Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 73998 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Besty Ryana
"[ABSTRAK
Ragam bahasa yang digunakan pada situs jejaring sosial Twitter disesuaikan dengan keadaan dan tujuan dari
masing-masing pengguna, baik individu maupun kelompok. Campur kode sering digunakan oleh pengguna
Twitter yang menguasai dua bahasa atau lebih. Penelitian ini membahas mengenai kata-kata bahasa Inggris yang
muncul dan penggunaannya pada Twitter @MEIDENmagazine. Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah deskriptif. Dari penelitian ini campur kode pada Twitter @MEIDENmagazine banyak ditemukan dalam
bentuk kata dan termasuk ke dalam kelas kata sifat, interjeksi dan nomina. Kata bahasa Inggris yang digunakan
kebanyakan digunakan di awal dan akhir kalimat.ABSTRACT Language variation used in social networking site Twitter is adapted based on the situation and purpose of each
user, whether it is individual or group. Code mixing is often used by twitter users who are fluent in two
languages or more. This research discusses the usage of English words on Twitter account @MEIDENmagazine
by using the descriptive method. In this study found that usage of code mixing are frequently apparent in
@MEIDENmagazine twitter in the form of words and classified as adjectives, interjections, and nouns. The
English words are used mostly in the beginning and end of sentences.;Language variation used in social networking site Twitter is adapted based on the situation and purpose of each
user, whether it is individual or group. Code mixing is often used by twitter users who are fluent in two
languages or more. This research discusses the usage of English words on Twitter account @MEIDENmagazine
by using the descriptive method. In this study found that usage of code mixing are frequently apparent in
@MEIDENmagazine twitter in the form of words and classified as adjectives, interjections, and nouns. The
English words are used mostly in the beginning and end of sentences., Language variation used in social networking site Twitter is adapted based on the situation and purpose of each
user, whether it is individual or group. Code mixing is often used by twitter users who are fluent in two
languages or more. This research discusses the usage of English words on Twitter account @MEIDENmagazine
by using the descriptive method. In this study found that usage of code mixing are frequently apparent in
@MEIDENmagazine twitter in the form of words and classified as adjectives, interjections, and nouns. The
English words are used mostly in the beginning and end of sentences.]"
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2015
MK-PDF
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Vinka Puspa Mulyadi
"Penelitian ini membahas fenomena campur kode pada lirik lagu di dalam album ‘One-reeler / Act IV’ oleh IZ*ONE. Campur kode dapat kita temui dengan mudah pada film, drama, komik, lirik lagu dan juga novel. Fenomena campur kode yang muncul biasanya percampuran antara bahasa asing seperti bahasa Inggris dengan bahasa Korea. Selain itu, campur kode juga sering digunakan oleh masyarakat multilingual dalam percakapan sehari-hari. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan penggunaan campur kode yang terdapat di lirik lagu pada album ‘One-Reeler / Act IV’ oleh IZ*ONE. Penelitian ini dirancang untuk menjawab pertanyaan penelitian yakni bagaimana wujud dan jenis campur kode yang terdapat pada lirik lagu dalam album One-Reeler / Act IV oleh IZ*ONE. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatifnyang bersifat deskriptif. Pada penelitian ini, peneliti menganalisis campur kode berdasarkan wujud dan jenisnya berdasarkan klasifikasi oleh Suwito (1983). Hasil analisis penelitian ini menunjukkan adanya kemunculan campur kode sebanyak 27 data dalam album One-Reeler / Act IV oleh IZ*ONE. Data tersebut dapat diklasifikasikan menjadi 11 data berwujud unsur kata, 6 data berwujud unsur frasa, 2 data berwujud unsur pengulangan kata dan 8 data berwujud klausa. Selain wujud campur kode, penelitian ini juga menunjukkan kemunculan jenis campur kode. Jenis campur kode yang ditemukan pada penelitian ini sebagian besar merupakan jenis campur kode keluar dan tidak ditemukan jenis campur kode ke dalam.

