Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 120369 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Tjandra Sjahfril
"ABSTRAK
Salah satu fenomena sosial yang menonjol masyarakat Minangkabau dan khususnya masyarakat Koto Gadang adalah perilaku merantau. Salah satu daerah yang dituju oleh para perantau tersebut adalah kota Jakarta. dalam Pada dasarnya tujuan dari penelitian ini adalah memberikan deskripsi tentang keterikatan sosial diantara sesama perantau di Jakarta, khususnya para perantau yang berasal dari nagari desa Koto Gadang. Untuk mencapai tujuan penelitian tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kwalitatif. Penelitian ini mengambil kasus dengan menggunakan snow ball sampling sebagai teknik pengambilan sampelnya. Terhadap kesepuluh kasus tersebut, penulis mengadakan pengamatan dan wawancara non berstruktur serta mendalam. langsung Gambaran empiris yang didapat dari penelitian yang bersifat kwalitatif ini adalah bahwa, masyarakat Koto Gadang yang merantau ke Jakarta masih mempunyai keterikatan sosial satu Bama lainnya. Pada dasarnya mereka tetap berusaha untuk memelihara ikatan ikatan sosial diantara anggota kaumnya. Keterikatan sosial dari sesama masyarakat Koto Gadang di Jakarta terutama terlihat dalam beberapa kegiatan seperti musibah kematian, arisan, upacara perkawinan dan pengajian. Dalam kegiatan-kegiatan tersebut masih terlihat nilai, norma dan kebiasaan yang dimiliki oleh masyarakat Koto Gadang di daerah asalnya."
1990
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 1991
S7469
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Safrina
"ABSTRAK
Penelitian ini merupakan telaah terhadap konstruksi identitas berdasarkan subjektivitas dan agensi yang diberikan pada tokoh Lupus dalam empat buku serial Lupus yaitu 1) Interview with the Nyamuk, 2) Mission Muke Tebel, 3) Gone with the Gossip dan 4) The Lost Boy. Seral Lupus dipilih karena serial ini merupakan bacaan remaja yang digemari remaja dan mampu bertahan lama di pasaran. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan perihal bagaimana identitas Lupus dibentuk, dan apa dan bagaimana keterkaitannya dengan kondisi sosial-budaya saat karya tersebut diciptakan.
Pertanyaan tersebut dijawab melalui analisis teks dan kajian budaya. Analisis teks mengidentifikasi adanya posisi Lupus sebagai subjek dan agen pada tepian tiga konteks yaitu kelas sosial, etnisitas dan gender yang melahirkan posisi-antara bagi Lupus. Melalui posisi-posisi diantara kelas atas dan kelas bawah, tepian dunia global dan dunia lokal juga di tepian maskulinitas kelaki dewasa, Lupus dikembangnkan menjadi identitas yang mudah diterima oleh remaja kebanyakan dan disukai juga dikagumi karena keberhasilannya mendekati pusat-pusat konteks yang secara umum didambakan oleh para remaja. Keberhasilan Lupus bergerak sangat ditentukan oleh perilaku keberaksaraannya (kegemaran membaca dan menulis), kemampuan berbahasa Inggris dan perilaku cuek yang mengejawantah dalam sikap berani mencoba dan tak takut gagal.
Walaupun demikian, Lupus sebagai teks bukanlah teks yang kritis karena kecenderungannya untuk mengukuhkan budaya dominan. Keberhasilan Lupus pada posisi antara itu dikontraskan dengan ketersisihan kelas bawah, etnis lokal, dan perempuan sehingga identitas Lupus mencuat di antara para remaja ini. Ngocol sebagai identitas Lupus yang menonjol memperkuat identitas Lupus di posisi antara, da, pada saat yang sama, menjadi identitas teks Lupus karena kengocolan yang hadir terutama menunjukan peran pencerita yang ngocol secara signofikan daripada peran tokoh Lupus. Ngocol sebagai kekhasan dan kekuatan Lupus dapat dikatakan sebagai identitas Lupus yang menjadi ideologi teks karena kehadiran ngocol dalam setiap peristiwa dalam Lupus diterima sebagai kewajaran walaupun pembacaan kritis terhadap kengocolan tersebut menunjukkan adanya relasi kuasa yang menyingkirkan kelompok tertentu. Ketersingkiran kelas bawah, etnis lokal dan perempuan sebagai pilihan tekstual demi kengocolan merupakan juga cerminan kondisi sosial politik masa itu. Identitas Lupus, di satu sisi, menampakkan adanya resistensi terhadap budaya dominannya tetapi, di sisi lain, ia merupakan pengukuhan terhadap budaya tersebut ketika pilihannya mencerminkan perilaku seperti umum ditemui dalam lingkungan sosialnya.

