Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 174860 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sulistiowati
"ABSTRAK
Latar Belakang. Jaringan parut fibrosis pasca infark berpotensi menyebabkan aritmia fatal, iskemia berulang, gagal jantung, dan kematian jantung mendadak. Deteksi jaringan parut akan menentukan strategi tatalaksana selanjutnya yang menguntungkan setiap pasien. Resonansi magnetik jantung (RMJ) merupakan alat diagnostik baku emas yang tidak dapat diterapkan pada semua pasien. EKG 12 sadapan dapat menjadi pilihan alternatif. Rasio initial dan terminal ventricular activation velocity (vi/vt) pada EKG membandingkan kecepatan impuls listrik pada awal (vi) dan akhir (vt) kompleks QRS. Jaringan parut akan mempunyai vi/vt yang berbeda dari jaringan normal karena kondisi iskemia mengubah aktivitas elektrik dan penjalaran impuls listrik akibat remodeling kanal ion dan proses transport ion.
Metode. Penelitian ini merupakan studi potong lintang, mengikutsertakan subyek yang menjalani RMJ di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita selama Januari 2013-Agustus 2014 yang diambil secara konsekutif. Penilaian jaringan parut miokardium pada RMJ dilakukan dengan teknik late gadolinium enhancement yang dinilai secara kualitatif. Vi/vt diukur secara manual pada EKG 12 sadapan kemudian diambil reratanya pada tiap sadapan bersuaian.
Hasil. Sebanyak 113 subyek laki-laki dengan rerata umur 55.7±9.7 tahun diikutsertakan dalam analisis. Mayoritas subyek mempunyai jaringan parut ≥1 teritori dan melibatkan teritori yang diperdarahi arteri left anterior descending (LAD). Analisis vi/vt secara umum di tiap sadapan menunjukkan nilai vi/vt yang lebih kecil secara signifikan terhadap keberadaan jaringan parut miokardium dengan nilai p<0.001 untuk sadapan V1-V5, p=0.006 untuk sadapan I, aVL, V6 dan p=0.004 untuk sadapan II, III, aVF. Analisis secara spesifik nilai vi/vt sadapan V1-V5 bermakna terhadap teritori LAD yang isolated maupun mixed, sedangkan sadapan I, aVL, V6 dan sadapan II, III, aVF hanya bermakna terhadap jaringan parut yang mixed. Dari analisis ROC didapatkan nilai ambang batas vi/vt ≤1.35 mV di sadapan V1-V5 dengan sensitivitas 71.4% dan spesifisitas 75%. Nilai ambang batas vi/vt di sadapan II, III, aVF adalah ≤1.20 mV dengan sensitivitas 69.4% dan spesifisitas 66.7%.
Kesimpulan. Vi/vt pada EKG 12 sadapan memiliki hubungan dengan lokasi dan keberadaan jaringan parut miokardium. Nilai vi/vt 1.20-1.35 mV berhubungan dengan keberadaan jaringan parut miokardium di teritori LAD dan RCA dengan sensitivitas 69.4-71.4% dan spesifisitas 66.7-75%.

ABSTRACT
Background. Fibrotic scar tissue post infarction may potentially lead to fatal arrhythmias, recurrent ischaemia, heart failure, and sudden cardiac death (SCD). Detecting myocardial scar will guide further treatment which has the most advantages for each patient. Cardiac magnetic resonance (CMR) is still a gold standard which cannot be applied to every patient. A 12-leads ECG might be an alternative. Initial and terminal ventricular activation velocity ratio on surface ECG is comparing elecrical conduction at the beginning (vi) and at the end (vt) of the QRS complex. Myocardial scar tissue will have a different vi/vt than a normal tissue because ischaemia change cellular electrical activity and impulse propagation due to remodelling of intracellular ion channels and transport processes.
Methods. This is a cross-sectional study. A consecutive subjects who underwent CMR in National Cardiac Centre Harapan Kita during January 2013 and August 2014 were included. Myocardial scar were analyzed visually using late gadolinium enhancement CMR. Vi/vt on 12-leads ECG were measured manually on each lead and mean of each contiguous leads were included into analysis.
Results. A total of 113 male subjects with average age of 55.7±9.7 years old were enrolled. Myocardial scar were located in 1 territory or more in most of subjects and left anterior descending (LAD) territory as the most common territory. General analysis of vi/vt in each contiguous leads shows significantly smaller vi/vt value in myocardial scar presence with p value <0.001 in V1-V5 leads, p=0.006 in I, aVL, V6 leads, and p=0.004 in II, III, aVF leads. Specific analysis of vi/vt in V1-V5 leads show significant difference of vi/vt in isolated and mixed scar in LAD territory, meanwhile vi/vt in I, aVL, V6 and II, III, aVF leads show significant difference of vi/vt only in mixed scar in each territory according to contiguous leads. A cut-off value ≤1.35 mV of vi/vt in V1-V5 leads with 71.4% sensitivity and 75% specificity and a cut-off value ≤1.20 mV of vi/vt in II, III, aVF leads with 69.4% sensitivity and 66.7% specificity were obtained by ROC analysis.
