Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 8512 dokumen yang sesuai dengan query
cover
"Penelitian ini untuk dapat membuat transduser suhu yang bersifat cepat tanggap, bahan murah dan mudah didapat, serta keluarannya tertampil secara digital. Penelitian dimulai dengan mengelas titik kedua ujung kawat berbahan tembaga (Cu) dan besi (Fe), yang diperoleh dari kawat koil dan bendrat, sehingga diperoleh termokopel Cu-Fe yang bersuhu acuan berupa suhu kamar. Keluaran termokopel dihubungkan dengan OpAmp rakitan sendiri dengan penguatan 1000 kali. OpAmp terhubung dengan sumber daya keluaran tegangan dari OpAmp dihubungkan dengan pengalih analog ke digital ADC, ditampilkan angka suhu derajat celsius dan Mv oleh sequensial. Karakterisasi transduser suhu berbahan Cu-Fe meliputi gayutan pemerosotan tegangan keluaran terhadap panjang kawat, waktu taggap dan peneraan. Diperoleh kesimpulan, bahwa panjang kawat tidak peka terhadap pemerosotan tegangan keluaran, waktu tanggap termokopel Cu-Fe pada suhu 50 C adalah 14 detik, dan 15,4 detik pada suhu 80 C sehingga lebih cepat dari probe lain yang telah dicoba. Penerangan suhu terhadap tegangan keluaran dilakukan dengan bahan es-cair (0-80 C), dan H (30-286C). Akhirnya, diperoleh transduser suhu berbahan Cu-Fe yang dapat digunakan dalam pengukuran suhu benda padat, cair dan gas, dengan keluaran akhir berupa tampilan digital yang bersatuan mV dan celcius. "
JURFIN 2:8 (1998)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Sharon Hanandi
"Pengembangan pengisian form dalam bentuk digitalisasi adalah salah satu hal yang penting untuk memudahkan pengisian serta pemantauan pengisian form oleh penanggung jawab. Hal ini khususnya diperlukan pada pemantauan suhu cold room di luar jam operasional karena produk rantai dingin merupakan produk yang memiliki persyaratan khusus yang harus dipenuhi sebagai standar, meliputi aturan yang berkaitan dengan pemantauan suhu pada saat penerimaan, penyimpanan, dan pengiriman. Usulan digitalisasi pengisian form pada PT. Anugerah Pharmindo Lestari dilakukan melalui aplikasi “InformU” yang dapat diakses staff security untuk mengisi form dan BRQA (Branch Regulatory and Quality Assurance) untuk me-review hasil pengisian form. Digitalisasi pengisian form pemantauan suhu di luar jam operasional diharapkan dapat membuat pencatatan dan pemantauan suhu menjadi lebih efisien, terintegrasi, dan mudah diakses bagi PT. Anugerah Pharmindo Lestari serta dapat menghindari kemungkinan pencatatan form yang tidak dilakukan secara real time.

The development of filling out forms in digitized form is one of the important things to facilitate filling and monitoring of forms by the person in charge. This is especially necessary for cold room temperature monitoring outside of operating hours because cold chain products are products that have specific requirements that must be met as standards, including rules relating to temperature monitoring during admission, storage and delivery. Proposed digitization of filling out forms at PT. Anugerah Pharmindo Lestari is carried out through the "InformU" application which can be accessed by security staff to fill out the form and BRQA (Branch Regulatory and Quality Assurance) to review the results of the filled out form. Digitalization of filling out temperature monitoring forms outside of operating hours is expected to make temperature recording and monitoring more efficient, integrated and easily accessible for PT. Anugerah Pharmindo Lestari and can avoid the possibility of recording forms that are not done in real time."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Devi Oktaviani Pravitasari
"Suhu dalam area penyimpanan baik produk obat maupun bahan obat harus selalu dipantau (dikualifikasi) untuk menghindari terjadinya penurunan kualitas obat. Kegiatan pemantauan yang dapat dilakukan berdasarkan CPOB 2018 yaitu dengan melakukan pemetaan suhu (mapping suhu) ruang penyimpanan obat/ bahan obat tersebut. Mapping suhu adalah kegiatan memantau perubahan atau fluktuasi suhu yang terjadi di area penyimpanan dengan memonitor suhu pada beberapa titik ruangan. Mapping suhu dilakukan karena perubahan suhu akan selalu terjadi di dalam Gudang area penyimpanan dan berpotensi melewati rentang suhu penyimpanan obat/bahan obat. Gudang penyimpanan PT. Indofarma yang akan dipetakan suhunya adalah Gudang Logistik Bahan Awal (LBA) ‘Non-AC’ yang menyimpan semua bahan awal dengan spesifikasi penyimpanan pada suhu ruang (≤ 30C) (BPOM RI, 2013, hal. 178; Kemenkes RI, 2020). Pemantauan suhu dilakukan dengan menggunakan EDLMs (Electronic Data Logging Monitors) yang mampu mengukur suhu pada waktu yang telah ditentukan. Pemantauan suhu di Gudang LBA dilakukan dengan meletakkan EDLM pada beberapa titik yang dianggap kritis dan mewakili suhu dari ruangan tersebut. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahan awal yang disimpan tidak mengalami degradasi akibat adanya fluktuasi suhu, sehingga kualitas, keamanan, dan khasiat dari bahan awal tersebut mampu dipertahankan.

