Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 10216 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Mohammed S. Alhussaini
"Helicobacter pylori adalah patogen
gastrointestinal yang penting yang berkaitan dengan gastritis,
ulkus peptikum, dan peningkatan risiko kanker lambung. Studi
ini bertujuan mencari hubungan patogen ini dengan berbagai
kelainan gastrointestinal."
2016
PDF
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Ari Fahrial Syam
"Data epidemiologi infeksi Helicobacter pylori (H. pylori) terus berubah dalam beberapa dekade terakhir. Indonesia dilaporkan memiliki prevalensi infeksi H. pylori yang rendah dibandingkan dengan negara lain di Asia. Beberapa penelitian di Indonesia melaporkan bahwa sanitasi yang buruk, usia, agama, etnis merupakan faktor risiko untuk infeksi H. pylori. Dibandingkan dengan tes diagnostik lainnya, tes urine merupakan tes yang dapat diandalkan untuk mendeteksi H. pylori di Indonesia karena tes tersebut bersifat non-invasif dengan harga yang cukup terjangkau dan memiliki akurasi yang tinggi. Meskipun banyak penelitian telah dilakukan mengenai prevalensi infeksi H. pylori pada beberapa etnis di Indonesia, peneliti masih memiliki beberapa pertanyaan yang belum terjawab mengenai infeksi H. pylori di Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan untuk membangun pusat penelitian H. pylori yang menyediakan fasilitas untuk kultur, evaluasi resistensi antibiotik, dan memperoleh informasi genotipe yang dapat menjelaskan perbedaan dalam infeksi H. pylori di antara berbagai etnis di Indonesia."
2016
Pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Mohamad Saekhu
"Kadar matrix metalloproteinase?9 (MMP-9) yang tinggi diyakini merusak sawar darah otak (SDO) sehingga terjadi edema serebri dan menambah lama rawat inap pasien. Penelitian pada binatang menunjukkan tigesiklin menurunkan kadar MMP-9. Kemampuan tigesiklin menurunkan kadar MMP-9 yang berdampak pada pengurangan edema serebri dan lama rawat inap pasien perdarahan."
2016
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Ari Fahrial Syam
"Dyspepsia is one of numerous general complaints, which is commonly encountered by doctors of various disciplines. In daily practice, the complaint is not only limited for gastroenterologists. Knowledge on pathophysiology of dyspepsia have been developing continuously since a scientific investigation has been started in 1980s, which considers Helicobacter pylori as one of key factor in managing dyspepsia, either it is associated with ulcer or non-ulcer. The management of dyspepsia cannot be separated from the management of H. pylori and there is an additional new knowledge associated with definition, pathophysiology, diagnosis and treatment of both dyspepsia and H. pylori infection.
This consensus document on the management of dyspepsia and H. pylori infection in Indonesia has been developed using the evidence-based medicine principles; therefore, it can be used as a reference for doctors in dealing with dyspepsia and H. pylori infection cases in their daily practice. It is expected that with the new consensus, doctors can provide greater service to their patients who have dyspepsia and H. pylori infection.
"
Jakarta: University of Indonesia. Faculty of Medicine, 2017
610 UI-IJIM 49: 3 (2017)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Fienda Ferani
"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat infeksi parasit usus pada anak-anak di sebuah panti asuhan yang terletak di Jakarta Timur pada tahun 2012. Penelitian dilakukan dengan menggunakan desain cross-sectional. Sejumlah 155 anak dijadikan sampel penelitian melalui sampel feses yang telah dikumpulkan. Data dan sampel tersebut diambil pada tanggal 10 Mei 2012. Spesimen yang telah terkumpul sejumlah 50, diperiksa di laboratorium melalui mikroskop dengan pewarnaan lugol 1 %. Hasil dari pemeriksaan tersebut kemudian didata dengan komputer, lalu diolah menggunakan program SPSS versi 11.5. Data tersebut lalu dianalisis dengan uji Chi-square dan Fischer Exact.
Hasil yang didapat menunjukkan bahwa prevalensi infeksi parasit usus pada 50 anak Panti Asuhan X yang telah mengumpulkan pot feses adalah 16 (32%). Jumlah tersebut terbagi menjadi 13 (26%) B.hominis, 4 (8%) G.lamblia, 1 (2%) B.hominis + G.lamblia. Dengan demikian didapatkan hubungan bermakna pada prevalensi infeksi parasit usus dengan usia dan tingkat pendidikan (Chi-square, p<0,05), sementara tidak didapatkan hubungan bermakna pada prevalensi infeksi parasit usus dengan kedua jenis kelamin (Fischer, p>0,05). Disimpulkan bahwa prevalensi infeksi parasit usus pada anak panti asuhan di Jakarta Timur tahun 2012 berhubungan dengan usia dan tingkat pendidikan, namun tidak berhubungan dengan jenis kelamin.