This research discusses the phenomenon ofncode-mixing in song lyrics on the album titled 'One-reeler / Act IV' by IZ*ONE. Code-mixing can easily be found in movies, dramas, comics, song lyrics and novels. Code-mixing phenomenon that usually appears is a mixture of foreign languages such as Korean and English. In addition, code- mixing is also often used by multilingual people in their daily conversations. This research aims to explain the use ofncode-mixing ofkthe song lyrics in the album 'One-Reeler / Act IV' by IZ*ONE. The purpose of this research is to find out how the form and type of code-mixing of the song lyrics in the album ‘One-Reeler / Act IV’ by IZ*ONE. This research is descriptive qualitative research with a qualitative descriptive approach. In this study, researcher analyzed the code-mixing based on the form and type with the classification by Suwito (1983). Based on the results, it can be concluded that there are 27 code-mixed data in the album 'One-Reeler / Act IV' by IZ*ONE. The data can be classified into 11 data in the form of word, 6 data in the form of phrases, 2 data in the form of repetition, and 8 data in the form of clauses. In addition, this study also shows the types of code-mixing. The types of code-mixing that is found in this study mostly the outer code-mixing."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2021
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Inta Putrinta
"[ABSTRAK
Sebuah penelitian menyebutkan bahwa hampir seluruh penduduk Belanda mampu berbicara setidaknya satu bahasa asing dengan baik. Salah satu faktor penyebabnya adalah pengajaran bahasa asing di sekolah. Situasi masyarakat Belanda yang bilingual tersebut memicu terjadinya alih kode. Fenomena alih kode tidak hanya ditemukan di kehidupan nyata tetapi juga dalam dunia maya. Penguasaan bahasa Inggris masyarakat Belanda yang cukup baik menyebabkan para penutur bahasa Belanda di Belanda beralih kode dari bahasa Belanda ke bahasa Inggris pada media sosial. Salah satu media sosial yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Belanda adalah Facebook. Jurnal ini membahas mengenai jenis alih kode dari bahasa Belanda ke bahasa Inggris dan sebaliknya pada lini masa Facebook penutur bahasa Belanda di Belanda serta alasan mereka beralih kode. Dalam penelitian ini digunakan teori dari Appel dan Muysken yang membagi jenis alih kode berdasarkan letak dan alasan beralih kode yang dibagi menurut fungsinya.ABSTRACT A research showed that almost all of Dutch population are capable of speaking at least one foreign language fluently. One of the driving factor is foreign language education at school. Dutch society bilingual situation triggers the occurance of code-switching. This linguistic phenomenon could be found both in real life and also online. Good English language proficiency of people in Netherlands cause Dutch speakers in The Netherlands switch codes from Dutch to English in social medias. One of the social media that are most-used by The People in Netherlands is Facebook. This journal examines types of code-switching from Dutch to English and vice versa on Facebook timeline of Dutch speakers in Netherlands as well as their motives behind such action. This research utilizes Appel and Muysken?s theories that divided types of code switching based on the position and the reason that are divided according to functions.;A research showed that almost all of Dutch population are capable of speaking at least one foreign language fluently. One of the driving factor is foreign language education at school. Dutch society bilingual situation triggers the occurance of code-switching. This linguistic phenomenon could be found both in real life and also online. Good English language proficiency of people in Netherlands cause Dutch speakers in The Netherlands switch codes from Dutch to English in social medias. One of the social media that are most-used by The People in Netherlands is Facebook. This journal examines types of code-switching from Dutch to English and vice versa on Facebook timeline of Dutch speakers in Netherlands as well as their motives behind such action. This research utilizes Appel and Muysken?s theories that divided types of code switching based on the position and the reason that are divided according to functions., A research showed that almost all of Dutch population are capable of speaking at least one foreign language fluently. One of the driving factor is foreign language education at school. Dutch society bilingual situation triggers the occurance of code-switching. This linguistic phenomenon could be found both in real life and also online. Good English language proficiency of people in Netherlands cause Dutch speakers in The Netherlands switch codes from Dutch to English in social medias. One of the social media that are most-used by The People in Netherlands is Facebook. This journal examines types of code-switching from Dutch to English and vice versa on Facebook timeline of Dutch speakers in Netherlands as well as their motives behind such action. This research utilizes Appel and Muysken’s theories that divided types of code switching based on the position and the reason that are divided according to functions.]"
