Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 97261 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ria Anggraeni
"Sebagian besar masyarakat menyampaikan pengetahuan etnobotani secara lisan sehingga banyak dari pengetahuan mereka tidak terdokumentasikan. Tingkat pengetahuan etnobotani dipengaruhi oleh umur pada masyarakat. Namun, beberapa penelitian menyatakan bahwa tingkat pengetahuan etnobotani tidak dipengaruhi oleh umur. Oleh karena itu, perlu dilakukan pendekatan etnobotani untuk mendokumentasikan pengetahuan etnobotani dan mengetahui pengaruh umur pada masyarakat pada tingkat pengetahuan tersebut.
Penelitian dilakukan pada masyarakat subetnis Batak Toba di Desa Peadungdung, Sumatera Utara. Pengumpulan data etnobotani dan deskripsi desa dilakukan dengan metode wawancara terbuka dan semistruktural. Analisis data dilakukan dengan pendekatan kualitatif, yaitu mengelompokkan spesies tumbuhan berdasarkan kategori guna dan pendekatan kuantitatif, yaitu analisis UVs, ICS dan LUVI.
Hasil penelitian menunjukkan 163 spesies tumbuhan berguna dimanfaatkan oleh masyarakat dan dikelompokkan berdasarkan kegunaan, yaitu bahan pangan (71 spesies), kayu bakar (25 spesies), teknologi lokal (18 spesies), obat-obatan (92 spesies), konstruksi bangunan (13 spesies), tali-temali 15 spesies), pakan ternak (20 spesies), kerajinan (11 spesies), simbol (21 spesies) dan berpotensi ekonomi (12 spesies). Arenga pinnata merupakan spesies tumbuhan dengan nilai kultural (ICS) dan nilai guna (UVs) tertinggi. Bahan pangan merupakan kategori guna dengan nilai kepentingan lokal (LUVI) tertinggi, yaitu 9,9%. Tingkat pengetahuan etnobotani terendah pada kelompok responden berumur 17--30 tahun.

Orally delivery about ethnobotanical knowledge cause the knowledge is not documented. The level of ethnobotanical knowledge in a society?s are different based on the age. However, some studies suggest that the level of ethnobotanical knowledge are not affected by age. Therefore, the ethnobotanical approach needs to documenting the ethnobotanical knowledge and identify the knowledge level of the local society about the use of plants.
The study was conducted in Batak Toba sub-ethnic society in Peadungdung rural, North Sumatera. This study used open interview and semi-structured interview. The data were analyzed qualitatively by categorizing plant species based on their use dan quantitatively by measuring ICS, UVs and LUVI.
The result show that 163 species of plant are used which are as food (71 species), fuelwood (25 species), local technology (18 species), medicines (92 species), the building materials (13 species), ropes (15 species), fodder (20 species), crafts (11 species), symbols (21 species) and economic potential (12 species). Arenga pinnata is the species with the highest value of ICS and UVs. Food is the most important use category because have the highest value of local interests (LUVI), that is 9,9%. The lowest level of ethnobotanical knowledge goes to 17--30 years-old respondent."