Conclusion. Vi/vt on 12-leads ECG associated with myocardial scar presence and location. A value of vi/vt 1.20-1.35 mV associated with myocardial scar presence in LAD territory and RCA territory with 69.4-71.4% sensitivity and 66.7-75% specificity.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Abdullah Saleh
"Dijumpainya late potential (LP) pada penderita-penderita pasca Infark Miokard Aleut (IMA) sangat berhubungan dengan meningkatnya risiko takikardia ventrikel (Ventricular tachycardia=VT) dan kematian jantung mendadak. Trombolisis telah terbukti menurunkan kematian. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai pengaruh terapi trombolisis terhadap kejadian LP. Dilakukan penelitian prospektif observasional terhadap 60 penderita IMA pertama, secara konsekutif di RS Jantung Harapan Kita dan RS Pusat Pertamina pada periode 20 Oktober 1995 sampai dengan 20 April 1996. Sebanyak tiga puluh penderita (semua laki-laki, rata-rata umur 49,1 ± 5,6 tahun) mendapat streptokinase intra vena (kelompok trombolisis) dan sebanyak 30 penderita lainnya (semua laki-laki, rata-rata umur 50,7 ± 5,7 tahun) mendapat pengobatan konservatif saja (kelompok non trombolisis). Pemeriksaan kateterisasi koroner dilakukan terhadap 26 (70 %) penderita dari kelompok trombolisis dan 15 (50 %) penderita kelompok non trombolisis. LP diperiksa menurut metode Simson (time domain analysis), menggunakan mesin Marquette Electronic type 15.

The presence of late potential (LP) in patients after Myocardial Aleut Infarction (IMA) is strongly associated with an increased risk of ventricular tachycardia (Ventricular tachycardia = VT) and sudden cardiac death. Thrombolysis has been shown to lower mortality. The purpose of this study is to assess the effect of thrombolysis therapy on the incidence of LP. An observational prospective study was conducted on the first 60 IMA patients, consequentially at Harapan Kita Heart Hospital and Pertamina Central Hospital in period from October 20, 1995 to April 20, 1996. A total of thirty patients (all males, average age 49.1 ± 5.6 years) received intravenous streptokinase (thrombolysis group) and as many as 30 other patients (all men, average age 50.7 ± 5.7 years) received conservative treatment only (non-thrombolysis group). Coronary catheterization examination was carried out on 26 (70%) patients from the thrombolysis group and 15 (50%) patients from the non-thrombolysis group. LP was examined according to the Samson method (time domain analysis), using a Marquette Electronic type 15 machine."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1997
T-pdf
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Ganda S
"Komplikasi pada jantung adalah penyebab utama kematian pada penderita penderita penyakit Takayasu. Telah dilaporkan bahwa penderita yang meninggal dunia oleh karena aritmia ventrikuler termyata juga menderita regurgitasi aorta. Untuk meneliti kekerapan aritmia ventrikuler pada penderita penyakit Takayasu dengan komplikasi regurgitasi aorta, 39 penderita penyakit Takayasu dengan usia bervariasi antara 27 sampai 72 tahun (usia rata rata 47±12 tahun) diteliti dengan menggunakan perekaman Holter elektrokardiografi 24 jam. Kekerapan dan keparahan aritnia ventrikuler pada penderita penderita dengan regurgitasi aorta yang penderita bermakna kemudian dibandingkan penderita tanpa regurgitasi aorta. Aritmia ventrikuler yang kompleks lebih sering dijmpai pada penderita penderita dengan regurgitasi aorta yang bermakna bila dibandingkan penderita penderita tanpa regurgitasi aorta (11 dari 16 penderita dibanding 5 dari 23 penderita; p<0,01).
