Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 53862 dokumen yang sesuai dengan query
cover
cover
Ipak Ridmah Rikenawaty
"ABSTRAK
Osteoporosis secara seluler terjadi karena jumlah sel osteoklas melebihi
jumlah sel osteoblas. Osteoklastogenesis dapat terjadi akibat defisiensi estrogen
yang menyebabkan meningkatnya umur osteoklas dan memperpendek umur
osteoblas. Leunca memiliki kandungan Isoflavon, yang merupakan fitoestrogen
mayor yang memiliki struktur kimia yang sama dengan 17β-estradiol, sehingga
dapat dipakai sebagai bahan estrogen alami. Penelitian ini menilai apakah ekstrak
etanol 96% leunca memiliki kemampuan dalam menghambat osteoklastogenesis
secara invitro pada sel RAW 264.
Pengujian MTT dilakukan untuk menilai hambatan proliferasi sel RAW 264 dan
uji antiosteoklastogenesis dilakukan dengan pewarnaan TRAP pada sel RAW 264
yang diinduksi dengan RANK-L. Pada pengujian MTT dengan inkubasi 48 jam
viabilitas sel terlihat baik pada konsentrasi 3,125 μg/ml dan 6,25 μg/ml. Hasil
pengujian antiosteoklastogenesis terlihat penekanan osteoklas pada sel RAW 264
terbaik pada konsentrasi 3,125 μg/ml.

ABSTRACT
Cellulary, osteoporosis occurs because the scale of osteoclasts is higher than
osteoblasts. Osteoclastogenesis may occur as a result of estrogen deficiency
therefore it may lead to the increased age of osteoclasts as well as shortening the
lifespan of osteoblast. It resulting a negative balance of a bone. Leunca (Solanum
nigrum) is a plant-terungan which has a high content of isoflavones. Isoflavones
Phytoestrogens itself is a mayor Fitoestrogen that has a similar chemical structure
to 17β-estradiol, so it can be used as the most potent natural estrogen. The study
was conducted to assess whether the 96% ethanol extract of Leunca (Solanum
nigrum) has the ability to inhibit osteoclastogenesis in vitro in RAW 264 cells.
The MTT assay was performed to assess the proliferation resistance of RAW 264
cells meanwhile the antiosteoklastogenesis assay was conducted by staining
TRAP in RAW 264 cells induced by RANK-L. The results of MTT assay at 48
hours incubation showed distinct cell viability at 3,125 μg/ml dan 6,25 μg/ml
concentration. The result of antiosteoclastogenesis assay showed distinct
osteoclast inhibition on RAW 264 cells at 3,125 μg/ml concentration."
2012
T30866
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Ratna Asih SR
"Osteoporosis adalah kerapuhan tulang akibat menurunnya massa dan kemunduran mikroarsitek jaringan tulang. Secara seluler terjadi karena jumlah sel osteoklas melebihi jumlah sel osteoblas. Fungsi dari sel osteoklas dan osteoblas sangat dipengaruhi oleh hormon estrogen. Kacang panjang (Vigna unguiculata (L) Walp) adalah salah satu jenis tanaman yang diketahui mengandung senyawa fitoestrogen, yaitu senyawa dalam tanaman yang bersifat estrogenik (menyerupai estrogen). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan ekstrak etanol 96 % kacang panjang dalam menghambat osteoklastogenesis tetapi tidak menghambat proliferasi sel RAW 264 in vitro. Uji hambatan proliferasi dilakukan dengan teknik MTT assay dan uji antiosteoklastogenesis dilakukan dengan pewarnaan TRAP ( Tartrat Resistance Acid Phosphatase).
Hasil MTT assay pada inkubasi 48 jam menunjukkan proliferasi sel yang berbeda bermakna secara statistik (p< 0.05). Pemberian ekstrak etanol kacang panjang dengan konsentrasi 25, 50 dan 200 µg/mL proliferasi lebih tinggi dibanding kontrol dan konsentrasi 800 µg/mL proliferasi lebih rendah dibanding kontrol. Hasil uji antiosteoklastogenesis menunjukan konsentrasi 25 µg/mL maksimal menghambat osteoklastogenesis sel RAW 264 secara signifikan ( p< 0.05) tetapi tidak mengganggu proliferasinya dan justru meningkatkan proliferasi sel RAW 264 setelah 48 jam. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol 96 % kacang panjang berpotensi untuk dikembangkan sebagai agen anti osteoporosis.

