Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 137530 dokumen yang sesuai dengan query
cover
"Perbandingan antara model TEC near-real time (TEC-NRT) regional Indonesia dan model TEC GIM (Global Ionospheric Map) berdasarkan variasi diurnal telah dapat dilakukan. Metode perbandingannya dengan mencari selisih nilai TEC kedua model secara spasial (lintang dan bujur) yang mencakup wilayah Indonesia. Perbandingan yang telah dilakukan hanya menggunakan data TEC kedua model tanggal 15 Maret 2009 dengan rentang waktu 0 â?? 10 UT. Kedua model memiliki pola yang sama dalam pola diurnal. Hanya saja, pola grafik diurnal TEC model GIM lebih landai dibandingkan model TEC-NRT sehingga terlihat waktu nilai puncak TEC kedua model berbeda. Jam 6 UT adalah waktu nilai TEC mencapai puncak dalam variasi diurnal untuk model TECNRT, sedangkan model GIM memiliki waktu puncak TEC pada jam 8 UT dalam variasi diurnal. Pemodelan TEC dari model TEC-NRT secara umum lebih rendah (underestimate) terhadap TEC model GIM. Dari jam 0 â?? 10 UT, selisih nilai TEC model TEC-NRT sekitar 2 â?? 20 TECU dari nilai TEC model GIM. Selisih terbesar pada jam 10 UT, yaitu sekitar 10 â?? 20 TECU. Pada jam tersebut, nilai TEC model TEC-NRT seluruh wilayah Indonesia model lebih rendah dibandingkan model GIM"
620 DIR 5:1 (2010)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
"Makalah ini membahas tentang konsep dasar riset ionosfer regional. Konsep
penelitian dan pengembangan pengetahuan dinamika ionosfer regional dan
pemanfaatannya telah disusun berdasarkan tugas dan fungsi Bidang Ionosfer dan
Telekomunikasi. Tiga tahapan dalam rangkaian penelitian, pengembangan, dan
pemanfaatan pengetahuan dinamika ionosfer adalah pembangunan bank data ionosfer
regional, penelitian dan pengembangan dinamika ionosfer regional, dan pengembangan
kemasan hasil riset untuk pemanfaatan. Pengembangan bank data ionosfer regional
dimaksudkan sebagai dasar penopang yang kuat bagi kegiatan penelitian dan
pengembangan. Kegiatan penelitian dan pengembangan diarahkan untuk memahami
dinamika ionosfer regional dan pengaruhnya terhadap komunikasi dan navigasi.
Pengemasan hasil riset dimaksudkan agar informasi yang diberikan sesuai dengan
kebutuhan pengguna. "
620 DIR 15:1 (2014)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
"Dalam penelitian ini dikaji dua model empiris lapisan E yaitu model Hunsucker-
Hargreaves dan Edinburgh. Analisis dilakukan terhadap data foE hasil simulasi menggunakan dua model tersebut dan data hasilnya dibandingkan dengan data foE hasil pengamatan di Tanjungsari (6,91ºLS, 107,83ºBT) tahun 2001-2002 dan 2009. Dari analisis yang telah dilakukan diperoleh empat kesimpulan yaitu: Pertama, model Hunsucker-Hargreaves dan Edinburgh sama-sama mampu menunjukkan variasi harian, musiman, dan variasi skala siklus Matahari dari lapisan E; Kedua, dua model tersebut tidak mampu menunjukkan variasi lapisan E terhadap garis lintang; Ketiga, erdapat perbedaan cukup besar antara kedua model akan hasil perhitungan foE pada pukul 6:00 WIB dan 18:00 WIB; dan Keempat, jika dilihat dari segi perumusannya, maka model Hunsucker-Hargreaves lebih berpeluang untuk dibangun kembali menggunakan data foE regional Indonesia"
620 DIR 5:1 (2010)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
"The type III solar radio bursts is an indicator of solar X-ray flare phenomena. The effect of solar X-ray flares to the ionospheric layer is the increasing of minimum frequency (fmin) which indicates the absorption of incoming high frequency (HF) radio wave. Further impact is a disturbance of high frequency radio communications. The number and flux density of type III bursts and X-ray flare can used as an information of ionospheric disturbance possibility. The correlation analysis shows that the number of X-ray flare is related to the number of ionospheric absorption and the time duration of these absorption. The serial event of type III bursts and solar X-ray flare occures during February 6th to 12th, 2010 are an example cases of the early warning of possibility of radio communications disturbances."