Pada penderita penderita dengan regurgitasi aorta yang bermakna, dijumpai perbedaan yang tidak bermakna dalam kekerapan aritmia ventrikuler yang kompleks antara penderita penderita dengan thallium-201 miokardial skintigrafi yang abnormal dibandingkan penderita penderita dengan thallium-201 miokardial skintigrafi yang normal. Pada penderita dengan thallium-201 miokardial skintigrafi yang normal, aritmia ventrikuler yang kompleks ternyata lebih sering dijumpai pada penderita dengan regurgitasi aorta yang bermakna bila dibandingkan dengan penderita tanpa regurgitasi aorta (4 dari 6 penderita dibandingkan 0 dari 12 penderita ; p<0.05). Namun demikian, dijumpai perbedaan yang tidak bermakna dalam kekerapan aritmia ventrikuler yang kompleks pada penderita penderita dengan thalium-201 miokardial skintigrafi yang abnormal (7 dari 10 penderita dibanding 5 dari 11 penderita). Dijumpai massa bilik kiri jantung lebih besar pada penderita dengan aritmia ventrikuler yang kompleks dibanding penderita dengan aritmia ventrikuler yang simpel."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1999
T57292
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dewi Irawati Soeria Santoso
"Latar belakang. Latihan fisik yang dijalankan secara teratur dengan intensitas dan durasi tertentu akan merangsang remodeling jantung sebagai usaha untuk mempertahankan fungsi ventrikel terhadap peningkatan beban biomekanik pada jantung. Diperkirakan bahwa latihan fisik jangka panjang menimbulkan remodeling jantung menyerupai hipertrofi kardiomiopati, berupa hipertrofi miosit dengan kekacauan tatanan miosit, fibrosis, apoptosis dan ko-lokalisasi gap junction. Tujuan penelitian. Mengetahui dampak latihan fisik jangka panjang dan henti-latih pada remodeling kardiomiosit.
Metode penelitian. Penelitian eksperimental in vivo pada tikus Wistar ini dilakukan di Departemen Biokimia dan Biologi Molekuler, Laboratorium Imunohistologi Departemen Patologi Anatomi dan Bagian Fisiologi, FKUI. Latihan fisik dengan intensitas dan jangka waktu latihan yang berbeda, serta henti latih setelah periode latihan diterapkan pada tikus Wistar jantan dewasa muda. Dilakukan analisis terhadap perubahan morfologi kardiomiosit, fibrosis, apoptosis (ekspresi Caspase-3, Bax dan Bcl-2), gap junction (ekspresi Connexin43) dan pola EKG. Perubahan morfologi kardiomiosit diamati menggunakan pulasan Hematoxylin Eosin, fibrosis diamati menggunakan pulasan Masson?s Trichrome, sedangkan ekspresi Caspase-3, Bax, Bcl-2 dan Connexin43 diamati melalui pulasan imunohistokimia. Rekaman EKG dilakukan dengan filter 100 Hz, pada kecepatan kertas 50 mm/detik dan kepekaan 1 mV = 20 mm.
Hasil dan pembahasan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa latihan aerobik dan anaerobik menimbulkan hipertrofi eksentrik dengan peningkatan fibrosis dan apoptosis serta ko-lokalisasi gap junction ke arah lateral membran. Perubahan kardiomiosit, peningkatan fibrosis dan apoptosis lebih nyata pada latihan anaerobik dibandingkan latihan aerobik. Pola EKG menunjang adanya pembesaran ventrikel akibat latihan aerobik dan anaerobik disertai gangguan repolarisasi yang nyata terutama pada latihan anaerobik. Henti latih tidak mengembalikan morfologi miosit, apoptosis dan lokalisasi gap junction ke keadaan semula. Pola EKG setelah periode henti latih pada latihan aerobik tetap menunjukkan adanya hipertrofi ventrikel tanpa gangguan penghataran impuls yang berarti, namun pada latihan anaerobik tetap didapatkan gangguan repolarisasi berupa pemanjangan interval QTc yang bermakna.
Kesimpulan. Remodeling kardiomiosit akibat latihan fisik jangka panjang tidak menyerupai struktur hipertrofi kardiomiopati, namun disertai peningkatan apoptosis, kolokalisasi Cx43 dan gangguan penghantaran impuls. Henti-latih tidak memulihkan remodeling jantung maupun gangguan penghantaran impuls listrik.

Background. Regular physical exercise with certain intensity and duration stimulates remodeling of the heart as an effort to preserve ventricular function against an increased biomechanical load. It is postulated that long-term exercise induces cardiac remodeling that resemble cardiomyopathy hypertrophy marked by cardiomyocyte disarray, fibrosis, apoptosis and co-localization of gap junction. Research objective. To study the effect of long-term physical exercise and detraining on cardiomyocyte remodeling.
Methodology. This in vivo experimental study was conducted at the Departement of Biochemistry and Molecular Biology, Immunohistology Laboratory of Departement of Pathological Anatomy and Departement of Physiology FMUI. Physical exercise with different intensity and periods of training was performed in groups of young adult male Wistar rats, followed by a period of detraining. Analysis of cardiomyocyte morphological changes, fibrosis, apoptosis (expression of Caspase-3, Bax and Bcl-2), gap junctions (expression Connexin43) and ECG pattern was conducted. Changes in cardiomyocyte morphology was observed using Haematoxylin Eosin staining, fibrosis was observed using Masson's Trichrome staining, whereas the expression of Caspase-3, Bax, Bcl-2 and Connexin43 was observed through immunohistochemical staining. ECG recording was done with a filter of 100 Hz, the paper speed of 50 mm/sec and the sensitivity of 1 mV = 20 mm.
