Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 119189 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Fritzgerald William Yesaya Wenur
"Ikan pari manta terumbu Manta alfredi merupakan salah satu jenis ikan yang bisa ditemukan di Perairan Taman Nasional Komodo TNK , Nusa Tenggara Timur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa jumlah kemunculan ikan pari manta berdasarkan nilai rerata setiap data per tahunnya. Total penyelaman yang dilakukan ialah 32 kali di bagian sentral Perairan TNK, namun pada perairan Karang Makassar hanyalah 13 kali. Suhu yang ditunjukkan saat kemunculan manta yaitu 27°C dan 28°C, dan kedalaman 8 sampai 17 meter. Rata-rata yang ditunjukkan pada penelitian ini senilai 13,46 individu per penyelaman. Data tersebut kemudian dibandingkan dengan data sekunder yaitu data pada bulan yang sama dalam dua tahun sebelumnya secara berturut-turut. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terjadi peningkatan jumlah kemunculan ikan pari manta terumbu di Perairan Karang Makassar.

Reef manta ray Manta alfredi is one of fish species that could be found in Komodo National Park, East Nusa Tenggara. This research aim is to analyse the number of manta encounter based on average value of the data each year. Total number of diving is 32 times, but in the central, which is in Karang Makassar waters, only 13 times dives conducted. The temperature when mantas appeared are 27°C and 28°C, while mantas encountered on depth range 8 to 17 meters. The average showed on this research is 13.46 individuals per dive. That data then compared with the secondary data which is the previous two years data. This research concludes that the number of manta ray encounter in Karang Makassar waters increased.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2017
S67455
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Axel Ivander
"Pariwisata pari manta (Mobula alfredi) merupakan pariwisata yang diminati banyak turis dan memiliki potensi ekonomi yang bagus. Namun demikian, aktivitas manusia di bidang pariwisata diperkirakan akan berpengaruh terhadap pari manta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak faktor manusia (jumlah kapal dan jumlah rekan penyelam) terhadap pari manta dan memprediksi kemunculan pari manta berdasarkan faktor lingkungan dan manusia. Pengambilan data dilakukan di Taman Nasional Komodo dengan cara penyelaman. Data kemudian dianalisis dengan menggunakan regresi Poisson, lalu model prediksi dibuat berdasarkan hasil analisis regresi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor manusia memiliki dampak negatif terhadap pari manta. Faktor tersebut memiliki korelasi negatif dan meningkatnya faktor tersebut menyebabkan penurunan kemunculan pari manta di Taman Nasional Komodo. Model yang dibuat dapat digunakan untuk memprediksi jumlah pari manta yang muncul di situs tersebut.

Manta (Mobula alfredi) tourism is a tourism which attracts a lot of tourist and has a good economic potential. However, human activities in tourism could affect the manta rays. This research aims to know the effect of human factors (number of boats and group size) towards the manta rays and to predict the manta rays appearance based on environment and human factors. Data sampling was done in Komodo National Park by diving. Data were analyzed using Poisson regression, then a prediction model was made based on the result of the regression. The result shows a negative impact of human factors towards the manta rays. Human factor has a negative correlation and the increment of the factor will decrease the manta rays appearance in Komodo National Park. The model produced possibly can be used to predict the amount of manta rays appearance in the site.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Riska F. Primastuti
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2000
S31195
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
M.Ikhsan
