Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 129141 dokumen yang sesuai dengan query
cover
cover
Priyono
"ABSTRAK
Ferrire banyak dikenal sebagai material yang digunakan untuk magnet permanen, maupun sebagai material magnet tidak permanen dan banyak digunakan dalam berbagai aplikasi seperti penyimpan data computer, perangkat gelombang radio, televisi hingga gelombang mikro. Disamping itu banyak digunakan sebagai Elektromagnetic Impedance (EMI) yang mampu melindungi sistem perangkat elektronik dari gangguan interferensi. Ferrite juga difungsikan sebagai material penyerap (absorbel) gelombang mikro untuk mereduksi radiasi pantul pada perangkat anti deteksi (slealth). Penelitian ini mengembangkan material hexaferrite tipe-M (Ba0.6Fe2O3) aebagai absorbing material melalui rekayasa struktur dengan metoda mekanika milling (mechanical alloying), khnsusnya substitusi secara parsial ion Fe dengan ion Mn dan ion Ti sehingga membentuk senyawn Ba06(Fe,Mn,Ti)2O3.
Pembetukan fasa BaFe12-2x(MnTi)xO19 (X bervariasi dari 0.0 hingga 2,5) diperoleh melalui dua tahap, diawali dleh substitusi ion dan ion Titerhldap ion Fe dalam komponen material Fe;03 untuk membentuk fasa (Fe,Mn,Ti)203. Kemudian material hasil substitusi dipadukan secara mekanik dengan komponen BaC03 untuk membentuk fasa barium hexakrire tipe - M, setelah melalui reaksi padat. Hasil diuji dengan difraksii-aksi sinar X (XRD) untuk memastikan fasa material yang terbentuk. Obeservasi mikrostruktur material dilakukan baik dengan SEM maupun TEM untuk mengetahui ukuran dan morfologi kristal yang terbentuk. Perangkat permeagraph yang dilengkapi dengan medan magnet luar hingga 2,15 T digunakan untuk kajian sifat-sifat magnetik. Kajian terhadap karakteristik serapan gelombang elektromagnetik oleh material yang diteliti dilaksanakan melalui perangkat Network Analyser ( HP-8753ES) terutama pada jangkau frekuensi yang tersedia l GHz hingga 6 GHZ.
Hasil XRD terhadap komponen material memastikan bahwa substitusi partial ion Fe+3 dengan ion Mn+2 dan Ti+4 dapat berjalan dengan baik yaitu pola difraksi Fe2O3 dapat dipertahankan pasca subsitusi parsial. Demikian jugad engan material BaFe12-2x(MnTi)xO19. Namun evaluasi parameter sel satuan menunjukkan terjadi pembahan parameter kisi fasa BaFe12-2x(MnTi)xO19 dari c = 23.2093 nm pada nilai konvensional BaFe12019 menjadi c = 22.8146 nm pada BaFe7(MnTi)2.5O19, sedangkan nilai parameter kisi a ccnderung konstan dengan kisaran 5.8839 nm (nilai konvensionalnya 5.8862 nm). Sebagai konsekuensi lain dari substitusi ion Mn dan ion Ti dalarn material BaFe12-2x(MnTi)xO19 adalah terjadinya peruhahan sifat magnetik terutama koersifitas yang bertambah rendah nilainya dengan bertambahnya fraksi ion Mn dan ion Ti. Dari hasil pengujian diperoleh bahwa koersivitas untuk x = 0 adalah 142 kA.m-1, turun 566313 signifikan menjadi 3 kA.m-1 pada x = 2,5.
Magnetisasi total juga mengalami penurunan nilai karena berlcurangnya fiaksi ion Fe dalam BaFe12-2x(MnTi)xO19 dari ~ 0,38 T (untuk x= 0) menjadi ~ 0,21 T (untuk x = 2,5). Nilai koersivitas yang rendah, magnetisasi total yang tinggi serta resistivitas listrik yang besar adalah beberapa sifat yang dikehendaki oleh material untuk berperan sebagai material penyerap gelombang elektromagnetik.