Osteoporosis is bone fragility which is caused by reduction of the bone mineral density and microarchitecture deteriorates. At the cellular level, this occurred due to the higher level of osteoclast cells compared to osteoblast cells. The role of osteoclast and osteoblast cells is greatly influenced by estrtogen hormone. Long bean (Vigna unguiculata (L) walp) is one type of plants that contains fitoestrogen compound, the plant compound that is estrogenic (imitation of estrogen). The study aims to find the ability of long bean in antiosteoclastogenesis retardation, but not in in vitro proliferation of RAW 264 cells. Proliferation resistance test was done by using MTT assay technique and antiosteoclastogenesis test was done by TRAP staining (Tartrat Resistance Acid Phospatase).
The result of MTT assay after 48 hours incubation shown statistically significant difference (p< 0,05) in cell proliferation. Addition of long bean ethanol extract with a concentration of 25, 50 and 200 µg/mL showed higher proliferation than control and proliferation at 800 µg/mL concentration is lesser than control. The result of antiosteoclastogenesis test shown that at a maximum concentration of 25 µg/mL significantly hampers (p< 0,05) osteoclastogenesis of RAW 264 cells but does not interfere with the proliferation but increases proliferation of RAW 264 cells after 48 hours. Therefore, it can be concluded that ethanol extract of long beans has the potential to be developed as anti-osteoporosis agent."
Depok: Universitas Indonesia, 2012
T31157
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Evan Febriansyah
"Jamur tiram putih Pleurotus ostreatus merupakan salah satu jenis jamur yang paling banyak dibudidayakan di dunia. Nutrien yang tersedia di dalam media tanam merupakan faktor yang mempengaruhi terhadap pertumbuhan jamur. Penelitian bertujuan untuk mengisolasi bakteri pemicu pertumbuhan jamur dan meneliti pengaruhnya dalam pertumbuhan miselia jamur dan mempelajari pengaruhnya terhadap pertumbuhan tubuh buah jamur pada konsentrasi berbeda 50 dan 75 . Sembilan belas bakteri diisolasi dari media tanam jamur tiram putih dan diamati pengaruhnya terhadap pertumbuhan miselia jamur tiram putih. Tiga isolat bakteri dengan hasil pertumbuhan miselia terbaik kemudian diidentifikasi berdasarkan sekuensing 16S rRNA dan konstruksi pohon filogenetik dilakukan dengan metode neighbor-joining menggunakan aplikasi MEGA versi 6.06 dengan 1000x bootstraps.
Berdasarkan pertumbuhan miselia pada media PDA, terlihat bahwa terdapat perbedaan antar perlakuan dalam jumlah hari yang dibutuhkan bagi miselia untuk tumbuh memenuhi cawan petri 3 hari lebih cepat dibanding kontrol dan diidentifikasi sebagai Bacillus cereus strain ATCC 14579, Bacillus aryabhattai strain B8W22 dan Acinetobacter pittii strain ATCC 19004. Terjadi peningkatan kecepatan tumbuh miselia, jumlah tubuh buah, panjang tangkai, dan berat basah tubuh buah jamur tiram putih terhadap penambahan ekstrak B. aryabhattai pada media tanam. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan ekstrak isolat bakteri memiliki efek menguntungkan bagi pertumbuhan jamur.

White oyster mushroom Pleurotus ostreatus is one of the most widely cultivated mushrooms in the world. Nutrients available in the growth medium are factors that affect the growth of fungi. The study aimed to isolate the bacteria that promote the growth of the mushroom and studied its effect in mycelial growth and studied its effect on the growth of mushroom fruit body at different concentrations 50 and 75 . Nineteen bacteria were isolated from the white oyster mushroom growth media and its effect on the growth of mycelia of white oyster mushrooms was observed. Three isolates of bacteria with the best results on mycelia growth then identified based on 16S rRNA sequencing and phylogenetic tree construction performed by neighbor joining method using MEGA version 6.06 application with 1000x bootstraps.