"Kerusakan ekosistem terumbu karang menunjukkan trend yang terus meningkat, diperlukan metode yang generik untuk merehabilitasinya. Salah satu teknik yang telah banyak dikembangkan di dunia saat ini adalah terumbu karang buatan (artificial reef). Penelitian dilaksanakan di kawasan terumbu karang buatan perairan Gili Lawang dan bertujuan menganalisis benthic life form sebagai biota penempel dan keanekaragaman ikan karang di terumbu karang buatan. Terumbu karang buatan berbentuk stupa (reefball) dipasang di perairan Gili Lawang pada tahun 2003. Pengumpulan data benthic life form dan data ikan menggunakan metode sensus visual. Metode anal isis struktur komunitas ikan karang terdiri dari indeks keanekaragaman jenis, indeks kemerataan dan indeks dominasi. Untuk mengetahui tingkat kesuburan perairan dilakukan analisis data plankton. HasH identifikasi benthic life form menunjukan bahwa selama kurun waktu tahun 2004 sampai 2011 telah terjadinya proses penempelan hard coral pada permukaan terumbu karang dengan persentase tutupannya rata-rata di atas 25%, terutama pada kedalaman < 10 m, 25-20% pada kedalaman 10 - 15 m. Kedalaman > 15 tutupan hard coral hanya 5%.· Peningkatan jumlah ikan karang menjadi 51 jenis dengan kelimpahan 541 individu, dibanding tahun 2004 sebanyak 18 jenis dengan kelimpahan 196 individu. Indeks keanekaragaman (H') antara 3,44 - 3,55. Indeks keseragaman (e) berkisar antara 0,92 - 0,95 menunjukkan tingkat "dominasi rendah". Kepadatan ikan karang adalah "rendah" yakni 0,64 - 0,84 indvidu/m2. lumlahfish egg yang cukup dominan yakni antara 20.510 -124.450 butir/l.000 m3 dan fish larva yang berkisar antara 570 - 4.950 ekor/1.000m3 yang menggambarkan bahwa lingkungan tersebut merupakan perairan yang subur sebagi habitat ikan.

Coral reef ecosystems damaged an increasing trend, the generic methods are needed to rehabilitate them. One technique that has been developed in the world today is an artificial reef Research conducted in the area of artificial reefs and waters of Gili Lawang. It's aims to analyze benthic life forms as pasting and diversity of coral fish in artificial reefs. Artificial reefs shaped reefball installed in the waters of Gili Lawang in 2003. Benthic life form and fish data collected using underwater visual census method. The methods of fish community structure analysis include the Dominance index, Diversity Index Shannon, Eveness Index. Water abundance based on plankton data analysis. Benthic life form data analysis that hard corals growth by percent coverage up to 25% in < 10m, 25-20% in 10 - 15 m and only 5% in > 15 m deep levels of artificial reef Number of species is increase from 18 species until 51 species on 2011 both number offish abundances also increase from 196 until 541 individual on 2011. Diversity index Shannon (H) variedfrom 3.44 to 3.55. Eveness index (e) varied 0.92 to 0.95. It's "low dominance" criteria. Coral fish density is "low" from 0.64 to 0.84 individual/m2 . The number offish egg was dominance from 20,510 until 124,450 egg/1.000 m3 and fish larva varied 570 to 4,950 individual/I. 000 m3 which described that the environment is an abundance as a fish habitat."
Depok: Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2012
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aldhan Alkautsar
"ABSTRAK
Proyek pembangunan pariwisata yang dilakukan oleh kerjasama antara pemerintah dan korporasi di Taman Nasional Komodo justru menimbulkan tindakan state-corporate crime. Pemerintah dan korporasi multinasional melakukan State-Corporate Crime dengan cara melakukan dalih-dalih tertentu antara lain melalui dalih wacana pembangunan serta penetapan sistem zonasi maka kawasan Taman Nasional Komodo justru dijadikan sebagai lahan komersial.Oleh karena itu penulisan ini bertujuan untuk memahami bagaimana proyek pembangunan pariwisata dan konservasi di Taman Nasional Komodo dapat menimbulkan kerugian pada masyarakat adat yang hidup pada kawasan taman nasional tersebut. Dengan menggunakan kajian kriminologis yaitu state-corporate crime dan pemikiran dari Michel Foucault yaitu kepengaturan dan kuasa diskursif, maka dalam tulisan ini dapat ditemukan fakta bahwa dengan lsquo;power rsquo; yang dimiliki oleh pemerintah dan korporasi, pihak tersebut membuat peraturan-peraturan yang mengatur kehidupan masyarakat adat di Taman Nasional Komodo yang mengakibatkan masyarakat adat kini hidup dalam kemiskinan, hak ulayat mereka serta akses kehidupan mereka atas tanahnya sendiri terhapuskan akibat dari pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah dan korporasi.Maka dengan hal ini dapat dikatakan bahwa terjadi tindakan state-corporate di Taman Nasional Komodo yang dilakukan oleh pemerintah dan korporasi yang menyebabkan terjadinya ekslusi sosial pada masyarakat adat Taman Nasional Komodo. Kata Kunci: state-corporate crime, kepengaturan, pencaplokan sumber daya alam, pembangunan, pariwisata, ekoturisme, ekslusi sosial, komodo.