ABSTRACT
This is a study of identity which analyzes and interprets the construction of Lupus, an adolescent fictional character of the popular Lupus series. In particular, the sudy looks into the characters subjectivity and agency which forms the basis for the analysis of identity construction. Lupus is chosen for this study for the fact that Lupus is virtually the only popular fictional character in Indonesian Young Adult Literature for a period of more than two decades. This is the anchor for choosing this character for a study of identity construction as it poses questions as to how subjectivity and agency contribute to the construction of such a long lasting identity and how socio-cultural factors might have underpinned the construction. In addition, Lupus specific ngocol trademark character poses a set of different but related questions with regard to the role ngocol plays in Lupus identity construction and what meanings can be attributed to the role.
The questions were addressed by employing a textual analysis within the framework of narrative theory and cultural studies. For this purpose, Lupus texts were selected. The selected texts under investigation were four of the Lupus series namely 1) Interview with the Nyamuk, 2) Mission Muke Tebel, 3) Gone with the Gossipl and 4) The Lost Boy. These texts were selected for its evident relation to the context of their production as depicted in the parody titles, abd for the availability of linked short stories which should provide more possibilities for character exploration compared to individual short stories. Subjectivity and agency were traced in the narative events which constituted the linked short stories. Out of twenty two linked short stories, one hundred sixty one narrative events were analyzed and showed that Lupus subjectivity and agency were exercised from in-between positions available for Lupus in three contexts most frequently encountered. They were the contexts of the social class, ethnicity and gender. These in-between positions has enable Lupus to move fluidly along center of adulthood and childhood, upper social class and lower social class, global and local, and masculinity and femininity. These in-between positions empowered by his literacy behavior and English proficiency has established an empowering subjectivity and agency for a distinctive Lupus identity as a modern Jakarta adolescent treading his way to maturity by playing his subjectivity and agency along his chosen positions.
Ngocol as one of his more outstanding quality was disclosed as the identity of the text rather than the characters. This is evident from the narrative events which revealed ngocol framing the overall structure of the story and was enable by the capacity and agility of the narrator. However, ngocol also served as the means with which the adolescents appropriated their readings of the real world and challenged the authority of adults in the real world by ridiculing the world they lived in by way of ngocol behaviors. Ngocol is a way of laughing at the world but it is also a way of strengthening dominant positions. As in Lupus, ngocol is often a discriminate act which excludes specific groups as objects of ridicule. These exlusions indicate inner workings of the texts which reflects the living ideology of the society.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2006
D602
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Riyadiana Chlairandes
"Kriminalitas adalah masalah yang kian berkembang seiring pertumbuhan suatu kota. Perkembangan suatu kota yang cepat berdampak pada penurunan daya dukung kota yang berimbas pada permasalahan-permasalahan lain diantaranya kemiskinan, keterbatasan ruang terbuka hijau, peningkatan jumlah pengangguran, kriminalitas dan sebagainya.
Selama periode Tahun 2009?2014, jumlah kejadian kejahatan atau tindak kriminalitas kota-kota di Indonesia menunjukan peningkatan. Berdasarkan Publikasi Statistik Kriminal 2015, Wilayah Polda Metro Jaya menjadi penyumbang jumlah kejadian kejahatan (crime total) terbanyak yaitu 44.298 kasus dari total 325.317 kasus di seluruh Indonesia. (BPS,2015). Disamping biaya-biaya ekonomi yang ditimbulkan dari tingginya tingkat kriminalitas di suatu wilayah terdapat pula biaya sosial dan psikologis yang harus ditanggung masyarakat dan para korban kejahatan misalnya ketakutan, kecurigaan, pengurangan aktivitas publik hingga pengurangan kualitas hidup di suatu kota menjadikan kriminalitas segagai isu penting dalam perencanaan kota dan daerah.