Results and discussion. The results showed that aerobic and anaerobic exercises cause the development of eccentric hypertrophy, with increased fibrosis and apoptosis as well as co-localization of gap junction to the lateral site of the membrane. Cardiomyocyte remodeling, fibrosis and apoptosis were more prominent in anaerobic compared to aerobic exercise group. The ECG pattern supports enlargement of the ventricles due to aerobic and anaerobic exercises with noticeable repolarization disturbances, especially in the anaerobic group. Detraining did not return myocyte morphology, apoptosis and localization of gap junctions to its basic state. The ECG pattern after a period of detraining following aerobic exercise supports the existence of ventricular hypertrophy without significant disturbances in impulse conduction, however repolarization disturbances in the form of significant prolongation of QTc interval persist in the group with anaerobic exercise.
Conclusion. Cardiomyocyte remodeling due to long-term physical exercise did not resemble cardiomyopathy hypertrophy structure, although increased apoptosis, colocalization of Cx43 and distrbances in impuls conduction were observed. Detraining did not restore cardiac remodeling and disturbances in electrical impulse conduction.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015
D-Pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Brilliant
"Latar belakang: DSV (Defek Septum Ventrikel) adalah satu dari banyak kasus penyakit jantung bawaan dengan angka 2,6 per 1000 kelahiran di Dunia. Salah satu komplikasi DSV yang sering ditemukan adalah DSV dengan hipertensi pulmonal. Diagnosis intervensi terhadap hipertensi arteri pulmonal menjadi perhatian pada 2-10% kasus DSV, sehingga pasien DSV yang bermanifestasi hipertensi pulmonal dilakukan pemeriksaan kateterisasi. Pasien usia 6 bulan menjadi pedoman batas usia untuk dilakukan kateterisasi di RSPJDNHK (Rumahsakit Pusat Jantung dan Pembuluh darah Nasional Harapan Kita). Sehingga antrean operasi menjadi lebih lama. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh usia terhadap nilai PARi pascates oksigen dan mencari kelompok usia yang tidak memiliki hasil nonreaktif terhadap tes oksigen.
Metode: Dilakukan studi Observasional retrospektif pada pasien DSV usia di bawah 5 tahun di RSPJDNHK tahun 2015 - 2020. Pengumpulan data melalui rekam medis pasien di divisi bedah jantung pediatrik RSPJDNHK. Pengambilan sampel dilakukan secara acak dengan perhitungan besar sampel mengikuti perhitungan besar sampel untuk uji komparatif numerik lebih dari dua kelompok dengan satu kali pengukuran. Analisis deskriptif dan analisis bivariat dilakukan dengan bantuan SPSS v 20.0.
Hasil: Terdapat 178 sampel penelitian pada penelitian ini. Dari hasil penelitian diketahui bahwa usia berpengaruh atau berhubungan dengan nilai PARi pascates oksigen (p<0,05) pada pasien DSV usia di bawah 5 tahun.
Simpulan: Terdapat hubungan usia dengan nilai PARi pascates oksigen dan usia ≤2 tahun memiliki nilai mutlak reaktif terhadap tes oksigen.

Background: Ventricular Septal Defect (VSD) is one of the many cases of congenital heart disease with a rate of 2.6 per 1000 births in the world. One of the complications of VSD is pulmonary hypertension, with the prevalence of interventional diagnosis of pulmonary hypertension is about 2 – 10 % of VSD. Those who manifest pulmonary hypertension are undergone right heart catheterization. Patients aged six months are the limit for catheterization in National Cardiovascular Center Harapan Kita Hospital leads to a long waiting list. The study aimed to determine the effect on the PARi value of oxygen delivery and find age groups that have reactive results on oxygen tests.
Methods: A retrospective crossectional study was carried out in the pediatric cardiac surgery division of the National Cardiovascular Center Harapan Kita Hospital. Data were taken from the medical record, enrolling those treated from January 2015 to December 2020 with subjects under five years old with VSD pulmonary hypertension who underwent cardiac catheterization. Samples were taken randomly by calculating the sample size following the sample size calculation for the comparative numerical test of more than two groups with one measurement. Descriptive analysis and bivariate analysis were carried out using SPSS v 20.0.
Results: There were 178 subjects enrolled in this study. The age correlated to the post-oxygen test PARi value (p<0.05) on VSD patients under five years of age.