The temperature in the storage area for both drug products and medicinal ingredients must always be monitored (qualified) to prevent a decrease in drug quality. Monitoring activities that can be carried out based on the 2018 GMP are by mapping the temperature (temperature mapping) of the drug/medicine storage room. Temperature mapping is an activity to monitor temperature changes or fluctuations that occur in the storage area by monitoring the temperature at several points in the room. Temperature mapping is carried out because temperature changes will always occur in the warehouse storage area and have the potential to cross the temperature range for storing drugs/drugs. PT. Indofarma whose temperature will be mapped is the 'Non-AC' Initial Material Logistics Warehouse (LBA), which stores all starting materials with specifications for storage at room temperature (≤ 30oC) (BPOM RI, 2013, p. 178; Ministry of Health RI, 2020). Temperature monitoring is carried out using EDLMs (Electronic Data Logging Monitors) which are capable of measuring temperature at predetermined times. Temperature monitoring in the LBA Warehouse is carried out by placing the EDLM at several points that are considered critical and represent the temperature of the room. This aims to ensure that the stored starting materials do not degrade due to temperature fluctuations, so that the quality, safety and efficacy of these starting materials can be maintained."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2022
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Alief Nasrullah Pramana
"Pada penelitian ini dilakukan percobaan mengenai pengaruh suhu dan tekanan tangki destilasi terhadap kinerja permeasi uap dengan membran NaA-Ze dalam pemurnian larutan etanol-air. Pada variabel suhu, konsentrasi rententat tertinggi dan konsentrasi permeat terendah terjadi pada suhu 130oC dengan nilai masing - masing 62% dan 5%. Volume rententat dan permeat tertinggi terjadi pada suhu 130oC dengan nilai masing - masing 202mL dan 679mL. Sedangkan pada variabel tekanan tangki destilasi, konsentrasi rententat tertinggi dan konsentrasi permeat terendah terjadi pada tekanan 1½ bar dengan nilai masing - masing 66% dan 3%, Volume rententat dan permeat tertinggi terjadi pada tekanan 1½ bar dengan nilai masing - masing 180mL dan 1062mL. Untuk variabel suhu, fluks tertinggi diperoleh di suhu 130oC dengan nilai 0,0011 kg/m2.menit dan selektivitas tertinggi diperoleh sebesar 1,066. Sedangkan untuk variabel tekanan tangki destilasi, fluks tertinggi diperoleh di tekanan 1½ bar dengan nilai 0,0016 kg/m2.menit dan selektivitas tertinggi diperoleh sebesar 1,089.

In this study conducted experiments on the effect of temperature and pressure on the performance of the distillation tank with a vapor permeation membrane purification NAA-Ze in ethanol-water solution. At temperatures variables, the highest rententat concentration and the lowest permeat concentration occured at 130oC with value 62% and 5%. The highest rententat and permeat volume occurred at 130o with value 202mL and 679mL. While at the variable distillation tank pressure, the highest rententat concentration and the lowest permeat concentration occured at 1½ bars with value 66% and 3%. The highest rententat and permeat volume occured at 1½ bar with value 180ml and 1062mL. For variable temperature, highest flux obtained at 130oC with value 0,0011 kg/m2.min and the highest selectivity is obtained at 1,066. While at the variable distillation tank pressure, the highest flux is obtained at 1½ bar with value 0,0016 kg/m2.min and the highest selectivity is obtained at 1,089."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2013
S47656
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tania Paramita
"Latar belakang: Pengukuran suhu tubuh sebenarnya (core body temperature) tidak lazim dilakukan pada anak karena invasif dan sulit, sehingga pengukuran suhu aksila dan membran timpani lebih disukai. Namun sampai saat ini ketepatan hasil pengukuran suhu membran timpani dan aksila masih diperdebatkan.
