Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 20816 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Agus Jati Sunggoro
"Latar Belakang: Indonesia merupakan negara peringkat keempat penyumbang kasus TB terbanyak di dunia. TB adalah penyebab kematian kedua terbanyak di Indonesia. Pasien TB mempunyai tingkat kematian yang lebih tinggi saat dirawat dibandingkan pasien non-TB. Pengetahuan tentang prediktor mortalitas dapat membantu pengambilan keputusan klinis untuk tatalaksana pasien dan mengetahui prognosis pasien. Studi-studi tentang faktor prediktor mortalitas pasien tuberkulosis saat rawat inap menunjukkan hasil yang berbeda-beda dan tidak ada penelitian yang komprehensif di Indonesia.
Tujuan: Mengetahui faktor-faktor prediktor mortalitas pasien tuberkulosis saat rawat inap di RSCM.
Metode: Penelitian ini merupakan studi kohort retrospektif pada pasien rawat inap di RSCM selama kurun waktu 1 Januari 2008 sampai dengan 31 September 2013. Data klinis dan laboratorium beserta status luaran (hidup atau meninggal) selama perawatan diperoleh dari rekam medis. Analisis bivariat menggunakan tes Chisquare dilakukan pada 13 variabel prognostik, yaitu kelompok usia, jenis kelamin, riwayat pengobatan TB sebelumnya, tingkat keparahan TB, status BTA, hipoalbuminemia, IMT, status HIV, adanya konkomitan pneumonia, sepsis, gagal napas, gambaran radiologis toraks, komorbiditas (skor Charlson Comorbidity Index). Adanya data yang tidak lengkap dilakukan imputasi mengunakan teknik multiple imputation. Variabel yang memenuhi syarat disertakan pada analisis multivariat dengan regresi logistik.
Hasil: Subjek penelitian terdiri atas 470 pasien. Angka mortalitas selama perawatan sebesar 25,1%. Sebanyak 339 (72,1%) pasien adalah laki-laki dan 131 (27,9%) pasien adalah perempuan. Median usia pasien 34 (rentang 18 sampai 86) tahun dan median lama perawatan adalah 10 (rentang 1 sampai 97) hari. Faktor prediktor independen mortalitas yang bermakna pada analisis multivariat adalah kadar albumin < 3 g/dL (OR 5,12; IK 95% 1,80 sampai 14,57), gambaran radiologis toraks lesi kavitas (3,91; 1,53 sampai 9,97) adanya sepsis (23,31; 8,95 sampai 60,68), adanya gagal napas (177,39; 27,09 sampai 1161,55).
Kesimpulan: Adanya gagal napas, adanya sepsis, hipoalbuminemia (kadar albumin < 3 g/dL), serta gambaran radiologis toraks lesi kavitas merupakan faktor prediktor independen mortalitas pasien tuberkulosis saat rawat inap.