Depok: Universitas Indonesia, 2013
S44378
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lasma Dyna Faryda Mahulae
"ABSTRAK
Penelitian etnobotani konservasi kemenyan (Styrax spp.) oleh etnik Batak di Desa Pusuk I, Sumatera Utara telah berlangsung selama enam bulan. Penelitian bertujuan untuk memperoleh informasi terkait pengetahuan lokal etnik Batak dalam menjaga keberadaan kemenyan (Styrax spp.) dan memanfaatkannya secara berkelanjutan serta untuk mengetahui keberadaan populasi kemenyan di hutan Desa Pusuk I. Penelitian dilakukan dengan pendekatan etnobotani dan ekologi. Metode yang digunakan meliputi wawancara, observasi partisipatif dan analisis vegetasi. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara purposive. Melalui hasil penelitian, diketahui bahwa etnik Batak di Desa Pusuk I mengenal dua spesies kemenyan yaitu Styrax paralleloneurum dan Styrax benzoin. Namun, spesies yang dibudidayakan dan dimanfaatkan sebagai komoditas ekspor ialah S. paralleloneurum. Etnik Batak di Desa Pusuk I terbukti memiliki pengetahuan lokal dalam menjaga keberadaan S. paralleloneurum dan memanfaatkannya secara berkelanjutan. Pengetahuan lokal tersebut ditemukan dalam proses pembudidayaan kemenyan, dimulai dari pemilihan bibit, pemeliharaan, penyadapan dan juga pemanenan getahnya. Hasil penelitian juga menunjukkan kondisi kemenyan, tepatnya S. paralleloneurum, yang masih menjadi spesies paling dominan di hutan Desa Pusuk I, ditandai dengan INP paling tinggi, baik di tingkat semai, pancang, tiang maupun pohon.

ABSTRACT
Research on ethnobotany of Kemenyan (Styrax spp.) conservation by Batak Ethnic in Pusuk I Village, North Sumatera, was conducted on six months. The study aims to obtain information about indigenous knowledge of Batak Ethnic on keeping Kemenyan?s existence and using that plant sustainably, also to know Kemenyan?s population existence in Pusuk I forest. Research was done using ethnobotany and ecology approach. The methods used were interview, participatif observation, and vegetation analysis. Research?s location chosen purposively. The results showed that Batak Ethnic in Pusuk I Village, North Sumatera knew two species of Kemenyan that is Styrax paralleloneurum and Styrax benzoin. But, species that Batak Ethnic cultivate and use as an export commodity is S. paralleloneurum. Batak Ethnic proven had indigenous knowledges on keeping Kemenyan?s existence and using that plant sustainably. That indigenous knowledges was found in Kemenyan?s cultivation, starts from the seed selection, maintenance, tapping and harvesting the sap. The result also showed that Kemenyan still be a dominant species in Pusuk I forest, marked with Kemenyan?s Importance Index Values that highest in seedling, sapling, poles and tree stage."
2016
S65405
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Purba, Endang Christine
"[ABSTRAK
Penelitian ?Etnobotani Masyarakat Enis Karo di Kecamatan Merdeka,
Sumatera Utara? bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan spesies tumbuhan
berguna dan perbedaan pengetahuan lokal tentang pemanfaatan tumbuhan
berdasarkan gender dan umur oleh masyarakat etnis Karo di Kecamatan Merdeka.
Pelaksanaan penelitian dilakukan melalui pendekatan etik dan emik. Pengumpulan
data dilakukan melalui wawancara terbuka dan semi terstruktur, observasi
partisipatif dan diskusi kelompok fokus (Focus Group Discussion--FGD). Data
tentang keanekaragaman pemanfaatan spesies tumbuhan dianalisis dengan metode
LUVI (Local User?s Value Index), ICS (Index of Cultural Significance); dan data
tentang perbedaan pengetahuan pemanfaatan tumbuhan brdasar gender dan umur
dianalisis dengan metode UVs (Use Values), dan statistik. Terdapat 158 spesies
yang termasuk dalam 61 famili yang dikenal dan dimanfaatkan masyarakat etnis
Karo di KecamatanMerdeka. Seratus lima puluh delapan spesies tumbuhan
tersebut dimanfaatkan untuk obat-obatan, pangan, sumber penghasilan, teknologi
lokal, kayu bakar, adat/ritual/hiasan, racun/anti racun dan pewarna. Berdasarkan
analisis LUVI diperoleh 60 spesies yang dianggap paling penting dan pangan
