Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 74672 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 1980
S6162
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Universitas Indonesia, 1990
S25887
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dede Adang Yusuf
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 1991
S6192
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Stafford, Dale B.
Djakarta: Jajasan Lembaga Pers, 1957
070.172 STA s
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
O`Flaherty, Hal
"Buku ini berisi mengenai catatan ringkas seminar pers ke-II, segi-segi jurnalistik daripada pers ; riwayat hidup Hal O'Flaherty ; dasar-dasar jurnalistik ; catatan diskusi acara ; berita yang pantas disiarkan ; apakah pola yang ideal bagi hubungan antara pers dan pemerintah ; apakah pola yang ideal untuk hubungan antara penerbit dengan pemimpin redaksi ; profesional training for journalists and principles of journalism ..."
Djakarta: Jajasan Lembaga Pers dan Pendapat Umum, 1957
K 071.3 OFL s
Buku Klasik  Universitas Indonesia Library
cover
cover
H.A.K. Moc. Anwar
Bandung: Alumni, 1982
345.023 MOC s
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
H.A.K. Moc. Anwar
Bandung: Alumni, 1979
364.133 MOC s
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Ibnu Mundir
"ABSTRAK
Penggunaan narkotika dan psikotropika dapat menimbulkan berbagai
dampak buruk secara psikologis baik intra maupun interpersonal,
penurunan kualitas kesehatan tubuh dan pelanggaran hukum. Meskipun
dapat menimbulkan berbagai dampak buruk akan tetapi sejak tahun 1998
terjadi peningkatan jumlah pengguna narkotika dan psikotropika yang
cukup besar di Indonesia Saat ini diperkirakan terdapat sekitar 500.000
sampai 1.350.000 penderita ketergantungan narkotika dan psikotropika di
Indonesia.
Salah satu variabel psikologis yang penting dalam penggunaan narkotika
dan psikotropika adalah motivasi. Berdasarkan hasil penelitian Sucahya,
Siagian dan Sari (2001) tentang motivasi awal penggunaan narkotika dan
psikotropika serta teori proses berlawanan yang dikemukakan Solomon dan
Corbitt (dalam Franken, 1982) terlihat adanya perubahan antara motivasi
awal penggunaan narkotika dan psikotropika dan motivasi yang membuat
seseorang mempertahankan perilaku penggunaan narkotika dan
psikotropika. Allport (1961) menamakan perubahan motivasi awal yang
mendorong dimulainya perilaku dan motivasi yang mempertahankan
perilaku sebagai otonomi fungsional (functional autonomy). Menurut
Allport perilaku ketergantungan narkotika dan psikotropika termasuk dalam
otonomi fungsional. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan deskripsi
proses otonomi fungsional pada penderita ketergantungan narkotika.
Penelitian ini dilakukan terhadap empat orang penderita ketergantungan
narkotika dan psikotropika. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah
pendekatan kualitatif. Jenis penelitian kualitatif yang digunakan adalah
studi kasus. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam karena penelitian ini ingin mengetahui proses pengalaman
subyektif individu yang tidak dapat diketahui dan dipahami tanpa
pengungkapan secara verbal dari individu tersebut. Untuk melengkapi data
hasil wawancara dilakukan observasi terhadap subyek dan proses
berlangsungnya wawancara.
Merujuk pada kata proses dalam tujuan penelitian ini maka deskripsi
motivasi penggunaan narkotika dan psikotropika dilakukan pada tahaptahap
penggunaan narkotika yang dikemukakan oleh Pagliaro dan Pagliaro
(1996) yang terdiri dari tahap penggunaan awal, penggunaan sosial,
penggunaan tetap, penyalahgunaan dan penggunaan kompulsif.
Pada tahap penggunaan awal para subyek menggunakan ganja atau pil BK
untuk sesuatu diluar efek langsung zat itu sendiri seperti penerimaan teman,
memuaskan rasa ingin tahu atau menarik perhatian orang tua akan tetapi
ketika para pengguna sudah merasakan intoksikasi maka motivasi mereka
untuk kembali menggunakan ganja, pil BK atau ineks pada tahap
penggunaan sosial, penggunaan tetap dan penyalahgunaan adalah keinginan
untuk merasakan kembali intoksikasi. Pada tahap penggunaan tetap mulai
muncul ketergantungan secara psikologis sehingga intensitas keinginan
untuk merasakan intoksikasi kembali meningkat. Para subyek tidak hanya
mengalami peningkatan dosis tapi juga perubahan zat yang digunakan.