Tujuan: Membandingkan ketepatan hasil pengukuran suhu membran timpani dan aksila dengan rektal, mengetahui metode terbaik pengukuran suhu tubuh, dan cut off demam pada anak berdasarkan masing-masing metode pengukuran suhu.
Metode: Penelitian diagnostik potong lintang pada anak demam berusia 6 bulan ? 5 tahun yang dipilih secara konsekutif di Poliklinik Anak, IGD Anak, dan Ruang Perawatan Anak Gedung A RSCM antara bulan Desember 2014 ? Januari 2015.
Hasil: Dengan cut off demam suhu aksila 37,4oC dan membran timpani 37,6oC didapatkan sensitivitas 96% (IK 95% 0,88-0,98) dan 93% (IK 95% 0,84-0,97), spesifisitas 50% (IK 95% 0,47-0,84) dan 50% (IK 95% 0,31-0,69), NDP 90% (IK 95% 0,81-0,95) dan 85% (IK 95% 0,75-0,91), NDN 83% (IK 95% 0,61-0,94) dan 69% (IK 95% 0,44-0,86). Cut off optimal demam suhu membran timpani dan aksila pada penelitian ini adalah 37,8oC (AUC 0,903 dan 0,903).
Simpulan: Hasil pengukuran suhu aksila sama baik dengan membran timpani dalam mendeteksi demam dan dapat digunakan dalam praktik klinis sehari-hari maupun di rumah. Dengan cut off demam 37,8oC didapatkan sensitivitas 81% dan 88%, spesifisitas 86% dan 73%, NDP 95% dan 91%.

Background: Core body temperature measurement is not common in pediatric population because it is invasive and difficult. Therefore tympanic and axillary temperature measurement are prefereble but their accuracy still debated.
Objective: To compare the accuracy of axillary and tympanic temperature to rectal temperature in children with fever and measure the cut off point for fever based on each temperature measurement method.
Methods: A cross-sectional diagnostic study was conducted among children age 6 months ? 5 years which was selected consecutively at Pediatric Out-patient clinic, Pediatric emergency unit, and the in-patient wards in building A RSCM from December 2014 to January 2015.
Results: With the cut off for fever on axilla 37,4oC and tympanic membrane 37,6oC the sensitivity was 96% (95% CI 0,88-0,98) and 93% (95% CI 0,84-0,97), specificity 50% (95% CI 0,47-0,84) and 50% (95% CI 0,31-0,69), NDP 90% (95% CI 0,81-0,95) and 85% (95% CI 0,75-0,91), NDN 83% (95% CI 0,61-0,94) and 69% (95% CI 0,44-0,86). Optimal cut off of tympanic membrane and axilla temperature was 37,8oC (AUC 0,903 dan 0,903).
Conclusions: Axillary temperature measurement is as good as the tympanic membrane temperature measurement and can be used at the daily clinical practice or at home. By increasing the optimum fever cut off point for axilla temperature and tympanic membrane to 37,8oC, we found sensitivity 81% and 88%, specificity 86% and 73%, NDP 95% and 91%."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015
T58925
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Amalia Shalda
"vaksin merupakan salah satu bagian dari produk rantai dingin atau Cold Chain Product (CCP). Suhu terkontrol yang dipersyaratkan yaitu pada kisaran suhu 2-8˚C apabila adanya ketidaksesuaian suhu maka dapat menyebabkan vaksin rusak, terjadi penurunan mutu, khasiat dan efektivitas. Fokus utama PBF yaitu memastikan bahwa kualitas dan kemanjuran produk pada saat pengiriman dan pendistiribusian sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Maka diperlukan adanya kontrol kualitas suhu pada transportasi yang akan digunakan dengan melakukan validasi terhadap suhu mobil pendingin untuk memastikan apakah kendaraan yang digunakan mampu mempertahanakn suhu 2-8oC. Hasil pada laporan praktek kerja di Kimia Farma Trading and Distribution cabang Jakarta 1 bahwa perlakuan validasi suhu terhadap mobil boks pendingin yang dilakukan pada tiga titik didalam mobil pada bagian kiri, tengah dan kanan maka diperoleh hasil yang kurang stabil yaitu suhu yang dihasilkan diluar rentang suhu yang dipersyaratkan sehingga perlu validasi ulang pada mobil boks pendingin perlu dilakukan agar suhu yang dihasilkan sesuai dengan yang dipersyaratkan yaitu 2-8˚C. Pada saat validasi ulang mobil box pendingin harus dipastikan sedang tidak beroperasi. Hal ini untuk menghindari adanya guncangan sehingga posisi thermo data logger tidak berubah ketika proses pengambilan dan pengiriman produk vaksin.