Serapang gelombang mikro pada material ferrite dengan 0< x < 2,0 dikarakteristikkan oleh serapan pada dua daerah frekuensi dengan jangkau frekuensi yang cukup lebar. Serapan pertama terjadi pada jangkau frekuensi ~ 1250 MHZ sampai dengan - 2750 MHZ. Pada jangkau frekuensi ini material (tidak termasuk untuk x = 0) memperlihatkan fraksi serapan yang hampir sama mencapai nilai - 40 dB. Daerah frekuensi serapan kedua terjadi pada jangkau frekuensi ~2750 MI-Iz sampai dengan 5000 MHz. Dalam jangkau frekuensi ini ketiga jenis material memiliki karakteristik berbeda. Dengan meningkatnya reaksi ion subsitusi jangkau frekuensi serapan diperlebar meskipun terjadi penurunan nilai reflection loss. Pada material dengan frakksi ion substitusi x = 2,5 terjadi pergeseran frekuensi serapan pada jangkau frekuensi serapam pertama disertai dengan peningkatan pelebaran jangkau frekuensi.
Sebagai kesimpulan, Karakteristik electromagnetic wave absorber material BaFe12-2x(MnTi)xO19 memiliki frekuensi serapan dengan rentang frekuensi yang lebar pada daerah frekuensi l - 6 GHz. Pada rentang frekuensi tersebut terjadi serapan gelombang pada dua frekuensi berbeda yaitu pada - 2000 MHz dan ~ 3500 MHz dengan faktor penurunan koefisien refleksi (reflection loss) yang relatif rendah mencapai - 30 sampai dengan - 40 dB. Rentang frekuensi sempat meningkat dengan meningkatnya fraksi ion substitusi Ti dan Mn. Nanostruktur material ikut dalam pelebaran frekuensi serapan gelombang elektromagnetik.

ABSTRACT
Ferrite was widely known for a material used for permanent magnet as well as for non-permanent magnet. It was also widely used in various applications such as in media storage, computers, radio frequency components televisions and even in microwaves. In addition to that, it was also used as an Electromagnetic impedance (EMI), which was able to protect electronic components from interference. Ferrite was also used as the material to absorb microwaves to reduce a reflective radiation in devices with stealth capabilities. This research was intended to develop hexaferrite material (Ba0 6Fe203) as an absorbing material through structural engineering with mechanical milling (mechanical alloying) method, specifically 'through partial substitution of Fe ion with nm and Ti ions to form the Ba06(Fe,Mn,Ti)2O3 compound.
The formation of BaFe12-2x(MnTi)xO19 phase (x varied from 0.0 to 2.5) was obtained through two stages, beginning with the substitution of the Fe ion with Mn and Ti ions in the material component of Fe2O3 to form the (Fe,Mn,Ti)203 phase. Next, the result of this substitution was combined mechanically with BaC03 component to form the Type-M barium hexaferrite phase, after undergoing a solid reaction. The result of this synthesis was tested using X Ray Diffraction (XRD) to the formed phase- material. The material?s structural observation was done with SEM as well as TEM to ascertain the dimension and morphology of the formed crystals. The Permeagraph device, which was equipped with external magnetic field up to 2.15 T, was used to study the magnetic characteristics. The study on the characteristic of the electromagnetic wave absorption was done utilizing the Network Analyzer (HP-8753ES) particularly within the available frequency range from I GHz to 6 GHZ.
The result of the XRD of the component material synthesis showed that the partial substitution of Fe ion with Mn+2 and Ti? ions had gone well as in the diffraction pattern of Fe;O3 which had been maintained after the partial substitution. Likewise the BaFe12-2x(MnTi)xO19 . However, an evaluation of the cell unit parameter showed a change in the grid parameter of the BaFe12-2x(MnTi)xO19 phase in BaFe|1O|9 conventional value from c=23.2093 nm to c=22.8!46 nm in BaFe1(MnTi);50|g meanwhile the grid of a parameter value tend to be constant at the range of 5.8839 mn (the conventional value being 5.8862 nm). Another consequence of the substitution of Mn and Ti ions in BaFe12-2x(MnTi)xO19 was the change in magnetic characteristic specifically in the lowering of the coervicity with the increase of the Mn and Ti ions fractions. Test result showed that the coercivity for x=0 was 142 kA.m-1 decreased drastically to 3 kA.m-1 for x=2.5. The total of magnetizing was also decreased in value due to the reduced Fe ion fraction in BaFe12-2x(MnTi)xO19 from -0.38 T (for x=0) to ~0.2l T (for x=2.5). The low coercivity , high magnetizing and high resistivity to electricity are amongst the desired characteristics in a material so B to be useful as an electromagnetic wave absorber.
