Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 18483 dokumen yang sesuai dengan query
cover
"Background. Periodontal therapy for treatment of periodontitis jnvolves the elimination of anatomic defect. There are two primary approaches to eliminating these anatomic defects : resective (gingivectomi, osseous resection, and apically positioned flaps), and regenerative surgery (osseous graft, guided tissue regeneration, resorbable barriers, coronally position flap). Aims. The dentist know the outcomes after periodontal surgery. References. Periodontal regeneration means healing after periodontal surgery that results in the formation of a new attachment apparatus. Consisting of cementum. Periodontal ligament, and alveolar bone. Periodontal repair implies healing without restoration of the normal attachment apparatus. Histologic evaluation is the only reliable method to determine the true efficacy of periodontal therapies. Discussion. The variables involved in periodontal wound healing to solve how to achieve periodontal regeneration are manipulation of progenitor cell, alteration of pathologically exposed
root surfaces, exclusion of gingival epithelium, and wound stabilization. Conclusions. Periodontal surgery usually do not result in periodontal regeneration. Gingival epithelium that proliferates apically can be enhibited by stabilization of the flap margin and regenerative surgery."
Journal of Dentistry Indonesia, 2003
pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Faizah Haniyah
"ABSTRAK
Latar belakang: Crossbite merupakan salah satu maloklusi yang sering ditemukan di masyarakat. Crossbite dapat menyebabkan trauma oklusi yang dapat memperberat penyakit periodontal. Masih jarang dijumpai penelitian yang langsung menghubungkan pengaruh crossbite terhadap jaringan periodontal. Tujuan penelitian: Menganalisis hubungan crossbite dengan status periodontal. Metode: Penelitian cross-sectional pada 68 subjek normalbite dan 68 subjek crossbite menggunakan data kartu status rekam medik Klinik Integrasi RSKGM FKG UI tahun kunjungan 20010-2015. Data dianalisis menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil: Tidak ada perbedaan bermakna p>0,05 rerata resesi gingiva, kehilangan perlekatan, dan perdarahan gingiva pada subjek normalbite dibandingkan dengan subjek crossbite. Terdapat perbedaan bermakna.

ABSTRACT
Background Crossbite is one of the most common malocclusion found in the society. Crossbite is a potential cause of trauma from occlusion and can be a cofactor of periodontal diseases. However, research on the effects of crossbite on periodontium is still rare. Objective To analyze the relationship between crossbite and periodontal status. Method A cross sectional study of 68 subjects with normalbite and 68 subjects with crossbite using dental records of patients in Klinik Integrasi RSKGM FKG UI during 2010 2015. Data was statistically analyzed by Mann Whitney test. Result There were no statistically significant differences p 0,05 in the mean values of gingival recession, loss of attachment, and gingival bleeding between normalbite and crossbite groups. However, statistically significant difference."
2016
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nazzla Camelia Maisarah
"ABSTRAK
Tujuan penelitian ini menganalisis penyembuhan jaringan periodontal sesudah flep dengan aplikasi PRF dan cangkok tulang serta PRF saja. Metode: Empat belas sampel Periodontitis kronis dibedah flep dan diamati perbaikan status periodontal 3 dan 6 bulan paska flep. Hasil: Perbaikan tingkat perlekatan kelompok PRF dan cangkok tulang lebih baik dari kelompok PRF. Tidak ada perbedaan poket dan perdarahan gingiva yang lebih baik pada PRF dan cangkok tulang dibandingkan PRF. Kesimpulan: Ada perbedaan perbaikan tingkat perlekatan serta tidak ada perbedaan perbaikan poket dan perdarahan gingiva antara PRF dan cangkok tulang dibandingkan dengan PRF saja.

