Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 119654 dokumen yang sesuai dengan query
cover
"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas campuran LHRH, anti dopamin, aromatase inhibitor, dan oxytocin sebagai alternatif pengganti ovaprim terhadap pemijahan dan ovulasi pada ikan Patin Siam (Pangasianodon hypopthalmus). Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap, dengan 5 perlakuan dan 5 ulangan. Kelima perlakuan tersebut adalah: kontrol positif (ovaprim), kontrol negatif (larutan fisiologis (0,90 % NaCl)), Spawnprime 1 (LHRHA+AI), Spawnprime 2 (AD+AI), dan Spawnprime 3 (AI+oksitosin). Ovulasi telah diamati pemijahan secara artifisial dengan cara distripping dan alami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan disuntik dengan spawnprime mampu ovulasi dengan kualitas telur yang baik setelah induksi. Pada perlakuan spawnprime 3 dapat memijah secara alami. menghasilkan rata-rata waktu laten 8 jam 19 menit, derajat pembuahan sebesar 92,97 % ± 1,12; derajat penetasan sebesar 86,29 % ± 2,95; dan kelangsungan hidup larva ikan patin selama 4 hari yaitu 84,75 % ± 0,58. Pada perlakuan ovarprim, spawnprime 1 dan spawnprime 2 dapat memijah secara stripping."
OLDI 40:3 (2014) (1)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Veinardi Madjid
"Latar Belakang: Penggunaan klomifen sitrat sebagai obat induksi kehamilan masih memiliki angka keberhasilan kehamilan yang rendah. Letrozol merupakan agen penghambat aromatase yang dianggap memiliki efektivitas lebih baik dibanding klomifen sitrat, namun efektivitasnya masih dilaporkan bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pemberian klomifen sitrat dan letrozol terhadap ketebalan endometrium, morfologi endometrium dan jumlah folikel dominan pada perempuan yang dilakukan induksi ovulasi atau stimulasi ovarium.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian retrospektif dengan menggunakan medis pasien yang dilakukan induksi ovulasi atau stimulasi ovarium pada Januari 2011 - Mei 2015. Didapatkan 143 wanita siklus anovulasi yang terbagi dalam empat kelompok: klomifen sitrat 50 mg, klomifen sitrat 100 mg, letrozol 2,5 mg dan letrozol 5 mg. Agen pemicu ovulasi pada subjek dimulai pada hari ke-2 selama berlangsung selama lima hari. Data ketebalan endometrium, morfologi endometrium dan jumlah folikel dominan didapat pada status dari data pemeriksaan ultrosonografi transvaginal di hari ke-12 siklus haid.
Hasil: Dari semua subjek, didapatkan 45 subjek (31,5%) mendapat klomifen sitrat 50 mg, 29 subjek (20,3%) dengan klomifen sitrat 100 mg, 23 subjek (16,1%) dengan letrozol 2,5 mg, dan 46 subjek (32,2%) dengan letrozol 5 mg. Subjek dengan letrozol memiliki endometrium yang lebih tebal dibandingkan dengan klomifen sitrat (p<0,05). Didapatkan pulan subjek dengan letrozol memiliki lebih banyak proporsi subjek dengan morfologi endometrium trilaminer. Tidak dijumpai perbedaan ketebalan endometrium pada subjek dengan perbedaan dosis pada masing-masing obat. Selain itu, tidak ditemukan perbedaan jumlah folikel dominan pada keempat kelompok.
Kesimpulan: Penggunaan letrozol menghasilkan endometrium yang lebih tebal dan endometrium trilaminer dibandingkan klomifen sitrat. Tidak dijumpai perbedaan jumlah folikel dominan pada kedua kelompok.

Background: The use of clomiphene citrate as an induction agent still has dissappointing results regarding its pregnancy rate. Letrozole is an aromatase inhibitor that is perceived to has better efficacy compared to clomiphene citrate, however, the reporting results were still varied. This study aimed to know the efficacy of clomiphene citrate and letrozol for ovulation induction in anovulation women.