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2015
MK-PDF
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Napitupulu, Jason Philip
"Artikel ini berisikan hasil penelitian ciri-ciri leksikal, morfologis, dan sintaktis surat-surat yang terkandung dalam surat-surat yang terkandung dalam PCEEC (Parsed Corpus of Early English Correspondence) yang ditujukan pada dua raja Inggris, yakni Henry VIII dan James I. Penelitian bertujuan untuk menjabarkan variasi dalam ciri-ciri yang disebutkan diatas baik secara intra-korpus maupun ekstra-korpus, dan mengetahui sejauh mana ciri-ciri tersebut dipengaruhi oleh latar belakang sosiolinguistik para pengirim, dengan menggunakan nilai-nilai kuantitatif (frekuensi dan rasio). Sarana yang digunakan antara lain daftar frekuensi kata, daftar konkordasi, dan koefisien korelasi point-biserial (PBC atau r). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan dari segi leksikal dan morfologis antara surat yang ditujukan pada Henry VIII dan James I. Meskipun terdapat ciri-ciri tertentu yang lebih mencolok pada individu dan kelompok sosiolinguistik pengirim tertentu, pengaruh parameter sosiolinguistik, yakni gender, status sosial, dan hubungan kekerabatan dengan kedua raja, dalam memengaruhi ciri bahasa dalam surat-surat yang bersangkutan tidak sekuat pengaruh dari penerima (Henry VIII atau James I). Parameter-parameter lainnya yang tidak diperhitungkan dalam studi ini (usia, konten/genre, variasi topolektal, dll.) mungkin bisa dimuat dalam obyek penelitian yang mendatang.

The paper investigates certain lexical, morphological, and syntactical features of letters within the PCEEC (Parsed Corpus of Early English Correspondence) addressed to two Kings of England: Henry VIII and James I. It aims to ascertain differences in the aforementioned features within and outside the corpus (employing the whole PCEEC as comparand), and the extent to which these features are influenced by the sociolinguistic backgrounds of the letter's senders by the use of quantifiable measures (frequencies and ratios). Tools employed include word- frequency lists, concordance lists and the Point-Biserial Correlation Coefficient (PBC or r), an objective measure of correlation. Findings reveal differences in both lexical and morphological features within letters sent to Henry VIII and James I. Although certain isolated features are more prevalent among some senders and sociolinguistic categories within the corpus, sociolinguistic parameters, in particular gender, social status, and familial relations with the Kings (or absence thereof), play a less decisive role in shaping the language of the letters. Future studies might be able to take into account other parameters not accounted for in this study (age, content/genre, topolectal variation, etc.)"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2023
MK-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Amalia Rahma Dewi
"Campur kode merupakan fenomena menggunakan lebih dari satu bahasa untuk berkomunikasi dalam masyarakat. Penggunaan campur kode juga dapat ditemukan dalam berbagai media, salah satunya melalui film Mencuri Raden Saleh karya Angga Dwimas Sasongko dan Nussa karya Bony Wirasmono. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan bentuk campur kode, jenis campur kode, dan faktor penggunaan campur kode yang dituturkan oleh orang dewasa dalam film Mencuri Raden Saleh dan anak-anak dalam film Nussa. Analisis dilakukan dengan pendekatan sosiolinguistik dengan teori bentuk campur kode berdasarkan bentuk dan jenisnya yang dikemukakan oleh Suwito (1983), serta teori faktor terjadinya campur kode yang dikemukakan oleh Suandi (2014). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan bentuknya, film Mencuri Raden Saleh memiliki lima bentuk campur kode, yaitu kata, frasa, klausa, baster, serta ungkapan atau idiom, sedangkan film Nussa memiliki empat bentuk campur kode yaitu, kata, frasa, klausa, dan baster. Berdasarkan jenisnya, film Mencuri Raden Saleh hanya menggunakan satu jenis, yaitu campur kode ke luar, sedangkan film Nussa menggunakan dua jenis, yaitu campur kode ke luar serta campur kode ke dalam. Berdasarkan faktor penggunaan campur kode, film Mencuri Raden Saleh memiliki tujuh faktor, yaitu keterbatasan penggunaan kode, adanya penggunaan kosakata lain yang lebih populer, latar belakang budaya dan kepribadian penutur, mitra bicara, topik pembicaraan, pokok pembicaraan, dan modus pembicaraan, sedangkan film Nussa memiliki empat faktor, yaitu latar belakang budaya dan kepribadian penutur, mitra bicara, pokok pembicaraan, dan modus pembicaraan.