ABSTRACT
This study is to analyze periodontal tissue healing after flap using platelet rich fibrin and bonegraft and PRF only. Methode: Fourteen samples with chronic periodontitis were treated by flap and the periodontal status were evaluated at 3 and 6 month after treatment. Result: Attachment level healing in PRF and bonegraft is better than PRF group. Pocket depth and bleeding on probing were not better in PRF and bonegraft than PRF. Conclusion: There is a difference on attachment level and there are no difference on pocket and bleeding on probing between both of group."
2013
T32922
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Generally the signs and symptoms of advances periodontal disease are periodontal pockets formation to alveolar bone defect. Bone defect treated with placement a preparation material to promote new bone formation. Tissue transplantation were developed to reconstruct bone defect with the placement of bone graft material. This paper will discussed the used of demineralized freeze dried bone allograft (DFDBA) and anorganic bone mineral combined with synthetic 15 amino acid sequence within type 1 collagen (PepGen P-15), the potential healing of bone defect to enhance the optimum treatment of periodontal disease."
Journal of Dentistry Indonesia, 2003
pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Setiyohadi
"ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peran pek periodontal terhadap kesembuhan jaringan periodontium setelah tindakan kuret.
Penelitian ini telah dilakukan pada 6 pasien yang terdiri dari 4 pria dan 2 wanita dengan usia 18-35 tahun. Pasien mempunyai kelainan periodontitis marginalis kronis dengan poket supraboni 3-4 mm. Jumlah gigi yang terlibat sebanyak 80 gigi yang terbagi dalam 10 pasang kelompok gigi. Sebelum tindakan kuret, subyek dilakukan perawatan inisial yang meliputi pembersihan karang gigi, ?occlusal adjustment? dan intruksi untuk menjaga kebersihan mulut. Tindakan kuret dilakukan setelah Gingival index dan Plague index kurang atau sama dengan 1. Aplikasi pek periodontal dilakukan dengan menggunakan metoda "toss coin technic". Penilaian tingkat kesembuhan dievaluasi pada hari ke 7, 14 dan 21 dengan menggunakan parameter Papilla Bleeding Index.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna pada kesembuhan klinis jaringan periodontium setelah tindakan kuret pada kelompok gigi dengan atau tanpa penggunaan pek periodontal.
"
1989
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Prijantojo
"

Bila dilihat semenjak didirikannya Sekolah Kedokteran Gigi (Stovia) di Surabaya tahun 1928 maka adanya 2 Guru Besar bidang Periodontologi akan terasa amat langka apalagi bila dibandingkan dengan jumlah dokter gigi yang ada < 10.000 dokter gigi) serta penduduk Indonesia yang 200 juta jiwa. Selama hampir 69 tahun baru ada 2 Guru Besar, namun bila dilihat dart berkembangnya Ilmu ini, maka cabang ilmu Kedokteran Gigi ini merupakan cabang ilmu yang retatif masih baru dikembangkan yaitu sejak tahun 1960. Kelangkaan itu ditambah dengan banyaknya dokter gigi yang kurang berminat masuk di bagian ini, karena secara finanslil dianggap kurang menguntungkan. Kalau Prof. Aryatmo mengatakan bahwa ahli Blologi Kedokteran sama dengan ahli "perkodokan" maka di kalangan dokter gigi menganggap bahwa ahli di bidang Periodontologi sama dengan ahli "perjigongan" (istilah Surabaya ahli "pergudalan"). Namun dengan bertambah majunya ilmu pengetahuan dan teknologi, para dokter gigi sudah menyadari akan pentingnya ilmu ini. Hal ini terbukti dengan banyaknya dokter gigi yang mengambil spesialis bidang periodontologi baik dari kalangan ABRI, Depkes maupun kalangan pendidikan.

Hadirin yang saya hormati

Selama kebanyakan masyarakat hanya mengenal cabut gigi, tambal gigi, gigi palsu dan akhir-akhir ini mulai populer meratakan gigi (ortodonsi) yang oleh kebanyakan remaja sering digunakan untuk menunjukkan status sosial dari orang tuanya karena harganya yang cukup aduhai mahalnya.

Lalu apakah sebenarnya Periodontologi itu ?

Periodontologi yang berasal dad kata Per yang artinya pinggir/sekeliling, odont yang berarti gigi, logi = logos yang berarti ilmu. Jadi Periodontologi adalah ilmu (cabang ilmu kedokteran gigi) yang mempelajari pengetahuan dari jaringan sekitar gigi yang.terdiri dari jaringan gusi, tulang penyangga gigi, jaringan ikat di sekitar gigi dalam keadaan sehat dan sakit, sekaligus melakukan cara pencegahan dan perawatan penyakitnya. Untuk selanjutnya penyakit ini disebut "penyakit periodontal".