Method: This was a retrospective study using medical recors of women undergone ovulation induction from January 2011-May 2015. A number of 143 anovulation women were divided into clomiphene citrate 50 mg, clomiphene citrate 100 mg, letrozol 2,5 mg and letrozol 5mg. Every group of ovulation induction agent recieved the agent daily on 3rd until 7th day menstrual cycle. On 12th menstrual cycle the transvaginal ultrasound was performed to measure endometrial thickness and dominant follicle number.
Results: From all subjects, 45 subjects (31,5%) were in 50 mg clomiphene citrate groups, 29 subjects (20,3%) in 100 mg clomiphene citrate group, 23 subjects (16,1%) in 2,5 mg letrozole group, and 46 subjects (32,2%) in 5 mg letrozole group. Subjects receiving letrozol had thicker endometrium compared to clomiphene citrate (p<0,05). Different doses did not associated with different endometrial thickness between subjects receiving either letrozole or clomiphene citrate. In addition, subjects receiving letrozole had higher proportion of having trilaminar endometrium morphology. We did not observe a difference in total number of dominant follicle between groups.
Conclusion: The usage of letrozol resulted in thicker endometrium and proportion of subjects with trilaminar endometrium. Yet, there is no difference in number of dominant follicle between groups.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
"enurunnya populasi ikan soro di alam akibat kerusakan lingkungan habitat dan penangkapan berlebih merupakan ancaman bagi kelestarian ikan ini. Pemijahan buatan telah dapat dilakukan dengan rangsangan hormon, namun hasil yang diperoleh masih perlu disempurnakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan kombinasi jenis hormon yang tepat, dosis terbaik dan masa laten tercepat terhadap keberhasilan ovulasi dan pemijahan ikan soro. Perlakuan yang diberikan adalah Ovaprim 0,5 mL/kg Induk (O1), kombinasi Ovaprim + hCG (O2), Ovaprim+AI (O3), dan AI + Oxytocin (O4), Hasil yang diperoleh memperlihatkan bahwa perlakuan O4, (kombinasi antara AI dengan Oxytocin) memiliki waktu laten untuk merangsang ovulasi yang tercepat (17,5� 0,52 jam) dibandingkan perlakuan lainnya. Secara umum derajat pembuahan perlakuan O4 (AI + Oxytocin) lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lain yaitu 96,60 � 1,00 percent. Demikian halnya dengan derajat penetasan sebesar 81,05�1,77 percent dan tingkat kelangsungan hidup larva yaitu 98,88 � 1,37 percent. Hasil yang diperoleh memberikan indikasi bahwa O4 (AI + Oxytocin) merupakan kombinasi hormon terbaik yang dapat diinduksi untuk ovulasi dan pemijahan semi alami (tanpa "stripping") pada soro."
551 LIMNO 21:1 (2014)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
"Intrauterine insemination and ovulation induction is effective first-line treatment for infertility in many straightforward cases and is preferred by many clinicians because they are less invasive than in-vitro fertilization and its variants. This is a comprehensive account of how to set up and run a successful IUI program. The book addresses the practical aspects of treatments that will produce optimum results in terms of pregnancy outcome and safety, as well as the pharmacological and physiological reasons for their use. Chapters on how to prevent complications of ovulation induction such as multiple births and ovarian hyperstimulation syndrome are included, as well as how to diagnose infertility in both sexes. Laboratory procedures for sperm preparation are described in detail. Worldwide resources for obtaining donor sperm and legal issues that surround the management of patients are included. This manual is of interest to reproductive medicine specialists, general practitioners and general obstetrician gynecologists."
New York: Cambridge University Press, 2010
e20529019
eBooks  Universitas Indonesia Library
cover
"Ikan Patin Siam (Pangasianodon hypopthalmus) adalah salah satu ikan air tawar potensial yang memijah hanya pada musim penghujan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan percepatan rematurisasi gonad. Ikan Patin Siam betina yang digunakan telah dipijahkan sebelumnya dan berjumlah 24 ekor; berumur 3,5 tahun, dengan berat 1.200-2.500 g yang dipelihara di hapa berukuran 6m x 3 m x 1,5 m. penelitian ini menggunakan rancangan faktorial yang terdiri atas 3 level dosis PMSG (Pregnant Mare Serum Gonadotropin) dan 2 level dosis AD (Antidopamin) jenis domperidon. Tiap perlakuan diulang sebanyak 6 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PMSG 10 IU/kg berat ikan + AD 0,01 mg/kg berat ikan merupakan kombinasi terbaik dalam merematurisasi gonad ikan Patin Siam yang ditunjukkan dari meningkatnya laju pertumbuhan spesifik, konsentrasi hormon estradiol, indeks hepatosomatik, indeks gonadosomatik, diameter telur, dan persentase induk matang gonad ikan uji dalam 42 hari.
