Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 66582 dokumen yang sesuai dengan query
cover
"Relasi struktur mitos Saweringadi dengan struktur sosial masyarakat Tolaki dideskripsikan melalui oposisi-oposisi yang mengandung pesan-pesan tertentu sebagai masyarakat pemilik mitos, misalnya oposisi sirih >< pinang dan perahu >< pelabuhan."
490 KAN 7:1 (2011)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Duranti, Alessandro
New York : Cambridge University Press, 1997
306.44 DUR l
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Duranti, Alessandro
Cambridge : Cambridge University Press, 2015
306.44 DUR a
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Melbourne: : Oxford University Press, 1997
306.440 899 ARC
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Istiati Soetomo
"Ada dua hal yang sekaligus hendak dikemukakan di dalam disertasi ini, yaitu,
1. Teori yang dipermasalahkan, dan
2. Penelitian yang disimpulkan.
Mengawali uraian kedua hal tersebut, akan ditampilkan suatu kontinuum yang merangkum seluruh kegiatan para ahli ilmu pengetahuan pada umumnya.
A 1 AB 2 B
Penelitian Teori
Adalah merupakan pilihan pribadi seorang ilmuwan untuk menentukan di nana is akan menempatkan kegiatan dirinya dalam mencari kebenaran ilmiah. Ia berada ujung kiri dart kontinuum, bila yang dilakukan adalah mengamati gejala-gejala yang ada di sekelilingnya untuk dirampatkan/digeneralisasikan, diabstraksikan, dan dikonsepsikan lewat prosedur ilmiah yang telah ditetapkan. Banyak aktivitas ilmuwan yang tidak bertolak pada suatu teori tertentu, jika memang belum ada teori yang menopang persoalan yang akan diteliti, misalnya pada penelitian-penelitian deskriptif atau penjelajahan. Bahkan, akhirakhir ini banyak ilmuwan yang tertarik pada kegiatan penelitian yang sengaja mengesampingkan semua teori yang telah ditemukan tentang masalah yang sama, yang terkenal dengan nama grounded research . Jika kegiatan ilmiah itu ditempatkan dalam kontinuum di atas, maka is berada di ujung kiri texat pada titik A.
Jika suatu penelitian menggunakan satu-dua teori untuk mendasari hipotesis-hipotesis yang akan diuji, maka kegiatan itu dapat ditempatkan di titik A1 dalam kontinuum. Penelitian yang bersifat menerangkan adanya hubungan positif antara gejala-gejala yang diteliti dengan faktorfaktor tertentu yang lain berdasarkan suatu teori dapat menjadi contoh untuk kegiatan ilmiah yang ada di titik A1.
Suatu.penelitian dengan teori-teari yang ditempatkan sama pentingnya dengan gejala yang diamati terletak di tengah kontinuum, dengan titik AB. Sebagai contoh, adanya kesadaran dari ilmuwan bahwa suatu gejala dapat ditanggapi dari beberapa teori yang berbeda memungkinkan is menafsirkan gejala itu dari berbagai teori yang dimiliknya. Teori yang didasarkan atas pengertian integrasi masyarakat, misalnya, barang tentu akan menghasilkan tafsiran yang berbeda dari teori yang berdasarkan atas pengertian pertentangan, jika keduanya digunakan untuk menafsirkan gejala tertentu yang terjadi dalam masyarakat.
Makin bergeser ke arah kanan kontinuum, makin penting kedudukan teori dibandingkan dengan kedudukan penelitian. Akhirnya pada ujung kontinuum, yaitu titik B, terjadilah keadaan yang sebaliknya. Di sini, seorang ilmuwan tidak lagi berbicara tentang penelitian atas gejala-gejala yang terjadi di sekitarnya. la tidak lagi berbicara tentang perampatan, abstraksi ataupun konsepsi, yaitu proses-proses yang harus dilaluinya dalam upaya ilmiah untuk mendapatkan kebenaran. la hanya akan berbicara tentang teori-teori: apakah sebuah teori perlu ditinjau kembali, diperbaiki, diformulasikan kembali atau diperjelas lewat teori yang lain karena telah ketinggalan jaman, dan atau tidak dapat lagi menanggapi gejala-gejala masyarakat yang makin menjadi kompleks atau rumit selang sepuluhadua puluh tahun.
Sekali lagi, disertasi ini membahas dua masalah, yaitu teori dan penelitian Di bawah judul-sub: Sosiologi Bahasa, peneliti akan mempermasalahkan teori-teori yang telah ditampilkan oleh para sosiolinguis sampai pada saat ini. Artinya, ia menempatkan dirinya pada titik B2 dalam kontinuum itu, di mana masalah teori lebih panting daripada masalah penelitian atas gejala tuturan yang terjadi di sekelilingnya. Kalau pun ia menampilkan data, yaitu tingkah-laku berbahasa responden dalam domain keluarga dan kerja, maka data itu sesungguhnya hanya merupakan ilustrasi belaka untuk menjelaskan tentang kemampuan teori yang telah dipilihnya sebagai teori yang dianggap berkemampuan lebih besar dalam menanggapi tingkah-laku berbahasa.
Di samping mempermasalahkan teori, penulis juga membicarakan tentang penelitian ketika ia bergeser ke arch A1 (dalam kontinuum) dengan melakukan kegiatan ilmiah yang telah umum dilakukan oleh para ilmuwan di Indonesia pada waktu ini. la telah reneliti peristiwa interferensi dan integrasi sebagai proses internalisasi maupun proses institusionalisasi. Laporan penelitian yang menghasilkan sejumlah kesimpulan itu ditempatkan di bawah judul-sub: Sosiolinguistik.