Background: Indonesia is the world’s fourth highest tuberculosis burden in the world. Tuberculosis is the second leading cause of death for all age in the country, according to the Health Ministry. Mortality remains high among tuberculosis hospitalized patients compare to the non-TB patients. The prediction of patients outcome is important in decision-making process and in the effort reducing mortality rate. Studies exploring predictors of mortality in patients with pulmonary tuberculosis produced conflicting results and there are no comprehensive reports in Indonesia.
Objective: To determine predictors of mortality among hospitalized tuberculosis patients in Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta, Indonesia.
Methods: We performed a retrospective cohort study among hospitalized tuberculosis patients in Cipto Mangunkusumo Hospital between January 2008 - September 2013. Data were collected at initiation of inpatients period and the main outcome was all-cause mortality during hospitalization. We analyzed age, sex, history of previous anti-tuberculosis treatment, tuberculosis severity, sputum smear positivity, hypoalbuminemia, BMI, HIV status, concomitant pneumonia, sepsis, respiratory failure, pulmonary radiographic lesion, comorbidity (CCI score) in bivariate analysis using Chi-square test. Missing data were handled using multiple imputation methods. Multivariate logistic regression analysis was performed to identify independent predictors of mortality.
Results: A total of 470 patients were evaluated in this study. In-hospital mortality rate was 25.1%. There were 339 (72.1%) male and 131 (27.9%) female patients. Median age of the population was 34 (range 18 to 86) years old and median length of stay was 10 (range 1 to 97) days. The independent predictors of mortality in multivariate analysis were hypoalbuminemia (OR 5,12; 95% CI 1,80 - 14,57), cavitary lesion (3,91; 1,53-9,97), sepsis (23,31; 8,95-60,68), and respiratory failure (177,39 ; 27,09-1161,55).
Conclusion: Respiratory failure, sepsis, hypoalbuminemia, and cavitary lesion were independent predictors of in-hospital mortality among hospitalized tuberculosis patients.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Mohammad Adi Firmansyah, examiner
"[Latar Belakang: Pneumonia komunitas masih merupakan salah satu penyebab kematian terbanyak untuk penyakit infeksi, baik di negara maju ataupun negara berkembang. Pengetahuan tentang prediktor mortalitas dapat membantu pengambilan keputusan klinis untuk tatalaksana pasien. Penelitian terdahulu mengenai prediktor mortalitas di luar negeri sebagian besar dilakukan pada usia lanjut dan hanya ditemukan satu penelitian mengenai faktor-faktor prediktor mortalitas di Indonesia namun juga terbatas pada usia lanjut.
Tujuan: Mengetahui faktor-faktor prediktor mortalitas pasien pneumonia komunitas dewasa di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).
Metode: Penelitian ini merupakan studi kohort retrospektif pada pasien rawat inap dewasa RSCM yang didiagnosis pneumonia komunitas selama tahun 2010– 2014. Data klinis dan laboratorium beserta status luaran (hidup atau meninggal) selama perawatan diperoleh dari rekam medis. Analisis bivariat menggunakan uji Chi-square dilakukan pada sepuluh variabel prognostik, yakitu kelompok usia, penurunan kesadaran, komorbiditas (skor Charlson Comorbidity Index – CCI >5), sepsis, gagal napas, pneumonia berat, kadar hemoglobin <9 g/dL, hitung leukosit <4.000/ul atau >20.000/ul, kadar albumin <3 g/dL, dan kadar glukosa darah sewaktu >200 mg/dL. Data yang tidak lengkap diatasi dengan teknik multiple imputation. Variabel yang memenuhi syarat akan disertakan pada analisis multivariat dengan regresi logistik.
Hasil: Subjek penelitian terdiri dari 434 pasien. Mortalitas selama perawatan sebesar 23,9%. Sebanyak 197 (45,4%) pasien adalah laki-laki dan 237 (54,6%)pasien adalah perempuan. Median usia pasien 58 tahun (rentang 18 sampai 89)tahun dan median lama perawatan adalah 8 (rentang 1 sampai 63) hari. Patogen tersering dari hasil kultur sputum adalah Klebsiella pneumoniae (28%). Prediktor mortalitas independen yang bermakna pada analisis multivariat adalah pneumonia berat (OR=29,42; IK 95% 20,81 sampai 41,58), sepsis (OR=3,65; IK 95% 2,57 sampai 5,19), gagal napas (OR=3,2; IK 95% 1,9 sampai 5,37), skor CCI >5 (OR=2,25; IK 95% 1,6 sampai 3,15) dan kadar albumin <3 g/dL (OR=1,42; IK 95% 1,04 sampai 1,95).
Simpulan: Pneumonia berat, gagal napas, sepsis, skor CCI >5, dan kadar albumin <3 g/dL merupakan pediktor independen mortalitas pasien pneumonia komunitas dewasa saat rawat inap., Background: Community-acquired Pneumonia (CAP) is one of the causes of death from infectious disease in the developed or developing countries. The prediction of outcome is important in decision-making process. Previous studies of predictors of mortality in overseas mostly in elderly and only found one previous study in Indonesia, but also limited in the elderly.
Objective: To determine the predictors of mortality in hospitalized patients with CAP in Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta, Indonesia.
Methods: We performed a retrospective cohort study among hospitalized patients with CAP in Cipto Mangunkusumo Hospital between 2010–2014. Data were collected at initiation of hospitalized period and the main outcome was all-cause mortality during hospitalization. We analyzed age, decreased of consciousness, comorbidity (represented as Charlson Comorbidity Index – CCI), sepsis, respiratory failure, severe pneumonia, hemoglobin level <9 g/dL, leucocyte count <4.000/ul or >20.000/ul, albumin level <9 g/dL, and blood glucose level >200 mg/dL in bivariate analysis using Chi-Square test. Missing data were handled using multiple imputation. Multivariate logistic regression analysis was performed to identify independent predictors of mortality.
Results: A total of 434 patients were evaluated in this study. In-hospital mortality rate was 23.9%. There were 197 (45,4%)male and 237 (54,6%) female patients. Median age of population was 58 (range 18 to 89) years old and median length of stay was 8 (range 1 to 63) days. The commonest pathogen was Klebsiella pneumoniae (28%). The independent predictors of mortality in multivariate analysis were severe pneumonia (OR 29.42; 95% CI 20.81 to 41.58), sepsis (OR 3.65; 95% CI 2.57 to 5.19), respiratory failure (OR 3.2; 95% CI 1.9 to 5.37), CCI score >5 (OR 2.25; 95% CI 1.6 to 3.15) and albumin level <3 g/dL (OR 1.42; 95% CI 1.04 to 1.95).
Conclusion: Severe pneumonia, respiratory failure, sepsis, CCI scores >5, and albumin level <3 g/dL were independent predictors of in-hospital mortality among hospitalized patients with CAP.]"
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015
SP-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Estie Puspitasari
"Latar Belakang: Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) adalah masalah besar yang mengancam Indonesia dan banyak negara di seluruh dunia. Pengetahuan tentang karakteristik dan prediktor mortalitas dapat membantu dalam penatalaksanaan pasien. Penelitian terdahulu mengenai faktor-faktor prediktor mortalitas di Indonesia belum ada.
Tujuan: Mengetahui faktor-faktor prediktor mortalitas pasien HIV/AIDS dewasa yang dirawat inap di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).
Metode: Penelitian ini merupakan studi kohort retrospektif pada pasien rawat inap dewasa RSCM yang didiagnosis HIV/AIDS selama tahun 2011-2013. Data klinis dan laboratorium beserta status luaran (meninggal atau hidup) dan penyebab mortalitas selama perawatan diperoleh dari rekam medis. Analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square dilakukan pada tujuh variabel prognostik, yaitu jenis kelamin laki-laki, tidak dari rumah sakit rujukan, tidak pernah/putus terapi antiretroviral (ARV), stadium klinis WHO IV, kadar hemoglobin <10 g/dL, kadar eGFR <60 mL/min/1,73 m2 dan kadar CD4+ ≤200 sel/µL. Variabel yang memenuhi syarat akan disertakan pada analisis multivariat dengan regresi logistik.
Hasil: Dari 606 pasien HIV/AIDS dewasa yang dirawat inap (median usia 32 tahun; laki-laki 64,2%), sebanyak 122 (20,1%) baru terdiagnosis HIV selama rawat dan 251 (41,5%) dalam terapi ARV. Median lama rawat adalah 11 (rentang 2 sampai 75) hari. Sebanyak 425 (70,1%) pasien dirawat karena infeksi oportunistik. Mortalitas selama perawatan sebesar 23,4% dengan mayoritas (92,3%) penyebabnya terkait AIDS. Prediktor independen mortalitas yang bermakna adalah stadium klinis WHO IV (OR=6,440; IK 95% 3,701 sampai 11,203), kadar hemoglobin <10 g/dL (OR=1,542; IK 95% 1,015 sampai 2,343) dan kadar eGFR <60 mL/min/1,73 m2 (OR=3,414; IK 95% 1,821 sampai 6,402).
Simpulan: Proporsi mortalitas selama perawatan sebesar 23,4%. Stadium klinis WHO IV, kadar hemoglobin <10 g/dL dan kadar eGFR <60 mL/min/1,73 m2 merupakan prediktor independen mortalitas pasien HIV/AIDS dewasa saat rawat inap.