Code mixing is a phenomenon of using more than one language to communicate in society. The use of code mixing can also be found in various media, one of which is film Mencuri Raden Saleh by Angga Dwimas Sasongko and Nussa by Bony Wirasmono. This study aims to compare the forms of code mixing, the types of code mixing, and the factors of using code mixing spoken by adults in film Mencuri Raden Saleh and children in film Nussa. The analysis was carried out using a sociolinguistic approach with the theory of code-mixing forms based on their forms and types put forward by Suwito (1983), as well as the theory of occurrence factors of code-mixing put forward by Suandi (2014). The method used in this research is descriptive qualitative. The search shows that based on the form, film Mencuri Raden Saleh has five forms of code mixing, namely words, phrases, clauses, basters, and expressions or idioms, while film Nussa has four forms of code mixing, namely words, phrases, clauses, and basters. Based on its type, film Mencuri Raden Saleh uses only one type, namely outer code-mixing, while film Nussa uses two types, namely outer code-mixing and inner code-mixing. Based on the use of code-mixing, film Mencuri Raden Saleh has seven factors, namely the limited use of the code, the use of other more popular vocabulary, the cultural background and personality of the speaker, the interlocutor, the topic of conversation, the subject matter, and the mode of conversation, while film Nussa has four factors, namely the cultural background and personality of the speaker, the addressee, the subject matter, and the mode of conversation"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2023
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Gamma Maulana Akbar
"Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan bahasa dalam iklan E-commerce XYZ di media sosial. Ragam bahasa menjadi menarik dibahas karena penggunannya selaras dengan implementasi dari strategi pemasaran. Ragam bahasa pada iklan E-commerce XYZ dipilih sebagai sumber utama data karena ditemukan beberapa keunikan penggunaan ragam bahasa yang biasanya digunakan pada iklan aplikasi e-commerce. Metode analisis yang digunakan adalah metode kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkaan adanya kecenderungan yang biasa ditemukan dalam iklan-iklan e-commerce  yang berbasis tulisan, seperti penggunaan bahasa baku dan tidak baku, penggunaan ragam bahasa persuasif, dan penggunaan ragam bahasa deskriptif. Selain itu, ditemukan pula kecenderungan pengguaan ragam bahasa deskriptif dan bahasa tidak baku pada iklan-iklan E-commerce XYZ di media sosial.

This research aims to analyze the language usage in E-commerce XYZ advertisements on social media. The variety of language is intriguing to discuss because its use aligns with the implementation of marketing strategies. The language used in E-commerce XYZ ads was chosen as the primary data source due to the unique language usage identified, which typically occurs in e-commerce application advertisements. The qualitative analysis method was employed in this research. The results indicate common trends found in text-based e-commerce ads, such as the use of formal and informal language, persuasive language variations, and descriptive language variations. Additionally, a tendency was found towards the use of descriptive language and informal language in E-commerce XYZ ads on social media."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2024
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Sri Suryani
"Kontak bahasa memungkinkan terjadinya pembelajaran bahasa kedua. Perbedaan sistem bahasa pertama dengan bahasa kedua menimbulkan penyimpangan-penyimpangan kaidah_kaidah bahasa kedua, yang disebut interferensi. Penelitian ini merupakan studi kasus yang membahas permasalahan interferensi dalam pembelajaran bahasa kedua, khususnya Bahasa Jawa sebagai bahasa kedua. Data_data diperoleh dari kelas Penguasaan Bahasa Jawa IV sesi diskusi. Kerangka pikir dalam penelitian ini dilandasi oleh pendapat Weinreich (1979: 4 dan 64_65) yang menjelaskan pengertian interferensi dan jenis_jenis interferensi dalam pembelajaran bahasa kedua; Corder dalam Pateda (1989: 32) yang memberikan pengertian mengenai kesalahan kompetensi; Dulay, et al. (1982: 96) yang mengklasifikasikan kesalahan dalam pembelajaran bahasa kedua ke dalam taksonomi kesalahan berbahasa; serta Selinker (1985: 67) dan Richards (1974: 174) yang menjelaskan penyebab terjadinya interferensi pada pembelajaran bahasa kedua. Dengan kerangka pikir yang dilandasi kerangka teori di atas, tujuan penelitian ini, yakni mendeskripsikan jenis_jenis interferensi dan menemukan penyebab terjadinya interferensi dalam pembelajaran Bahasa Jawa sebagai bahasa kedua, serta memberikan sedikit kontribusi bagi pengajaran Bahasa Jawa di lingkungan Program Studi Jawa, dapat terpenuhi. Penelitian ini menunjukkan bahwa jenis interferensi yang paling dominan dalam pembelajaran Bahasa Jawa sebagai bahasa kedua adalah interferensi leksikal. Interferensi ini diwujudkan dalam modifikasi kata yang dilakukan pembelajar, sebagai strategi karena keterbatasan kompetensi mereka."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2007
S11677
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sekar Sejati Chrisalit
"Sebagaimana manusia belajar dan menggunakan bahasa lain selain bahasa ibu mereka, pencampuran bahasabahasa tersebut dalam satu ucapan sangat mungkin terjadi. Campur kode ini terjadi tidak hanya dalam ucapan lisan, tetapi juga dalam ucapan tertulis. Dewasa ini, ucapan tertulis populer dalam bentuk komunikasi dengan media komputer (CMC). Twitter sebagai salah satu sarana populer CMC juga menangkap gejala ini dan membuatnya menjadi lebih jelas.