"
OLDI 39:3 (2013)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Uswatun Hasanah
"Penelitian kriopreservasi spermatozoa ikan patin albino bertujuan untuk menganalisis ultrastruktur, fisiologi, dan molekuler spermatozoa ikan patin albino pasca kriopreservasi. Kriopreservasi dilakukan pada suhu -80°C selama 14 hari menggunakan kombinasi krioprotektan intraseluler yaitu metanol 10% dan krioprotektan ekstraseluler yaitu susu skim. Hasil ultrastruktur spermatozoa menunjukkan bahwa pada spermatozoa segar bagian membran sel kepala, mid piece, dan bagian flagel masih dalam kondisi utuh dan baik. Ultrastruktur spermatozoa pasca ekuilibrasi nampak ada perbesaran lebar dan panjang kepala spermatozoa dibandingkan spermatozoa segar, walaupun secara struktur masih tampak utuh. Ultrastruktur spermatozoa pasca pencairan tampak terjadi kerusakan membran bagian kepala dan flagel. Hasil pengukuran morfometri spermatozoa menunjukkan adanya peningkatan lebar kepala spermatozoa yaitu 1,59 µm pada spermatozoa segar menjadi 1,97 µm pada spermatozoa pasca ekuilibrasi dan 2,40 µm pada spermatozoa pasca pencairan. Demikian pula, terdapat perubahan panjang kepala spermatozoa yaitu 3,70 µm pada spermatozoa segar menjadi 3,81 µm pada spermatozoa pasca ekuilibrasi, dan 3,90 µm pada spermatozoa pasca pencairan. Analisis viabilitas spermatozoa didapatkan penurunan viabilitas spermatozoa pasca pencairan (61±2,30%) dibandingkan spermatozoa segar (92±0,58%) dan spermatozoa pasca ekuilibrasi (80±3,51%). Analisis fisiologi spermatozoa didapatkan penurunan fungsi mitokondria pada spermatozoa pasca ekuilibrasi (57±7%) dan spermatozoa pasca pencairan (42±3,2%) dibandingkan spermatozoa segar (98±2%). Analisis motilitas spermatozoa menunjukkan penurunan motilitas spermatozoa pasca ekuilibrasi (79±4,5%) dan spermatozoa pasca pencairan (30±3,2%) dibandingkan spermatozoa segar (87±1,5%). Penetasan telur pasca 24 jam fertilisasi pada perlakukan spermatozoa pasca ekuilibrasi didapatkan hasil lebih tinggi (64±17%) dibandingkan spermatozoa segar (38±4%), sedangkan spermatozoa pasca pencairan tidak ditemukan ada penetasan telur. Analisis molekular spermatozoa pada gen CO1 dan SOD2 didapatkan jumlah lesi gen SOD2 spermatozoa pasca ekuilibrasi yaitu 15,83 lesi / 10 kb dan spermatozoa pasca pencairan yaitu 17,14 lesi / 10 kb. Lesi gen CO1 pada spermatozoa pasca ekuilibrasi yaitu 9,24 lesi / 10 kb dan spermatozoa pasca pencairan yaitu 10,26 lesi / 10 kb. Sehingga disimpulkan kriopreservasi spermatozoa berpengaruh terhadap ultrastruktur, fisiologi, dan molekuler spermatozoa ikan patin albino.

