Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 198765 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Yudo Irawan
"ABSTRAK
Latar belakang: Frambusia atau yaws merupakan penyakit akibat infeksi Treponema pallidum subspecies pertenue yang menahun dan terutama mengenai kulit serta tulang. Penegakkan diagnosis berdasarkan klinis dan serologis. Program temuan kasus frambusia didasarkan atas temuan klinis menurut World Health Organization WHO , kemungkinan terdapat frambusia tanpa lesi klinis yang tidak terdiagnosis masih belum dapat disingkirkan. Belum ada penelitian proporsi di suatu desa yang dinyatakan endemis. Tujuan: Mengetahui proporsi kasus frambusia berdasarkan kriteria klinis WHO dan pemeriksaan serologis di desa Sei Berombang pada anak usia 1-12 tahun periode 22-27 Agustus 2016. Metode: Studi potong lintang ini dilakukan pada tanggal 22-27 Agustus 2016 di desa Sei Berombang, Sumatera Utara. Pemilihan sampel dilakukan secara consecutive sampling. Subjek kemudian dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisis, dan pemeriksaan rapid diagnostic test RDT . Hasil : Didapatkan total 129 subjek dengan median usia 9 tahun termuda 1 tahun dan tertua 12 tahun . Sebanyak 14 anak dengan lesi klinis suspek frambusia, sedangkan 4 anak dengan RDT yang positif. Hanya 3 anak dari RDT yang positif memiliki temuan klinis. Lesi klinis suspek frambusia yang paling banyak ditemukan adalah makula hipopigmentasi dan skar atrofik, sedangkan lokasi tersering adalah tungkai bawah. Simpulan: Ditemukan proporsi suspek frambusia berdasarkan klinis adalah 10,85 , sedangkan proporsi frambusia konfirmasi berdasarkan klinis dan serologis adalah 2,33 . Dua subjek didiagnosis frambusia laten, sedangkan satu subjek didiagnosis sebagai frambusia primer. Kata kunci: frambusia, proporsi, anak

ABSTRACT
Background Yaws is a chronic infectious disease caused by Treponema pallidum subspecies pertenue, mainly affecting skin and bone. Diagnosis of yaws is based on clinical manifestation and serologic test. According to WHO, yaws detection program is focused on clinical manifestation. Thus, it is possible that latent yaws without any clinical manifestation is still under diagnosed. Until recently, there is no proportion study performed in remote endemic village.Objective To determine the proportion of yaws based on WHO clinical criteria and serologic test in children age 1 12 years old in Sei Berombang village.Methods This cross sectional study was conducted on 22nd 27th August 2016 in Sei Berombang village, North Sumatra. We recruited the subjects consecutively and performed anamnesis, clinical examination, and rapid diagnostic test RDT .Results A total of 129 subjects were examined with median age of 9 years old 1 12 years old . Yaws was suspected in 14 subjects, but only 4 subjects were reactive to RDT. Three subjects had clinical manifestation and RDT reactive. Hypopigmentation patch and atrophic scar were the most common clinical findings in this study. Most lesions were found in lower extremities. Conclusion Proportion of suspected yaws based on clinical manifestation is 10,85 in this study. Proportion of confirmed yaws based on clinical manifestation and serology is 2,33 . Two subjects diagnosed with latent yaws and one subject was diagnosed with primary yaws. "
2017
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Rani Rachmawati
"[Latar belakang. Frambusia banyak ditemukan di negara tropis dan 75% kasus baru terdeteksi pada anak kurang dari 15 tahun. Diagnosis klinis sulit karena dapat menyerupai lesi penyakit lain. Namun pada praktiknya, diagnosis lebih sering ditegakkan berdasarkan temuan klinis dan epidemiologis, karena pemeriksaan serologis dianggap tidak praktis. Tujuan. Mengetahui kesesuaian gambaran klinis frambusia menurut pedoman WHO dengan kepositivan TPHA pada anak usia 1-12 tahun. Metode. Uji deskriptif. Subyek penelitian dilakukan pemeriksaan klinis sesuai lesi frambusia menurut WHO, lalu dikategorikan sebagai terduga frambusia dan bukan frambusia. Seluruh subyek dikonfirmasi dengan pemeriksaan TPHA. Dihitung besar kesesuaian keseluruhan, kesesuaian positif, dan negatif antara dugaan klinis dan TPHA. Hasil. Total subyek penelitian adalah 493 anak. Sebanyak 32 subyek terduga klinis frambusia dan 22 subyek dengan hasil TPHA positif. Proporsi