ABSTRACT
Projects that undertaken by the cooperation between governments and corporations in the Komodo National Park caused an action of state corporate crime. Governments and multinational corporations doing State Corporate Crime by telling certain excuses, for example through the pretext of development discourse and the determination of the zoning system, now the Komodo National Park is actually used as commercial zone.Therefore, this paper aims to understand how the project of tourism development and conservation in Komodo National Park may cause harm to the indigenous peoples that lives in that national park area. By using criminological studies lsquo state corporate crime rsquo and some of Michel Foucault rsquo s theory lsquo governemntality rsquo and lsquo discuorsive power rsquo , in this article can be found the fact that the 39 power 39 which is owned by the government and corporations, they will create some regulations that will govern the lives of indigenous peoples in the National Komodo Park which resulted indigenous people now live in poverty, their land rights as well their access to resources is indelibly on their own land, this is a result of development undertaken by the government and corporations.So with that examples we can said that the state corporate action by the government and corporations in the Komodo National Park caused a social exclusion of the indigenous peoples that lives in Komodo National Park. Key words state corporate crime, governmentality, resources grabbing, development, tourism, ecotourism, social exclusion, comodo."
2016
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Tato Purnama
Depok: Universitas Indonesia, 2002
T39611
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ardiantiono
"Konflik manusia-satwa liar merupakan salah satu tantangan terbesar dalam upaya konservasi. Konflik manusia-biawak komodo telah dilaporkan, tetapi belum terdapat data ilmiah yang komprehensif mengenai konflik yang terjadi. Penelitian dilakukan di Desa Komodo, Taman Nasional Komodo, pada bulan Maret 2014 untuk melihat distribusi konflik manusia-biawak komodo di berbagai tipe habitat (hutan, kebun, desa, dan savana). Sebanyak 150 responden telah diwawancarai dan lokasi konflik manusia-biawak komodo yang telah dilaporkan dicatat titik koordinatnya. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 405 serangan terhadap hewan ternak, 6 serangan terhadap manusia, dan 154 kejadian pengusiran terhadap biawak komodo berdasarkan pengalaman responden. Konflik manusia biawak komodo terjadi di empat tipe habitat dengan jumlah konflik terbesar terjadi di tipe habitat desa dan savana. Konflik terdistribusi di sepanjang perbatasan tipe habitat desa dan savana. Pola distribusi didukung oleh nilai rerata jarak antara lokasi konflik dan perbatasan habitat (serangan terhadap hewan ternak dan pengusiran) di desa dan savanna yang lebih kecil dibandingkan di hutan dan kebun (Uji Kruskal-Wallis, p-value < 2,2 x 10-16, α = 0,05). Terdapat korelasi positif di antara jumlah keberadaan biawak komodo dengan jumlah kejadian pengusiran biawak komodo (Uji korelasi Pearson, p-value < 2,2 x 10-16, α = 0,05). Empat area pusat konflik telah berhasil diidentifikasi melalui penggabungan peta distribusi konflik. Berdasarkan hasil penelitian, direkomendasikan tindakan pencegahan dan penanggulangan konflik untuk mengurangi konflik manusia-biawak komodo ke depannya.