sebagai kategori guna terpenting. Oryza sativa mendapat nilai ICS tertinggi yaitu
50, yang dimanfaatkan sebagai makanan pokok. Berdasarkan umur dari
kelompok responden, rata-rata jumlah spesies tumbuhan yang diketahui dan
dimanfaatkan dan nilai UVs pada responden umur lebih dari 50 tahun lebih tinggi
dibandingkan dengan umur 30--50 tahun. Sementara itu, berdasarkan gender,
rata-rata jumlah spesies tumbuhan yang diketahui dan dimanfaatkan dan nilai UVs
pada responden laki-laki lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan

ABSTRACT
The purposes of this study are to identify the plant species perceived by
Karonese of Merdeka District and determine whether gender and age have
different local knowledge differences of use values of plant species. The
ethnobotanical research and collection data were conducted by open and semistructured
interview, observation, focus group discussion (FGD). The
ethnonotanical information according to general categories of plant species uses
analysed by LUVI (Local User?s Value Index), ICS (Index of Cultural
Significance); and the differences in knowledge of plant based on age and gender
was analysed by UVs (Use Values) dan statistic analysis. Karonese of Merdeka
District use 158 plant spesies, 60 families for 8 general use categories, which in
medicinal uses, food, economical plants, local technology, firewood, traditional
celebration/ritual/ornaments, poisonous plants, and dye-colors. There are 60
species which considered as the most useful plants based on LUVI analysis. The
ICS analysis indicated that Oryza sativa gained the highest value (50), which is
used as staple food. Based on the age of respondents, the average number of plant
species that are known and utilized; and value UVs on respondents aged more 50
years old higher than the age of 30--50 years old. Meanwhile, based on gender,
men of Karo ethnic society in District Merdeka know more plant species than the
women.;The purposes of this study are to identify the plant species perceived by
Karonese of Merdeka District and determine whether gender and age have
different local knowledge differences of use values of plant species. The
ethnobotanical research and collection data were conducted by open and semistructured
interview, observation, focus group discussion (FGD). The
ethnonotanical information according to general categories of plant species uses
analysed by LUVI (Local User’s Value Index), ICS (Index of Cultural
Significance); and the differences in knowledge of plant based on age and gender
was analysed by UVs (Use Values) dan statistic analysis. Karonese of Merdeka
District use 158 plant spesies, 60 families for 8 general use categories, which in
medicinal uses, food, economical plants, local technology, firewood, traditional
celebration/ritual/ornaments, poisonous plants, and dye-colors. There are 60
species which considered as the most useful plants based on LUVI analysis. The
ICS analysis indicated that Oryza sativa gained the highest value (50), which is
used as staple food. Based on the age of respondents, the average number of plant
species that are known and utilized; and value UVs on respondents aged more 50
years old higher than the age of 30--50 years old. Meanwhile, based on gender,
men of Karo ethnic society in District Merdeka know more plant species than the
women.;The purposes of this study are to identify the plant species perceived by
Karonese of Merdeka District and determine whether gender and age have
different local knowledge differences of use values of plant species. The
ethnobotanical research and collection data were conducted by open and semistructured
interview, observation, focus group discussion (FGD). The
ethnonotanical information according to general categories of plant species uses
analysed by LUVI (Local User’s Value Index), ICS (Index of Cultural
Significance); and the differences in knowledge of plant based on age and gender
was analysed by UVs (Use Values) dan statistic analysis. Karonese of Merdeka
District use 158 plant spesies, 60 families for 8 general use categories, which in
medicinal uses, food, economical plants, local technology, firewood, traditional