kesesuaian keseluruhan antara gambaran klinis WHO dan TPHA adalah 90,67%, dengan proporsi kesesuaian positif 18,18%, dan proporsi kesesuaian negatif 94,06%. Kesimpulan. Nilai kesesuaian keseluruhan yang tinggi disebabkan karena kepositivan TPHA sangat kecil dibandingkan total subyek. Kepositivan gambaran klinis frambusia menurut WHO hanya memiliki kesesuaian sebesar 18,18% dengan pemeriksaan TPHA, sehingga tidak cukup sebagai sarana penapisan penyakit. Tidak ditemukannya gambaran klinis menurut WHO memiliki kesesuaian sebesar 94,06% dengan TPHA yang negatif., Background. Yaws is most prevalent in tropical countries and 75% of new cases are in children younger than 15 years. Clinical diagnosis can be confused with other skin diseases. However, physician often diagnose the disease based on clinical and epidemiological finding, because serological examination is impractical. Aim. To identify the conformity of yaws’ clinical manifestation based on WHO classification and TPHA in children age 1-12 years. Method. Descriptive study. All subjects were examined based on WHO classification, and then categorized as suspected or nonsuspected cases. TPHA were done to all subjects. Data collected were calculated to identify the proportion of overall agreement, positive percent agreement and negative percent agreement between clinical diagnosis and TPHA. Result. 493 subjects included in this study. There were 32 subjects with suspected yaws and 22 with reactive TPHA. The proportion of overall agreement between suspected case and TPHA were 90,67%, with positive percent agreement of 18,18%, and negative percent agreement of 94,06%. Conclusion. The high value of overall agreement can be due to rare case compared to total subjects. The positiveness of yaws’ clinical manifestation based on WHO classification only had the conformity of 18,18% with TPHA result, which means that clinical diagnosis alone is nonreliable as screening tool. The negativeness of the clinical manifestation had the conformity of 94.06% with TPHA result.]"
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
SP-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Aruan, Rompu Roger
"Latar Belakang : Frambusia adalah infeksi yang disebabkan oleh spirochetes, yaitu Treponema pallidum subspesies pertenue. Penyakit ini merupakan jenis infeksi non venereal kronis dan menular terutama pada anak-anak dengan usia di bawah 15 tahun. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat sebanyak 7.400 kasus frambusia baru dalam periode Oktober 2008 - Oktober 2009 di propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Diagnosis frambusia sangat memerlukan pemeriksaan serologis sehingga diperlukan metode pemeriksaan yang sederhana, cepat, dan akurat. Rapid Plasma Reagin (RPR) merupakan pemeriksaan penunjang serologis akurat, ekonomis, cepat, dan dapat diulang dengan hasil yang sama.
Tujuan : Mengetahui sensitivitas, spesifisitas, nilai prediksi positif (NPP), dan prediksi negatif (NPN) RPR sebagai penunjang serologis untuk diagnosis frambusia dibandingkan dengan TPHA sebgai baku emas diagnostik frambusia pada anak usia 1-5 tahun.
Subyek dan metode : Penelitian ini merupakan uji diagnostik. Subyek penelitian (SP) adalah sebagian dari anak berusia 1 - 5 tahun di kecamatan Kodi dan Kodi Utara, kabupaten Sumba Barat Daya, NTT. Sejumlah 168 SP telah dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisis, dan pengambilan spesimen darah. Serum didapatkan melalui proses sentrifugasi pada setiap spesimen yang kemudian disimpan dalam keadaan beku. Pemeriksaan RPR dilakukan di laboratorium poliklinik Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin. Pemeriksaan TPHA dilakukan di Departemen Patologi Klinik RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta.
Hasil : Nilai sentivitas RPR sebesar 77,8%, nilai spesifitas sebesar 94,7%, NPP sebesar 63,6%, NPN sebesar 97,3%, dan nilai akurasi 92,9%. Lokasi lesi yang paling sering didapatkan adalah di tungkai bawah 85,71%. Jenis lesi kulit yang paling sering didapatkan adalah ulkus 42,85%.
Kesimpulan : Dengan hasil-hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pemeriksaan RPR pada anak usia 1 - 5 tahun sebagai pemeriksaan penunjang serologis dalam menegakkan diagnosis frambusia. Jenis dan lokasi lesi tersering yang ditemukan adalah ulkus dan tungkai bawah.