Microwave absorption in ferrite material with 0
As a conclusion, BaFe12-2x(MnTi)xO19 characteristic as an electromagnetic wave absorber material possesses a wide absorption frequency the range of l to 6 GHz. In this range the second wave absorption occurs in two different 'frequencies namely at ~ 2000 MHz and ~3 500 MHz with a lowering of the reflection loss coefficient which was relatively low around -30 to -40 dB; The range of the absorption frequency will increase along an increase in Mn and Ti ions substitution. The structure of the nonmaterial also played a role in the widening of the electromagnetic wave absorption."
Depok: 2010
D1239
UI - Disertasi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Rachmat Romario Akbara
"Penggunaan motor BLDC semakin marak digunakan karena memiliki efisiensi dan kecepatan yang tinggi serta volume yang kecil dan bobot yang ringan sehingga banyak digunakan di bidang industri, mobil listrik, dan peralatan elektronik. Penelitian ini dibuat untuk meneliti pengaruh ketebalan magnet dan jarak offset permanen magnet terhadap parameter motor seperti konstanta BEMF, torsi, dan riak torsi. Untuk melihat parameter tersebut digunakan software berbasis FEA (Finite Element Analysis). Hasil yang didapat adalah nilai torsi sebanding dengan ketebalan magnet dengan torsi terbesar diperoleh saat tebal magnet 3,50 mm pada penelitian ini yaitu sebesar 5,7275 Nm dan riak torsi mengurang seiring dengan bertambahnya jarak offset permanen magnet dengan riak torsi terkecil diperoleh saat jarak offset 20 mm dengan riak torsi sebesar 0,7845%.
The use of BLDC motors increasingly widespread because it has a high efficiency and speed as well as a small volume and light weight so widely used in industry, electric cars, and electronic equipment. This study was made to examine the influence of the thickness of the permanent on and the offset distance of the permanent magnet on motor parameters such as BEMF constants , torque, and torque ripple. To view the parameters used software based on FEA (Finite Element Analysis). The results showed that the value of the torque is proportional to the thickness of the permanent magnet with the highest torque obtained when magnet thickness is 3,50 mm by 5,7275 Nm and torque ripple reduced in line with increasing the distance of offset permanent magnet with the lowest torque ripple obtained when the distance of offset permanent magnet is 20 mm by 0,7845%."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2016
S63985
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"ABSTRAK Telah dilakukan sintesis senyawa magnetik BaO.6(Fe2O3) dengan bahan dasar limbah baja yang disebut mill scale dan Barium Sulfat, BaSO4. Senyawa BaSO4 terlebih dahulu dikonversi menjadi BaCO3 melalui reaksi padat (solid state reaction) dengan serbuk KOH kering di dalam alat pembuat serbuk ball mill dengan waktu milling divariasikan 15 - 300 menit. Serbuk hasil milling direaksikan dengan gas CO?2 yang dialiri selama 0-60 menit. Evaluasi senyawa dengan XRD menunjukkan bahwa senyawa baru BaCO3 berhasil terbentuk dengan fraksi berat meningkat progresif dengan bertambahnya waktu alir gas CO2. Fraksi berat BaCO3 yang berhasil diperoleh dari sintesis dengan cara ini bisa mencapai 72%. Senyawa magnetik BaO.6(Fe2O3) berhasil dibuat dengan mereaksikan senyawa BaCO3 dan mill scale yang dioksidasi menjadi Fe2O3, setelah proses sinter pada suhu 1100 oC selama 14 jam. Berdasarkan evaluasi XRD terhadap material pasca sinter menunjukkan bahwa dalam metarial terdapat senyawa BaO.6(Fe2O3) sebanyak 90.33% berat sedangkan 9.67% masih terdiri dari BaSO4. Telah pula berhasil dibuat sampel magnet dengan menggunakan material hasil sintesis dengan nilai remanen terukur sebesar 0.36 kG. Masih lebih kecil dibandingkan nilai remanen yang ada di pasaran yaitu 1 kG. Kata kunci: ball mill; barium heksaferit; barite; sintering."
[Universitas Indonesia, ], 2003
S30169
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Charles
"Motor DC tanpa sikat telah menjadi salah satu jenis motor listrik yang banyak digunakan dalam berbagai aplikasi, menggantikan motor DC dan motor AC asinkron. Penelitian banyak dilakukan untuk meningkatkan kinerja dari motor BLDC. Penelitian ini bertujuan untuk perancangan desain variasi panjang dan tinggi magnet permanen pada motor arus searah tanpa sikat 12 alur 10 kutub. Penelitian dilakukan dengan melakukan simulasi motor tanpa beban dan dengan beban terhadap variasi panjang dan tinggi magnet permanen. Dari penelitian ini, dapat dilihat bahwa variasi panjang magnet dan tinggi magnet mempengaruhi tegangan induksi yang dihasilkan, dimana semakin panjang dan tinggi magnet semakin besar tegangan induksi, torsi, dan efisiensi. Desain dengan panjang 12 mm dan tinggi 3 mm memiliki tegangan induksi terbesar yaitu 41.79 Volt dan efisiensi 96.324% serta memiliki rata-rata torsi sebesar 5,52 Nm.