Background: Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) is a big problem that threatening in Indonesia and many countries in the world. The knowledge on the characteristics and prediction of outcome were important for patients management. There are no studies on the predictors of mortality in Indonesia.
Objective: To determine the predictors of mortality in hospitalized adult patients with HIV/AIDS in Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta, Indonesia.
Methods: We performed a retrospective cohort study among hospitalized adult patients with HIV/AIDS in Cipto Mangunkusumo Hospital between 2011-2013. Data on clinical, laboratory, outcome (mortality) and causes of death during hospitalization were gathered from medical records. Bivariate analysis using Chi- Square test were used on the seven prognostic factors (male sex, not came from referral hospital, never/ever received antiretroviral therapy (ART), WHO clinical stage IV, hemoglobin level <10 g/dL, eGFR level <60 mL/min/1.73 m2 and CD4+ count ≤200 cell/µL). Multivariate logistic regression analysis was performed to identify independent predictors of mortality.
Results: Among 606 hospitalized HIV/AIDS patients (median age 32 years; 64.2% males), 122 (20.1%) were newly diagnosed with HIV infection during the hospitalization and 251 (41.5%) on ART. Median length of stay was 11 (range 2 to 75) days. There were 425 (70.1%) patients being hospitalized due to opportunistic infection. In-hospital mortality rate was 23.4% with majority (92.3%) due to AIDS-related illnesses. The independent predictors of mortality in multivariate analysis were WHO clinical stage IV (OR=6.440; 95% CI 3.701 to 11.203), hemoglobin level <10 g/dL (OR=1.542; 95% CI 1.015 to 2.343) and eGFR level <60 mL/min/1.73 m2 (OR=3.414; 95% CI 1.821 to 6.402).
Conclusions: In-hospital mortality rate was 23.4%. WHO clinical stage IV, hemoglobin level <10 g/dL and eGFR level <60 mL/min/1.73 m2 were the independent predictors of in-hospital mortality among hospitalized patients with HIV/AIDS.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015
SP-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Shafira Puspadina
"Latar belakang: Sebagian besar pasien kanker usia lanjut terdiagnosis pada stadium lanjut dengan peningkatan risiko mortalitas. Identifikasi faktor prediktor yang memengaruhi terjadinya mortalitas satu tahun diharapkan dapat membantu stratifikasi risiko dan menjadi pertimbangan perencanaan pelayanan kesehatan, edukasi, serta persiapan advanced care planning.
Tujuan: Mengetahui faktor prediktor mortalitas satu tahun pada lansia dengan kanker padat metastasis dan mengembangkan model prediksi mortalitas satu tahun.
Metode: Studi kohort retrospektif dengan menelusuri rekam medis pasien berusia ≥60 tahun dengan kanker padat metastasis berdasarkan pemeriksaan histopatologi atau radiologi yang berobat di poli onkologi RS Kanker Dharmais pada Januari 2020 hingga Desember 2021. Dilakukan analisis bivariat chi-square antara usia, jenis kelamin, ADL, ECOG-PS, jenis kanker, metastasis organ, jumlah metastasis, status nutrisi, komorbid, jumlah komorbid, polifarmasi, gangguan kognitif, gangguan mood, dan best supportive care dengan mortalitas satu tahun sesudah diagnosis kanker metastasis. Analisis multivariat dan model prediksi dilakukan dengan regresi logistik.
Hasil: Terdapat 210 subjek dengan hasil analisis bivariat menunjukkan hubungan antara ECOG-PS, status nutrisi, dan pemberian best supportive care dengan mortalitas satu tahun (p<0,05). Hasil regresi logistik menunjukkan faktor prediktor independen mortalitas yaitu metastasis organ (OR 2,468 [IK 95%1,163-5,317]), status nutrisi (OR 1,943 [IK 95%1,048-3,604]), ECOG-PS (OR 2,302 [IK 95%1,241-4,271]), dan best supportive care (OR 3,157 [IK 95%1,288-7,738]). Model prediksi mortalitas satu tahun memiliki nilai AUC 0,705 (IK 95%95%: 0,629 – 0,781).
Kesimpulan:Faktor prediktor independen terhadap mortalitas 1 tahun sesudah diagnosis metastasis yaitu metastasis organ, ECOG-PS, status nutrisi, dan best supportive care.