Research of cryopreservation on albino Pangasius catfish spermatozoa aims to analyze about ultrastructure, physiology, and molecular spermatozoa of albino Pangasius catfish post cryopreservation. Cryopreservation was carried out at -80°C for 14 days using a combination of intracellular cryoprotectants which is 10% methanol and extracellular cryoprotectant which is skim milk. The results of the spermatozoa ultrastructure showed that the cell membrane of the spermatozoa head, the midpiece, and the flagellum of fresh spermatozoa were still intact and good. The spermatozoa ultrastructure after post equilibration, shown enlargement of the head width and length compared to the fresh spermatozoa, although structurally were still intact. The ultrastructure of frozen-thawed spermatozoa, appeared a membrane damage at the head and flagellum. The results of spermatozoa morphometric measurements showed an increase at the head width of spermatozoa from 1.59 µm in fresh spermatozoa to 1.97 µm in post-equilibration spermatozoa and 2.40 µm in frozen-thawed spermatozoa. Similarly, there was an increase in the head length of spermatozoa, from 3.70 µm in fresh spermatozoa, to 3.81 µm in post-equilibration spermatozoa, and 3.90 µm in frozen-thawed spermatozoa. The viability analysis showed a decrease of frozen-thawed spermatozoa viability (61±2.30%) compared to fresh spermatozoa (92±0.58%) and post-equilibration spermatozoa (80±3.51%). The analysis physiology of spermatozoa showed a decrease in mitochondrial function in post equilibration spermatozoa (57±7%) and frozen-thawed spermatozoa (42±3.2%) compared to fresh spermatozoa (98±2%). The analysis of motility of spermatozoa showed a decrease in post equilibration spermatozoa (79±4.5%) and frozen-thawed spermatozoa (30±3.2%) compared to fresh spermatozoa (87±1.5%). Egg hatching after 24 hours of fertilization for the post-equilibration spermatozoa was higher (64±17%) than fresh spermatozoa (38±4%), whereas frozen-thawed spermatozoa were not hatched. The analysis of molecular on CO1 and SOD2 genes obtained the number of gene lesions in the spermatozoa SOD2 gene after equilibration were 15.83 lesions/10 kb and frozen-thawed were 17.14 lesions/10 kb. The CO1 gene lesions in post-equilibration spermatozoa were 9.24 lesions/10 kb, while the CO1 gene lesions in frozen-thawed spermatozoa were 10.26 lesions/10 kb. It can be concluded that there is an effect of cryopreservation on ultrastructure, physiology, and molecular in spermatozoa of albino Pangasius catfish."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2021
D-pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Gelatin kulit ikan patin Siam (Pangasius hypophthalmus) telah dihasilkan oleh Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan. Untuk mengetahui tingkat keamanan produk, telah dilakukan uji toksisitas subkronik dari gelatin kulit ikan patin Siam secara in vivo terhadap hewan uji mencit (Mus musculus). Sebanyak 72 mencit jantan dengan berat 20-30 9 dibagi dalam 4 kelompok dan diberi perlakuan pakan gelatin secara oral dengan menggunakan sonde. Dosis yang diberikan adalah 0 (kontrol negatif); 1,5; 3; dan 6persen atau setara dengan 0, 12, 24, dan 48 mg/g bb mencit. Pemberian bahan uji dilakukan setiap hari selama 4 minggu yang dilanjutkan dengan masa pemulihan (recovery) selama 2 minggu. Pengamatan dilakukan terhadap kondisi serum darah, yaitu Glutamic Oxaloacetic Transaminase (GOT), Glutamic Pyruvic Transaminase (GPT), kreatinin, albumin, dan Blood Urea Nitrogen (BUN) serta tingkat kerusakan organ target (hati, ginjal, dan lambung). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian gelatin pada dosis 48 mg/g bb mencit berpengaruh pada kadar GOT setelah minggu ke-2 perlakuan. Selain itu tidak terdapat pengaruh pemberian gelatin terhadap kerusakan organ target dari kelompok perlakuan dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif."