Vaccines are a part of a cold chain product or Cold Chain Product (CCP). The required controlled temperature is in the temperature range of 2-8˚C if there is a temperature mismatch it can cause the vaccine to be damaged, decrease in quality, efficacy and effectiveness. The main focus of PBF is to ensure that the quality and efficacy of the products during delivery and distribution comply with the applicable laws and regulations. So it is necessary to control the temperature quality of the transportation that will be used by validating the temperature of the cooling car to ensure whether the vehicle used is able to maintain a temperature of 2-8oC. The results in the work practice report at Kimia Farma Trading and Distribution branch Jakarta 1 that the temperature validation treatment of the cooler box car was carried out at three points inside the car on the left, center and right, resulting in less stable results, namely the temperature produced outside the specified temperature range required so that it is necessary to re-validate the cooling box car so that the temperature produced is in accordance with the requirements, namely 2-8˚C. At the time of re-validation the cooler box car must be ensured that it is not operating. This is to avoid shocks so that the position of the thermo data logger does not change during the process of taking and sending vaccine products."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2022
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Sitorus, Felix Leonard A.M
"Protokol studi adalah dokumen yang menguraikan desain penelitian, menggambarkan tujuan, metodologi dan pengorganisasian keseluruhan penelitian yang akan dilakukan. Protokol studi membentuk template dan panduan untuk proses penelitian secara keseluruhan. Protokol yang ditulis dengan buruk dapat berkontribusi besar pada waktu persetujuan terutama untuk studi yang dimulai oleh peneliti. Protokol memberikan dasar ilmiah untuk penelitian yang diusulkan. Protokol studi mendefinisikan tujuan studi/penelitian, populasi yang akan dipelajari, prosedur yang harus diikuti, evaluasi yang akan dilakukan dan rencana analisis; dan terakhir, membahas aspek administrasi studi seperti manajemen keselamatan dan masalah peraturan. Pada Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) ini, calon Apoteker memperoleh kesempatan untuk membuat protokol studi terkait pemetaan suhu ruangan packaging material dengan penambahan AHU di PT. Kalbio Global Medika. Tugas khusus ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman calon Apoteker mengenai pembuatan protokol studi pemetaan suhu. Pembuatan protokol studi dilakukan dengan cara mengumpulkan informasi terkait pembuatan protokol studi, dan informasi terkait pemetaan termal, kemudian menyusunnya menjadi protokol studi yang sesuai dengan format yang telah ditentukan di PT. Kalbio Global Medika. Pembuatan protokol studi terkait pemetaan suhu ruangan packaging material dengan penambahan AHU di PT. Kalbio Global Medika dapat dilakukan dengan baik.

A study protocol is a document that outlines the research design, describes the objectives, methodology and overall organization of the research to be conducted. The study protocol forms the template and guide for the overall research process. Poorly written protocols can contribute greatly to approval times especially for investigator-initiated studies. The protocol provides the scientific basis for the proposed research. The study protocol defines the objectives of the study/research, the population to be studied, the procedures to be followed, the evaluation to be carried out and the analysis plan; and finally, discussing administrative aspects of the study such as safety management and regulatory issues. In this Pharmacist Professional Work Practice (PKPA), prospective pharmacists have the opportunity to create a study protocol related to mapping the temperature of packaging material rooms with the addition of AHU at PT Kalbio Global Medika. This special assignment aims to increase prospective pharmacists' understanding of creating temperature mapping study protocols. Making a study protocol is carried out by collecting information related to making a study protocol, and information related to thermal mapping, then compiling it into a study protocol that is in accordance with the format that has been determined at PT Kalbio Global Medika. Making a study protocol related to mapping the room temperature of packaging materials with the addition of AHU at PT Kalbio Global Medika can be carried out well.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2022
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Kartika Pratiwi
"Salah satu masalah paling utama bumi khususnya di perkotaan adalah meningkatnya suhu permukaan karena alih fungsi lahan vegetasi menjadi non-vegetasi. Terus berkembangnya Kota Semarang menjadi kota perdagangan dan kota jasa pariwisata menyebabkan peningkatan luas lahan terbangun dan penurunan luas area hijau.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan tutupan lahan di Kota Semarang tahun 2008-2018 menganalisis variasi Land Surface Temperature di Kota Semarang tahun 2008-2018 dan menganalisis korelasi antara Land Surface Temperature dengan tutupan lahan, Normalized Difference Vegetation Index, Normalized Difference Building Index dan Normalized Difference Water Index Kota Semarang tahun 2000-2018. Data yang digunakan adalah citra Landsat 5 dan Landsat 8 pada bulan kering.