Background: Identification of patients on their final year is important to help physicians to make personalized treatment plan according to life expectancy and to guide patients and families to prepare an advanced care planning.
Methods: We retrospectively included patients aged ≥60 years who had metastatic solid cancer and in whom geriatric assessment was performed in Dharmais National Cancer Center outpatient clinic. A total of 210 subjects were enrolled between January 2020 to December 2021. The primary analyses were performed from April to May 2023. Chi square analysis was performed between age, sex, ADL, ECOG-PS, type of cancer, visceral metastasis, number of metastatic sites, nutritional status, comorbidity, multimorbidity, polypharmacy, cognitive impairment, mood disorder, and best supportive care with one-year mortality. Variables with p value <0.25 were analysed further with logistic regression to develop a prediction model. The model’s discriminative ability was assessed with model’s area under the curve. Calibration was performed using bootstrap method.
Result: We collected 210 subjects, with median age, 66,5 years. Lung cancer was the most common malignancy (44.3%). Logistic regression results showed visceral metastasis (OR 2.468; 95% CI 1.163-5.317), nutritional status (OR 1.943; 95% CI 1.048-3.604), ECOG-PS (OR 2.302; 95% CI 1.241-4.271), and best supportive care (OR 3.157; 95% CI 1.288-7.738) were independent predictors of one year mortality. The one-year mortality prediction model has an AUC value of 0.705 (95% CI: 0.629-0.781).
Conclusion: Model developed from this study can assist clinicians to identify patients in their last year of life who need palliative care and to prepare an advance care planning.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2023
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Samuel Halim
"Hospital Acquired Pneumonia (HAP) merupakan infeksi nosokomial yang sering dijumpai pasien yang dirawat di rumah sakit. Mortalitas akibat HAP sangat tinggi, bahkan dapat mencapai 50%, namun belum ada data mengenai hal tersebut di Indonesia, serta belum diketahuinya faktor-faktor prediktor mortalitas. Hal ini penting untuk meningkatkan tata kelola HAP dalam menurunkan angka mortalitas.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor prediksi kematian pada pasien HAP di ruang rawat Penyakit Dalam RSCM dan mengetahui proporsi mortalitas pada pasien tersebut. Penelitian ini merupakan studi kohort retrospektif. Data diambil dari rekam medik mulai awal tahun 2006 sampai akhir tahun 2012. Variabel-variabel yang diduga sebagai faktor prediksi mortalitas pasien HAP adalah usia > 60 tahun, penurunan kesadaran, renjatan, sepsis, albuminemia < 3g/dL, imunokompromais, HAP awitan lambat.
Analisis bivariat dilakukan dengan menggunakan uji perbedaan dua kelompok kategorik (Uji Chi-square atau Fisher) serta analisis multivariat dilakukan dengan menggunakan regresi logistik ganda. Selama penelitian kami mendapatkan 204 subjek dengan HAP pada kurun waktu yang telah ditentukan, dengan proporsi mortalitas sebesar 44,1%. Sebanyak 109 subjek (53,4%) adalah pria dengan rentang usia 18 sampai 88 tahun (median 51 tahun). Komorbidatas tersering yang didapatkan adalah hipertensi (17,22%).
Dari hasil kultur sputum kami dapatkan kuman terbanyak adalah Klebsiella pneumonia yaitu 36 dari 61 isolat (59%). Analisis multivariat menunjukkan faktor yang bermakna secara statistik adalah penurunan kesadaran (OR 7,86 IK95% 3,363-18,36), renjatan (OR 3,80 IK95% 1,342-10,742), imunokompromais (OR 3,36 IK95% 1,738-6,483), serta hipoalbuminemia (OR 2,781 IK95% 1,298-5,958). Faktor-faktor prediksi mortalitas HAP adalah penurunan kesadaran, renjatan, imunokompromais dan hipoalbuminemia. Proporsi mortalitas HAP sebesar 44,1%.