600 JADIR 8:2 (2011)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Edwards Taufiqurrahman
"ABSTRAK
Terjadinya tsunami menyebabkan adanya transfer energi dari gelombang tsunami di permukaan laut ke atmosfer di atas laut yang dilalui oleh tsunami, lalu diikuti oleh penjalaran gelombang secara vertikal ke atas hingga mencapai ionosfer. Berikutnya gelombang vertikal ini menyebabkan terjadinya gangguan di ionosfer yang ditunjukan dengan adanya fluktuasi nilai diferensial total electron content TEC di ionosfer. Fluktuasi dTEC dinyatakan sebagai travelling ionospheric disturbance TID yang antara lain dipengaruhi oleh tsunami. Kecepatan TID, tinggi gelom-bang serta periodenya diyakini berkaitan dengan berbagai aspek oseanografis dan sifat fisis atmosfer.Analisis TID dari total electron content TEC di atmosfer pada saat terjadinya tsunami Sumatra ndash;Andaman 26 Desember 2004 telah dilakukan. Tsunami tersebut disebabkan oleh gempa bumi berkekuatan Mw=9,2, menyebabkan adanya rupture di sepanjang zona subduksi dari kepulauan Simeulue 3,3 LU 95,98 BT hingga kepulauan Andaman 13,58 LU 92,65 BT , dan tsunami menjalar dari sepanjang zona rupture tersebut. Studi ini bertujuan untuk: 1 menganalisis tinggi gelombang dan periode TID, dan 2 untuk menentukan kecepatan TID dan kaitannya dengan kecepatan tsunami.Didapatkan hasil bahwa TID saat kejadian memiliki tinggi gelombang rata-rata 0,161 TECU dan periode 16 menit. Juga disimpulkan suatu gelombang tsunami yang merambat dengan kecepatan rata-rata sekitar 802,4 km/jam akan diikuti dengan adanya gelombang di ionosfer yang melaju horizontal dengan kecepatan 669,9 km/jam. Waktu sampainya tsunami dan waktu munculnya TID berselisih dengan rata-rata selisih waktunya 0,56 jam, yang menunjukkan adanya perambatan secara vertikal dengan kecepatan 625 km/jam.

ABSTRACT
Tsunamis can cause energy transfer from the the wave in the ocean to the atmo phere above it, and followed by vertical wave propagation from the sea surface to the ionosphere. Then the vertically propagated wave causing disturbance in the ionosphere, showed by fluctuation of the differential TEC. The fluctuation are known as travelling ionospheric disturbance TID . The TID velocity, wave height and period is believed to be linked with ocenographic and physical properties of the atmosphere.The analysis of TID from total electron content TEC in the atmosphere at the time of the Sumatra ndash Andaman tsunami on December 26, 2004 had been done. The tsunami caused by an earthquake with magnitude Mw 9 2, causing rupture along the subduction zone from the Simeulue island 3,3 N 95,98 E to the Andaman islands 13,58 N 92,65 E , and tsunami was propagated from the rupture zone. This study aimed to 1 analyze the TID wave height and periods, and 2 to measure the TID velocity and its relation with the tsunami velocity.Results showed that the TID from the event have an average wave height of 0.161 TECU and period of 16 minutes. And also it was showed that a tsunami wave with average velocity of 802.4 km h will be followed by a TID with average velocity of 669.9 km h. Tsunami travel time and TID time have difference about0.56 hour, showing that there was a vertical wave with average velocity 625 km h."