celebration/ritual/ornaments, poisonous plants, and dye-colors. There are 60
species which considered as the most useful plants based on LUVI analysis. The
ICS analysis indicated that Oryza sativa gained the highest value (50), which is
used as staple food. Based on the age of respondents, the average number of plant
species that are known and utilized; and value UVs on respondents aged more 50
years old higher than the age of 30--50 years old. Meanwhile, based on gender,
men of Karo ethnic society in District Merdeka know more plant species than the
women., The purposes of this study are to identify the plant species perceived by
Karonese of Merdeka District and determine whether gender and age have
different local knowledge differences of use values of plant species. The
ethnobotanical research and collection data were conducted by open and semistructured
interview, observation, focus group discussion (FGD). The
ethnonotanical information according to general categories of plant species uses
analysed by LUVI (Local User’s Value Index), ICS (Index of Cultural
Significance); and the differences in knowledge of plant based on age and gender
was analysed by UVs (Use Values) dan statistic analysis. Karonese of Merdeka
District use 158 plant spesies, 60 families for 8 general use categories, which in
medicinal uses, food, economical plants, local technology, firewood, traditional
celebration/ritual/ornaments, poisonous plants, and dye-colors. There are 60
species which considered as the most useful plants based on LUVI analysis. The
ICS analysis indicated that Oryza sativa gained the highest value (50), which is
used as staple food. Based on the age of respondents, the average number of plant
species that are known and utilized; and value UVs on respondents aged more 50
years old higher than the age of 30--50 years old. Meanwhile, based on gender,
men of Karo ethnic society in District Merdeka know more plant species than the
women.]"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2014
T43184
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rani Nur Aini
"ABSTRAK
Pengetahuan lokal mengenai pemanfaatan tumbuhan pangan oleh masyarakat etnis Karo di Desa Semangat Gunung belum sepenuhnya terdokumentasi. Sementara itu, pengaruh budaya lain yang masuk dapat mengancam keberadaan pengetahuan lokal masyarakat. Pendekatan etnobotani dilakukan untuk mendokumentasikan pengetahuan lokal masyarakat mengenai pemanfaatan tumbuhan pangan. Data diperoleh melalui wawancara semistruktural dan terbuka, observasi partisipasi, dan skoring kepada masyarakat lokal. Analisis data dilakukan dengan pendekatan kualitatif, yaitu mengelompokkan tumbuhan pangan berdasarkan kategori guna dan pendekatan kuantitatif, yaitu analisis LUVI, ICS, dan FL. Hasil penelitian diperoleh 109 spesies tumbuhan pangan dimanfaatkan oleh masyarakat, yang dikelompokkan menjadi pangan utama, pengganti pangan utama, sayuran, buah-buahan, bumbu, pangan adat, kudapan, minuman, dan pembungkus makanan. Nilai LUVI tertinggi berupa pangan utama, nilai ICS tertinggi berupa tualah (Cocos nucifera), dan nilai FL tertinggi diperoleh 92 spesies.

ABSTRACT
Utilization of food plants by the society of Karo ethnic in Semangat Gunung village have not documented yet. The influence of other ethnic cultures that infiltrate to Semangat Gunung village can threaten the local knowledge of its society. Ethnobotanical approach is used to document the local knowledge of the society about food plants utilization. The data were obtained by open-ended and semistructural interview, participant observation, and scoring. The data analysis were carried out by categorizing food plant species based on their use and quantitatively by measuring LUVI, ICS, and FL. The food plant species that used by the society is 109 species. It categorized into 9 subcategory, they are the staple food, alternative staple foods, vegetables, fruits, spices, indigenous foods, snacks, drinks, and food warps. The highest LUVI is staple food subcategory, the highest ICS is tualah (Cocos nucifera), and the highest FL amounts to 92 species.