Conclusions: This study showed that age correlated to the PARi value after oxygen test, and age ≤2 years old has absolute reactive value to oxygen test.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2021
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Bimo Bintoro
"Latar Belakang. Pemacuan ventrikel kanan merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari tatalaksana bradikardi simptomatik, bradiaritmia, dan kelainan konduksi lainnya. Sayangnya terdapat efek buruk pemacuan ventrikel kanan terhadap disinkroni dan penurunan fungsi ventrikel kiri. Penelitian ini mencoba melihat secara potong lintang hubungan pemacuan ventrikel kanan terhadap kejadian disinkroni dan penurunan fungsi ventrikel kiri.
Metode. Seratus delapan belas pasien dengan disfungsi nodal AV diambil secara konsekutif untuk studi potong lintang, mulai bulan Maret hingga Mei 2013 didapat dari registri divisi Aritmia Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, Jakarta. Pasien menjalani pemeriksaan disinkroni dan fungsi ventrikel kiri dengan ekokardiografi. Dilakukan penilaian terhadap interval elektromekanikal dengan doppler jaringan, kemudian dinilai variabel nilai awal yang didapat dari rekam medis pasien.
Hasil. Dalam studi kami, 70 dari 118 (59.3%) pasien mengalami disinkroni dalam rerata durasi pemacuan 4.7 tahun. Terdapat perbedaan signifikan terhadap durasi waktu di kelompok pasien yang mengalami disinkroni intraventrikel dengan yang tidak mengalami disinkroni intraventrikel (5.29 vs 3.27 tahun). Setelah pemacuan ventrikel kanan 6.1 tahun, pasien paska pacu-jantung berisiko untuk mengalami disinkroni intraventrikel dengan OR 4.07 kali. Tidak didapatkan perbedaan bermakna antara pemacuan di apeks RV ataupun RVOT terhadap kejadian disinkroni. Terdapat kecenderungan kejadian disinkroni intraventrikel, disinkroni interventrikel, dan penurunan fraksi ejeksi ventrikel kiri pada pasien-pasien yang mendapatkan pemacuan apeks RV.
Kesimpulan. Semakin lama durasi pemacuan ventrikel kanan, semakin tinggi risiko kejadian disinkroni intraventrikel pada pasien pacu-jantung permanen dengan OR di atas 6.1 tahun adalah 4.07 kali.

Background. Right ventricular pacing is an established therapy from the management of symptomatic bradycardia, brady-arrhytmias, and other conduction disturbances. Unfortunately there are deleterious effects of right ventricular pacing on cardiac synchrony and left ventricular function. This study tried to look cross sectionaly the variable of pacing duration, lead locations to the occurrence of dyssynchrony and decrease left ventricular ejection fraction.
Method. One hundred and eighteen patients with AV nodal dysfunction (SND with AVN dysfunction, AF slow response, Total AV-Block, and AF post AVJ ablation) taken consecutively for this cross-sectional study, from March to May 2013 obtained from the registry division of the National Cardiac Arrhythmia Center Harapan Kita, Jakarta. Patients then undergone echocardiography assessment for cardiac dyssynchrony and left ventricular function. After we assessed of the electromechanical interval with tissue Doppler, we then assessed the value of the basic variables that was obtained from patient medical records.
Results. In our study, 70 of 118 (59.3%) patients had dyssynchrony at a mean duration of pacing disinkroni in 4.7 years. There are significant differences in the duration of time under pacing in the group of patients who experienced intraventricular dyssynchrony (5.29 vs. 3.27 years). In post-cardiac pacemaker patients, there were increased risk by year with peak after 6.1 years of OR 4.07 times. There were no significant differences between pacing lead at the RV apex or RVOT. There is a downward trend in intraventricular and interventricular dyssynchrony, also with poor left ventricular ejection fraction in patients receiving RV apical pacing.
Conclusion. The longer the duration of right ventricular pacing, the higher the risk of intraventricular dyssynchrony in patients with permanent cardiac pacemaker (OR for patients with RV pacing more than 6.1 years is 4.07x).
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Husain Haikal
"Latar Belakang : Implantasi Alat Pacu Jantung Permanen APJP terusmengalami peningkatan. Kejadian Fibrilasi Atrium FA pada pasien pascapemasangan APJP dengan pemacuan dasar ventrikel dikarenakan adanyadisfungsi diastolik ventrikel kanan yang diikuti oleh disfungsi diastolik ventrikelkiri dan disinkroni ventrikel karena adanya Blok Berkas Cabang Kiri BBCKi .Kedua hal ini akan mengakibatkan peningkatan tekanan diastolik ventrikel kiridiikuti dengan gangguan pada atrium kiri dan timbul FA. Banyak prediktor yangdapat digunakan untuk menilai kejadian FA namun belum ada penelitian yangmenghubungkan pemeriksaan Elektrokardiogram EKG 12 sadapan yaitu denganinterval QT corrected QTc pacu menggunakan rumus Framingham dengankejadian FA pada pasien dengan APJP.