Berbagai penelitian menjelaskan bahwa penyakit periodontal ditandai dengan terjadinya kerusakan tulang dan dalam keadaan lanjut gigi menjadi goyang. Terjadinya kegoyangan gigi sering kurang diperhatikan oleh masyarakat karena tidak disertai rasa sakit. Kegoyangan gigi yang tidak/kurang diperhatikan maka lama-kelamaan akan lepas dengan sendirinya.

"
Jakarta: UI-Press, 1997
PGB 0448
UI - Pidato  Universitas Indonesia Library
cover
Axelsson, Per
Chicago: Quintessence Publishing, 2009
R 617.632 AXE m
Buku Referensi  Universitas Indonesia Library
cover
"The etiology of periodontal inflammation are periodontal pathogenic bacteriae and defence immune responses, as well as others local and systemic factors. Several predisposing factors, however, play an important role and unfortunately are less appreciated either by the dentist or the patient himself. Among these is the volatile sulphur compounds (VSC), which is found to be harmfull to the cell by causing the degradation of proteoglycan and glycoprotein, and result in the increase of the cell permeability. The volatile sulphuric acid-risk exposed-workers from galvanizing or battery factories have significantly greater proportion of deep pockets than the non-risk exposed-one. Cigarette's smoke also known to contain more than 4000 toxic agents which could delay the healing process of periodontal surgery lesions. It could be concluded that the volatile chemical compounds should be appreciated to lessen the morbidity rate of periodontal diseases."
[, Journal of Dentistry Indonesia], 2002
pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
"Polimorfisme genetik IL-1β pada wanita menopause sebagai faktor risiko penyakit periodontal. Penyakit periodontal merupakan penyakit oral dengan etiologi yang multifaktorial serta dapat terjadi pada wanita postmenopause. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran polimorfisme genetik IL-1β pada populasi wanita postmenopause Indonesia sebagai faktor risiko penyakit periodontal. Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif menggunakan sampel biologi tersimpan sebanyak 55 buah. Hasil ekstraksi DNA, dilakukan pemeriksaan polimorfisme IL-1β +3954 menggunakan metode PCR-RFLP dengan digest enzim restriksi Taqα 1 kemudian hasilnya dielektroforesis. Hasil penelitian dianalisis menggunakan tes chi-square. Hasil: Gambaran frekuensi genotipe adalah CC 85,7%, CT 14,3%, dan TT tidak ada pada orang yang normal. CC 91,7%, CT 8,3%, and TT tidak ada pada orang yang memiliki penyakit periodontal. Simpulan: Polimorfisme genetik IL-1β pada wanita pascamenopause Indonesia bukan merupakan faktor risiko penyakit periodontal.

Periodontal disease is a disease with multifactorial etiology that can occur in postmenopausal women. Objective: This research aims to know the description of the genetic polymorphism of IL-1β in
postmenopausal women in Indonesia as a risk factor for periodontal disease. Methods: This study is a descriptive study on 55 biological stored amples. Sample’s extracted DNA was analysed for polymorphisms IL-1β+3954 using PCR-RFLP method with Taqα 1 restriction enzyme digests then the result was electroforized.
Research results were analyzed using chi square test. Results: The genotype CC frequency was 85.7%, CT 14.3%, and TT was absent in normal people. CC 86.5%, CT 8.3%, and TT did not exist in people who have periodontal disease. Conclusion: Genetic polymorphisms IL-1β in Indonesia’s postmenopausal women is not a risk factor for periodontal disease. "
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2011
pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Yovela
"In the last few years, people from various age group are looking for orthodontic treatment, among them are adult. Adult patients in comparison with children or adolescent, have different condition in regard to their teeth and periodontal tissue. These differences will affect treatment plan we are making for adult patients. Orthodontic treatment for adult patients requires the use of light force, bondable tube and ligature wire. These steps are taken as an effort to overcome chief complaint and to prevent periodontal breakdown."
[Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Journal of Dentistry Indonesia], 2009
pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>