620 JPBK 6:1 (2011)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Rajuddin
"Tujuan penelitian ini adalah membandingkan hasil pengobatan adenomiosis dengan reseksi dan pemberian inhibitor aromatase. Kasus adenomiosis dengan infertilitas dikumpulkan selama 3 tahuti (Januari 1999 sampai December 2001) yang ilikonfirmasi dengan USG transvaginal. Kasus dibagi 2 kelompuk, masing-masing kelompok I (dengan reseksi per laparotomi) dan kelompok 2 (mendapat inhibitor aromatase anastrozole). Keduanya dinilai tentang gejala klinik, angka kehamilan. dan angka perkainbuhan pascaoperasi. Selama 3 tahun telah ditangani 1619 kasus infertilitas, di antaranya 66 (4.07%) adenomiosis sebanyak 55 kasus dianalisis, terdiri alas 32 kasus kelompok I dan 23 kasus kelompok 2. Dan 32 kasus yang menjalani reseksi, hasil histopatologik menunjukkan 30 (93.75%) adenomiosis dan 2 (6.25%) mioma uteri. Dalatn kelompok 1, 3 kasus hamil, 2 melahirkan bay! hiditp, I kasus teraklnr dengan abortus pada kehamilan 6 minggu. Sebanyak 25 kasus (78.1%) tidak hamil,4 kasus (12.5%) mengalami perkainbuhan, dan pada 24 kasus (75.35%) gejala-gejala klinis hilang. Sementara itu, 23 kasus kelompok 2, sebanyak 2 (8.6%) hamil, masing-masing 1 lahir hidup dan I abortus. Sebanyak 14 kasus (59.1%) gejala klinik hilang. Selama pengobatan 3 bulan dengan inhibitor aromatase terjadi penunuum ukuran lesi antara 7.31 mm' dan 25.90 mm dengan Cl 95% (p < 0.001). Disimpulkan bahwa pengobatan dengan inhibitor aromatase tidak menyembuhkan lesi, hanya mengurangi ukuran lest adenomiosis. Sebaliknya reseksi dapat menghilangkan lesi walauptin perkainbuhan dapat terjadi (12.5%) sesudah I tahun pascaoperasi. (MedJ Indones 2006; 15:18-23).

The objective of this study was to observe the results of adenomyosis management with resection and administration of aromatase inhibitor. Cases ofademyosis in infertile women were collected for rhree years (January 1999 to December 2001) and the diagnoses were confirmed using transvaginal USG. Cases were grouped into two groups, i.e. group 1 (undergoing laparotomic resection) and group 2 (receiving treatment with aromatase inhibitor of anastrozole). Both groups were evaluated for changes in clinical symptoms, rate of successful pregnancy, and postoperative recurrency rate. During three years as many as 1619 infertility cases were managed, and among which 66 (4.07%) cases of adenomyosis were diagnosed with transvaginal USG. As many as 55 cases were analyzed, i.e., 32 cases underwent resection and 23 cases received aromatase inhibitor. Of 32 cases of surgical resection, the histopathologica! results showed 30 (93.75%) cases of adenomyosis and 2 (6.25%) cases of uterus myoma. In the group undergoing resection three cases (9.4%) were successfully pregnant, i.e., two cases had live birth, one case ended up with 6-week abortion. Moreover. 25 (78.1%) cases were not pregnant and 4 (12.5%) cases had recurrency, while 24 (75.35%) cases experienced disappearance of symptoms yet not pregnant. On the other hand, of 23 canes in the group receiving aromatase inhibitor 2 (8,6%) cases were able to be pregnant, one case had live birth and another case ended up with abortion, while 14 (59.1%) cases had disappearance of symptoms yet not pregnant. During three months of treatment with aromatase inhibitor, a reduction in the lesion size between 7.3! mm and 25.90 mm' were observed with Cl 95% (p < 0.001). In conclusion, treatment with aromatase inihibitor did not heal lesions, but only reduced the size of adenomyosis lesions. On the other hand, resection could heat lesions, yet recurrency of disease may occur (12.5%) after one postoperative year. (Med J Indones 2006; 15:18-23)."