Tujuan : Mengetahui hubungan interval QTc pacu dengan kejadian FA danmenentukan nilai potong dari interval QTc pacu.
Metode : Penelitian ini merupakan studi kasus kontrol. Penelitian dilakukan diRumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita RSJPDHK padasubyek yang menjalani pemasangan APJP pemacuan dasar ventrikel pada Januari2013 hingga Agustus 2014. Dilakukan perhitungan interval QTc pacumenggunakan rumus Framingham pada EKG 12 sadapan yang dilakukan satubulan setelah implantasi APJP.
Hasil Penelitian : Terdapat 75 subyek yang memenuhi kriteria inklusi dimana 15subjek mengalami FA 20 . Interval QTc pacu menggunakan rumusFramingham berkorelasi baik dengan kejadian FA. Nilai potong dari interval QTcpacu yang didapat adalah ge; 451,5 mdet, dimana nilai potong ini mempunyai risiko4,3 kali lipat kejadian FA.
Kesimpulan : Interval QTc pacu menggunakan rumus Framingham dapatdigunakan sebagai prediktor kejadian FA pada pasien yang menggunakan APJPdengan pemacuan dasar ventrikel.

Background : Implantation of Permanent Pacemaker PPM increasing in the lastdecades. Atrial fibrillation AF in patient using PPM with right ventricular basepacing developed because of the diastolic dysfunction of the right ventricle thatimpact the left ventricle and also ventricular dissynchrony in left ventricle due toLeft Bundle Branch Block LBBB . This abnormalities will impact to the leftatrial and induced atrial fibrillation. There are many predictors for AF but wehaven't found any study that correlate paced QT corrected paced QTc usingFramingham formula with the the risk of AF in patients implanted doublechamber or single chamber PPM under ventricular based pacing.
Aim : To determine the correlation between paced QTc with AF in patientimplanted PPM and determine cutoff value.
Methods : This is a case control study that was conducted in NationalCardiovascular Centre Harapan Kita Hospital Jakarta with subjeks implantedPPM using double chamber or single chamber with ventricular based pacing fromJanuary 2013 until August 2014. The calculation of Paced QTc using framinghammethod.
Results : There are total 75 subyek in this study, 15 subject developed AF 20 .The Paced QTc using Framingham method was correlated well with AF. Thecutoff value of Paced QTc was ge 451.5 msec and the risk to develop AF was 4.3times.
Conclusion : Paced QTc can be used as a predictor of AF in patient with doublechamber or single chamber PPM with ventricular based pacing.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
T55634
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Putri Reno Indrisia
"Latar Belakang : Hubungan antara KVP dengan fungsi ventrikel kanan belum banyak diketahui. Disfungsi ventrikel kiri akibat KVP dikenal sebagai kardiomiopati akibat KVP( KM-KVP) dan dengan menghilangkan substrat KVP akan memperbaiki fungsi ventrikel kiri. Efek ablasi pada perubahan fungsi ventrikel kanan pada pasien dengan disfungsi veentrikel kanan yang subklinis belum diketahui.
Tujuan : Mengetahui perubahan parameter fungsi ventrikel kanan pasca ablasi pada kelompok yang mengalami disfungsi ventrikel kanan pre ablasi ataupun kelompok dengan fungsi ventrikel kanan yang normal pre ablasi.
Metode : Dilakukan pemeriksaan ekokardiografi dasar dan speckle tracking pada 42 pasien dengan KVP idiopatik aksis inferior sebelum dan setelah 1 bulan pasca keberhasilan ablasi.
Hasil : Beban dan durasi kompleks QRS pada KVP secara signifikan lebih tinggi pada kelompok disfungsi ventrikel dibandingkan dengan kelompok dengan fungsi ventrikel kanan yang normal (p = 0,012 dan p = 0,09) . Terdapat perubahan parameter fungsi ventrikel kanan pada kelompok tidak disfungsi yakni FWLS 3,8 ± 2,1% (p< 0,001) dan GLS 2,3 ± 1,7% ( p< 0,001). Terdapat peubahan yang signifikan pada pasien dengan disfungsi yakni FWLS 9,7 ± 4,0 (p <0,001) dan GLS 7,5 ± 4,2 ( p <0,001). Analisis multivariat menunjukkan nilai FWLS dan GLS yang lebih rendah pre ablasi berkorelasi dengan perubahan fungsi ventrikel kanan yang lebih baik.