Studi ini mengidentifikasi lokasi yang menjadi hotspot dari banyaknya kejahatan di Ibukota dan menganalisa keterkaitan antara total crime dan faktor sosial ekonomi pada tingkat kelurahan di wilayah Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan data-data sekunder hasil publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) diantaranya Statistik Kriminal Indonesia, Jakarta Dalam Angka, IPKS 2014, PODES 2014 dan SUSENAS, data dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan publikasi lain yang terkait, dikaji menggunakan pendekatan Geographic Information System (GIS) untuk mengidentifikasi pola sebaran dan hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen yang dilanjutkan dengan Regresi Ordinary Least Square (OLS).

Crime is a problem that is growing along with the growth of a city. Development of the city's rapid impact on the carrying capacity of the city which impact on other issues including poverty, limited green open spaces, increase unemployment, crime and so on.
During the period of 2009-2014 year, the number of incidents of crime or criminality cities in Indonesia showed an increase. Based Crime Statistics 2015 publication, the Jakarta Police Region contributed the number of incidents of crime (crime total) that most cases of the total 325 317 44 298 cases throughout Indonesia. (CBS, 2015). Besides the economic costs arising from the high crime rate in some areas there are the costs of the social and psychological to society and victims of crime, for example fear, suspicion, reduction of public activities to the reduction of the quality of life in a city makes the crime segagai important issues in planning cities and regions.
The study identifies the location being a hotspot of many crimes in the capital and analyze the linkages between total crime and socio-economic factors on district level in the area of Jakarta. This study uses secondary data result of the publication of the Central Statistics Agency (BPS) of them Statistics Criminal Indonesia, Jakarta in Figures, IPKS 2014, PODES 2014 and SUSENAS, data from the National Land Agency (BPN) and other publications related, were examined using approaches Geographic information System (GIS) to identify patterns of distribution and the relationship between the dependent variable and independent variables followed by Regression Ordinary Least Square (OLS)."
Depok: Universitas Indonesia, 2016
T46199
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Prawita Hertika
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2003
S6953
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2002
S6927
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ningrum Budi Astuti
Depok: Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 1991
S20512
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nisfie Masitach Hoesin
"ABSTRAK
Dalam kehidupan wanita, terdapat beberapa transisi penting, transisi masa menarche
(masa permulaan haid), masa kehamilan dan masa menopause. Curtis dan Fraser
(1991) mengatakan, menopause merupakan masa transisi yang paling sering
mengundang masalah. Hal ini disebabkan karena pada masa ini sering muncul keluhan-
keluhan baik yang bersifat fisik maupun bersifat psikologis (emosional). Akan tetapi,
berdasarkan beberapa penelitian, temyata tidak semua wanita mengeluhkan datangnya
masa ini. Keluhan bahwa menopause bermasalah dalam hal fisik maupun psikologis,
datang dari wanita yang tinggal dan dibesarkan dalam budaya western atau di negara-
negara industri, seperti di Amerika. Sebaliknya pada wanita yang tinggal dan dibesarkan
dalam budaya non-western atau negara-negara non industri, keluhan-keluhan di atas,
tidak ditemukan (Beyene dkk, 1999; Souza, 1994).
Dari Iiteratur yang diperoleh, penelitian mengenai menopause Iebih banyakdilakukan di
negara-negara barat. Karenanya perlu dipertanyakan bagaimana pandangan terhadap
menopause pada wanita-wanita di negara-negara Iain yang tinggal dan dibesarkan
dalam budaya ketimuran, umumnya di Asia. Meskipun pernah dilakukan penelitian Iintas
budaya di Asia, seperti penghayatan wanita India, Cina dan Jepang terhadap
menopause yang ternyata Iebih positif dibandingkan dengan penghayatan wanita yang
tinggal di negara-negara dengan budaya kebaratan (Matlin, 1987), sejauh ini peneliti
belum menemukan hasil penelitian mengenai bagaimana penghayatan wanita Indonesia
terhadap menopause, ataupun penelitian yang mengemukakan apakah menopause
dianggap bermasalah atau tidak bagi wanita Indonesia. Di satu pihak, jika diperhatikan,
di Jakarta sudah berdiri klinik-klinik menopause di beberapa kawasan strategis (Kemang
dan Kebayoran) yang berdasarkan informasi, bergerak di bidang pelayanan HRT
(Hormone Replacement Therapy) untuk mengantisipasi dampak menopause (agar tidak
mudah terserang osteoporosis, menunda proses penuaan, menjaga stamina dan
sebagainya). Di Iain pihak, beberapa wanita menyatakan bahwa menopause tidak
menimbulkan keluhan apa-apa, bahkan mereka tidak membutuhkan treatment apapun
untuk mengatasinya. Sebagian dari mereka justru menantikan datangnya masa ini.