Human-wildlife conflict has become one of the biggest challenges in conservation. Human-komodo dragon conflict has been reported, but no scientific publication has yet available. A research on the distribution and spatial pattern of humankomodo dragon conflict were conducted in Komodo village of Komodo National Park, Southeastern of Indonesia. Interview to 150 respondents were conducted and the coordinate of human-komodo dragon conflict locations were recorded. Based on the interview, 150 respondents reported that 405 livestock predations, 6 komodo attacks on human, and 154 Komodo expulsions by human occurred in the village. Human-komodo dragon conflicts were distributed across four habitat types,where most of the conflicts occured along the boundary between village and savannah. The mean distance between conflicts (livestock predation and komodo dragon expulsion) and habitat boundary were significantly lower in village and savannah compared to forest and plantation (Kruskal-Wallis rank sum test, pcalue < p-value < 2,2 x 10-16, α = 0,05). There was a significant correlation between the intensity of komodo dragon occurence and komodo dragon expulsion conflict (Pearson correlation test, p-value < 2,2 x 10-16, α = 0,05). Four conflict hotpots were identified by overlapping conflict distribution maps. The study recommended conflict mitigation and management program to reduce humankomodo dragon conflicts in the future.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2014
S55803
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nada Huaida
"Penelitian yang bertujuan untuk menguji aktivitas antifeedant ekstrak kasar Dolabella auricularia telah dilakukan pada tanggal 4-10 Mei di Perairan Pulau Pramuka, Taman Nasional Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Sampel Dolabella auricularia diekstrak dengan metanol, menghasilkan persentase ekstrak kasar sebesar 4,8 dan memiliki konsentrasi fisiologis dari Dolabella auricularia yaitu 40mg/mL. Uji antifeedant dilakukan dengan menggunakan pakan uji yang mengandung ekstrak kasar Dolabella auricularia yang dicampur jeli dan pelet, untuk pakan kontrol positif mengandung jeli dan pelet sedangkan pakan kontrol negatif hanya mengandung jeli. Pengujian dilakukan di rataan terumbu karang dekat Dermaga Utama Pulau Pramuka dan dekat Dermaga Odi Pulau Pramuka pada kedalaman 3-5 m. Hasil uji statistik Chi-kuadrat pada taraf signifikasi 0,01 menunjukkan bahwa pemberian ekstrak kasar Dolabella auricularia berhubungan dengan perilaku makan ikan karang Berdasarkan hal tersebut maka ekstrak kasar Dolabella auricularia positif memiliki aktivitas antifeedant terhadap ikan karang.

A study that aimed to test antifeedant activity from Dolabella auricularias crude extract was conducted on May 4th 10th Mei 2018 in Pramuka Island Waters, Kepulauan Seribu National Park, DKI Jakarta. Samples of Dolabella auricularia was extracted with methanol to yield the 4,8 of crude extract which is equal to 40mg mL of physiological concentration. The antifeedant assay was conducted by using artificial foods that contained the Dolabella auricularias crude extract mixed with jellies and pellets for feeding test, positive control foods contained both of jellies and pellets, and negative control foods contained jellies only. The experiments was conducted on the coral reefs near Pramuka Islands Main Pier and Ody Pier at 3,5 m depth. Chi square analysis 0,01, result showed that there are effects to the feeding preferences of the treatments on reef fishes. This means that the crude extract from Dolabella auricularia has an antifeedant activity against reef fishes."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Firli Rahman Hakim Fauzi
"Synaptula reticulata merupakan timun laut berdinding tubuh tipis dan memiliki warna kontras. Uji antifeedant ekstrak kasar Synaptula reticulata telah dilakukan pada tanggal 6-14 November di kedalaman 3-5 m Perairan Pulau Pramuka, Taman Nasional Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Sampel Synaptula reticulata berjumlah 171 individu dan dilarutkan dengan metanol. Persentase ekstrak kasar Synaptula reticulata yang didapat sebesar 8% dan memiliki konsentrasi fisiologis 40 mg/mL. Uji antifeedant dilakukan dengan membandingkan respon makan ikan karang terhadap pakan uji dan pakan kontrol. Pakan uji adalah ekstrak kasar Synaptula reticulata yang dicampur jelly dan pelet komersil.