Mortality and morbidity due to Hospital Acquired Pneumonia (HAP) are high. Mortality rate reaches up to 50%, but currently there is no local Indonesian data about the issue. Predictors of mortality are also not yet identified. These are important to improve the management of HAP in order to decrease mortality and morbidity.
The aims of this study were to identify factors that can be used to predict mortality in HAP patients in Internal Medicine Ward of Cipto Mangunkusumo Hospital (CMH) and to recognize the mortality proportion of those patients. This was a retrospective cohort study. Subject’s data were taken from medical records from January 2006 to December 2012. Independent variables consisted of age over 60, decrease of consciousness, shock, sepsis, hypoalbuminemia less than 3 g/dL, immune-compromised, late onset HAP.
For bivariate analysis, we used chi-square test or Fisher test and for multivariate analysis the logistic regression test. There was 204 patients included, all complete data and no drop-out. The mortality proportion of HAP of our cohort was 44.1%. Patients were mostly men, 109 subjects (53.4%) with age ranging between 18 to 88 years old (median age 51 years). The most common co morbidity was hypertension (17.22%). The most frequent microorganism isolated from sputum culture was Klebsiella pneumonia, 36 out of 61 isolates (59%).
Bivariate analysis revealed that decrease of consciousness, shock, sepsis, immune-compromised and hypoalbuminemia as statistically significant predictors of mortality. Multivariate analysis showed statistically significant predictors of mortality were decrease of consciousness (OR 7.86 95%CI 3.363-18.36), shock (OR 3.80 95%CI 1.342-10.742), immune-compromised (OR 3.36 95%CI 1.738-6.483) and hypoalbuminemia (95%OR 2.78 95%CI 1.298-5.958).Significant predictors of HAP mortality were decrease of consciousness, shock, immune-compromised and hypoalbuminemia. Mortality of HAP was 44.1%.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Paramita Khairan
"ABSTRAK
Latar Belakang: Pneumonia menimbulkan mortalitas yang cukup tinggi, karenanya diperlukan model prediksi yang akurat untuk membantu prediksi kematian pasien pneumonia. Sistem skor CURB-65 mudah digunakan namun beberapa penelitian mengindikasikan performa skor CURB-65 kurang baik sehingga diperlukan penambahan faktor prognostik baru. Faktor prognostik yang diperkirakan dapat meningkatkan performa skor CURB-65 adalah kadar albumin darah. Tujuan: Menilai kemampuan kadar albumin serta nilai tambahnya pada skor CURB-65 dalam memprediksi mortalitas pasien penumonia dengan komorbid yang masuk rawat inap. Metode: Penelitian ini merupakan studi kohort prospektif dengan subjek penelitian pasien pneumonia dengan komorbid yang masuk rawat inap melalui IGD di RSCM. Outcome penelitian ini yaitu mortalitas selama perawatan. Performa skor CURB-65 dinilai sebelum dan sesudah ditambahkan albumin. Performa kalibrasi dinilai dengan uji Hosmer-Lemeshow sedangkan performa diskriminasi dinilai dengan area under the curve AUC . Hasil: 250 pasien diikutsertakan dalam penelitian ini dengan angka mortalitas 42,6 . Performa kalibrasi skor CURB-65 dengan uji Hosmer-Lemeshow menunjukkan p = 0,990 . Performa diskriminasi skor CURB-65 ditunjukkan dengan nilai AUC0,677 IK 95 0,61-0,74 . Setelah ditambahkan kadar albumin dengan titik potong 3,125, didapatkan peningkatan nilai AUC skor CURB-65 menjadi 0,727 IK95 0,66-0,79 . Simpulan: Kadar albumin darah memiliki nilai tambah pada skor CURB-65 sebagai prediktor mortalitas pada pasien pneumonia yang masuk rawat inap. Kata Kunci: pasien pneumonia, mortalitas, CURB-65, kadar albumin darah