[place of publication not identified]: Medical Journal of Indonesia, 15 (1) January-March 2006: 18-23, 2006
MJIN-15-1-JanMarch2006-18
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Amila Tikyayala
"Latar Belakang: Luka bakar masih menjadi masalah kesehatan yang berat khususnya di Indonesia. Pada kasus luka bakar mayor, penutupan luka sementara dengan menggunakan xenograft terbukti memberikan keuntungan. Akan tetapi tidak semua jenis xenograft tersedia akibat latar belakang kultur, biaya, dan agama disamping tampilan bersisik pada jenis xenograft ikan tilapia yang kurang estetik. Patin siam (Pangasius hypophthalmus) adalah ikan tidak bersisik yang memiliki banyak kandungan kolagen tipe I. Studi ini bertujuan untuk melakukan komparasi kulit ikan patin siam terhadap kulit ikan tilapia dan babi yang telah umum dijadikan material xenograft pada luka bakar.
Metode: Studi ini merupakan studi eksperimental menggunakan sembilan sampel berbeda dari kulit ikan patin siam, ikan tilapia, dan babi. Setiap sampel dilakukan preparasi dan dilakukan evaluasi secara histologi dengan menggunakan pewarnaan hematoxylin-eosin stained. Dilakukan dokumentasi dan analisa pada tampilan makroskopik dan mikroskopik setiap sampel.
Hasil: Tampilan makroskopik kulit ikan patin siam menggambarkan kulit yang tidak berbulu, tidak bersisik, berwarna hitam – perak, dan memiliki ketebalan yang moderat. Tampilan mikroskopik kulit ikan patin siam memiliki ketebalan epidermis (8.49±1.60 μm) yang berbeda secara signifikan terhadap ikan tilapia (2.18±0.37 μm; p<0.001) dan babi (42.22±14.85 μm; p=0.002). Ketebalan dermis kulit ikan patin siam (288.46±119.04 μm) menyerupai ikan tilapia (210.68±46.62 μm; p=0.783) namun berbeda signifikan terhadap babi (1708.44±505.12 μm; p<0.001). Integritas dan susunan kolagen ikan patin siam serupa dengan tilapia berdasarkan penilaian histologi semi-kuantitatif (p>0.05).
Kesimpulan: Ikan patin siam memiliki tampilan makroskopik dan tampilan mikroskopik yang dapat dibandingkan dengan ikan tilapia; tampilan makroskopik lebih halus, epidermis lebih tebal, dan tebal dermis yang serupa. Oleh karena itu, kulit ikan patin siam dipercaya dapat menjadi materi xenograft. Studi lanjutan diperlukan untuk mengevaluasi efektivitas dan kelayakan xenograft patin siam dalam tata laksana luka bakar.

Background: Burn injury remains a health problem, specifically in Indonesia. In major burns, xenograft had been proved to be useful as temporary wound coverage. However, some xenografts are not widely available due to cultural, financial, and religious backgrounds or have unesthetic appearance, such as scaly appearance of tilapia fish xenograft. Striped catfish (Pangasius hypophthalmus) is a scaleless fish that has abundant type 1 collagen. This study aimed to compare striped catfish skin to commonly used xenograft (Nile tilapia and porcine skin) as xenograft material for burn wound.
Methods: In this experimental study, nine different skin samples of striped catfishes, Nile tilapias, and porcines were prepared and histologically examined using hematoxylin- eosin stained samples. Macroscopic and microscopic features of each samples were documented and analysed.
Results: The macroscopic skin appearances of striped catfishes were hairless and scaleless with black-silver color and moderate thickness. As for microscopic features, the epidermal thickness of striped catfish’s skin (8.49±1.60 μm) was significantly different to both Nile tilapia (2.18±0.37 μm; p<0.001) and porcine skin (42.22±14.85 μm; p=0.002). The dermal thickness of striped catfish’s skin (288.46±119.04 μm) was similar to Nile tilapia (210.68±46.62 μm; p=0.783) but differs significantly to porcine skin (1708.44±505.12 μm; p<0.001). The integrity and collagen organization of striped catfishes was also similar to tilapia based on semi-quantitative histology scoring system (p>0.05).
Conclusion: Striped catfishes had potential macroscopic appearance and comparable microscopic features to Nile tilapia; smoother macroscopic appearance, thicker epidermis, and similar dermis thickness. Therefore, we believe it can be potentially used as a xenograft material. Further studies are required to evaluate the effectiveness and feasibility of striped catfish xenograft in burn wound management.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>