Based on mycelial growth on PDA media, it was seen that there was a difference between treatments in the number of days required for mycelia to grow to fill the petri dish 3 days earlier than control and identified as Bacillus cereus strain ATCC 14579, Bacillus aryabhattai strain B8W22 and Acinetobacter pittii strain ATCC 19004. There is an increase in the growth rate of mycelia, the number of fruit body, the length of the stalk, and the fresh weight of the fruit body of white oyster mushroom by the addition of B. aryabhattai extract on growth medium. The results of this study indicate that the addition of bacterial isolate extracts has a beneficial effect on the mushroom growth.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2018
T49380
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Bintang Pertiwi Putri Rahayu
"Selenium merupakan mikronutien yang penting dibutuhkan tubuh bagi pertumbuhan dan perkembangan, dan banyak digunakan dalam bidang kesehatan. Selenium diperlukan untuk mencegah kerusakan sel dalam tubuh dengan cara melindungi sel-sel jaringan tubuh, menangkal radikal bebas dan bersama-sama dengan vitamin E sebagai antioksidan. Penelitian sebelumnya dilakukan di Laboratorim Biologi LIPI Cibinong, penambahan selenium pada media tanam P. ostreatus sebanyak 25 ppm menghasilkan peningkatan kandungan selenium pada tubuh buah tetapi masih jauh dari kebutuhan tubuh manusia 60 mdash;70 g/hari pada orang dewasa.
Penelitian bertujuan untuk menganalisis penambahkan senyawa selenium ke dalam media tanam P. ostreatus sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan kandungan selenium dalam tubuh buah jamur, dan menganalisis apakah penambahan selenium dapat meningkatkan aktivitas antioksidan pada tubuh buah jamur. Penambahan konsentrasi selenium pada media tanam menggunakan beberapa konsentrasi berbeda yaitu 0, 50, 75, dan 100 ppm.
Metode yang digunakan pada penelitian untuk melihat hasil produktivitas yaitu dengan menganalisis berat basah, panjang tangkai, diameter tudung, dan untuk menganalisis kandungan selenium pada tubuh buah yaitu dengan menggunakan teknik spektrofotometer serapan atom AAS. Sedangkan untuk menganalisis aktivitas antioksidan yaitu dengan metode ?-carotene bleaching BCB.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas P. ostreatus mengalami peningkatan setelah dilakukan penambahan konsentrasi berbeda pada media tanam, dianalisis pada hasil berat besar tertinggi tubuh buah diperoleh dengan berat 80,00 6,35 g, diameter tertinggi tubuh buah diperoleh sebesar 10,56 0,43 cm, kandungan selenium pada tubuh buah P. ostreatus mengalami peningkatan setiap penambahan konsentrasi selenium semakin tinggi 100 ppm yaitu sebesar 22,19 ppm, dan nilai aktivitas antioksidan tertinggi setelah penambahan Se pada media tanam yaitu pada perlakuan penambahan Se 50 ppm yaitu sebesar 2,13 0,77 p

Selenium is an essential micronutrient which is needed for the body growth and development, and is much used in the health care. Selenium prevents cells damage in the body by protecting the tissues work together with vitamin E as the antioxidant to counteract free radicals. The previous research was conducted in Biology Laboratory of LIPI Cibinong, showed an increase of selenium level in P. ostreatus fruit body after 25 ppm selenium addition in its cultivation medium, but it was still inadequate for human body needs, particularly in adults 60 mdash 70 mg day.
The aim of the study was analysis of selenium compound addition into the P. ostreatus culture medium could increase selenium levels, the productivity and antioxidant activity in mushrooms fruit bodies. The addition of selenium concentration in the growing media applied some different concentrations, namely 0, 50, 75 and 100 ppm.
The method applied in this research was finding out the productivity by analyzing wet weight, stem length, cup diameter, and selenium content in the fruit body by applying atomic absorption spectrophotometric technique AAS . To analyze antioxidant activity, however, was to apply carotene bleaching BCB.