Ketika para subyek rutin menggunakan shabu atau heroin maka mereka
pun mengalami gejala putus obat yang menyakitkan. Akhirnya, motivasi
penggunaan narkotika dan psikotropika pun berubah menjadi keinginan
untuk menghilangkan gejala putus obat. Motivasi inilah yang mendorong
para subyek penelitian untuk menggunakan heroin secara kompulsif pada
saat wawancara dilakukan. Eratnya perubahan motivasi penggunaan
narkotika dan psikotropika dengan pengaruh narkotika dan psikotropika
berupa intoksikasi, toleransi dan gejala putus obat membuat otonomi
fungsional pada penderita ketergantungan narkotika dan psikotropika
termasuk dalam otonomi fungsional perseveratif.
Selain besarnya peran faktor fisiologis pada proses otonomi fungsional pada
penderita ketergantungan narkotika dan psikotropika, Allport (1961) juga
menyatakan bahwa aspek psikologis memegang peranan penting karena
para penderita ketergantungan narkotika dan psikotropika sering kali
mengembangkan sub sistem kepribadian untuk menyelesaikan masalah
mereka dengan kembali menggunakan narkotika dan psikotropika
Pentingnya aspek psikologis ini dalam riwayat ketergantungan narkotika
para subyek tampak ketika mereka kembali menggunakan narkotika dan
psikotropika setelah selama beberapa waktu meninggalkannya dan tidak
lagi mengalami gejala putus obat. Saat itu mereka kembali menggunakan
narkotika dan psikotropika karena adanya keinginan yang sangat kuat untuk
kembali merasakan kenikmatan intoksikasi. Sehubungan dengan hasil penelitian ini disarankan agar informasi tentang
penggunaan narkotika dan psikotropika serta ketrampilan sosial untuk
menolak ajakan penggunaan narkotika dan psikotropika diberikan di
sekolah sejak pendidikan dasar sebagai salah satu upaya pencegahan
penggunaan narkotika dan psikotropika Bagi individu yang telah
menggunakan narkotika dan psikotropika diperlukan terapi untuk mengatasi
gejala putus obat serta pembekalan pengetahuan dan ketrampilan dalam
mengatasi ketergantungan psikologis dan mengatasi masalah tanpa bantuan
narkotika dan psikotropika.
Untuk penelitian pada penderita narkotika dan psikotropika selanjutnya
disarankan untuk memperhatikan kondisi fisik dan psikologis para subyek
sehubungan dengan intoksikasi dan gejala putus obat yang mereka alami.
Hal ini penting untuk meningkatkan keakuratan dan kedalaman data yang
didapatkan. Penggunaan narkotika dan psikotropika selama bertahun-tahun
dapat menurunkan kemampuan kognitif sehingga pertanyaan perlu
disampaikan secaras sederhana dan jika perlu dapat diulang-ulang agar
subyek penelitian memahami maksud pertanyaan."
2004
S3420
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sihotang, Johan Parulian
"ABSTRAK
Penggunaan narkotika dan psikotropika dapat menimbulkan berbagai dampak
buruk secara psikologis baik intra maupun interpersonal, penurunan kualitas kesehatan
tubuh dan pelanggaran hukum. Meskipun dapat menimbulkan berbagai dampak buruk
akan tetapi sejak tahun 1998 terjadi peningkatan besar jumlah pengguna narkotika dan
psikotropika yang cukup besar di Indonesia. Saat ini diperkirakan terdapat sekitar
500.000 sampai 1.350.000 penderita ketergantungan narkotika dan psikotropika di
Indonesia (UNDCCP, 2000).
Pertanyaan dibalik permasalahan diatas adalah mengapa seorang pecandu
narkotika yang telah menyadari efek negatif dari pemakaian narkotika masih terus
melanjutkan penggunaannya? Jawaban dari pertanyaan tersebut bisa kita dapatkan
dengan melihat dari karakteristik ketergantungan narkotika dan psikotropika.
Ketergantungan narkotika dapat mencakup keterganungan secara fisik dan psikologis.
Ketergantungan secara fisik ditandai dengan hadirnya gejala putus obat yang sangat
menyakitkan dan dapat menyebabkan kematian.