Brushless DC motor has become one kind of electric motor which are widely used in various applications, replacing DC motors and asynchronous AC motors. Research done much to improve the performance of the BLDC motor. This study aims at designing the variation in the length and height of the permanent magnet brushless direct current motor 12 slot 10 poles. Research carried out by simulating the motor no-load and load variation in the length and height of the permanent magnet. From this research, it can be seen that the variation in the length of magnets and magnet high influence induced voltage is generated, where the length and height of the larger magnet induced voltage, torque, and efficiency. Design with a length of 12 mm and a height of 3 mm has the largest induced voltage is 41.79 volts and efficiency of 96.31% and has an average highest torque amounting to 5.43 Nm."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2016
S63473
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fachri Agung
"ABSTRAK
Penelitian tentang kinetika pertumbuhan kristal barium heksaferit disubstitusi Mndan Ti dengan komposisi BaFe9.6Ti1.2Mn1.2O19 yang dibuat melalui proses pemaduan mekanik telah dilakukan. Ukuran kristal rata-rata BaFe9.6Ti1.2Mn1.2O19 didapat dengan metode Whole Powder Pattern Modeling (WPPM) pada software PM2K. Ukuran kristal bertambah secara bertahap dan akhirnya mencapai ukuran maksimum. Dari pemanasan isotermal, kinetika pertumbuhan kristal dapat dijelaskan oleh persamaan Avrami dengan energi aktivasi pertumbuhan kristal 𝑄 yang dihasilkan sebesar 51.76 kJ/mol.

ABSTRACT
A study on the kinetics of crystal growth of barium hexaferrite substituted by Mn ? Ti with composition BaFe9.6Ti1.2Mn1.2O19 produced by mechanical alloying was carried out. The grain size of BaFe9.6Ti1.2Mn1.2O19 was estimated by the Whole Powder Pattern Modeling (WPPM) in PM2K software. The grain size increases gradually, and finally ceases to reach an ultimate value regardless of annealing time. From isothermal anneals, the grain growth kinetics can be described by Avrami?s equation and activation energy for grain growth Q has been determined to be 51,76 kJ/mol."
Depok: Universitas Indonesia, 2016
T44986
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ramadhan Jarekson
"ABSTRAK
Pada dasarnya, unjuk kerja generator sinkron magnet permanen ditentukan oleh
arus dan tegangan keluaran. Hasil keluaran tegangan dan arus ditentukan oleh
kesimetrisan dan konfigurasi desain geometris dari generator tersebut. Skripsi ini
membandingkan jarak antar magnet permanen pada rotor terhadap fluks magnet
yang dihasilkan. Fluks tersebut akan menentukan gelombang sinusoidal yang
terbentuk dan tegangan keluaran. Hasil dari simulasi dan analisa menunjukan
bahwa jarak antar magnet permanen tidak secara langsung mempengaruhi unjuk
kerja dari desain generator yang ditentukan.

ABSTRACT
Basically, performance of axial flux permanent magnet coreless type stator
synchronous generator determined by the current and voltage output. Voltage and
current output determined by symmetry and geometric design configuration of
this generator. This undergraduate thesis compares the distance between polar
magnetic permanent magnet on the rotor with magnetic flux generated. Flux will
determine the sinusoidal wave and output voltage. Result of simulation and
analysis indicate that the distance between polar magnetic permanent magnet does
not directly influence to the performance of given generator design."
Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2011
S1803
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Chatra Hagusta Prisandi
"Generator Sinkron Magnet Permanen Fluks Aksial Tanpa Inti Stator memiliki unjuk kerja yang pada umumnya ditentukan oleh gelombang tegangan dan arus. Kedua hal tersebut dipengaruhi oleh konfigurasi Desain geometris generator. Studi ini membandingkan pengaruh jumlah kumparan stator terhadap nilai dan bentuk gelombang fluks magnet dan tegangan keluaran. Asumsi jumlah kutub magnet rotor pada tiap Desain penelitian adalah sama yaitu 24 kutub. Kesimetrisan antara setiap permukaan stator yang menangkap fluks magnet dari rotor setiap waktu sangat mempengaruhi tegangan keluaran. Hasil studi menunjukkan bahwa Desain 9 stator sesuai untuk konfigurasi tiga fasa sedangkan Desain 12 stator selaras untuk generator konfigurasi satu fasa.