This research was conducted to find the prevalance of intestinal parasitic infection on Children in an orphanage located in East Jakarta, in the year of 2012. The research design was done by using cross-sectional design. A number of 155 children was taken as a sample for the research by collecting their feces. The data and specimen were collected on 10th of May 2012. About 50 samples were examined in laboratory with microscope and lugol 1% staining. The results from the examination were processed with SPSS version 11.5. The result were then analyzed with Chi-square and Fischer Exact.
The result shows prevalence of the intestinal parasitic infection from the 50 children in Orphanage X examined 16 (32%) children, with the details of 13 (26%) B.hominis, 4 (8%) G.lamblia, and 1 (2%) B.hominis + G.lamblia infection. From the results, we could see a significant relation between the prevalence of intestinal parasitic infection with age and education level (Chi-square, p<0,05), while there were no significant relation between the prevalence of intestinal parasitic infection and gender (Fischer, p>0,05). It is concluded that the prevalence of intestinal parasitic infection related to age and education level, but not related with gender."
Depok: Universitas Indonesia, 2013
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Christafenny
"Tingginya tingkat penyebaran infeksi pada pekerja bangunan tidak diseimbangkan dengan tingkat pengetahuan yang baik tentang upaya pemutusan rantai infeksi. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif sederhana, cross sectional, dengan teknik pengambilan sample accidental sampling pada 47 pekerja bangunan gedung FIK UI 2013.
Hasil penelitian menunjukkan 87% pekerja bangunan memiliki tingkat pengetahuan kurang baik. Instansi terkait, pekerja bangunan, pelayanan keperawatan, serta pendidikan keperawatan perlu menggalakkan promosi kesehatan melalui media massa tentang kontrol portal keluar agen infeksius untuk meningkatkan pengetahuan pekerja bangunan.

A high prevalence of infection in the building trade is not balanced with a good level of knowledge about breaking the chain of infection. This study design using simple descriptive, cross-sectional, with accidental sampling technique sampling at 47 construction workers building FIK UI 2013.
The results showed 87% construction workers have a level of knowledge is not good. Agencies, construction workers, nursing services, as well as the need to promote nursing education health promotion through the mass media about the control of infectious agents exit portal to enhance knowledge construction workers.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2013
S47800
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Febrian Mulya Santausa
"Prevalensi enterobiasis tinggi pada murid SD. Melalui penyuluhan terhadap guru SD, informasi mengenai enterobiasis diharapkan lebih mudah disampaikan kepada murid. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan tingkat pengetahuan guru SD sebelum dan sesudah penyuluhan. Penelitian dilakukan di Jakarta dengan mengundang perwakilan guru SD Jakarta ke acara penyuluhan. Desain penelitian adalah eksperimental dengan intervensi penyuluhan kesehatan mengenai enterobiasis. Semua guru yang hadir saat penyuluhan dijadikan subyek penelitian. Pengambilan data menggunakan kuesioner berisi pertanyaan mengenai siklus hidup, patogenesis, gejala, penularan, dan pencegahan enterobiasis yang dibagikan sebelum dan sesudah penyuluhan. Jumlah responden 67 orang, 31,3% laki-laki dan 68,7% perempuan. Sebelum penyuluhan responden dengan tingkat pengetahuan kurang sebanyak 47,8%, cukup 35,8%, dan baik 16,4%. Sesudah penyuluhan, responden dengan tingkat pengetahuan baik menjadi 83,6%, cukup 13,4%, dan kurang 3%. Dari uji marginal homogeneity didapatkan nilai p<0,01 yang berarti terdapat perbedaan bermakna antara tingkat pengetahuan guru SD sebelum dan sesudah penyuluhan. Jika ditinjau per nomor, uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan bermakna pada semua skor jawaban kecuali pertanyaan mengenai gejala enterobiasis (p=0,083). Hal tersebut disebabkan sebelum penyuluhan 95,5% responden telah menjawab pertanyaan tersebut dengan benar dan menjadi 100% setelah penyuluhan. Disimpulkan penyuluhan efektif meningkatkan pengetahuan guru SD mengenai enterobiasis

The prevalence of enterobiasis is high among elementary school students. Through providing health education to the teachers, information can be more easily delivered to the students. Our study was aimed to assess the difference between knowledge level of enterobiasis among elementary school teachers before and after health education. This experimental study was held in Jakarta by inviting representatives of elementary school teachers in Jakarta to follow health education about enterobiasis. The teachers (n=67), 31,3% male and 68,7% female, completed pre-test and post-test questionnaire consisting of questions about life cycle, pathogenesis, symptoms, transmission, and prevention of enterobiasis. Prior to health education, there were 47,8% respondents with poor knowledge level, 35,8% average, and 16,4% good. After health education, there were 83,6% respondents with good knowledge level, 13,4% average, and 3% poor. Based on marginal homogeneity test, the difference is significant (p<0,01). If we assess the score of each number before and after health education, Wilcoxon test shows significant difference in all numbers, except question about enterobiasis symptoms (p=0,083). It is because 95,5% respondents had already answered the question correctly before health education, and became 100% after health education. In conclusion, health education effectively improves knowledge level of enterobiasis among elementary school teachers."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2012
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Emilda Narcis
"Kompleksnya pelayanan kesehatan di rumah sakit merupakan peluang terjadinya kesalahan, terutama dengan adanya tindakan invasif di bagian bedah. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kejadian dan faktor-faktor yang berkontribusi pada kesalahan medis di bagian bedah rawat inap terkait keselamatan pasien di sebuah Rumah Sakit Umum Daerah. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan desain studi kasus.