The results showed that the productivity of pleurotus ostreatus increased after conducting some additions of different concentrations on the growing media, which was analyzed as a result of the highest heavy weight of fuit body which was obtained as much as 80,00 6,35 g, the highest diameter of fruit body was obtained as much as 10,56 0,43 cm, the content of selenium in the fruit body of pleurotus ostreatus increased more 100 ppm, namely as much as 22,19 ppm, and the highest value of antioxidant activity after adding selenium on the growing media, as well as additional treatment of 50 ppm selenium, namely as much as 2,13 0,77 p
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2018
T49385
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Reihana Nadia Sabrina
"Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) merupakan jamur tingkat tinggi yang mengandung komponen nutrisi dan berkhasiat obat. Jamur tersebut mengandung polisakarida dengan β-glukan sebagai salah satu komponen utama. Beta-glukan memiliki potensi sebagai imunomodulator. Penelitian mengenai efek imunomodulator yang menggunakan miselium P. ostreatus sudah pernah dilakukan, tetapi belum ada penelitian yang menggunakan tubuh buah P. ostreatus yang telah diketahui mengandung lebih banyak β-glukan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh ekstrak kasar polisakarida tubuh buah P. ostreatus dengan konsentrasi 25, 50, 100, dan 200 μg/mL terhadap viabilitas sel RAW 264.7 dengan metode trypan blue dan peningkatan aktivitas fagositosis sel RAW 264.7 dengan metode neutral red. Hasil analisis statistik dengan tingkat kepercayaan 0,05 menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan pada viabilitas sel RAW 264.7 dari semua sampel dan aktivitas fagositosis sel RAW 264.7 menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan pada nilai rata-rata persentase aktivitas fagositosis pada semua sampel. Namun, berdasarkan hasil perhitungan persentase, aktivitas fagositosis sel RAW 264.7 cenderung meningkat pada ekstrak kasar polisakarida P. ostreatus konsentrasi 50 μg/mL. Penelitian yang dilakukan memperoleh hasil bahwa ekstrak kasar polisakarida jamur P. ostreatus (25, 50, 100, dan 200 μg/mL) tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap viabilitas sel RAW 264.7 dan tidak meningkatkan aktivitas fagositosis pada sel RAW 264.7 secara dose-dependent. Namun, konsentrasi 50 μg/mL cenderung menjadi konsentrasi optimum dalam meningkatkan aktivitas fagositosis sel RAW 264.7.

White oyster mushroom (Pleurotus ostreatus) is a high-level mushroom that contains nutritional components and medicinal properties. These mushrooms contain polysaccharides with β-glucan as one of the main components. Beta-glucan has potential as an immunomodulator. Research on the immunomodulatory effects using P. ostreatus mycelium has been carried out, but there has been no research using P. ostreatus fruit bodies which are known to contain more β-glucan. The aim of this research was to determine the effect of crude polysaccharide extract of P. ostreatus fruit bodies with concentrations of 25, 50, 100, and 200 μg/mL on the viability of RAW 264.7 cells using the trypan blue method and increasing the phagocytic activity of RAW 264.7 cells using the neutral red method. The results of statistical analysis with a confidence level of 0.05 showed that there was no significant difference in the viability of RAW 264.7 cells from all samples and the phagocytic activity of RAW 264.7 cells showed that there was no significant difference in the average value of the percentage of phagocytic activity in all samples. However, based on the percentage calculation results, the phagocytic activity of RAW 264.7 cells tended to increase in the crude polysaccharide extract of P. ostreatus at a concentration of 50 μg/mL. Research carried out showed that crude polysaccharide extract of P. ostreatus fungus (25, 50, 100, and 200 μg/mL) did not have a significant effect on the viability of RAW 264.7 cells and did not increase the phagocytic activity of RAW 264.7 cells in a dose-dependent manner. However, a concentration of 50 μg/mL tends to be optimum concentration in increasing the phagocytic activity of RAW 264.7 cells."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ida Susanti
"Pendahuluan: Prevalensi penyakit kanker payudara di Indonesia terus meningkat. Keberhasilan terapi kanker saat ini tidak lepas dari efek samping serta biaya yang tinggi, sehingga mendorong eksplorasi bahan alam yang berpotensi antikanker. β-glukan dari jamur tiram (Pleurotus ostreatus) berpotensi sebagai anti kanker melalui sifatnya sebagai imunostimulator. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis aktivitas imunostimulasi dan anti proliferasi β-glukan pada tikus Sprague-Dawley yang diinduksi kanker payudara dengan DMBA.
Metode: Tikus dibagi dalam 7 kelompok yang terdiri atas kelompok normal (5 ekor) dan 6 kelompok perlakuan yang diinduksi DMBA (8 ekor per kelompok). Kelompok perlakuan terdiri atas kelompok DMBA, kelompok DMBA dengan β-glukan yang diberikan secara preventif dosis 0,25 g/kg BB (P 0,25) dan 1 g/kg BB (P 1,00) selama 28 minggu dan sebagai adjuvan bersama dengan Doxorubicin (10 μg/kg BB) dengan 2 dosis yang sama (A 0,25 dan A 1,00), β-glukan diberikan selama 30 hari. Induksi tumor dilakukan dengan pemberian DMBA per oral dengan dosis 20 mg/kg BB, selama 3 minggu (2x/minggu, total 5x).