ABSTRACT
Background Pneumonia is an infection disease with high mortality. An accurate prediction rule is needed to help clinician in predicting mortality of pneumonia patients. CURB 65 score is a simple and well known scoring system to asses the severity of community pneumonia, but several research indicated that the performance is not really good. Added value of albumin serum in CURB 65 score should be evaluated. Aim To evaluate added value of albumin serum in CURB 65 score as mortality predictor in pneumonia patients. Methode This is a prospective cohort study of pneumonia with commorbidity patients who admitted to emergency instalation of Cipto Mangunkusumo Hospital. Mortality is the outcome that assessed during hospitalization. Performance of CURB 65 score was evaluated before and after addition of albumin in scoring system. Calibration was evaluated with Hosmer Lemeshow test. Discrimination was evaluated with area under the curve AUC . Prediction performance of CURB 65 score and albumin were evaluated with ROC curve. Results 250 patients was submitted to this study with mortality rate 42,6 . Calibration plot of CURB 65 score of Hosmer Lemeshow test showed p 0,990. Discrimination was shown by ROC curve with AUC 0,677 IK 95 0,61 0,74 . AUC of CURB 65 score added by albumin improved to 0,727 IK95 0,66 0,79 . Conclusion Serum albumin has added value to CURB 65 score in predicting mortality of pneumonia patients. Key Words pneumonia patients, mortality, CURB 65 score, serum albumin"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
T58716
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Saragih, Riahdo Juliarman
"Latar Belakang: Ventilator-associated pneumonia (VAP) merupakan infeksi yang sering terjadi di intensive care unit (ICU) dan memiliki angka mortalitas yang tinggi. Pengetahuan tentang prediktor mortalitas dapat membantu pengambilan keputusan klinis untuk tatalaksana pasien. Studi-studi tentang faktor prediktor mortalitas VAP menunjukkan hasil yang berbeda-beda dan tidak ada penelitian yang komprehensif di Indonesia.
Tujuan: Mengetahui faktor-faktor prediktor mortalitas pasien VAP di RSCM.
Metode: Penelitian ini merupakan studi kohort retrospektif pada pasien ICU RSCM yang didiagnosis VAP selama tahun 2003-2012. Data klinis dan laboratorium beserta status luaran (hidup atau meninggal) selama perawatan diperoleh dari rekam medis. Analisis bivariat dilakukan pada variabel kelompok usia, infeksi kuman risiko tinggi, komorbiditas, renjatan sepsis, kultur darah, prokalsitonin, ketepatan antibiotik empiris, acute lung injury, skor APACHE-II, dan hipoalbuminemia. Variabel yang memenuhi syarat akan disertakan pada analisis multivariat regresi logistik.
Hasil: Sebanyak 201 pasien diikutsertakan pada penelitian ini. Didapatkan angka mortalitas selama perawatan sebesar 57,2%. Kelompok usia, komorbiditas, renjatan sepsis, prokalsitonin, ketepatan antibiotik empiris, dan skor APACHE II merupakan variabel yang berpengaruh terhadap mortalitas pada analisis bivariat. Prediktor mortalitas pada analisis multivariat adalah antibiotik empiris yang tidak tepat (OR 4,70; IK 95% 2,25 sampai 9,82; p < 0,001), prokalsitonin > 1,1 ng/mL (OR 4,09; IK 95% 1,45 sampai 11,54; p = 0,01), usia ≥ 60 tahun (OR 3,71; IK 95% 1,35 sampai 10,20; p = 0,011), dan adanya renjatan sepsis (OR 3,53; IK 95% 1,68 sampai 7,38; p = 0,001).
Kesimpulan: Pemberian antibiotik empiris yang tidak tepat, prokalsitonin yang tinggi, usia 60 tahun atau lebih, dan adanya renjatan sepsis merupakan pediktor independen mortalitas pada pasien VAP.

Background: Ventilator-associated pneumonia (VAP) is a frequent infection with high mortality rates in intensive care unit (ICU). The prediction of outcome is important in decision-making process. Studies exploring predictors of mortality in patients with VAP produced conflicting results and there are no comprehensive reports in Indonesia.
Objective: To determine predictors of mortality in patients with VAP in Cipto Mangunkusumo Hospital.
Methods: We performed a retrospective cohort study on patients admitted to the ICU who developed VAP between 2003?2012. Clinical and laboratory data along with outcome status (survive or non-survive) were obtained for analysis. We compared age, presence of high risk pathogens infection, presence of comorbidity, septic shock status, blood culture result, procalcitonin, appropriateness of initial antibiotics therapy, presence of acute lung injury, APACHE II score, and serum albumin between the two outcome group. Logistic regression analysis performed to identify independent predictors of mortality.
Results: A total of 201 patients were evaluated in this study. In-hospital mortality rate was 57.2%. Age, comorbidity, septic shock status, procalcitonin, appropriateness of initial antibiotics therapy, and APACHE II score were significantly different between outcome groups. The independent predictors of mortality in multivariate logistic regression analysis were inappropriate initial antibiotics therapy (OR: 4.70; 95% CI 2.25 to 9.82; p < 0.001), procalcitonin > 1.1 ng/mL (OR: 4.09; 95% CI 1.45 to 11.54; p = 0.01), age ≥ 60 years old (OR: 3.71; 95% CI 1.35 to 10.20; p = 0.011), and presence of septic shock (OR: 3.53; 95% CI 1.68 to 7.38; p = 0.001).
Conclusion: Inappropriate initial antibiotic therapy, high serum procalcitonin level, age 60 years or older, and presence of septic shock were independent predictors of mortality in patients with VAP.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Steven Mattarungan
"Latar belakang: Tuberkulosis (TBC) merupakan penyebab utama kematian akibat penyakit infeksi untuk anak dan remaja dari segala usia di seluruh dunia. TBC pada remaja menunjukkan angka kematian lebih tinggi dibandingkan kelompok usia yang lebih muda. Penyebab yang sering menyebabkan hal ini adalah keterlambatan diagnosis, gaya hidup dan masalah psikososial. Hingga saat ini data mengenai angka kejadian dan prediktor mortalitas TBC pada remaja masih sangat terbatas, terutama di Indonesia yang menjadi salah satu negara dengan prevalens TBC yang tinggi.

Metode: Studi ini merupakan penelitian kohort retrospektif yang melibatkan pasien usia 10-18 tahun dengan penyakit TBC di RSUPN Dr.  Cipto Mangunkusumo. Data berasal dari penelusuran rekam medis dan sistem pencatatan khsusus pasien TBC nasional (SITB) yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak memenuhi kriteria eksklusi pada periode 1 Januari 2019 hingga 1 Juni 2023

Hasil: Total jumlah subjek penelitian yang diikutsertakan adalah 319 pasien, dengan 50 pasien (15,6%) meninggal dan 269 (84,3%) pasien hidup. Prediktor mortalitas yang bermakna pada penelitian ini adalah status gizi buruk (HR 4,5; P<0,001) dan kepatuhan berobat (HR 4,8; P<0,001). Kesintasan pasien remaja TBC sensitif obat sebesar 92% pada bulan pertama dan 87% pada bulan kedua kemudian menurun hingga akhir pemantauan menjadi 83% pada bulan kelima belas.