2016
T47038
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"
Model-model yang digunakan untuk prediksi ionosfer jangka panjang belum mempertimbangkan efek histeresis ionosfer. Beberapa hasil penelitian pengaruh histeresis ionosfer pada pemodelan ionosfer jangka panjang memberikan kesimpulan yang kontradiktif. Data Total Electron Content (TEC) yang diperoleh dari Global Ionosphere Maps (GIM) telah digunakan untuk penelitian variabilitas spasial dan diurnal histeresis ionosfer selama siklus matahari 23. Besar histeresis diestimasi sebagai perbedaan antara rata-rata TEC selama fase turun dengan rata-rata TEC selama fase naik dari siklus matahari. Histeresis ionosfer memiliki variabilitas spasial yang mirip dengan variabilitas anomali ionisasi ionosfer ekuator, dimana nilai terbesarnya terjadi di daerah puncak anomali ionisasi ionosfer ekuator, dan ada ketidaksimetrissan arah lintang dan bujur. Histeresis ionosfer ekuator dan lintang rendah memiliki pola kejadian yang sistematis baik secara spasial maupun temporal sehingga memungkinkan untuk memasukkan efek histeresis dalam model ionosfer jangka panjang. Histeresis ionosfer di daerah lintang rendah bisa menyebabkan kesalahan dari model linier ionosfer sampai 49 %. Oleh karena itu dalam pemodelan ionosfer lintang rendah hendaknya mempertimbangkan efek histeresis dengan menggunakan formulasi yang berbeda untuk fase naik dan fase turun dari siklus matahari."
600 JADIR 11:1 (2013)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
"Variabilitas curah hujan merupakan penyebab utama dalam jumlah keseimbangan air di setiap Daerah Aliran Sungai (DAS) dalamskala ruang dan waktu, sehingga variabilitas curah hujan memiliki peranan penting terhadap debit aliran permukaan. Tidak hanya curahhujan sebagai
input
utama, tingkat penutupan lahan dan sifat fisiktanah dengan berbagai konsep pun merupakan
input
penting dalammenjaga kesetimbangan jumlah air dalam suatu DAS, sehinggamenghasilkan satu kesetimbangan neraca air, dan debit aliranpermukaan dianggap sebagai keluaran yang berpeluang untukkebutuhan sektor. Data yang digunakan adalah luaran model GCM
Geophysical Fluid Dynamics Laboratory
(GFDL) curah hujan dalamsatuan (mm) yang direduksi dari skala global menjadi lokal. Selain itudata curah hujan (mm) satelit
Tropical Rainfall Measuring Mission
(TRMM, 3B43) dengan resolusi 0,25 derajat (setara dengan 27,5
km
2
),suhu (
0
C) dari
Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer
(MODIS)level dengan resolusi 0,045 derajat (setara dengan 5 km
2
). Begitu puladata observasi curah hujan, suhu dan debit aliran permukaan(mm
3
/det) dari tahun 2001 hingga 2009 yang digunakan untuk validasidata satelit dan model atmosfer. Korelasi antara curah hujan observasidengan satelit dan luaran model atmosfer masing-masing sebesar 0,76dan 0,65. Dengan menggunakan metode
Hydrological Simulation Model
(HYSIM) dapat diketahui proyeksi debit aliran permukaan dimasamendatang berbasis model atmosfer di DAS Citarum, Jawa Barat.Berdasarkan debit aliran perhitungan dan observasi dari tahun 2001hingga 2009, ternyata memiliki kesesuaian yang sangat mirip dengankoefisien korelasi 0,8. Setelah dikalibrasi proyeksi debit aliran tahun2011 hingga 2019 adalah mengikuti pola tahun-tahun sebelumnyadengan korelasi 0,6. Debit aliran dipengaruhi dengan curah hujan diwilayahnya. Berdasarkan curah hujan proyeksi, diketahui bahwa curahhujan meningkat seiring dengan meningkatnya curah hujan, makaketersediaan air pun lebih banyak, sehingga debit aliran permukaan diDAS Citarum diperkirakan cenderung meningkat."