Hasil penelitian menunjukan bahwa kesalahan medis yang terjadi yaitu 2 kasus KPC, 1 kasus KNC dan 3 kasus KTC. Belum adanya SOP, audit klinis, tempat kerja yang tidak kondusif, kurangnya sarana prasarana, pendidikan, pelatihan, kerja tim dan komunikasi menjadi latar belakang kesalahan.
Kesimpulannya adalah kejadian kesalahan medis dipengaruhi oleh faktor organisasi, tempat kerja, individu dan barier. Belum adanya clinical governance dan program keselamatan pasien yang belum berjalan dengan baik. Pelaksanaan keselamatan pasien sangat dipengaruhi oleh pimpinan institusi.

The complexity of medical services in a hospital creates a change for an error, particularly on an invasive action in surgery unit. This study is aimed to analyse events and contributing factors to medical error in the inpatient unit regarding patient safety in a district hospital.
Using Qualitative with case study design, this study records some medical error events, which are 2 KPC cases, 1 KNC case and 3 KTC cases. Unexisting SOP, clinical audit, unconvenient place of work, lack of equipment/supporting tools, education, training, teamwork and communication are identified as the major causes.
The conclution is that medical errors are influenced by organization factor, work place, individual and defences factors. Unexisting clinical governance and uncontrolled patient safety program. The implementation of patient safety program is greatly influenced by institution leader.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2013
T36037
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ihsanijah Mukarramah
"Menurut Departemen Kesehatan RI untuk angka kejadian seksio sesarea bagi rumah sakit tidak Iebih dari 20% dari total persalinan per tahun. Tindakan seksio sesarea merupakan peringkat pertama dari semua operasi yang terdapat di RS. Karya Husada. Angka kejadian seksio sesarea di RS. Karya Husada pada tahun 2005 mengalami peningkatan 17.1% dari tahun 2004. Pelayanan kesehatan dinilai dari rekam medis yang dipergunakan. Semua catatan yang terdapat dalam rekam medis dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan oleh rumah sakit.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kelengkapan pengisian status rekam medik pasien seksio sesarea dalam pelaksanaan standar operasional prosedurnya di RS. Katya Husada, Cikampek Tahun 2005 berdasarkan data rekam medik pasien seksio sesarea dan hubungannya dari variabel umur, kelas perawatan, lama hari rawat, status pasien masuk, status pasien keluar, penyakit penyulit, dan status kepegawaian dokter spesialis kebidanan, Penelitian ini menggunakan metode penelitian survei, pendekatan eksploratif dan evaluatif, deskriptif retrospektif Berdasarkan hasil analisa kuantitatif, peneliti melakukan wawancara lanjutan sebagai pendukung penelitian ini.