Background : Yaws is an infection caused by spirochetes, which is Treponema pallidum subspecies pertenue. Yaws is an infectious and chronic non-venereal disease, affecting mostly children between one and five years old. The Indonesian Ministry of Health reported 7,400 new cases of yaws in Nusa Tenggara Province (NTT) between October 2008 and October 2009. Diagnostic of yaws requires serological diagnostic tools. Hence, a simple, accurate and fast was needed. Rapid Plasma Reagin (RPR) was used as a serological diagnostic tool because RPR is considered to be an accurate, fast, cheap, and reliable tool.
Objective : to measure sensitivity, specificity, Positive Prediction Value (PPV), and Negative Prediction Value (NPV) of RPR as a serological diagnostic tool for yaws in children between one and five years old.
Subjects and method : randomized, diagnostic study was conducted among children between one and five years old in Kodi and Kodi Utara sub-districts of Sumba Barat Daya district , NTT province. Anamnesis, physical examination, and blood samples were collected from 168 subjects. Serum was obtained via the centrifugation of each blood sample, after which it was stored in below zero temperature. RPR test was conducted in an outpatient laboratory at the Department of Dermato-venereology while TPHA test was done at the Department of Clinical Pathology at dr. Cipto Mangunkusumo general hospital.
Result : RPR sensitivity result is 77,8%, specificity result is 94,7%, PPV is 63,6%, NPV is 97,3%, accuracy is 92,9%. Lower extremities are the most affected site in 85,71% subjects. Ulcers (42,85%) are the most common skin lesion recorded in this study.
Conclusion : Based from this results, RPR test is a useful serological diagnostic tool for yaws in children between one and five years old. Lower extremities are the most affected site with ulcers as the most common skin lesion recorded.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Yusnita
"Anak usia sekolah merupakan pemirsa televisi yang paling rawan, karena mudah dipengaruhi iklan. Televisi saat ini didominasi oleh iklan makanan dan minuman yang tinggi lemak, gula dan garam. Survei pendahuluan menunjukkan bahwa anak menonton televisi lebih dari 2 jam per hari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh iklan makanan dan minuman di televisi terhadap preferensi makanan dan minuman anak usia sekolah di SDN 115466 Kabupaten Labuhanbatu Utara Provinsi Sumatera Utara Tahun 2016. Penelitian dilaksanakan pada bulan April- Juni 2016. Penelitian menggunakan disain kuasi eksperimen (one group pretestposttest design), dengan total sampel 68 siswa kelas IV dan V. Analisis yang digunakan adalah Uji T Dependen. Intervensi dilakukan dengan melihat rekaman 10 iklan makanan dan minuman yang ada di televisi dengan durasi 5 menit dan tanpa pengulangan. Pre test preferensi makanan dan minuman dilakukan sebelum intervensi, post test1 dilakukan sesaat setelah intervensi, post tes2 dilakukan 1 minggu setelah post test1, dan post test3 dilakukan 1 minggu setelah post test2.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada pengaruh iklan makanan dan minuman di televisi terhadap preferensi makanan dan minuman anak sebelum dan sesudah intervensi. Preferensi Pre Test - Post Test1 (p=0,0005), Pre Test - Post Test2 (p=0,0005), Pre Test - Post Test3 (p=0,0005). Tidak terdapat perbedaan preferensi makanan dan minuman Post Test1 - Post Test2 (p=0,541), Post Test2 - Post Test3 (p=0,436), hal ini menunjukkan bahwa preferensi dapat bertahan lebih dari 2 minggu setelah melihat iklan. Perlu dilakukan pembatasan paparan iklan terhadap anak, dengan membatasi waktu menonton televisi, dan pendampingan oleh orang tua.

The school age children is viewers television that most prone to be affected by ads. Television program is dominated by ads of foods and beverages with high fat, sugar dan salt. Priliminary survei found that duration of the school age children watching television is more than 2 hours a day. The purpose of this research is to know the influence of foods and beverages ads on television to the school age children foods and beverages preferences, May-June 2016. The design of research is quasi experiment (one group pretest-posttest design) with 68th student on IV and V degree as the sample. The analysis used the T dependent test. The intervention is by looking at the footage 10 food and beverage advertising on television with 5 minutes duration and without repetition. Pre test food and beverage preferences conducted before the intervention, post test1 conducted shortly after the intervention, post tes2 held 1 week after post test1 and test3 held 1 week post after post test2.