Kesimpulan : Pasien KVP simptomatik yang mengalami disfunfgsi ventrikel kanan mendapatkan keuntungan dari efek ablasi.

Background The relationship between premature ventricular contractions (PVC) and right ventricular (RV) function is not widely known. Left ventricular dysfunction due to PVC is known as PVC-Induced cardiomyopathy (PIC) and suppressing the PVC substrate would improve left ventricular function. The effect of PVC ablation on changes in right ventricular (RV) function in patients with subtle subclinical RV dysfunction remains unknown.
Objective Understanding the alterations in RV function parameters after PVC ablation.
Method :Basic and speckle-tracking echocardiography has been performed on 42 individuals with symptomatic idiopathic inferior axis PVC before and one month after a successful ablation.
Result The burden and QRS duration of premature ventricular contractions (PVC) were notably higher in the group with right ventricular (RV) dysfunction compared to those with normal RV function (p=0.012 and p=0.009, respectively). In both groups, measurements of RV function before and after ablation, specifically global longitudinal strain (GLS) and free wall longitudinal strain (FWLS), demonstrated significant changes. These improvements were more pronounced in the group with RV dysfunction (FWLS 9.7 ± 4.0, p< 0.001; GLS 7.5 ± 4.2, p< 0.001). Lower initial FWLS and GLS before ablation emerged as significant parameters in the multivariate analysis for the improvement of RV function post-ablation.
Conclusion :Patients with RV dysfunction had higher PVC burden and wider QRS duration. Patients with idiopathic PVC and impaired RV function may experience improvements in RV function after successful PVC ablation.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Helmi
"ABSTRAK
Latar Belakang: Hipertrofi jantung dapat timbul akibat stres patologis misal hipoksia yang merupakan respon jantung sebagai mekanisme homeostatis yang diperlukan untuk menormalkan stres dinding ventrikel kiri dan mempertahankan curah jantung. Hipoksia sistemik kronik merupakan stres lingkungan yang berat. Respon spesifik jantung terhadap stres jantung terlihat pada peningkatan kadar peptida di dalam plasma, yang membantu jantung dalam menghadapi beban yang meningkat. Menurut sejumlah peneliti, kadar Apelin berhubungan erat dengan disfungsi ventrikel. Apelin merupakan preproprotein dengan 77 asam amino yang disekresikan dari keluarga adipokine, berperan dalam mempertahankan performa jantung pada beban tekanan kronik. Pada tingkat molekular, respons adaptasi diperantarai oleh perubahan ekspresi gen. Tujuan penelitian: Menganalisis pola ekspresi gen Apelin dan gen BNP pada hipertrofi ventrikel akibat induksi hipoksia sistemik kronik dengan mengukur konsentrasi Apelin-13 dan konsentrasi BNP-45. Penelitian bersifat eksperimental menggunakan 28 ekor tikus Sprague-Dawley jantan, umur 8-12 minggu yang dibagi dalam 7 kelompok n=4 ekor/kelompok , terdiri dari kelompok kontrol normoksia, O2 atmosfir dan kelompok perlakuan hipoksia dalam sungkuphipoksia, 8 O2, masing-masing selama 6 jam, 1, 3, 5, 7 dan 14 hari . Parameter stres oksidatif akibat hipoksia jantung, dilakukan dengan pengukuran kadar malondialdehid MDA dan histopatologi dengan pewarnaan HE. Selain itu juga dilakukan pengukuran protein Apelin-13 dan BNP-45 menggunakan metoda ELISA dan pengukuran ekspresi relatif mRNA Apelin dan BNP-45 jantung, menggunakan real time RT-PCR kuantitatif dengan rumus Livak. Hasil penelitian: ekspresi relatif Apelin-13 di jantung menurun pada awal hipoksia dan kemudian meningkat mulai hari ke-3 sampai hari ke-14. Peningkatan kadar MDA yang signifikan terjadi sejak hipoksia 7 hari. Korelasi MDA terhadap peningkatan ekspresi relatif Apelin adalah kuat r=0.750 dan signifikan p=0.000 . Korelasi BNP-45 terhadap Apelin-13 adalah sangat kuat r=0.943 dan signifikan p=0.000 . Dapat disimpulkan bahwa adanya peningkatan MDA, peningkatan ekspresi relatif dan protein Apelin-13 dan peningkatan ekspresi relatif dan protein BNP-45 pada jaringan jantung mempunyai korelasi yang signifikan dan kuat, sesuai dengan peningkatan lamanya perlakuan hipoksia.