"
Universitas Indonesia, 2015
S62376
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Silalahi, Marina
"Telah dilakukan penelitian tentang etnomedisin tumbuhan obat sub-etnis Batak Sumatera Utara dan perspektif konservasinya, pada bulan Mei-Desember 2012. Penelitian ini bertujuan mengungkapkan keanekaragaman spesies-spesies tumbuhan obat yang diperdagangkan maupun yang dimanfatkan oleh etnis Batak, sebagai data awal untuk rencana konservasinya. Penelitian dilakukan di pasar Kabanjahe dan Berastagi mewakili tempat transaksi perdagangan tumbuhan obat di Sumatera Utara; lima desa (Kaban Tua, Surung Mersada, Simalungun, Peadundung, dan Tanjung Julu) untuk mewakili masyarakat lokal kelima subetnis Batak (Karo, Phakpak, Simalungun, Toba, dan Angkola-Mandailing). Penelitian dilakukan dengan pendekatan etnobotani melalui survei pasar, survei masyarakat desa, dan analisis vegetasi. Survei dilakukan dengan wawancara bebas mendalam, semi terstruktur, observasi parsipatif. Metode pebble distribution method (PDM) dilakukan untuk mengetahui local user?s value index (LUVI) penyakit dan tumbuhan obat. Sebanyak 9 responden diwawancara pada survei pasar, sedangkan pada survei masyarakat mewawancara 201 responden (41 orang informan kunci dan 160 orang responden umum). Responden umum setiap sub-etnis berjumlah 32 orang dan dikelompokkan berdasarkan umur yaitu kelompok umur 30--50 tahun dan kelompok umur >50 tahun dengan perbandingan 1:1.
Analisis vegetasi dilakukan dengan pendekatan ekologi, pada agrofores karet (Hevea brasiliensis) atau hutan adat seluas 5 ha (1 ha setiap daerah induk sub-etnis Batak). Transek dibuat berbentuk sampling bersarang (nested sampling) dengan ukuran 20 m x 100 m sebanyak 5 buah, yang penempatannya berdasarkan purposive sampling. Data dianalisis secara kualitatif dan kuatitatif.
Analisis kualitatif dilakukan dengan menggunakan statistika deskriptif meliputi jenis-jenis tumbuhan obat, manfaat, organ yang dimanfaatkan, dan sumber perolehan. Analisis kuantitatif untuk survei masyarakat dilakukan dengan menghitung nilai indek keanekaragaman, use value (UVs), index cultural of significance (ICS), sedangkan untuk analisis vegetasi dihitung nilai kepentingan (NK) tumbuhan obat. Uji anova (α 5%) digunakan untuk menghitung rata-rata jumlah spesies tumbuhan obat yang diketahui pada setiap kelompok umur pada setiap sub-etnis Batak. Sebanyak 349 spesies yang berasal dari 212 genus dan 94 famili tumbuhan obat dan 20 macam ramuan tradisional diperjual-belikan di pasar tradisional Kabanjahe dan Berastagi. Sebanyak 176 spesies tumbuhan obat yang dijual di pasar Kabanjahe dan Berastagi dimanfaatkan untuk tujuan preventif, sedangkan sebanyak 255 spesies dimanfaatkan untuk tujuan kuratif.
Hasil wawancara kelima masyarakat desa ditemukan 414 spesies yang berasal dari 241 genus dan 99 famili dimanfaatkan sebagi obat. Di antara kelima sub-etnis Batak maka, sub-etnis Batak Simalungun memnafaatkan spesies tumbuhan obat paling banyak (239 spesies), kemudian diikuti oleh Angkola-Mandailing (165 spesies), Karo (152 spesies), Toba (148 spesies), dan Phakpak (130 spesies). Daun merupakan organ tumbuhan yang paling banyak dimanfaatkan sebagai obat, baik oleh masyarakat lokal maupun yang dijual pedagang. Sebagain besar tumbuhan obat yang diperdagangkan maupun yang dimanfaatkan masyarakat lokal merupakan tumbuhan liar. Nilai UVs, ICS, dan LUVI spesies tumbuhan obat relatif berbeda anatar kelima sub-etnis, dan nilai tersebut sangat ditentukan oleh jumlah manfaat dan ke limpahannya di lingkungan sekitar. Tumbuhan obat yang manfaatnya banyak memiliki nilai UVs, ICS, dan LUVI lebih besar dibandingkan yang manfaatnya sedikit dan sebaliknya. Berdasarkan uji anova (alpha 5%) terdapat perbedaan yang signifikan antara jumlah tumbuhan obat yang diketahui berdasarkan kelompok umur dan kategori responden. Informan kunci memiliki pengetahuan pemanfaatan tumbuhan obat lebih banyak dibandingkan dengan responden umum. Berdasarkan nilai kepentingan lokal (LUVI) penyakit demam dan sakit perut merupakan penyakit yang memiliki LUVI paling tinggi pada setiap sub-etnis Batak.