Metode pada penelitian ini berupa Supervised Classification, LST, NDVI NDBI dan NDWI. Uji akurasi data tutupan lahan menggunakan Producer Accuracy, User Accuracy, Overall Accuracy dan Kappa Coefficient. Survei lapang dilakukan untuk melakukan validasi data tutupan lahan dan pengukuran suhu.
Hasil penelitian menunjukan bahwa tutupan lahan Kota Semarang dari tahun 2008, 2011, 2015 dan 2018 terus mengalami perubahan luas. Luas area terbangun di Kota Semarang terus meningkat diikuti dengan penurunan pada kelas tutupan lahan lainnya. Secara umum, LST Kota Semarang dari tahun 2008 hingga 2018 terus mengalami kenaikan. NDVI dan NDWI berkorelasi negatif dengan LST Kota Semarang sedangkan NDBI berkorelasi positif dengan LST Kota Semarang.

One of the most important problems of the earth, especially in urban areas, is rising surface temperatures due to conversion of vegetation land to non-vegetation. The continued development of the City of Semarang as a city of trade and tourism services city led to an increase in the area of ​​built land and a decrease in the area of ​​green areas.
This study aims to analyze changes in land cover in the city of Semarang in 2008-2018 to analyze variations in Land Surface Temperature in the City of Semarang in 2008-2018 and analyze the correlation between Land Surface Temperature and land cover, Normalized Difference Vegetation Index, Normalized Difference Building Index and Normalized Difference Semarang City Water Index 2000-2018. The data used are Landsat 5 and Landsat 8 images on dry months.
The method in this research is Supervised Classification, LST, NDVI NDBI and NDWI. Test the accuracy of land cover data using Producer Accuracy, User Accuracy, Overall Accuracy and Kappa Coefficient. A field survey was conducted to validate land cover data and temperature measurements.
The results showed that the Semarang City land cover from 2008, 2011, 2015 and 2018 continued to experience extensive changes. The area built up in the city of Semarang continues to increase followed by a decrease in other land cover classes. In general, Semarang City LST from 2008 to 2018 continues to increase. NDVI and NDWI are negatively correlated with LST Semarang while NDBI is positively correlated with LST Semarang.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Grace Wilmayanti
"Pedagang Besar Farmasi (PBF) adalah perusahaan berbentuk badan hukum yang memiliki izin untuk melakukan kegiatan pengadaan, penyimpanan, pendistribusian obat dalam jumlah besar sesuai ketentuan peraturan perundangundangan. Obat yang disimpan oleh PBF harus dipertahankan kestabilannya sebagai upaya menjaga khasiat, mutu, dan efikasi dari masing– masing obat. Sebelum digunakan, harus dilakukan pemetaan suhu awal terhadap fasilitas penyimpanan sesuai dengan prosedur tertulis untuk menentukan peletakkan alat pemantauan suhu. Kemudian pemetaan harus diulang sesuai dengan hasil kajian risiko. Peran Apoteker penting dalam merancang, mengevaluasi, dan mengekeskusi kegiatan pemetaan suhu ulang di suatu PBF. Proses pemetaan ulang suhu dimulai sejak tanggal 14 sampai 21 September 2023 terhadap ambient room (25°-30°C) Gudang PT Era Caring Indonesia. Data hasil pemetaan ulang suhu yang terekam kemudian dianalisis untuk menentukan suhu terendah, suhu tertinggi, dan ada tidaknya penyimpangan suhu. Rata-rata suhu harian pada masing-masing titik sudah memenuhi syarat suhu ambient room. Rata-rata suhu harian tertinggi pada titik DL-018, yaitu 26,2°C dan terendah pada titik DL-017, yaitu 25,2°C.