ABSTRACT
Background: Cardiac hypertrophy can result from pathological stress eg hypoxia as a response to ventricular wall stress and to maintain cardiac output. Chronic systemic hypoxia is a severe environmental stress. During cardiac stress certain peptides are release by the heart into the plasma, which help the heart to compensate the increased myocardial load. According to several authors, apelin levels are increased during cardiac dysfunction. Apelin is a preproprotein with 77 amino acids from adipokine, which contributes to maintaining cardiac performance at chronic stress loads. At the molecular level, the adaptation response is mediated by changes in gene expression. Objective: To analyze the expression pattern of Apelin-13 and BNP-45 on ventricular hypertrophy due to induction of chronic systemic hypoxia by measuring Apelin-13 and BNP-45 concentrations. The experimental study used 28 male Sprague-Dawley rats, 8-12 weeks old divided into 7 groups 4 per group , consisting of control group normoxia, atmospheric O2 and 4 hypoxia treatment groups, which underwent systemic hypoxia in hypoxic chamber containing 8 oxygen, respectively for 6 hours, 1, 3, 5, 7 and 14 days . The presence of oxidative stress due to cardiac hypoxia was determined by malondialdehyde MDA and cardiac structural alteration was examined by HE staining. Apelin-13 and BNP-45 proteins were determined using the ELISA method and the relative expression of cardiac Apelin and BNP-45 mRNA were determined using quantitative RT-PCR real time with Livak formula. Results: Relative expression of Apelin-13 in the heart decreased early in hypoxia and then increased from day 3 to day 14. Significant increases in MDA levels occurred after 7 days hypoxia. There was a strong and significant correlation between MDA levels and Apelin relative expression r = 0.750, p = 0.001 . Similar results were obtained for of BNP-45 and Apelin-13 r = 0.943, p = 0.001 . From the results, it can be concluded that during chronic systemic hypoxia there was an increase in oxidative stress, relative expression and Apelin-13 proteins and relative expression and BNP-45 protein of the rat cardiac tissue."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
D-Pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Intan Sari L. Izwar
"Latar belakang: Pembedahan merupakan baku emas penutupan defek septum ventrikel, namun penutupan dengan prosedur transkateter sudah banyak dilakukan karena bersifat kurang invasif, mortalitas minimal dan tidak memerlukan pintasan jantung paru saat tindakan, walaupun perlu perhatian terhadap komplikasi blok atrioventrikular total. Penelitian yang membandingkan mortalitas, penutupan komplit dan komplikasi blok AV total pasien pasca-penutupan DSV dengan prosedur transkateter dan pembedahan belum ada sebelumnya di Indonesia.
Tujuan: Mengetahui perbandingan mortalitas, penutupan komplit dan komplikasi blok AV total pasien pasca-penutupan DSV dengan transkateter tahun 2012-2016 di RSCM.
Metode: Metode retrospektif analitik dengan pengambilan data rekam medis pasien DSV anak yang dilakukan prosedur pembedahan atau transkateter di PJT RSCM selama tahun 2012-2016.
Hasil: Tidak didapatkan mortalitas dan komplikasi blok AV pada kedua kelompok. Penutupan komplit kelompok pembedahan 100 dan transkateter 96,4 karena 1 subyek 3,6 mengalami kegagalan penutupan. Pencapaian penutupan komplit hari pertama pasca-penutupan DSV kelompok pembedahan 83,3 dan transkateter 92,8 . Tidak didapatkan perbedaan bermakna pada kedua kelompok dalam hal waktu pencapaian dan penutupan komplit.
Simpulan: Tidak terdapat perbedaan mortalitas, penutupan komplit dan komplikasi blok AV total pasien pasca-penutupan DSV transkateter dan pembedahan.

Background: Surgery is still the gold standard for the closure of ventricular septal defect, but closure by transcatheter procedure has been largely undertaken because of less invasive, minimal mortality and do not require cardio pulmonary bypass during intervention, although we should beware of the total atrioventricular block complication. A study comparing mortality, completed closure and total AV block complication of post closure VSD with transcatheter and surgical procedures was not present yet in Indonesia.
Objective: To examine the comparison of mortality, completed closure and complication of total AV block post closure with transcatheter and surgical procedures in VSD patients at RSCM in 2012 2016.
Method: Analytical retrospective method with data retrieval from medical record of children with VSD which performed transcatheter or surgical procedure at PJT RSCM during 2012 2016.
Results: No mortality and AV block complications were found in both groups. Completed closure of 100 surgical group and 96.4 transcatheter because 1 subject 3.6 had a failure in closure. Completed closure from the first day VSD closure in surgical group was 83.3 and transcatheter was 92.8. No significant differences were found in both groups in terms of completed achievement and closure time.
Conclusions: There were no differences in mortality, completed closure and complications of total AV block post closure of VSD patients with transcatheter and surgical.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2017
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>