600 JADIR 8:2 (2011)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
"Satu parameter yang penting untuk menunjukkan akurasi GPS (Global
Positioning System) dalam penentuan posisi adalah UERE (User Equivalent Range
Error). Parameter ini akan lebih memberikan akurasi presisi tinggi yang signifikan
kepada pengguna GPS bila disertai dengan informasi geometri visible satellite yang
lebih dikenal dengan DOP (Dilution Of Precision). Salah satu komponen dari UERE
adalah galat yang disebabkan lapisan ionosfer. Dengan menggunakan data TEC
Bandung dan model DOP Bandung, dapat dilakukan perhitungan total galat GPS
untuk mengetahui UERE. Hasil perhitungan program error budget menunjukkan
bahwa ionosfer memberikan kesalahan terbesar terhadap UERE."
620 DIR 11:2 (2010)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
"Automatic Link Establishment (ALE) dapat digunakan untuk pengamatan propagasi gelombang radio HF (3-30MHz) secara real time. Dari hasil penerapan yang dilakukan, diperoleh data yang mewakili kondisi propagasi suatu sirkit komunikasi radio HF secara real time. Data yang diperoleh meliputi nilai frekuensi yang dapat digunakan, kualitas sinyal, dan identitas stasiun penerima. Informasi dari data tersebut disajikan secara real time dalam bentuk grafis pada sebuah alamat website yang dapat diakses secara umum, yakni www.hflink.net. Informasi grafis yang dihasilkan merupakan garis penghubung antara stasiun dengan warna yang berbeda-beda. Warna tersebut menyatakan nilai frekuensi kerja yang dapat digunakan. Selain itu berdasarkan hasil analisis perbandingan antara data dari salah satu sirkit ALE dengan hasil pengamatan menggunakan Ionosonda, diperoleh kesesuaian data ALE dengan variasi lapisan ionosfer. Berdasarkan hasil tersebut, maka sistem ALE untuk pengamatan propagasi gelombang radio HF secara real time dapat diterapkan.
"
621 DIRGA 12:1 (2011)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Ressa Mahardhika
"[ABSTRAK
Pemahaman mengenai interaksi laut dan atmosfer merupakan kunci untuk menjelaskan fenomena iklim dan cuaca di benua maritim Indonesia. Dalam penelitian ini, akan dikaji hubungan antara energi radiasi gelombang panjang yang dipantulkan oleh bumi ke atmosfer, Outgoing Longwave Radiation (OLR), dengan suhu muka laut (SST). Sebagai ilustrasi, uap air (terutama awan), merupakan gas yang cukup efektif menyerap radiasi gelombang panjang. Namun jumlah uap air di atmosfer selalu berubah karena terjadi proses penguapan dan kondensasi secara terus-menerus, sementara sumber uap air utama adalah lautan. Data yang digunakan adalah OLR dan SST tahun 1979 hinggga 2011. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa nilai koefisien korelasi di wilayah Indonesia menunjukkan ikatan hubungan yang sedang (r = 0,5). Sedangkan hasil pemetaan korelasi dan signifikansi menunjukkan bahwa hubungan OLR dan SST di wilayah Indonesia dipengaruhi oleh fenomena ENSO dan IODM.