Kesimpulan : Angka mortalitas pada remaja dengan TBC cukup tinggi terutama pada dua bulan pertama pengobatan dan dipengaruhi oleh berbagai prediktor. Intervensi perlu berfokus pada peningkatan status gizi dan kepatuhan berobat yang dapat membantu mengurangi risiko kematian.


Background: Tuberculosis (TBC) is the leading cause of death from infectious diseases for children and adolescents of all ages worldwide. TBC in adolescents shows a higher mortality rate compared to younger age groups.Common causes include delayed diagnosis, lifestyle factors, and psychosocial issues. Currently, data on TB mortality predictors in adolescents is limited especially in Indonesia, one of the countries with a high TBC prevalence.

Methods: This retrospective cohort study involved patients aged 10-18 years with TBC at Cipto Mangunkusumo National General Hospital. Data were derived from medical records, interviews, and the national specialized TB patient recording system that met inclusion and exclusion criteria for the period from January 1st, 2019 to January 1st, 2023.

Results:  Total of 319 patients were included in the study, with 50 patients (14.7%) died and 269 (84,3%) survived. Significant mortality predictors factors in this study were poor nutritional status (HR 4.5; P<0.001) and medication adherence (HR 4,8; P<0.001). The survival rate of adolescent patients with drug-sensitive TB was 92% in the first month and 87% in the second month, then decreased to 83% by the end of the monitoring period in the fifteenth month.

Conclusion: The mortality rate among adolescents with TB is relatively high, especially in the first two months of treatment, and is influenced by various risk factors. Interventions need to focus on improving nutritional status and medication adherence, which may help in reducing the risk of death."

Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2023
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Elli Arsita
"Latar Belakang. Peran infeksi sebagai penyebab kematian telah banyak diteliti namun peran infeksi sebagai prediktor mortalitas pada pasien lupus eritematosus sistemik (SLE systemic lupus erythematosus) yang dirawat inap masih kontroversi pada penelitian luar negeri dan belum pernah diteliti di Indonesia.
Tujuan. Mengetahui peran infeksi sebagai prediktor mortalitas pasien SLE yang dirawat inap.
Metodologi. Penelitian dengan desain kohort retrospektif dilakukan terhadap 181 episode perawatan pasien SLE yang dirawat di RSCM pada kurun waktu Januari 2008 - Desember 2012. Data dikumpulkan dari rekam medik. Variabel bebas infeksi dan perancu lupus neuropsikiatri, lupus nefritis, steroid ≥ 1mg/kgBB/hari 2 minggu sebelum keluar RS, onset muda dan jenis kelamin laki-laki serta variabel tergantung mortalitas pasien SLE dianalisis bivariat dengan Chi-square. Variabel yang memiliki nilai p<0,25 dimasukkan dalam analisis multivariat regresi logistik langkah demi langkah dari variabel infeksi dan perancu sehingga didapatkan crude OR serta adjusted OR.
Hasil. Mortalitas pasien SLE yang dirawat inap 22%. Pasien SLE yang dirawat dengan infeksi 90 orang (49,7%) dan 91 orang( 50,3%) tanpa infeksi. Jenis infeksi dari yang terbanyak pada pasien SLE yang dirawat inap adalah community acquired pneumonia.(CAP) (64,4%), HAP (18,8%), HCAP (5,6%), skin and soft tissue infection (5,6%). Pasien SLE yang dirawat dengan TB paru ada 14 orang(7,7%), riwayat TB paru 7 orang (3,9%). Penyebab kematian pada 40 pasien SLE yang dirawat yaitu syok sepsis irreversible 25 (62,5%), gagal napas 9 (22,5%), dan herniasi cerebri 2 (5%). Pada analisis bivariat infeksi, lupus neuropsikiatri, lupus nefritis, dan steroid ≥ 1mg/kgBB/hari 2 minggu sebelum keluar RS memiliki nilai p<0,25 sehingga dimasukkan dalam analisis multivariat regresi logistik langkah demi langkah. Infeksi berperan sebagai prediktor mortalitas pada pasien SLE dengan adjusted OR adalah 7,4 (IK 95% 2,8 – 19,6).
Kesimpulan. Infeksi berperan sebagai prediktor mortalitas pada pasien SLE yang dirawat inap.