Sampai di sini peneliti masih mempertanyakan bagaimana sebenarnya wanita Indonesia
memandang datangnya menopause? Menyenangkankah sehingga dinantikan kedatangannya, atau justru dianggap bermasalah sehingga diperlukan perlakuan
khusus untuk mengatasinya.
Anggapan bermasalah tidaknya menopause, menurut Paltiel (dalam Koblinsky dkk,
1993) disebabkan karena adanya kaitan antara peristiwa menopause dengan
penilaian masyarakat terhadap fungsi dan peran seorang wanita. Menurut Lanson
(1981) penilaian ini selanjutnya mempengaruhi persepsi wanita, baik terhadap
datangnya menopause maupun persepsi terhadap wanita yang mengalaminya.
Peneliti berasumsi, wanita yang memandang menopause sebagai suatu perubahan
yang wajar dan akan dialami oleh setiap wanita, maka persepsi terhadap keadaan ini
akan positif, yang selanjutnya dapat dilalui tanpa kesukaran dan keluhan. Namun bagi
mereka yang memiliki persepsi negatif akan cenderung menganggap bahwa
menopause merupakan awal dari suatu keadaan yang tidak menyenangkan. Akan tetapi
persepsi dapat berubah akibat pengaruh belajar dan pengalaman individu terhadap
obyek yang ia persepsikan tersebut (Dember, 1971).
Dari adanya pandangan yang berbeda terhadap menopause pada wanita yang peneliti
temukan, tampaknya wanita Indonesia ada yang beranggapan bahwa menopause
sebagai bermasalah dan ada juga yang tidak menganggapnya demikian. Karenanya,
peneliti tertarik untuk melihat bagaimana gambaran kecenderungan persepsi wanita
Indonesia terhadap keadaan ini. Selain itu, karena persepsi dapat berubah akibat
pengaruh belajar dan pengalaman, peneliti tertarik juga untuk meneliti lebih lanjut
apakah faktor pengalaman dan belajar ini mempengaruhi menopause (premenopause), baru
mengalami menopause (perimenopause) dan sudah lama mengalami menopause
(postmenopause)
Penelitian dilakukan terhadap tiga kelompok subyek, yang diambil dengan
menggunakan metode accidental sampling. Subyek penelitian ini adalah wanita berusia
40 tahun ke atas. Alat yang digunakan adalah kuesioner dengan skala 1 sampai 6
dengan mengikuti bentuk skala Likert. Data yang terkumpul diolah dengan teknik
Analisa Varians (F-test) untuk melihat adanya perbedaan persepsi terhadap menopause
di antara ketiga kelompok tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan adanya gambaran bahwa menopause secara umum
dipandang sebagai tidak bermasalah (mean = 4.05). Jika dilihat per aspeknya,
responden cenderung memandang bahwa menopause tidak mengandung masalah
yang bersifat psikologis maupun seksual. Adapun masalah yang cenderung dianggap
timbul pada masa ini adalah masalah yang berkaitan dengan perubahan fisik dan
keluhan-keluhan yang menyertainya.
Hasil dari perbandingan terhadap ketiga kelompok menunjukkan adanya perbedaan
yang signifikan di antara kelompok premenopause, perimenopause dan postmenopause
dalam memandang menopause secara umum (F= 3.156, p = .O46). Jika dilihat per
aspeknya, perbedaan yang signifikan ini hanya terdapat pada persepsi terhadap kondisi
fisik (F= 4606, p=.012) dan kondisi psikologis (F= 4395, p= ,O14), sedangkan persepsi
di antara ketiga kelompok responden terhadap kondisi seksual, menunjukkan adanya
perbedaan yang tidak signifikan (F= .285 , p= .752)."
1996
S2843
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>