to study the level and intake of vitamin C in relation to intima media complex thickness so that high vitamin C intake is expected to decelerate the atherosclerotic process.
Method. This research is a cross-sectional study to know the level and intake of vitamin C in relation to the thickness of intima media complex in ischemic stroke patients at the time of onset until 2 weeks after the onset. This study recruited 40 patients from the inpatient, outpatient, and emergency deparments of Cipto Mangunkusumo hospital. Daily food consumption was assessed using food recall interview method. The serum vitamin C level was measured in the laboratorium and the intima media thickness was assessed using carotid doppler sonogram.
Result. The mean serum vitamin C level was 0.13 ± 0.11mg/dL and the mean daily vitamin C intake within the last week before hospital admission was 102 ±74mg. The mean intima media thickness was 0.98 ± 0.23mm. There was no relation between the mean serum vitamin C level with the thickness of intima media complex and vitamin C intake. There was a significant relation between vitamin C intake and the intima media thickness (p = 0.05).
Conclusion. The mean serum vitamin C level in ischemic stroke patient was lower than normal level. The mean inima media complex thickness in stroke patients was higher than normal thickness. High vitamin C intake may have a preventive relation in intima media complex thickening., Background. Atherosclerosis is one of the cause of ischemic stroke that is initiated by endothelial dysfuncion caused by increased oxidative stress from reactive oxygen species (ROS). This process leads to the thickening of intima media complex within the carotid arteries. Vitamin C, an antioxidant, plays a protective role against oxidative stress by preventing LDL oxidation. This research is aimed to study the level and intake of vitamin C in relation to intima media complex thickness so that high vitamin C intake is expected to decelerate the atherosclerotic process.
Method. This research is a cross-sectional study to know the level and intake of vitamin C in relation to the thickness of intima media complex in ischemic stroke patients at the time of onset until 2 weeks after the onset. This study recruited 40 patients from the inpatient, outpatient, and emergency deparments of Cipto Mangunkusumo hospital. Daily food consumption was assessed using food recall interview method. The serum vitamin C level was measured in the laboratorium and the intima media thickness was assessed using carotid doppler sonogram.
Result. The mean serum vitamin C level was 0.13 ± 0.11mg/dL and the mean daily vitamin C intake within the last week before hospital admission was 102 ±74mg. The mean intima media thickness was 0.98 ± 0.23mm. There was no relation between the mean serum vitamin C level with the thickness of intima media complex and vitamin C intake. There was a significant relation between vitamin C intake and the intima media thickness (p = 0.05).
Conclusion. The mean serum vitamin C level in ischemic stroke patient was lower than normal level. The mean inima media complex thickness in stroke patients was higher than normal thickness. High vitamin C intake may have a preventive relation in intima media complex thickening.]"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015
T58609
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>