The results of the research show that there is the influence of foods and baverages ads in television on childrens preferences before and after intervension exposure to foods and baveragess ads. There are difference preferences in foods and baverages Pre Test - Post Test1 (p=0,0005), Pre Test-Post Test2 (p=0,0005), Pre Test -Post Test3 (p=0,0005). There aren?t difference preferences in foods and baverages in Post Test1-Post Test2 (p=0,541), Post Test2-Post Test3 (p=0,436), it show that the preferences can stay more than 2 weeks after intervention. The restriction of exposure the ads of children is needed with limiting time of watching television and parents instruction."
Depok: Universitas Indonesia, 2016
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Cicilia Wijawati
"Early Childhood Caries (ECC) adalah penyakit multifaktorial yang terdiri dari faktor etiologi, faktor demografi (usia, sosial ekonomi, tingkat pendidikan ibu) dan faktor perilaku (konsumsi makanan kariogenik, kebiasaan menyikat gigi, indeks plak, keluhan sakit gigi, dan kontrol ke dokter gigi). Penelitian ini mengguakan desain Cross Sectional dengan Uji Chi-Square. Hasil uji tersebut menunjukkan adanya perbedaan bermakna antara usia, sosial ekonomi, tingkat pendidikan ibu, konsumsi makanan kariogenik, indeks plak, keluhan sakit gigi, dan kontrol ke dokter gigi terhadap ECC dengan (p<0,05). Akan tetapi, dalam penelitian ini hanya kebiasaan menyikat gigi yang tidak berhubungan bermakna dengan ECC (p>0,05).

Early Childhood Caries (ECC) is a multifactorial disease which factors are etiology factors, demographic factors (age, socioeconomic , mothers‟ level of education), and behavior factors (cariogenic diet, tooth brushing habit, plaque index, toothache complaints and dental visit). Cross sectional study with statiscal analysis using Chi- square showed that ages, socio-economic, mother‟s level of education, cariogenic diet, plaque index, dental visit, and toothache complaints have correlation with ECC (p<0,05). However, there are no correlation between tooth brushing habit with ECC (p>0,05)."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2015
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Qonitah Azzahra
"ABSTRAK
Hipertensi pada remaja semakin meningkat dan menyebabkan peningkatan berbagai penyakit degeneratif lainnya ketika dewasa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor dominan yang paling berhubungan terhadap kejadian prehipertensi dan hipertensi pada remaja usia 15-18 tahun di SMA Negeri 3 Kisaran Kabupaten Asahan Sumatera Utara tahun 2016. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross-sectional yang dilakukan pada 145 responden kelas X dan XI. Variabel dependen yang diteliti adalah hipertensi dan prehipertensi sedangkan variabel independen yang diteliti adalah jenis kelamin, riwayat hipertensi keluarga, status gizi, asupan energi, asupan lemak, asupan natrium, asupan serat, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, keadaan stres dan durasi tidur.
br>
Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi prehipertensi 42,1% dan hipertensi 12,4%. Berdasarkan hasil analisis bivariat terdapat perbedaan bermaknan antara prehipertensi dan hipertensi berdasarkan jenis kelamin (p value = 0,005), riwayat hipertensi keluarga (p value = 0,040), status gizi (p value = 0,012), asupan lemak (p value = 0,036), asupan natrium (p value = 0,031), asupan serat (p value = 0,010), aktivitas fisik (p value = 0,044), keadaan stres (p value = 0,043), dan durasi tidur (p value = 0,023). Sedangkan bedasarkan analisis multivariat, faktor dominan kejadian prehipertensi dan hipertensi adalah aktivitas fisik. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk meneliti hubungan kasualitas pada faktor-faktor tersebut dan untuk mencari apakah ada faktor dominan lain yang berhubungan dengan kejadian prehipertensi dan hipertensi pada remaja. Peneliti menyarankan agar siswa rutin melakukan pengukuran tekanan darah setidaknya sebulan sekali, aktif berolahraga paling sedikit tiga kali seminggu, memantau berat badan minimal sebulan sekali untuk memantau status gizi baik, dan menjaga asupan zat gizi dengan mengonsumsi makanan sesuai dengan pedoman gizi seimbang.