Hasil penelitian yang didapatkan berhubungan bermakna antara kelengkapan pengisian status rekam medik pasien seksio sesarea dari SPM profesi dan SOP RS. Karya Husada tindakan seksio sesarea dengan beberapa variabel pasien seksio sesarea. Dominasi penulisan tidak lengkap pada status rekam medik pasien seksio sesarea oleh dokter spesialis kebidanan berstatus dokter tamu mempunyai hubungan yang bermakna (p value < 0-05) dengan SPM profesi tindakan seksio sesarea, yaitu anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, persetujuan tindakan medik, menentukan jenis seksio sesarea, pencegahan infeksi dan persiapan operasi, tindakan operasi, perawatan pasca bedah, nasehat dan konseling pasca operasi. Dari sejumlah variabel SOP RS. Karya Husada tindakan seksio sesarea yang diuji, ternyata keberadaan dokter spesialis kebidanan (dokter tamu) berpengaruh dengan tingkat bermakna < 0.05 dengan persiapan pasien, persiapan anestesi, persiapan dokter anak, penatalaksanaan (teknik transperitoneal profunda), namun untuk variabel umur tidak berpengamh pada variabel yang terdapat terdapat dalam SPM profesi dan SOP untuk kelengkapan pengisian status rekam medik tersebut. Menurut hasil wawancara, pengisian status rekam medik merupakan rutinitas dokter dan pengesahan SOP RS. Karya Husada bulan April 2006.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut disimpulkan bahwa karakter dokter spesialis kebidanan yang berstatus tamu kurang patuh dalam mengisi lengkap status rekam medik, sementara dokumen tersebut sangat diperlukan sebagai pelaporan tindakan seorang tenaga medis. Oleh karena itu peran dokter mengisi status rekam medik sesuai prosedurnya perlu dievaluasi, walaupun dalam melakukan tindakan tersebut dokter sudah mengikuti prosedurnya tapi tidak tertulis di dalam dokumen rekam medik yang sangat diperlukan sebagai bukti pelaksanaan tindakan medis tersebut.
Saran yang dapat diberikan kepada manajemen rumah sakit dan profesi kedokteran adalah revisi dan evaluasi SPO RS. Karya Husada tindakan seksio sesarea sesuai praktek yang terjadi di lapangan; sosialisasi SPO RS. Katya Husada yang telah diresmikan Direktur RS. Karya Husada, disertai bukti sosialisasinya; audit medis status rekam medik secara rutin 3 (tiga) bulan sekali; pembinaan dokter-dokter daiam mengisi status rekam medik yang lengkap dalam suatu forum komite medik; manajemen rumah sakit harus dapat menugaskan pegawai rumah sakit untuk memonitor kelengkapan pengisian status rekam medik oleh tenaga medis; manajemen rumah sakit dapat memberikan konsekwensi yang diperketat berupa pemotongan honor dokter dalam pengisian status rekam medik pasien seksio sesarea yang tidak lengkap."
Depok: Universitas Indonesia, 2006
T21162
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Marchen Prasetyaningrum
"Penggunaan cisplatin sebagai agen kemoterapi menyebabkan efek samping berupa nefrotoksisitas yang perlu mendapatkan perhatian serta penanganan khusus. Nefrotoksisitas akan memengaruhi fungsi ginjal pasien yang ditandai dengan adanya penurunan Laju Filtrasi Glomerulus. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penurunan fungsi ginjal pasien yang mendapatkan kemoterapi cisplatin di Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta periode Juli – Desember 2012. Desain penelitian ini adalah cross-sectional dan pengambilan data retrospektif dilakukan dengan menggunakan rekam medik pasien. Sampel adalah pasien kanker yang mendapatkan kemoterapi cisplatin di Rumah Sakit Dharmais Jakarta periode Juli - Desember 2012. Pengambilan sampel sebanyak 53 pasien dilakukan secara consecutive sampling. Berdasarkan perhitungan klirens kreatinin pasien, persentase penurunan fungsi ginjal pasien yang mendapatkan kemoterapi cisplatin di Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta periode Juli-Desember 2012 pasca kemoterapi siklus pertama sebesar 17,96%, pasca kemoterapi siklus kedua sebesar 18,29%, dan pasca kemoterapi siklus ketiga sebesar 21,11%.

Use of cisplatin as chemotherapeutic agent cause side effect such as nephrotoxicity that need attention and special handling. Nephrotoxicity will affect renal function characterized by impairment in glomerular filtration rate. This research aimed to evaluate the decrease in patient’s renal function who got chemotherapy cisplatin at Dharmais Cancer Hospital. The research design was cross-sectional and retrospective by using the patient's medical record. Samples were cancer patients who got chemotherapy cisplatin in Dharmais Cancer Hospital period July to December 2012. Sampling was carried out as many as 53 patients with consecutive sampling. Based on the calculation of patient's creatinine clearance, percentage of decline in renal function of patients treated with Cisplatin Chemotherapy in Dharmais Cancer Hospital Jakarta Period July – December 2012 after the first chemotherapy was 17,96%, after the second chemotherapy was 18,29%, and after the third chemotherapy was 21,11%."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2013
S46789
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>