Hasil: Pemberian β-glukan secara preventif cenderung menurunkan insidensi tumor sebesar 37,5% (P 0,25) dan 50 % (P 1,00) dibandingkan kontrol karsinogen DMBA (87,5 %). Volume total tumor terendah didapatkan pada kelompok P 0,25 (5,3 cm3), sedangkan jumlah total tumor terendah pada kelompok P 1,00 (5 nodul). Penurunan volume total dan jumlah total tumor juga tampak pada kelompok adjuvan. Kelompok A 0,25 memiliki volume total tumor (6,5 cm3) dan jumlah total tumor (8 nodul) terendah. Pemberian β-glukan secara preventif tampaknya memicu pelepasan TNF-α yang diikuti oleh NO dan memberikan hambatan karsinogenesis sehingga menurunkan volume dan jumlah total tumor. Terdapat gambaran Ductal Carcinoma Invasive (DCIV) pada semua kelompok perlakuan dengan rerata skor dan gradasi yang bervariasi, dimana kelompok P 0,25 memiliki rerata skor terendah (2,4). Pemberian β-glukan menghambat proliferasi sel tumor secara bermakna, dengan indeks AgNOR yang terendah pada P 0,25 (1,4 ; p < 0,05), dan A 0,25 (1,6; p <0,05). Ekspresi CD8+ pada kelompok β-glukan lebih rendah daripada kelompok DMBA.
Simpulan: β-glukan yang diberikan secara preventif memediasi respon imun antitumor yang diperantarai oleh TNF-α dan NO.

Introduction: The prevalence of breast cancer in Indonesia continues to increase. Since current therapy of cancer is accompanied by the presesnce of side effects and high costs, exploration of potentially natural anticancer material needs to be encouraged. β-glucan from oyster mushroom (Pleurotus ostreatus) have potency as anti-cancer through its nature as an immunostimulatory. The purpose of this study is to analyze the activity of immunostimulation and anti-proliferation of β- glucan in Sprague-Dawley rats induced breast cancer with DMBA.
Methods: Rats were divided into 7 groups: i.e. 1 group of normal/control (5 rats) and 6 groups of DMBA-induced treatment (8 rats each). The treatment group consisted of DMBA and DMBA groups with β-glucan fed, which were given as preventive at dose of 0.25 g/kg-body weight (P 0.25) and 1 g/kg-body weight (P 1.00) everyday for 28 weeks and as adjuvant with doxorubicin (10 μg/kgbody weight) at the same dose (A 0.25 and A 1.00) everyday for 30 days. Cancer induction was conducted by giving DMBA orally at a dose of 20 mg/kgbody weight, for 3 weeks (twice a week, totally 5 times).
Results: The result showed decreasing tendency in the incidence of tumors in group P, i.e. 37.5% (P 0.25) and 50% (P 1.00), in comparison with DMBA (87.5%). The lowest total tumor volume was found in group P 0.25 (5.3 cm3), while the lowest total number of tumors were in group P 1.00 (5 nodules). A decrease in the total volume and the total number of tumors was also seen in the adjuvant group. Group A 0.25 has total tumor volume (6.5 cm3) and the total number of tumors (8 nodules) the lowest. Administration of β-glucan preventively seem to trigger the release of TNF-α followed by NO and inhibit carcinogenesis resulting in lower volume and the total number of tumors. Invasive Ductal Carcinoma (DCIV) were found in all treatment groups with varied mean score and gradation, where in group P 0.25 had the lowest mean score (2.4). Administration of β-glucan inhibits tumor cell proliferation significantly, with a low AgNOR index at P 0.25 (1.4; p <0.05), and A 0.25 (1.6; p <0.05). Expression of CD8+ in the group of β-glucans were lower than DMBA group.