Setelah menggunakan narkotika selama beberapa waktu, seorang pengguna juga
dapat mengalami perubahan pola kognitif (Beck et al, 1993). Beberapa waktu setelah
penghentian penggunaan narkotika dan psikotropika maka gejala putus obat pun mulai
menghilang. Akan tetapi, penggunaan narkotika dan psikotropika dalam jangka waktu
yang lama dapat menghilangkan kemampuan seseorang untuk menghilangkan
kemampuan seseorang dalam menghadapi masalah yang ditemuinya secara normal tanpa
bantuan narkotika dan psikotropika. Kondisi ini menunjukkan adanya ketergantungan
psikologiis pada penggunaan narkotika dan psikotropika. Pada tahun 1996, T. Gorsky
mengembangkan suatu program tahapan penyembuhan terhadap ketergantungan
narkotika (Developmentdl Model of Recovery). Developmental Model of Recovery ini
mencakup enam tahapan yang memiliki karakteristiknya masing-masing di setiap tahap,
dan seorang pecandu harus dapat melewati setiap tahap satu-persatu.
Pada hasil penelitian di masa lampau oleh Sunders, AUsop (1987), ditemukan
bahwa pengguna heroin, nikotin, dan alkohol memiliki kecenderungan yang tinggi untuk
embali menggunakan narkotika setelah berada dalam kondisi putus obat selama beberapa
waktu (relapse). Para peneliti ini menemukan bahwa dua pertiga dari para pemakai narkotika yang telah mendapatkan perawatan, mengalami relapse dalam kurun waktu tiga
bulan (Sunders & Allsop, 1987; Vailant, 1983). . Pada tahun 1993 Beck et al (1993)
mengembangkan suatu teori tentang pola kognitif yang mendasari proses relapse pada
seorang pecandu narkotika dan psikotropika. Pola kognitif dari relapse ini sendiri
berisikan proses perjalanan dan perkembangan kognitif seseorang, yang akhirnya memicu
untuk terjadinya relapse.
Penelitian ini dilakukan terhadap empat orang penderita ketergantungan narkotika
dan psikotropika. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif.
Merujuk pada kata proses dalam tujuan penelitian ini maka deskripsi motivasi
penggunaan narkotika dan psikotropika dilakakan pada tahap-tahap proses kognitif
relapse penggunaan narkotika yang dikemukakan oleh Beck (1993).
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa setiap subyek mengalami relapse
minimal sebanyak satu kali saat mereka sedang mengalami ketergantungan kompulsif
terhadap narkotika dan psikotropika. Permasalahan-permasalahan yang bermunculan
membuktikan suatu dinamika yang terjadi pada proses penyembuhan ketergantungan
terhadap narkotika dan psikotropika. Permasalahan yang ada dapat mencakup terjadinya
proses jatuh bangun atau yang biasa disebut dengan slip, lapse dan relapse. Sesuai dengan
teori pola kognitif relapse yang dikembangkan oleh Beck et al (1993), sebelum akhirnya
mengalami relapse, setiap subyek memiliki pola kognitif yang hampir sama. Pola kognitif
yang mereka miliki selalu dimulai dengan adanya high risk stimuli baik yang bersifat
internal maupun external, yang akan memicu munculnya basic drug beliefs yang telah
dimiliki sebelumnya. Para subyek juga telah mengalami perkembangan dalam proses
penyembuhannya. Kemajuan dalam proses penyembuhan yang mereka jalani dapat
terlihat dari perbedaan pola kognitif yang mereka miliki saat ini. Perkembangan proses
penyembuhan didasari atas tahapan penyembuhan dalam Developmental Model of
Recovery (T.Gorsky, 1996).
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa hampir semua subyek peneltian tidak
menyadari akan pola kognitif yang mereka miliki saat mereka akan mengalami slip. Oleh
karena itu mereka juga mengalami kesulitan saat mencoba berhenti dari proses
ketergantungan mereka. Hal ini sangat berbahaya sebab individu yang terus mengalami
kegagalan akan merasa frustasi dan berfikir bahwa dirinya tidak akan pernah sembuh.
Sehubungan dengan hasil peneltian ini disarankan agar lembaga penyembuhan, dokter,
psikolog atau seorang psikiater yang memberikan terapi penyembuhan ketergantungan
sebaiknya juga memberikan perhatian yang lebih pada perubahan pola kognitif relapse."
2004
S3470
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>