Masih ada masalah lain yang memerlukan kejelasan di sini, yaitu, perbedaan antara konsep Sosiologi bahasa dengan konsep Sosiolinguistik. Jika objek kaji.an Sosiologi bahasa adalah Manusia yang melakukan interaksi sosial dengan bahasa, maka objek kajian Sosiolinguistik adalah Bahasa yang digunakan manusia dalam interaksi sosialnya. Perbedaan objek kajian ini barang tentu mengakibatkan perbedaan metode pemilihan percontohan maupun metode pengumpulan data dalam penelitian. Dengan demikian, analisis yang delakukan atas dan kesimpulan yang didapatkan dari kedua macam data itu pun telah dibicarakan secara terpisah.
Maka kesimpulan yang dapat ditampilkan dalam disertasi ini ada dua macam:
1. Dari aspek Sosiologi bahasa, di mana penulis menempatkan kegiatan ilmiahnya pada titik B2 dalam kontinuum, ia menyimpulkan, bahwa kerangka pemikiran Talcott Parsons benar-benar berkemampuan lebih besar daripada teori-teori yang lain untuk menanggapi gejala-gejala tuturan, khususnya interferensi, alih-kode dan tunggal-bahasa.
2. Dari aspek Sosiolinguistik, di mana penulis menempatkan kegiatan ilmiahnya pada titik A1 dalam kontinuum, dua macam kenyataan tentang interferensi-integrasi dapat diungkapkan di sini, yakni:
2.1.Penelitian tentang interferensi sebagai proses internalisasi menghasilkan kesimpulan,bahwa, keinterferensian atau keintegrasian suatu un sur asing dalam tuturan bahasa Indonesia dwibahasawan hanya dapat ditentukan oleh penutur dan masyarakat penutur itu sendiri, oleh karena perasaan-bahasa penutur sebagai tolok ukurnya banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial-budaya masyarakat di mana is hidup dan bergaul dengan sesama anggota dan de - ngan demikian mengembangkan kepribadiannya.
2.2. Penelitian tentang interferensi sebagai proses institusionalisasi menghasilkan kesimpulan, bahwa terus masuknya unsur-unsur asing dalam sistem bahasa kita umumnya menandakan terus berlangsungnya penyerapan konsep-konsep baru dari budaya barat ke dalam sistem budaya kita, sehubungan dengan pengambilalihan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilakukan oleh bangsa Indonesia yang sedang membangun ini."
1985
D326
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Keane, Webb, 1955-
""The human propensity to take an ethical stance toward oneself and others is found in every known society, yet we also know that values taken for granted in one society can contradict those in another. Does ethical life arise from human nature itself? Is it a universal human trait? Or is it a product of one's cultural and historical context? Webb Keane offers a new approach to the empirical study of ethical life that reconciles these questions, showing how ethics arise at the intersection of human biology and social dynamics. Drawing on the latest findings in psychology, conversational interaction, ethnography, and history, Ethical Life takes readers from inner city America to Samoa and the Inuit Arctic to reveal how we are creatures of our biology as well as our history--and how our ethical lives are contingent on both. Keane looks at Melanesian theories of mind and the training of Buddhist monks, and discusses important social causes such as the British abolitionist movement and American feminism. He explores how styles of child rearing, notions of the person, and moral codes in different communities elaborate on certain basic human tendencies while suppressing or ignoring others."--Publisher's Web site."
Princeton: Princeton University Press, 2016
170 KEA e
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Setiawati Darmojuwono
Jakarta: UI-Press, 2014
PGB 0251
UI - Pidato  Universitas Indonesia Library
cover
Yogyakarta: Aditya Media, 1994
307.72 KES
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Matondang, Saiful Anwar
"ABSTRAK
The rise of gender as a category of analysis in the humanities since early 1980's strikes a system of domination in which men as a group has a hegemony power over women. It reacts to the men's oppression over women in a patriarchal system. Refers to an idea that reveals 'Gender is not a biological fact but a cultural formation', this study treats the characters' behaviour on The Root of All Evil and Parallel Forces as a socio-cultural formation. This research applies the focalization method to find out the cultural background that influences gender problems which hide inside those two novels. Focalization method is a way of tracing an ideological viewpoint of narrative's focalizer. Focalizer, (he or she) as an agent of orientations, mediates events, places, and persons.
The focalizer of The Root of All Evil, a migrant from Indonesia that has been in Melbourne for about nine years, sees the highly dependence of middle class women in Jakarta from her internalized - Australian "egalitarism" and "fair go" concepts. She confronts those ideas to refined, submissive, and domestic oriented of an early 1980's women situation in Jakarta. She compares her new situation Jakarta with Australian perception of women's roles. She can not understand the position of women, and political system of Indonesia. She tries to do her idea in her home town. She fails and she is up set.
The second novel, Parallel Forces has two focalizers. A cultural hibridity that makes a very individual behaviour in a cosmopolitan environment becomes the central focus of this text. More various characters and cultural transactions happen in this novel. The twins , Amyrra and Amyrta were born in Singapore have a permissive - French mother, Claudine and a traditional Javanesse (Priyayi) father, Hardoyo.
The twins' parents come from two different culture (s). They also grew up in Melbourne. Amyrra lives in a very ambigious situation. She both believes in Catholic and Reincarnation of Ken Dedes. She is sure that she is caught by "Myth of the old Javanesse Queen Ken Dedes? Reincarnation". But She is a believer anyway. Claudine as a model for Amyrra and Amyrta. She is very successful in surviving in two worlds. As a good mother, Claudine in the long run makes Western's progress and Eastern's tolerance harmonized as the best way of life. She stresses it to her twins daughters.
Both novels still exposure the patriarchal system that makes man dominate all social relations. Social practice of patriarchal system are found in all sectors. Only in a limited space women can participate. Women still need more struggles to live in justice atmosphere.
"
1997
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>