Hasil analisis vegetasi yang dilakukan pada hutan adat maupun agrofores ditemukan sebanyak 117 spesies hanya mewakili 28% dari keseluruhan jumlah spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan kelima masyarakat lokal sub-etnis Batak. Tumbuhan obat dominan (NK tertinggi) berhabitus pohon, semak/belta, dan semai/herba bervariasi antar agrofores dan sangat ditentukan tipe, umur, pola manajemen, luas, frekuensi penyiangan dan sadapan. Tumbuhan obat yang diperjual-belikan di pasar Kabanjahe dan Berastagi maupun hasil wawancara masyarakat lokal kelima daerah induk sub-etnis Batak memiliki indeks keanekaragaman Shannon-Wiener tinggi (> 3), namun tumbuhan obat yang ditrmukan dari analisis vegetasi memiliki indeks keanekaragaman rendah. Berdasarkan red list IUCN version 2012, tumbuhan obat yang dimanfaatkan oleh sub-etnis Batak memiliki status konservasi antara lain: sebanyak 17 spesies terancam, 7 spesies rentan, 6 spesies kritis, 16 spesies genting, dan 8 spesies masuk ke dalam apendiks II IUCN.

Research is conducted on ethnomedicine of medicinal plants by sub-ethnic Batak in North Sumatra and conservation perspective, at May-December 2012. This research aims to obtained diversity of species medicinal plants traded and used by ethnic Batak, as data base the initial step for conservation plan of medicinal plants. Samples for this research were taken from Kabanjahe and Berastagi traditional markets as the representation of trading places, while Kaban Tua village, Surung Mersada village, Simbou Baru village, Peadundung village, and Tanjung Julu village representing the source of the obtained medicinal plants. Collecting data for this research was carried out by ethnobotany approach (market surveys, surveys local communities, and vegetation analysis). The interviews were conducted through free in-depth interviews, semi-structured, and participative observation. The local user's value index (LUVI) of the medicinal plants was done by the pebble distribution method (PDM). This approach was primarily carrying surveys and interviews of nine (9) traders of the medicinal plants in Kabanjahe and Berastagi traditional markets; and 201 local communities with 41 key informants and160 general respondents with two age goups, first group with 30--50 years old and second group above 50 years old with ratio 1:1.
Vegetation analysis conducted in the agroforest rubber (Hevea brasiliensis) or indegenous forest from area of 5 ha (1 ha each sub-ethnic) by ecological approach. The transect sampling was used in the form of nested sampling with a size of 20 m x 100 m of 5 pieces for each center regions of the sub-ethnic Batak. Data were analyzed using qualitative and quantitative method. Qualitative analysis is done by grouping plants based upon usage category, organs harvested, and resource.
Quantitative analysis by calculating index diversity, index of cultural significance (ICS), use value (UVs), LUVI, and statistical analysis; while vegetation analysis calculated importance value (IV). Our finding scored 349 species (212 genera, 94 families) of medicinal plants and 20 kinds concoctions traded in the traditional markets Kabanjahe and Berastagi. The medicinal plants for preventive purposes have been used 176 species, while as many as 255 species used for curative purposes.