ABSTRACT
Ocean and atmosphere interactions are the key to explain the phenomenon of climate and weather in Indonesia. This study will be assessed the relationship between the energy of longwave radiation reflected by the earth into the atmosphere, Outgoing Longwave Radiation (OLR), and sea surface temperature (SST). As an illustration, water vapor (especially cloud), is an effective gas to absorb longwave radiation. But the amount of water vapor in the atmosphere is always changing due to evaporation and condensation processes continously, while the main source of water vapor is the ocean. The data used is OLR and SST in 1979 until 2011. Based on the analysis it is known that the value of the correlation coefficient in the region of Indonesia shows r = 0,5. While the results of the mapping correlation and significance shows that OLR and SST relationship in Indonesia affected by ENSO and IODM.;Ocean and atmosphere interactions are the key to explain the phenomenon of climate and weather in Indonesia. This study will be assessed the relationship between the energy of longwave radiation reflected by the earth into the atmosphere, Outgoing Longwave Radiation (OLR), and sea surface temperature (SST). As an illustration, water vapor (especially cloud), is an effective gas to absorb longwave radiation. But the amount of water vapor in the atmosphere is always changing due to evaporation and condensation processes continously, while the main source of water vapor is the ocean. The data used is OLR and SST in 1979 until 2011. Based on the analysis it is known that the value of the correlation coefficient in the region of Indonesia shows r = 0,5. While the results of the mapping correlation and significance shows that OLR and SST relationship in Indonesia affected by ENSO and IODM.;Ocean and atmosphere interactions are the key to explain the phenomenon of climate and weather in Indonesia. This study will be assessed the relationship between the energy of longwave radiation reflected by the earth into the atmosphere, Outgoing Longwave Radiation (OLR), and sea surface temperature (SST). As an illustration, water vapor (especially cloud), is an effective gas to absorb longwave radiation. But the amount of water vapor in the atmosphere is always changing due to evaporation and condensation processes continously, while the main source of water vapor is the ocean. The data used is OLR and SST in 1979 until 2011. Based on the analysis it is known that the value of the correlation coefficient in the region of Indonesia shows r = 0,5. While the results of the mapping correlation and significance shows that OLR and SST relationship in Indonesia affected by ENSO and IODM.;Ocean and atmosphere interactions are the key to explain the phenomenon of climate and weather in Indonesia. This study will be assessed the relationship between the energy of longwave radiation reflected by the earth into the atmosphere, Outgoing Longwave Radiation (OLR), and sea surface temperature (SST). As an illustration, water vapor (especially cloud), is an effective gas to absorb longwave radiation. But the amount of water vapor in the atmosphere is always changing due to evaporation and condensation processes continously, while the main source of water vapor is the ocean. The data used is OLR and SST in 1979 until 2011. Based on the analysis it is known that the value of the correlation coefficient in the region of Indonesia shows r = 0,5. While the results of the mapping correlation and significance shows that OLR and SST relationship in Indonesia affected by ENSO and IODM.;Ocean and atmosphere interactions are the key to explain the phenomenon of climate and weather in Indonesia. This study will be assessed the relationship between the energy of longwave radiation reflected by the earth into the atmosphere, Outgoing Longwave Radiation (OLR), and sea surface temperature (SST). As an illustration, water vapor (especially cloud), is an effective gas to absorb longwave radiation. But the amount of water vapor in the atmosphere is always changing due to evaporation and condensation processes continously, while the main source of water vapor is the ocean. The data used is OLR and SST in 1979 until 2011. Based on the analysis it is known that the value of the correlation coefficient in the region of Indonesia shows r = 0,5. While the results of the mapping correlation and significance shows that OLR and SST relationship in Indonesia affected by ENSO and IODM., Ocean and atmosphere interactions are the key to explain the phenomenon of climate and weather in Indonesia. This study will be assessed the relationship between the energy of longwave radiation reflected by the earth into the atmosphere, Outgoing Longwave Radiation (OLR), and sea surface temperature (SST). As an illustration, water vapor (especially cloud), is an effective gas to absorb longwave radiation. But the amount of water vapor in the atmosphere is always changing due to evaporation and condensation processes continously, while the main source of water vapor is the ocean. The data used is OLR and SST in 1979 until 2011. Based on the analysis it is known that the value of the correlation coefficient in the region of Indonesia shows r = 0,5. While the results of the mapping correlation and significance shows that OLR and SST relationship in Indonesia affected by ENSO and IODM.]"
2012
T43483
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>