A Coreless Axial Flux Permanent Magnet (AFPM) Synchronous Generator has a work quality that is determined by the voltage and current waves. Both of those things are influenced by geometric configuration of the generator. This research compares the effect of the number of stator coils to the magnet flux captured and the voltage generated for every design. It is stated that the number of rotor magnetic poles in every design are same, 24 poles. How symmetrical between every stator`s surface capture the magnetic flux in every second is very extremely affecting the output voltage. The result of this research proves that design with 9 coils is appropriate for three phase configuration, while design with 12 coils is suitable for one phase configuration of generator."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2011
S853
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Arum Estri Perdinasari
"Berbagai metode pengendalian pada motor sinkron magnet permanen (permanent magnet synchronous motor atau PMSM) telah dikembangkan untuk mendapatkan kerja motor yang lebih efisien salah satunya adalah field oriented control dimana posisi dan kecepatan rotor diperlukan. Pada penelitian ini dilakukan pengendalian kecepatan pada PMSM menggunakan field oriented control tanpa menggunakan sensor. Nilai posisi dan kecepatan rotor diestimasi dengan menggunakan Model Reference Adaptive System (MRAS). Berbagai pengujian dilakukan untuk mengetahui kinerja dari pengendalian tanpa sensor pada motor. Dari hasil pengujian diketahui bahwa pengendalian kecepatan tanpa sensor ini dapat berjalan dengan baik.

Various methods of permanent magnet synchronous motor (PMSM) control have been developed to get the motor work more efficiently, one of which is field oriented control where the position and speed of the rotor is required. In this study, PMSM speed is controlled using sensorless field oriented control. Rotor position and speed is estimated with stator current and voltage using Model Reference Adaptive System (MRAS). Various tests are carried out to determine the performance of sensorless control on the motor. From the test results it is known that the motor speed can be controlled."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2016
S62958
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ahmad Dzul Faiq Murtadlo, auhor
"Seiring perkembangan waktu, dibutuhkan motor yang memiliki sifat yang diinginkan, seperti memiliki kecepatan yang tinggi, efisiensi yang tinggi, dan biaya perawatan motor yang rendah. Hal-hal tersebut dapat diwujudkan dengan cara merancang motor yang diinginkan. Dalam merancang motor, perbedaan bahan material dan bentuk dimensi motor sangat berpengaruh dalam keluaran yang dihasilkan oleh motor.
Pada skripsi ini, dibandingkan hasil keluaran motor pada setiap variasi motor yang memiliki bahan magnet permanen dan panjang motor yang berbeda. Bahan permanen magnet yang digunakan adalah Ceramic 10, Samarium Cobalt: 18/30, dan Neodymium Iron Boron: 28/23. Sedangkan variasi panjang motor adalah 50 mm, 60 mm, 70mm, dan 80 mm.
Untuk mencapai nilai torsi 5,5 Nm, motor dengan magnet permanen Neodymium Iron Boron: 28/23 adalah yang terbaik karena hanya memerlukan panjang sebesar 50 mm. Pada motor dengan panjang 80 mm, motor terbaik adalah motor dengan magnet permanen berbahan Neodymium Iron Boron: 28/23 karena memiliki nilai torsi maksimal terbesar, yakni 8,89 Nm.

Over the years, it takes a motor that has the characteristic of being desired, such as high speed, high efficiency, and low maintenance cost. These things can be realized by designing motors. In motor design, the difference in materials and motor dimension is very influential in the output of motor.
This paper compared the output of motor at each variation of the motor which has different permanent magnet material and different stack length. Permanent magnet material that used are Ceramic 10, Samarium Cobalt: 18/30, and Neodymium Iron Boron: 28/23. While the variaton of the stack length are 50 mm, 60 mm, 70 mm, and 80 mm.
To achieve torque 5,5 Nm, motor with permanent magnet made of Neodymium Iron Boron: 28/23 is the best because just needed motor with stack length 50 mm. On motor with stack length 80 mm, motor with permanen magnet made of Neodymium Iron Boron: 28/23 also is the best because it has biggest torque, the value is 8,89 Nm.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2016
S63249
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>