Background. The role of infection as a cause of death is well known but the role of infection as a predictor of mortality in hospitalized patients with systemic lupus erythematosus (SLE) is debatable due to variable results from prior studies in foreign country and never been done in Indonesia.
Objective. Investigating the role of infection as a predictor of mortality in hospitalized patients with SLE.
Methods. A retrospective cohort study was conducted in 181 hospitalization episode of patients with SLE in Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta from January 2008 until December 2012. Data was collected from medical records. The independent variable was infection, confounders such as neuropsychiatric lupus, nephritis lupus, use of steroid ≥ 1mg/kg BW/day 2 weeks before hospital discharge, young onset, and male gender. Those variables were analysed bivariately using Chi-square test with mortality as the dependent variable. Variables with p<0.25 were analysed using multivariate logistic regression step by step until we got crude OR and adjusted OR of infection.
Results. Mortality of hospitalized patients with SLE is 22%. Infection was found in 90 patients (49.7%). The most common infection was community acquired pneumonia (64.4%). The most common cause of death was irreversible septic shock. Bivariate analysis showed that infection, neuropsychiatric lupus, nephritis lupus, and use of steroid ≥ 1mg/kg BW/day 2 weeks before hospital discharge had p<0.25. Multivariate analysis showed that infection had crude OR 8.60 (CI 95% 3.39 – 21.83) and adjusted OR 7.4 (CI 95% 2.8 – 19.6).
Conclusion. Infection is a predictor of mortality in hospitalized patients with SLE.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Alvin Nursalim
"Latar Belakang. Perawatan pasien geriatri di ruang rawat inap dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kualitas hidup pelaku rawat pasien geriatri. Kualitas hidup pelaku rawat yang buruk dapat menyebabkan penurunan kualitas perawatan yang diberikan. Karena itu, penilaian kualitas hidup pelaku rawat pasien geriatri diperlukan. Mengetahui kualitas hidup pelaku rawat pasien geriatri yang dirawat inap di rumah sakit dan mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kualitas hidup pelaku rawat pasien geriatri yang dirawat inap di rumah sakit. Studi ini menggunakan desain potong lintang untuk meneliti faktor-faktor yang berhubungan dengan kualitas hidup pelaku rawat pasien geriatri yang dirawat inap di Rumah Sakit Cipto Mangukusumo pada bulan Agustus hingga September 2018. Studi ini menggunakan kuesioner SF-36 untuk menilai kualitas hidup pelaku rawat dengan dua luaran yaitu skor komponen fisik dan komponen mental. Analisis bivariat menggunakan uji Chi Square dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik.
Hasil. Nilai rerata komponen fisik dari pelaku rawat pasien geriatri di RSCM adalah 49,07. Sedangkan nilai rerata komponen mental adalah 51,62. Kedua nilai ini sama dengan rerata populasi (nilai 50 dengan standar deviasi 10). Berdasarkan analisis multivariat, terdapat dua variabel yang berhubungan dengan penurunan kualitas hidup komponen mental di bawah rerata populasi, yaitu jenis kelamin wanita (POR: 3,66, IK 95%: 1,39-9,59, p: 0,008), dan lama perawatan lebih dari 8 jam (POR: 3,5, IK 95%: 1,39-8,86, p: 0,008). Selain itu, terdapat dua faktor yang berhubungan dengan penurunan kualitas hidup komponen mental dibawah rerata populasi, yaitu jenis kelamin wanita (POR: 2,66, IK 95%: 1,03-6,88, p: 0,044), dan hubungan keluarga dengan pasien (POR: 7,91, IK 95%: 1,68-37,29, p: 0,009). Nilai skor kualitas hidup komponen fisik adalah 49,07, dan komponen mental 51,62. Kualitas hidup pelaku rawat pasien geriatri di rumah sakit, baik komponen fisik dan mental, sama dengan rerata populasi. Jenis kelamin wanita, dan lama perawatan lebih dari 8 jam berhubungan dengan nilai komponen fisik dibawah rerata populasi. Sedangkan jenis kelamin pelaku rawat wanita, dan hubungan keluarga dengan pasien berhubungan dengan nilai komponen mental dibawah rerata populasi.

The high intensity of geriatric patient hospitalization has bad impact to caregiver's quality of life. Caregivers who have bad quality of life also has detrimental effect to the patient under their care. Therefor, the assessment of caregiver's quality of life is needed to make sure the optimal care for geriatric patients. To identify the quality of life in geriatric patients' caregiver and its contributing factors. This study is a cross-sectional study to identify the quality of life in geriatric patients' caregivers and its contributing factors. This study is conducted in Cipto Mangunkusumo Hospital from August to September 2018. This study utilizes SF-36 questionnaire with two major outcome, physical component and mental component. Bivariate analysis is performed by using Chi Square analysis and multivariate analysis is performed by using logistic regression.
Result. The average score of physical score among geriatric patient's caregivers in Cipto Mangunkusumo hospital is 49,07. The mental score is 51,62. Both of these score are similar to the average score of populaton. There are two variables with significant association with low physical component below the population average, which include the gender of caregiver (POR: 3,66, 95% IK: 1,39-9,59, p: 0,008), and duration of caregiving more than 8 hours (POR: 3,50, 95% IK: 1,39-8,86, p: 0,008). There are also two factors that significantly associated with low mental component, which include the gender of caregiver (POR: 2,66, 95% IK: 1,03-6,88, p: 0,044), and family relationship to the patient (POR: 7,90, 95% IK: 1,68-37,29, p: 0,009). The quality of life of geriatric patient's caregiver is similar to the average score of the population. Female and the duration of caregiving more than 8 hours/day are related to low score of physical component. Female and family relation to the patient is related to low score of mental component.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>