Conclusion: β-glucan given preventively could favorably modify antitumor immune response mediated by TNF-α and NO."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015
D-Pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nisrina Nurfitri
"Pleurotus ostreatus merupakan jamur pangan yang menggunakan substrat lignoselulosa, sehingga jamur ini mampu mensekresi enzim lignoselulase. Produksi enzim lignoselulase pada P. ostreatus InaCC F209, F216, dan LIPI selama 70 hari pertumbuhan dan hubungan enzim tersebut dengan produksi tubuh buah selama 95 hari pengamatan diamati dan dibandingkan. Supernatan yang diekstrak dari media budidaya digunakan untuk memperkirakan gula reduksi, protein terlarut, dan aktivitas enzim. Hasil penelitian menunjukkan lakase, LiP, dan MnP lebih tinggi ketika ketiga galur P. ostreatus berada dalam fase vegetatif (masa pertumbuhan miselium), sedangkan produksi endoksilanase dan endoglukanase lebih tinggi ketika ketiga galur P. ostreatus berada dalam masa reproduktif. fase (periode pembentukan tubuh buah). Pola aktivitas β-glukosidase menunjukkan variasi antara ketiga strain P. ostreatus. Produktivitas hasil diukur dengan menggunakan parameter waktu panen, bobot basah, jumlah badan buah, diameter pileus dan panjang batang. Pleurotus ostreatus InaCC F209 membentuk badan buah sebanyak tiga kali selama pengamatan 95 hari, isolat P. ostreatus LIPI sebanyak dua kali, dan P. ostreatus InaCC F216 tidak membentuk badan buah.

Pleurotus ostreatus is a food fungus that uses a lignocellulose substrate, so that this fungus is able to secrete the lignocellulase enzyme. The production of lignocellulase enzymes in P. ostreatus InaCC F209, F216, and LIPI for 70 days of growth and the association of these enzymes with fruit body production for 95 days of observation were observed and compared. The supernatant extracted from the culture medium was used to estimate reducing sugars, dissolved protein, and enzyme activity. The results showed that lacase, LiP, and MnP were higher when the three P. ostreatus lines were in the vegetative phase (mycelium growth period), while the production of endoxylanase and endogilanase was higher when the three P. ostreatus lines were in the reproductive period. phase (the period of formation of the fruiting body). . The β-glucosidase activity pattern showed variations between the three P. ostreatus strains. Yield productivity was measured using the parameters of harvest time, wet weight, number of fruit bodies, pileus diameter and stem length. Pleurotus ostreatus InaCC F209 formed fruit bodies three times during 95 days of observation, P. ostreatus LIPI isolates twice, and P. ostreatus InaCC F216 did not form fruit bodies."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yusup Junaedi
"Guaiakol dapat mengalami oksidasi kopling dengan menggunakan biokatalis enzim Iakase yang diisolasi dari jamur tiram putih dan menghasilkan senyavva yang memiliki aktivitas biologis. Enzim Iakase yang digunakan adalah enzim yang diambil dari jamur tiram putih. Enzim yang diperoleh memiliki aktivitas spesifik sebesar 0,46505 U/mg. Dalam reaksi kopling oksidatif, guaiakol dapat menghasilkan produk ben/varna merah yang kemudian diekstraksi dengan etil asetat dan dihilangkan pelarutnya, hasil produk diperoleh endapan sebanyak 0.2544 g (0,76%).
Identifikasi produk dengan menggunakan UV-Vis diperoleh serapan panjang gelombang maksimum produk bergeser menjadi 278 nm dari panjang gelombang maksimum guaiakol 274 nm.
Identitikasi menggunakan GC-IVIS menghasilkan 3 isomer dimmer guaiakol dengan nilai m/z 246 masing masing pada waktu retensi 12.4, 13.51 dan 13.62 menit. Produk hasil reaksi dalam uji aktivitas biologisnya sebagai BSLT, alelopati dan antioksidan.
Dengan menggunakan anak udang (Artemia) yang berusia dua hari yang diberikan konsentrasi guaiakol dan produk hasil reaksi dengan variasi konsentrasi beragam, didapatkan bahvva kedua senyavva tersebut tidak toksik. Nilai LC50 untuk guaiakol dan produk reaksi masing-masing 1970.306 pg/mL dan 3977. 038 pg/mL.
Dengan memakai bibit selada sebanyak 30 butir dalam cavvan Petri yang sudah dilapisi kertas saring menunjukkan kenaikan aktivitas sebagai zat alelopati, yaitu produk hasil reaksi memiliki nilai IC 50 sebesar 146, 58 mg/L sedangkan guaiakol sendiri memiliki IC 50 = 195,11mg/L.
Dengan menggunakan larutan DPPH yang ditambahkan guaiakol atau produk hasil reaksi dengan variasi konsentrasi beragam, ditemukan bahvva produk hasil reaksi mempunyai aktivitas antioksidan yang Iebih tinggi dibandingkan guaiako|_ Nilai |C¢-,O didapatkan untuk guaiakol sebesar 24.65 mg/L sedangkan untuk produk hasil reaksi sebesar 9.25 mg/L."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2007
S30377
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>