Pakan kontrol adalah campuran jelly dan pelet komersil tanpa dicampurkan ekstrak kasar Synaptula reticulata. Jumlah pakan uji yang dimakan sebanyak 3%, sedangkan jumlah pakan kontrol yang dimakan sebanyak 63%. Hasil uji statistik Chi-kuadrat pada tingkat kepercayaan 99% menunjukkan bahwa pemberian ekstrak kasar Synaptula reticulata berhubungan dengan respon makan ikan karang. Keeratan hubungan tersebut kuat, berdasarkan uji korelasi cremer (C = 0,63) terutama terhadap ikan karang family Pomacentridae dan Laberidae.

Synaptula reticulata is sea cucumber that has thin body wall with contrasting color. Antifeedant activity assay from crude extract of Synaptula reticulata was conducted on 6th--10th November 2018 in 3--5 m of depth Pramuka Island water, Kepulauan Seribu National Park, DKI Jakarta. 171 individual Synaptula reticulata were collected and extracted using methanol. Crude extract percentage of Synaptula reticulata was 8% with a physiologycal concentration of 40 mg/mL. Antifeedant assay was done by comparing between coral reef fish feeding response to artificial test food and control food. Test food ware constitute of crude extract of Synaptula reticulata, jelly and pellet.
Control food contained jelly and pellet only. The amount of test food eaten as much as 3%, while the amount of control food eaten as much as 63%. Chi-Square analysis with confidence level of 0,01 showed that crude extract of Synaptula reticulata was correlated with feeding response of reef fishes. Cramer correlation test showed that crude extract Synaptula reticulata strongly related with feeding response of the treatments on reef fishes, with correlation value of 0,6.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Firli Rahman Hakim Fauzi
"Synaptula reticulata merupakan teripang dengan dinding tubuh yang tipis dan memiliki warna yang kontras. Uji antifeedant ekstrak kasar Synaptula reticulata dilakukan pada tanggal 6-14 November pada kedalaman 3-5 m di perairan Pulau Pramuka, Taman Nasional Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Sampel Synaptula reticulata berjumlah 171 individu dan dilarutkan dalam metanol. Persentase ekstrak kasar Synaptula reticulata yang diperoleh sebesar 8% dan memiliki konsentrasi fisiologis 40 mg/mL. Uji antifeedant dilakukan dengan membandingkan respon ikan karang terhadap pakan uji dan pakan kontrol. Pakan uji adalah ekstrak kasar Synaptula reticulata yang dicampur dengan jelly dan pellet komersial. Pakan kontrol adalah campuran jelly dan pellet komersial tanpa campuran ekstrak kasar Synaptula reticulata. Jumlah pakan uji yang dimakan adalah 3%, sedangkan jumlah pakan kontrol yang dimakan adalah 63%. Hasil uji statistik Chi-kuadrat pada tingkat kepercayaan 99% menunjukkan bahwa pemberian ekstrak kasar Synaptula reticulata berhubungan dengan respon makan ikan karang. Hubungan tersebut kuat, berdasarkan uji korelasi Cremer (C = 0,63), terutama untuk ikan karang dari famili Pomacentridae dan Laberidae.

Synaptula reticulata is a sea cucumber with a thin body wall and has a contrasting color. Antifeedant test of Synaptula reticulata crude extract was carried out on November 6-14 at a depth of 3-5 m in the waters of Pramuka Island, Seribu Islands National Park, DKI Jakarta. Samples of Synaptula reticulata totaled 171 individuals and dissolved in methanol. The percentage of Synaptula reticulata crude extract obtained was 8% and had a physiological concentration of 40 mg/mL. Antifeedant test was carried out by comparing the response of reef fish to the test feed and control feed. The test feed was a crude extract of Synaptula reticulata mixed with commercial jelly and pellets. The control feed was a mixture of commercial jelly and pellets without a mixture of Synaptula reticulata crude extract. The amount of test feed eaten was 3%, while the amount of control feed eaten was 63%. The results of the Chi-squared statistical test at the 99% confidence level showed that the administration of Synaptula reticulata crude extract was associated with the feeding response of reef fish. The relationship was strong, based on the Cremer correlation test (C = 0.63), especially for reef fish from the Pomacentridae and Laberidae families."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>