Out of 5 villages were selected as the location of the research, the results showed that as many as 414 species (99 families) of medicinal plants have been used by those 5 sub-ethnic Batak. Among all of those, sub-ethnic Batak Simalungun was the highest using medicinal plants (239 species), then followed by Angkola-Mandailing (165 species), Karo (152 species), Toba (148 species), and Phakpak (130 species). Leaves are organ of the most used medicinal plants as medicine, by local communities and the traders medicinal plants. The majority of medicinal plants traded and local communities utilized are wild plants. The value of UVs, ICS, and LUVI of medicinal plants are different at the fifth sub-ethnic, and the value determined by the amount uses and abudance in the neighborhood. Medicinal plants many uses have value UVs, ICS, and LUVI greater than medicinal plants uses few and vice versa. Based on anova (alpha 0.05), it is found a significant different about medicinal plants which is known by the yonger, older, and key informants. The number of medicinal plants species known by the youger is smaller in compare to the older, and key informants. Based on the LUVI, fever and abdominal pain are diseases that has the highest LUVI on each sub-ethnic Batak.
The results of the analysis vegetation found as many as 117 species represent only 28% of the total number of medicinal plants by five sub-ethnic Batak. The medicinal plants dominant (highest IV) trees, shrubs/belta, and seedling/herb varies between agroforest, and which determined by type, age, pattern management, broad, weeding frequency, and leads agroforest. Medicinal plants traded in Kabanjahe and Berastagi traditional markets; and local communities used in five sub-ethnic Batak has the Shannon-Wiener diversity index is high (> 3), but medicinal plants drugs find at vegetation analysis has a low diversity index. Based on the LUVI, which are fever and abdominal pain are diseases that has the highest LUVI on each sub-ethnic Batak. Based on the IUCN red list of version 2012, the medicinal plants have been used by the sub-ethnic Batak have conservation status, among others: 17 species threat, 7 species vulnerable, 6 species critically, 16 species endagered, and 8 species into the appendix II IUCN.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2014
D1906
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sitinjak, Robert
"Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai keterlibatan orang-orang Batak Toba dalam pemberontakan PRRI di Sumatera Utara pada tahun 1958-1961. Keterlibatan orang-orang Batak Toba dalam pemberontakan tersebut merupakan sebuah Manifestasi dari "Mudar Namangkuling". Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori collective action dari Charles Tilly. Teori ini kemudian ditempatkan dalam kerangka metodologi strukturis yaitu suatu metodologi yang berusaha mengungkapkan realitas peristiwa berdasarkan sumber sejarah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan orang-orang Batak Toba dalam pemberontakan PRRI merupakan ledakan akumulasi dari ketidakpuasan Batak Toba terhadap pihak pemerintah pusat yang tidak menghiraukan kehidupan ber-Pancasila dan ber-Bhinneka Tunggal Ika. Hal ini tampak dari tekanan dari orang-orang non Batak Toba dalam mematahkan dominasi orang-orang Batak Toba secara khusus di Sumatera Timur. Keinginan orang-orang Batak Toba supaya penyelesaian pergolakan daerah-daerah umumnya dan Sumatera Utara khususnya diselesaikan dengan jalan tidak melalui kekerasan tidak mendapat tanggapan dari Pemerintah Pusat di Jakarta. Orang-orang Batak Toba yang mengetahui bahwa pemberontakan PRRI-Permesta bertujuan untuk mengadakan koreksi dan bukan untuk memisahkan diri dari negara kesatuan Republik Indonesia, telah menyebabkan munculnya dukungan terhadap PRRI yang diproklamasikan pada tanggal 15 Pebruari 1958 di Padang.
Akan tetapi selain ketidakpuasan tersebut, keterlibatan orang-orang Batak Toba juga disebabkan adanya solidaritas di antara sesama orang Batak Toba yang disebut "mangkuling mudar" (darah yang berbunyi). Hal itu tampak, misalnya, dari adanya ucapan "kalau teman menarik bambu secara terbalik, maka terbalik pula kita tarik". Artinya, walaupun sudah mengetahui bahwa tindakan yang dilakukan oleh orang-orang lain itu merupakan pemberontakan, namun orang-orang lainnya yang sebelumnya tidak menghendakinya, dengan adanya "mangkuling mudar" menyebabkan ikut serta di dalamnya. Keterlibatan dari Komando Resimen Infantri-3 Tapanuli dan partisipasi masyarakat Batak Toba di Tapanuli Utara dalam pemberontakan telah membuktikan hal itu.