ABSTRACT
Hypertension in adolescents has increased and led to an increase in various other degenerative diseases when adults. The purpose of this study was to determine the most dominant factor that related to the incidence of prehypertension and hypertension in adolescents aged 15-18 years old at SMA Negeri 3 Kisaran Asahan District North Sumatra in 2016. The study used cross-sectional design which was conducted on 145 respondents of 10th and 11th grader. The dependent variables in this study is hypertension and prehypertension, while independent variables were gender, family history of hypertension, nutritional status, energy intake, fat intake, sodium intake, fiber intake, physical activity, smoking, stress and sleep duration.
The results showed that the prevalence of prehypertension and hypertension were 42,1% and 12,4% respectively. Based on the bivariate analysis, there were significant differences between prehypertension and hyepertension based on sex (p value = 0,005), family history of hypertension (p value = 0,040), nutritional status (p value = 0,012), fat intake (p value = 0,036), sodium intake (p value = 0,031), fiber intake (p value = 0,010), physical activity (p value = 0,044), stress (p value = 0,043), and sleep duration (p value = 0,023). While based on the multiariate analysis, the dominant factor of prehypertension and hypertension was physical activity.
Further research is needed to examine the relationship of causality on these factors and to explore whether there other dominant factor of prehypertension and hypertension among adolescents. The author suggests that the students should routinely check the blood pressure measurements at least once a month, exercise at least three times a week, monitoring the body weight at least once a month to maintain good nutrional status, and keep the intake of nutritionts by eating foods according to balanced nutriotional guidelines.
"
2016
S63406
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nindy Della Prasetya
"Praktek kerja profesi di Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita periode 18 Juli- 27 Agustus 2016 bertujuan untuk memahami peran, tugas, dan tanggung jawab Apoteker di Rumah Sakit sesuai dengan perundangan dan etika pelayanan farmasi pada khususnya dan pelayanan kesehatan pada umumnya. Memiliki wawasan, pengetahuan, dan pengalaman praktis untuk melakukan praktek pelayanan kefarmasian. Memahami gambaran nyata permasalahan praktek kefarmasian dan penyelesaian dalam pengembangan pratek kefarmasian di rumah sakit. Tugas khusus pada praktek kerja profesi ini adalah evaluasi penggunaan cefotaxime generik dengan cefotaxime bermerek dagang berdasarkan lama dan biaya perawatan.

The aims of internship at Anak dan Bunda Harapan Kita Hospital period July, 18th August, 27th 2016 are to understand the roles, duties, and responsibilities clinical pharmacist in hospital according to regulations and ethics in particular pharmaceutical care and health care in general. Having insight, knowledge, skill, and practical experience for doing pharmaceutical care in hospital. Having an example about pharmaceutical care problem and learning strategies that can implemented in pharmaceutical care development. The special assignment in this internship is evaluation of the use of generic cefotaxime compare with branded cefotaxime by the length of stay and cost."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2017
PR-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Putri Komala Sari
"Praktek kerja profesi di Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita Periode 18 Juli ndash; 27 Agustus tahun 2016 bertujuan untuk memahami peran, tugas, dan tanggung jawab Apoteker di Rumah Sakit sesuai dengan perundangan dan etika pelayanan farmasi pada khususnya dan pelayanan kesehatan pada umumnya. Memiliki wawasan, pengetahuan, dan pengalaman praktis untuk melakukan praktek pelayanan kefarmasian. Memahami gambaran nyata permasalahan praktek kefarmasian dan penyelesaian dalam pengembangan pratek kefarmasian di rumah sakit. Praktek kerja profesi ini juga ditunjang dengan tugas khusus yaitu Analisis Kajian Resep BPJS Rawat Jalan RSAB Harapan Kita dan Kesesuaian Obat dengan Formularium Nasional Periode 25 ndash; 29 Juli 2016. Tujuan dari tugas khusus ini adalah untuk menganalisis kelengkapan resep yang ditulis oleh dokter di RSAB Harapan Kita dan membandingkan kesesuaian obat yang dituliskan dalam resep, jumlah yang diberikan, dan batasan penggunaan berdasarkan Formularium Nasional.