Pharmaceutical wholesalers are a legal company that have permits to carry out procurement, storage and distribution of medicines in large quantities in accordance with the provisions of statutory regulations. The stability of medicine products stored by pharmaceutical wholesalers must be maintained in an effort to maintain the efficacy, quality and efficacy of each medicine. Before use, initial temperature mapping of the storage facility must be carried out in accordance with written procedures for determining the placement of temperature monitoring equipment. Then the remapping activities must be practiced according to the results of the risk assessment. The pharmacist's role is important in designing, evaluating and executing temperature re-mapping activities at a PBF. The temperature remapping process starts from September 14th to 21st 2023 in the ambient room (25°-30°C) of the PT Era Caring Indonesia warehouse. The recorded temperature remapping data is then analyzed to determine the lowest temperature, highest temperature, and whether there are temperature deviations. The average daily temperature at each point meets the ambient room temperature requirements. The highest average daily temperature is at point DL-018, namely 26.2°C and the lowest is at point DL-017, namely 25.2°C.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Darsih Sarastri
"Distribusi produk obat dan alat kesehatan diatur dalam pedoman Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) dan Cara Distribusi Alat Kesehatan yang Baik (CDAKB) untuk memastikan mutu produk selama distribusi. Salah satu faktor yang mempengaruhi mutu produk yaitu suhu, khususnya untuk produk rantai dingin (cold chain product). Penelitian dilakukan untuk memantauan suhu chiller penyimpanan produk rantai dingin di PT Anugrah Argon Medica dengan tujuan memastikan kesesuaian suhu penyimpanan dan menentukan tindakan bila terdapat penyimpangan. Pemantauan dilakukan selama 7 hari menggunakan rekaman suhu pada data logger chiller penyimpanan produk obat rantai dingin (chiller 3) dan chiller penyimpanan produk alat kesehatan rantai dingin (chiller 7). Data yang diperoleh diolah menggunakan aplikasi T-Tec dan Microsoft Excel kemudian dianalisis sehingga diperoleh nilai MKT. Hasil pemantauan chiller 3 terdapat penyimpangan suhu di sensor maksimum hari ke-1 (8,5℃) dan hari ke-7 (8,32℃) karena pintu chiller terbuka terlalu lama saat operasional. Tindakan pencegahan dan tindakan perbaikan untuk chiller 3 yaitu memberikan sosialisasi kepada petugas gudang terkait durasi membuka chiller. Hasil nilai MKT chiller 3 sensor minimum sebesar 4,4960℃ dan sensor maksimum sebesar 6,7717℃. Hasil pemantauan suhu chiller 7 telah sesuai dengan persyaratan (2℃−8℃). Hasil nilai MKT pada chiller 7 sensor minimum sebesar 4,9755℃ dan sensor maksimum sebesar 5,0928℃.

The distribution of pharmaceutical products and medical devices is regulated by the Good Distribution Practice Guidelines for Pharmaceuticals (CDOB) and Good Distribution Practice Guidelines for Medical Devices (CDAKB) to ensure product quality during distribution. One of the factors influencing product quality is temperature, especially for cold chain products. Research was conducted to monitor the temperature of the cold chain product storage chiller at PT Anugrah Argon Medica to ensure storage temperature compliance and determine actions for deviations. Monitoring was conducted over 7 days using temperature recordings from the data logger of chiller 3 for pharmaceutical cold chain products and chiller 7 for medical device cold chain products. The data obtained were processed using T-Tec and Microsoft Excel applications, then analyzed to obtain the Mean Kinetic Temperature (MKT) values. The monitoring of chiller 3 revealed temperature deviations at the maximum sensor on day 1 (8.5°C) and day 7 (8.32°C) due to prolonged opening of the chiller door during operation. Preventive and corrective actions for chiller 3 included providing awareness training to warehouse personnel regarding the duration of chiller door openings. The MKT results for chiller 3 were a minimum sensor value of 4.4960°C and a maximum sensor value of 6.7717°C. The temperature monitoring of chiller 7 complied with requirements (2°C-8°C). The MKT results for chiller 7 were a minimum sensor value of 4.9755°C and a maximum sensor value of 5.0928°C.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>