Kembalinya Negara Republik Indonesia ke Undang-Undang Dasar 1945, perjuangan menghadapi Belanda dalam masalah Irian Barat, seruan KSAD Mayjen A.H. Nasution supaya "kembali ke pangkuan ibu pertiwi", kekhawatiran akan semakin kuatnya komunis di Indonesia, dan perpecahan di kalangan pemimpin pemberontak sehubungan dengan pembentukan PRRI, telah mendorong orang-orang Batak Toba untuk menghentikan pemberontakan. Untuk itu, orang-orang Batak Toba yang tidak terlibat dan menghendaki agar pemberontakan selesai, ikut berperan didalam penyelesaian itu. Dengan demikian, keterlibatan orang-orang Batak Toba dalam pembentukan PRRI merupakan sebuah Manifestasi dari "Mudar Namangkuling"."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2002
T7145
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Haikal Milleza
"Kenyamanan termal merupakan aspek yang krusial bagi manusia dan menjadi pertimbangan yang sangat penting bagi sebuah arsitektur. Yang mana sebagai arsitektur yang memanfaatkan ventilasi alami, semestinya arsitektur vernakular dapat menjadi rujukan bagi arsitektur modern dalam menghadirkan kenyamanan termal di dalam ruang. Sehingga tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengkaji bagaimana kondisi kenyamanan termal pada sebuah arsitektur vernakular dan bagaimana performanya jika dibandingkan dengan bangunan berkonstruksi modern. Metode yang dipilih pada pengkajian ini adalah simulasi menggunakan program Rhinoceros dan Grasshopper dengan plugin Ladybug Honeybee untuk dapat menghitung Adaptive Thermal Comfort pada arsitektur vernakular yang dipilih. Simulasi ini dilakukan dengan mengukur 5 kondisi pada Rumah Batak Toba dan Rumah Batak Karo yang masing masing kondisi memiliki parameter berupa pemilihan material, konstruksi yang diterapkan, serta rasio bukaan yang diaplikasikan. Secara umum, data yang dihasilkan menunjukkan bahwa baik Rumah Batak Toba dan Rumah Batak Karo yang menggunakan material, konstruksi, dan rasio bukaan aslinya memiliki tingkat kenyamanan termal terbaik. Hal ini terlihat setelah dibandingkan dengan kondisi lainnya yang menerapkan material, konstruksi, serta rasio bukaan pada arsitektur modern. 

Thermal comfort is a crucial aspect for humans and is a very important consideration for architecture. As an architecture that utilizes natural ventilation, vernacular architecture should be a reference for modern architecture in providing thermal comfort in an interior space. Thus, the purpose of this writing is to examine how the thermal comfort conditions in vernacular architecture and how its performance when compared to modern construction buildings. The method chosen in this study is a simulation using the Rhinoceros and Grasshopper programs with the Ladybug plugin and honeybee to be able to calculate the adaptive thermal comfort in the selected vernacular architecture. This simulation is carried out by measuring 5 conditions in the Toba Batak house and Karo Batak House, in which each condition has a parameter in the form of material selection, construction applied, and the ratio of the opening. In general, the resulting data shows that both Toba Batak Houses and Karo Batak Houses that use materials, construction, and original opening ratios have the best thermal comfort levels. This can be seen after being compared with other conditions that apply materials, construction, and opening ratios of modern architecture."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1990, c. 1986
643.095 ISI
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Vergouwen, J.C.
Yogyakarta: LKiS Yogyakarta, 2004
340.53 VER m
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>