Ada dua hal utama yang akan dibahas dalam makalah ini. Pertama adalah bagaimana campur kode dilakukan di Twitter. Hal ini berhubungan dengan proses campur kode dan hasilnya. Kedua adalah mengapa campur kode dilakukan. Hal ini berkaitan dengan faktor-faktor yang memotivasi orang-orang untuk melakukan campur kode. Subjek dari penelitian ini adalah mahasiswa program studi Inggris Universitas Indonesia yang seringkali melakukan campur kode dalam Bahasa Inggris dan Indonesia di Twitter.
Mereka terbiasa dengan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua, tetapi mereka tidak menggunakan Bahasa Inggris sebanyak dan sekonstan Bahasa Indonesia. Dengan menggunakan teori proses campur kode Muysken dan teori dari beberapa ahli mengenai motivasi campur kode, makalah ini berusaha untuk menyoroti gejala campur kode pada masyarakat non-bilingual.

As people learning and using languages other than their native language, it is possible that they mix the languages into one utterance. Not only does this code mixing happen in the spoken utterance, but also in the written utterance. Nowadays, the written utterance is popular in form of Computer Mediated Communication (CMC). Twitter as one of some popular means of CMC also captures this phenomenon and makes it more obvious.
There are two major points that this essay tries to make. First is how code mixing is done on Twitter. It is related to the process of code mixing and the result of it. Second is why code mixing is done. It is related to the factors that motivate people to do code mixing. The participants of this research are the students of English Studies of Universitas Indonesia that sometimes mix their utterances on Twitter using English and Bahasa Indonesia.
They are familiar to English as the second language, but they do not use it as much as Bahasa Indonesia. Applying Muysken's three processes of code mixing and based on some experts theories on motivations of code mixing, this essay attempts to highlight the code mixing phenomenon among non-bilingual people.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2014
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Shastia Chita Adedisza
"Campur kode adalah fenomena bahasa ketika terdapat penggunaan lebih dari satu bahasa dalam suatu tuturan atau wacana. Fenomena campur kode dapat ditemukan dalam wacana lisan dan tulis. Penggunaan campur kode dalam data tertulis banyak terdapat dalam karya fan fiksi alternate universe (AU) di Twitter. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dan mendeskripsikan bentuk dan jenis campur kode yang terdapat dalam AU. Data bersumber dari kumpulan AU karya akun Twitter @NAAMER1CANØ. Karya yang digunakan adalah AU dari cerita Jagat & Sodkat periode Agustus 2022, yaitu (1) “Dipertemukan pendidikan, disatukan kesalahpahaman, namun harus dipisahkan oleh masa depan”; (2) “Saya bukan Jagat yang dulu”; dan (3) “Belajar Gitar”. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan berlandaskan teori campur kode. Berdasarkan penelitian, didapatkan hasil berupa campur kode berbentuk kata, frasa, klausa, baster, reduplikasi kata, dan idiom. Selain itu, ditemukan 3 jenis campur kode, yaitu campur kode ke dalam, campur kode ke luar, dan campur kode campuran.

Code-mixing is a language phenomenon when there is the use of more than one language in an utterance or discourse. The phenomenon of code-mixing can be found in spoken and written discourse. There are many uses of code-mixing in written data, one of which is in the work of alternate universe fan fiction (AU) on Twitter. This study aims to explain and describe the form and type of code-mixing contained in AU. The data comes from a collection of AUs by the Twitter account @NAAMER1CANØ. The works used are AUs from the Jagat & Sodkat story in the August 2022 period, namely (1) “Dipertemukan pendidikan, disatukan kesalahpahaman, namun harus dipisahkan oleh masa depan”; (2) “Saya bukan Jagat yang dulu”; and (3) “Belajar Gitar”. This research uses descriptive qualitative method based on the theory of code-mixing. Based on the research, the results obtained in the form of code- mixing in the form of words, phrases, clauses, baster, word reduplication, and idioms. In addition, 3 types of code-mixing were found, namely inner code-mixing, outer code-mixing, and hybrid code-mixing."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2023
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>