The aims of internship at Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita period 18 July ndash 27 August 2016 are to understand the roles, duties, and responsibilities clinical pharmacist in hospital according to regulations and ethics in particular pharmaceutical care and health care in general. Having insight, knowledge, skill, and practical experience for doing pharmaceutical care in hospital. Having an example about pharmaceutical care problem and learning strategies that can implemented in pharmaceutical care development. In this internship also have a special assignment to analize assesment outpatient BPJS's prescription and drugs compliance with National Formulary period 25 ndash 29 July 2016.. The aims of special assignment are to analyze the completeness of prescription written by doctors at RSAB Harapan Kita and comparing the suitability of the prescribed drugs with National Formulary. "
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2017
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Fajaria Nurcandra
"ABSTRAK
Diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang cukup serius di Kabupaten Karawang. Angka kejadian diare di wilayah ini termasuk tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2012, kasus diare di Kabupaten Karawang pada tahun 2012 sebanyak 75.892 kasus.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko diare di Desa Sedari, Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang. Disain penelitian adalah kasus kontrol. Kasus merupakan ibu dari anak usia di bawah 12 tahun yang menderita diare selama sebulan terakhir dan kontrol merupakan ibu dari anak usia di bawah 12 tahun di Desa Sedari yang tidak menderita diare selama sebulan terakhir. Jumlah sampel kasus yaitu 29 responden dan kontrol 116 responden. Data yang digunakan merupakan data sekunder dari kegiatan assessment Program Desa Binaan CSR Pertamina dan FKM UI. Variabel pada penelitian ini ialah jumlah anggota keluarga, umur ibu, pendidikan ibu, sarana air bersih, jamban, dan pengelolaan sampah keluarga. Hasil analisis bivariat menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara pendidikan ibu dengan kejadian diare (nilai p<0,1) dan Odds Ratio1,435 (CI 95% 0,248-2,980) untuk kategori tidak sekolah / tidak lulus SD serta Odds Ratio 0,552 (CI 95% 0,102-2,980) untuk kategori lulus SD / lulus SMP.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah faktor risiko yang paling dominan adalah pendidikan ibu.

ABSTRACT
Diarrhea is still a public health problem that is serious enough in Karawang district. The incidence of diarrhea in this region is high in recent years. In 2012 , cases of diarrhea in Karawangdistrict in 2012 as many as 75 892 cases.
This study aims to analyze the risk factors for diarrhea in Sedari Village , District Cibuaya , Karawangdistrict . The design was a case-control study . The case is a mother of a child under 12 years of age suffering from diarrhea for the past month and control the mother of children aged under 12 years in the village of Sedari that does not suffer from diarrhea during the past month . The number of sample cases are 29 respondents and controls are 116 respondents . The data used are secondary data from assessment activities CSR Pertamina Village Program Patronage and FKM UI . Variable in this study is the number of family members , maternal age , maternal education , clean water , latrines , and waste management family. The results of the bivariate analysis showed a significant association between maternal education with incidence of diarrhea ( p < 0.1 ) and Odds Ratio 1.435 ( 95% CI 0.248 to 2.980 ) for the category of no school / no pass elementary and Odds Ratio 0.552 ( 95 % CI 0.102 to 2.980 ) for the category of graduating elementary / junior high school graduation. The conclusion of this study is the most dominant risk factor is maternal education."
Universitas Indonesia, 2014
S54079
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tiara Kusuma Dewi
"Perbedaan kemandirian anak dalam setiap anak usia prasekolah menjadi gambaran adanya faktor-faktor yang berhubungan dengan kemandirian anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kemandirian anak usia prasekolah 5-6 Tahun di TK Jakarta Utara. Desain penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif cross sectional pada 108 responden yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling di 6 TK Jakarta Utara. Hasil penelitian menunjukkan 48,1% anak usia prasekolah 5-6 tahun memiliki tingkat kemandirian yang sedang yang berhubungan dengan mayoritas ibu memiliki pendidikan menengah dan sebagai ibu rumah tangga, sebagian besar anak sebagai anak bungsu, dan berjenis kelamin laki-laki. Penelitian ini merekomendasikan peran perawat untuk melakukan edukasi kepada orangtua terkait aspek kemandirian perkembangan anak usia prasekolah dan bekerja sama dengan pendidik di sekolah taman kanak-kanak.

The difference in the independence of children in every preschooler is a form of a description of what factors influence the child's independence. This study aims to determine the description of the independence of 5-6 years old preschool children in kindergarten North Jakarta. The design of this study used a cross-sectional quantitative descriptive method for 108 respondents selected using consecutive sampling technique in 6 TK North Jakarta. The results showed 48,1% preschool children aged 5-6 years had a moderate level of independence. The independence of children who are being influenced by factors of majority level education of mothers with secondary education, and mothers employment status as a housewife, and most of children are the youngest child and male gender. This research recommends the role of nurses to educate parents related independence aspects of development preschool age children and to cooperate with educators in kindergarten."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>